[What is Your Color?] Our Friendship – Oneshot

our friendship copy

Our Friendship

Tob | General | Rating: PG-15 | Length: Oneshot/2.000+words

Genre: Friendship

[97’s] Jeon Jungkook (BTS) | Lee Seokmin (17) | Choi Yuju (G-Friend) | Ryu Sujeong (Lovelyz)

Disclaimer: I just own the plot.

Summary: Hanya sebuah kisah mengenai murid kelas tiga SMA yang masih bingung akan jurusan yang dipilihnya dan cerita mengenai persahabatan empat orang anak manusia.

***

Matahari pagi baru saja menyelipkan sinarnya di sela-sela tirai dalam sebuah kamar seorang laki-laki. Selimut yang masih membungkus badannya menandakan dirinya masih terbuai dalam dunia mimpi. Sinar yang hampir menerangi setengah ruangannya tidak membuat laki-laki itu terbangun atau sekedar mengucek mata—terganggu akan datangnya cahaya.

Cklek.

Pintu kamarnya terbuka memunculkan seorang gadis dengan balutan seragamnya. Rambutnya dikucir buntut kuda dengan poni depan yang agak miring ke sebelah kiri. Jika dilihat kembali wajah gadis tersebut sangat mirip dengan laki-laki yang masih terbungkus dalam selimut. Jeon Keiko—namanya, terlihat dari tanda pengenal yang bertengger di bajunya.

“KAK JUNGKOOK AYO BANGUN, INI UDAH JAM TUJUH” tangannya menggoyang-goyangkan tubuh si empunya dengan kencang. Menghasilkan erangan dari korbannya.

“Tunggu, lima menit lagi” balas Jungkook—laki-laki yang masih membungkus dirinya dalam selimut.

“Ini sudah lima menit yang kesepuluh, Kak. Cepet bangun deh, masa anak tingkat tiga masih malas-malasan padahal ujian negara udah di depan mata.”

Mata Jungkook terbuka sempurna setelah mendengar ucapan adiknya. Nada kesal yang keluar selanjutnya dari mulut Jungkook langsung mengantarkan cengiran adiknya.

“Karena Kak Jungkook udah bangun, aku tunggu di ruang makan ya.” Keiko melangkahkan kakinya menuju pintu. Baru saja lima langkah, Keiko kembali berbalik, “Mama sama Papahh juga kayaknya mau ngobrol serius, soalnya tadi gak sengaja aku denger kata ‘universitas’. Semoga beruntung.”

Selepas Keiko meninggalkan kamarnya, Jungkook bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sedikit merenung mengenai kelanjutan studinya.

***

“Jadi, kamu sudah menentukan pilihan?” tanya Papah Jungkook ketika anak laki-lakinya turun dari tangga.

Jungkook menggeleng, ia masih belum bisa memberi jawaban.

Mamanya kemudian bersuara, “Sudahlah sayang, jangan buat Jungkook semakin tertekan. Mama yakin, sebentar lagi Jungkook akan mendapatkan pilihannya.” Setidaknya itu membuat Jungkook sedikit lega walaupun kalimat selanjutnya justru membuat dirinya kembali risau, “tapi kalau masih saja belum dapat, biar Mama dan Papah yang memilih.”

Keiko yang baru datang membawa perlengkapan sekolahnya menatap Jungkook yang tampak sedikit frustasi. Ia mengusap punggung kakaknya lalu berbisik, “Tenanglah.”

Jungkook tersenyum pada Keiko—walaupun senyumannya tampak menyedihkan.

***

“Kak, kalau sahabat-sahabat kakak udah punya pilihannya?” tanya Keiko ketika mereka berdua sedang menunggu bus datang di halte.

“Maksudmu Seokmin, Yuju, dan Sujeong?”

Keiko mengangguk.

“Entahlah, selama ini kami tidak pernah membicarakan hal-hal yang berbau universitas. Terutama, aku terlalu menikmati keadaan yang sedang berlangsung. Tidak mau memulai membicarakan universitas dan mendapatkan kenyataan bahwa kami akan berpisah. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu jurusan apa yang akan aku pilih, tetap saja aku masih enggan untuk memberitahukannya pada Mama dan Papah.”

Keiko terkejut, “Jurusan apa?”

Bus menuju sekolah Jungkook datang. Ia melangkahkan kakinya menuju bus. Namun, sebelumnya mengacak-ngacak rambut Keiko dan memberikan kecupan di pipinya, “Dah.” Perlakuan yang sukses membuat Keiko mengerutkan dahinya karena saking terkejutnya.

***

Ketika masuk kelas, Jungkook dikejutkan dengan Yuju yang sudah datang terlebih dahulu. Padahal, biasanya gadis jangkung tersebut akan datang dua menit bahkan satu menit sebelum pelajaran pertama akan dimulai.

“Ada angin apa yang membuat seorang Choi Yuju datang pagi-pagi ke sekolah? Jangan bilang kamu mau menyalin tugasku.”

Yuju menatap Jungkook tajam, “Aku tidak sebodoh itu.” Gadis yang kebetulan bangkunya berada di depan Jungkook membalikan badannya sehingga mereka tampak saling berhadapan walau dipisahkan dengan satu meja, “Eh, omong-omong …kamu sudah mengisi kertas studi lanjutan?”

Jungkook menggeleng, “belum, kenapa? Jangan bilang Mama kamu memberikan tekanan karena kamu belum mengisinya?”

“Bukan.” Yuju menggeser kakinya yang tidak nyaman lalu melanjutkan, “kemarin sepulang sekolah aku bertemu dengan sepupuku, ia bertanya mengenai kelanjutan studiku. Ia bertanya aku mau mengambil jurusan apa dan di universitas apa. Bukannya menjawab aku memilih diam karena memang tidak tahu harus menjawab apa.”

Jungkook tertawa, “Makanya, jangan terlalu asyik bermain sampai tidak tahu mau masuk jurusan apa.”

Tangan kanan Yuju menopang dagunya, sedangkan tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja sehingga menimbulkan sebuah ritme yang cukup lambat. Bibirnya mengerucut dan matanya kembali menatap Jungkook tajam, “Memangnya kamu sudah tahu mau ambil jurusan apa?”

Jungkook mengalihkan pandangannya ke jendela, menatap langit biru yang tampak damai, seperti tidak pernah mengalami masalah. Perpaduannya dengan sinar matahari pun membuatnya semakin cantik. Kedua bahu Jungkook terangkat sebentar diiringi sebuah ucapan, “menurutmu?”

Jawaban yang sukses membuat lengannya mendapatkan hadiah cubitan dari gadis di depannya.

***

Jungkook dan Yuju jalan berdampingan ketika istirahat siang dengan taman menjadi tujuan mereka. Setelah taman belakang sekolah tampak di penglihatan keduanya, dua orang remaja sudah duduk berteduh di bawah pohon dengan bekal di pangkuannya.

“JUNGKOOK, YUJU, SINI” suara Seokmin menggelegar dan sukses membuat beberapa orang menatap ke arahnya. Bukannya malu, Seokmin justru tertawa kepada mereka yang menatapnya. Benar-benar sosok yang tidak punya urat malu.

Jungkook, Yuju, Seokmin, dan Sujeong merupakan sahabat sejak taman kanak-kanak sampai sekarang, SMA. Biasanya mereka berempat berada di kelas yang sama, tapi dua tahun terakhir mereka berada di kelas yang terpisah. Jungkook dan Yuju lalu Seokmin dan Sujeong. Walaupun begitu, mereka berempat tetap melakukan kegiatan bersama, berbeda kelas bukan berarti mereka akan berpisah, semua tetaplah sama tak ada yang berubah kecuali kenyataan tidak berada di ruang kelas yang sama lagi.

“Seokmin, tanpa kamu berteriak juga, kami sudah tahu harus pergi kemana.” Ucap Yuju setelah duduk manis di samping Sujeong.

Seokmin membenarkan kacamatanya yang terasa kurang nyaman, “Ya, siapa tahu kalian tiba-tiba amnesia.”

Jungkook yang baru duduk , memukul pundak Seokmin pelan, “Kamu pikir aku dan Yuju sudah mengalami kecelakaan sampai amnesia? Kamu benar-benar lucu.” Jungkook tertawa dibuat-buat membuat Yuju dan Sujeong tertawa lepas.

Bukannya merasa tersindir, Seokmin justru ikut tertawa lalu melahap bekal makan siangnya.

***

Sujeong melepaskan kacamatanya. Menyimpan di kotaknyanya lalu berbicara, “Tidak terasa ya…”

Tiga pasang mata tertuju padanya menuntut maksud dari pernyataan yang dikeluarkannya. Saat ini semua bekal sudah habis tak tersisa mengingat ada Seokmin yang selalu bersedia menjadi ‘tempat sampah’ ketika ada salah satu dari sahabatnya yang merasa kenyang dan tidak mau menghabiskan bekalnya. Seokmin selalu mengatakan, “mama bilang, Tuhan akan memberikan hukuman pada orang yang tidak menghabiskan makanannya. Sini, biar aku makan kalau kamu sudah kenyang.” dilanjutkan dengan meraih kotak bekal sahabatnya lalu menghabiskan isinya.

“Maksudku, tidak terasa sebentar lagi kita akan menempuh jalur yang berbeda. Kalian pasti tahu jika kecil kemungkinan kita akan mengambil jurusan yang sama untuk kuliah ‘kan?” Sujeong melanjutkan ucapannya.

Semua diam, tidak menanggapi ucapan Sujeong. Bahkan seorang Seokmin pun ikut merenung dengan menatap langit biru di atasnya.

Lima menit berlalu, sebuah suara melenyapkan keheningan.

“Bagaimana jika pulang sekolah nanti aku traktir es krim?” Seokmin memberikan usulan.

Jungkook setuju dengan mengacungkan jempol.

Yuju mengangkat bahunya, “Aku tidak mungkin melewatkan es krim gratisan ‘kan?”

Semua pandangan lalu beralih ke arah Sujeong. Sujeong menghindar dari pandangan sahabat-sahabatnya, memilih menatap rumput yang ada di bawahnya, “Maaf, tapi…”

Seokmin bersuara, “Baiklah, mungkin lain ka—“ tapi terpotong oleh suara Sujeong.

“…aku juga pasti ikut” membuat tiga orang di sekitarnya menghembuskan napas lega. Bahkan Yuju sampai memukul pundak Sujeong.

“Sujeong, kamu membuatku kesal.”

Sujeong yang biasanya pendiam dan pemalu kini tertawa, “setidaknya aku harus mengerjai kalian. Bagaimana? Aktingku bagus ‘kan? Mungkin aku pantas sebagai seorang aktris.”

“Bagus upilmu.” Balas Jungkook.

***

Triiiiing…

Bel pulang berbunyi, keempat sahabat ini melangkah menuju kedai es krim milik paman Seokmin. Tempatnya tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan kaki selama sepuluh menit ke arah selatan dari sekolah.

“Aku pesan es krim vanilla!” Yuju berteriak paling semangat karena dia merupakan salah satu pecinta es krim dibandingkan ketiga sahabatnya.

“Aku green tea saja.” Suara lembut Sujeong terdengar, berbanding terbalik dengan suara Yuju.

“Aku dan Jungkook rasa coklat.” Seokmin memesan terakhir.

Keempatnya lalu duduk di meja bagian pojok yang menghadap ke jendela, tempat favorit mereka jika datang ke sini. Selain es krim, Yuju juga memesan waffle karena menurutnya es krim tanpa waffle akan terasa kurang. Berbeda dengan Yuju, Sujeong memilih memesan kue beras karena baginya, makan kue beras dengan es krim memiliki kenikmatan sendiri. Tidak seperti para gadis, Jungkook dan Seokmin hanya memesan es krim tanpa tambahan lainnya karena menurut mereka, es krim saja sudah cukup sebagai teman ngobrol.

***

“Jungkook, kamu bilang minggu lalu sudah menentukan pilihan. Jadinya pilih jurusan apa?” Seokmin membuka percakapan.

Yuju menatap Jungkook seolah meminta jawaban karena mengingat tadi pagi Jungkook tidak memberitahunya, justru balik bertanya. Sedangkan Sujeong menatap Jungkook sambil mengunyah kue berasnya.

Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Itu…”

“Jangan bilang kamu akan lanjut ke luar negeri.” Ucap Yuju seolah mampu membaca gerak-gerik Jungkook yang tidak seperti biasanya.

“Benarkah? Kamu mau meninggalkan Korea?” Sujeong tidak percaya, bahkan gadis itu berhenti mengunyah.

Berbeda dengan Yuju dan Sujeong, Seokmin justru tersenyum, “Jadi mengambil jurusan art di Amerika ya? Aku yakin, tarianmu akan semakin berkembang disana.” tangannya menepuk bahu Jungkook seolah memberi semangat.

Jungkook menunduk sebentar lalu kembali menatap ketiga sahabatnya, “Ya, Seokmin benar. Ada kemungkinan aku akan ke Amerika. Keluargaku memang belum tahu, rencananya malam ini aku baru akan memberitahukan mereka.”

Ketiga kepala di hadapan Jungkook mengangguk.

“Kalau itu yang terbaik, berjuanglah.” Sujeong tersenyum memberi semangat, ia pun kini bisa kembali mengunyah makanannya.

Yuju mengalihkan pandangannya, “Ya, setidaknya kau harus bekerja keras untuk menjadi yang terbaik.” ucapan yang tidak Jungkook sangka akan keluar dari bibir Yuju, namun selanjutnya ia yakin bahwa yang berbicara itu memang Yuju, “tapi kamu sepertinya harus les bahasa inggris padaku. Bahasa Inggrismu cukup buruk.”

Jungkook memutar bola matanya, “Baiklah, terima kasih.” Lalu menyuapkan satu sendok es krim ke mulutnya, “Omong-omong, Sujeong, kamu jadi mengambil kedokteran?”

Sujeong yang sedang mengunyah, mencoba menelan makanannya dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan Jungkook. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan pertanyaan secepat ini.

“Ya, mungkin. Papah bilang aku boleh mengambil kedokteran karena ia tahu aku ingin menjadi dokter dari kecil.”

Seokmin membuka mulutnya, “Universitas mana?”

“Korea atau luar negeri?” kali ini Yuju yang bertanya.

Sujeong menatap ketiga sahabatnya, “Jika bukan Korea, berarti Jerman. Walaupun sebenarnya aku akan baik-baik saja jika mengambil kedokteran di Korea, tapi Mama ingin aku mencoba tes masuk universitas di Jerman, jika belum beruntung maka aku bisa mengambil di Korea.”

“Semoga kamu mendapatkan universitas yang terbaik.” Jungkook tersenyum. Ia tahu bagaimana sulitnya mengambil keputusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Bukan masalah biaya, tapi karena orang-orang yang disayang ada di sini, itu yang membuat berat untuk pergi ke luar. “tapi jangan sampai kamu manja disana, dan jangan mudah percaya pada orang yang belum kamu kenal. Rencananya akan tinggal sendiri atau tinggal dengan bibimu?”

“Jungkook, kamu seperti Ibu-ibu saja.” Ucap Yuju walaupun dia setuju dengan ucapan Jungkook, “Baiklah, walaupun berat kuakui aku memang setuju dengan ucapan Jungkook. Kamu harus hati-hati dan cari teman yang baik.”

Sujeong membalas, “Terima kasih. Kalian tenang saja, aku akan tinggal dengan bibi kok.”

“Lalu, Seokmin, mau ambil jurusan apa jadinya?” kali ini Yuju yang bertanya.

Sujeong menyahut, “Mungkinkah hukum? atau seni?”

“Hukum di Korea.” jelas dan singkat jawaban Seokmin.

Jungkook menggeleng, “Aku tidak bisa membayangkan jika Seokmin benar-benar mengambil hukum.” kemudian suaranya berubah menjadi serius, “tegakanlah keadilan, jangan sampai para tikus itu tetap berkeliaran di negara ini. Kamu harus selalu jujur apapun yang terjadi, jangan sampai membela yang salah dan menyengsarakan rakyat kecil.”

Yuju dan Sujeong ikut tertawa mendengar penjelasan Jungkook yang sangat serius.

“Tentu saja, do’akan aku semoga tidak tergoda dengan barang diberikan para tikus itu, haha.” Seokmin tertawa di akhir kalimatnya, lalu melanjutkan, “Jadi, Yuju jadi mau mengambil jurusan apa?” tanya Seokmin kali ini.

Yuju mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk kirinya, “Mungkin seni musik? Aku juga belum yakin. Hanya itu yang terpikirkan olehku dan sepertinya di Universitas Korea.”

Sujeong mengacungkan jempolnya, “Seni musik pilihan yang tepat. Dengan suara dan kemampuanmu bermain alat musik, Yuju bisa menjadi penyanyi terkenal!”

Jungkook mengangguk, “Ditambah jika kamu mau aku ajari menari pasti akan lebih bagus lagi.” Melihat tatapan Yuju yang tidak percaya membuat Jungkook menghela napas, “Aku serius.”

Seokmin menambahkan, “Nanti kamu harus mampu menjaga sikapmu dan ingat, jangan jutek. Setidaknya, memberikan senyuman kepada teman bukanlah sebuah dosa besar jadi lakukanlah.”

Bahu Yuju merosot, “Baiklah, baiklah, terima kasih untuk sarannya, semoga benar-benar bermanfaat.”

Keempat remaja tersebut lalu melanjutkan perbicangan kearah yang lebih santai seperti mengejek kebiasaan-kebiasaan jelek masing-masing yang harus dirubah jika sudah menjadi mahasiswa atau mengejek Jungkook yang belum bisa menyatakan perasaannya pada Yein adik kelas mereka.

***

Dalam perjalanan pulang, Jungkook berucap, “Biarkan persahabatan kita seperti birunya air yang terus mengalir. Walaupun kita berada di tempat yang berbeda, persahabatan kita akan terus berlanjut. Justru dengan jarak yang ada, akan memperkuat persahabatan kita. Yakin saja dan omong-omong terimakasih for being my bestfriend till now.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Yuju menepuk pundak Jungkook keras, “Jangan so’ melankolis, kita masih di dunia yang sama kok dan terima kasih juga.”

Sujeong yang berjalan di samping Seokmin mengangguk, “Waktu akan terus berlanjut, begitu pula dengan persahabatan kita. Semoga saja persahabatan kita bisa menjadi biru;damai. Walau aku yakin itu sebuah ketidakmungkinan, haha.”

“Pintu rumahku selalu terbuka jika kalian mempunyai masalah, dan kupastikan akan selalu ada makanan ketika kalian berkunjung, haha. Dan terima kasih mau menerimaku apa adanya.” Seokmin tersenyum pada ketiga sahabatnya.

Jungkook merangkul pundak ketiga temannya, “We are bestfriend forever.

Fin.

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Our Friendship – Oneshot

  1. ARMYJungkookfanss

    Akhirnya ada juga ff yang cast nya Yuju sama Jungkook 🙂
    ff nya seru thor, tpi kalo bisa kata Mama Papa diganti sama Eomma Appa aja.
    sekedar saran.
    anyeong…

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s