[What is Your Color?] Namjoon Loves Orange! – Oneshot

577ffdb740cdfc27f93af975abc5066b

NAMJOON LOVES ORANGE!

story by Choseulate

.

Kim Namjoon | Jung Hoseok | and other members are mentioned

Genre T |Lenght Oneshot

.

Story is mine. All plagiarism action will get reply as deserved. BTS are belong to God.

.

‘Namjoon tidak tahu kenapa dia menyukai warna jingga. Ah, jingga atau oranye ya? Bagiku keduanya sama saja’

.

Kalian para anak-anak generasi 90-an pasti ingin kembali ke masa-masa dimana bermain di lapangan kompleks jauh lebih menarik daripada aplikasi chatting yang katanya menunjang kalian biar bisa jadi hits. Kalian pasti rindu ketika sore hari kalian masih wangi sabun, bedak diwajah tidak rata, dan ibu kalian mengekor dibelakang sambil membawa sepiring menu makan sore.  Biasanya isinya nasi, ayam goreng, dan sayur sop.

Kalau kalian mau tahu seperti apa aku sepuluh tahun yang lalu, baca saja paragraf diatas, itu aku.

“Langitnya bagus ya?” kelakar Hoseok, teman sekelasku yang menyebalkan tapi bikin kangen. Yah, aku akui langitnya indah, biru terang dihiasi awan yang menggumpal seperti kapas. Dulu aku sering berkhayal kalau ada peri-peri yang tiduran disana. Tapi ternyata tidak yah?

“Yah, bagus. Tapi aku lebih suka langit sore.”

Langit sore itu bagai memandangi lukisan Da Vinci. Aku memang tidak mengerti apa-apa tentang seni lukis. Tapi sungguh deh, kalau sedang menjelang maghrib aku seperti melihat kanvas seluas milyaran meter kuadrat sedang dibentangkan di langit dan ada pilar ghaib yang menopang.

”Langit biru itu tenang, Joon! Apalagi kalau ada angin-angin berhembus, dan awan-awan berkumpul di cakrawala. Aku jadi bisa membayangkan tidur diatas awan” Hoseok merenggangkan badannya diatas atap. Yah, aku dan Hoseok memang sedang membolos diatap sekolah. Aku benci pelajaran akuntansi biaya, gara-gara kemarin gurunya itu membentak aku yang lupa mengerjakan perhitungan harga pokok penjualan.

Hoseok hanya menemani aku disini, alasannya sih setia kawan. Cih, bilang saja kau juga malas.

“Langit biru itu identik dengan matahari yang sudah tinggi, panas, dan kalau langit biru itu tidak ada anak kecil yang main keluar rumah.” aku melepas jas sekolahku, menyisakan kemeja , lengan pendek. Daejeon hari ini panas juga.

“Anak-anak itu tidak keluar rumah karena langit biru cocok untuk tidur siang, Joon” dia memainkan telepon genggamnya sebentar lalu melanjutkan, “Ah pengecualian untuk Taehyung dan Jimin, saat kecil dua anak itu selalu keluar rumah siang bolong. Pantas saja hingga sekarang kulit mereka menjadi kecoklatan.”

Aku meringis geli. Aku dan keenam sahabatku, termasuk Hoseok, memang sepermainan sejak kecil. Satu kompleks pula. Kami bertujuh selalu meramaikan lapangan kompleks di sore hari. Apapun yang terjadi, lapangan selalu ramai dengan teriakan kami. Termasuk tangisan kencang Jungkook yang kelerengnya diambil paksa Yoongi.

Beberapa menit aku biarkan hening, aku ingin menikmati suasana siang ini. Hoseok tidak bohong, siang seperti ini memang enak sekali untuk tidur.

“Hei Hoseok!”

“Hm?”

Aku menoleh, kedua matanya sudah terpejam. Dia menjawab panggilanku ini dalam keadaan sadar atau tidak ya?

“Apa permainan kesukaanmu?” tanyaku.

“Hm? Aku suka Grand Theft Auto.” lagi-lagi Hoseok menjawab setengah tertidur. Aku mendengus kesal. Anak ini benar-benar sudah terkontaminasi dunia digital.

“Bukan permainan itu, Seok! Permainan jaman kecil, loh! Jaman bocah.” aku mendengus lagi. Omong-omong aku sudah mendengus berapa kali ya?

Hoseok tertawa kecil, “Oh itu.. aku suka mejikuhibiniu.”

“Alasannya?”

“Lucu saja. Melihat anak-anak berebutan warna kesukaan dan… aaahh aku sadar dulu kau selalu memilih warna jingga. Makanya kau suka langit sore.” Hoseok meninju pelan lenganku. Matanya kini sudah terbuka separuh, sepertinya rasa kantuknya hilang sedikit.

“Dan aku sadar kau selalu memilih warna biru. Bahkan kau pernah berantem dengan Jimin hanya karena bocah itu memilih warna biru.” balasku mengejek.

“Yoongi yang selalu memilih warna hijau, dan Seokjin yang marah-marah kenapa tidak ada warna pink.” Hoseok ikut mengenang masa kecil indah kami. Kalau dipikir-pikir masa kecil generasi kami sangat indah ya, “Eh, tapi bukankah nila itu warna pink?” lanjutnya. Pertanyaan hoseok itu lebih terdengar kalimat lalu yang tidak perlu dijawab.

“Nila bukan warna pink, nila itu ungu kebiruan.” jelasku singkat. Yah, aku pun tidak yakin dengan penjelasanku. Sudah kukatakan aku tidak begitu mengerti seni, jadi jangan protes!

“Kenapa sih kau suka memilih warna jingga?” tanya Hoseok balik. Kini dia malah duduk dan mengeluarkan sebotol pepsi dari tasnya.

“Bukankah sudah dijelaskan? Jingga itu langit sore, ramai dan disitulah waktu yang tepat untuk bermain. Jingga itu jeruk, penuh vitamin C dan kita sangat membutuhkan itu.” penjelasanku sepertinya membuat Hoseok bingung. Tapi setelah itu dia mencibirku.

“Yah apa katamu, Tuan Filsuf. Aku angkat topi untukmu.” dia menenggak minumannya. Aku tertawa geli dan ikut duduk. Hoseok menyodorkan satu botol pepsi lagi padaku, dan dia mengeluarkan dua buah jeruk dari tasnya.

“Ini untukmu. Jeruk jingga jagoanmu yang penuh vitamin C!” dari nada bicaranya dia seperti meremehkanku. Yah, mungkin dia beranggapan biru tercintanya itu lebih unggul.

Tiba-tiba wajah Hoseok seperti teringat sesuatu, “Ah! Itukah alasanmu yang mengusulkan rambut Jimin di cat jingga saja? Licik sekali memakai warna kesukaanmu untuk rambutnya.” Hoseok terkekeh.

“Hei aku hanya usul tahu! Kalau mau bilang licik, katakan itu pada Seokjin! Dia memaksaku memakai warna pink untuk rambut. Dia memaksa loh, bukan usul! Aku pada Jimin ‘kan hanya usul.”

“Ya ya ya, aku tahu. Aku tahu.” jawabnya sambil melepeh biji jeruk.

“Kalau kau? Kenapa suka sekali warna biru?” kali ini giliran aku yang bertanya. Sambil mengupas kulit jeruk dan menikmati kegiatan bolos kami di atap, kami bertukar pemikiran tentang warna favorit.

“Bukankah sudah kujelaskan?” jawabnya sambil terkekeh. Sialan sekali dia membalikkan kata-kataku tadi.

“Hei, serius!” aku melempar beberapa biji jeruk padanya. Dia malah menertawakanku.

Setelah tenang, Hoseok menjelaskan pemikirannya.

“Biru itu benar-benar menenangkan. Kau pernah ke pantai? Pernah? Bagaimana perasaanmu ketika melihat lautan biru terbentang luas didepanmu? Tenang kan? Nah, seperti itu perasaanku, Namjoon. Bahkan aku sedang emosi pun, ketika melihat sesuatu berwarna biru itu terasa sangat menenangkan. Terlebih biru langit.” Hoseok menjawab sambil memandang langit dengan syahdu. Wajahnya itu, sangat menghayati kata-katanya.

Aku mengangkat bahuku. Yah, jingga menurutku yang terbaik.

Semua yang berwarna jingga sepertinya selalu membekas diintuisiku. Entah ya kenapa, aku pun heran. Padahal aku tidak memiliki peristiwa apa-apa terhadap jingga ini. Jeruk, mangga, wortel, labu, daun maple yang berguguran, langit sore, matahari sore, pagar rumah nenek yang berwarna jingga, bunga amaryllis, bunga gerbera, dan lain-lain.

Telepon genggam Hoseok berbunyi, dan langsung diangkat oleh pemiliknya.

Setelah menyimpan kembali benda itu disakunya, Hoseok berdiri dan menyambar jas serta tasnya, “Seokjin bilang jam makan siang baru saja tiba. Ayo turun! Kau lapar kan?”

Aku mengernyit, “Tapi bel belum berbunyi.”

“Bel sekolah rusak. Ayo turun! Hari ini menunya daging paprika.” baru saja dia membuka pintu, dia kembali menoleh padaku, “Paprikanya warna oranye loh! Makan tuh oranye kesukaanmu!” dan sambil bersungut-sungut Hoseok membuka pintu, hendak meninggalkanku yang sedang tertawa geli karena kata-katanya tadi yang seperti anak kecil.

“Eh Hoseok!”

“Apa?” Hoseok berbalik dan bertanya. Badannya sudah separuh masuk pintu yang langsung menuju tangga.

“Pulang sekolah nanti kesini lagi ya? Tapi bertujuh. Aku ingin berbagi momen matahari terbenam yang indah itu. Akan aku tunjukkan jingga itu indah!” Aku berkelakar apa sih? Terdengar lucu, tapi ya sudahlah.

Hoseok tertawa lagi. Langit biru benar-benar mengubah hatinya. Padahal sebelum bolos tadi wajahnya terlihat masam.

“Iya Kim Namjoon yang terhormat dan dicintai anak-anak! Akan kusampaikan ke geng.” Hoseok berlalu pergi setelah mengucapkannya.

Aku tersenyum senang. Sahabat-sahabatku harus menyapa matahari terbenam yang sangat romantis itu. Diatas sekolah, sambil menyantap penganan ringan, membawa gitar, bernyanyi bersama, pasti romantis. Ya aku tidak punya kekasih sih, jadi aku akan berbagi momen terindahku bersama keenam sahabatku. Karena bagiku, sesuatu yang berwarna jingga itu adalah kebahagiaanku.

Rambut Jimin warnanya jingga tuh, kau suka?

Aku suka. Suka sekali.

 

 

FIN

Advertisements

7 thoughts on “[What is Your Color?] Namjoon Loves Orange! – Oneshot

  1. hoahahaha
    dasar seokjin XD aya aya wae mas minta warna pink wkwk
    btw ini cerita bener2 ttg pelangi ya maknae :3 dan warna oren tuh emang sesuatu :’) menyentuh hati dan banyak hal ttg kenangan didalamnya yg bisa bikin nostalgia. apalagi gue abis baca manga yg judulnya orange dan itu sedih banget :’) rasanya pas banget abis baca tuh manga trs baca ini. tbah nostalgia deh /?

    Liked by 1 person

  2. @choseulah
    Daebak my best friend…ternyata yg km tanya tercantum d.sana #nila

    Bahasanya enak d.baca…aku sukaaa
    Aku pengen persahabatan kita terus seperti mereka…
    #choseulahpenyukawarnabiru

    Liked by 1 person

  3. Waah.. Persahabatan mereka sangat indah.😊 😳

    Wkwk gak kebayang kalo jimin dan taehyung jadi item gegara panas-panasan 😂

    Hai, choseulate.. Makasih udah bikin ff ini. Aku jadi teringat teman-teman masa kecilku 😆

    Liked by 1 person

  4. Seokjin yang marah-marah kenapa tidak ada warna pink. >> Sini mas seokjin aku ketawain dulu, kok ya aneh-aneh aja main mejikuhibiniu nyari warna pink.

    Rambut Jimin warnanya jingga tuh, kau suka?Aku suka. Suka sekali. >> Ini, kok aku senyum senyum sih? Aish masjun unyu sekaliii><

    Btw, halo choseulate, aku fey 98L. Salam kenal ya!

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s