[BTS FF Freelance] Un(Impossible) – (Chapter 1)

IMG-20160315-WA0029 (1)

Title: Un(impossible)

Author: ADA

Main Cast: BTS(Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Seokjin, Kim Namjoon), OC(Kim Kimi, Park Minhyun, Yoon Hwarin)

Genre: Colonialism!AU, Romance, Action, Suspense, Hurt/Comfort, Angst

Rated: PG-15(for violence, mild language)

Warning: Violence, Mild Language

Length: Multi-chapter

Disclaimer: BTS milik Tuhan, orang tua mereka masing-masing, diri mereka sendiri dan BigHitEnt. Ide dan alur cerita serta OC tentu dari kami bertiga sebagai author. SO, DO NOT COPY/PLAGIARISM!

Summary: Siapa yang bisa melawan takdir kalau takdir saja tak bisa ditebak? – Awal dari segalanya, ketika satu persatu dari mereka dipertemukan dan mulai merajut cerita.

CHAPTER 1

Cuaca saat itu sedang tak bersahabat, hujan lebat beserta kilat melanda kota Seoul.

Dan ini membuat hati seorang pria semakin membeku.

Ia memasuki cafe, tujuannya tentu untuk minum-minum sampai pagi dan melupakan semua masalah, berharap masalah-masalahnya ikut terbawa aliran air hujan.

Hujan dan lagu sedih yang sedang dinyanyikan dengan alunan piano ballad, membuat suasana benar-benar tambah tak bersahabat.

“Pelayan! Aku pesan bir vodka,” teriak pria ini –Jung Hoseok, membuat pelayan didekatnya agak tersentak, ia langsung buru-buru mengambilkan pesanan-pesanan para pelanggan.

Di meja pojok kanan memesan susu dan jus buah, dimeja pojok kiri memesan bir vodka, si pelayan mengangguk-angguk pelan sembari berpikir.

Si pelayan akhirnya agak bingung.

Tapi pelayan ini tak pantas disalahkan, siapa juga yang berteriak sambil menggumam dengan nada tak jelas ketika memesan minuman.

Kemudian si pelayan menaruh segelas minuman –yang ia pikir adalah bir vodka ke meja di pojok kiri.

Belum sempat beberapa langkah si pelayan berjalan menjauh dari meja itu, terdengar suara gebrakan dari meja di dekatnya

YA! BODOHNYA KAU! KU BILANG BIR BUKAN SUSU BODOH!” teriak lelaki berbadan kurus di sudut ruangan yang membuat seorang pelayan yeoja bernama Minhyun terkaget mendengarnya.

Ini salahnya hari ini ia sedang penuh dengan pikiran hutang, sampai ia bisa salah memberi pesanan.

Minhyun masih terdiam berdiri di tengah cafe, ia takut untuk menatap namja yang meneriakinya tadi. Minhyun berfikir namja itu berwajah seram, kurus, dan bau. Saat ia mengantarkan pesanan, Minhyun hanya memberikan minuman dan tidak menatap pelanggannya sedikitpun.

YA! KAU DENGAR AKU TIDAK?!”

“…” Minhyun hanya bisa menelan ludahnya dalam dalam, dan akhirnya ia berani membalikkan badannya perlahan tetapi dengan keadaan wajah menunduk ke bawah.

“Kau pelayan atau bukan sih? Masa aku di berikan susu? Kau pikir aku bayi?! Ha?!” namja itu rupanya masih mengoceh kepada Minhyun.

Minyun pun memberanikan diri menghampiri namja yang memarahinya dari tadi.

Mianhae. Akan ku ganti minumanmu,” jawab Minhyun sambil mengambil minuman di meja tetapi tangannya di genggam erat oleh namja yang di kenal oleh orang orang bernama Hoseok.

“Kau tuli?! Kutanya bukannya dijawab!”

Lalu Minhyun mulai menatap Hoseok yang wajahnya masih terlihat kesal itu. Saat Minhyun menatap wajah Hoseok seketika Hoseok jantungnya seperti berhenti berdetak, entah apa yang ia pikirkan tiba tiba hatinya tenang saat menatap mata cantik dari pelayan yang sedang ia marahi.

Hening.

Masing-masing dari mereka mendengar dua hal yang sama, yaitu detak jantung berdegup kencang dan lagu yang masih mengalun.

Mianhe… Sungguh, akan kuganti minumanmu,” Minhyun bergumam pelan, sangat amat pelan.

Tapi Hoseok mendadak dapat membaca gerak bibir Minhyun.

“Uh? Tiba-tiba aku jadi tidak mood meminum bir,”

“Tapi aku yang salah menaruh minuman, ini murni kesalahanku,” ucap Minhyun.

“Aku… sudah kubilang aku benar-benar kehilangan mood untuk minum bir! Kau itu pelayan, dan pelanggan itu raja! Kau mengerti ‘kan?!” Hoseok berusaha untuk tak terlihat canggung, ia gengsi untuk langsung bersikap baik di depan wanita.

Meskipun, ia sangat yakin saat tidur nanti ia tak bisa melupakan manik mata Minhyun dan tatapan hangatnya.

Minhyun agak tersentak, tetapi matanya masih menatap Hoseok.

Sial, lama-lama aku bisa gila disini,” pikir Hoseok, “Siapa namamu? Dan berapa harga susu itu?”

“Namaku? Park Minhyun. Harga susu cukup lima won saja, tuan. Tapi, tuan tak perlu membayar, sungguh.”

Hoseok langsung mengeluarkan koin bernilai lima won dan menaruhnya di meja, ia pun langsung bergegas menjauh dari wanita yang bernama Minhyun itu.

BRUK!

“Hei! Kalau jalan lihat– Oh! Letnan Jung, kau sering kesini juga?” ucap pria yang bertabrakan dengan Hoseok, diketahui namanya adalah Yoongi.

“Tidak juga, jadi ini yang kau maksud sebagai cafe terbesar di Seoul?” tanya Hoseok, meskipun Hoseok masih berbicara dengan Yoongi, tetapi gerakan mata Hoseok tak bisa berhenti mengikuti kemana Minhyun pergi.

Yoongi mengangguk sembari merogoh kantungnya, kemudian ia mengambil cerutu andalannya lalu menyesapnya.

“Kau mau cerutu?” tawar Yoongi.

Hoseok menggeleng pelan, “Aku mau tidur,”

“Hei, kita akan melakukan penyerangan dalam beberapa hari lagi, kau bisa tidur?”

“Aku sudah tidak tidur selama tiga hari,”

Yoongi dan Hoseok sudah beberapa menit berbicara di depan pintu cafe.

Dan sudah beberapa menit pula, Hoseok masih terus memperhatikan Minhyun.

“Kau bisa juga berinteraksi dengan wanita, omong-omong. Aku melihatmu menatap dalam mata wanita.” Yoongi langsung berlalu meninggalkan Hoseok yang masih terdiam di depan pintu cafe.

Hingga akhirnya Hoseok melangkahkan kakinya keluar dari cafe itu, dengan pikirannya yang penuh dengan seorang Park Minhyun.

00000000000000

“Apa penampilanku bagus tadi?” tanya wanita yang baru saja turun dari panggung, ia bertanya kepada pria yang sudah menyambutnya di belakang panggung.

“Tentu saja,” jawab pria itu, yang diketahui namanya adalah Kim Seokjin, salah satu Komandan Tertinggi di divisi perang di Seoul

“Kau bahkan tak bisa melepaskan pandanganmu dariku, ”Yoon Hwarin –si penyanyi cafe itu, kemudian terkikik.

Seokjin lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun ia tersenyum, “Malam ini pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Seokjin.

Hwarin mengangguk, “Malam ini aku hanya bekerja sampai jam sebelas malam, sisanya Jimin akan bernyanyi sampai jam tiga pagi sepertinya.”

Seokjin mengangguk, “Jadi kau akan menemaniku semalaman?”

“Hm… Ya, tentu. Ah, hei! Mengapa malam ini kau membuat kalimat itu terkesan ambigu?” Hwarin terbatuk.

Seokjin tertawa renyah, “Kau habis melihat dua sejoli berciuman panas di pojokkan cafe tadi ya?”

“K-kau melihatnya juga?” tanya Hwarin kikuk.

Seokjin masih tertawa sembari mengangguk-angguk.

“Ah! Minhyun-sshi! Kemarilah!” Hwarin ingin mengalihkan pembicaraan, ia pikir lama-lama kedua pipinya akan memerah kalau terus-menerus membicarakan yang tadi.

Ne?” Minhyun dengan sigap langsung menghadap Hwarin.

“Seokjin, malam ini kau mau ditemani minuman apa?” tanya Hwarin.

“Ah ya, lima botol Soju untuk kami, Minhyun-sshi. Antarkan ke tempat biasa,” jawab Seokjin –mengetahui dengan pasti bahwa Hwarin akan menghabiskan empat botol Soju dan ia hanya akan menghabiskan satu botol saja.

Minhyun mengangguk dan langsung menghilang dari hadapan mereka berdua.

“Ayo ke tempat kita biasa mengobrol.”  Seokjin menggebu mengajak Hwarin.

“Kutebak, masalahmu akhir-akhir ini semakin menumpuk ‘kan?” tanya Hwarin.

“Aku belum tidur selama beberapa hari.”

“Tenanglah malam ini, kau bisa menumpahkan semua kepenatanmu padaku,” Hwarin berbicara seakan ia adalah orang yang sangat berharga bagi Seokjin.

Padahal mereka tak lebih dari sekedar teman curhat.

Namun malam ini, dan baru pertama kali, tangan Hwarin digenggam erat oleh Seokjin menuju ruang hias –ruang tempat dimana mereka biasa berbincang-bincang berdua.

Saat itu, Seokjin tersenyum begitu tulus untuk Hwarin, seakan senyumnya menyampaikan terima kasih.

00000000000000000

Yoongi duduk santai di cafe sembari menatap sekeliling, ia tak henti-hentinya menyesap cerutu kesayangannya.

Hujan sudah berhenti, tengah malam mulai menjelang, suasana cafe yang tak seramai biasanya, malah terkesan hampir senyap –karena para pengunjung pasti sudah mendengar rumor bahwa akan ada beberapa aksi baku tembak yang akan dilancarkan oleh para tentara Jepang di tempat-tempat umum, lampu-lampu cokelat yang remang, itu semua membawa ketenangan sendiri bagi Yoongi.

Tapi pengunjung cafe hari ini begitu ceria walaupun suasana tak ramai, meskipun tak terlalu banyak pengunjung, mereka yang terkesan seperti para pelanggan setia cafe ini, begitu senang karena disuguhkan permainan saxophon yang jarang sekali ada.

Nama si pemain saxophone ini Kim Taehyung, memang Taehyung ini jarang muncul di cafe, tapi setidak-tidaknya Yoongi kenal dia.

Dan vokalis di cafe ini ada tiga: Yoon Hwarin, Jeon Jungkook dan Park Jimin.

“Yoongi hyung! Kemana saja kau?” Jimin langsung berlari dari belakang panggung mendatangi Yoongi yang masih menyesap cerutunya.

“Sibuk akhir-akhir ini, sepertinya kau yang baru datang, tadi aku sudah bermain piano disini saat Hwarin bernyanyi, tapi aku menghirup bau hujan sebentar diluar, udaranya sejuk.” Yoongi menatap panggung, siap untuk memainkan pianonya lagi.

“Ayo ke panggung lagi, hyung! Aku akan berduet dengan Jungkook, kau memainkan piano dan Taehyung tetap dengan saxophon miliknya, ini jarang terjadi.” Jimin tanpa basa-basi langsung menarik Yoongi ke panggung.

Dan cerutu Yoongi tertinggal di meja.

0000000000000000

Tuk… Tuk… Tuk… Tuk…

Seorang pria yang tampak tinggi dan kharismatik sedang terlihat agak tak tenang, jari-jemarinya terus mengetuk meja kerjanya.

Kim Namjoon –nama pria itu, seorang Komandan Tertinggi di Divisi Jepang untuk penyerangan Korea, diketahui sedang menunggu kedatangan Letnan Jung.

Krek…

“Letnan Jung! Apa yang membuatmu begitu lama untuk datang kesini?” ucap Namjoon dingin.

“Saya menyelesaikan pematangan untuk rencana penyerangan, tuan.” Hoseok berucap dengan sikap sempurna nan tegap sembari memasang sikap hormat.

“Untuk apa mematangkan rencanamu kalau rencana Yoongi sudah matang? Sudahlah, kita pakai saja rencana Yoongi dalam penyerangan! Memangnya kau tidak tahu kalau kita memakai rencana Yoongi?” tatapan Namjoon semakin tajam ke arah Hoseok.

“Saya berniat menggabungkan rencana saya dengan rencana Yoongi, tuan.”

“Letnan Jung! Untuk apa kau mengubah-ubah rencana yang sudah sempurna?! Kau mengulur-ulur waktu saja! Cepat bergegas ke markas itu dan pastikan seluruhnya mati! Kirimkan pasukan berdasarkan rencana Yoongi secara persis! Kau mengerti?!”

“Baiklah, tuan.”

BRAK!!

Tiba-tiba Namjoon memukul meja, “Jangan jalankan rencana yang tidak kusuruh! Kau ini Letnan tapi masih berpikiran sempit, ya?! Kau sudah mengulur waktu selama satu jam, jangan sampai kejadian ini terulang! Cepat jalankan misi ini!”

“Siap, tuan.” Hoseok mengangguk patuh lalu menghormat, kemudian berbalik dan keluar dari ruangan Namjoon.

“Anak keparat itu masih saja belum tahu taktik perang,”  gumam Namjoon sembari menatap jendela ruangannya.

0000000000000000

Tap… Tap… Tap…

Suara sepatu khas Letnan di markas rahasia sekaligus gudang penyimpanan senjata membuat seluruh tentara di ruangan itu berdiri tegap terbangun dari istirahat sejenak mereka dan akhirnya menjadi bersikap siap siaga.

“Selamat malam, Letnan Kim. Apa yang membuat anda datang kemari malam-malam begini?” tanya Jeon Jungkook, tentara dengan pangkat yang paling tinggi.

“Aku kemari hendak memeriksa persenjataan, Komandan Tentara Jeon.”

Jungkook mengangguk lalu mengisyaratkan beberapa tentara untuk membukakan pintu gudang persenjataan.

TUNG!

“Tentara Shin!”

Tentara Shin, orang yang baru saja membukakan pintu gudang persenjataan, sudah bersimbah darah di depan pintu karena ada tembakan tiba-tiba.

TUNGG!!! TUNGG!!! TUNGG!!! TUNGG! TUNGGG!

Belum sempat para tentara siap sepenuhnya untuk menyerang, korban-korban lain sudah berjatuhan.

“Letnan Kim! Gudang persenjataan terbakar!” pekik salah satu tentara.

DUARRR!

Dan gudang persenjataan meledak tiba-tiba, membuat para tentara yang berada sangat dekat di gudang itu dan sedang berada di dalam gudang itu langsung mati.

TUNG! TUNG! TUNG!

Bau anyir darah bercampur dengan bau besi menguar ke seluruh ruangan.

Dalam sekejap, ruangan itu bersimbah darah.

Pasukan Jepang sangat banyak dan mereka terus melancarkan tembakan secara sembunyi-sembunyi, sedangkan disana hanya ada beberapa tentara Korea yang siaga dengan senjatanya.

Beberapa tentara Korea sisanya bersembunyi, termasuk Letnan Kim juga masih bersembunyi sambil menembakkan peluru, meskipun tangan kirinya sudah sedikit tertembak.

Sekarang begitu sulit membedakan mana tentara Korea mana tentara Jepang, lampu-lampu disana sudah ditembaki beberapa waktu lalu, dan suasana ruangan begitu gelap, dingin dan mencekam.

Para tentara sekarang hanya harus mengandalkan akurasi dan insting mereka.

Dan tiba-tiba hening, para tentara Korea merasa teman-teman mereka sudah sangat banyak yang mati.

“Oh, Letnan Kim?” bisik Jungkook, ternyata Kim Taehyung –Letnan itu, berada disamping Jungkook.

“Jungkook, aku masih heran, disini pasti ada penyusup dan pengkhianat, tidak mungkin tempat ini diketahui dengan mudah oleh tentara Jepang, pasti ada yang membocorkan dimana tempat markas rahasia ini,” bisik Taehyung, “Sial, sekarang kita harus lebih berhati-hati.”

“Cepat atau lambat, firasatku mengatakan tempat ini akan meledak juga,” bisik tentara Lee.

“Kalau begitu, kita harus cepat keluar dari sini, setidak-tidaknya harus ada yang hidup agar dapat melaporkan kejadian ini kepada Komandan Kim,” bisik tentara Kwak.

“Tetap siaga dengan senjata kalian, kita akan keluar dari sini,” Taehyung langsung sedikit berdiri dari jongkoknya, tetap siaga dengan senjatanya sembari memberi aba-aba dengan tangannya.

“Satu… Dua… Tiga…”

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Baru saja mereka berdiri dan bergegas lari menuju pintu keluar, rekan Taehyung dan Jungkook yang tersisa, tentara Kwak dan tentara Lee, sudah bersimbah darah dibelakang mereka.

Taehyung dan Jungkook terus menembaki ke arah peluru lawan, meskipun mereka tak terlalu bisa melihat siapa yang menembak.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

“JEON JUNGKOOK!!!” pekik Taehyung melihat Jungkook terus berlari bersamanya, namun ia tak berhasil lagi menghindari tembakan yang terlalu banyak.

Sudah berkali-kali Jungkook dan Taehyung menghindari tembakan, namun kali ini bahkan kedua paha Taehyung hampir tak selamat namun sudah terkena tembakan –meski meleset, tembakan itu telah Taehyung pastikan tidak menembus kedua tulang pahanya, disusul oleh lengan kirinya pun akhirnya tertembak.

Sedangkan perut, kedua sisi bahu dan betis kanan Jungkook sudah tertembak.

Namun mereka terus menerus berusaha berlari menuju pintu keluar, meskipun jejak darah mereka sudah ikut membanjiri markas tersebut.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Taehyung dan Jungkook masih terus menembak, tapi kedua tangan mereka pada akhirnya menyerah karena sudah kena tembak juga.

“Jungkook! Cahaya sudah terlihat! Itu pintu keluar!” teriak Taehyung dengan semangat pantang menyerahnya.

DOR! DOR! DOR!

Tepat setelah mereka keluar dari markas itu, dada Jungkook tertembak, tapi Taehyung tak bisa melihat dengan jelas apakah peluru itu mengenai jantungnya atau tidak.

Tapi Jungkook hampir terjatuh, tapi Taehyung langsung memegang lengan berdarahnya dengan erat.

Taehyung hampir tak tahu bagian tubuhnya yang mana yang tertembak, ia justru malah tahu bagian tubuh mana saja tempat Jungkook tertembak.

“Jungkook! Kita harus selamat! Markas ini tak terlalu jauh dari kota!”

Hyung…” Taehyung tak menengok ke belakang, tapi ia tahu ia sekarang sedang menggenggam tangan Jungkook, bahkan Taehyung mendengar Jungkook menjatuhkan senjatanya.

Batuk darah sudah tak dapat dihindari, Taehyung merasakan kepalanya kecipratan darah.

Tapi akhirnya mereka keluar dari markas rahasia itu

Srep… Srep… Srep…

DOR! DOR! DOR!

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

HYUNG!” Jungkook memekik melihat Taehyung begitu banyak terkena tembakan di perut, bahkan sekarang dada Taehyung sudah tertembak.

Seluruh tubuh mereka sekarang sudah bermandikan darah, tetapi Taehyung sekarang sedang sedikit puas, karena ia melihat tembakannya kena ke arah beberapa pasukan Jepang yang terlihat.

“Uhuk… Huk…” batuk berdarah Taehyung sudah semakin berat, “Jungkook, tolong terus pegang erat tanganku, kita harus selamat dari sini.”

DUARRRR!!!!

Suara ledakan yang cukup memekakkan telinga terdengar oleh Taehyung dan Jungkook, “Itu pasti markas kami yang meledak,” pikir Taehyung sembari terus melanjutkan perjalanannya menuju ke kota bersama Jungkook.

Tapi sekarang tangan Jungkook seperti sudah mati rasa, tangannya semakin lemas, sekarang ia seakan ditarik oleh Taehyung keluar dari hutan. Mereka tahu mereka sudah sangat banyak kehilangan darah, tapi semangat Taehyung menyimbolkan seakan mereka belum tertembak sama sekali.

Mereka terus menyusuri hutan di tengah malam, Taehyung terus berlari kencang diantara gelap malam, ia sudah hafal betul jalan menuju kota.

Bruk!

Jungkook terjatuh.

“Jungkook!” baru saja Taehyung berbalik ingin membawa Jungkook lari bersamanya, beberapa peluru sudah menembakinya.

Taehyung tak punya pilihan lain, ia benar-benar tak punya pilihan lain selain membiarkan Jungkook disana dan dirinya menghindari tembakan-tembakan, ia tak ingin mati karena ia punya tanggungjawab untuk melaporkan kekacauan ini ke Komandan Kim.

Dalam hatinya ia terus berdoa semoga Jungkook selamat.

Secercah cahaya lampu kota menerangi mata Taehyung, “Akhirnya… Sampai juga…”

Taehyung terus memaksakan langkahnya, ia berpikir pasti tentara Jepang telah menyangkanya mati, ia terus berusaha supaya ia bisa berjalan ke rumah sakit dulu untuk mengobati lukanya.

Aku… tidak… boleh… mati… karena Jepang keparat itu…

Bruk!

Entahlah, Taehyung mati atau tidak, tenaganya sudah habis.

Namun nafas tersengal-sengalnya masih dapat terdengar, meskipun begitu kecil kedengarannya.

Dan hujan telah mengguyur tiba-tiba saat itu.

00000000000000000000

Krek…

Seorang wanita membuka pintu ruangan salah satu pasien dan kehadirannya tak disadari sama sekali oleh seorangpun manusia di dalam ruangan itu.

“Kimi?” baru setelah orang itu –Bae Joohyun, menegur sapa perawat di ruangan itu, Kimi menengok ke arahnya.

“Ah! Eonni, hari ini berapa perawat dan dokter yang berjaga malam?” tanya Kimi.

“Ada lima perawat dan dua dokter. Kau bisa pulang sekarang, sudah tiga hari berturut-turut kau menggantikan jam kerja orang.” Irene tersenyum ke arah Kimi, “Kau sudah memberi pasien itu obat penenang ‘kan?” tanya Joohyun sembari melirik pasien yang sedang tertidur pulas di belakang Kimi.

“Tentu saja. Omong-omong, aku bisa pulang? Astaga, aku sudah rindu dengan kucingku! Gomawo, eonni.” Kimi-pun tersenyum lebar ketika mengetahui bahwa ia bisa pulang.

“Kau pasti sangat lelah beberapa hari ini, istirahatlah,” ucap Dokter Bae sembari tersenyum.

Dan Kimi langsung berlari keluar dari ruangan itu.

00000000000000

Kimi sudah cukup jauh berjalan keluar dari rumah sakit, hujan mulai mengguyur kota Seoul ketika itu.

Ah… Lupa bawa payung…” pikirnya.

Sebenarnya, pasti di rumah sakit akan ada yang meminjamkannya payung, tetapi ia sudah cukup jauh dari rumah sakit.

Jadi ia memutuskan untuk terus berjalan, selama hujannya tidak berpetir, Kimi pikir ia hanya perlu terus menerobos hujan itu untuk sampai rumah.

Malam semakin pekat.

Tapi Kimi baru saja melihat cahaya petir berpendar di langit.

DRESSS…

Hujan lebat semakin mengguyur kota Seoul saat itu, dan Kimi pikir ia terpaksa harus melewati gang sempit untuk menuju ke rumahnya, karena cepat atau lambat ia pikir akan banyak petir menyambar.

Trep… Trep… Trep…

Srek…

Kimi sedikit merinding karena mendengar suara selain langkah kakinya dan guyuran hujan, ia merasakan kehadiran orang lain selain dirinya.

Kimi-pun mempercepat langkahnya untuk keluar dari gang itu, tetapi suara samar-samar itu malah semakin mendekat dan semakin terdengar.

Akhirnya Kimi malah memutuskan untuk berhenti berjalan, ia terdiam beberapa saat seraya berusaha menyaring suara yang ia percayai langkah kaki itu dari suara guyuran hujan.

“Huk… Huk…”

Ia malah mendengar suara batuk yang begitu berat.

Semoga bukan orang jahat… Semoga bukan orang jahat…” doa Kimi dalam hati.

Tapi ia sudah dekat ke jalan besar, ia malah melihat bayangan pekat yang terpantul dari lampu jalan.

Siapa yang melewati jalan yang direkonstruksi dengan begitu lambat seperti itu?” pikir Kimi, akhirnya ia memberanikan diri untuk semakin mendekati sumber siluet itu berada.

Karena hatinya tiba-tiba berkata bahwa ia harus mendekati sosok itu.

Namun bau anyir darah tiba-tiba menusuk indra penciumannya.

“Astaga!” Kimi benar-benar terkejut ketika di depannya seorang tentara bermandikan darah dan air hujan sudah dalam keadaan sekarat, tentara itu telungkup, tak tahu tentara itu hidup atau mati, “Gwaechanha?” Kimi langsung berjongkok melihat tentara itu sembari menggoyang-goyangkan tubuh tentara itu.

Kimi langsung memegang nadi tentara itu.

Dan denyut tentara itu sangat amat lemah.

“Ayolah, kau harus hidup! Kumohon… Astaga… Tolonglah… Kau masih bisa hidup, tuan. Aku yakin kau sudah berjalan jauh kemari, astaga…”

Kimi langsung menarik tentara itu berdiri, kemudian merangkulnya dan membawanya berjalan.

“Tolong bertahanlah, tuan. Saya mohon…”

Hujan semakin deras mengguyur kota Seoul, dan disinilah Kimi sekarang, berusaha berlari sembari merangkul tentara itu menuju ke rumah sakit, ia berdoa semoga orang ini tidak mati ketika ia membawanya ke rumah sakit.

Karena Kimi merasa, niat orang ini begitu kuat untuk hidup.

Hhh… Hh…

Nafas tersengal si tentara bersatu dengan suara hujan yang tak kunjung berhenti.

Entahlah, Kimi merasa berat badan si tentara sepenuhnya bertumpu padanya.

Tapi Kimi tak yakin orang yang dibawanya ke rumah sakit ini tentara atau bukan, karena bajunya tak menunjukkan orang ini adalah seorang tentara.

Menit demi menit terus berlalu, hingga akhirnya Kimi dan tentara itu sampai di rumah sakit.

Ini membuat Kimi semakin semangat menuju ke salah satu ruang rawat kosong untuk menyelamatkan si tentara.

Rumah sakit saat sepi saat itu, bahkan ketika Kimi masuk dari pintu rumah sakit saja, ia tak melihat satupun perawat sedang menjaga meja jenguk.

Kimi tak peduli siapa tentara ini, tapi Kimi telah memperhatikan bahwa tentara ini adalah tentara Korea, dan itu membuatnya lebih berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa orang dihadapannya ini.

000000000000000000000000

Sayup-sayup cahaya memasuki ruangan putih itu.

Taehyung perlahan membuka matanya.

SRUG!

“Duh…” Taehyung mengaduh, ia baru saja membuka matanya namun ia sudah memaksakan dirinya untuk bangun dan duduk di ranjang ruang rawat.

Akhirnya ia sadar ia sedang berada di rumah sakit, ia merasa badannya hampir tak bisa digerakkan sama sekali, kaku atau lumpuh, kedua kata itu yang sedang berputar-puoitar di otak Taehyung.

“Dimana Jungkook?!” sontak ia berteriak tanpa mempedulikan bagaimana keadaannya sekarang atau bagaimana pada malam itu ia sampai di rumah sakit.

Krek…

“Ah? Kau sudah bangun, Taehyung-sshi?” seorang perawat yang baru saja masuk ke ruangan itu membuat Taehyung sedikit terkejut.

“Tunggu, bagaimana kau bisa tahu namaku?” Taehyung langsung menengok ke arah perawat yang baru saja masuk dan membawa nampan dengan air putih.

“Dokter Bae kenal denganmu, ia bilang kau adalah Letnan yang pernah membantunya menggotong-gotong para tentara ke rumah sakit setelah penyerangan besar kelima beberapa bulan yang lalu,” Kimi pun menjelaskan, “Sungguh, Taehyung-sshi, aku bersyukur kau bisa dengan hebatnya bertahan, padahal tubuhmu sudah tertembus beberapa peluru.”

“Oh, iya. Terima kasih. Hm… Dokter Bae? Ah iya, ia juga dulu pernah mengobatiku saat perang. Omong-omong, siapa namamu?”

“Kim Kimi. Kau bisa memanggilku… Perawat Kim, mungkin?”

“Oh? Ya sudah.”

Keheningan menyelimuti ruangan itu beberapa saat, tatapan Taehyung mengarah ke segala arah, namun tiba-tiba tatapannya menerawang lurus.

Jeon Jungkook… Bagaimana aku bisa berada disini… Bagaimana kejadian kemarin malam…” otak Taehyung terus dan terus berputar, berusaha menggali kembali memori kejadian malam itu di dalam otaknya.

Sampai ia rasa migrain sedikit menyerangnya.

Mata Taehyung tiba-tiba membulat, ia ingat semuanya, pikirnya, mendadak ia benar-benar ingat betul bagaimana kejadian pada malam itu.

Kekacauan… Meninggalkan Jungkook di hutan… Diselamatkan…

Taehyung langsung menengok ke samping, lebih tepatnya sekarang ia sedang memperhatikan Kimi yang sedang menaruh nampan di meja samping ranjang lalu mengatur infus Taehyung.

“Kimi-sshi!” panggil Taehyung sembari tiba-tiba tangan kirinya memegang tangan kanan Kimi.

“Eh? Ada apa Taehyung-sshi?”

Aigo… Jeongmal… Kamshamnida…” Taehyung hampir terbata-bata mengucapkan terima kasihnya kepada Kimi.

Sedangkan Kimi malah sedikit memiringkan kepalanya sembari tetap melihat Taehyung, dan Taehyung-pun sedang melihat Kimi seakan berusaha menyampaikan apa isi hati Taehyung kepada Kimi.

“Kimi… Aku benar-benar berterima kasih, sungguh… Kau yang saat itu menyelamatkanku di jalan ‘kan?”

Kimi mengangguk pelan, ia masih kaget karena tangan Taehyung terus menggenggam lengannya.

“Eh… Taehyung-sshi, omong-omong… Tanganmu…”

“Oh maaf! Astaga, aku minta maaf Kimi-sshi.”

Akhirnya keheningan menyelimuti mereka lagi setelah Taehyung melepaskan tangannya dari lengan Kimi.

Kimi-pun memecah keheningan.

“Taehyung-sshi, saatnya mengganti perban ditubuhmu,” ucap Kimi sembari menuju lemari di ruangan itu, kemudian ia mengambil beberapa gulung perban.

Lalu Taehyung melihat dirinya sendiri, ia bahkan baru sadar dirinya tidak memakai pakaian Letnan, tapi ia memakai baju rumah sakit.

“Kimi, bisakah kau tidak menggunakan aksen formal ketika berbicara denganku? Aku ingin membuat suasana rumah sakit ini seperti bukan rumah sakit,” ucap Taehyung tiba-tiba ketika Kimi mendekati ranjangnya dengan membawa beberapa gulung perban.

“Jadi… Mungkin aku memanggilmu Taehyung oppa? Tidak apa-apa?” tanya Kimi dengan nada agak canggung.

Tiba-tiba tak tahu mengapa, pipi Taehyung sedikit bersemu merah, ia sudah lama tidak dipanggil oppa oleh wanita, “Ah, dari mana kau tahu aku lebih tua darimu?” tanya Taehyung

“Dokter Bae memberitahukanku… Eh, bukan-bukan, Dokter Bae pun memanggilmu oppa, dan aku lebih muda dari Dokter Bae, otomatis aku memanggilmu oppa juga,” Kimi pun menjelaskan kepada Taehyung, “Hm… Oppa? Apa kau bisa melepas bajumu sendiri? Aku akan mengganti perbanmu,” ucap Kimi dengan penuh keragu-raguan, ia tak yakin Taehyung dapat melepas bajunya sendiri, tapi ia coba memberikan pilihan kepadanya.

“Aku? Ah ya, aku akan melepaskan bajuku.” Taehyung pun mulai melepaskan bajunya, dengan tangan kanannya yang di perban, “Argh!” Taehyung mengaduh, ia lupa bagaimana kondisinya sekarang.

Oppa, gwaechanha?” Kimi langsung memegang kedua pundak Taehyung, kedua matanya menunjukkan sorot kekhawatiran, “Sudah kuduga kau tak bisa membuka bajumu sendiri, oppa. Boleh kubantu?” ucap Kimi dengan kikuk.

“Tentu saja, Kimi.” Taehyung tiba-tiba terkikik, “Astaga, Kimi, jangan membuat suasana jadi canggung begini. Sudah kubilang untuk membuat suasananya jadi lebih nyaman ‘kan?”

Kimi pun tersenyum kecil, lalu ia pun melepaskan baju Taehyung.

Taehyung tentunya diam saja dan masih memikirkan banyak hal, aku belum melaporkan kejadian penyerangan kepada Seokjin dan aku masih lemah berada di rumah sakit, kalimat itu terus berputar-putar di otaknya.

“Aku bisa melepaskan perban ini dari tubuhmu ‘kan?” tanya Kimi.

“Lakukanlah, Kimi. Kau pasti tahu apa yang terbaik untukku sekarang,” ucap Taehyung dan ia pun memejamkan matanya, kantuk mendadak menyerang kelopak matanya.

Gulung demi gulung perban memutari tubuh Taehyung, Kimi dengan lembut melepaskan perban dari tubuh Taehyung.

“Katakanlah kalau kau kesakitan, oppa,” ucap Kimi seraya tetap melanjutkan melepaskan perban dari tubuh Taehyung.

“Tentu, Kimi,” ucap Taehyung tetap dengan mata terpejam, tiba-tiba ia terkikik pelan.

“Hei, mengapa kau tertawa, oppa?” Kimi heran dengan sikap Taehyung, “Oppa memangnya tidak kesakitan?” batin Kimi seraya ia menggeleng-geleng karena yang kata Dokter Bae orang dihadapannya ini adalah Letnan tetapi tawanya bagaikan anak kecil yang sedang bermain dokter-dokteran bersama ibunya.

“Argh!” teriak Taehyung, kikikan pelannya pun hilang.

Aigo! Mianhe, oppa. Tadi sakit dibagian mana?” Kimi langsung melepaskan tangannya dari perban Taehyung, ia langsung menunduk hormat karena telah membuat Taehyung kesakitan.

“Tidak apa-apa, Kimi, maafkan aku berteriak, yang tadi bukan apa-apa, hanya sedikit ngilu saja,” Taehyung langsung mengisyaratkan Kimi untuk berhenti membungkuk-bungkuk dihadapannya.

“Ya sudah. Oppa lebih baik menenangkan diri dan tetap diam, daripada nanti sakit lagi, aku jadi tidak enak hati,” Kimi pun menatap Taehyung dengan tatapan penuh rasa bersalah, bibirnya sedikit mengkerucut.

Astaga, perawat ini menggemaskan sekali,” pikir Taehyung tiba-tiba kemudian ia tersenyum kecil.

Oppa? Boleh aku melanjutkan yang tadi lagi?” tanya Kimi pelan.

Taehyung mengangguk, “Ingat, jangan buat atmosfir di ruangan ini jadi canggung, mengerti?”

Kimi pun mengangguk dan kembali melepas perban di tubuh Taehyung.

Tak terasa, perban di tubuh Taehyung sudah lepas, sekarang tinggal perban di tangan dan kepala Taehyung.

“Kimi, bolehkah aku berbaring sebentar sebelum kau memasang perban di tubuhku?” Taehyung pun berbaring ketika Kimi menjawab, “Ya, tentu saja, oppa,” seraya melepaskan perban di tangannya.

Mata Taehyung pun kembali terpejam ketika Kimi melepaskan perban di tangannya.

Tiba-tiba mata Kimi yang awalnya terfokus menatap perban yang sedang dilepaskan dari tangan Taehyung, fokusnya teralihkan ke tubuh Taehyung yang sekarang tak memakai baju di depannya.

Wajah Kimi sedikit memerah, ia diam-diam memuji tubuh bagus Taehyung di dalam hatinya, tubuh yang terlatih karena latihan fisik dan peperangan, Kimi sedikit bersyukur, untung saja Taehyung memejamkan matanya, kalau tidak, Kimi bisa malu habis-habisan jika dilihat Taehyung dalam keadaan pipinya memerah akibat melihat tubuh bagus Taehyung.

Rasanya kemarin aku sudah melihatnya tidak memakai baju. Ah, mungkin karena kemarin tubuhnya sudah penuh dengan darah, dan aku dilanda rasa panik,” batin Kimi, kemudian ia mengembalikan fokusnya lagi ke lengan Taehyung.

“Kau mengapa menggeleng-geleng? Apa kondisiku separah itu?” tanya Taehyung tiba-tiba dengan matanya yang sudah melihat ke arah Kimi.

“Oh, oppa, bukan apa-apa, tenang saja, justru pemulihanmu nampak cepat, sepertinya itu karena kau memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh,” Kimi lalu tersenyum lebar, “Bisakah kau bangun lagi? Aku akan memasang perban untukmu,”

Taehyung pun langsung mendudukkan dirinya di ranjang, “Jadi, kira-kira kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?”

Kemudian Kimi dengan sigap melepaskan perban di kepala Taehyung, sekarang Kimi mulai memasang perban di tubuh Taehyung, “Lima hari lagi? Seminggu lagi? Aku juga kurang tahu, itu tergantung dari kondisimu untuk beberapa hari kedepan, yang jelas, hari ini kau belum bisa keluar dari rumah sakit. Nah, meskipun nanti kau sudah dapat keluar dari rumah sakit, tapi tubuhmu belum dapat ikut ke medan perang dulu sampai kau benar-benar pulih. Begitulah, oppa.” Kimi pun menjelaskan panjang lebar.

Taehyung pun mengangguk-angguk menanggapi penjelasan Kimi.

Namun tiba-tiba ia mendesis seraya ekspresi wajahnya berubah kecut, dengan tangan kirinya mendadak meremas lengan Kimi yang sedang memasang perban.

Sontak Kimi langsung berhenti, dan kemudian kembali memasang perban di tubuh Taehyung, tapi wajah Kimi kembali khawatir karena ia tahu Taehyung secara tak sadar mencengkram pergelangan tangannya, tadi sedikit kencang, sekarang untung saja cengkraman Taehyung kepadanya sudah melonggar.

Sekarang muka Taehyung saja yang mengkerut masam, menandakan luka yang berbekas di tubuhnya membuatnya perih.

“Nah, sudah selesai. Oppa, maaf membuatmu kesakitan,” Taehyung pun membuka matanya, melihat Kimi menunduk meminta maaf dihadapannya.

“Sungguh, tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku, kau bilang aku akan sembuh dengan cepat ‘kan? Cerialah!” ucap Taehyung seraya tertawa kecil, “Sepertinya aku akan betah di rumah sakit selama berhari-hari,

Taehyung dan Kimi pun saling bertukar pandang, kemudian saling bertukar senyum.

“Kimi, kau akan ada disini sampai aku keluar dari rumah sakit ‘kan? Kau menghiburku, sungguh.”

Wajah Kimi sedikit memerah karena ucapan Taehyung, sedangkan si yang berbicara hanya menyengir bocah.

Oppa, saatnya memasang perban di kepala dan tanganmu,” Kimi pun mengalihkan pembicaraan.

000000000000000000000

Seorang wanita dewasa berjalan menuju ruangan Kim Namjoon.

Wibawa si wanita ini tak kalah kuat dengan wibawa si Komandan Tertinggi yang akan ia datangi.

Krek!

Bahkan si wanita ini membuka pintu dengan tegas, tanpa ada rasa takut dan keragu-raguan, ia akan menghadap seorang Kim Namjoon.

Hanya karena wanita ini, raut wajah Kim Namjoon yang selalu mengeras dan bengis, kini melembut, tetapi aura kewibawaannya terus menguar.

Namjoon sesegera berdiri dan membungkuk hormat dihadapan wanita ini, si wanita ini pun membungkuk hormat.

“Kau sudah membereskan semuanya?” tanya Namjoon sembari menatap lurus ke arah mata si wanita.

”Tentu saja, semuanya bersih,” ucap si wanita ini sembari mengangguk mantap.

“Memang Jepang itu kuat.” Namjoon tertawa lepas, si wanita dihadapannya ini pun ikut tertawa, “Kalau kita terus menerus melakukan penyerangan mendadak seperti ini, wilayah Korea dapat sepenuhnya benar-benar kita kuasai, dan kita akan menandatangani perjanjian untuk itu,”

“Tolong jangan tinggi hati dulu, Namjoon-sshi. Pikirkanlah baik-baik apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Ini baru awal, selamat menantikan penyerangan-penyerangan berikutnya. Aku permisi dulu.”

Kemudian si wanita ini menunduk untuk undur diri dari ruangan itu.

Wanita itu ternyata dapat menghimbau Namjoon untuk tak bertinggi hati.

Dan Namjoon tak sekalipun membentak wanita itu.

Namjoon kemudian menyesap kopi di mejanya sambil berdiri memandangi jendela di ruangan kerjanya, harum parfum wanita itu ternyata membaur dengan aroma kopi.

Namjoon paling menyukai aroma kopi, dan si wanita memakai parfum berbau kopi.

Lewat jendela, Namjoon pun dapat melihat si wanita sudah berada di bawah dan berjalan menuju gerbang kantor milik administrasi Jepang.

Namjoon pun mengulas senyum kecil.

000000000000000000000

Sudah seminggu sejak Taehyung menetap di rumah sakit, memang kehadiran Kimi disana membuat suasana di ruangan itu jadi tidak seperti suasana di ruangan rawat, tetapi sekarang ia mulai suntuk, karena ia sudah tak sabar untuk melaporkan kejadian tempo hari, penyerangan mendadak yang membuat semua tentara tewas.

Tapi meskipun kau sudah boleh keluar dari rumah sakit, kau tidak boleh ikut serta di medan perang dulu, oppa bahkan jangan sampai memikirkan hal yang terlalu serius dulu,” perkataan Kimi tiba-tiba terngiang di kepala Taehyung.

Taehyung ingat kemarin, dimana Kimi mengajaknya jalan-jalan ke taman rumah sakit, Taehyung bersyukur ia dirawat oleh perawat yang pengertian seperti itu. Kemarin Taehyung pun tak menyangka ternyata ia sudah bisa berjalan, padahal tiga hari yang lalu ia ingin ke kamar mandi saja dirinya masih dituntun dan dirangkul oleh Kimi.

Soal pemulihannya yang cepat, berarti Kimi tak berbohong soal itu.

Tapi Taehyung heran, selama seminggu ia masih terus melihat Kimi dengan sibuknya berada di rumah sakit, “Memangnya perempuan itu tidak pulang?” batinnya.

Krek!

“Taehyung oppa! Aku membawa kabar gembira!” ucap Kimi –tetapi rasanya ia hampir memekik mengisi keheningan di ruangan itu.

“Aku sudah bisa keluar dari rumah sakit?” tebak Taehyung dengan cengiran lebar.

Oppa, sudah bukan kejutan lagi kalau kau bisa langsung menebaknya,” bibir Kimi sedikit mengkerucut.

Kimi berbalik, tapi Taehyung menahan tangannya.

“Hei, Kimi.” Taehyung pun memanggilnya, membuat Kimi menengok ke arahnya.

“Bolehkah aku menginap di rumahmu selama beberapa hari?”

00000000000000000000

Kimi dan Taehyung baru saja sampai di rumah Kimi, tapi pandangan Taehyung tak mengarah ke pintu masuk rumah –padahal mereka sudah di depan pintu, namun pandangannya mengarah ke sepeda dan dua topi petani di depan rumah Kimi.

“Aku ingin bersepeda untuk melepas penat,” ucap Taehyung, masih dengan perban yang melekat di sekujur tubuhnya.

“Tapi… Kau masih belum sembuh total, tidak apa-apa?” tanya Kimi khawatir.

“Sudahlah, santai saja~” ucap Taehyung yang langsung memakaikan Kimi topi petani, ia pun juga memakai topi petani, lalu Taehyung menarik Kimi ke dekat sepeda tersebut.

Ini sudah sekitar seminggu sejak mereka bertemu pada malam itu, namun rasanya keakraban mereka bagaikan mereka sudah kenal lama.

Taehyung tanpa basa-basi langsung menaiki sepeda berdebu Kimi yang bannya agak sedikit bocor –karena sudah lama tidak digunakan, tapi Taehyung tidak peduli, mereka bisa mengisi angin ban di jalan, yang Taehyung pikirkan sekarang hanyalah dirinya berada di antara hamparan rerumputan luas untuk merilekskan pikiran.

“Diam saja kau, naiklah!” ucap Taehyung –yang entah sejak kapan sudah duduk di jok sepeda, sisi serius Taehyung selama di medan perang tersapu bersih, yang ada sekarang di wajahnya hanyalah cengiran lucu.

Sayangnya, ketika Kimi naik, Taehyung langsung menjalankan sepedanya, Kimi ditinggal.

“KIM TAEHYUNG OPPA!!!” teriak Kimi seraya mengejar Taehyung dengan sepedanya.

“Kau jadi orang jangan penuh keragu-raguan begitu!” ucap Taehyung sembari mempercepat laju sepedanya.

Tapi Kimi ini orangnya lincah dan cekatan, bukan hal sulit baginya untuk menyamai dirinya dengan sepeda dan langsung menaiki sepeda.

Sekarang Kimi sudah duduk di belakang Taehyung.

“Perawat yang lincah ini sebaiknya jadi pelari saja, larimu cepat juga,” Taehyung berkomentar dan hanya dibalas cengiran oleh Kimi, “Siap-siap pegangan! Jangan lupa pegang topimu juga, kalau bisa pegang topiku juga, kita akan menuju sawah dengan cepat!”

Taehyung langsung mengayuh sepeda dengan cepat, padahal ia memilih jalan yang ramai orang, tapi tak ada satupun yang Taehyung tabrak.

Refleks kedua tangan Kimi mencengkram pinggang Taehyung, tetapi Taehyung semakin mempercepat laju sepeda, ini membuat topi Taehyung maupun Kimi akan terbang, tapi Kimi menahan hal itu terjadi.

Dan sekarang kedua tangan Kimi sibuk sekali –untuk menjaga dua topi dan keseimbangan tubuhnya.

Akhirnya mereka sampai di persawahan, Taehyung langsung memberhentikan sepedanya.

Kimi turun dari sepeda itu, ia heran mengapa kaki Taehyung biasa saja, “Kau benar-benar tidak apa-apa, oppa?”

“Kimi, aku membuktikan padamu bahwa aku sudah sembuh, kau mengerti?” ucap Taehyung serius, “Sekarang, nikmatilah pemandangan hamparan sawah ini, memangnya kau tidak penat berada di rumah sakit terus?”

Kimi mengangguk pelan, Taehyung pun membawa sepeda itu ke pohon terdekat, kemudian menyandarkannya.

Taehyung terdiam sebentar, matanya terpejam, kemudian ia menghirup udara persawahan sebanyak-banyaknya, lalu ia menghela nafas.

Ketika Taehyung berjalan menyusuri sawah, Kimi mengikuti dari belakang, tapi mendadak tangan Kimi digenggam erat oleh Taehyung.

“Kau sudah pernah ke sawah ini tidak? Sawah ini, semakin kau menyusurinya semakin sempit jalannya, dan kau kemudian akan menyusuri padang rumput ilalang, beberapa tahun silam aku pernah berperang di tempat ini.” Taehyung menjelaskan panjang lebar.

Sedangkan Kimi di belakangnya –dengan tangannya yang masih digenggam erat, ia masih agak terkejut karena tangannya dipegang erat.

“Kimi, kau dengar penjelasanku tidak? Apa kau sudah pernah kesini?”

“Ah? Ne, oppa? Belum, aku belum pernah kesini,” jawab Kimi yang masih terkejut.

Sruk!

“Jangan melamun.” Taehyung pun mengulas cengir lagi.

Sruk! Sruk!

Kakinya cekatan dalam mencipratkan air lumpur sawah ke kaki Kimi.

YA! OPPA!”

Sruk! Sruk! Sruk!

Kimi tak mau kalah, ia pun mencipratkan air lumpur sawah ke Taehyung.

Dan mereka berakhir kejar-kejaran di sawah, saling mencipratkan air lumpur.

00000000000000000000000000000

“Memangnya ia masih bisa selamat?” Dokter Park menghela nafas panjang, melihat seorang pasien yang sudah koma selama seminggu membuatnya sudah kehilangan harapan, “Dokter Bae, kau bisa lihat apa yang tertera di layar itu, garis garis itu menunjukkan keadaan pasien semakin lemah.”

“Dokter Park! Aku tahu ia sudah banyak kehabisan darah saat itu, tapi aku yakin ia masih bisa hidup!” Dokter Bae yang biasanya lemah lembut, kini ia hampir naik pitam.

“Tapi yang seperti ini biasanya–”

“Biasanya apa? Ya sudah, kalau kau tak ingin menangani pasien ini lagi, aku saja yang menanganinya,” ucap Dokter Bae dingin.

Krek!

Dokter Park langsung keluar dari ruangan itu.

Dan Dokter Bae langsung termenung, ia menghela nafas begitu panjang, kemudian matanya melirik lagi layar bergaris itu.

Baru saja Dokter Park bicara tadi, benar saja, rasanya garis-garis di layar itu semakin ingin lurus.

Jeon Jungkook, ada yang masih mengharapkanmu untuk hidup. Tolong sadarlah.

TO BE CONTINUED

 

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Un(Impossible) – (Chapter 1)

  1. aput

    sebenarnya masih binggung gitu? tapi ini intinya tentang perang gitu kan? wah ini cerita pertama kali aku baca tentang perang perang kayak ni!! semangat ya .. next!! 😀

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s