[What is Your Color?] Aku ingin melihat laut – Oneshot

_20160310_221737

AKU INGIN MELIHAT LAUT

author: dhifanur

cast: jeon jungkook as kim jungkook

        Kim taehyung as kim taehyung

Main cast: Kim Seok Jin as Taehyung’s friend

                  Kim ji woo as taehyung and jungkook’s father

Genre: sad, brothership

Length: oneshoot

Rating: general

Disclaimer: Ini adalah ff yang aku buat untuk ikut lomba “SECCOND ANIVERSARY BTS FANFICTION.” Terima kasih untuk admin yang mau menerima ff ku ini ☺

Hyung berjanji, suatu saat nanti kita akan melihat laut bersama-sama.

 

        

 

        Di sebuah rumah yang nampak sangat kecil dan kumuh itu, terdapat sepasang anak lelaki yang tengah berbagi rasa senang, dikarenakan salah satu diantara mereka tengah merayakan hari kelahirannya.

      “Saengil cukka hamnida, saengil cukka hamnida, saranghaneun uri dongsaeng, saengil cukka hamnida.” Sebuah lantunan lagu ulang tahun, mengiringi setiap langkah seorang anak lelaki, yang tengah membawa cupcake menuju meja makan. ia menyalakan lilin itu dengan korek gas yang sudah ia siapkan.

           “Selamat ulang tahun, jungkook.” Anak lelaki yang nampak lebih muda itu, tersenyum tipis lantaran hari ini ia tengah merayakan hari kelahirannya. Walaupun, perayaan ulang tahunnya terbilang sangat sederhana, tetapi hatinya merasa sangat senang.

          “Gumawo, hyung! Aku sangat suka perayaan ini.” Ujar jungkook dengan pandangan lurus. Tanpa menoleh ke arah kakaknya ataupun ke arah kue diletakan. Ia hanya menampilkan senyuman polosnya yang membuat dirinya tampak imut.

          Kakaknya ikut tersenyum, saat melihat senyuman polos adiknya. Setidaknya, ia bisa membuat adiknya bahagia yang menurutnya sulit dilakukan, mengingat kehidupan mereka tak seindah anak-anak seusianya.

         “Sekarang waktunya tiup lilin. Kau bisa meminta semua keinginanmu sekarang juga.” Anak lelaki itu membantu adiknya untuk meniup lilin. Mengingat, adiknya tidak tahu dimana kue itu diletakkan.  Jungkook menempelkan kedua tangannya dan memejamkan matanya sejenak. Usai meminta keinginannya, ia membuka matanya dan Meniup lilinya.

          “Kau ingin minta apa, jungkookie?” Tanya kakaknya penasaran. Ia tak sabar menunggu jawaban dari adik kesayangnya itu.

         “Hal yang paling kuingingkan, adalah bisa  melihat indahnya laut bersama kakak.” Hati kakaknya mencelos, takala mendengar semua permintaan adiknya. Ia menatap nanar adiknya, yang terus menatap lurus tanpa melihat dirinya.

Hatinya terasa perih, hingga butiran bening terus memaksanya keluar dari pelupuk matanya. Memang permintaan jungkook terbilang sederhana. Tetapi, bagi jungkook permintaan itu justru istimewa. Mengingat, dirinya terlahir berbeda dari yang lain.

    Kakak jungkook berjalan mendekatinya dan menariknya ke dalam dekapannya. Ia menumpahkan cairan bening yang sudah terbendung di matanya. Hatinya seperti tertimpa benda-benda runcing, setiap kali ia melihat adiknya, yang tidak sesempurna anak-anak seusianya. Bahkan, adiknya sendiri tak tahu, bagaimana rupa wajah kakaknya, seperti apa bentuk bulan, seperti apa pelangi, ia tidak tahu itu semua. Ia hanya mengandalkan apa kata orang, tentang indahnya dunia yang tidak bisa ia lihat sendiri.

Hyung berjanji, suatu saat nanti kita melihat laut bersama-sama.” Anak lelaki itu mengelus surai hitam adiknya.

       “Kau berjanji, Taehyung hyung?” Tanya adiknya

        “Tentu, aku berjanji.” Taehyung mengangguk dan mengusap cairan bening di wajahnya. Ia menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking adiknya, dan mengikat janji mereka.

         “Gumawo, hyung. Aku menyanyangimu.” Tutur jungkook

          “aku juga menyanyangimu, jungkook.” Balas taehyung seraya mengusap-ngusap punggung adiknya.

 

            “Kenapa kau bodoh sekali, huh?!” Bentak seorang pria tua , seraya berkacak pinggang. “Apa kau tidak tahu berapa kerugiannya? Bahkan, gajimu saja tidak cukup untuk menggantikannya.” Pria tua itu memukul kepala pegawainya dengan raut wajah kesal.

          “Maafkan saya, kepala seo. Kumohon, maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Lelaki muda itu membungkukan badannya berkali-kali sebagai tanda permintaan maaf.

         “Kali ini kumaafkan kesalahanmu. Tetapi, jika kau mengulanginya lagi…” Pria tua itu mengarahkan jari ke pegawainya. “Aku tidak akan segan, memecatmu dari pabrik ini!” Ancamnya yang membuat Pegawainya tak berani mengelak.

        “Tidak seharusnya aku memperkerjakan bocah SMA. Itu hanya membuatku rugi.” Ketua seo berdecak dan pergi begitu saja. Setelah kepergian bosnya, lelaki muda itu mengambil besi yang telah jatuh. Namun, saat ia hendak mengambil besi, ada sebuah tangan yang ikut membantunya mengangkat besi yang rumayan berat itu.

        “Seok jin, hyung.” Lelaki yang dipanggil seok jin itu tersenyum kecil. Ia menepuk kepala temannya yang jauh lebih muda darinya.

        “Aishh! Kenapa kau memukulku?” Protes teman seok jin itu. Ia mengelus kepalnya yang terasa sakit.

        “Itu karena kau bodoh, kim taehyung! Kau selalu saja mencari kesalahan.” Celoteh seokjin. “Seharusnya kau sepertiku. Tidak pernah melakukan kesalahan.” Ujar seokjin membanggakan diri.

“Cih, kau ini terlalu percaya diri, hyung. Padahal, kau sendiri juga sering melakukan kesalahan.” Taehyung berdecih melihat kepercayaan diri temannya. Sedangkan seok jin, ia malah menyengir kuda.

“Bagaimana kalau sekarang kita minum kopi?” Usul seokjin.”hari ini kau terlihat lelah. Aku khawatir kau akan sakit.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku?” Tanya taehyung bingung

“Besok saja kau lanjutkan pekerjaanmu. Tubuhmu butuh istirahat.”

” baiklah. Hari ini aku memang sangat lelah.” Taehyung menyetujui usulan temannya. Ia juga butuh waktu senggang, untuk mengistirahatkan tubuhnya.

 

“Bagaimana kabar adikmu? sudah lama aku tidak bertemu dengannya.” Tanya seok jin seraya menyesap manisnya secangkir caramel macchiato

“Adikku baik-baik saja. Dan Kemarin, aku mengadakan pesta untuk ulang tahunnya , dan dia terlihat sangat senang.” Ujar taehyung seraya menampilkan senyumannya.

“kenapa kau tidak mengundangku? Apa kau tidak tahu, aku ini sangat suka pesta?” Seok jin sedikit protes lantaran dirinya tak diundang ke pesta adik temannya.

Taehyung terkekeh “itu hanya pesta kecil. Tidak ada wanita cantik ataupun makanan lezat seperti yang kau inginkan.”

“Tapi setidaknya, kau harus mengundangku karena aku temanmu. Walaupun pestanya kecil, aku tetap menyukainya.” Lagi-lagi Taehyung terkekeh saat melihat raut wajah kesal temannya.

“Tapi hyung, entah mengapa hatiku merasa sakit, saat aku tahu keinginan adikku.” Raut wajah taehyung yang awalnya senang, kini berubah menjadi sedih. Ia berhenti terkekeh, lantaran keinginan adiknya terlintas di benaknya, yang membuat hatinya terasa sakit tiap kali mengingatnya.

Sedangkan Seok Jin, ia mengkerutkan kening karena otaknya tak menangkap maksud dari ucapan temannya itu.” Apakah keinginan adikmu sangat berat? tapi, sepertinya aneh jika adikmu meminta yang macam-macam.” Tanya seok jin heran.

“Kenginannya adalah ia ingin melihat indahnya laut, hyung. Dan saat aku tahu permintaannya, hatiku seakan ditusuk karena aku sulit mengabulkan keinginannya” Cairan bening terlihat sedang tertampung di pelupuk mata taehyung. tergambar jelas bahwa ia sedang menyimpan rasa sedih di hatinya. Seok jin ikut prihatin dengan suasana hati temannya itu. Ia hanya bisa menepuk pundak taehyung bermaksud untuk memberinya kekuatan.

“Aku yakin, suatu saat adikmu akan mendapatkan keajaiban” Seok jin memberi semangat untuk sahabat karibnya itu.

“Aku tidak yakin dengan itu, hyung. Sudah bertahun-tahun, aku berusaha untuk mendapatkan pendonor, Tetapi kerja kerasku belum terbayar sampai saat ini.” rupanya dukungan dari seok jin tak berhasil membuat taehyung bersemangat. Justru, Taehyung malahan meneteskan butiran bening dari matanya.

“Jangan pesimis seperti itu! Tuhan tidak mungkin, membiarkan makhluk ciptaan-Nya menderita.”

“Aku berharap seperti itu, hyung. Aku ingin adikku secepatnya bisa melihat. Hatiku sudah tak sanggup melihat dirinya menderita sama sepertiku.” Suasana yang awalnya diisi oleh kesenangan, berubah menjadi kesedihan yang menggoreskan hati. Wajah ceria Taehyung yang biasa ia tampilkan, mulai tertutupi oleh butiran bening yang sedari tadi terbendung di matanya. Seok jin menepuk-nepuk pundak temannya lantaran ia juga merasakan kepedihan hati sahabat karibnya. Ia tidak ingin banyak bicara, karena takut ucapannya bisa membuka goresan luka yang lebih dalam di hati temannya.

Namun, sebuah suara deringan ponsel terdengar nyaring dan memecahkan keheningan di antara mereka. Menyadari ponselnya bergetar, taehyung mengusap air matanya, dan menyentuh tombol hijau di layar ponselnya.

yomseyo?”

“kau ingat aku kan, kim taehyung-ssi?” tanya seorang wanita dari seberang sana.

nde. aku ingat siapa dirimu. Tapi, ada apa anda menghubungi saya?” Taehyung berbalik bertanya.

“Begini, aku sudah mendapat pendonor mata untuk adikmu. Dan adikmu bisa di operasi besok hari.” air muka sedih taehyung pudar begitu saja dan tergantikan oleh senyuman lebar di wajahnya. Seok jin menautkan salah satu alisnya, saat melihat perubahan drastis ekspresi wajah sahabatnya itu.

“be-benarkah, dokter lee?” tanya taehyung antusias

nde. adikmu bisa menjalani operasi mata esok hari. Ku ucapkan selamat untukmu, taehyung-ssi.”

kamsanamida, dokter lee. besok, saya akan pergi ke rumah sakit secepatnya.” Taehyung mengakhiri panggilannya dengan dokter lee. senyumannya tak pernah lepas semenjak mendapat panggilan dari dokter mata adiknya itu.

“ada apa denganmu, taehyung? mengapa wajahmu tiba-tiba gembira seperti itu? aku harap sahabatku ini tidak gila.” Tanya seok jin keheranan.

hyung, adikku sudah mendapat donor mata. Dan besok, ia akan menjalani operasi. Ternyata kau benar. Tuhan tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya menderita.” kedua sudut bibir seok jin terangkat. Sekarang ia mengerti, mengapa temannya bisa kembali ceria seperti sebelumnya.

“selamat, kim taehyung. Akhirnya kau bisa mendapatkan pendonor mata untuk adikmu.”

“Pasti, adikku akan senang mendengar hal ini. Aku tak sabar, membayangkan ekspresi bahagianya saat mengetahui ia akan bisa melihat laut.”

 

Seorang lelaki bersurai hitam, mempercepat langkah kakinya menelusuri jalanan sempit yang gelap dan kotor. Ia ingin secepatnya tiba di rumahnya, karena ada kabar gembira, yang ia ingin sampaikan kepada adiknya.

Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, akhirnya lelaki muda itu telah tiba, di sebuah rumah kecil nan kumuh. Rumah itu terlihat sangat buruk seperti kandang hewan, dan tidak layak untuk dihuni oleh manusia. Tak jarang, terdapat pecahan botol kaca yang berserakan di sekitar rumah itu. Taehyung  membuka kenop pintu rumahnya. Tetapi, senyuman di wajahnya menghilang, saat dirinya mendengar suara tangisan dari dalam rumahnya.

“Dasar anak brengsek! mengapa kau selalu membuat hidupku susah?!” Sebuah suara tamparan keras terdengar jelas di indra pendengaran Taehyung. Ia mengepal kuat tangannya, saat ia mendengar sebuah suara yang ia benci.

Appa, mianhae. Aku berjanji tidak akan nakal lagi.” lelaki kecil itu mengusap kedua tangannya dengan air mata yang berlinang. Bibir tipisnya nampak pucat dan kedua kakinya bergetar. Namun, hal itu tidak membuat hati ayahnya tersentuh. Justru, ia melayangkan satu pukulannya lagi hingga membuat anaknya itu terjatuh tersungkur.

“Kau itu selalu saja membuatku susah. Kenapa kau tidak mati saja bersama ibumu?” Tanpa peduli dengan keadaan anaknya, ia dengan teganya melempar anaknya ke sudut dinding. Lelaki kecil itu meringis kesakitan, dan butiran bening semakin deras berjatuhan di pelupuk matanya. Lelaki tua itu tidak hanya meninggalkan luka di tubuhnya, tetapi ia juga meninggalkan luka di hatinya

Melihat kejadian yang menimpa adiknya, membuat hati Taehyung begitu geram. Rasa marah sudah sepenuhnya menguasai hatinya. Lantas, ia mendobrak pintu, dan menggoreskan wajah ayahnya dengan serpihan kaca.

“Bocah sialan! Apa sekarang kau sudah berani melawan ayahmu, eoh?” Lelaki tua itu menatap tajam anak tertuanya. Ia menarik kerah baju anaknya dan memberikan tatapan mengerikannya.

“Ayah? apakah kau itu ayahku?” Taehyung tersenyum miring. Ia melepas cengkraman lelaki yang tak pantas dipanggil “ayah”.

“Berani sekali kau berkata seperti itu! Apa kau ingin bernasib sama seperti adikmu?!” Lelaki tua itu melayangkan satu pukulannya, tetapi untungnya Taehyung berhasil menghindarinya dengan cepat. Ia menahan kepalan tangan ayahnya, dan membalas perbuatannya itu dengan pukulan kerasnya.

Bugh

Ayah Taehyung terjungkal ke belakang. ia meringis kesakitan dan terdapat noda merah di sudut bibirnya.

“Aku Tidak memiliki seorang ayah yang kejam sepertimu!” Taehyung kembali melayangkan pukulannya hingga sudut bibir ayahnya terobek.

“Dasar bocah tengik! Apa kau ingin mati di tanganku?!” Lelaki tua itu berteriak geram namun taehyung tak menggubrisnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut di hadapan ayahnya. “Aku menyesal merawat anak tak berguna seperti kalian. Lebih baik aku pergi, daripada harus melihat wajah kalian.” Lelaki tua itu melempar vas bunga yang ada di atas meja, dan pergi meninggalkan rumah begitu saja. Sepeninggal ayahnya itu, taehyung langsung menghampiri adiknya, yang tengah menutup kedua telinganya.

“Jungkook-ah.” lirih Taehyung. Ia memandang nanar adiknya yang keadaannya sangat menyedihkan. Tampak pucat dan bibir tipisnya bergetar.

“Kenapa kakak datang terlambat? Tadi aku sangat takut, karena tidak ada kakak disini.” Tanya jungkook dengan nada yang bergemetar. Bibir tipisnya sudah memutih dan peluh dingin membanjiri keningnya. Taehyung tak sanggup melihat keadaan adiknya. Ia merengkuh tubuh kecil adiknya ke dalam dekapannya.

“Maafkan kakak, jungkook. Maafkan karena aku tak sempat melindungimu.” Taehyung menumpahkan cairan bening, yang sedari tadi tak sabar untuk keluar dari matanya. Rasa sakit terus menghimpit hatinya hingga ia kesakitan luar biasa.  

“hiks..hiks kak, kenapa ayah membenciku? apa karena diriku yang tidak sempurna,hiks..hiks ?” Jungkook bertanya seraya terisak.

Taehyung melonggarkan pelukannya dan menggelengkan kepala.“Kau sempurna, adikku. Kau memiliki hati yang mulia, yang jarang dimiliki oleh anak-anak sepertimu.” Taehyung tersenyum tipis seraya menyentuh dada adiknya.

“Benarkah, kak?” Tanya jungkook dengan isakannya yang belum reda

“Tentu benar. Bagiku, kau adalah adik yang terbaik di dunia.” Taehyung  menghapus air mata adiknya, yang sudah sepenuhnya mewarnai wajah kecilnya. “Jungkook-ah, kau masih ingat dengan janjiku?” Jungkook mengangguk, karena otaknya masih bisa mengingat dengan baik setiap perkataan kakaknya. “Besok, kakak akan menepati janjimu. Janji dimana kau bisa melihat indahnya laut.” Seketika, sebuah senyuman terukir lebar di bibir Jungkook. Tidak ada lagi, air mata kepedihan yang mengalir dari pelupuk matanya.

“Tapi, bagaimana caranya aku bisa melihat laut?” Jungkook memasang wajah murung.

“Jangan pikirkan soal itu. Pokoknya, esok hari kau bukan hanya bisa melihat laut, tetapi kau juga bisa melihat aku dan juga seluruh isi bumi ini.” Ujar Taehyung antusias.

“Sungguh?” Tanya Jungkook yang tak kalah antusias

“Tentu. Besok, keinginan terbesarmu akan segera terkabul.” Hati Jungkook seakan ingin menari-nari di atas pelangi. Ia sudah tidak merasakan rasa sedih yang mengusik hati.

“Besok, aku akan membawamu ke tempat, dimana kau akan bisa melihat. Jadi, tunggulah aku karena aku akan pulang lebih cepat.” Jungkook mengangguk mengerti. Kedua sudut bibir Taehyung terangkat, saat dirinya memandang wajah ceria yang jarang ditunjukan oleh adiknya. Dan senyuman adiknya merupakan alasan Taehyung, untuk bertahan di kehidupannya yang menyiksa.

Taehyung memperdalam tekanan pedal gas motornya, hingga kecepatan kendaraannya itu mulai diambang batas.

Hari yang paling ia nantikan akhirnya tiba. Rasa senang di hatinya meluap-luap, hingga kebahagiaanya bisa tergambar jelas di wajah tampannya. “Jungkook-ah, tunggulah kakak sebentar. Aku akan segera pulang dan mengajakmu pergi ke laut.” Lelaki bersurai cokelat itu bergumam. Ia semakin memperdalam pedal gasnya tanpa mempedulikan keselamatannya. Padahal, keadaan jalan saat itu tidaklah terlalu renggang. Banyak kendaraan lain yang berlalu lalang di jalan itu.

lampu lalu lintas menampilkan warna hijau, dan sudah waktunya para pejalan kaki untuk berlintas.  Taehyung berdecak kesal, takala lampu hijau menjadi penghalang untuk menemui adiknya secepatnya. Ia bukan tipikal orang yang gemar menunggu.

Beberapa menit telah berlalu, dan lampu lintas kembali menampilkan warna merah. Para pejalan kaki sudah tidak lagi berlintas di zebra cross. Taehyung kembali menancap pedal gasnya, dan melanjutkan perjalannya. Ia menambah kecepatan motornya, yang membuat kendaraan beroda dua itu berlaju lebih cepat dari sebelumnya.

Tetapi, dari arah kanannya, terdapat sebuah truk besar yang berjalan oleng tanpa arah. Bahkan, kecepatan kendaraan itu mengalahkan kecepatan motor Taehyung. Lelaki bersurai hitam itu menoleh kesamping, saat sebuah suara klakson menyapa indra pendengarannya. Ia membulatkan pupil matanya, saat kendaraan yang tengah oleng itu sangat dekat dengan dirinya. Dan akhirnya…….

Brukk

Sebuah truk besar menabrak motor yang tengah melaju. Alhasil, Motor milik pengendara itu sudah hancur tak terbentuk, dan pengendara motor itu terpental jauh. Sekujur tubuh Taehyung terasa sangat sakit, hingga ke tulang belulangnya. Hidungnya bisa mencium, bau anyir yang mengalir deras di kepalanya.

Pandangannya mulai kabur. Akan tetapi, ia melihat sekilat cahaya, yang mana cahaya itu memutar semua kenangan indah bersama keluarganya. Cahaya itu menampilkan wajah ibunya yang sangat ia rindukan, dan cahaya itu juga menampilkan senyuman polos adiknya. Ia tersenyum tipis, saat wajah-wajah orang yang ia sayangi berputar di benaknya.

Taehyung berusaha untuk menggapai cahaya itu, tapi sayangnya sekilat cahaya itu pergi membawa seluruh kenangan indahnya. Taehyung meneteskan air matanya, dan pada akhirnya pandangannya menjadi gelap.

Seorang lelaki kecil tengah terduduk bosan di depan rumahnya. Ia menghela napas ringan, lantaran ia sudah cukup lama duduk sendirian di depan rumahnya. Ia mengusap kedua telapak tangannya karena dinginnya angin malam menusuk kulitnya. Wajah lelaki kecil itu nampak kusut. Mungkin, karena terlalu lama menunggu seseorang.

tap

tap

hyung, kau sudah pulang? kenapa lama sekali pulangnya?” sebuah suara langkah kaki terdengar di telinga Jungkook. Ia tersenyum, lalu ia mengambil tongkatnya, untuk membantu dirinya mendekati orang yang ia tunggu. Lelaki yang dipanggil “hyung” itu tak bergeming. Ia hanya memandang nanar  wajah polos lelaki kecil itu.

“Jungkook-ah, ini aku seok jin hyung. “ Ujar lelaki bernama seok jin itu. Dahi Jungkook berkerut. Mengapa Seok Jin yang menemuinya, bukan kakaknya?

“Seok jin hyung, dimana kakakku? kenapa ia belum pulang?” Jungkook menampakan raut wajah kecewa. Seok Jin tak tahu harus berkata apa, untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Ia tak ingin, hati Jungkook terluka jika tahu keadaan kakaknya yang sebenarnya.

“Aku akan membawamu ke tempat kakakmu berada. Jadi, ikutlah denganku.” Jungkook mengangguk mengerti seraya tersenyum tipis. Seok Jin tersenyum miris melihat wajah Jungkook. Ia tak tega, jika Jungkook mengetahui bagaimana keadaan kakaknya sebenarnya.

Di dalam sebuah bangunan yang besar, terdapat banyak orang yang berbalut pakaian putih, yang berlalu lalang di dalam bangunan itu. Peralatan medis dan poster kesehatan menghiasi bangunan itu, dan aroma khas obat-obatan menyeruak bebas di pelosok bangunan bercat putih itu.

 

“Seok Jin hyung, kau bilang aku akan menemui kakakku. tapi, mengapa aku harus di rumah sakit? Apa sesuatu terjadi dengan kakakku?” Tanya Jungkook khawatir. Senyuman yang diukir olehnya, menghilang begitu saja karena perasaan gelisah yang tengah melanda hati. Seok Jin terdiam seribu bahasa. Bibir tebalnya tak mampu menjelaskan, fakta bahwa kakak Jungkook tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Apakah kalian wali dari tuan Kim Taehyung?” Sebuah suara parau memecah keheningan. Seok Jin menoleh ke arah sumber suara, dan menganggukan kepalanya.

nde, kami adalah wali dari pasien Kim Taehyung. Tapi dok, bagaimana keadaan teman saya?” Tanya Seok Jin khawatir. Begitupula dengan Jungkook, ia jauh lebih khawatir.

“Jika kalian ingin tahu keadaanya, lebih baik kalian ikut saya.” Perintah lelaki berjubah putih itu. Seok Jin menarik pelan tangan Jungkook, akan tetapi ia menahannya.

“Seok Jin hyung, apakah kakakku akan baik-baik saja?” Terdengar nada gelisah dari bibir Jungkook. Ia takut sesuatu yang menakutkan terjadi pada kakaknya.

“Kau tak perlu khawatir. Kakakmu pasti baik-baik saja.” Seok Jin menggengam erat tangan Jungkook, dan mengulas senyum tipis.

“Mari kita pergi menemui dokter itu. Dokter itu akan memberitahu kondisi kakakmu.” Seok Jin menarik pelan tangan Jungkook, dan membawanya ke dalam ruangan yang berukuran sedang.

 

“Saat ini, kondisi tuan kim sangat kritis. Jantungnya mengalami kebocoran, dan kita harus mendapatkan pendonor jantung secepat mungkin.” Ujar lelaki tua itu yang membuat tubuh Jungkook seketika melemas. Mata sayu Jungkook memanas, karena cairan bening yang menyerbu pelupuk mata lelaki kecil itu. Seok Jin menatap tak percaya sang dokter. Ia berharap apa yang diucap sang dokter itu tidak benar.

“Lalu, bagaimana kita bisa mencari pendonornya dok, apakah tak ada cara lain selain itu?” Tanya Taehyung penuh harap.

“Tak ada cara lain yang bisa dilakukan selain donor jantung. Jika, kita tidak secepatnya mendapatkan donor jantung, Maka nyawa tuan Kim tidak bisa terselamatkan.” Ujar dokter itu menyesal. Jungkook menumpahkan cairan bening, yang tertahan di pelupuk matanya. Ia meremas kuat tongkatnya, karena tak tahan menahan kepedihan yang menyerang dirinya. Seok Jin merasakan hal yang sama. Ia juga meneteskan butiran-butiran bening kesedihan.

“Dok, donorkan saja jantungku. Aku adalah adiknya, dan jantungku pasti cocok dengan hati kakakku” Seok Jin tertegun dengan ucapan Jungkook. Ia menoleh ke hadapan Jungkook, memandang sendu wajah kecil milik lelaki yang ada di sampingnya. Kedua mata Seok Jin menampung air mata haru. Sekarang ia mengerti, mengapa Taehyung begitu menyayangi adiknya. Karena Jungkook, adalah seorang adik yang begitu istimewa.

 

Seorang lelaki bersurai hitam terlihat menggerakan jemarinya yang kaku. Perlahan-lahan, ia mengerjapkan matanya, karena sinar lampu yang menusuk mata. Lambat-lambat, kedua mata lelaki itu terbuka sempurna. Ia mengedarkan pandanganya, ke sebuah  ruangan yang berwarna serba putih itu.

“Seok jin, hyung!” Lirih lelaki bersurai hitam itu, pada seorang lelaki yang tengah tertidur di sampingnya. Merasa dirinya dipanggil, lelaki bernama Seok Jin itu terbangun.

“Ki-kim Taehyung, kau sudah sadar?” Seok Jin membulatkan pupil matanya. Ia terkejut sekaligus senang, dengan terbangunnya Taehyung dari masa kritis.

“Seok Jin hyung, bagaimana dengan adikku? pasti dia sudah terlalu lama menungguku. Aku harus menemuinya.” Taehyung berusaha bangkit dari posisinya, namun ia terjatuh lantaran tubuhnya yang terasa berat dan kaku.

“Jangan paksakan dirimu! Kau baru sadar dari masa kritis dan harus beristirahat.” Ujar Seok Jin khawatir. Ia membantu temannya untuk bersandar.

“Tapi hyung, aku harus menjemput adikku. Aku sudah berjanji dengannya untuk melihat laut bersama-sama.” Taehyung kembali berusaha untuk bangkit, namun Seok Jin menahannya.

“Taehyung-ah, kau tidak akan pernah bisa bertemu adikmu. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menemuinya.” Lirih Seok Jin sendu. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang telah terjatuh.

“A-apa maksudmu? aku sungguh tidak mengerti.” Taehyung mengerutkan keningnya.

“Adikmu, dia telah pergi menyusul ibumu. Dia telah hidup damai bersama ibumu disana.” Seok Jin mendongak, menatap sendu wajah temannya, yang terdapat genangan cairan bening di pelupuk matanya.

“KAU PASTI BERBOHONG! ADIKKU BELUM PERGI, DIA TIDAK MUNGKIN MENINGGALKANKU!!!” Taehyung berteriak yang disertai deraian air mata yang mengalir di wajahnya.  Seok Jin meremas pundak Taehyung, bermaksud memberi kekuatan pada Taehyung yang tengah rapuh.

“Dia lah yang menyelamatkan nyawamu. Ia rela mendonorkan jantungnya untukmu, karena pada saat itu jantungmu mengalami kebocoran. “ Ujar Seok Jin yang membuat cairan bening di mata taehyung mengalir semakin deras. Seok Jin ikut menumpahkan air matanya, karena ia juga merasakan luka yang Taehyung rasakan.

“Aku tidak mempercayaimu. Adikku masih hidup, aku yakin ia tidak mungkin meninggalkanku.” Taehyung mencabut selang infus yang tertancap di lengannya. Ia sedikit meringis. Tetapi ia hiraukan rasa sakit itu. ia memaksakan kakinya yang kaku untuk melangkah keluar dari ruangan ICU-nya. Seok Jin menatap nanar, punggung temannya yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. Ia tidak bisa mencegah, pertemuan antara kakak dan adik untuk terakhir kali.

Seorang lelaki bersurai hitam, berjalan tertatih-tatih menelusuri koridor rumah sakit. Sesekali, ia mengusap air matanya, yang menggenangi matanya. Namun, langkah tertatihnya terhenti, saat sebuah ranjang dorong melintas di hadapannya. Ia penasaran dengan seseorang, yang berada di balik kain putih itu.

“Kumohon berhenti!” Kedua suster yang mendorong ranjang itu menghentikan langkahnya. “Bolehkah aku melihatnya sebentar? Aku hanya penasaran siapa orang ini.” Pinta Taehyung yang dibalas oleh anggukan kedua suster itu. Lalu, Taehyung menyeret kakinya menuju ranjang dorong itu. Karena rasa penasaran yang bergejolak, ia perlahan-lahan membuka kain putih, yang menutupi orang di atas ranjang dorong itu. “Ini tidak mungkin! Adikku masih hidup! Aku yakin orang ini bukanlah adikku.” Tangisan Taehyung pecah, saat ia mengetahui bahwa adiknya lah, yang berada di balik kain putih itu. Ia tidak sanggup menerima kenyataan, bahwa adiknya telah pergi meninggalkannya selamanya.

“janganlah pergi, Jungkook-ah!  Kumohon, bukalah matamu!” Taehyung mendekap tubuh mungil adiknya yang sudah dingin seperti es. Ia tidak bisa melepas kepergian adiknya. Ia tidak ingin adiknya pergi secepat ini. Masih banyak hal, yang ingin ia jadikan kenangan bersama adiknya.

“Bukankah kau ingin melihat laut bersamaku? Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku? apa karena kau kesal, aku terlambat mengajakmu melihat laut?” Air mata Taehyung semakin mengalir deras di wajahnya, hingga membuat dirinya sulit bernapas. Ia terluka, akan kepergian orang yang paling berharga dalam hidupnya. Dan Taehyung sulit menyembuhkan luka yang menyakitkan itu.

 

1 minggu kemudian

Ombak berlomba-lomba menghantam batu karang, hingga menimbulkan suara yang menggema. Terdengar, nada-nada indah dari nyanyian gerombolan burung camar. Semilir angin laut, menerbangkan surai hitam milik seorang lelaki muda.

Lelaki bersurai hitam itu berdiri termenung di atas bibir pantai. Ia memandang lurus ke hamparan lautan biru yang terbentang indah nan luas. “Jungkook-ah, sekarang kita bisa melihat laut seperti yang kau inginkan.” Lelaki muda itu berlirih seraya memeluk erat sebuah guci kecil. Seminggu bukanlah waktu yang mudah, untuk dilalui Taehyung tanpa adiknya. Memendam luka sendirian, membuat dirinya seakan-akan dibunuh oleh lukanya sendiri. Ia berharap, semua ini hanyalah mimpi buruknya, yang mana adiknya akan menenangkannya, saat dirinya ketakutan akan mimpi buruknya. Tapi nyatanya, mimpi buruk yang ia takuti benar-benar terjadi. Dan yang lebih menyakitkan, adalah bahwa adiknya yang berada di dalam mimpi buruknya.

Taehyung melangkah tergontai menuju hamparan biru. Menebarkan abu mendiang adiknya, dengan linangan air mata kepedihan. Ia telah kehilangan seseorang yang berharga. Dan Taehyung bisa merasakan, betapa pedihnya kehilangan seseorang yang amat ia sayangi.

“Jungkook-ah, masih banyak kenangan indah yang ingin  kubuat bersamamu. Tapi, mengapa kau meninggalkanku secepat ini?” Cairan bening mengalir deras di wajah lelaki bersurai hitam itu. Ia mencengkram bajunya sendiri, karena luka yang merobek-robek dadanya. Begitu perih, hingga ia kesulitan menerima pasokan oksigen.

“Mengapa kau harus mengorbankan nyawamu, Jungkook-ah?” Taehyung menyentuh dadanya. Merasakan detak jantung adiknya, yang kini berada di dalam tubuhnya. Ia merasakan, jiwa adiknya yang bersatu di dalam dirinya. Dan itu membuatnya sedikit tersenyum. Walaupun ia tidak bisa bertemu dengan raga adiknya lagi, tetapi ia bisa bertemu dengan jiwa adiknya kapan saja. Karena, jiwanya akan selalu bersamanya. Di dalam dirinya.

kau akan selalu hidup di dalam jiwaku

karena jantungmu

akan selalu berdetak di dalam diriku

 

             THE END

 

Advertisements

4 thoughts on “[What is Your Color?] Aku ingin melihat laut – Oneshot

  1. Raserin

    Waaaa sedih banget baca ini.. T.T kirain akhirnya s taetae jg mati /eh/ ternyata dia ttp idup dan,,,,, jungkook udh tinggal abu.. hiks
    Tapi ttp keren ceritanya kok..

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s