[What is Your Color?] I HATE YOU OPPA! – Oneshoot

I HATE YOU OPPA

Tittle : I HATE YOU OPPA!

Author : @Aqilua

Genre : Drama, Angst, Family

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Cast : Min Yoongi × OC

Disclaimer :This story based from author’s mind. I have not own the characters.

Summary :

Karena aku yakin keluarga adalah tempat ternyaman yang pernah ada. Saling melengkapi serta mengisi satu sama dengan yang lain. Sekarang semuanya hilang, bak debu diterbangkan angin. Semuanya tak lagi sama, percuma untuk menangis kerena roda kehidupan selalu akan berputar.

×××

 

Kami satu darah tapi aku membencinya. Dia pengatur, otoriter dan selalu seenaknya. Dulu dia tidak begini. Aku sangat menyayanginya, Min Yoongi seorang oppa sekaligus keluarga satu-satunya yang ku miliki.Jarak umur kami hanya selisih lima tahun. Saat ini usiaku tepat menginjak 17 tahun, baru beberapa bulan yang lalu sebenarnya. Sementara Yoongi oppa sudah menginjak usia 22 tahun. Kami hanya tingga berdua di flat mewah ini dan oppa lah yang menjadi tulang punggungnya. Oppa membiayayai segala kebutuhanku, membayar uang sewa flat dan untuk makanan sehari-sehari semua Yoongi oppa lah yang menanggungnya. Ia adalah seorang pengacara muda yang cukup tenar di Seoul, sangat bertolak belakang dengan penampilanya yang sedikit urakan.

Faktanya, kami berdua adalah yatim piatu. Ayah dan ibu kami sudah lama tiada akibat sebuah insiden kecelakaan pesawat delapan tahun silam. Itu adalah masa-masa kelam bagi kami berdua. Sejak saat itu Yoongi oppa lah yang bertanggungjawab sepenuhnya atas diriku sampai saat ini karena aku masih duduk di bangku sekolah. Ketika aku semakin tumbuh, semakin nyata juga aku merasakan tekanan itu. Oppa semakin lama semakin mengekangku dengan aturan mainya sendiri. Aku lebih bayak mendengar kata ‘tidak’ ketimbah ‘boleh’. Memang itu adalah hal wajar karena aku adalah tanggungjawabnya tapi ini semua sudah sangat berlebihan.Ia bahkan melarangku memiliki teman seorang pria, aku hanya bisa keluar rumah saat akan pergi ke sekolah itu pun aku diantar jemput olehnya. Sementara untuk jalan-jalan ke suatu tempat aku samasekali tidak diperbolehkan. Oppa benar-benar telah merenggut masa mudaku bahkan ayah dan ibu tidak sampai sebegitu overprotective dirinya.

Jika dilarang akan semakin memberontak, itulah aku. Pada awalnya aku sangat menurut pada Yoongi oppa karena aku menghormatinya. Namun akibat kejadian semalam rasa ingin memberontakku benar-benar pecah. Ia tau bahwa aku diam-diam telah memiliki seorang kekasih, hal yang terbilang wajar untuk anak gadis seusiaku. Tapi sayangnya tidak bagi oppa, ia marah besar padaku. Kami bertengkar hebat semalam kemudian oppa merampas ponselku lalu membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Tentu saja aku tak kalah marah dan sakit hati terhadap sikapnya bahkan semua jejak kekecewaan itu masih terasa sampai pagi ini saat kami sedang duduk berhadapan pada meja makan.

“Roti itu untuk kau makan. Bukan untuk kau pandangi.”

Aku mengalihkan tatapan melamunku dari sepiring roti bakar di atas meja itu menatap kepada wajah Yoongi oppa yang masih nampak sibuk membaca koran. Pagi ini ia sudah telihat rapi dengan kemeja hitam pas badan. Rambut hijaunya yang selalu berantakan kali ini juga ditata lebih rapi. Mendapati aku hanya diam tidak bergeming terus menatapnya. Oppa memandangku sekilas. “Makan sarapanmu.”

“Aku tidak lapar.”

Ia menarik miring sudut alisnya seraya melipat santai koran di tanganya itu. “Makan sarapanmu Min Yujin.” Kali ini suara beritonenya berubah menjadi sedikit lebih bertekanan. Bohong jika aku tidak takut, aku bahkan merinding karena suaranya namun aku tetap berusaha mengeraskan hatiku. “Aku tidak lapar. Bukan kah sudahku katakan pada oppa barusan.”

“Peringatan terakhir. Makan sarapanmu.” Tegasnya. Sambil menggigit keras kulit bagian dalam pipiku. Aku menatapnya nanar. “Bisakah oppa berhenti?! Oppa selalu saja memaksaku! Aku tidak lapar!”

Ekspresi tenangnya itu justru yang palingku takuti. Ia menatap kedua mataku lurus tanpa ada berkedip sedetikpun. “Kau berani membentakku?” Tanyanya ringan. Aku tercekat begitu pula dengan nafasku. Tubuhku jadi bergetar ketakutan saat mendapati ia bangkit dari duduknya dan menghampiriku. “Kau tau aku benci melihat makanan yang dibuang-buang.” Ucapnya dingin kemudian ia meraih roti bakar dari atas piringku. Ku lihat oppa melipat-lipat roti bakar di tanganya itu menjadi suatu lipatan kecil.

“Buka mulutmu.” Tanganya menyodorkan roti itu tepat di permukaan bibirku. Aku hanya diam masih mengunci rapat mulutku tidak meresponya. “Jangan menguji kesabaranku Min Yujin.” Desisnya tajam. Mataku berkaca, entah karena perasaan takut atau emosi yang jelas aku tetap teguh dengan kekerasan hatiku untuk tidak menggubrisnya lalu ku dengar Yoongi oppa menghela nafasnya berat. Ia mencengkram kuat rahangku dengan satu tangan memaksaku untuk membuka mulut. Sementara satu tanganya yang lain bergerak untuk menyumpalkan roti itu masuk ke dalam mulutku.

“Telan!” Bentaknya padaku. Mulutku terasa penuh karena oppa membekapku kuat menahan agar roti itu tidak keluar karenaku muntahkan. Air mataku tumpah bahkan sampai mengalir membasahi punggung tangan oppa yang masih saja membekap mulutku. Aku terisak sambil dengan terpaksa untuk mengunyah. Roti bakar manis berselai blueberry ini saja menjadi terasa sangat pahit ketika aku menelanya, aku benar-benar ingin menuntahkanya namun oppa samasekali tidak membiarkanku walau aku tersedak sekalipun. Ia tetap membekap mulutku sampai dengan roti itu benar-benar habisku telan. “Itu pelajaran karena kau sudah berani melawanku. Bawa tasmu.”

Oppa kemudian berlalu pergi dari ruang makan meninggalkanku yang masih menangis terisak. Aku mengusap kasar air mataku yang berjatuhan dengan kedua tangan. Aku benar-benar cengeng dan lemah. Tapi entah lah, justru karena perlakuanya ini hatiku malah semakin keras ingin memberontak padanya dan aku tau kemauan hatiku ini benar-benar sangat lah salah.

 

×××

 

“Kau sangat cantik malam ini dan terimakasih sudah menemaniku.”

Aku hanya balas bergumam seraya tersenyum seadanya sebagai sebuah jawaban. Jimin kemudian mencium pipi kananku sekilas. Pria ini adalah kekasihku, seorang pria pertama bagiku. Aku mengenal Park Jimin melalui salah seorang teman dan hubungan kami baru berjalan sekitar dua bulan. Menurutku Jimin adalah seorang pria yang baik, juga menyenangkan.

Dan kalian tau? Untuk pertama kalinya malam ini aku menginjakkan kakiku di sebuah tempat hiburan malam. Mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana aku bisa kabur sampai selarut ini. Dengan alasan sedang tidak enak badan, aku membolos saat jam pelajaran ketiga bersama Jimin. Aku sempat bermain beberapa jam di apartemenya. Jimin adalah seorang anak konglomerat dan ia hanya tinggal seorang diri di apartemen, sementara kedua orang tuanya menetap di Kanada karena urusan pekerjaan. Ini adalah yang pertama kalinya bagiku berkunjung ke tempat seorang pria. Jimin memiliki banyak sekali koleksi game dan juga komik, hal yang cukup membuatku betah untuk berlama-lama di tempatnya. Namun entah karena bosan, Jimin tiba-tiba membawaku keluar ke suatu tempat.. club malam. Tempat bising dan syarat aroma alkohol itu tidak seburuk seperti dugaanku, aku cukup menikmati waktuku di sana walau hanya sekedar untuk duduk-duduk saja. Sementara Jimin sibuk bersama dengan teman-temanya di lantai dansa.

“Ponselmu masih rusak?” Pertanyaan itu memecah keheningan yang terjadi di atara kami. “Hm sepertinya begitu. Tukang servis mengatakan ponselku terlalu lama terendam di air.” Bohongku. Jimin yang sempat bingung kenapa nomorku tidak aktif membuatku terpaksa untuk menciptakan sebuah alasan, ponselku rusak karena terjatuh ke dalam kolam dan untungnya ia percaya. Jimin kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam dasbor mobilnya, sebuah kotak berbalut kertas kado berwana putih. Ia lantas menyerahkan benda itu padaku. “Apa ini?” Tanyaku bingung.

“Buka saja.”

Tanganku membuka pembungkus yang menutupi kotak itu. Aku pun mengernyit ketika melihat benda hijau berbentuk persegi dalam kotak tersebut. “Ponsel?” Aku mengerjabkan mata sambil menatapnya. Jimin tersenyum manis. Ia mengacak lembut puncak kepalaku. “Anggap saja hadiah ulang tahunmu.”

“Ulang tahunku sudah lewat Jimin, lagi pula kau sudah memberiku banyak hadiah saat itu.” Dan mirisnya semua hadiah-hadiah itu sudah menjadi abu. Sebucket  bunga lily ukuran besar, coklat dan juga boneka beruang, Yoongi oppa telah membakar semuanya. “Gwenchana. Kau memerlukanya bukan? Lagi pula aku sudah cukup tersiksa beberapa hari ini karena tidak bisa menghubungimu.” Kekehnya pelan. Aku hanya bisa tersenyum seadanya pada Jimin yang duduk di bangku kemudi. “Gomawo.” Ucapku sambil meremas erat kotak ponsel di atas pangkuanku itu dengan kedua tangan.

Hm sebelum kau turun.. bisakah kau memberikanku sebuah senyuman?”

“Aku baru saja melakukanya tadi.”

Ani, ani. Aku ingin sebuah senyuman yang benar-benar tulus. Ayolah, sebelum kau turun okay? Siapa tau itu membantuku untuk bisa tidur lebih nyenyak.”

Mendengar ocehanya, spontan aku menarik lebar kedua sudut bibirku sambil menatapnya geli. Jimin pun tersenyum lembut padaku seraya mengusap pelan sisi wajahku dengan jemari tanganya. “Terlepas kau tidak pernah menceritakan apapun padaku, aku lebih suka melihatmu tersenyum. Jadi jangan bersedih lagi.” Jimin kemudian mendekat ke arahku memberikan sebuah kecupan sayang pada keningku sebagai salam perpisahan. “Silahkan turun tuan putri.” Ucapnya setelah membuka tombol kunci di mobilnya. Sebelum bergerak keluar dari dalam mobil Jimin yang terparkir tepat di depan flat, aku kembali melemparkan sebuah senyuman padanya lalu beranjak turun. Aku hanya mematung diam di tempat sambil menyaksikan ke pergian ferrari merah itu yang semakin bergerak jauh meninggalkanku.

Setelah ini aku harus siap. Mungkin Yoongi oppa tidak hanya akan marah padaku, tetapi bisa saja ia membunuhku. Tidak menutup kemungkinan jika mengingat sifat serta perlakuanya padaku tadi pagi. Apalagi dengan tampilanku yang seperti ini. Mini dress hitam tanpa lengan yang hanya menutupi seperempat bagian pahaku ditambah lagi aku sudah membolos dan pulang larut malam begini. Benar, aku sengaja melakukanya. Aku lelah dan hanya ingin melihat sejauh mana oppa akan bertindak setelah ini.

Aku beranjak dari tempatku berdiri. Kotak ponsel di tanganku membuatku jadi berpikir saat melihatnya. Sepertinya waktu dua bulan tidak lah cukup bagi Jimin untuk memahami suka dan ketidak sukaanku terhadap sesuatu. Aku benci warna hijau dan salahnya ia sudah memberikanku sebuah ponsel dengan warna tersebut.  Pada awalnya aku netral terhadap semua warna. Namun setelah Yoongi oppa memutuskan untuk merubah warna rambutnya setelah kematian kedua orang tua kami, aku mulai membencinya. Warna hijau itu mengingatkanku pada dirinya dan itu benar-benar sangat identik.

Hijau itu.. memuakan, dingin, kasar, seenaknya dan tidak punya hati. Aku benar-benar membencinya.

Aku menghentikan langkahku lalu menoleh pada tong sampah yang terletak di sisi kiriku. Padanganku berubah menerawang ketika aku memutuskan untuk menatap ponsel pemberian Jimin. Ponsel ini sangat bagus dan mahal tentu saja. Terlebih dari itu, yang memberikan benda ini adalah orang yang spesial bagiku. Aku menggenggam erat ponsel pemberian Jimin dengan tangan bergetar. Kedua bola mataku berkaca menahan tangisan. Ini percuma. Sehebat apapun aku menyembunyikanya dari Yoongi oppa, ia pasti akan menemukanya dan benda ini akan bernasip sama dengan benda pemberian Jimin yang sudah-sudah. Aku tersenyum miris. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membuang benda dalam genggamanku itu masuk ke dalam tong sampah. Berat tentu saja, percuma berharap jika kau sudah mengetahui hal pasti yang akan menimpamu setelah ini.

 

-END-

 

×××

A/N :

Suga galak banget sih kan gemesh jadinya (?)

Pemilihan warna ijo berawal dari sebuah kisah ketika saya membuka ytube dan liat ada nyempil anggota BTS. Ya saya fokus ke bias saya dong ya. Suga? Oh bukan, Joongkok ding hhe. Cuman gegara liat mukanya Suga yang datar nyaris tanpa ekspresi saya terpikat (?) salah fokuskan jadinya. Ide pun muncul dan pas banget rambutnya do’i ijo unyu-unyu gitu.

Semoga yang baca pada terhibur ya. Ingat adegan kekerasan bukan untuk dicontoh ya adik-adik ❤

Regards,

Aqi 93 liner

How to contact me?

Twitter : @AqiluaShapire

Instagram : @apriliaapariliaa

Personal blog : https://freewordpresscomdomain460.wordpress.com

Advertisements

6 thoughts on “[What is Your Color?] I HATE YOU OPPA! – Oneshoot

  1. Aihara

    Awalnya kupikir Yoongi siscon /LOL
    Soalnya ngga ngebolehin adiknya pacaran._.
    Dan itu ampun tega banget pas sarapan:'(
    Sampai-sampai dianya udah pasrah gitu pas pulang dating sama Jimin

    Like

  2. Lisa Kim

    Kok, berasa gantung yaa. Itu Yoongi kyanya punya alesan knp jahat sama adeknya *SokTau* kekekek..
    Klw dilanjut kece nie thor….hheee

    Like

  3. saskia ananda

    ya ampun sugaaa duh ngebayangin suga galak gitu kok hatu ku jadi geter yaaa
    ka itu gimana kelanjutan nya huhu gantung gituu,mau tau reaksi nya suga pas yujin nya pulang
    ayo dong ka di lanjut ateuhhh

    Like

  4. babygoxdnight

    salam kenal Fuyuko 99L^^ berasa liat iblis kalo liat suga itu. dia emang iblis kkk. ini belum end kan ya? penasaran banget soalnya. dan ini gantung banget

    Like

  5. ratihpv_

    Kakak authornim…. Blm end kan? Aku lagi seru baca knp kata tak diinginkan itu keluar ㅠ.ㅠ
    Yoongi kok gt bgt sih, adiknya sendiri lo padahal…
    Tapi kayaknya Yoongi itu punya alasan tersembunyi deh knp dia kek gt /sotoy ((Makanya butuh kelanjutan kak, masih gantung… Aku kan ga suka digantungin.. /plak))
    Keep writing, kak author!
    -Ratih 01L disini ^^

    Like

  6. Kak aku takut banget waktu baca adegan yoongi maksa adiknya makan roti bakar gitu ._. DAN KENAPA KOK GANTUNG BANGET SIH KAKKKKKKK?:””””) masih bisa di lanjutin mungkin adiknya gak tahan di siksa terus sama yoongi terus jadi saiko /lah ini style saya bgt/ tapi aku suka sm ceritanya apalagi karakternya yoongi yang dingin itu….aku merasakan dinginnya hingga ketulang bagian belakang/? Pokoknya jjang! Keren deh, kak! Lanjutin boleh kali kak 😆 keep writing! Let’s get closer, jihyeon here 98line😆❤️

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s