[What is Your Color?] Sunshine Becomes You – Oneshot

sunshine become you

SUNSHINE BECOMES YOU

Acu Present

Cast Jeon Jungkook – Jeon Yoorin [OC] – Park Chanyeol [EXO] – Halla [The Ark]

Genre Family – Siblings – Angst – AU – Friendship

Length Oneshot // G

Disclaimer I just own the storyline

Summary
“Karena setiap kali membayangkanmu, aku selalu teringat pada sinar matahari. Begitu juga sebaliknya. Ketika sinar matahari menghangatkan tubuhku, aku teringat pada dirimu.”

©2016 Acu

.

** Sunshine Becomes You **

.

Jungkook membuka matanya yang terasa berat, lalu mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur.

“Ayo bangun. Tidak ada waktu untuk bersantai, Kook,” suara Yoorin–sang kakak–berhasil mengagetkan seorang Jeon Jungkook yang masih setengah sadar dan setengah mengantuk.

Lantas, Jungkook hanya berseru dengan suara seraknya yang terdengar sangat malas. “Lima menit lagi, ya, Kak.” Ia kembali meringkuk dalam posisi nyamannya.

“Bangun,” Yoorin membawa baju kotor yang menumpuk di kamar adiknya dan berseru lagi. “Tadi Halla telepon. Katanya kau harus datang ke sekolah lebih awal,” Yoorin pun berlalu dari kamarnya.

Lebih awal?

“Lebih awal! Astaga!” kata Jungkook panik. Ia pun segera berlari keluar dari kamarnya dan berbelok ke kamar mandi di samping dapur, membukanya dengan satu sentakan cepat, mengagetkan Yoorin yang sedang memasukan baju kotor ke dalam mesin cuci. “Kenapa Kak Yoo tidak membangunkanku dari tadi. Aku sudah terlambat ini.”

“Apa? Apa yang terjadi?” Yoorin menatap pintu kamar mandi dengan alis terangkat heran.

Semenit kemudian, Jungkook kembali menyerukan sesuatu yang tidak bisa dipahami dari kamar mandi karena ia sedang sibuk menggosok gigi.

Yoorin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali memberi perhatian penuhnya pada setumpuk baju kotor yang harus dicuci olehnya sebelum berangkat bekerja.

Jungkook kembali menyerukan serentet kata-kata yang tidak jelas artinya. Yoorin melirik pintu kamar mandi lagi, lalu mengangkat kedua bahunya. Tepat pada saat itu, pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan Jungkook melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka dengan gaduh dan gantungan-gantungan baju berjatuhan ke lantai.

“Jangan terburu-buru begitu,” seru Yoorin dari dapur. “Nanti kau bisa melukai dirimu sendiri di dalam sana jika kau membabi buta begitu.”

Kemudian terdengar bunyi gedebuk keras.

“Nah, ‘kan.” Kata Yoorin sambil mengembuskan napas.

Jungkook berseru. “Aku tidak jatuh! Sungguh. Aku tidak jatuh. Aku baik-baik saja,”

.

** Sunshine Becomes You **

.

Kak Yoo tidak suka dengan kata bolos. Hari ini kau juga ada ujian bahasa inggris. Jika kau membolos, itu sama saja menyerahkan nyawamu kepada Kak Yoorin.

Guru Kim sangat tidak suka dengan kata terlambat. Jika kau memilih masuk, maka kau akan menjadi bahan tertawa teman-temanmu. Sudah, bolos saja.

Perjalanan duapuluh menit sungguh menyiksa Jungkook. Ia bolak-balik melirik jam tangannya. Sementara batinnya bertempur dengan kata bolos dan kata jangan, Jungkook berhenti di depan sekolahnya dengan jarak limapuluh meter dari gerbang sekolah.

Kau harus masuk.

Tidak usah, sesekali apa salahnya untuk membolos. Hanya sekali saja.

“Hanya sekali,” gumamnya kemudian. “Baiklah, hanya sekali,” katanya sekali lagi dengan mantap. Satu detik kemudian, Jungkook merapatkan jaketnya, menutup seragamnya. Lalu, ia berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh dari sekolah.

.

** Sunshine Becomes You **

.

Jungkook perlahan menyusuri jalan Sangsu-Dong. Ia mengeluarkan kamera tersayangnya, dan segera mengarahkan kamera, membidik gambar terbaik di sekelilingnya. Ia mengangguk dan tersenyum kecil ketika mengamati hasil jepretannya. Ketika ia ingin mengarahkan kameranya kembali, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara teriakan dari seorang gadis yang baru saja melewatinya. Sontak, ia langsung membalikkan tubuhnya.

Ack. Yeppeo,” teriak gadis itu.

Jungkook melihat begitu banyak segerombolan gadis remaja mengerubungi seseorang yang baru saja keluar dari mobil Van berwarna hitam. Jaraknya tidak cukup jauh dari Jungkook.  Ia begitu memperhatikan sosok yang dipuja oleh gadis itu. Matanya menyipit melihat sosok itu. Sejurus kemudian, ia membulatkan kedua matanya dengan sempurna.

KYA~ G DRAGON!” ketika ia mengetahui itu adalah sang idola yang sangat mengispirasinya, ia berteriak tak kalah heboh dari para gadis itu. Hatinya pun tergerak untuk mengikuti para segerombolan gadis itu. Namun, langkah kakinya terhenti, lantaran sebuah suara yang begitu familiar menyerukan namanya.

“Jeon Jungkook?”

Jungkook memutar tubuhnya dengan cepat. “Oh?” ketika ia bertatapan dengan sosok yang memanggilnya, matanya melebar, cuping hidungnya menjadi kembang kempis menahan panik.

.

** Sunshine Becomes You **

.

Matahari bersinar begitu terik. Udara panas rasanya membuat tubuh Jungkook semakin gerah. Ia menarik napas panjang, tubuhnya terasa bergetar. Ia menatap sosok Chanyeol di hadapannya sekilas, sebelum kembali menunduk. Saat ini tangannya berkeringat. Ia menautkan kedua tangannya yang bersembunyi di bawah meja, meremasnya dengan kuat.

“Nah, Kook, jadi apa yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Chanyeol dengan ringan ketika es krim mereka tiba. Ia menyodorkan semangkuk es krim ke arah Jungkook.

Jungkook mengangkat kedua tangannya ke atas meja, dan menyambut es krim itu dengan takut-takut. Chanyeol tersenyum kecil melihat gelagat lucu pemuda yang lebih muda lima tahun darinya itu.

“Kenapa kau terlihat ketakutan begitu? Santai saja, ayo makan,” katanya ringan.

Jungkook meraih sendok kecil itu dan mulai memasukan es krim ke dalam mulutnya yang sudah kering sejak tadi. Ia melihat Chanyeol yang bergidik kedinginan ketika pemuda itu melahap es krimnya.

Hyung,” panggil Jungkook ragu.

Chanyeol mengangkat bola kepalanya dan menatap Jungkook. “Apa?”

Uhm, untuk yang ini jangan kasih tahu Kak Yoo, ya.” Jungkook kembali menundukan kepalanya.

“Tidak,” jawab Chanyeol singkat.

Wajah Jungkook kembali terangkat ketika mendengar jawaban singkat Chanyeol. “Hyung,” ia meraih kedua tangan Chanyeol, dan memelas. “Aku mohon, jangan kasih tahu Kak Yoo kalau hari ini aku membolos. Akan aku lakukan apa pun untukmu, asal kau tidak memberitahunya. Atau, kau ingin aku membayar es krim ini, arasseo,” katanya buru-buru.

Chanyeol menatap Jungkook dengan dahi berkerut samar. Sesaat kemudian, tatapannya terlihat begitu menggoda. Oh–tunggu–tidak–bukan. Bukan menggoda dalam artian ia tergoda. Sungguh, bukan. Baiklah, artikan saja tatapan jail.

Chanyeol membetulkan posisi duduknya dan memperhatikan Jungkook dengan seksama. “Sepertinya kau salah paham, Kook? Maksudku, aku tidak akan ikut campur dalam urusanmu. Aku juga pernah begitu saat masih sekolah. Jadi kurasa, bolos sekolah hal yang biasa.”

“Benarkah?” Jungkook merasakan hatinya berbunga-bunga. Ia mendapatkan sedikit pertolongan.

“Tetapi Kook, tawaran yang kau berikan membuatku tertarik.” Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya. Kemudian, ia kembali melahap es krimnya.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya, dan menatap Chanyeol dengan heran. “Maksud hyung?”

“Aku berencana memberitahu Yoorin,” sahutnya ringan.

W– wae? hyung––”

“Aku tidak akan memberitahu Yoorin asalkan kau mau mengabulkan satu permintaanku,”

Jungkook mengembuskan napas beratnya. “Ya! Kau pikir aku ini jin?!”

Aish, jinjja. Bicara yang sopan,” omel Chanyeol ketika Jungkook berbicara informal kepadanya.

Tsk,” Jungkook berdecak pelan. Ia merasa semangatnya hilang, lalu menyandarkan punggungnya, dan mengalah kepada Chanyeol. “Permintaan seperti apa yang harus aku kabulkan?” tanyanya kemudian.

Chanyeol menepikan mangkuk es krimnya ke sisi sebelah kirinya, kemudian ia mencondongkan tubuhnya, melipat kedua tangan di atas meja. “Izinkan aku berkencan dengan Yoorin berdua saja. Hanya berdua, tanpa gangguan siapapun. Dengar, hanya berdua tanpa si–a–pa–pun. Bagaimana?”

“Tidak!” sahut Jungkook cepat. “Aku tidak akan membiarkan kalian hanya berdua saja,”

Chanyeol mengangguk mantap. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Tangannya menari di atas layar 5,7 inch itu. “Yoo–rin ku,” gumamnya pelan. Namun, sangat menggelitik di telinga Jungkook.

Mendengar nama itu membuat Jungkook bereaksi yang berlebihan. Ia merebut ponsel Chanyeol dengan cepat dan beranjak berdiri, menjauh dari Chanyeol. Ketika ia melihat nama Yoorin tertera di layar, dengan cepat ia memutuskan panggilan itu. Jungkook memandang Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Ekspresinya juga sempat mengeras sesaat. Ia bergerak ke kiri dan kanan,  benar-benar bergerak gelisah.

“Kembalikan ponselku, Kook,” pinta Chanyeol halus. Ia benar-benar bersikap santai.

Hyung, kau benar-benar membuatku gila. Ah, jinjja, kenapa Kak Yoo bisa memiliki kekasih selicik ini?!” celetuknya dengan kesal.

Terdengar setengah dengusan juga setengah tertawa dari Chanyeol. “Kau yang menawarkan itu. Jadi, sepenuhnya bukan kesalahanku, hhe.” Ia menggerakkan tangannya, meminta ponselnya dikembalikan. “Ayo, Kook, kembalikan dulu, lalu kita bicarakan lagi–”

“Tidak, aku tidak akan mengizinkan kalian pergi berkencan. Titik. Sekalipun itu hanya sekali saja tanpa aku.” Tegasnya sekali lagi.

“Kau yakin? Kau bisa membayangkan Yoorin marah bagaimana, ‘kan?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum licik. Tidak. Ia tersenyum jail. Ingat, sekali lagi, ja-il.

Jungkook mematung dan tiba-tiba saja bayangan Yoorin berdiri di hadapannya, dengan tampang yang membuat Jungkook takut. Napasnya juga menjadi tercekat.

.

BISA-BISANYA KAU MEMBOLOS HANYA KARENA TERLAMBAT. KAU HARUSNYA TAHU KATA PEPATAH, LEBIH BAIK TERLAMBAT DARIPADA TIDAK SAMA SEKALI. KAU TIDAK AKAN MENDAPAT UANG JAJAN SELAMA SATU MINGGU.

.

Jungkook tersentak ketika bayangan Yoorin tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi asap yang mengepul tipis. “Tidak,” ia kembali duduk dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Chanyeol. Ia menggenggam tangan Chanyeol–lagi.

“Hanya sedikit jauh dariku, bagaimana?”

Chanyeol menggeleng.

“Limapuluh meter dariku?” bujuknya sekali lagi. Namun, pemuda bergaris Park itu kembali menggelengkan kepalanya. Jungkook meremas rambutnya dengan frustasi. “Baiklah, hanya sekali ini saja, aku izinkan kalian berkencan berdua,” ucapnya mengalah.

Chanyeol tersenyum lebar, hingga menjadi sebuah tawa yang kecil. “Sebenarnya, nomor yang kuhubungi tadi, nomor lama Yoorin.”

Ye?”

.

** Sunshine Becomes You **

.

Yoorin terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Jungkook sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi ia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tas yang ditinggalkan di dalam loker tempat ia bekerja. Yoorin berlari-lari kecil ke arah pintu keluar, sembari menghubungi Jungkook kembali. Pada deringan ketiga suara Jungkook dari ujung telpon terdengar.

“Kau di mana?” tanya Yoorin cepat sambil mengernyitkan dahinya. “Maaf, aku tadi sangat sibuk,”

Aku tahu,” sahut Jungkook dari ujung telepon.

“Sekarang kau berada di mana? Apa sudah sampai di rumah? Sudah makan? Di mana?”

Kak Yoo, berhenti.”

“Ya?” Yoorin pun otomatis menghentikan langkahnya. Walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud adiknya itu.

Yah, berhenti di situ.” Kata Jungkook kembali dari ujung telpon. “Sekarang putar badanmu ke kanan.” Lanjutnya.

Yoorin menurut apa yang dikatakan Jungkook. Tepat pada saat itu, matanya melebar kaget, ketika melihat Jungkook berdiri di seberang jalan dari tempatnya berdiri. Jungkook tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga. Lalu ia melambai dengan senyum cerah ke arah Yoorin.

“Ada apa dengan anak ini?” tanya Yoorin kepada dirinya sendiri, sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa adiknya ada di sana, lalu kembali menatap Jungkook.

Ketika lampu tanda pejalan kaki berubah warna menjadi hijau, Jungkook berlari dengan langkah lebar menghampiri Yoorin.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Yoorin ketika Jungkook sudah berdiri di hadapannya.

Jungkook tersenyum kecil. “Kakak sudah boleh menurunkan ponselnya,” serunya dan langsung mendapat reaksi dari Yoorin.

Gadis itu tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Apa kakak sudah makan?” tanya Jungkook.

Uhm, tadi hanya sedikit. Tapi sepertinya aku lapar lagi, Kook.” Yoorin mengelus perutnya yang rata.

“Bagaimana kalau kita makan di kedai Bibi Heo?” usul Jungkook.

“Sepertinya itu ide bagus.”

Jungkook dan Yoorin bergegas pergi ke kedai yang mereka maksud.

.

** Sunshine Becomes You **

.

“Akhirnya, omurice-ku datang,” gumam Jungkook gembira ketika makanan kesukaannya diantarkan kepadanya. Ia mendongak menatap Yoorin dan tersenyum lebar.

Yoorin mengalihkan tatapannya dari ponsel di atas meja dan tersenyum. “Joah?” tanyanya.

Uhm,” Jungkook mengangguk dengan cepat. “Gomapda,”

Yoorin menepuk bahu Jungkook dengan pelan. “Makanlah,” gumamnya sambil meraih ponselnya kembali. Sesaat, ia melirik ke arah Jungkook yang sedang menyantap makanannya. Yoorin menggigit bibir, sedikit membasahinya.

“Kook, Aku mau berbicara sesuatu,”

“Bicaralah,” sahut Jungkook sambil menikmati makanannya.

“Bolehkah– aku pergi berkencan dengan Chanyeol berdua saja?” tanya Yoorin kemudian. Meskipun sebelumnya, bibirnya sangat terasa kaku untuk bertanya. Karena ia tahu adiknya seperti apa dan bagaimana.

Jungkook bergeming, lalu mengangkat bola kepalanya, mengerjapkan mata dua kali.

Lelaki itu… Dia gesit sekali.

Namun, perlahan-lahan, senyum lebar tersungging di bibirnya. “Aku baru saja ingin menyuruh Kakak kencan dengannya. Kebetulan juga besok kakak libur, bukan? Kalau begitu pergilah,”

Uhm? Kau tidak marah?” tanya Yoorin lagi. “Apa kau benar-benar Jeon Jungkook adikku? Ya! Bagaimana jika terjadi yang tidak-tidak jika kami hanya berdua?” omel Yoorin tiba-tiba.

Ige mwoya?” Jungkook menatap Yoorin kebingungan. “Aish, jinjja! Kenapa pikiran kakakku kuno sekali.” Gerutu Jungkook.

Mwo? Kuno? Siapa?”

Neo! Neo-ya. Aigoo. Pergilah,” katanya kemudian. “Aku juga besok mau menemani Halla audisi menari. Kakak tahu, ‘kan, tanpaku di sisinya dia tidak akan bisa apa-apa.” Lanjutnya sombong.

Aigoo, ne, arasseo, gomawo,

.

** Sunshine Becomes You **

.

Yoorin dan Jungkook mendesah pelan bersamaan. Mereka berjalan santai, pulang ke rumah setelah selesai mengisi perut mereka. Jungkook menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Yoorin menoleh menatapnya yang kala itu sedang mendongakkan kepala menatap langit hitam kelam yang diterangi dengan cahaya bulan.

“Kak, lihat langit malam itu,” kata Jungkook tiba-tiba.

Uhm?” Yoorin ikut mendongakkan kepalanya dan menatap langit gelap yang diindahkan dengan cahaya bulan.

“Terkadang aku berpikir langit malam itu adalah aku. Gelap dan sunyi. Tapi di saat bersamaan, aku menyadari bahwa ada satu sinar yang tak pernah bosan menemani malam,” ia menoleh ke arah Yoorin dan tersenyum penuh arti. “Sang bulan. Di saat itu aku berpikir kak Yoo dan Halla seperti bulan, selalu ada untukku dan tak pernah membiarkanku sendiri, bahkan membiarkanku terjebak dalam kegelapan.” Lanjutnya kemudian.

 

Yoorin menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah kurva yang indah. “Tapi, Kook, bagiku kau adalah sinar matahari,”

 

“Matahari?” Jungkook semakin menjejalkan kedua tangannya, menunggu penjelasan dari sang Kakak.

 

“Karena setiap kali membayangkanmu, aku selalu teringat pada sinar matahari. Begitu juga sebaliknya. Ketika sinar matahari menghangatkan tubuhku, aku selalu teringat pada dirimu.”

 

Perasaan hangat dan ringan menjalari tubuh Jungkook. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia mengamati Yoorin yang tengah bergidik kedinginan karena udara malam.

 

“Kakak butuh kehangatanku?” tanya Jungkook sembari merentangkan kedua tangannya.

 

Yoorin tertawa renyah. “Tidak di sini, Kook. Cukup genggam tanganku saja, hehe,” Yoorin menautkan jarinya ke jemari lebar Jungkook dan tersenyum.

 

Jungkook juga tersenyum melihat mereka bergandengan, lalu menatap Yoorin sesaat.  “Tapi kak, menurut analogimu sendiri, bagaimana cara matahari mencintai bulan?” tanyanya kemudian.

Senyum Yoorin tak lepas dari bibirnya. “Uhm. Dengan membiarkan sang bulan berputar mengelilinginya bersama bumi. Sesekali mencoba mengontrol sinarnya yang kadang berlebih–meski dari jauh–agar ia tak menyakiti siapa pun. Hanya membiarkan sang bulan beredar mengelilinginya, selamanya.”

 

“Matahari dan bulan tidak akan pernah bisa bersatu,”

 

Yoorin menempelkan bola kepalanya di bahu Jungkook. “Tapi nyatanya sekarang kita bersatu, Kook,” kini ia menempelkan dagunya di bahu Jungkook dan memandang adik tersayangnya itu lebih dalam.

 

Tsk, kenapa memandangku seperti itu?”

 

“Cahaya matamu, aku juga ingin matamu selalu bercahaya untukku, layaknya matahari yang selalu memberi keceriaan. Aku selalu berharap, cahaya matamu tidak akan pernah redup, terutama untukku, kakakmu,” gumam Yoorin.

 

“Benarkah? Aku bisa dengan mudah menjadi sinar untuk kakak dan melihat kakak. Kita ‘kan satu rumah,” ucap Jungkook senang

Kemudian, kedua kakak beradik itu saling melempar senyum, tawa, dan bertanya satu sama lain. Sehingga membuat semua itu terasa lucu bagi mereka.

.

** Sunshine Becomes You **

.

Halla mendesah kala melihat tiga orang gadis di depannya. Mereka terlihat sedang saling memberi semangat satu sama lain. Ia merasa pengap di dalam ruang tertutup dengan banyak kursi berderetan di sana.

Halla menarik napas panjang di kursi, menggetarkan kedua kakinya. Ia benar-benar terlihat gugup dan gelisah, ia pun meremas-remas kedua tangannya. Halla benci dengan keadaan seperti ini. Rasa cemas membuat ia merindukan toilet.

Klik!

Bunyi jepretan kamera membuat gadis itu menoleh dengan cepat. Saat itu ia melihat Jungkook duduk berselang dua kursi darinya. Ia melihat ekspresi Jungkook yang mengangkat alis ketika melihat hasil jepretannya. Dan sangat terlihat jelas pemuda itu menyunggingkan sudut bibirnya.

Kya!” pekik Halla pelan.

Jungkook mengangkat wajahnya dan memandang Halla. “Kapan kau akan naik ke atas panggung?”

Ige mwoya? Kenapa kau lama sekali?!”

“Tadi ada urusan sed––”

“Halla,” ucapan Jungkook terhenti kala nama Halla dipanggil oleh salah satu juri di atas panggung.

“Ah, eotteokhe?”

Jungkook kembali mengarahkan kameranya dan membidik Halla yang sedang gugup. Setelah itu ia duduk di samping Halla dan menggenggam tangan sahabatnya itu. “Kau bisa. Jika kau lolos, aku akan meneraktirmu. Janji, apa pun yang kau mau. Atau kau ingin ke wonderland?”

Halla memandang mata Jungkook untuk sesaat di tengah-tengah cahaya yang remang. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. “Pukul lenganku.”

Tanpa menyerukan sebuah pertanyaan, ia memukul lengan Halla dengan kuat.

Ack. Ya! Ack, apha,” ia meringis sambil mengelus lengannya. “Hha. Terimakasih, sepertinya rasa gugupku sudah sedikit hilang. Ah! Aku mau makan dan ke wonderland.”

Aish, jinjja!”

Halla segera turun dan berlari menuju panggung. Beberapa peserta duduk di tepi panggung memberi tepuk tangan kepada Halla. Ia melihat ke baris kursi penonton, melihat Jungkook yang masih berada di tempat, melambai dan tersenyum kepadanya. Kemudian, pemuda itu mengangkat tangan, memberi semangat padanya.

Fighting!!” seru Jungkook pelan.

Begitu nada pertama terdengar, Halla mulai bergerak mengikuti alunan lagu. Seluruh tubuhnya bergerak, menari dari ujung jari tangan sampai ujung jari kakinya. Semua mata penonton mengangah melihat Halla, tidak ada di antara mereka yang mengalihkan tatapannya dari Halla yang sedang menari di atas panggung.

Ketika alunan lagu berhenti, gerakannya pun terhenti. Selama beberapa detik, tidak terdengar apa pun di ruangan itu. Segalanya hening. Lalu, Jungkook bertepuk tangan dari kursi penonton, dengan keras.

Seolah-olah baru sadar dari mimpi, semua orang mulai bertepuk tangan dan bersorak. Halla masih terlihat terengah, tetapi ia tersenyum lebar kepada orang-orang yang bertepuk tangan. Ia pun melihat ke arah Jungkook yang memotret dirinya.

.

** Sunshine Becomes You **

.

“Jadi,” kata Halla dengan mulut yang masih agak penuh. Ia mengunyah sebentar, menelan, lalu melanjutkan, “Ke mana kau kemarin? Kenapa tidak masuk?”

“Oh, iya, itu juga yang ingin kuceritakan padamu.” Kata Jungkook hati-hati. “Kemarin… Aku membolos, mengelilingi Sangsu-Dong.”

Mwo?” mata Halla melebar kaget.

Eii, dengar dulu, kau tahu ‘kan, kalau guru Kim sangat tidak suka kata terlambat? Aku juga sudah bisa menebak kalau kursiku pasti sudah disingkirkan dari kelas. Aku tidak mau duduk di bangkunya. Itu memalukan.” Kata Jungkook.

Halla kembali melanjutkan santapannya. “Benar, kursimu sudah di singkirkan, setelah beliau selesai mengabsen semua muridnya. Tapi setidaknya kau harus datang, meskipun terlambat.”

“Jangan beritahu Kak Yoo, aku masih ingin hidup,”

Tsk, baiklah. Lalu, setelah ini kita akan kemana? Wonderland?”

Han-gan.”

.

** Sunshine Becomes You **

.

“Kenapa kau mengajakku ke sini? Aish,” Halla merasa kikuk di tengah-tengah taman cinta yang ada di sungai Han. Begitu banyak pasangan muda-mudi di sana.

“Itu mereka,” gumam Jungkook sambil menarik tangan Halla.

“Bukankah itu Kak Yoo dan Chanyeol oppa?” tanya Halla ketika mereka mengintip di balik bangku kayu. Halla menyikut perut Jungkook. “Ya, apa kau menguntit mereka?”

Aniyo,” elak Jungkook cepat. “Aku hanya memastikan saja kalau mereka benar-benar di sini, dan tidak melakukan apa-apa,”

Eii. Apa sekarang sudah puas? Kalau sudah, lebih baik kita pergi dari sini.” Halla beranjak dan menarik hoddie Jungkook. “Kajja, jika kau tidak ingin pergi, aku akan berteriak memanggil mereka dan mengadu kepada Kak Yoo kalau kau kemarin membolos.”

Kya,” Jungkook memberengut, sebelum akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Halla.

.

Jungkook dan Halla berjalan-jalan di sekitaran taman cinta yang terdapat di sungai Han bagian barat. Jungkook memandang berkeliling. Begitu banyak orang-orang yang menikmati jalan-jalan di taman itu seperti mereka.

“Ada yang membuatku bingung padamu, Kook.” Tanya Halla memecahkan keheningan mereka.

Jungkook memiringkan kepalanya sedikit. “Bingung?”

Halla memandang sahabatnya dengan bimbang. “Aku bingung, kenapa kau malah menguntit Kak Yoo dan Chanyeol oppa? Bukankah biasanya, kau selalu berdiri di tengah-tengah mereka.”

Jungkook mendongak, memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, dan mengembuskannya. “Apa sangat aneh? Kurasa, tidak ada yang namanya kencan beramai-ramai,” serunya.

Halla menggeleng dan menatap Jungkook. “Sangat aneh. Biasanya aku yang mengucapkan kalimat itu.” Ia mengangkat kedua bahunya. “Ternyata kau bisa juga mengatakan itu.” Halla mendengus pelan. “Tapi setidaknya kau mulai mengerti, mereka sudah dewasa, dan suatu saat Kak Yoo juga harus menikah, begitu juga dengan dirimu. Tidak selamanya kau harus berada di sisinya. Tsk,”

Jungkook mengerjap-ngerjapkan matanya, dan menyetujui pernyataan Halla, membenarkan dalam hati. Lalu, ia mendengus kecil. “Kau mau minum sesuatu? Ah! Itu ada bangku kosong,” serunya tiba-tiba dan menarik Halla ke arah bangku kosong tidak jauh dari sana. “Sementara kau duduk di sini, aku membeli cemilan dulu,”

“Sepertinya hari ini kau sangat kaya,” canda Halla.

“Tunggu aku,” balas Jungkook.

.

Setelah lima menit Jungkook pergi dari situ, tiba-tiba Halla dikejutkan dengan suara mesin dan roda yang bergesekan dengan aspal. Namun, belum sempat bergerak, ia kembali dikejutkan dengan teriakan dari orang-orang. Halla tiba-tiba dilanda ketakutan. Ia beranjak dan berlari ke arah jalan besar. Saat itu, ia menemukan keramaian di pinggir jalan. Orang-orang berkerumun, memenuhi jalan itu.

Halla mencoba menghampiri kerumunan yang cukup padat itu. Ia harus berusaha keras untuk menembus kerumunan itu. Kedua matanya berhasil menangkap bahu yang berlumuran darah. Bahu itu, hoddie itu. Ia semakin masuk ke dalam kerumunan, dan… jantungnya tiba-tiba berdebam dengan cepat. Seketika tubuhnya melemas saat melihat sosok yang tergeletak di jalan. Darah masih mengalir dari dahinya. Sosok itu tak dapat melakukan apa pun. Halla membeku sesaat sebelum ia berteriak.

“JEON JUNGKOOK.”

.

** Sunshine Becomes You **

.

Halla duduk dengan tangan mengepal. Seluruh tubuhnya lemas, terasa begitu panas dan dingin pada saat yang bersamaan. Ia menunduk putus asa kala suara panik itu menyerukan namanya. Halla menoleh dan terkesiap, ketika Yoorin dan Chanyeol berjalan tergesa-gesa ke arahnya.

“Jungkook?” tanya Yoorin.

Tepat pada saat itu, pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter keluar. Yoorin, Halla dan Chanyeol segera menyambut sang dokter.

“Keluarga pasien?” tanya dokter.

.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Yoorin. Ia merasa tubuhnya mendadak dingin. Darahnya seakan terserap keluar dari tubuhnya.

“Pasien–”

“Bagaimana keadaannya?” ia menatap kedua mata dokter itu dengan perasaan takut dan tidak sabar.

Sang dokter menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. “Kecelakaannya sangat parah,” dokter memulai pembicaraan dengan suara berat.

Yoorin menggeleng, menolak untuk percaya. “Tapi dia akan baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya lagi.

Dokter kembali menarik napasnya. “Kecelakan ini menghantam kepalanya dengan hebat. Akibat benturan keras itu, ia mengalami kerusakan parah di bagian lain dari otaknya. Hha, kita harus mencoba percaya dengan keajaiban. Karena kami tidak yakin dia akan bisa bertahan lama.”

“Tidak!” Yoorin menjadi histeris. “Itu bohong!” ia menutup kedua telinganya, menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya. “Jung–kook,” seru Yoorin terbata.

.

** Sunshine Becomes You **

.

Handle pintu itu terasa dingin dalam cengkraman Yoorin. Butuh keberanian besar untuk masuk ke kamar rawat Jungkook. Ia harus menguasai dirinya terlebih dahulu. Ia memejamkan matanya kuat-kuat dan meyakinkan diri sekali lagi untuk tidak menangis.

Yoorin pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Bau rumah sakit itu membuatnya tidak tenang. Begitu menusuk, dan dingin.

Pertama, mata Yoorin menangkap Jungkook yang terbaring tak bergerak di ranjang, lalu berbagai selang dan kabel yang menghubungkan tubuh Jungkook ke semua mesin yang menunjukkan kondisi vital Jungkook. Tiba-tiba, matanya terpaku pada mesin yang menunjukkan detak jantung adiknya itu. Garis-garis pada monitor itu masih teratur. Itu tandanya, jantung Jungkook masih berdetak.

Langkah Yoorin terasa berat ketika ia menghampiri sisi ranjang Jungkook. Wajah adiknya nyaris tidak terlihat jelas di balik semua perban dan masker oksigen. Matanya pun terpejam. Sangat terlihat tenang, seperti sedang tidur. Yoorin menarik napas panjang menatap wajah Jungkook.

“Kook, kau bukan putri tidur, ayo cepat bangun, jangan sampai tanganku ini mendarat ke bokongmu!” Ia diam sejenak, mengharapkan jawaban yang ia tahu tidak akan diterimanya. Jeon Jungkook tetap bergeming.

Yoorin tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Air mata bergulir begitu saja, menetes tepat di atas tangan Jungkook. Dengan cepat ia menghapusnya. Ia menggigit bibirnya yang mulai bergetar.

Yoorin menunduk. Semua rasa sakit dalam dadanya sudah tak terbendung lagi. Tubuhnya dingin dan bergetar hebat. Dibenamkannya wajahnya di atas punggung tangan Jungkook, dan terisak pelan.

“Selama ini kau tidak pernah membuatku menangis. Lalu kenapa sekarang kau membuatku menjadi wanita yang cengeng?” Suaranya bergetar. Tangannya juga. “Kau selalu membuat segalanya menyenangkan. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Aku gagal menjagamu, Kook. Aku mengingkari janjiku kepada Ayah dan Ibu. Aku gagal.” Tangisannya kembali pecah. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.

Perlahan, Yoorin mengangkat bola kepalanya dan menatap Jungkook, seketika matanya melebar kaget. Ia mengusap matanya yang menggabur akibat air mata yang menumpuk di pelupuk matanya, dan melihat wajah Jungkook sekali lagi. Ia tidak salah lihat. Perban yang melingkar di samping mata Jungkook sepertinya basah. Itu artinya, Jungkook menangis. Jungkook mendengarnya.

Air mata Yoorin kembali tak terbendung lagi. Ia mencondongkan tubuhnya dan menggenggam tangan Jungkook dengan lembut.

“Jungkook,” panggilnya, lalu membekap mulutnya sendiri ketika ia mulai terisak. “Kau mendengarku? Kau mendengar semua perkataanku?”

Setetes demi setetes kembali bergulir air mata dari mata Jungkook yang terpejam, namun Jungkook sama sekali tidak bergerak.

Yoorin semakin terisak. Ia menggeleng, menarik napas dengan bersusah payah. “Jungkook, kau mendengarku?” Yoorin memegang lengan Jungkook dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya menutup mulut. “Kau–” isaknya pelan.

Tangis Yoorin terhenti, ketika mendengar bunyi panjang dan datar yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia mengangkat bola kepalanya dan menatap monitor penunjuk detak jantung Jungkook. Hanya ada garis lurus yang terlihat di sana, dan bunyi panjang yang monoton itu, segalanya akan berlangsung dalam gerakan lambat. Ia memutar kepala dan menatap Jungkook. Wajah Jungkook masih terlihat tenang seperti sebelumnya. Yoorin kembali memutar kepalanya ke arah monitor yang menunjukkan garis lurus.

Belum sempat ia melakukan apa pun, dokter dan perawat menerobos masuk langsung mengelilingi Jungkook. Yoorin menggeleng tanpa tenaga, perlahan bergerak mundur dengan tidak teratur. Jungkook menghilang ditelan kerumunan orang berbaju putih. Matanya beralih menatap monitor yang tetap menunjukkan garis lurus itu.

Gagal.

Mereka gagal menyelamatkan Jungkook.

Tangan hangat Chanyeol tiba-tiba merengkuh kedua bahu Yoorin dan memeluk erat tubuh mungil gadis itu, tanpa berkata apa pun. Cukup memberi tumpuan penuh pada tubuh Yoorin yang melemah.

Halla membeku di ambang pintu, membekap mulut yang akan mengeluarkan isakan. Tubuh gadis itu juga bergetar hebat, lututnya menjadi lemas, tak mampu menopang tubuhnya, hingga membuatnya jatuh berlutut.

Tangisan Yoorin yang pecah memenuhi ruangan itu, sangat menyayat hati. “Jungkook… Jungkook…” panggilnya berulang kali. Berharap akan datang keajaiban saat ia terus memanggil nama adiknya.

Pandangannya menggelap, hari-harinya juga bersiap akan menggelap…

Tanpa Jungkook.

.

** Sunshine Becomes You **

.

Kak Yoo…

Yoorin menatap berkeliling, mencari sumber suara itu. Ia memasuki ruangan gelap dan sempit. Ia menahan napas setiap kali mendengar suara itu.

Kak Yoo…

Di sudut pandangnya yang terjauh, ia melihat sebuah cahaya di ujung ruangan itu, seperti cahaya matahari. Ia berjalan perlahan mendekati cahaya itu. Yoorin merasakan angin berhembus pelan tetapi terasa menusuk. Jalan yang disusurinya tiba-tiba dipenuhi dengan ilalang-ilalang lebat menghiasi sisi kiri dan kanannya. Sinar matahari juga bersinar begitu indah, sekelilingnya terlihat kekuningan. Namun tubuhnya tetap kedinginan di bawah sinar matahari itu.

Yoorin menatap hampa pemandangan di hadapannya. Langkah kakinya terhenti, kala sudut ekor matanya menemukan pantai dihiasi batu-batu yang menakjubkan, di sana juga terdapat mercusuar di ujung jembatan. Yoorin merasakan semilir angin mendekatinya. Ia merasa tubuhnya menggigil hebat.

Kak Yoo…

Suara itu berhembus di telinganya, membuat tubuhnya bergetar. Tiba-tiba, Yoorin merasakan sebuah tangan menggenggam tangan kirinya. Rasa hangat pun perlahan menjalari seluruh tubuhnya. Ia melihat Jungkook berdiri di sampingnya dengan senyum cerah, dan memandanginya dengan sinar mata yang Yoorin rindukan.

Maaf, kalau aku tidak bisa berada di sampingmu dan menggenggam tanganmu seperti ini lebih lama. Jangan bersedih jika tidak bisa bersama matahari. Belajarlah dari gerhana matahari, yang bertemu tigapuluh tahun sekali. Entah kapan itu, percayalah, matahari dan bulan akan bertemu lagi. Dan matahari akan senantiasa menunggu bulan. Sementara itu, bulan harus berbahagia dengan bumi. Hiduplah dengan bahagia, Kak.

Air mata bergulir membasahi wajah Yoorin dengan cepat. Ia merasa napasnya menjadi berat. Ia memejamkan matanya, berusaha menggapai wajah putih pucat itu. Namun, perlahan bayangan itu menjauh, semakin jauh dan menghilang.

.

** Sunshine Becomes You **

.

“Kak Yoo, Kakak. Bangun,”

Yoorin membuka matanya perlahan. Dilihatnya wajah mungil Halla yang berada tepat di hadapannya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku. Tubuhnya penuh dengan keringat, wajahnya basah dengan air mata.

“Mimpi buruk lagi?” tanya Halla khawatir sambil menyodorkan segelas air putih.

Yoorin menyambut gelas itu dan meneguk minumnya sambil menarik napas perlahan.

“Apa kakak yakin tidak ingin ke psikiater?” tanya Halla.

Naega wae?” sahut Yoorin pelan.

“Semenjak hari itu…” Halla diam sejenak, karena sedikit ragu. “Kakak selalu mengalami mimpi buruk. Aku hanya mengkhawatirkanmu, Chanyeol oppa, orangtuaku, bahkan teman-temanmu…”

Yoorin tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja, Halla. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi kakakmu ini baik-baik saja.” Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju dapur. Ia melirik sesaat ke arah pintu kamar Jungkook yang saat itu terbuka lebar. Namun, tiba-tiba langkah kakinya terhenti, ketika ia menyadari sebuah lukisan yang tergantung di dinding kamar Jungkook. Kepalanya berputar cepat.  

Lighthouse yeongdo

Mata Yoorin seketika melebar. Mercusuar itu, laut biru itu, taman itu, sama persis yang ada di mimpinya. Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya, sebelum ia kembali sulit bernapas.

“Kak Yoo,” panggil Halla pelan, menyadarkan Yoorin yang tiba-tiba membeku.

Yoorin berputar cepat dan menatap Halla selama sepuluh detik, sebelum ia bergumam. “Halla, hari ini aku harus mengunjungi Busan.”

“Taejongdae?”

Oh. Kau juga, sebaiknya pulang saja ke rumahmu.”

“Tapi––”

.

** Sunshine Becomes You **

.

Yoorin membebaskan pandangannya, menikmati pemandangan yang terhampar di hadapannya. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan setapak. Tempatnya masih sama, begitu tenang dan bersih. Dari kejauhan, ia bisa melihat mercusuar yang sama persis pada mimpinya. Di sinilah tempatnya, tempat bermain Yoorin dan Jungkook disaat mereka masih kecil, sebelum dan sesudah ditinggal pergi selamanya oleh kedua orangtua mereka.

Yoorin tiba di jembatan yang akan membawanya ke mercusuar itu. Jemarinya kembali menekan tombol pada kamera yang tergantung di lehernya sedari tadi. Pantai Yeongdo memang indah. Ia berdiri sejenak di atas jembatan itu, menikmati erosi gelombang yang menghasilkan pemandangan eksotis, sebelum menaiki mercusuar.

Yoorin mendongakkan kepalanya, membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Hari ini angin terasa berhembus dengan lembut dan sejuk, Seakan membelai dan membisikkan pesan di telinganya.

Terimakasih, kak.

Yoorin tersenyum. Perlahan ia mengangkat tangannya, ke arah matahari, seolah-olah ingin menggapainya. Ia merasakan kehangatan itu, kehangatan yang membuatnya nyaman, begitu menenangkan. Kini Yoorin sadar, ia harus merelakan waktu berjalan sebagaimana mestinya.

Aku juga berterimakasih untuk semua kenangan indah yang kita ciptakan, Kook. Terimakasih untuk segalanya. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku janji, aku akan menjalani hidupku dengan sebaik-baiknya. Tunggu aku, matahariku. Jeon Jungkook.

Yoorin menarik napas lebih dalam, sebelum ia membuka matanya perlahan. Ia merogoh tas selempangnya yang tergantung di bahu sebelah kanannya, dan mengeluarkan setangkai bunga Aster (daisy) yang masih segar. Ia mencium bunga itu sesaat, lalu meninggalkannya di atas penyanggah jembatan itu, dan berlalu pergi.

.

fin

.

Happy 2nd Anniversary BTS Fanfiction Indonesia

Sukses & lancar jaya selalu.

 

Advertisements

9 thoughts on “[What is Your Color?] Sunshine Becomes You – Oneshot

  1. [*miu*]

    Bagus, kak. Tapi ada beberapa yang mirip sama novel Sunshine Becomes You. Mungkin lebih bagus kalau judulnya dibuat agak beda. Tetap semangat berkarya kak. Fighting~!

    Liked by 1 person

  2. Mba acuuuuuu….. ini aku pengen komen per paragraf tapi jempolku keder…. ini oneshot ato bershotshot ??? Astagaaaa ini panjang banget dan PENUH KEGOMBALAN !!!! ^*^

    Jeon Yoorin siapa Jeon Yoorin ???? Beruntung banget punya adek semanis ituuuuuuu… huhuhu

    Lee Halla kamu maumaunya friendzone-nan sama bocah kelinci macem kuki gtu dek ??? Masi banyak yang lebih ganteng tau…. ((dibuang))

    PARK CHANYEOL !!!! pinter banget malak bocah kecil woy !!! ((Cium chanyeol sampe besok)) wakakKK XD padahal tetep diikutin juga…

    ATUHLAH MBA ACUUUUUU… HATIKU DI MAININ GINI.. ABIS DIANGKAT TINGGITINGGI TAUTAU DI BUANG BEGITU AJAAAA…. HUHUHU JUNGKOOKIE KUUUUUUUU TT.TT

    Acu kudu tanggung jawab membangkitkan kuki kembali dari alam kubur… XD

    Love you acuuuu… makasii buat cerita manis sepanjang jalan ini… hiks ♥♥

    Aku reblog yes…. ^^v

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s