[VIGNETTE] Amor Vincit Omnia

[Vignette] Amor Vincit Omnia

Amor Vincit Omnia

A special birthday fic by Naulia Kusuma

[BTS’] Kim Namjoon & [feyrefly’s OC] Kim Nao

Angst, Family, Poetry, Surrealism, AU! • Vignette • PG

Disclaimer: Just own this plot.

Amor Vincit Omnia (Latin)

(phr.) love conquers all.

.

.

 

Hai, Saudariku Sayang.

Bagiku, kini tak ada jalinan aksara dalam komposisi yang sebanding untuk mengilustrasikan beludak rasa ini. Sekerat kalimat ‘Nao, apa kabarmu?’ cuma mampu terkatung beku di pangkal tenggorokan, dan kusangka tak lagi menjadi sapaan penghibur bagi hatimu yang makin terlunta. Kamu tahu, sekujur punggungku barusan dicucuk dahan paling runcing dari rumpun mawar yang kamu pelihara. Lantas, cawan-cawan tempat kita menyurukkan bulir air mata telah dionarkan oleh becek darah yang semestinya tak meluber. Dan, daging yang menjelma manusia yang kita kasihi pun turut gosong oleh gelora amarah dan dendam. Namun, kuyakini, kemalangan ini bukanlah sikap antipati darimu, seperti yang geger digunjingkan oleh orang-orang bermulut lancip. Aku menginterpretasikannya dari perspektif berbeda; ini sekadar mekanisme untuk mengkamuflasekan gejolak rindu, sekadar protes dari seluruh sel di tubuhmu yang bermuara pada seberagam aksi, sebab kamu tengah terjepit dilema—tak tahu lewat medium apa kamu beroleh suatu kenormalan.

Namun, rasa sayangku padamu tetap bertahan; tak ada yang pernah membiarkannya terserak dari simpulnya, dan aku bertekad untuk mempertahankan performanya agar tetap tercermin. Dan meski tak terbilang banyaknya perih dari bilur tak kasatmata yang kamu jejakkan, aku tak akan membencimu, tak akan pernah menunjukkan semacam reaksi alergi atau mengasingkanmu seperti manusia berpenyakit menular. Sebab, kita adalah dua kutub berlawanan yang dikondisikan oleh satu pertalian. Kita pernah bersanding mesra layaknya sekaliber Samudra Pasifik yang paralel dengan sepetak cakrawala tak berbatas. Kamu tidak boleh lupa, bahwa hidup telah menghantarkan kita untuk menelisik pernak-pernik duniawi, lewat darah yang mengucur deras dari landai paha wanita yang sama.

Nao, adakah kamu tahu?

Tubuhku sendiri tak pernah menyembunyikan rahasia apa pun dariku, senantiasa mentransfer sepaket fenomena tak terduga dalam setiap mimpiku, kendati aku tidak menghendaki, apalagi mengemis sampai sepasang tungkaiku lunglai pasrah dikerumuni borok dan nanah. Satu keabsurditasan yang kentara, ada sebentuk perasaan asing yang tak kukenali, yang kini menjamur jadi interior benakku, seperti ramuan obat pahit terkecap di ujung lidah; sesuatu yang menyerupai prasangka tak enak.

Entah mengapa, kata-kata permohonan maaf yang telah kurangkai susah payah harus terjegal kaku di langit-langit mulutku. Dalam sekejap, rasa bahagia yang kualamatkan padamu tergunting sesuatu, helaan napas yang tak pernah kusyukuri lesap satu per satu—tiadalah mampu terdengar jelas karena sensor pendengaranku tak lagi menjaring suara, lalu rasanya… tubuhku kosong melompong, hatiku tergeletak entah di mana. Biru mendekorasi tubuh yang kian pilu, berbarengan dengan seluruh organ yang lelah beroperasi. Aliran darah stagnan dalam pembuluh dan tamat menggulir. Jasadku seperti boneka porselen yang jika disentuh sedikit saja akan melapuk. Kamu tahu, kehidupan seakan berlari menjauh, tak sudi lagi untuk mengawal langkahku barang sejenak. Aku pun sadari apa yang tengah bergolak, dan aku tahu apa jawabnya. Barangkali, itulah yang dinamakan kematian yang dijanjikan. Tak ada yang tahu kapan datangnya namun pasti terjadi. Tak peduli aku memuji atau mencaci, tak ada gunanya menyusun strategi negosiasi di sana, otak yang encer semasa hidupku hanya pajangan semata, sejumput kepercayaan diri yang bertengger mendadak surut oleh ketakutan. Dan aku hanya bisa menyesalkan segala dosa fatal yang pernah diperbuat tubuh hinaku.

Untuk bertemu mati, aku mesti tertawan dalam lubang waktu, hingga penantian panjangku terbayar oleh sebuah konklusi. Mati…, tak bisa terealisasi tanpa mencicip kenikmatan duniawi yang fana, dan segala kehidupan pasti berpulang pada kematian mutlak. Dan, sejatinya Bumi yang kita agungkan hanyalah loka singgah para pengelana. Hari ini, aku mesti wafat sebagai manusia, bukan sebagai tumbuhan kerontang maupun binatang terluka. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, Saudariku Sayang, sebab mati tak pernah mengurangi sesuatu inci pun dari diriku. Aku tetap Namjoon; Kakak yang tak pernah membencimu.

Masih ingatkah kamu?

Dulu—dulu sekali, kamu pernah iseng mengusik hari yang kunobatkan sebagai hari kebebasan, kala terik siang menyemaikan kehangatan bagi tubuhku yang menggigil hebat digusur badai semalaman, kala mulutku sibuk menenggak sebotol bir sebagai penumpas dahaga. Sewujud kamu dihadirkan nyata. Sepaket dengan surai panjang mengilap yang sehalus beledu, fitur wajah yang menonjolkan tulang tegas, manik kecokelatan yang meminjam warna daun lacebark yang rontok di pelataran belakang, dan sebentuk senyum simetris yang merekah sempurna bagai kelopak bunga-bungaan musim semi. Sial. Kamu makin tampak seperti replika sesosok figur wanita yang memancing traumaku tanpa izin, sampai rasa sentimenku mengganas di skala terpuncak.

Kamu beringsut mendekat, tanpa basa-basi menggelar konversasi dengan melafal intonasi variatif dan memimik gerakan ekspresif. Mencetak sederet kalimat tanya yang sebelumnya tak kupersilakan menyeruak, tapi seenaknya menyerobot paksa. Aku tahu, semata-mata yang kamu lakukan untuk menggerus jarak di antara kita, biar tak ada lagi desakan amarah.

“Namjoon-a, bila suatu waktu hidup memberi kita kesempatan untuk terlahir kembali, kamu mau jadi apa?”

Konyol. Itu pertanyaan terkonyol yang pernah aku dengar, apalagi dari seorang Kim Nao, yang notabene tidak memercayai hal-hal berkedok mistis seperti reinkarnasi.

Sejemang, aku cuma bisa bungkam, sambil alisku dijinjing naik lantaran diobrak-abrik oleh seberantak abjad tanyamu yang membanjiri pikiran. Sungguh, aku tak mendeteksi selarik jawaban pun untuk menantangmu berargumen saat itu. Emosi yang entah dari mana muasalnya terlampau merajai diriku, dan aku tak sanggup mengontrolnya hingga aku muak dengan presensimu, nyaris segila-gilanya, hingga garis pembatas antara waras dan gila musnah dalam kebencian yang tak kenal masa kedaluwarsa. Sekali lagi, kamu sukses membuat rekaman memori suramku yang tercecer serampangan di ruas-ruas kepala menitis hati-hati. Serta-merta, proyeksi seorang wanita yang menamakan dirinya ibu berkelebatan di sekeliling. Terpaksa, kukatupkan kelopak mataku rapat-rapat dan seberaneka fragmen masa lalu bersembulan tanpa aku bersikeras meminta.

Kupindai segala sesuatunya dengan saksama; tentang Ibu. Rentangan lengan kokohnya yang merengkuhku mendekat saat badai berkilat dan berguruh. Sebentuk senyuman ambigu yang membuatnya terkesan kuat dan rapuh dalam rentang waktu yang bersamaan. Seraut ekspresi lembut di wajahnya saat menyambutku di birai pintu tepat sepulang sekolah, tapi mendadak setiap lini wajahnya berubah berang begitu pagi tamat dan malam mulai berangkat. Nada suaranya yang bermelodis tinggi tiap kali memanggil namaku, tapi ketika Ayah tak di rumah, suara itu… bertransformasi jadi serak nan parau begitu menghardikku dengan kata-kata yang tak pantas diperdengungkan—seperti geraman monster yang kupercaya menghuni kolong tempat tidurku. Tangannya terasa hangat membelai pelipisku yang bersimbah peluh sehabis bermaraton dalam mimpi buruk, tapi diam-diam dia mencemari tangan halusnya itu, mengasah belati yang diklaim sebagai pena kesayangannya, lantas melukis ornamen spektakuler pada sekujur tubuhku berupa garis melintang atau membujur, dan tak lupa sebagai sentuhan akhirmemulas palet kemerahan terang. Terkadang, ada sesuatu yang kukagumi dari caranya menyiasati kekurangan; terasa manusiawi. Namun, dia berlaku laksana malaikat kadang iblis.

Lantas, apa lagi, Nao? Tidak cukupkah fakta empiris bahwa kamu adalah klon Ibu? Bahkan, sama sekali aku tak menyangkal bahwa nadi kalian berdetak satu jalur. Ketika tatapan kita saling meringkus, acapkali aku merefleksikan secercah rasa tidak suka hingga kamu risi dan ingin berlari terbirit-birit, kamu mau tahu mengapa? Karena, di mataku kalian adalah sosok yang sama; kalianlah segelas minuman beracun tanpa penawar yang kutandas bulat-bulat.

Hari itu, yang kulakukan bukan meresponsmu dengan kalimat yang kamu butuhkan, melainkan membuat sistem sadarmu kejang sejenak, menyepak tubuhmu hingga bertubrukan dengan lantai granit, plus botol yang ikut terburai menancap di sebagian lengan kananmu. Hari itu, kamu kukategorikan sekadar barang tak berguna, ringsek, sampah, tak lebih daripada itu.

“Jangan nodai otakku dengan pertanyaan bodohmu yang tak bermutu!” desisku sarkartis.

Aku ingin berlari, menghindar dari siluet Ibu yang bersemayam dalam ragamu, yang terus berseliweran dan tak mau tahu kalau aku terlalu jenuh. Seiring dengan langkahku yang terhuyung mendekati pintu, kamu membuat kakiku seolah mengakar pada tempat yang kupijak.

“Benar, aku memang bodoh, dan pertanyaanku lebih bodoh. Tapi, satu hal yang ingin aku bilang, Namjoon-a. Jika aku terlahir kembali… aku ingin menjadi konstelasi Circinus[1] di langit selatan, yang selalu menggiringmu menemukan jalan pulang bagi hatimu yang tersasar dalam kemuraman dunia.”

Mulutku setengah membuka, tapi bahasaku sukar merambat pada lidah. Satu pun tak ada kata yang berhasil lolos.

Peduli setan, bisikku dalam hati. Satu debuman keras pada pintu berstruktur mahoni solid itu adalah penegas bahwa aku tak mau terlalu jauh berpikir untuk sesuatu yang tak kutahu.

.

.

Nao, aku datang membesukmu.

Bukan untuk memberantaki tidur lelapmu dengan tamparan, apalagi menggenapkan beban wajahmu yang terpilin di antara lipatan selimut. Malam ini, aku memutuskan untuk meracik kompilasi jawabanku ke dalam mimpimu. Sebab, hidup telah berbelas kasih padaku, dan menawarkan begitu banyak opsi untuk kucentang salah satu.

Jika aku terlahir kembali…

Mungkin, aku ingin menyamar jadi penunjuk waktumu, yang mendenyutkan nyawa di seluruh penjuru kamarmu, yang selalu mengingatkanmu tentang prosesi penting. Aku ingin selalu ada; menjadi benda kecil yang memecah fokus atensimu, yang tiap perpindahan detiknya selalu kamu lirik dan hitung, dan segenap eksistensiku kamu abadikan dalam memori. Tak perlu meluangkan area khusus untuk memanjakanku, cukup aku bertengger di kubikel sempit yang tak lebih luas dari rasa bersalahku. Dan betapa aku ingin merasuk ke palung terdalam hatimu setiap saat, memata-matai apa yang kamu rasakan, sekadar mengonfirmasi, apakah gambar rupaku pernah mendekam di dalam sana?

Jika aku terlahir kembali…

Mungkin, aku ingin menjadi angin yang tak berwarna, selalu menempati ruang di mana pun kamu singgah, dan mengekorimu kapan pun kamu bergerak.  Akan kululuhkan benteng-benteng tebal yang mengimpit tubuh ringkihmu, akan kusibak juntaian anak rambutmu yang menudungi refleksi auramu, dan kudekap kamu penuh kasih sayang tanpa pretensi layaknya seorang ibu yang menimang anaknya. Bila perlu, aku akan nekat merangsek masuk di antara cuping telingamu, meniupkan kata-kata paling tulus dari lolongan hatiku yang mungkin kamu coba enyahkan. Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu, Nao.

Jika aku terlahir kembali…

Mungkin, aku ingin menjadi lautan yang memeluk erat gerombolan pasir di pantaimu. Akulah yang akan menyelundupkan sejubel ombak di kala kamu mengesah mati kekeringanmembiarkanmu tetap lembab agar nyaman dijejaki oleh kawanmu, Si Camar yang gemar bermanuver liar di hamparan kastil pasirmu. Atau, aku malah meluapkan gulungan gelombang raksasa ke arah daratan sarat permukiman, agar para pendusta yang mencampakkan kitamahakarya fantastis Sang Mahapencipta, berkontemplasi dalam hening ibadahnya atas segala tabiat buruk yang mereka lakukan.

Jika aku terlahir kembali…

Mungkin, aku ingin dikenal sebagai mineral yang menempuh perjalanan panjang di dalam akarmuyang menyeruak dari lubuk tanah di mana kita bermula dan tergolek gagu bila sudah habis daya. Aku ingin merambah ke liukan batangmu, menumbuhkan dahan-dahan tempat bungamu berayun-ayun gemulai, kuhimpun rombongan kupu-kupu yang hendak menunjukkan tarian kerinduan, lalu kuhadiahkan mereka nektar terlezat dari mahkotamu.

Namun, aku sama sekali tak ingin terlahir jadi sesuatu yang berlebihan.

Aku tak ingin menjelma pribadi lain. Aku ingin terlahir kembali sebagaimana diriku semasa hidup; penuh kekurangan yang Tuhan beri. Aku hanya ingin berbenah menuju haluan yang benar, ingin tetap menjadi Kim Namjoon yang duluKakak yang mencintaimu apa adanya. Dan kembali berbagi satu rahasia semesta: kamu adalah cintaku, aku adalah cintamu, dan saat jiwa kita berjalan beriringan tanpa halangan jarak, kedahsyatan cinta menaklukkan segala duka.

 

.

.

[end]

Cuap-cuap penulis:

[1] Konstelasi Circinus adalah sebuah rasi bintang kecil di langit selatan, meskipun berukuran kecil, tapi selalu dijadikan penanda. Dalam bahasa Yunani, Circinus berarti kompas, dan dalam bahasa Latin berarti jangka. ((kompas adalah penunjuk jalan bukan? bentuk jangka itu kurang lebih seperti jarum yg ada dalam kompas ‘kan? /iyain aja/ jadi bisa disimpulin sendiri filosofinya.))

 

HAALOOO DEK FEY alias NAO alias… ^^ /selamat ulang tahun yah 😀 moga makin plus plus.

Maafkan, serbuk merica ini telah mencemari kue lezat di hari jadimu, dan sebagian berterbangan ke gaun terindahmu ((nau ngomong apa, sih?)). Oh iya, maaf cuma ini yang bisa aku kasi ke kamu, dek. Dan… apalah ceritaku ini gak jelas sekali ((kamu tau kan, kalo ideku mentok sampe segini, hiks)) dan entah bisa dibilang, (mungkin) ada hubungannya sama ceritamu sebelumnya, dek. ((anggap aja gitu)) :v

Tapi, satu hal yang tak terelakkan; Nau sayang Nao 🙂

 

XOXO,

Nau.

 

Advertisements

13 thoughts on “[VIGNETTE] Amor Vincit Omnia

  1. APA INI 😭😭😭😭😭😭😭
    NAU MAMAM APA SIH? COBAK BAGI BAGI SAPA TAU AKU KETULARAN!!! /kak plis komen lu OOT/ boam ah/ *injekcaps

    aku ga mau komen.. di lapak nau+fey gue ga mau komen apa apa pokoknya 😔😔😔
    Hellen ga bisa diginiin *hiks /lempar kadel ke jurang/

    kecuuupp dulu cini nau😚😚😚😚

    Hepi besdey dedek ipar..wish u all the best😚😚😚

    Liked by 1 person

    1. Haalooo kakadell /maap baru bales euww…
      MAKASI UDAH MAMPIR, O’OWW… GAPAPA KALO KAKDEL GAK KOMEN, YG PENTING TIMPUKIN GREYSON KE RUMAHKU YA YA YA 😀 *capslock jebol wkwkk 😀

      tengs.

      Liked by 1 person

  2. KAKNAUUUUU SINI KUPELUK CIYUMM DULUUU….. AKU MENGABDIKAN DIRIKU PADAMU, KAKAK, SEBAGAIMANA NAO MENGABDIKAN DIRI PADA SAUDARA KEMBARNYA, NAU :’))

    Aku tak bisa berkata-kata, kaknau, aku nangkep semua maksudnya dan….. aku berkaca-kaca demi apa kaknamjuuuuuun i love you kak (bah)(digeplak)

    See you di line ya kaknau, akan kubombardir kolom chat kita…. wkwkwk

    aku mau reblog pokoknya! Makasih ya kaknauuuuu😍😘❤

    Liked by 1 person

    1. Awww dedek, peluk dedek nao {}
      jgn berkaca-kaca dongs, ntar bang namjun makin gak tenang di alam sanah (?) /becanda.
      maapin namjunnya kubikin jdi begini.

      Liked by 1 person

  3. mataku terpaku di capel favorit>,< ya ampoooonnn namjunn naoooo

    Ini yang ultah fey nya atau Nao nya? apa dua-duanya? Ya mpunnnn habede yaaaa semoga lekas sembuh(?) hehe ngga canda, semoga panjang umur..

    dan, wahh ini tulisannya cantikkkk diksinya aduhai.. tapi aku nemuin beberapa kata yang gak baku, apa disengaja kah? tapi buat semuanya yaampunnn empat lope lope<3 ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. I GOT YOU Ayuuu😣 Iya ini ultahnya Nao sist, ga mau kasih kado? wkwkwk kak namjun aja cukup kok😄 Aku gabisa sembuh kalo kamu belum sembuh yu….. (apa ini?)

      Btw makasih yaaaa my lovely sister… (ea)(ea)😍😘

      Liked by 1 person

      1. Omaigat ada fey nya, siap2 diusir lagiii>,< Iya nanti kukadokan namjun dalam bentuk kupon undian
        Sama-sama yahhh my lovely brother(lah?)

        Liked by 1 person

      2. Aku ga ngusir kok yu, cuman kita pergi bareng bareng yuk ini yg punya lapak udah asah keris wkkwkw

        Kupon undian kalo ga menang sama aja heheuu T.T

        Bhaaq brother wkwk Nao mah cewe tulen, kak, yah cuman suka maen layangan aja….. krik

        Liked by 1 person

    2. Haalooo ayu 🙂 ((bener kan?))
      makasi udah baca dan komen 😀
      eum, kata gak baku? mungkin, aku belom edit tulisannya, dan mungkin jugak disengaja haha 😀
      tengs udh mampir.

      Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s