[What is Your Color?] Baby’s Breath – Vignette

Baby's Breath

Title: Baby’s Breath

Cover and Scriptwriter by BabyChim

Main Cast:

– Park Jimin

Support Cast:

Find by yourself! ^^

Rating: Teen

Genre: Sad, Angst

Length: Vignette

Summary: “Baby’s Breath always beside Rose, and that’s reason why i want you to by my side…”

Disclaimer: “This fanfict original story by me.”.

Notes!

“Baby’s Breath, bunga klasik yang biasa dipakai sebagai pengisi korsase, buket, dan rangkaian bunga lainnya. Melambangkan kesucian, ketulusan, dan kebahagiaan. Alasan utama mengapa florist menggunakannya bersama dengan mawar, simbol teramat kuat cinta sejati”.

“Blue Tinted Million Star Baby’s Breath, bunga Baby’s Breath yang berwarna biru agak tua dan ungu.”

Inspired by Author exoticbabyly, amusuk and baekmuffin who writes The Legend EXO Fanfiction “Baby’s Breath” in Asianfanfics.

Sorry if this story are absurd T_T  X_X

Backsound:

Bangtan – Just One Day, Butterfly, I Need U and For You, The Ark – The Light.

.

.

.

.

^o^

.

.

Seorang pria dengan telatennya mengurus tanaman di kebun tempatnya bekerja. Ia bahkan tak mempedulikan dengan jam dinding yang telah menunjukkan waktu 17.12.

“Jimin-ssi?!” seorang wanita menepuk pundak Jimin.

“Eo? Hyera-ssi?” Jimin menoleh ke belakang lalu meletakkan peralatan berkebunnya, “Wae? Kau mau pulang?”.

Hyera mengangguk, “Ya. Kau sendiri, kenapa tidak pulang? Sebentar lagi malam.”.

“Tinggal sedikit lagi, baru aku akan pulang,” Jimin tersenyum.

Hyera mengangguk. “Ya, kau pekerja keras. Pantang pulang sebelum perkejaan selesai.”.

“Kau pulanglah. Biar Toko, aku yang tutup.”.

“Ya, baiklah. Gomawo, Jimin-ssi. Jangan pulang terlalu larut ya?”.

“Ne, algeseumnida.”.

Hyera pamit, “Aku pulang dulu ya?”.

“Ne. Annyeong!”.

“Annyeong,” Hyera membuka pintu Flower Shop lalu menutupnya.

“Hufhh~” Jimin menghela nafas. “Aku lembur lagi.”.

Jimin menatap jam dinding. “Ternyata, sudah lama aku tidak bertemu dengan Jihyo. Kapan aku memiliki waktu untuk mengunjunginya lagi, ya?”.

.

.

Ke-esokan harinya…

Jimin membuka Flower Shop lebih awal dari sebelumnya. Dia berjalan mengitari pot-pot bunga. Segaris senyuman terulas di wajahnya. Beragam bunga ada di dalam pot. Mawar, Anggrek, Tulip, Bakung (Lili) dan….tunggu! Manik mata Jimin menangkap sebuah pot bunga― yang sudah terjatuh― yang berada di pojok Flower Shop. Pot bunga yang sudah terjatuh itu tersinari oleh sinar matahari.

Bergegas, Jimin berjalan cukup pelan menuju pojokan. Ia berlutut dan meraih pot bunga tersebut. Jimin mengamati bunga tersebut. Bunga yang memiliki kelopak kecil dan berwarna biru. Tak lama, wajah Jimin tampak kaget melihat bunga tersebut. Seakan arus listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua mata sayu Jimin, seketika menjadi bulat. Bunga ini… Jimin tahu bunga ini, tetapi, ia tak ingat apa namanya.

“Jimin-ssi?!” Hyera datang tiba-tiba dan menyentuh pundak Jimin, sehingga membuat Jimin membalikkan badannya.

“Eo? Hyera-ssi?!” Jimin bangkit.

“Kau sedang apa?”.

“Ani-a.” Hyera mengangguk, lalu berlalu. Tetapi, Jimin menahan langkah Hyera.

“Eo? Wae?” Hyera terhenti.

Jimin sedikit menunjukkan cengirannya, “Mianhada, Hyera-ssi. Tapi..” Jimin mengelus tengkuknya pelan. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Hyera-ssi?”.

Hyera terdiam sesaat, tetapi tak lama, ia mengangguk. Merasa kalau Hyera akan menjawab pertanyaannya, Jimin menatap sayu pot bunga yang ia pegang. “Apa kau tahu nama bunga ini?”.

Hyera mengamati bunga tersebut. Tampak sedikit kerutan di wajahnya. Hyera juga bingung, “Rasanya, aku cukup asing dengan bunga itu. Tetapi, aku pernah melihatnya. Cukup familiar di ingatanku..”.

“Jinjja?” Hyera mengangguk. “Di mana kau pernah melihatnya?”.

Hyera berfikir sesaat, “Seingatku, di Majalah Stockholm Garden. Edisi ke-52,”. Hyera kembali mengingat. “Itu edisi saat minggu kedua di bulan….april! Ya, april!”.

“Apa kau tahu di mana majalah itu?”.

“Ya.” Hyera mengangguk. “Ada di tumpukan majalah di situ.”.

Wajah Jimin tampak berseri-seri. Ia tersenyum cerah. “Kamsahamnida, Hyera-ssi.”.

Hyera membalas senyuman Jimin, “Ne. Cheonma.”.

Bergegas, Jimin mengubrak-abrik tumpukan majalah di belakang pintu. Tak lama, ia mendapatkannya. Dengan bahagia, Jimin membawa majalah tersebut ke ruangannya. Manik mata Jimin tidak bisa lepas dari majalah. Ia sangat fokus.

Jimin terdiam kala menemukan nama bunga yang ia cari. Jimin menatap sayu pot tersebut. Tangannya bergetar cukup hebat. Matanya tak bisa berpaling. Matanya tampak berkaca-kaca. “I–inii…ini Baby’s Breath.”.

Blue Tinted Million Star Baby’s Breath, ini salah satu bunga favorit Jimin….dan Jihyo. Bunga..yang menyimpan segala kenangan tentang mereka. Bunga yang berkelopak kecil dan berwarna biru ini merupakan bunga yang sangat cantik, berbeda dengan bunga Baby’s Breath lain yang berwarna putih, kuning, merah muda dan hijau.

Tanpa sadar, setetes cairan bening dan hangat meluncur dari kelopak mata kanan Jimin. Disusul beberapa tetes, sampai akhirnya Jimin menyeka air matanya.

“Aku baru menyadari bahwa sudah terlalu lama kau pergi dariku. Aku menyadari bahwa, aku sudah lama tak mengunjungimu lagi. Aku baru menyadari bahwa….kau sudah pergi dariku untuk selamanya,” bahu Jimin bergetar. “Sudah 3 tahun sejak kepergianmu, dan aku sendiri di sini..”.

Dan tanpa diundang, sekelebatan memori tentang mereka lewat. Pertemuan pertama Jimin dan Jihyo. Kedekatan mereka, saat Jimin menyatakan perasaannya, saat-saat kebahagiaan 3 tahun mereka, bersama. Saat Jimin mengetahui bahwa Jihyo― gadis yang Jimin cintai― divonis terkena penyakit kanker darah dan bahwa hidupnya takkan lama lagi. Saat-saat Jimin melewati kebahagian dengan Jihyo―walaupun setiap malam, Jimin menangis akan vonisan yang Dokter jatuhkan pada Jihyo―. Saat melewati hari terakhir bersama Jihyo, saat Jihyo memberikan beberapa pesan terakhir dan saat.. Jihyo menghembuskan nafas terakhirnya. Saat pemakaman Jihyo. Semuanya seakan sudah tersusun rapi, seperti sebuah skenario yang sudah disusun dan difikirkan matang-matang. Kalau bisa diibaratkan, hidup ini adalah panggung. Tuhan adalah Sutradara, sedangkan para manusia adalah para aktris dan aktor. Dan takdir,…adalah skenario. Setiap aktris dan aktor harus memerankan karakter mereka sesuai skenario. Mau tidak mau, mereka dituntut untuk mengikuti alur cerita dari skenario itu. Kehidupan Jimin yang semula berwarna dan bahagia pun berubah menjadi kelam, gelap, kelabu.

Sudah banyak tangisan Jimin di setiap malam yang Jimin lalui. Sudah ribuan hari Jimin lalui sendirian. Sudah ribuan malam yang dingin, Jimin lalui dengan tangisan dan rintihan. Jimin awalnya mencoba ingin mengakhiri semua ini, tetapi, Tuhan tidak memiliki pemikiran yang sama dengannya. Sudah sekitar 3 tahun yang lalu, Jimin ke pemakaman Jihyo. Dan sampai sekarang, ia tidak mau lagi. Takut jika sebuah luka kembali menyayat hatinya dan kembali membuka rasa sakit yang sudah pernah Jimin tutup rapat.

Jimin dan Jihyo sangat menyukai Baby’s Breath. Namun, disaat pemakaman Jihyo, Jimin tidak membawa bunga kecil―yang selalu ada disetiap samping dari bunga mawar―. Baby’s Breath. Jimin seakan muak dengan bunga itu. Bunga itu melambangkan cinta sejati, tetapi, mengapa cinta-nya dan Jihyo tidak abadi?

Angin tampak berderu cukup kencang. Membuat kulit Jimin bertemu dengan angin dingin. Sunyi. Seakan, dunia ikut bergeming dengan apa yang dilakukan Jimin. “Mungkin..sudah saatnya aku menjenguk kembali Jihyo..”.

.

.

Beberapa hari kemudian..

Jimin berjalan pelan ke Areal Pemakaman. Dia datang dengan membawa sebuket bunga mawar.

“Annyeonghaseo, Ahjussi.” sapa Jimin disertai senyuman.

Pengurus pemakaman, Tn. Hong, hanya membalas senyuman pria tersebut―Jimin―, “Kenapa kau datang lama sekali?”.

Jimin sedikit sedih, tetapi ia menunjukkan fake smile-nya. “Perlu waktu untuk berhenti tidak menangisinya. Lagipula, sudah lama aku tidak menjenguknya. Aku merindukannya.”.

Tn. Hong tersenyum, “Begitu. Aku sudah membersihkan makamnya.”.

“Ne, kamsahamnida, Ahjussi.” Jimin membalas senyuman Tn. Hong.

Ini kali keduanya Jimin datang ke Areal Pemakaman sebelum yang pertama kalinya ia datang saat penguburan Jihyo. Dengan mengenakan kemeja panjang berbahan wol berwarna cokelat dan jeans, Jimin berjalan mencari nisan Jihyo. Setelah menemukan, Jimin berjalan ke arah nisan Jihyo.

“Annyeong, Jihyo.” Jimin berlutut dan meletakkan buket bunga mawar dan…Baby’s Breath.

Jimin mengusap pelan batu nisan Jihyo, ia tersenyum getir. “Bagaimana kabarmu? Baik?”.

“Aku…merindukanmu.” ungkap Jimin.

Mata Jimin tampak berkaca-kaca. Bahunya bergetar. Hidungnya memerah. Jimin mencoba untuk menahan tangisannya. Tetapi, ia tidak sanggup. Ia menangis. “A–aku sangat merindukanmu. Kenapa…kenapa kau harus pergi mendahuluiku?”.

Jimin meraba tanah tempat dikuburnya Jihyo, “Aku mencoba menahan rasa sakit saat kepergianmu. Aku mencoba menjadi pria yang tegar akan kepergianmu, tetapi…” Jimin menjeda perkataannya. “Itu percuma saja. Seberapapun tegarnya aku, aku kehilangan dirimu. Sosok wanita yang sangat kucintai. Mau seberapapun aku mengelak kenyataan bahwa kau masih ada, namun, pada realitanya..kau sudah meninggalkanku.”.

“Terlalu sulit untuk mengetahui kenyataan bahwa kau sudah meninggalkanku..” Jimin menangis sesenggukan. “Aku mencoba bertahan dan masih menganggap kau masih disampingku, tetapi kenyataan tampak tak mau bersatu dengan pemikiranku.”.

Jimin mengepal kuat-kuat tangannya, “Bahkan, dunia berkonspirasi untuk memisahkan kau dariku..selamanya.” Jimin membenamkan wajahnya di tangan kanannya. “Sampai kapan aku harus menahan airmataku?”.

“Jimin…?”.

Jimin mendongakkan wajahnya. Ia tertegun. Suara ini…tampak familiar di telinganya. Kentara sekali bahwa suara lembut dan sehalus sutra ini milik….Jihyo.

Jimin menoleh ke belakang. Benar saja. Seorang wanita dengan gaun putih semata kaki berdiri cukup jauh dari Jimin. Seorang wanita cantik berambut hitam dan ia sedang tersenyum.

“J–jihyo?!” Jimin terhenyak. Ia sangat kaget mendapati Jihyo― yang sudah meninggal― hadir di hadapannya.

“Ya, ini aku. Kim  Jihyo-mu,” wanita tersebut tersenyum.

Jimin membulatkan matanya, “Jihyo.. I–ini benar Jihyo-ku ‘kan?”.

“Ya.”.

Jimin menyeka air matanya yang keluar. “Kau..hidup kembali?”.

“Bukan.” Jihyo menggeleng pelan disertai senyumannya. Jimin menaikkan alisnya. Apa maksudnya ‘bukan’?

“Aku adalah halusinasimu, Jimin..” ungkap Jihyo.

Jimin terdiam. Jadi…ini hanya halusinasinya saja?

“Gomawo. Terimakasih atas kunjunganmu, Jimin-ah. Aku tahu, begitu sulit untuk melupakanku, mengingat aku meninggalkanmu dengan luka. Tetapi..” Jihyo mendekati Jimin. “Tolong lupakan aku, Jimin. Bahagialah dengan wanita lain diluar sana. Banyak wanita diluar sana yang mungkin saja lebih mencintaimu lebih dari diriku.”.

“Ani-a!” Jimin bangkit. Matanya merah menyala. Ia sangat kesal. “Aku hanya mau bersamamu saja, Jihyo! Aku hanya ingin…dirimu!”.

“Jangan keras kepala, Park Jimin! Ingat! Kau manusia, aku..sudah tiada. Sekarang, aku hanya halusinasimu saja. Mau kau membunuh dirimu sendiripun, kau takkan bisa bersamaku. Kita…kita..kita ditakdirkan untuk tidak bersama selamanya, kau tahu?” Jihyo meneteskan air mata.

“Tidak!”.

“Kau harus mencoba melupakanku, mulai sekarang. Jimin-ah..”.

“Tidak akan mungkin.”.

“Ya, kau harus..”.

Seketika, tubuh Jihyo tampak transparan.

“J–jihyo?” Jimin kaget.

“Kurasa,ini waktuku untuk kembali.” Jihyo tersenyum.

“Tidak, kau tidak boleh kembali.” Jimin berjalan ke arah Jihyo.

“Kau harus mengetahui sesuatu, Jimin. Aku..mencintaimu. Bahkan, seluruh nafas yang pernah kuhirup, takkan pernah bisa melebihi kadar rasa cintaku padamu. Sampai jumpa, Park Jimin…!”.

Jimin berlari ke arah Jihyo. Ia memeluk Jihyo, tak lama, ia terjatuh ke tanah. Jihyo…sudah hilang selamanya. Jimin..tidak akan bisa melihatnya lagi.

Jimin menangis. Ia meratapi nasibnya. Ia..sudah tiada. Jihyo..sudah tiada. Hilang. Lenyap. Tertelan bumi. Perlu waktu untuk pulih, tetapi, Jimin merasa, dia tidak akan pernah bisa pulih dari kenyataaan pahit ini. Perlahan, Jimin mendongakkan wajahnya. Matanya memerah.

“A–aku..juga mencintaimu, Jihyo..” gumam Jimin pelan.

Pelan-pelan, Jimin bangkit. Ia menatap sendu nisan Jihyo. Jimin berjalan pelan keluar dari Areal Pemakaman. Ia menyalakan motornya, lalu bergegas menyalakan motornya dan motornya melaju.

Jimin..tidak akan mau datang ke situ lagi. Entah sampai kapan, tetapi mungkin saja, sampai ia merasa pulih total dari kesedihannya. Tetapi, apapun yang terjadi, Jimin akan selalu mengingat kejadian hari ini. Selamanya…

THE END

____________

Notes!

Scene Jihyo menghilang, aku terinspirasi dari anime “Hotarubi No Mori E”.

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Baby’s Breath – Vignette

  1. Park jimiiiiin T^T sedih banget nasipmu kak jim. Awas lo naik motor lagi galau ntar……/lupakan/
    Wahaha terhura haru ria bacanya thor, keren bgt ceritanya langsung terbayang di kepalaku /? Keep writing with your own style, jihyeon here, 98line😆😆😆✨

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s