[What is Your Color?] Missing You – Oneshot

3eaf1966aa6fb14136384e71172915b5

Judul: Missing You

Author: Irnacho

Cast: Min Yoongi & OC

Genre: Romance, Sad

Rating: PG16

Length: Oneshoot

Disclaimer: All the cast are from god, except the OC my imagination and the storyline too. Sorry for typo! No siders and no copy. Stop plagiat. Happy Reading!!

Summary: “Aku juga ingin seperti matahari, yang meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang ku cintai saat aku pergi.”

Seperti hari kemarin, sunset sore ini terlihat begitu indah. Langit yang berwarna kemerahan menjadi latar belakang sang raja siang tenggelam di balik awan. Semburat jingga yang selalu menjadi pemandangan yang tidak pernah bisa Yoongi lewatkan tiap sorenya. Pemandangan favoritnya bersama sang kekasih. Senja sore hari.

Pria itu tersenyum, matanya tertutup. Menikmati semilir angin sore yang menerbangkan rambut pirangnya. Di sampingnya dia bisa merasakan kehangatan pada bahunya. Seseorang tengah menyandarkan kepalanya. Menatap lurus ke depan, menyaksikan detik-detik Matahari bergerak perlahan menuju garis cakrawala.

“Senja telah berakhir.”

Bisikan lembut di telinganya setelah beberapa saat terpejam membuat Yoongi membuka mata perlahan. Di tatapnya langit yang kini sudah berubah menjadi gelap. Bersinar di antara gelapnya langit malam, sang rembulan yang hanya muncul separuh di temani kerlap-kerlip bintang menghiasi langit malam itu. Menggantikan tugas matahari untuk menyinari bumi.

Yoon Gi menghela napasnya. Satu hari lagi telah berlalu. Pikirnya.

“Suga Hyung.

Panggilan dari arah belakang tubuhnya membuatnya refleks menoleh. Dan tersenyum ketika menemukan teman-temannya berdiri tidak jauh dari tempatnya. Jungkook berlari kecil menghampirinya kemudian merangkulnya.

“Kami mencarimu kemana-mana ternyata kau di sini.”

“Sudah ku bilang, Suga Hyung pasti ada di sini tiap sore.” Sahut Jimin, di ikuti sosoknya beberapa saat kemudian berdiri di sisi Yoongi yang lain, di susul ke empat pria lainnya.

“Kau pasti merindukan Inha Noona.” Jungkook mendesah. Menatap jauh ke depan, menerawang masa-masa saat Noona-nya itu masih bersama mereka. Jungkook juga merindukan sepupunya itu yang sudah dia anggap seperti kakak kandung baginya.

Yoongi melirik Jungkook, dan tersenyum tipis tanpa bisa mengatakan apapun untuk membalas pernyataannya. Dia memang merindukannya. Tidak bisa di sangkal. Sangat merindukannya.

“Besok peringatan hari kematian Inha, kan?” Seokjin menyela kebisuan yang terjadi beberapa menit di antara mereka. “Aku sudah menyiapkan bekal untuk kita di jalan nanti.”

“Terima kasih, Jin Hyung. Tapi sepertinya tahun ini aku ingin mengunjungin Inha seorang diri.” Ucapan Yoongi mengundang tatapan heran dari ke enam pasang mata di sana.

“Kenapa? Kau tidak ingin kami temani?” Tanya Taehyung.

“Bukan itu.” Yoongi tersenyum lembut. “Aku hanya sedang ingin berdua dengannya. Tidak apa-apa, kan?” Yoongi menatap temannya satu persatu, meminta persetujuan.

Tidak lama setelah itu anggukan kecil dia dapatkan dari Namjoon di susul senyum dari yang lain.

“Tentu saja tidak apa-apa. Kau sangat merindukannya, kau pasti ingin memiliki waktu berdua dengannya. Kami bisa mengerti.” Namjoon menepuk bahu Yoongi beberapa kali.

“Terima kasih.” Katanya.

“Kalau begitu jangan lupa sampaikan salam kami untuk Noona.” Pinta Jungkook.

Yoongi mengangguk. “Tentu.”

 

===o0o===

 

“Eoh, Jungkook-ah. Kau kemari? Tidak latihan?”

“Aku baru saja selesai latihan dan langsung ke sini.” Jungkook menatap sekitar restoran Bibi dan Pamannya itu. “Hari ini restoran ramai sekali.”

“Yah, seperti yang kau lihat.” Jawab Inha. “Kau mau makan apa? Biar Noona siapkan.”

“Seperti biasa, aku mau ramyeon buatan Noona.”

“Ck. Kegiatanmu itu banyak, kau bahkan hanya memiliki waktu istirahat sedikit. Kau harus makan nasi.”

Di nasehati seperti itu, Jungkook hanya bisa memanyunkan bibirnya. Terkadang Inha Noona lebih cerewet dari Ibunya. Tapi entah kenapa dia suka dengan kecerewetan Noona-nya itu. Karena buatnya, itu adalah perhatian sang Noona untuknya.

“Aku akan buatkan kau bibimbap.”

“Ya, ya, ya baiklah. Terserah Noona saja.” Jungkook pasrah. “Ah iya, aku datang bersama teman-teman.”

“Kalau begitu dimana mereka?”

“Sepertinya masih di parkiran.”

“Ya sudah, kau carilah tempat duduk. Noona akan siapkan makananmu.”

Tidak butuh waktu lama, Inha kembali dengan semangkuk bibimbap dan segelas air jeruk untuk Jungkook. Dia menghampiri meja yang berada di sudut dalam restoran dekat jendala, dimana adik kesayangannya berada bersama sekelompok pria yang Inha yakin adalah teman yang tadi di bicarakan Jungkook.

“Hei, adik kecil. Ini makananmu.” Inha meletakan makanan dan minuman yang di bawanya di depan Jungkook, lalu tersenyum ke arah pria-pria itu. “Kalian pasti teman satu grup Jungkook. Jungkook sering menceritakan kalian.”

“Benar, kau pasti Inha Noona. Jungkook juga sering membicarakanmu pada kami.” Ucap salah seorang pria yang memiliki mata seperti bulan sabit. Itu. “Aku Jimin.”

“Ah ya, aku pernah melihatmu di galeri ponsel milik Jungkook.”

“Noona, kenalkan…” Jungkook menyela pembicaraan antara Inha dan Jimin. “ini teman-temanku. Ini Taehyung Hyung, di sampingnya Seokjin Hyung, lalu di sebelah sana Hoseok Hyung, di depan ku Namjoon Hyung, di sebelah Namjoon Hyung Yoongi Hyung. Yang ini,” Jungkook menunjuk Jimin yang duduk di sebelah kirinya. “..kau sudah dengar sendiri tadi namanya.”

Inha mengangguk dan tersenyum. “Salam kenal semua. Kalian sudah pesan makanan?”

“Sudah tadi.” Jawab Seokjin ramah.

“Kalau begitu aku kembali ke belakang dulu. Banyak pelanggan yang datang, aku harus membantu pelayan yang lain.”

“Ah iya, tentu, silahkan.” Kata Namjoon dengan sopan.

“Jika ingin tambah minuman atau makanan yang lain, pesanlah. Hari ini aku akan memberikan gratis makan siang untuk kalian.”

“Sungguh? Jadi kami boleh memesan apapun?” Tanya Jungkook dengan raut wajah berseri. Inha hanya terkekeh lalu mengangguk kecil.

“Eum. Makanlah yang banyak. Dan ingat…” Inha menunjuk wajah Jungkook tepat saat pria itu ingin membuka mulut. “tidak ada ramyeon untukmu.”

“Ya! Noona…” Rengek Jungkook. Tapi gadis itu sudah pergi dari hadapannya, jadi percuma saja jika Jungkook memperlihatkan wajah memelasnya.

“Hyung, kau diam saja dari tadi. Ada apa?” Pertanyaan Taehyung membuat Jungkook mengalihkan tatapannya pada pria itu lalu beralih menatap pada pria yang dia maksud. Yoongi.

Yang di tanya hanya diam saja, tidak menyahut bahkan menoleh. Tatapannya seolah fokus pada counter restoran di mana meja kasir berada. Seakan-akan ada sesuatu yang begitu menarik perhatiannya di sana hingga lupa pada sekitar.

Ke enam pria itu mulai saling pandang kebingungan. Sampai Taehyung memanggilnya kembali.

“Yoongi Hyung!”

“N-ne? Wae? Kau memanggil ku?” Yoongi refleks menoleh, namun bukan ke Taehyung melainkan pada Jimin. Mereka mengerutkan kening.

“Aku yang memanggilmu, Hyung.” Kata Taehyung.

“Oh, kau. Ada apa?” Bukannya menjawab, baik Taehyung maupun yang lain hanya menatap Yoongi dengan tatapan heran. Kemudian Jungkook mencoba melihat ke arah di mana tadi yang menjadi perhatian Yoongi, hingga senyum kecilnya terukir.

“Kemarikan ponselmu, Hyung.” Kata Jungkook. Membuka telapak tangannya meminta Yoongi untuk cepat menyerahkan ponselnya yang dia minta.

Meski bingung, Yoongi tetap memberikan ponselnya. Meletakan di atas telapak tangan Jungkook tanpa banyak bicara.

Jungkook langsung memainkan ponsel milik Yoongi, jari-jarinya bergerak di atas layar benda tipis itu. Yang lain hanya menatapnya tak mengerti. Sebelum mereka melontarkan pertanyaan karena penasaran, lebih dulu Jungkook menyerahakn ponsel Yoongi kembali pada pemilik aslinya.

“Ini. Aku sudah menyimpan nomornya. Kau bisa menghubunginya kapan pun.” Ucapan Jungkook di balas dengan wajah kebingungan Yoongi.

“Apa mak – “ Yoongi belum sempat menyelesaikan pertanyaannya saat Jungkook menggendikan dagunya ke arah meja kasir. Di mana Inha tengah melayani seorang pelanggan.

“Kau menyukainya, kan?” Jungkook tersenyum jahil pada Yoongi.

“Apa? A-aku tidak…”

“Eiiiyy sudahlah, tidak perlu mengelak. Tertulis jelas di keningmu.” Kata Jungkook. Dengan gerakan refleks pria itu menyentuh keningnya, seolah ingin menutupi sesuatu. Sontak saja gerakannya itu mengundang senyuman geli dari yang lain.

“Aku sudah menyimpan nomornya, jadi lakukan sesuatu jangan hanya memandanginya. Aku jamin Inha Noona belum memiliki kekasih.”

Namjoon yang duduk di sampingnya menepuk bahu Yoongi pelan. “Kami tunggu kabar baiknya.” Yoongi menatap teman-temannya satu persatu yang kini tengah menatapnya, tersenyum untuk mendukungnya.

Yoongi meringis, menyentuh tengkuknya dengan canggung. “Apa begitu terlihat?” Ucapnya malu-malu. Dan itu sontak membuat mereka tertawa. Pasalnya selama mengenal Yoongi, ini adalah pertama kalinya mereka melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Kan sudah ku bilang, itu tertulis jelas di keningmu, Hyung.”

“Eiish…diam saja kau.”

 

==o0o==

 

At Skycastle Memorial Park

Bermodalkan setangkai mawar putih di tangannya, Yoongi datang menengok Inha. Dia menempelkan bunga yang di bawanya ke kaca, tempat di mana abu Inha tersimpan.

Matanya menatap pada selembar foto seorang gadis yang tengah tersenyum di antara kedua orang tuanya. Di sebelahnya selembar foto lain, masih dengan gadis yang sama. Kali ini seorang pria merangkulnya, mereka tersenyum ke arah kamera sambil memperlihatkan v sign dengan kompak. Foto pertama saat mereka baru saja meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Sampai sekarang Yoongi masih ingat bagaimana bahagianya dia saat itu ketika Inha menerima pernyataan cintanya.

Senyum terukir di wajahnya yang tampan, senyum yang menyiratkan gurat luka. Hingga sekarang dia masih belum terbiasa hidup tanpa gadis itu. Rasa kehilangan itu begitu besar. Jika boleh jujur Yoongi masih belum percaya Inha telah pergi dari sisinya. Katakanlah dia belum bisa menerima kenyataan. Entah sampai kapan, Yoongi sendiri tidak tahu. Hingga detik ini bayang-bayang Inha masih terus mampir di mimpinya setiap malam. Yoongi tidak terganggu, dia justru senang. Tapi, rindu itu semakin besar setiap harinya. Yoongi tidak sanggup menahannya. Dia ingin memeluk gadisnya, menangis di bahunya, sebagaimana dulu setiap dia lelah gadis itu selalu memberikan bahunya untuk kepalanya bersandar. Dan kemudian dia akan menerima belaian lembut di rambutnya. Hal yang paling Yoongi suka. Tapi kini, entah kemana dia harus mencari kenyamanannya yang telah hilang itu. Inha seolah pergi dengan membawa sebagian dari jiwanya.

Selama lima belas menit ke depan tidak ada yang Yoongi lakukan selain diam sambil menatap pigura Inha yang tengah tersenyum. Pikirannya melayang pada dua tahun silam ketika gadis itu masih bersamanya. Masih terbayang lekat di benaknya bagaimana dulu dia seringkali mengganggu gadis itu. Membuatnya marah, merajuk bahkan sampai menangis. Tapi setelah itu, Inha pasti akan kembali tersenyum cerah hanya karena di rayu oleh makanan. Tanpa sadar Yoongi tersenyum kecil bagaimana lucunya gadis itu dulu. Dia suka sekali makan, persis seperti Seokjin. Yoongi harus berusaha keras memisahkan kedua orang itu jika sudah bertemu, karena jika tidak, mereka pasti tidak akan berhenti membicarakan makanan lalu setelahnya tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu sudah ada di tempat makan tanpa mengajaknya. Tentu saja Yoongi akan di lupakan jika dia sudah asik dengan hobinya itu bersama Seokjin. Tapi anehnya, seberapa pun banyaknya makanan yang gadis itu makan, tubuhnya tetep tidak berubah.

“Hai, bagaimana kabarmu?” Yoongi menyentuh permukaan kaca tepat pigura Inha terlihat. Seolah dia tengah menyentuh wajah gadisnya. “Hari ini aku sengaja datang sendiri. Tidak bersama yang lain. Aku ingin berdua saja denganmu, sudah lama, bukan, kita tidak bicara berdua seperti ini?”

Matanya mulai terasa panas, rasa sesak di dadanya pun mulai mengambil alih ruang pernapasannya hingga rasanya hampir tidak ada oksigen yang masuk.

“Waktu cepat sekali berlalu, ya? Sudah dua tahun…” Kalimatnya terhenti karena suaranya mulai bergetar. “…sudah dua tahun, Inha-ya. Kau meninggalkanku.”

Benar, waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa dua tahun sudah terlewati, dan selama itu bayang-bayang Inha masih hidup dalam benak Yoongi. Dia tidak bisa menghilangkannya, karena memang dia tidak ingin. Dia tidak akan membiarkan kenangan gadis itu pergi begitu saja. Biarlah orang-orang berpikir buruk tentangnya yang tidak bisa menerima kenyataan, dia tidak peduli. Karena hanya dengan cara itu dia masih bisa merasakan kehadiran gadis itu di dekatnya. Dua tahun yang begitu cepat. Terasa baru kemarin gadis itu pergi. Yoongi bahkan masih bisa mengingat dengan jelas ketika truk menghantam tubuh gadis yang di cintainya. Suara lirih gadis itu ketika mengatakan cinta padanya untuk terakhir kali terdengar begitu jelas di ingatannya seolah Inha baru saja membisikannya beberapa detik yang lalu.

 

.

.

 

“Akhir-akhir ini kau sering sekali datang.”

“Kenapa? Kau tidak suka aku datang?” Inha mendelik tidak suka pada Yoongi. Yang di balas pria itu dengan kekehan kecil.

“Tentu saja aku senang. Aku hanya memikirkan Paman dan Bibi, siapa yang membantu mereka di restoran jika tiap hari kau selalu pergi?”

“Masih ada pelayan yang lain. Lagi pula aku tidak pernah pergi lama.” Inha menyandarkan kepalanya pada bahu Yoongi. Melingkarkan tangannya pada lengan pria itu. “Entahlah, akhir-akhir ini aku mudah sekali merindukanmu.” Ucapnya. Yoongi hanya tersenyum dan membelai lembut rambut gadisnya itu.

Menanti senja di atas atap gedung agency Yoongi menjadi kebiasaan mereka berdua sejak hubungan mereka di resmikan. Sebelumnya, Inha hanya menyaksikan senja dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Kini, setelah ada Yoongi di sisinya, dia tidak menyangka jika kegiatan itu semakin terasa indah di lakukan.

“Yoongi-ah, kau tahu? Matahari yang terbenam selalu meninggalkan keindahan sesudahnya. Warna jingga yang menjadi tanda jika senja akan berubah menjadi malam. Kepergiannya selalu membuat senyuman bagi orang-orang yang melihatnya. Itu sebabnya aku begitu menggilai matahari setelah makanan.” Inha terkekeh di akhir kalimatnya. Mengundang senyum geli dari Yoongi. “Aku juga ingin seperti matahari, yang meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang ku cintai saat aku pergi.”

Yoongi menoleh ke arah gadisnya, menatapnya dengan kerutan di keningnya. Sedikit tidak suka dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Inha. Tangannya menarik tubuh Inha sehingga masuk ke dalam pelukannya.

“Kau tidak akan kemana-mana. Kalau pun kau haru pergi, aku akan ikut bersamamu. Memangnya kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian tanpa mengajakku?”

Inha mencibir, mendongak untuk menatap kekasihnya itu dengan jelas. “Kau seperti anak ayam yang tidak bisa lepas dari induknya.”

“Eoh, dan aku anak ayam yang sangat di cintai induknya.” Jawab Yoongi. Di tambah dengan juluran lidahnya yang membuat Inha mendengus malas. Namun pada akhirnya gadis itu tersenyum.

Inha melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian menghela napas ketika tahu waktunya bersama Yoongi akan segera habis. “Kenapa waktu cepat sekali berlalu?” Gadis itu merengut, mengundang kekehan kecil dari Yoongi.

Inha meninggalkan sandarannya yang nyaman dengan tidak rela, lalu berdiri. “Baiklah, aku akan pulang. Kau juga harus segera latihan lagi.”

“Ayo, ku antar.”

“Tidak, tidak. Kau harus latihan.”

“Hanya sebentar, tidak akan mengganggu jam latihanku.” Tapi Inha kembali menggeleng.

“Sebentar lagi kau akan debut, jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, lagi pula aku bukan anak kecil yang harus selalu kau antar kemana pun.”

Yoongi menghela napasnya pasrah. Tandanya jika sudah begini Inha tidak bisa di bantah. “Kenapa aku memiliki kekasih yang sangat keras kepala sepertimu?” Katanya sambil mengacak-ngacak rambut gadis itu.

“Terima kasih. Ku anggap itu sebagai pujian.” Ucap Inha sambil menjulurkan lidahnya.

Yoongi tertawa kecil, memperlihatkan eye smile-nya yang begitu Inha suka. Mendorong Inha untuk mengecup bibir prianya itu. Membuat Yoongi sempat terdiam karena terkejut.

“Eiiiyy kau sudah berani mencuri ciuman ku, eoh?” Yoongi mencubit gemas pipi gadis itu. Tapi Inha hanya menampilkan cengirannya.

Mereka sudah tiba di depan pintu masuk loby agency, tempat yang menaungi Yoongi serta Jungkook dan yang lainnya untuk di latih menjadi idol. Beruntung agency itu bukanlah agency besar hingga tidak memiliki peraturan ketat yang tidak mengijinkan orang luar selain staff dan trainee masuk.

“Kau yakin tidak ingin aku antar?” Yoongi kembali bertanya.

Dengan yakin Inha mengangguk. “Kau masuklah. Yang lain pasti sudah menunggumu.”

“Aku akan masuk setelah kau pergi.” Kata Yoongi. “Naik taxi saja, ya. Biar ku pesankan.”

“Tidak usah. Aku akan naik bus saja, lagi pula aku juga harus mampir sebentar di toko seberang jalan untuk membeli titipan Eomma. Sana kau masuk.” Inha mendorong Yoongi ke arah pintu loby. Tapi Yoongi tetep tak bergeming dari tempatnya.

“Berikan aku satu ciuman lagi. Dan aku akan masuk.” Pinta Yoongi yang membuat wajah Inha sontak memanas.

“Ya! Micheosso? Ini di luar, banyak orang yang akan melihat. Bagaimana jika-“ Kalimat Inha terhenti ketika Yoongi tiba-tiba mengecup bibirnya.

“Tidak perlu banyak alasan. Aku hanya menginginkan satu ciuman, lagi pula siapa yang peduli kata orang.” Ucap Yoongi terdengar masa bodo.

Inha hanya berdecak malas. “Apa katamulah. Sudah sana masuk, kau sudah mendapatkan apa yang kau mau.”

Yoongi tertawa kecil, menepuk-nepuk kepala gadisnya dan berkata. “Baiklah. Aku akan masuk. Kau hati-hati di jalan.”

“Eum.”

Yoongi berbalik dan berjalan masuk ke dalam gedung agencynya dengan senyuman lebar terkembang di bibirnya. Bertemu Inha memang selalu menjadi kebahagiaan tersendiri buatnya. Senyum gadis itu, suara tawanya, bahkan omelannya seperti energy untuk Yoongi.

Pria itu semakin mempercepat langkahnya. Yang lain pasti sudah sejak tadi menunggunya untuk memulai latihan. Seokjin pasti akan mengoceh panjang lebar jika dia terlambat. Yoongi baru akan membuka pintu loby ketika suara benturan yang sangat keras terdengar. Langkahnya terhenti untuk menoleh ke belakang. Sebuah truk pengangkut barang berhenti di tengah jalan dengan seorang gadis yang terkapar di depannya. Darah bersimbah dari tubuhnya mengotori permukaan aspal jalan.

Saat itu, Yoongi ingin sekali untuk tidak mempercayai penglihatannya. Tapi apa yang ada di depannya kini membuat tubuhnya lemas seketika.

“Kim Inha!!!!!!”

***

Dalam hitungan detik orang-orang sudah berkumpul membentuk lingkaran. Yoongi menyangga bahu Inha dengan tangannya. Gadis itu masih bernapas, nadinya masih berdenyut.

“Bertahanlah, a-aku akan membwamu ke rumah sakit.”

“Y-Yoongi-ya…”

“Jangan banyak bicara –ya Tuhan, darahmu banyak sekali.”

“Yoongi…”

“Ku bilang apa, harusnya tadi aku mengantarmu saja. Sekarang lihat? Tidak bisakah kau berhenti membuatku cemas? Kau benar-benar keras kepala…”

“Yoongi…lihat aku!” Akhirnya Yoongi berhasil diam. Dia menatap Inha yang kini mulai kesulitan bernapas. Darah merembes dari kepalanya. Pria itu, tidak tahan melihat penderitaan gadisnya. Bibirnya bergetar menahan rasa cemas serta ketakutan dalam dirinya.

“Kau tahu kan jika aku sangat mencintaimu? Aku hanya ingin meminta satu hal…hiduplah dengan baik setelah ini. Meski pun aku tidak ada, kau harus – “

“Kau bicara apa? Kau akan tetap bersamaku.” Sela Yoongi. Ada kemarahan dalam getaran suaranya.

“Kau harus rajin berlatih agar segera debut.” Inha melanjutkan kalimatnya meski dengan susah payah. Tidak peduli jika sebelumnya Yoongi sempat menyela perkataannya. “Sekarang…biarkan aku melihat senyummu.” Inha meminta seraya menghapus butiran air mata yang baru saja meluncur dari mata kecil pria yang di cintainya ini.

“Kau bodoh, huh? Kau memintaku tersenyum di saat seperti ini?”

“Ku mohon…” Inha semakin kesulitan mengambil napas. “…biarkan aku pergi membawa senyummu.” Lirihnya.

“Tidak. Kau tidak akan pergi kemana-mana.”

“Ku mohon…” Pintanya. Suaranya semakin menghilang seiring tangannya yang berada dalam genggaman Yoongi kini mulai melemah hingga mata itu perlahan tertutup.

“Ya! Inha-ya, kenapa kau menutup matamu?” Yoongi mulai panik. “Hei, bangunlah. Jangan bermain denganku. Kim Inha! Ini tidak lucu. Buka matamu. Berhenti bermain-main.” Yoongi menggoyang-goyang tubuh Inha. Menepuk-nepuk wajahnya berharap mata itu segera terbuka. “Inha-ya, ku mohon. Jangan membuatku takut. Buka matamu, sayang. Kau tidak boleh tidur dulu, ambulance-nya belum datang. Biarkan aku membawamu ke rumah sakit.” Yoongi sudah tak bisa menahan tangisannya. Di hadapan tubuh Inha, dia meraung bak anak kecil yang kehilangan permennya. Tangisannya terdengar begitu pilu.

“Kau tidak bisa pergi seperti ini. Kau tidak boleh meninggalkan ku. Ya! Kim Inha! Ku bilang buka matamu. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Aku sudah bilang bahwa kau tidak boleh pergi jika tidak bersamaku. Jangan pergi tanpa mengajakku. Bangun, ku mohon.”

 

.

.

 

Isakan masih belum berhenti meski pun Yoongi berusaha keras untuk menghentikannya. Dia tidak ingin menangis, tapi luka di dadanya terasa begitu perih hingga rasanya dia tak mampu menahan rasa sakit itu dan melampiaskannya dengan air mata. Penyesalan dan rasa bersalah selalu menghantuinya. Andai saja saat itu dia mengantar Inha pulang, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi. Andai saja saat itu dia tidak mengiyakan kekeras kepalaan Inha, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi. Andai saja saat itu dia tidak lebih memilih latihan daripada mengantar Inha pulang, pasti kecelakaan itu…

“Sebanyak apapun aku menyesalinya, semua itu tetap tidak akan mengembalikanmu, iya kan?” Yoongi terus menangisi takdir yang telah membawa Inha pergi dari hidupnya.

Dia terisak untuk beberapa menit ke depan. Hingga perasaannya mulai tenang, isakan itu perlahan mereda yang berubah menjadi sesenggukan kecil. Yoongi bahkan tidak peduli jika ada yang melihatnya, menilainya sebagai pria cengeng atau apapun. Dia hanya ingin menumpahkan semua perasaannya yang selama ini hanya bisa dia pendam.

“Maaf…aku…mengingkari janjiku…” Yoongi kembali bicara dengan tersendat-sendat karena sisa tangisnya. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan melanjutkan. “maafkan aku…karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak menangis. Setelah ini…” Yoongi kembali menyeka air matanya. “aku akan berusaha untuk lebih kuat lagi.”

.

.

“Aku menyukai langit.”

“Kenapa?”

“Karena kau menyukai matahari.”

“Ne?”

“Kemana pun Matahari pergi, dia tidak pernah meninggalkan langit. Jadi, aku ingin seperti langit yang selalu ada bersamamu. Kemana pun kau pergi, kau tetap tidak bisa meninggalkanku.”

.

.

.

.

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Missing You – Oneshot

  1. Ah ini sedih banget lah aku sampai menitikkan air mata T^T yoongi sama inha sosweet sekaliiiiiiii, ga rela inha mati lah aku /?
    Sepertinya ak tidak akan bs moveon setelah baca ini, terlalu terhura haru ria… Keep writing with your own style! Jihyeon here, 98line😆😆😆✨✨

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s