[Vignette] 365

365 - echaminswag

365

by echaminswag~

[BTS’] Min Yoongi with [OC’s] Kim Nayeon
| Genres : Fluff, Slice of Life | Length : ±1300wc | Rating : PG-15 |

.

Adakalanya, hal-hal yang sederhana justru sanggup membuat bahagia.

.

.

 

Tak tahu persis kapan lelaki di hadapannya ini kembali dari luar negeri; menjalani profesi yang hanya segelintir orang mengetahui. Kini, Min Yoongi telah berdiri di ambang pintu rumahnya sembari memulas senyuman lebar. Sebelah tangan menjinjing satu tas besar yang detik berikutnya ia dorong ke arah gadisnya.

“Untukmu.”

Alis Nayeon terjungkit. Yoongi bukan tipikal yang suka memberi kejutan, apalagi hadiah seperti ini. Tiap kembali ke Korea, Yoongi akan meminta kakak Nayeon menjemputnya di bandara, pun tak ada buah tangan sebentuk oleh-oleh kecil dari tempatnya bekerja untuk Nayeon maupun kakaknya.

Jadi, melihat Yoongi seperti sekarang, Nayeon tentu merasa heran.

“Kenapa tidak bilang kalau ingin pulang?”

Hanya sebaris tanya basa-basi selagi jemari Nayeon menggapai tas pemberian Yoongi dan mempersilahkannya masuk ke dalam. Namun, pemuda itu lekas menggeleng. Kala mendapati Nayeon meletakkan tas pemberiannya di ruang tamu—sebelum sempat dibuka—Yoongi telah menarik pergelangannya untuk segera pergi.

“Kak, mau ke mana?”

“Ke suatu tempat. Hari ini akan jadi milik kita berdua, Kim Nayeon.”

“Apa?” Mata Nayeon melebar, bibirnya pun membentuk oval. “Kak Yoon, aku bahkan masih memakai sandal. Hei, Kakak mau aku kedinginan?”

Satu ukiran senyum kembali terpulas di katup Yoongi. Pemuda itu lantas terkekeh menanggapi omelan gadisnya yang merajuk minta dilepaskan. Tanpa berniat menuruti titahnya, Min Yoongi segera mendorong tubuh Nayeon masuk ke dalam mobil. Menginjak pedal gas dan segera melaju ke tempat tujuan.

Dalam perjalanan, hanya lengkingan demi lengkingan dari Nayeon yang mengisi keheningan. Kadang mengucap serapah, kadang pula bergaya imut demi meluluhkan pendirian Yoongi. Tetapi nyatanya, tak satupun mendapat respon dari si lelaki. Malah kikikan tawa dan cubitan-cubitan gemas yang Yoongi layangkan pada gadisnya.

Nampaknya, Yoongi tak mau berkompromi kali ini.

Hingga beberapa saat berlalu, Kim Nayeon akhirnya memilih diam. Memusatkan satu-satunya perhatian pada jalanan kota yang cukup lenggang. Sesekali, ia masih berdecak dan mengehela napas keras sebagai bentuk protes—yang tetap saja—terabaikan.

“Tempat ini—”

Min Yoongi serta merta menghentikan mobilnya. Manik bergulir mengunci sosok Nayeon yang kini mendadak bingung. Gadis itu mengangkat telunjuk; bergantian menudingkan ke arah Yoongi dan sebuah bangunan di depan mobil yang mereka kendarai. Memoar-memoar yang sempat hilang, kembali berdesakan dalam otaknya. Membuat raut Kim Nayeon sejemang berubah cerah, pun senyum lebar membingkai wajahnya.

Yeah, kamu ingat ‘kan, Nay?” Satu senyum Yoongi simpulkan selagi melepas pengait sabuk pengaman. “Awal di mana kisah kita dimulai.”

Nayeon membalas dengan anggukan cepat; membenarkan ucapan Yoongi barusan. Bukan sebuah tempat yang layak dikunjungi muda-mudi memang, namun bagi keduanya, tempat ini memiliki kesan manis tersendiri. Seperti yang Yoongi singgung, di tempat inilah mereka bertemu untuk pertama kali. Sebuah bar yang Seokjin—kakak Nayeon—gunakan untuk mengadakan pesta tahun silam. Pertemuan klise yang ternyata telah direncanakan oleh Seokjin sendiri.

“Mengapa Kakak membawaku kemari?”

“Ingin minum berdua, Nay?”

“Siang-siang begini?”

Yoongi sempat tergelak mendengar balasan yang Nayeon berikan. Tangannya mencubit pipi Nayeon yang selanjutnya beralih mengusak surai moka gadis itu. Yoongi gemas, jujur saja. Satu tahun berlalu, Nayeon masih sama seperti dulu. Polos dan menggemaskan—meski terkadang cerewet dan minta dilempari dengan panci jika kelambatan berpikirnya muncul ke permukaan.

Well, terkadang hal-hal kecil seperti itu lah yang justru Yoongi rindukan selama berhubungan jarak jauh dengan gadisnya.

“Tidak mau? Kalau begitu kita pergi ke tempat selanjutnya.”

“Tempat selanjutnya?”

Hanya mengangguk, Yoongi membiarkan Nayeon meluapkan beribu tanya lagi padanya. Gadis yang selalu ingin tahu segala hal itu mulai mengguncang tubuh Yoongi guna meminta penjelasan. Tak banyak berkomentar, lelaki Min itu cukup menggumam ‘nanti juga tahu‘ dan kembali mengaitkan sabuk pengaman lalu segera melajukan mobil pergi dari sana.

Tak mendengar lagi pertanyaan-pertanyaan dari Nayeon, Yoongi diam-diam melirik gadisnya. Mendapati ternyata Kim Nayeon tengah memejamkan mata di sebelahnya. Tertidur? Yoongi hanya membatin tanpa mau memertanyakan. Melihat Nayeon memejamkan mata—yang entah tertidur atau jengah dengan perlakuannya—membuat Yoongi menarik ujung bibirnya. Ia bahkan tak mau melewatkan tiap sisi wajah Nayeon, kendati hal itu mengakibatkan dadanya sesak karena sulit bernapas.

Masih saja seperti anak belasan tahun yang sedang jatuh cinta, Min Yoongi.

Yoongi kembali menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah halte bus—membuat mata Nayeon lekas melebar. Ternyata memang tidak tidur. Gadis itu mengerjap beberapa kali, lantas mengunci tatap Yoongi dengan sorot sendu. Seolah tak percaya bahwa Yoongi mengajaknya kemari.

Nayeon tentu ingat. Bagaimana ia bisa lupa jika hubungan mereka bermula dari halte itu?

“Kak Yoon,”

“Aku bahkan masih ingat saat kamu lari-lari menembus hujan demi bisa berteduh bersamaku, Nay.” satu kikikan tawa Yoongi udarakan, yang setelahnya mendapat cubitan keras di lenganya.

Ya! A- aku ‘kan hanya ingin mencari teman mengobrol sambil menunggu Kak Seokjin.”

“Sama saja, Nayeon-ah.”

Bibir mengerucut, tangan terlipat, dan pandang sontak terbuang ke luar kaca mobil adalah yang kemudian dilakukan oleh Nayeon. Yoongi kembali tergelak. Sebelah tangan terangkat guna mengusap ujung kepala gadisnya dan melajukan lagi mobilnya melewati gerbang universitas. Hari minggu, tentu saja tak banyak aktivitas perkuliahan yang tengah berlangsung.

Meminta Nayeon untuk segera turun selepas memarkirkan mobilnya, Yoongi pun membawa sang gadis menuju atap; tempat kencan wajib mereka ketika masih sama-sama berkuliah di sini dulu. Nayeon yang sebelumnya merajuk, kini mulai mengumbar lagi tawanya. Berlarian mengelilingi atap sambil menari-nari aneh. Mengibaskan tangan; meminta Yoongi untuk bergabung dengannya, namun lekas mendapat penolakan.

Min Yoongi cukup memandangnya dari jauh sambil tertawa lebar, pun sesekali mengabadikan momen itu dalam ponselnya.

Jingga telah turun dan meracuni cakrawala kota. Membuat Yoongi terpejam sejenak menikmati hangatnya embusan angin sore ini. Waktu kebersamaan mereka berlalu dengan cepat. Menjadi pertanda pula bahwa setelah ini Yoongi harus kembali ke Negara tetangga untuk meneruskan karirnya.

“Nay, duduk di sini.” menepuk satu sisi kosong di sebelahnya, Yoongi meminta Nayeon untuk berhenti dan duduk bersamanya. Ia tak mau mengabaikan fakta bahwa bukan hanya tempat-tempat ini yang dirindukannya, melainkan gadis bertitel Kim Nayeon itu juga masuk dalam daftar pertama yang sangat ia rindukan. Bisa jadi dengan sebuah konversasi ringan, senja akan terlewatkan dengan hal-hal menyenangkan.

“Jadi, sebenarnya dari tadi aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa, Nay?”

“Mengapa Kakak membawaku ke tempat-tempat ini?”

Sejenak terkikik, lantas selentikan pelan dilayangkan oleh Yoongi tepat di dahi gadisnya. Nayeon tak melontar protes. Ia hanya diam sembari mengelus dahinya yang memerah.

“Pelupa!” Yoongi merebahkan tubuhnya, sementara netra tertuju pada bentangan langit jingga di atas sana. “Coba ingat-ingat lagi sekarang tanggal berapa?”

Emm, tanggal…”

Kembali terduduk, Yoongi memposisikan wajahnya tepat di depan Nayeon. Berlagak mengunci tubuh sang gadis kendati dentuman dalam dadanya mulai bertalu-talu. Beberapa jenak yang ada, mereka gunakan untuk menamatkan pupil masing-masing. Meresapi tiap perasaan yang keduanya tularkan lewat sorot itu.

Sebelum akhirnya, Yoongi berkemam lirih, “Selamat hari jadi yang pertama, Kim Nayeon.” lantas memangkas jarak yang ada. Menyentuhkan ujung hidung mereka dan membuat keduanya bersamaan mengatupkan mata. Semilir angin bagai mendorong keduanya untuk berada makin dekat. Namun, belum sempat Yoongi memberikan hadiah spesialnya, dering ponsel menginterupsi semuanya. Dan kemudian—

Mata Nayeon melebar sempurna. Mendapati putih di atas kepalanya dan deringan keras di atas nakasnya. Nayeon masih berada di dalam kamar. Tak ada atap universitas dan sosok Min Yoongi di sampingnya. Ia mendengus keras. Menarik diri dari balutan selimut guna meraih ponsel sambil mengumpati caranya terbangun dari mimpi tadi.

Padahal ‘kan sedikit lagi.

Mata bergerak pelan melihat kalender di dinding kamarnya, 24 April 2016, lantas senyuman manis terpulas pada bibirnya. Tanggal itu sudah diberi tanda oleh Nayeon dengan spidol warna merah berbentuk hati dengan coretan ‘Anniversary‘ di bawahnya. Jadi, meski pelupa, Nayeon tak akan melupakan salah satu tanggal penting itu dalam hidupnya.

Kembali melirik ke layar ponsel, mata Nayeon sontak berbinar mengetahui siapa yang melakukan panggilan. Ia tak peduli pada rambut singanya, lekas-lekas saja Nayeon menggeser tombol hijau yang terpapar di layarnya.

“Kak Yoon!” teriakan itu membuat lawan bicaranya menjauhkan wajah dari layar ponsel. Min Yoongi lantas membentuk jemarinya seolah-olah hendak menyentil dahi Nayeon, yang membuat gadis itu justru tergelak riang. “Selamat hari jadi yang pertama. Kak, kamu tahu, aku baru saja bermimpi indah sekali. Kamu tiba-tiba datang ke rumah dan membawakanku hadiah. Lalu kamu mengajakku ke tempat-tempat pertemuan kita, kemudian…”

—sebuah video call mungkin tidak buruk untuk merayakan hari jadi mereka.

 

.

“Cerewet! Aku mencintaimu.”

“A- apa?”

.

.

fin.

a/n

Yuhuuu~ Selamat hari jadi yang pertama buat YooNay ❤
Mari jadikan hastag #1YearWithYooNay treding topic dunia /gak/

Salam sayang dari Echa, dan bonus piku mereka lagi video call-an wks XD

VIDCALL YOONAY

Advertisements

12 thoughts on “[Vignette] 365

  1. “cerewet!aku mencintaimu”
    what the yoon!!!!
    kata2 itu ngena bget,ldr’anny juga ngena bget,jdi pngen ldr’an deh(tapi sama yoongi)/digampar nayeon/
    btw kerennn ffnya^^
    keep writing!!
    #senyum pepsodent breng agus oppa

    Like

  2. Manis banget
    Yoongi ngebawa ke tempat-tempat pertemuannya sama Nayeon
    Eh tapi
    Cuma mimpi._.
    Nyatanya cuma bisa video call
    Tapi pasti itu udah sesuatu banget untuk yang LDR-an XD

    Like

  3. Ahh, dikira Yoongi beneran jd seromantis itu. Eh, gak taunya hanya mimpi. Tp entah mengapa pas dia bilang ‘Aku Mencintaimu’ ke Nay itu berasa jauh lbh romantis dr apapun #Eaaaaa

    Btw, selamat hari jadi yaa Yoongi dan Nayeon *Hug*

    Like

  4. Manisssss bgt…. /emg gula?/
    hmm, melting deh gegara suga /loh kok??/ hehe , 😀
    kisah yg fun eh tp klimaks ny pas liat pict itu lohh echaminswag~ 🙂 pokoke johaa, neomu johaa 😉
    sering baca, tp br berani muncul kpermukaan skrg admin.. /peace ✌✌/
    #salken

    Like

  5. manisnyaaaaa,, makin cinta kan sama ice prince yang satu ini /abaikan/ .. good job, karya tulis yang menarik.. ini ceritanya manis bangeett ahaha tapi sayang cuma mimpi ya nay! ..

    Like

  6. Paling nyebelin kalau mimpi kyk gituu, duuh manis bgt ini.
    Sedikit lagi apa Nay? Emang kalian mau ngapain?
    Mau kejadian kyk di halte terulang pas lg hujan, sampe menodai kepolosan Mingyu? Atau ngasih morning kiss lg buat Yoongi yg bangunin km di kampus? /oke, tb2 cerita lama mrk muter lg dikepalaku, Kak/
    Happy anniv buat YooNay ❤
    langgeng2 ya kaliaaan, hihi ^^

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s