[What is Your Color?] Tutu In Your Melody – Oneshot

Tutu In Your Melody_Poster

Judul : Tutu In Your Melody

Author : Cakue

Genre(s) : Romance. Drama. Hurt/comfort.

Length : Oneshoot (4.160)

Rating : Teen

Cast(s) : Kim Seokjin (BTS). Park Miho (OC). And other cast.

Disclaimer : Kim Seokjin milik Tuhan YME, Orang Tuanya, Big Hit Entertaiment, dan dirinya sendiri. Sedangkan cerita ini milik saya.

Summary : “Seokjin seolah melihat angsa cantik dalam kilatan mata gadis itu.”

.

.

.

En pointe. Diiringi tekanan piano dalam tempo adagio.

Park Miho menarik napas sepanjang mungkin, berjinjit dengan ujung jari kaki hingga beban tubuh ditumpu penuh, lantas menapak pijakan dalam hitungan tiga detik sebelum akhirnya kedua kaki meloncat dan lengan terangkat tinggi. Ia berputar sebelum kembali berpijak, merentangkan satu kaki dalam derajat sembilan puluh, dan tubuh membungkuk perlahan sebagai ancang-ancang mengambil pointe work selanjutnya.

Namun satu sekon kemudian, alunan piano mendadak berhenti.

Dan keseimbangannya otomatis runtuh.

Duk!

Appo!”

Dasar rak tua sialan, makinya dalam hati. Miho meringis ngilu, berlutut sejenak hanya untuk memastikan jari-jari kaki berharganya tidak lecet sedikit pun. Lupakan debu yang tiba-tiba saja menyebar, termasuk beberapa properti panggung yang jatuh saat kakinya menendang ujung rak penyimpanan.

“Siapa di sana?”

Miho mematung. Gendang telinganya tidak salah mendengar. Suara bass berat yang mendekat itu berhasil membuatnya panik.

“Hei, aku tahu kau ada di sana.”

Tidak, tidak. Ia segera berdiri sembari mengambil  beberapa barang yang terjatuh. Menyimpannya dengan asal ke dalam rak, melepas sepatu balet biru muda semu tuanya dengan terburu-buru, dan mengabaikan jari kakinya sebentar ketika ia berjinjit pelan untuk kabur dengan hati-hati.

“Aku melihatmu, Nona.”

Langkahnya berhenti.

“Dan kalau boleh kubilang, ini ketiga kalinya aku melihatmu mengendap-endap seperti itu, termasuk hari ini. Kau pikir, kau bisa pergi dengan mudah seperti dua percobaan sebelumnya? Setelah menganggu permainanku begitu saja?”

Ini bukan adegan cerita bergambar, bukan pula roman picisan di sebuah telenovela penuh drama. Namun ketika Miho menelan ludah gugup dan menoleh dengan gerakan patah-patah hanya untuk mendapati seorang laki-laki tinggi yang—entah sejak kapan—berdiri di balik tirai panggung yang tersibak, dengan kedua lengan bersilang defensif, ia sempat tertegun.

Miho pernah mendengar rumor. Sering, sepertinya.

Tentang seorang pianis jenius bernama Kim Seokjin yang selalu berhasil memikat penggemarnya dengan setiap pesonanya sendiri. Tentang sepasang obsidian teduh dan bahu lebar yang menggoda.  Dan Miho sendiri tidak terkejut jika rumor itu membentuk fakta akurat. Karena  saat ini, ia berhadapan langsung dengan sang pianis itu sendiri.

“Jadi?”

Gadis itu mengerjap. Sekali. Dua kali. Sebelum akhirnya berdeham kikuk. “Permainan pianomu sangat bagus.”

Dasar mulut bodoh.

“Hah?”

“Aku hanya merasa,” pelan-pelan, pelan sekali, ia melangkah mundur. “… cocok dengan permainan pianomu.”

“Apa maksud—”

“Sampai jumpa!”

“HEI!”

Jeda tiga detik, suara langkah kaki berlari yang menggema, dan hilang secepat kerjapan mata.

Sang pianis mencelos.

~oooOOOooo~

Biru muda dan tua. Sepatu balet yang lusuh. Dan kedua jenjang kaki dibalut stocking hitam.

Seokjin mengerutkan kening bingung. Gerakan tangannya terhenti saat ia membereskan beberapa lembar partitur, menyadari ada yang salah dengan otaknya. Terus terang saja, kalau boleh dibilang, ini bukanlah kali pertama Seokjin melihat gadis bersepatu biru itu menyelinap di balik tirai belakang panggung secara diam-diam.

Ia menyadarinya, demi Tuhan. Tapi Seokjin seakan-akan tidak peduli. Ia hanya sadar bahwa dirinya tidak sendiri di atas panggung, tepat ketika denting piano mengalun merdu, dan Seokjin sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu sebenarnya sedang menari. Kalau tidak salah, tarian yang dilakukan gadis berambut sebahu itu disebut dengan Pas de Deux. Jangan tanya mengapa ia bisa mengetahuinya, karena ia sudah terlampau sering bermain piano sebagai pengiring pertunjukan balet sejak piano menjadi hidupnya.

Lagi pula, kenapa gadis itu tiba-tiba kabur saat melihatnya? Dasar aneh.

“Jin-hyung? Kau masih di sini?”

Seokjin menoleh, lalu mengulas senyum simpul ketika mendapati sang adik berjalan mendekat ke arahnya. Seuara tuk tuk tuk bergema halus ketika sol sepatu menyentuh derit lantai kayu panggung.

“Baru selesai,” sahut Seokjin lugas. “Kau sendiri Taehyung, bukankah seharusnya kuliah?”

“Sama sepertimu, dosen mata kuliah terakhir tidak datang.” Kim Taehyung, pemuda berambut cokelat tua itu, mengedikkan bahu tak acuh. “Dan karena Eomma mengoceh terus tentang kau yang belum pulang, aku memutuskan kemari. Voila! Kau ada di sini, Hyung! Ayolah, padahal konser tunggalmu itu masih lama,” ia meringis sejenak. “Kenapa memaksakan diri sekali, sih?”

“Satu bulan dan kau sebut itu lama?” Ia mendengus pendek, lalu memberi sentilan kecil di kening Taehyung. “Aku kan tidak malas sepertimu, Tae.”

Yak!” Taehyung protes, tangannya refleks mengusap kening yang berdenyut ngilu. “Aku tidak malas, menyebalkan. Hyung saja yang terlalu kerajinan.”

Seokjin terkekeh ringan. Mereka menuruni beberapa tiga anak tangga panggung, setelah itu meniti kembali undakan-udakan tangga di sepanjang deretan kursi penonton sampai menuju pintu keluar teratas.

“Omong-omong soal konser, Manajer Jung baru saja meneleponku tadi.”

Sebelah alis Seokjin terangkat. “Kenapa dia bisa meneleponmu?”

“Kau sedang sibuk dengan partitur itu, tentu saja. Jadi Manajer meneleponku.” Ponsel dirogoh cepat, terselip antara lipatan saku celana jins. “Lihat, Paman Berkacamata itu sampai meninggalkan miscall sepuluh kali.”

“Intinya, Kim Taehyung.”

Hyung  terlalu sibuk dengan dunianya sendiri,” ketika ia melihat Seokjin mendelik sinis, Taehyung buru-buru menambahkan. “Maksudku, ada tawaran kecil untukmu. Itu pun kalau Hyung mau menerimanya.”

“Tawaran?”

Taehyung mengangguk. “Lebih jelasnya, telepon saja Paman Berkacamata itu.”

“Panggi nama orang dengan benar, Tae.”

~oooOOOooo~

“Ah.”

“Ah.”

Sebenarnya, Seokjin tidak terlalu percaya dengan yang namanya kebetulan. Terlebih ketika taman kota pada senja yang dikunjunginya hari itu tidak terlalu ramai dan ia menemukan seorang gadis berpakaian dress sifon berwarna indigo, rambut yang diikat secara asal hingga menyisakan helai-helai nakal, dan sapuan merah muda tipis ketika sepasang bola mata cokelat itu melebar sempurna.

Jari telunjuk menuding tepat ke arahnya, seolah mengabaikan sepasang sepatu balet yang teronggok bisu tidak jauh dari undakan kecil pevilium yang saat ini mereka pijaki.

“Tuan Pianis,” katanya, antara antusias dan terkejut. “Oh, oh, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”

Alis diangkat spontan. “Apa kau mengenalmu?”

Lalu hening. Meski dalam hati Seokjin terbahak keras begitu melihat ekspresi gadis di depannya.

Well, mungkin tidak,” bahu berkedik tak acuh. “Namaku Miho, omong-omong. Dari Park Miho.”

Seokjin nyaris tertawa. “Jadi … namamu Miho?” padahal aku tidak bertanya. “Nona yang senang sekali mengganggu permainan pianoku?”

“Aku tidak—” ia berhenti, lantas mendengus geli karena merasa bodoh. “Baiklah, terserah bagaimana kau menganggapnya. Tapi itu tidak sengaja, sungguh. Aku tidak sengaja mendengar permainanmu dan hanya merasa …” deheman kikuk dilakukan. “… ingin menari, itu saja.”

Tiga hari berlalu sejak Taehyung menjemputnya di gedung teater kala itu, Seokjin tak tanggung-tanggung menelepon Manajer Jung dan bertanya soal tawaran kecil yang dimaksud. Namun, alih-alih menjelaskannya langsung secara rinci, pria berumur empat puluh tahun itu menanggapinya dengan tawa renyah. Seokjin tentu saja tidak mengerti. Terlebih ketika ia diminta untuk datang ke taman kota tidak jauh dari Sungai Han pada sore akhir pekan, tepat hari ini.

Seingat Seokjin, taman itu memiliki desain era victoria yang sangat kental. Dengan sebuah paviliun kecil terbuka di tengah taman, jalan setapak kecil yang melintang luas, dan dihias sedemikian rupa dengan berbagai macam bunga; tulip, anyelir, krisan, bahkan lavender dengan lembayung yang menggoda.

Musim semi memang hampir berakhir di Seoul, namun kecantikan yang dipancarkan taman kota belum pudar.

Ditambah lagi, tepat di tengah paviliun kecil yang terbuka dengan cat broken white yang memikat, grand piano berpelitur hitam legam berdiri angkuh; tetapi elegan dan mewah di saat bersamaan.

“Kau seorang ballerina?”

Tidak ada jawaban. Park Miho tampak sibuk sambil duduk bersimpuh di samping kursi taman yang tersedia. Lagaknya seperti anak kecil, melepas flat shoes putihnya dengan tergesa-gesa hanya untuk memakaikan sepatu balet yang sebelumnya tergeletak bisu. Ia sengaja melengkungkan  lekukan kakinya, sampai sepatu biru itu terpasang apik dengan tali-tali yang melilit manis hingga mata kaki.

“Menurutmu begitu?” ujar Miho akhirnya, tidak menjawab pertanyaan Seokjin. Ia berdiri dalam sekali gerakan, setelah itu menoleh dan memandang iris gelap sang pianis muda. “Tergantung bagaimana kau melihatnya.”

Seokjin mengernyit. Ada sesuatu dalam nada suara gadis itu yang membuatnya janggal.

“Daripada itu, Seokjin-ssi—eh, boleh aku memanggilmu seperti itu?” mendapat anggukan dari sang subjek, Miho melanjutkan. “Boleh aku mendengar permainan pianomu itu di sini?”

Wow, mendadak sekali. Memangnya, berapa juta won yang dikeluarkan pihak konser jika ia mengadakannya? Lagi pula, mana ada seorang pianis terkenal mau bermain tanpa dibayar?

Namun entah mengapa, pemikiran egoisnya itu malah menarik sisi jailnya tanpa diminta.

“Lalu bayaranmu?”

Miho mengerjapkan mata. “Eh?”

Seokjin terkekeh dalam hati, tetapi tidak menghentikan dirinya untuk berjalan menuju grand piano yang tersimpan kokoh. Kursi beludru krem ditariknya pelan, menempatkan bokongnya sambil mencari posisi ternyaman, diakhiri dengan kesepuluh jemari ramping bersiap di atas tuts-tuts monokrom.

“Kau tidak berpikir aku akan bermain tanpa bayaran, bukan?”

Dengusan pendek keluar. “Lucu sekali.” Penutup piano disentuh lembut, Miho berjinjit dengan kedua kaki dan merentangkan lengan kirinya dengan begitu lihai. “Aku akan membayarnya dengan tarian, bagaimana?”

Kali ini, Kim Seokjin benar-benar tertawa renyah. Renyah sekali. Dan tawanya itu sengaja ia selipkan oleh denting tuts yang ditekan dalam tempo adante.

Ini adalah kali pertama ia melihat tarian balet dari seorang Park Miho.

~oooOOOooo~

Manajer Jung berkata, ia diminta untuk mengisi acara musik klasik yang akan diadakan dua minggu ke depan tepat di sebuah taman bergaya victoria era itu. Daripada disebut dengan acara musik, mungkin lebih cocok ke acara amal. Pemerintah setempat sengaja mengadakan pergelaran tersebut sebagai hiburan bagi pasien rumah sakit anak pengidap kanker dan tumor.

Seokjin, yang tentu juga ditanggapi oleh Taehyung dengan antuasias, langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali. Bukan karena paviliun putih itu terlihat cantik dengan bunga-bunga mekar, bukan juga karena ia dibayar dengan biaya yang cukup tinggi.

Alasan hanya satu, karena Park Miho juga berada di sana.

Karena seorang pianis hebat seperti Kim Seokjin akan bermain untuk mengiringi penari-penari balet yang handal.

Dan gadis itu berperan sebagai lakon utamanya.

“Sejak kapan kau suka balet?”

“Hm?” pasta carbonara dililit pelan, diketuk sesaat sampai saus madu meresap penuh, lantas dilahap dalam satu kuapan cepat. Rasanya manis, bercampur dengan semu asin dan gurih. “Kenapa aku menyukai balet?”

Mata melirik jeli. “Begitulah,” padahal Seokjin ingat ia tidak bertanya seperti itu. Tapi, ah, sudahlah. Secangkir espresso dingin yang tersaji di depannya cukup membuat Seokjin tenang. Terlebih lagi, kafe unik Italia yang dikunjunginya bersama Miho saat ini lumayan sepi. “Well, pertanyaan klise. Tapi aku penasaran.”

“Heee … tumben sekali, Tuan Pianis.” Nada suaranya terdengar jenaka. “Apakah ini sesuatu yang disebut dengan ingin mengenal lebih dekat?”

“Oh, ayolah, Park.” Seokjin gemas sendiri, astaga. “Kalau kau tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa.”

Meh, menyerah begitu saja.”

Bola mata berotasi malas. “Aku berusaha menghormati.”

Park Miho terkekeh jail.

Tidak ada yang tahu takdir akan berkata bagaimana, tidak juga Seokjin dan tidak pula Miho. Semenjak keputusan bahwa mereka berdua akan tampil bersama di acara musik klasik yang diadakan sepuluh har kemudian nanti, hubungannya bersama gadis itu tidak lagi dikatakan jauh.

Perkataan Miho benar adanya. Gadis itu seolah-olah jatuh dalam dunianya sendiri ketika alunan berani Aria Alekzander di antara jari-jemari Seokjin bermain lancar. Seokjin juga tidak bisa menyangkal, tarian gadis itu benar-benar ringan dan penuh perasaan. Keluwesannya ketika bergerak, kepolosan dalam setiap gerakan yang diceritakan. Kecantikan yang dipancarkan. Bahkan cara bagaimana ia menarik perhatian orang yang melihat termasuk Seokjin sendiri.

Terkadang Seokjin bertanya-tanya. Apa yang membuat gadis itu tidak dikenal dunia dengan bakatnya yang luar biasa?

Appa pernah mengajakku menyaksikan pertunjukan balet saat kecil,” jelas Miho tiba-tiba. Membuyarkan lamunan enam puluh detik Seokjin. “Kau pasti pernah mendengarnya, cerita tarian angsa.”

“Ah,” Seokjin mengangguk paham. “Tarian yang terkenal.”

“Seperti yang kau bilang tadi, terdengar klise. Tapi klise ada karena nyata. Saat Appa mengajakku ke pertunjukan waktu itu, akhirnya aku sadar. Bahwa balet adalah hidupku. Dan aku bernapas karenanya.”

Mirip. Mirip sekali.

Sejak sang Eomma mengenalkan Seokjin pada setiap tuts-tuts dan denting nyaring piano, Seokjin tahu bahwa ia hidup untuknya. Untuk musik. Untuk piano. Untuk nada-nada yang bermain.

“Aku selalu bermimpi, Seokjin-ah,” ­‘—ssi’ sudah berhenti diucapkannya ketika Miho memanggil nama laki-laki itu. Dan Seokjin tak pernah keberatan. “Suatu hari nanti, aku akan berdiri di atas panggung opera yang besar. Menggunakan tutu berwarna carolina blue, sepatu balet baby blue, dan  menari di bawah sorot lampu panggung.”

Gadis itu bilang; klise ada karena nyata.

Seperti mimpi seorang Park Miho yang tanpa Seokjin sadari, berharap menjadi kenyataan mutlak.

“Kau sendiri?”

Pianis muda itu tersentak pelan. Mendapati bola mata jernih Park Miho menatapnya penasaran.

“Kenapa memilih piano?”

Perasaannya saja, atau Seokjin menyadari kalau gadis itu sengaja mengubah topik pembicaraan? Entahlah. Park Miho bisa tiba-tiba misterius dengan caranya sendiri.

“Kurang lebih …” jeda sejenak, Seokjin menutupnya dengan satu sesapan pelan di ujung cangkir espresso-nya. “… sama sepertimu.”

Ia tak melihat dua sudut bibir gadis itu enggan menekuk meski hanya segaris simpul.

~oooOOOooo~

Nde. Aku mengerti, Appa. Hm, hm …” kepala dianggukan beberapa kali, gerakan melingkar jari telunjuknya pada titik-titik lantai kayu ruangan kosong itu semakin melambat ketika suara berat di ujung ponselnya mulai mendekati akhir. “…ya, secepat mungkin. Baiklah, sampai nanti. Aku menyayangimu.”

Ponsel dimatikan.

Miho mendongak malas, memejamkan mata sejenak; dua sekon berjalan, sekon berikutnya berhenti dan iris cokelat tua itu kembali mengintip. Berkas-berkas cahaya yang merembes masuk pada sela-sela gorden tipis  tak mengganggu korneanya untuk tetap terbuka. Bunyi tik tok jam membuatnya tenang, entah mengapa. Ia pikir, dunianya itu tidak sendiri. Miho pikir, Sabtu di pagi hari ini tidak terlalu buruk .

Gadis itu lekas berdiri. Sepatu balet sudah membalut rapi kedua kakinya, piano berada di sisi lain ruangan, tapi tak ada nada yang keluar; tentu saja, ia bukanlah seorang pianis jenius seperti Seokjin. Salahnya juga ia tidak membawa speaker khusus atau radio kaset agar ia bisa memutar musik.

Tidak apa-apa, batin Miho. Lagi pula, ruangan balet itu sudah lama kosong dan ditinggalkan, termasuk sanggar yang menaunginya. Walaupun lantai kayunya belum melapuk dan cermin-cermin besar yang mengelilingi tak retak sedikit pun. Yang jelas, ruangan itu masih layak digunakan. Hanya sedikit berdebu dan terisolir dari keramaian kota.

Ia berjalan dengan langkah tertatih. Tidak seperti biasanya yang akan langsung melakukan gerakan seorang ballerina bahkan tanpa musik sekali pun, mendadak, piano yang tersimpan bisu di sudut ruangan menarik perhatian Miho lebih dulu. Memang bukan piano besar seperti di atas paviliun taman kota, bukan juga piano-piano dengan nada jernih di sebuah konser opera. Itu hanya piano. Tanpa penutup, tanpa penyangga empat kaki, hanya sebuah piano yang mulai terlupakan.

Namun Park Miho menyadarinya sepenuh hati, bahwa piano tua itu menyimpan banyak kenangan.

Ia teringat pada linimasa lima tahun silam. Dan Miho berhasil menangkap kotak memorinya yang menghilang. Teringat akan seorang gadis labil berdiri di ruangan yang sama, letak piano yang sama, lantai kayu dan cermin yang sama, namun dalam situasi yang berbeda.

Teringat sebuah tutu cantik bewarna biru cerah. Dipadu dengan stocking hitam dan sepatu balet yang lentur. Menari dengan begitu anggun. Seperti angsa. Seperti kuncup bunga yang mekar.

Dan Miho seolah mengintip kenyataan yang terselip dalam di ujung mimpi. Miris, juga ironis.

Ting.

Tuts nada A ditekan pelan. Masih bagus, pikirnya. Hanya perlu perbaikan sedikit. Beberapa menit kemudian, Miho kembali berjalan ke tengah ruangan, lalu berhenti di sana. Ia memejamkan mata dalam hitungan lima detik, membayangkan not-not balok yang bermain di kepalanya.

Dimulai dari B mol. Kemudian A. G dan A.

Mata kembali terbuka dan en pointe mulai bergerak. Kaki kiri diangkat tinggi, selaras dengan rentangan tangan kanan melawan arus gravitasi.

Park Miho berputar pelan, pelan, pelan, semakin lama semakin cepat; arabesque tanpa cela, tiga kali pirouettes, berhenti pada titik denting piano berhenti (dalam khayalannya), satu kali loncatan sedang, berputar kembali dengan kaki kiri menekuk hingga bibir sepatu menyentuh lutut kanannya.

Kembali lagi B mol. C, A, dan B mol.  

Ia kembali meloncat setinggi mungkin. Berputar-putar mengikuti irama tubuhnya yang ringan.

A, F—

Nada terakhir, loncatan dan putaran terakhir, ditutup dengan tubuh membungkuk dalam dan kedua kaki bersilang layaknya angsa.

dan G.(*)

Pertunjukan selesai. Tirai diturunkan dan tepukan menggema di seluruh penjuru gedung opera.

“Permainan yang bagus.”

Bahunya tersentak halus, tidak sadar ketika tepukan ringan memecah sepi yang sebelumnya mendominasi. Miho menoleh perlahan, mengalihkan atensi sepenuhnya pada dua telapak tangan yang saling beradu.

Tidak sampai lima detik berjalan bibirnya tak ragu mengulas senyum tipis.

“Kau tidak sedang memata-mataiku kan, Tuan Pianis?”

~oooOOOooo~

“Kenapa kau bisa menemukanku?”

Malam adalah ketika Miho memusatkan pandangan pada cakrawala tak terbatas, tanpa kerlap-kerlip bintang meski sinar rembulan menyusup di sela awan tipis yang lebih dominan; tersembunyi malu-malu.

Dua jam menghabiskan waktu di langgar yang terisolir, Seokjin bersikukuh untuk mengantar Miho pulang. Meskipun gadis itu menolak mentah-mentah. Tetapi, Seokjin tetaplah Seokjin, kadang ia bisa lebih keras kepala dibandingkan Taehyung.

Mereka berjalan di sepanjang trotoar lebar dan nyaris sepi, memasuki kawasan gedung apartemen yang berjejer monoton.

“Apanya yang kenapa?”

Ya Tuhan, laki-laki ini.

“Ng, bagaimana, ya. Kau tahu sendiri Seokjin, tempat itu sudah lama ditutup. Jarang ada orang yang menyadarinya, selain aku.”

“Hmm…” jari diketuk dramatis, tepat di bawah dagu. “Mungkin karena tempat itu dekat dengan gedung pertunjukan tunggalku nanti?”

“Astaga, kau pasti mengerti bukan itu jawaban yang aku inginkan,” tandas Miho jengah, memukul bahu Seokjin tanpa tedeng aling-aling. Bukannya marah, korban yang menerima pukulan dengan entengnya tergelak jail.

“Taehyung yang memberitahuku, apa itu cukup?”

“Oh,” Miho mengerjap heran. “Taehyung-ah?”

“… ya,” balas Seokjin enggan. “Begitulah.”

Gadis itu mengangguk paham. “Pantas saja,” katanya lugas, tidak mengacuhkan pandangan aneh yang diberikan Seokjin untuknya. “Aku pernah memberitahunya.”

Miho mengenal adik kandung Kim Seokjin ketika meeting pertama yang dilakukan oleh selurus staf untuk acara musik klasik nanti. Dimulai dari pemain alat musik, penari kontemporer, bahkan untuk penari balet sekalipun. Dalam hal ini, wajar jika Kim Taehyung ikut dalam andil. Sayang jika bakat menyanyi pemuda itu tidak dipamerkan kepada dunia.

“Oh. Aku tidak tahu hubungan kalian sedekat itu.”

Miho mengerling. “Hanya sebatas teman.” Ketika langkahnya berhenti tepat di depan gedung apartemen, ia berbalik dan memandang Seokjin lekat-lekat. “Jadi, sampai di sini?”

Anggukan kecil. “Sampai di sini.”

Canggung. Terlalu canggung. Entah karena Miho yang tak berani membuka percakapan, entah karena Seokjin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang jelas, ini pertama kalinya mereka kehabisan bahan pembicaraan dalam keadaan seperti ini.

“Aku akan masuk. Kau cepat pulang, Seokjin-ah. Malam semakin larut.”

“Miho.”

Satu panggilan. Satu sekon yang terpaksa berhenti. Satu anak tangga yang baru saja Miho pijak sebelum akhirnya kembali menoleh.

“Suatu hari nanti, jika kau berhasil bermain di atas panggung dengan tutu berwarna biru, kau akan memberitahuku?”

Suatu hari nanti.

Jadikan aku orang pertama yang akan kau beritahu.

“Tentu.” Seulas senyum lebar tersungging manis. “Dan untukmu, Tuan Pianis. Saat kau sudah berada di konser tunggalmu nanti, bermain dengan sungguh-sungguh, dan tepat setelah permainanmu selesai,”

Seokjin menanti.

“Kau bisa melihat bangku paling atas, Seokjin-ah.”

Seokjin mengerutkan kening tidak mengerti. Namun ia sengaja tidak bertanya lebih jauh.

“Oh, satu hal lagi, soal tutu biru itu …” Miho melangkah mundur dengan perlahan, meniti anak tangga dengan hati-hati. “… aku tidak bisa berjanji, Seokjin-ah.”

Miho tak pernah membiarkan Seokjin untuk menjawab, apalagi bertanya lebih jauh. Tak pernah sekali pun.

Karena Seokjin melihatnya dengan jelas. Binar yang melintas dalam sepasang iris cokelat tua gadis itu. Karena Seokjin mengetahuinya dengan pasti.

Park Miho belum mampu membagi luka.

~oooOOOooo~

.

.

.

“Apa kau bilang?”

“Hyung tidak tahu? Selama ini, Miho tidak pernah diperbolehkan menari balet oleh ayahnya.”

“… kenapa?”

“Trauma masa lalu.”

.

.

.

~oooOOOooo~

“Seokjin! Permainanmu salah lagi! Ada denganmu sebenarnya?!”

Hari itu mendung. Miho merasa staminanya direnggut paksa ketika gladi resik sedang berlangsung. Padahal, ia hanya memiliki waktu dua belas jam dari sekarang sebelum pertunjukan sebenarnya dilakukan esok hari.

Ini aneh. Ia tidak pernah merasa lesu seperti ini sebelumnya.

Tidak jika Kim Seokjin sendirilah yang membuatnya tidak semangat pada minus satu sebelum hari H berlangsung.

Miho tidak mengerti. Ada apa dengan laki-laki itu?

“Baiklah, baiklah! Istirahat lima belas menit! Dan Seokjin, dinginkan kepalamu itu.”

Gadis itu meneguk air mineral dalam botolnya dengan cepat, menutup kembali dengan tergesa-gesa, lalu mengejar Seokjin ketika sang pianis itu berusaha mengasingkan diri di antara staf-staf lainnya. Ia berhenti di depan sebuah ruangan yang terletak di belakang panggung. Lantas bernapas lega karena keadaan memihak mereka tanpa ada seorang pun yang mengikuti.

“Kau aneh.”

Oh. Sepertinya Seokjin tidak sadar Park Miho mengikutinya sedari tadi.

“Tidak biasanya permainan pianomu sangat kacau, Seokjin-ah.” Kursi plastik ditarik mudah, lalu mendudukinya tanpa permisi. “Aku memang bukan pemberi solusi yang baik, tapi aku bisa mendengarkan.”

Seokjin melirik sinis. Miho merasa ada yang salah di sini.

“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak.”

“Kau sedang dalam masalah?”

“Tidak.”

“Atau tidak ada tempat—”

“Tidak, Park Miho. Demi Tuhan, bisakah kau berhenti bertanya!?”

Afirmasi dalam nada suaranya tidak membentak, namun Miho cukup tahu bahwa relung hati Kim Seokjin berada dalam tahap yang tidak stabil. Sedikitnya, ia merasa tersinggung.

“Baiklah,” sahut Miho akhirnya. Mendesah pendek, setelah itu berdiri. “Aku akan membiarkanmu sendiri—”

“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Suara Seokjin menariknya untuk berhenti. “Apa maksudmu?”

“Tch!” Seokjin menarik napas sepanjang mungkin, lalu mengembuskannya kasar. Ia seperti orang yang frsutasi ketika mengacak rambut dengan gerakan depresi. “Tentang kau, Park. Tentang balet yang seharusnya tidak boleh kau lakukan karena ayahmu …”

Miho membelalak.

“… termasuk,” jantungnya berdegup tidak teratur; marah dan kecewa, “kau akan kembali ke Jepang tiga hari setelah pertunjukan selesai.”

Skakmat.

Salahkan Kim Taehyung dan kecerobohan kecilnya; kecil, tetapi fatal. Salahkan Park Miho yang dengan mudah menceritakan semua itu kepada Taehyung, karena pemuda itu selalu bisa diajak berbincang. Dan salahkan ketakutannya terhadap trauma masa lalu yang menghantui.

“Kau sudah tahu,” bukan pertanyaan, bukan pula pernyataan. Tak lebih dari sekadar klausa kosong yang terucap. “Maaf.”

Seokjin mengutuk dalam hati. Tidak seharusnya ia seperti ini.

“Aku tidak tahu kau mendengarnya sampai sejauh mana, tapi semua hal yang kau dengar itu memang benar.” Tawa miris terdengar. Miris sekali. Miho seakan-akan terlihat tegar dan rapuh di saat yang sama. “Ingat sanggar yang kau datangi waktu itu? Sanggar yang sudah lama kosong dan tidak terpakai. Sanggar itu milik Eomma.

Mendengarnya, bola mata Seokjin spontan melebar. Ia memandang Miho tidak percaya.

Eomma adalah penari balet yang hebat. Dia seorang ballerina yang sangat cantik juga berbakat. Dan bakat alaminya itu menurun padaku. Sampai akhirnya aku lahir dan menetap di Korea, Eomma membuka sanggar pelatihan balet.”

Taehyung bercerita, tentang seorang ballerina asal Korea Selatan yang digemari banyak penonton. Menikah dengan seorang pria Jepang sederhana namun selalu bisa membuatnya bahagia.

“Tapi saat ia melakukan pertunjukan terakhirnya di Jepang, sesuatu terjadi,”

Seperti cerita dongeng. Bahagia sudah pasti menjadi akhir dari cerita romansa layaknya kisah putri dan pangeran kerajaan.

“Lampu panggung yang jatuh, seolah semuanya terjadi dengan cepat. Dan kau bisa menebaknya sendiri, Seokjin-ah. Eomma tidak pernah terselamatkan.”

Gadis itu tidak menangis. Seokjin membatin, dia tidak menangis.

“Dan kau juga pasti mengerti. Tutu biru itu,” lagi, tawa getir keluar. Kali ini lebih miris. “Hanya akan selalu menjadi mimpi.”

Karena air mata dan kesedihan termasuk perih yang melanda relung hati Park Miho sudah lama mati.

~oooOOOooo~

Pertunjukan klasik malam itu tidak jauh berbeda layaknya Pas de Deux.

Entah bagaimana caranya, sang penata rias berhasil menyulap Park Miho dengan tutu berwarna biru muda yang memikat. Memang tidak semewah seperti tutu untuk pertunjukan besar, namun gadis itu; di matanya, di mata Kim Seokjin, bahkan di mata setiap orang yang menonton; terlihat begitu sempurna.

Bentuknya dress selutut, mengembang bagaikan kelopak bunga. Lipatan dan kerutan sebagai pemanis tutunya tampak pas membalut pinggang rapi Miho. Sederhana, namun terlihat begitu elegan dan anggun.

Park Miho menari dengan begitu indah, begitu sempurna, begitu memukau. Gadis itu seperti bercerita, lewat gerak tangannya yang lihai, lompatan kakinya yang semangat, kepakan sayap imajiner pada setiap putaran, dan gurat wajahnya yang menghayati. Segala hal yang berada dalam gadis itu terefleksikan jelas layaknya menari. Hatinya. Jiwanya. Pikirannya.

Dan Seokjin seolah melihat angsa cantik dalam kilatan mata gadis itu.

Tak hanya itu, setiap denting tuts piano yang Seokjin mainkan berhasil menjadi satu kesatuan. Bersama tarian baletnya, bersama Park Miho. Penonton seakan disihir oleh setiap seni yang mereka mainkan. Begitu memesona dan memikat dengan cara yang unik.

Detik di mana tarian selesai dan tuts terakhir ditekan, mereka berbaris untuk membungkuk ke arah penonton. Bersama para penari lainnya. Saling menggenggam tangan sebagai bentuk apreasiasi.

Saat itu, Miho menggenggam tangan Seokjin begitu erat. Ada gemetar di sana, terselip dengan rapuh. Seokjin nyaris tidak menyadarinya jika ia tidak menoleh dan mendapati ekspresi luka yang tergambar pada paras gadis itu.

“Terima kasih.”

Tanpa sadar, Seokjin membalas genggaman Miho. Tak kalah eratnya.

“Untuk permainan pianomu yang begitu hebat, Tuan Pianis. Terima kasih.”

Sudut hatinya berdenyut. Seokjin tidak tahan.

“Dan selamat tinggal.”

Tiga puluh detik setelah tirai ditutup dan sorakan penonton belum mereda, Seokjin tak tanggung-tanggung menarik Miho dalam dekapan berbalut pilu dalam kelu. Mengungkungnya dengan begitu kukuh. Membuatnya beku.

Ucapan selamat tinggal tidak akan sebanding dengan kalimat ‘aku menyukaimu’, Gadis Ballerina.  

~oooOOOooo~

.

.

.

End

.

.

.

~oooOOOooo~

Bonus

Moonlight Sonata, Ludwig Van Beethoven.

Kim Seokjin mengangkat kelima jemari hingga melewati batas kepala, menekan tuts A E G secara serentak, dua detik untuk nada kres, lalu menekan persegi panjang berbahan padat hitam putih itu dalam waktu sekon yang sama. Untuk nada akhir, untuk simfoni yang berhenti, dan gedung pertunjukan yang hening.

Laki-laki itu menarik napas sepanjang mungkin, lalu memejamkan mata.

Lima detik setelahnya, seseorang berdiri tegak dan berteriak.

Bravo!”

Seokjin membuka mata cepat, tepat ketika suara tepuk tangan menggema di seluruh gedung pertunjukan. Iramanya berdengung konstan, terpantul begitu rapi. Ia selalu menyukai suara itu, suara tepukan Ayah dan Ibunya, suara tepukan Taehyung yang—terlampau—berlebihan, dan suara tepukan penonton. Seolah-olah membutakannya dari kenyataan.

‘Saat kau sudah berada di konser tunggalmu nanti, bermain dengan sungguh-sungguh, dan tepat setelah permainanmu selesai,’

Matanya melirik tempat yang diberitahukan oleh benaknya secara spontan, memandang kursi yang terletak paling atas, paling ujung, dan lebih terisolir. Seokjin sedikit berharap, bahwa ucapan yang berdengung dalam pikirannya itu benar. Bahwa suara gadis unik yang selama ini mengandung rindu itu nyata.

‘Kau bisa melihat bangku paling atas, Seokjin-ah.’ 

Seokjin memandangnya agak lama. Selang beberapa detik, senyum simpul melukis paras lelahnya.

Gadis angsa dengan dress biru muda itu ikut bertepuk tangan.

.

~oooOOOooo~

Glossarium :

En pointe atau Pointe work : berjinjit hingga ujung jari kaki sembari melakukan gerakan-gerakan balet. (source : Wikipedia).

Pas de Deux : dalam bahasa Perancis, kalimat ini bisa diartikan; step of two. Atau tarian yang dilakukan oleh dua orang; laki-laki dan perempuan.

Arabesque : salah satu gerakan dalam balet. Di mana penari berdiri dengan satu kaki sedangkan kaki lainnya direntangkan ke belakang.

Pirouettes : berputar-putar di atas kaki.

(*) Kunci not di atas (B mol, A, G, A, dan seterusnya) : merupakan kunci nada lagu Lacie.

.

Tambahan : soundtrack lagu fanfiksi ini bisa dilihat di (https://www.youtube.com/watch?v=PV56Ds7D-hk)

.

Terima kasih : )

Judul : Tutu In Your Melody

Author : Cakue

Genre(s) : Romance. Drama. Hurt/comfort.

Length : Oneshoot (4.160)

Rating : Teen

Cast(s) : Kim Seokjin (BTS). Park Miho (OC). And other cast.

Disclaimer : Kim Seokjin milik Tuhan YME, Orang Tuanya, Big Hit Entertaiment, dan dirinya sendiri. Sedangkan cerita ini milik saya.

Summary : “Seokjin seolah melihat angsa cantik dalam kilatan mata gadis itu.”

.

.

.

En pointe. Diiringi tekanan piano dalam tempo adagio.

Park Miho menarik napas sepanjang mungkin, berjinjit dengan ujung jari kaki hingga beban tubuh ditumpu penuh, lantas menapak pijakan dalam hitungan tiga detik sebelum akhirnya kedua kaki meloncat dan lengan terangkat tinggi. Ia berputar sebelum kembali berpijak, merentangkan satu kaki dalam derajat sembilan puluh, dan tubuh membungkuk perlahan sebagai ancang-ancang mengambil pointe work selanjutnya.

Namun satu sekon kemudian, alunan piano mendadak berhenti.

Dan keseimbangannya otomatis runtuh.

Duk!

Appo!”

Dasar rak tua sialan, makinya dalam hati. Miho meringis ngilu, berlutut sejenak hanya untuk memastikan jari-jari kaki berharganya tidak lecet sedikit pun. Lupakan debu yang tiba-tiba saja menyebar, termasuk beberapa properti panggung yang jatuh saat kakinya menendang ujung rak penyimpanan.

“Siapa di sana?”

Miho mematung. Gendang telinganya tidak salah mendengar. Suara bass berat yang mendekat itu berhasil membuatnya panik.

“Hei, aku tahu kau ada di sana.”

Tidak, tidak. Ia segera berdiri sembari mengambil  beberapa barang yang terjatuh. Menyimpannya dengan asal ke dalam rak, melepas sepatu balet biru muda semu tuanya dengan terburu-buru, dan mengabaikan jari kakinya sebentar ketika ia berjinjit pelan untuk kabur dengan hati-hati.

“Aku melihatmu, Nona.”

Langkahnya berhenti.

“Dan kalau boleh kubilang, ini ketiga kalinya aku melihatmu mengendap-endap seperti itu, termasuk hari ini. Kau pikir, kau bisa pergi dengan mudah seperti dua percobaan sebelumnya? Setelah menganggu permainanku begitu saja?”

Ini bukan adegan cerita bergambar, bukan pula roman picisan di sebuah telenovela penuh drama. Namun ketika Miho menelan ludah gugup dan menoleh dengan gerakan patah-patah hanya untuk mendapati seorang laki-laki tinggi yang—entah sejak kapan—berdiri di balik tirai panggung yang tersibak, dengan kedua lengan bersilang defensif, ia sempat tertegun.

Miho pernah mendengar rumor. Sering, sepertinya.

Tentang seorang pianis jenius bernama Kim Seokjin yang selalu berhasil memikat penggemarnya dengan setiap pesonanya sendiri. Tentang sepasang obsidian teduh dan bahu lebar yang menggoda.  Dan Miho sendiri tidak terkejut jika rumor itu membentuk fakta akurat. Karena  saat ini, ia berhadapan langsung dengan sang pianis itu sendiri.

“Jadi?”

Gadis itu mengerjap. Sekali. Dua kali. Sebelum akhirnya berdeham kikuk. “Permainan pianomu sangat bagus.”

Dasar mulut bodoh.

“Hah?”

“Aku hanya merasa,” pelan-pelan, pelan sekali, ia melangkah mundur. “… cocok dengan permainan pianomu.”

“Apa maksud—”

“Sampai jumpa!”

“HEI!”

Jeda tiga detik, suara langkah kaki berlari yang menggema, dan hilang secepat kerjapan mata.

Sang pianis mencelos.

~oooOOOooo~

Biru muda dan tua. Sepatu balet yang lusuh. Dan kedua jenjang kaki dibalut stocking hitam.

Seokjin mengerutkan kening bingung. Gerakan tangannya terhenti saat ia membereskan beberapa lembar partitur, menyadari ada yang salah dengan otaknya. Terus terang saja, kalau boleh dibilang, ini bukanlah kali pertama Seokjin melihat gadis bersepatu biru itu menyelinap di balik tirai belakang panggung secara diam-diam.

Ia menyadarinya, demi Tuhan. Tapi Seokjin seakan-akan tidak peduli. Ia hanya sadar bahwa dirinya tidak sendiri di atas panggung, tepat ketika denting piano mengalun merdu, dan Seokjin sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu sebenarnya sedang menari. Kalau tidak salah, tarian yang dilakukan gadis berambut sebahu itu disebut dengan Pas de Deux. Jangan tanya mengapa ia bisa mengetahuinya, karena ia sudah terlampau sering bermain piano sebagai pengiring pertunjukan balet sejak piano menjadi hidupnya.

Lagi pula, kenapa gadis itu tiba-tiba kabur saat melihatnya? Dasar aneh.

“Jin-hyung? Kau masih di sini?”

Seokjin menoleh, lalu mengulas senyum simpul ketika mendapati sang adik berjalan mendekat ke arahnya. Seuara tuk tuk tuk bergema halus ketika sol sepatu menyentuh derit lantai kayu panggung.

“Baru selesai,” sahut Seokjin lugas. “Kau sendiri Taehyung, bukankah seharusnya kuliah?”

“Sama sepertimu, dosen mata kuliah terakhir tidak datang.” Kim Taehyung, pemuda berambut cokelat tua itu, mengedikkan bahu tak acuh. “Dan karena Eomma mengoceh terus tentang kau yang belum pulang, aku memutuskan kemari. Voila! Kau ada di sini, Hyung! Ayolah, padahal konser tunggalmu itu masih lama,” ia meringis sejenak. “Kenapa memaksakan diri sekali, sih?”

“Satu bulan dan kau sebut itu lama?” Ia mendengus pendek, lalu memberi sentilan kecil di kening Taehyung. “Aku kan tidak malas sepertimu, Tae.”

Yak!” Taehyung protes, tangannya refleks mengusap kening yang berdenyut ngilu. “Aku tidak malas, menyebalkan. Hyung saja yang terlalu kerajinan.”

Seokjin terkekeh ringan. Mereka menuruni beberapa tiga anak tangga panggung, setelah itu meniti kembali undakan-udakan tangga di sepanjang deretan kursi penonton sampai menuju pintu keluar teratas.

“Omong-omong soal konser, Manajer Jung baru saja meneleponku tadi.”

Sebelah alis Seokjin terangkat. “Kenapa dia bisa meneleponmu?”

“Kau sedang sibuk dengan partitur itu, tentu saja. Jadi Manajer meneleponku.” Ponsel dirogoh cepat, terselip antara lipatan saku celana jins. “Lihat, Paman Berkacamata itu sampai meninggalkan miscall sepuluh kali.”

“Intinya, Kim Taehyung.”

Hyung  terlalu sibuk dengan dunianya sendiri,” ketika ia melihat Seokjin mendelik sinis, Taehyung buru-buru menambahkan. “Maksudku, ada tawaran kecil untukmu. Itu pun kalau Hyung mau menerimanya.”

“Tawaran?”

Taehyung mengangguk. “Lebih jelasnya, telepon saja Paman Berkacamata itu.”

“Panggi nama orang dengan benar, Tae.”

~oooOOOooo~

“Ah.”

“Ah.”

Sebenarnya, Seokjin tidak terlalu percaya dengan yang namanya kebetulan. Terlebih ketika taman kota pada senja yang dikunjunginya hari itu tidak terlalu ramai dan ia menemukan seorang gadis berpakaian dress sifon berwarna indigo, rambut yang diikat secara asal hingga menyisakan helai-helai nakal, dan sapuan merah muda tipis ketika sepasang bola mata cokelat itu melebar sempurna.

Jari telunjuk menuding tepat ke arahnya, seolah mengabaikan sepasang sepatu balet yang teronggok bisu tidak jauh dari undakan kecil pevilium yang saat ini mereka pijaki.

“Tuan Pianis,” katanya, antara antusias dan terkejut. “Oh, oh, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”

Alis diangkat spontan. “Apa kau mengenalmu?”

Lalu hening. Meski dalam hati Seokjin terbahak keras begitu melihat ekspresi gadis di depannya.

Well, mungkin tidak,” bahu berkedik tak acuh. “Namaku Miho, omong-omong. Dari Park Miho.”

Seokjin nyaris tertawa. “Jadi … namamu Miho?” padahal aku tidak bertanya. “Nona yang senang sekali mengganggu permainan pianoku?”

“Aku tidak—” ia berhenti, lantas mendengus geli karena merasa bodoh. “Baiklah, terserah bagaimana kau menganggapnya. Tapi itu tidak sengaja, sungguh. Aku tidak sengaja mendengar permainanmu dan hanya merasa …” deheman kikuk dilakukan. “… ingin menari, itu saja.”

Tiga hari berlalu sejak Taehyung menjemputnya di gedung teater kala itu, Seokjin tak tanggung-tanggung menelepon Manajer Jung dan bertanya soal tawaran kecil yang dimaksud. Namun, alih-alih menjelaskannya langsung secara rinci, pria berumur empat puluh tahun itu menanggapinya dengan tawa renyah. Seokjin tentu saja tidak mengerti. Terlebih ketika ia diminta untuk datang ke taman kota tidak jauh dari Sungai Han pada sore akhir pekan, tepat hari ini.

Seingat Seokjin, taman itu memiliki desain era victoria yang sangat kental. Dengan sebuah paviliun kecil terbuka di tengah taman, jalan setapak kecil yang melintang luas, dan dihias sedemikian rupa dengan berbagai macam bunga; tulip, anyelir, krisan, bahkan lavender dengan lembayung yang menggoda.

Musim semi memang hampir berakhir di Seoul, namun kecantikan yang dipancarkan taman kota belum pudar.

Ditambah lagi, tepat di tengah paviliun kecil yang terbuka dengan cat broken white yang memikat, grand piano berpelitur hitam legam berdiri angkuh; tetapi elegan dan mewah di saat bersamaan.

“Kau seorang ballerina?”

Tidak ada jawaban. Park Miho tampak sibuk sambil duduk bersimpuh di samping kursi taman yang tersedia. Lagaknya seperti anak kecil, melepas flat shoes putihnya dengan tergesa-gesa hanya untuk memakaikan sepatu balet yang sebelumnya tergeletak bisu. Ia sengaja melengkungkan  lekukan kakinya, sampai sepatu biru itu terpasang apik dengan tali-tali yang melilit manis hingga mata kaki.

“Menurutmu begitu?” ujar Miho akhirnya, tidak menjawab pertanyaan Seokjin. Ia berdiri dalam sekali gerakan, setelah itu menoleh dan memandang iris gelap sang pianis muda. “Tergantung bagaimana kau melihatnya.”

Seokjin mengernyit. Ada sesuatu dalam nada suara gadis itu yang membuatnya janggal.

“Daripada itu, Seokjin-ssi—eh, boleh aku memanggilmu seperti itu?” mendapat anggukan dari sang subjek, Miho melanjutkan. “Boleh aku mendengar permainan pianomu itu di sini?”

Wow, mendadak sekali. Memangnya, berapa juta won yang dikeluarkan pihak konser jika ia mengadakannya? Lagi pula, mana ada seorang pianis terkenal mau bermain tanpa dibayar?

Namun entah mengapa, pemikiran egoisnya itu malah menarik sisi jailnya tanpa diminta.

“Lalu bayaranmu?”

Miho mengerjapkan mata. “Eh?”

Seokjin terkekeh dalam hati, tetapi tidak menghentikan dirinya untuk berjalan menuju grand piano yang tersimpan kokoh. Kursi beludru krem ditariknya pelan, menempatkan bokongnya sambil mencari posisi ternyaman, diakhiri dengan kesepuluh jemari ramping bersiap di atas tuts-tuts monokrom.

“Kau tidak berpikir aku akan bermain tanpa bayaran, bukan?”

Dengusan pendek keluar. “Lucu sekali.” Penutup piano disentuh lembut, Miho berjinjit dengan kedua kaki dan merentangkan lengan kirinya dengan begitu lihai. “Aku akan membayarnya dengan tarian, bagaimana?”

Kali ini, Kim Seokjin benar-benar tertawa renyah. Renyah sekali. Dan tawanya itu sengaja ia selipkan oleh denting tuts yang ditekan dalam tempo adante.

Ini adalah kali pertama ia melihat tarian balet dari seorang Park Miho.

~oooOOOooo~

Manajer Jung berkata, ia diminta untuk mengisi acara musik klasik yang akan diadakan dua minggu ke depan tepat di sebuah taman bergaya victoria era itu. Daripada disebut dengan acara musik, mungkin lebih cocok ke acara amal. Pemerintah setempat sengaja mengadakan pergelaran tersebut sebagai hiburan bagi pasien rumah sakit anak pengidap kanker dan tumor.

Seokjin, yang tentu juga ditanggapi oleh Taehyung dengan antuasias, langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali. Bukan karena paviliun putih itu terlihat cantik dengan bunga-bunga mekar, bukan juga karena ia dibayar dengan biaya yang cukup tinggi.

Alasan hanya satu, karena Park Miho juga berada di sana.

Karena seorang pianis hebat seperti Kim Seokjin akan bermain untuk mengiringi penari-penari balet yang handal.

Dan gadis itu berperan sebagai lakon utamanya.

“Sejak kapan kau suka balet?”

“Hm?” pasta carbonara dililit pelan, diketuk sesaat sampai saus madu meresap penuh, lantas dilahap dalam satu kuapan cepat. Rasanya manis, bercampur dengan semu asin dan gurih. “Kenapa aku menyukai balet?”

Mata melirik jeli. “Begitulah,” padahal Seokjin ingat ia tidak bertanya seperti itu. Tapi, ah, sudahlah. Secangkir espresso dingin yang tersaji di depannya cukup membuat Seokjin tenang. Terlebih lagi, kafe unik Italia yang dikunjunginya bersama Miho saat ini lumayan sepi. “Well, pertanyaan klise. Tapi aku penasaran.”

“Heee … tumben sekali, Tuan Pianis.” Nada suaranya terdengar jenaka. “Apakah ini sesuatu yang disebut dengan ingin mengenal lebih dekat?”

“Oh, ayolah, Park.” Seokjin gemas sendiri, astaga. “Kalau kau tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa.”

Meh, menyerah begitu saja.”

Bola mata berotasi malas. “Aku berusaha menghormati.”

Park Miho terkekeh jail.

Tidak ada yang tahu takdir akan berkata bagaimana, tidak juga Seokjin dan tidak pula Miho. Semenjak keputusan bahwa mereka berdua akan tampil bersama di acara musik klasik yang diadakan sepuluh har kemudian nanti, hubungannya bersama gadis itu tidak lagi dikatakan jauh.

Perkataan Miho benar adanya. Gadis itu seolah-olah jatuh dalam dunianya sendiri ketika alunan berani Aria Alekzander di antara jari-jemari Seokjin bermain lancar. Seokjin juga tidak bisa menyangkal, tarian gadis itu benar-benar ringan dan penuh perasaan. Keluwesannya ketika bergerak, kepolosan dalam setiap gerakan yang diceritakan. Kecantikan yang dipancarkan. Bahkan cara bagaimana ia menarik perhatian orang yang melihat termasuk Seokjin sendiri.

Terkadang Seokjin bertanya-tanya. Apa yang membuat gadis itu tidak dikenal dunia dengan bakatnya yang luar biasa?

Appa pernah mengajakku menyaksikan pertunjukan balet saat kecil,” jelas Miho tiba-tiba. Membuyarkan lamunan enam puluh detik Seokjin. “Kau pasti pernah mendengarnya, cerita tarian angsa.”

“Ah,” Seokjin mengangguk paham. “Tarian yang terkenal.”

“Seperti yang kau bilang tadi, terdengar klise. Tapi klise ada karena nyata. Saat Appa mengajakku ke pertunjukan waktu itu, akhirnya aku sadar. Bahwa balet adalah hidupku. Dan aku bernapas karenanya.”

Mirip. Mirip sekali.

Sejak sang Eomma mengenalkan Seokjin pada setiap tuts-tuts dan denting nyaring piano, Seokjin tahu bahwa ia hidup untuknya. Untuk musik. Untuk piano. Untuk nada-nada yang bermain.

“Aku selalu bermimpi, Seokjin-ah,” ­‘—ssi’ sudah berhenti diucapkannya ketika Miho memanggil nama laki-laki itu. Dan Seokjin tak pernah keberatan. “Suatu hari nanti, aku akan berdiri di atas panggung opera yang besar. Menggunakan tutu berwarna carolina blue, sepatu balet baby blue, dan  menari di bawah sorot lampu panggung.”

Gadis itu bilang; klise ada karena nyata.

Seperti mimpi seorang Park Miho yang tanpa Seokjin sadari, berharap menjadi kenyataan mutlak.

“Kau sendiri?”

Pianis muda itu tersentak pelan. Mendapati bola mata jernih Park Miho menatapnya penasaran.

“Kenapa memilih piano?”

Perasaannya saja, atau Seokjin menyadari kalau gadis itu sengaja mengubah topik pembicaraan? Entahlah. Park Miho bisa tiba-tiba misterius dengan caranya sendiri.

“Kurang lebih …” jeda sejenak, Seokjin menutupnya dengan satu sesapan pelan di ujung cangkir espresso-nya. “… sama sepertimu.”

Ia tak melihat dua sudut bibir gadis itu enggan menekuk meski hanya segaris simpul.

~oooOOOooo~

Nde. Aku mengerti, Appa. Hm, hm …” kepala dianggukan beberapa kali, gerakan melingkar jari telunjuknya pada titik-titik lantai kayu ruangan kosong itu semakin melambat ketika suara berat di ujung ponselnya mulai mendekati akhir. “…ya, secepat mungkin. Baiklah, sampai nanti. Aku menyayangimu.”

Ponsel dimatikan.

Miho mendongak malas, memejamkan mata sejenak; dua sekon berjalan, sekon berikutnya berhenti dan iris cokelat tua itu kembali mengintip. Berkas-berkas cahaya yang merembes masuk pada sela-sela gorden tipis  tak mengganggu korneanya untuk tetap terbuka. Bunyi tik tok jam membuatnya tenang, entah mengapa. Ia pikir, dunianya itu tidak sendiri. Miho pikir, Sabtu di pagi hari ini tidak terlalu buruk .

Gadis itu lekas berdiri. Sepatu balet sudah membalut rapi kedua kakinya, piano berada di sisi lain ruangan, tapi tak ada nada yang keluar; tentu saja, ia bukanlah seorang pianis jenius seperti Seokjin. Salahnya juga ia tidak membawa speaker khusus atau radio kaset agar ia bisa memutar musik.

Tidak apa-apa, batin Miho. Lagi pula, ruangan balet itu sudah lama kosong dan ditinggalkan, termasuk sanggar yang menaunginya. Walaupun lantai kayunya belum melapuk dan cermin-cermin besar yang mengelilingi tak retak sedikit pun. Yang jelas, ruangan itu masih layak digunakan. Hanya sedikit berdebu dan terisolir dari keramaian kota.

Ia berjalan dengan langkah tertatih. Tidak seperti biasanya yang akan langsung melakukan gerakan seorang ballerina bahkan tanpa musik sekali pun, mendadak, piano yang tersimpan bisu di sudut ruangan menarik perhatian Miho lebih dulu. Memang bukan piano besar seperti di atas paviliun taman kota, bukan juga piano-piano dengan nada jernih di sebuah konser opera. Itu hanya piano. Tanpa penutup, tanpa penyangga empat kaki, hanya sebuah piano yang mulai terlupakan.

Namun Park Miho menyadarinya sepenuh hati, bahwa piano tua itu menyimpan banyak kenangan.

Ia teringat pada linimasa lima tahun silam. Dan Miho berhasil menangkap kotak memorinya yang menghilang. Teringat akan seorang gadis labil berdiri di ruangan yang sama, letak piano yang sama, lantai kayu dan cermin yang sama, namun dalam situasi yang berbeda.

Teringat sebuah tutu cantik bewarna biru cerah. Dipadu dengan stocking hitam dan sepatu balet yang lentur. Menari dengan begitu anggun. Seperti angsa. Seperti kuncup bunga yang mekar.

Dan Miho seolah mengintip kenyataan yang terselip dalam di ujung mimpi. Miris, juga ironis.

Ting.

Tuts nada A ditekan pelan. Masih bagus, pikirnya. Hanya perlu perbaikan sedikit. Beberapa menit kemudian, Miho kembali berjalan ke tengah ruangan, lalu berhenti di sana. Ia memejamkan mata dalam hitungan lima detik, membayangkan not-not balok yang bermain di kepalanya.

Dimulai dari B mol. Kemudian A. G dan A.

Mata kembali terbuka dan en pointe mulai bergerak. Kaki kiri diangkat tinggi, selaras dengan rentangan tangan kanan melawan arus gravitasi.

Park Miho berputar pelan, pelan, pelan, semakin lama semakin cepat; arabesque tanpa cela, tiga kali pirouettes, berhenti pada titik denting piano berhenti (dalam khayalannya), satu kali loncatan sedang, berputar kembali dengan kaki kiri menekuk hingga bibir sepatu menyentuh lutut kanannya.

Kembali lagi B mol. C, A, dan B mol.  

Ia kembali meloncat setinggi mungkin. Berputar-putar mengikuti irama tubuhnya yang ringan.

A, F—

Nada terakhir, loncatan dan putaran terakhir, ditutup dengan tubuh membungkuk dalam dan kedua kaki bersilang layaknya angsa.

dan G.(*)

Pertunjukan selesai. Tirai diturunkan dan tepukan menggema di seluruh penjuru gedung opera.

“Permainan yang bagus.”

Bahunya tersentak halus, tidak sadar ketika tepukan ringan memecah sepi yang sebelumnya mendominasi. Miho menoleh perlahan, mengalihkan atensi sepenuhnya pada dua telapak tangan yang saling beradu.

Tidak sampai lima detik berjalan bibirnya tak ragu mengulas senyum tipis.

“Kau tidak sedang memata-mataiku kan, Tuan Pianis?”

~oooOOOooo~

“Kenapa kau bisa menemukanku?”

Malam adalah ketika Miho memusatkan pandangan pada cakrawala tak terbatas, tanpa kerlap-kerlip bintang meski sinar rembulan menyusup di sela awan tipis yang lebih dominan; tersembunyi malu-malu.

Dua jam menghabiskan waktu di langgar yang terisolir, Seokjin bersikukuh untuk mengantar Miho pulang. Meskipun gadis itu menolak mentah-mentah. Tetapi, Seokjin tetaplah Seokjin, kadang ia bisa lebih keras kepala dibandingkan Taehyung.

Mereka berjalan di sepanjang trotoar lebar dan nyaris sepi, memasuki kawasan gedung apartemen yang berjejer monoton.

“Apanya yang kenapa?”

Ya Tuhan, laki-laki ini.

“Ng, bagaimana, ya. Kau tahu sendiri Seokjin, tempat itu sudah lama ditutup. Jarang ada orang yang menyadarinya, selain aku.”

“Hmm…” jari diketuk dramatis, tepat di bawah dagu. “Mungkin karena tempat itu dekat dengan gedung pertunjukan tunggalku nanti?”

“Astaga, kau pasti mengerti bukan itu jawaban yang aku inginkan,” tandas Miho jengah, memukul bahu Seokjin tanpa tedeng aling-aling. Bukannya marah, korban yang menerima pukulan dengan entengnya tergelak jail.

“Taehyung yang memberitahuku, apa itu cukup?”

“Oh,” Miho mengerjap heran. “Taehyung-ah?”

“… ya,” balas Seokjin enggan. “Begitulah.”

Gadis itu mengangguk paham. “Pantas saja,” katanya lugas, tidak mengacuhkan pandangan aneh yang diberikan Seokjin untuknya. “Aku pernah memberitahunya.”

Miho mengenal adik kandung Kim Seokjin ketika meeting pertama yang dilakukan oleh selurus staf untuk acara musik klasik nanti. Dimulai dari pemain alat musik, penari kontemporer, bahkan untuk penari balet sekalipun. Dalam hal ini, wajar jika Kim Taehyung ikut dalam andil. Sayang jika bakat menyanyi pemuda itu tidak dipamerkan kepada dunia.

“Oh. Aku tidak tahu hubungan kalian sedekat itu.”

Miho mengerling. “Hanya sebatas teman.” Ketika langkahnya berhenti tepat di depan gedung apartemen, ia berbalik dan memandang Seokjin lekat-lekat. “Jadi, sampai di sini?”

Anggukan kecil. “Sampai di sini.”

Canggung. Terlalu canggung. Entah karena Miho yang tak berani membuka percakapan, entah karena Seokjin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang jelas, ini pertama kalinya mereka kehabisan bahan pembicaraan dalam keadaan seperti ini.

“Aku akan masuk. Kau cepat pulang, Seokjin-ah. Malam semakin larut.”

“Miho.”

Satu panggilan. Satu sekon yang terpaksa berhenti. Satu anak tangga yang baru saja Miho pijak sebelum akhirnya kembali menoleh.

“Suatu hari nanti, jika kau berhasil bermain di atas panggung dengan tutu berwarna biru, kau akan memberitahuku?”

Suatu hari nanti.

Jadikan aku orang pertama yang akan kau beritahu.

“Tentu.” Seulas senyum lebar tersungging manis. “Dan untukmu, Tuan Pianis. Saat kau sudah berada di konser tunggalmu nanti, bermain dengan sungguh-sungguh, dan tepat setelah permainanmu selesai,”

Seokjin menanti.

“Kau bisa melihat bangku paling atas, Seokjin-ah.”

Seokjin mengerutkan kening tidak mengerti. Namun ia sengaja tidak bertanya lebih jauh.

“Oh, satu hal lagi, soal tutu biru itu …” Miho melangkah mundur dengan perlahan, meniti anak tangga dengan hati-hati. “… aku tidak bisa berjanji, Seokjin-ah.”

Miho tak pernah membiarkan Seokjin untuk menjawab, apalagi bertanya lebih jauh. Tak pernah sekali pun.

Karena Seokjin melihatnya dengan jelas. Binar yang melintas dalam sepasang iris cokelat tua gadis itu. Karena Seokjin mengetahuinya dengan pasti.

Park Miho belum mampu membagi luka.

~oooOOOooo~

.

.

.

“Apa kau bilang?”

“Hyung tidak tahu? Selama ini, Miho tidak pernah diperbolehkan menari balet oleh ayahnya.”

“… kenapa?”

“Trauma masa lalu.”

.

.

.

~oooOOOooo~

“Seokjin! Permainanmu salah lagi! Ada denganmu sebenarnya?!”

Hari itu mendung. Miho merasa staminanya direnggut paksa ketika gladi resik sedang berlangsung. Padahal, ia hanya memiliki waktu dua belas jam dari sekarang sebelum pertunjukan sebenarnya dilakukan esok hari.

Ini aneh. Ia tidak pernah merasa lesu seperti ini sebelumnya.

Tidak jika Kim Seokjin sendirilah yang membuatnya tidak semangat pada minus satu sebelum hari H berlangsung.

Miho tidak mengerti. Ada apa dengan laki-laki itu?

“Baiklah, baiklah! Istirahat lima belas menit! Dan Seokjin, dinginkan kepalamu itu.”

Gadis itu meneguk air mineral dalam botolnya dengan cepat, menutup kembali dengan tergesa-gesa, lalu mengejar Seokjin ketika sang pianis itu berusaha mengasingkan diri di antara staf-staf lainnya. Ia berhenti di depan sebuah ruangan yang terletak di belakang panggung. Lantas bernapas lega karena keadaan memihak mereka tanpa ada seorang pun yang mengikuti.

“Kau aneh.”

Oh. Sepertinya Seokjin tidak sadar Park Miho mengikutinya sedari tadi.

“Tidak biasanya permainan pianomu sangat kacau, Seokjin-ah.” Kursi plastik ditarik mudah, lalu mendudukinya tanpa permisi. “Aku memang bukan pemberi solusi yang baik, tapi aku bisa mendengarkan.”

Seokjin melirik sinis. Miho merasa ada yang salah di sini.

“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak.”

“Kau sedang dalam masalah?”

“Tidak.”

“Atau tidak ada tempat—”

“Tidak, Park Miho. Demi Tuhan, bisakah kau berhenti bertanya!?”

Afirmasi dalam nada suaranya tidak membentak, namun Miho cukup tahu bahwa relung hati Kim Seokjin berada dalam tahap yang tidak stabil. Sedikitnya, ia merasa tersinggung.

“Baiklah,” sahut Miho akhirnya. Mendesah pendek, setelah itu berdiri. “Aku akan membiarkanmu sendiri—”

“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Suara Seokjin menariknya untuk berhenti. “Apa maksudmu?”

“Tch!” Seokjin menarik napas sepanjang mungkin, lalu mengembuskannya kasar. Ia seperti orang yang frsutasi ketika mengacak rambut dengan gerakan depresi. “Tentang kau, Park. Tentang balet yang seharusnya tidak boleh kau lakukan karena ayahmu …”

Miho membelalak.

“… termasuk,” jantungnya berdegup tidak teratur; marah dan kecewa, “kau akan kembali ke Jepang tiga hari setelah pertunjukan selesai.”

Skakmat.

Salahkan Kim Taehyung dan kecerobohan kecilnya; kecil, tetapi fatal. Salahkan Park Miho yang dengan mudah menceritakan semua itu kepada Taehyung, karena pemuda itu selalu bisa diajak berbincang. Dan salahkan ketakutannya terhadap trauma masa lalu yang menghantui.

“Kau sudah tahu,” bukan pertanyaan, bukan pula pernyataan. Tak lebih dari sekadar klausa kosong yang terucap. “Maaf.”

Seokjin mengutuk dalam hati. Tidak seharusnya ia seperti ini.

“Aku tidak tahu kau mendengarnya sampai sejauh mana, tapi semua hal yang kau dengar itu memang benar.” Tawa miris terdengar. Miris sekali. Miho seakan-akan terlihat tegar dan rapuh di saat yang sama. “Ingat sanggar yang kau datangi waktu itu? Sanggar yang sudah lama kosong dan tidak terpakai. Sanggar itu milik Eomma.

Mendengarnya, bola mata Seokjin spontan melebar. Ia memandang Miho tidak percaya.

Eomma adalah penari balet yang hebat. Dia seorang ballerina yang sangat cantik juga berbakat. Dan bakat alaminya itu menurun padaku. Sampai akhirnya aku lahir dan menetap di Korea, Eomma membuka sanggar pelatihan balet.”

Taehyung bercerita, tentang seorang ballerina asal Korea Selatan yang digemari banyak penonton. Menikah dengan seorang pria Jepang sederhana namun selalu bisa membuatnya bahagia.

“Tapi saat ia melakukan pertunjukan terakhirnya di Jepang, sesuatu terjadi,”

Seperti cerita dongeng. Bahagia sudah pasti menjadi akhir dari cerita romansa layaknya kisah putri dan pangeran kerajaan.

“Lampu panggung yang jatuh, seolah semuanya terjadi dengan cepat. Dan kau bisa menebaknya sendiri, Seokjin-ah. Eomma tidak pernah terselamatkan.”

Gadis itu tidak menangis. Seokjin membatin, dia tidak menangis.

“Dan kau juga pasti mengerti. Tutu biru itu,” lagi, tawa getir keluar. Kali ini lebih miris. “Hanya akan selalu menjadi mimpi.”

Karena air mata dan kesedihan termasuk perih yang melanda relung hati Park Miho sudah lama mati.

~oooOOOooo~

Pertunjukan klasik malam itu tidak jauh berbeda layaknya Pas de Deux.

Entah bagaimana caranya, sang penata rias berhasil menyulap Park Miho dengan tutu berwarna biru muda yang memikat. Memang tidak semewah seperti tutu untuk pertunjukan besar, namun gadis itu; di matanya, di mata Kim Seokjin, bahkan di mata setiap orang yang menonton; terlihat begitu sempurna.

Bentuknya dress selutut, mengembang bagaikan kelopak bunga. Lipatan dan kerutan sebagai pemanis tutunya tampak pas membalut pinggang rapi Miho. Sederhana, namun terlihat begitu elegan dan anggun.

Park Miho menari dengan begitu indah, begitu sempurna, begitu memukau. Gadis itu seperti bercerita, lewat gerak tangannya yang lihai, lompatan kakinya yang semangat, kepakan sayap imajiner pada setiap putaran, dan gurat wajahnya yang menghayati. Segala hal yang berada dalam gadis itu terefleksikan jelas layaknya menari. Hatinya. Jiwanya. Pikirannya.

Dan Seokjin seolah melihat angsa cantik dalam kilatan mata gadis itu.

Tak hanya itu, setiap denting tuts piano yang Seokjin mainkan berhasil menjadi satu kesatuan. Bersama tarian baletnya, bersama Park Miho. Penonton seakan disihir oleh setiap seni yang mereka mainkan. Begitu memesona dan memikat dengan cara yang unik.

Detik di mana tarian selesai dan tuts terakhir ditekan, mereka berbaris untuk membungkuk ke arah penonton. Bersama para penari lainnya. Saling menggenggam tangan sebagai bentuk apreasiasi.

Saat itu, Miho menggenggam tangan Seokjin begitu erat. Ada gemetar di sana, terselip dengan rapuh. Seokjin nyaris tidak menyadarinya jika ia tidak menoleh dan mendapati ekspresi luka yang tergambar pada paras gadis itu.

“Terima kasih.”

Tanpa sadar, Seokjin membalas genggaman Miho. Tak kalah eratnya.

“Untuk permainan pianomu yang begitu hebat, Tuan Pianis. Terima kasih.”

Sudut hatinya berdenyut. Seokjin tidak tahan.

“Dan selamat tinggal.”

Tiga puluh detik setelah tirai ditutup dan sorakan penonton belum mereda, Seokjin tak tanggung-tanggung menarik Miho dalam dekapan berbalut pilu dalam kelu. Mengungkungnya dengan begitu kukuh. Membuatnya beku.

Ucapan selamat tinggal tidak akan sebanding dengan kalimat ‘aku menyukaimu’, Gadis Ballerina.  

~oooOOOooo~

.

.

.

End

.

.

.

~oooOOOooo~

Bonus

Moonlight Sonata, Ludwig Van Beethoven.

Kim Seokjin mengangkat kelima jemari hingga melewati batas kepala, menekan tuts A E G secara serentak, dua detik untuk nada kres, lalu menekan persegi panjang berbahan padat hitam putih itu dalam waktu sekon yang sama. Untuk nada akhir, untuk simfoni yang berhenti, dan gedung pertunjukan yang hening.

Laki-laki itu menarik napas sepanjang mungkin, lalu memejamkan mata.

Lima detik setelahnya, seseorang berdiri tegak dan berteriak.

Bravo!”

Seokjin membuka mata cepat, tepat ketika suara tepuk tangan menggema di seluruh gedung pertunjukan. Iramanya berdengung konstan, terpantul begitu rapi. Ia selalu menyukai suara itu, suara tepukan Ayah dan Ibunya, suara tepukan Taehyung yang—terlampau—berlebihan, dan suara tepukan penonton. Seolah-olah membutakannya dari kenyataan.

‘Saat kau sudah berada di konser tunggalmu nanti, bermain dengan sungguh-sungguh, dan tepat setelah permainanmu selesai,’

Matanya melirik tempat yang diberitahukan oleh benaknya secara spontan, memandang kursi yang terletak paling atas, paling ujung, dan lebih terisolir. Seokjin sedikit berharap, bahwa ucapan yang berdengung dalam pikirannya itu benar. Bahwa suara gadis unik yang selama ini mengandung rindu itu nyata.

‘Kau bisa melihat bangku paling atas, Seokjin-ah.’ 

Seokjin memandangnya agak lama. Selang beberapa detik, senyum simpul melukis paras lelahnya.

Gadis angsa dengan dress biru muda itu ikut bertepuk tangan.

.

~oooOOOooo~

Glossarium :

En pointe atau Pointe work : berjinjit hingga ujung jari kaki sembari melakukan gerakan-gerakan balet. (source : Wikipedia).

Pas de Deux : dalam bahasa Perancis, kalimat ini bisa diartikan; step of two. Atau tarian yang dilakukan oleh dua orang; laki-laki dan perempuan.

Arabesque : salah satu gerakan dalam balet. Di mana penari berdiri dengan satu kaki sedangkan kaki lainnya direntangkan ke belakang.

Pirouettes : berputar-putar di atas kaki.

(*) Kunci not di atas (B mol, A, G, A, dan seterusnya) : merupakan kunci nada lagu Lacie.

.

Tambahan : soundtrack lagu fanfiksi ini bisa dilihat di (https://www.youtube.com/watch?v=PV56Ds7D-hk)

.

Terima kasih : )

 

Advertisements

3 thoughts on “[What is Your Color?] Tutu In Your Melody – Oneshot

  1. Hyeri27

    Yaampun… Ff apa yang aku baca tadi… Bener-bener luar biasa…. Aku suka jalur ceritanya karna jarang ada yang nulis ff yg menghubungkan sm musik dan tarian. Feelnya dpt! Walaupun ada beberapa istilah yang aku gk ngerti, tapi untungnya author jelasin di bagian akhir. Tapi ff ini ttp patut dibaca! Jjang, author daebak! Lanjut terus, selamat berkarya! Fighting!!

    Like

  2. EruCchi

    Aduhh… speechless author nim
    Aku sukak bahasamu, bikin hurtnya kerasa bgt 😭😭
    Cinta bgd aqhu sama Seokjin, karakternya cool di sini❤❤❤

    Kapan2 bikin fic lagi, semangat thorr. Aku menunggu -apalagi yg ada Jinnya – karyamu 💗❤❤❤

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s