[What is Your Color?] Green Light – Oneshot

Green Light

Green Light

Title                 :Green Light

Nama Author : snineteen-hope

Genre              : Romance,Family

Lenght             : Oneshot

Rating             : PG-15

Cast                 : Jung Hoseok, Jung Eunji, OC.

Disclaimer       : Semua tokoh di sini adalah milik Tuhan, akan tetapi jalan cerita adalah hasil pemikiran kecil saya.

Summary         :  Ketika ketidakdewasaan itu hadir, semua yang ada di sekitarmu akan terlihat salah. Namun, seiring berjalannya waktu ketidakdewasaaan itu harus dihapuskan. Dengan kekuatan dari hati yang ada, akan dapat membantunya. Dan cobalah untuk merangkul orang di sekitarmu.

***

Di pagi hari pertama musim dingin tahun ini akan menjadi hari yang berat bagi Jung Hoseok. Pria tampan itu harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama untuk sampai di tempat bekerjanya. Semenjak pindah beberapa hari yang lalu, Hoseok harus siap dengan kondisi yang akan ia alami itu. Ia harus tetap bersama dengan kedua orang tuanya.

Tidak nyaman jauh dengan orang tua bukan masalah pindahnya Hoseok, melainkan ia harus membantu bisnis keluarganya. Keluarganya menjalankan bisnis kedai makanan yang cukup ramai di daerahnya. Hoseok harus membantu sebagai pelayan di kedai makan tersebut sepulang ia kerja. Orang tuanya tidaklah sanggup memperkerjakan orang lain. Setelah dihitung-hitung pendapatan perharinya sangat terbatas hanya untuk pembelian bahan baku makanan itu lagi.

“uh, dinginnya !” Ucap Hoseok sesaat setelah ia turun dari kereta.

Dengan pakaian yang sangat tebal dan syal yang semuanya berwarna cerah dan mencolok, ia tampak percaya diri melanjutkan perjalanannnya. Walaupun di sekelilingnya banyak yang menertawakan gaya busananya. Hanya 200 meter lagi dia akan sampai ke tempat dimana dia menghabiskan setengah harinya di sana. Hoseok pun langsung mempercepat langkahnya, karena ia tidak mau mati beku di jalan.

Berlainan dengan Hoseok yang berjalan, seorang gadis melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tepat di samping trotoar tempat Hoseok berjalan. Walau tidak dirugikan akan tidakan gadis itu, Hoseok tetap menyayangkan perbuatannya.

“Banyak hal yang bisa ia dapatkan dengan mudah. Tidak bisakah dia menjaga kehidupannya sendiri ?” Ujar Hoseok sambil menatap tajam plat mobil pria itu sebelum akhirnya ia lanjut berjalan.

“Dasar anak kecil !!!” Lanjutnya kemudian.

Di kantor, Hoseok dapat bernapas lega bahwa ia tidak terlambat. Ia langsung pergi ke dapur kantor untuk minum teh. Hoseok tampak sekali lelah, sampai tidak memperhatikan jika gelasnya sudah penuh.

“Oh tidak, tidak, tidak, jangan tumpah !” Hoseok panik. Ia langsung mengeluarkan semua yang ada di pakaiannya yang bisa untuk mengusap tumpahan teh yang ada di lantai.

“Oh jangan syal ini, ini sangat berharga, mana sapu tanganku ?”

“Dimana mereka meletakan kain pelnya ?” Hoseok terus mencari kainnya dan tangannya terus bergemetaran.

“Ada apa disana ?” Suara seorang gadis yang mengagetkan Hoseok.

Gadis itu mendekati Hoseok. Hoseok bingung dengan kedatangan gadis itu. Dia terus berpikir tentang siapa gadis itu. Hoseok dalam keadaan bingung tapi tangannya tetap saja gemetar dan itu terlihat oleh gadis itu.

“Apa kamu melakukan hal yang salah di kantor ayah saya ini ? kenapa tanganmu terus gemetaran” tanya tegas gadis itu.

Dari sana Hoseok mulai mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Hoseok langsung menjelaskan semua yang terjadi. Ia meyakinkan gadis itu bahwa tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Namun, gadis itu berpendapat lain. Ia bersikukuh bahwa Hoseok menyembunyikan sesuatu.

“Ayolah jangan membuatku di posisi yang sulit. Aku hanya menumpahkan beberapa mili liter teh saja. Itupun dapat ku bersihkan. Ayolah jangan berbelit.” Bujuk Hoseok agar tidak memperpanjang masalah itu.

“Tidak terjadi apa-apa ? kau berbohong ! lihatlah tanganmu itu !” Ketus gadis itu

“Apa ? Tangan ?”

“Oh ini…. “

Hoseok menjelaskan kalau tangannya memang sering bergemetaran. Dan itu tidak memandang waktu. Entah saat Hoseok sedang terdesak, sedih, bingung, maupun senang tangannya akan seperti itu. Dan Hoseok juga memberitahu gadis itu, bahwa baru dia di antara orang kantor yang di beri tahu mengenai tangannya itu. Dan bahkan Hoseok belum mengetahui namanya

“Aku tak peduli dengan hal itu. Sekarang ikut aku ! Kau harus menemui atasanmu dahulu. Lihatlah dapur menjadi berantakan karnamu ! “ Ucap tegas gadis itu.

Akhirnya mau tidak mau Hoseok harus bertemu atasannya dan menceritakan kejadian yang ia alami di dapur. Hoseok berpikir ia memang harus betemu atasannya dan membuat gadis itu puas. Karena sifat gadis itu sungguh tidak pas untuk diajak debat oleh Hoseok.  Atasan Hoseok kemudian memberi sanksi kepada Hoseok dan mengucapkan terima kasih kepada gadis itu karena telah melaporkan kejadian itu. Dan memohon agar tidak melaporkan kejadian itu kepada presdir karena akan diselesaikan sendiri olehnya.

“Tidak masalah pak. Keamanan, kebersihan, dan semua yang ada di kantor ini harus tetap terjaga. Bukankah begitu ?” Ucap gadis itu dan atasan itu tersenyum mendengarnya.

Hoseok keluar ruangan atasannya dengan kesal. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan gadis itu. Hanya karena menumpahkan teh, ia harus mendapat tugas tambahan menjadi cleanning service sehari.

“Mengapa harus bertemu gadis itu !!!” Ucap Hoseok marah sambil melonggarkan pakaian tebalnya itu.

Hoseok kembali ke tempat bekerjanya. Ia harus menyelesaikan pekerjaan kantornya dahulu baru melanjutkan menjalankan hukumannya. Masih banyak proposal yang harus selesaikan dan diperbaiki. Sempat Hoseok memikirkan tingkah ketidakdewasaan gadis itu, namun ia langsung menghapusnya dengan amarahnya.

“Semoga tidak bertemu lagi, jangan bertemu, jangan bertemu. Semoga dia hilang !!!” Hoseok terus saja berguman selama ia bekerja.

“Tunggu ? Hilang ? “ Hoseok merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

“Ponselku ! Dimana kamu sayang ?”

Hoseok kembali panik. Belum sempat menyelesaikan tugasnya ia kehilangan ponselnya.  Ia berusaha untuk menyelesaikan tugas kantornya dahulu. Ponsel dan tentang gadis itu, Hoseok harus menyingkirkan itu dahulu. Hoseok tidak ingin tugasnya menumpuk nantinya.

“Sayangku nanti akan ku cari kau. Semangati aku untuk tugas menumpuk ini dahulu. Huhuhu” Hoseok langsung mengeluarkan banyak tenaga  baik tangan yang terus mengetik dan pikiran yang terus berpikir.

Saat jam makan siang Hoseok tetap melanjutkan pekerjaannya.Teman-teman kantor Hoseok pun juga peduli dengan keadaannya saat ini. Mereka memberikan semangat kepada Hoseok. Ada pula yang membawakan minuman untuknya. Hoseok adalah orang yang hangat jadi tidak salah ia mendapatkan kehangatan pula dari orang disekitarnya.

“Hoseok kami harus bekerja sangat keras. Minumlah itu dan cepat selesaikan tugasmu. Semangat Hoseok !” Ucap Senior Hoseok menyemangati Hoseok.

“ Ya Sunbaenim~

Saat teman disampingnya bertanya mengenai pertemuaannya dengan seorang gadis yang hingga membuatnya mendapatkan pekerjaan tambahan, Hoseok sontak menghentikan pekerjaannya lalu melanjutkannya lagi. Dalam keadaan masih mengetik ia bertanya bagaimana dia bisa mengetahuinya. Temannya juga berkata bahwa hampir semua mengetahui gadis itu kecuali Hoseok yang masih baru di Kantor ini.

“Gadis itu, sering menghukum,menjahili, menindak orang sesuka hatinya. Banyak orang dan karyawan di sini merasakannya. Dia sangat kekanak-kanakan. Sedikit-sedikit melapor. Dia sungguh gadis yang buruk. ” Jelas temannya yang tampak tidak suka dengan gadis itu.

“Aku bahkan belum mengetahui namanya. Bukankah dia anak presdir ?”Tanya Hoseok dan temannya itu langsung menceritakan tentang gadis itu.

* * *

Sejak kecil gadis itu hanyalah seorang diri. Menjalani kehidupan yang berat ini tanpa hadirnya bimbingan orang tuanya. Mereka tidaklah meninggal atau pergi jauh meninggalkannya, hanya saja mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hari –hari anak itu dipenuhi kesendirian dan kesepian. Dan kedua hal itulah yang akhirnya membuatnya menjadi sosok yang jahil. Jung Eunji adalah nama gadis jahil itu.

Ahjumma~ aku baru saja memberikan hukuman pada seseorang hari ini. !” Kata Eunji kepada pembantu di rumahnya.

“Sudahlah jangan bertingkah seperti itu. Jika nona ingin sesuatu bicaralah. Kami disini siap menyenangkan hati nona.” Ucap ramah Kang Ahjumma, Kepala Pembantu di rumah Eunji.

Banyak hal yang dipendam dipikiran Eunji. Namun ia tidak bisa mengatakannya kepada para pembantunya. Walaupun hanya pembantunya yang siap sedia kepadanya.

“Aku hanya ingin Ayah dan Ibu.” Batin Eunji.

Eunji lalu meminta pembantunya untuk menyiapkan makanan untuknya. Sebari menunggu pembantunya menyiapkan makanan, Eunji bermain golf di dalam rumahnya. Dengan fasilitas area bermain yang ia punya ia merasa dapat merasakan kepuasan di sana. Gadis itu bahkan membuat area bermainnya tampak berantakan.

“Maaf Ahjumma, aku menambahkan perkerjaan untuk kalian.” Ucap Eunji dengan tersenyum jahat. Kemudian ia mencari ponselnya karena ada seseorang yang perlu ia hubungi.

“Ponselku ?” Eunji bertanya pada dirinya sendiri dan setelah mendengar ada tamu datang ia berdiri dan menghampirinya.

“Ponsel itu… Ponsel ku ! pasti kau yang membawanya bukan ?” Tanya tegas Hoseok

“Kau menuduhku, hah ?” Jawab ketus Eunji

Hoseok teringat bahwa terakhir ia mengeluarkan ponselnya yaitu saat mencari kain pel dan meletakkannya di meja dapur kantor. Dan setelah itu ia pergi meninggalkan ponselnya di dapur. Eunji lalu bertanya kepada Hoseok bukankah dia pergi disaat yang bersamaan dengan Hoseok. Hoseok juga mengakui kebenaran itu. Tapi Hoseok menambahkan saat keluar ia tidak bersama dengan Eunji.

“Kau yang pertama keluar dari ruang atasanku dan setelah itu aku pergi dan sempat melihatmu keluar dari dapur itu.” Jelas Hoseok.

“Apakah benar yang kau lihat itu aku ?” Bantah Eunji

Flashback

            Eunji datang ke kantor ayahnya untuk mengisi rasa bosannya. Ia berencana mengajak ayahnya pergi untuk sarapan di kantin kantor. Karena itu pertama kalinya ia mau mengajak ayahnya, Eunji tampak gugup. Ia mengeluarkan satu uang koin dari dompetnya dan melemparnya keatas lalu menangkapnya. Hal tersebut terus Eunji lakukan selama perjalanan masuk ke dalam kantor. Eunji yakin rasa gugupnya akan hilang selama ia asyik bermain koin.

            Namun, koin itu tiba-tiba luput dari tangkapannya dan akhirnya menggelinding. Koin tersebut terus menggelinding sampai di depan dapur kantor. Eunji melangkahkan kakinya mengikuti koin tersebut dan berencana mengambilnya lagi. Namun, Eunji kaget melihat kondisi dapur yang berserakan dan lantai yang kotor akibat tumpahan teh Hoseok. Eunji pun memilih untuk menegur Hoseok dan membawa Hoseok ke atasannya.

            Setelah selesai dengan atasan Hoseok, Eunji pamit keluar. Di luar Eunji mendapat telpon dari ayahnya bahwa ayahnya ada rapat mendadak. Eunji juga dilarang untuk menganggu ayahnya itu beberapa hari ini karena ada proyek besar yang sudah direncanakan. Eunji memutuskan untuk pulang ke rumah.

            Setelah melewati dapur kantor, Eunji teringat akan koinnya. Ia memutuskan kembali ke dapur dan mencari koinnya itu. Hoseok sempat melihat Eunji ada di sekitar dapur pada waktu itu. Dan Eunji tidak di dalam dapur itu, ia hanya berada di depan dapur.

***

Setelah Eunji mengajak Hoseok melihat rekaman CCTV, Hoseok merasa bersalah telah menuduh Eunji. Namun, ia masih khawatir akan ponselnya itu. Ia harus bisa menemukan ponselnya. Ia pun meminta bantuan Eunji untuk melihat CCTV di dalam dapur.

“Mengapa harus aku ? kau bahkan menuduhku !” Cetus Eunji

“Kau yang mempunyai wewenang atas mereka. Ayolah nanti aku belikan permen !”

“Apa katamu ? Permen ?”

“Ya, karaktermu yang seperti anak kecil bukannya suka permen. Nanti aku ajak kau ketempat penjual permen ternikmat. Bahkan kau tak bisa mencarinya di Google Maps” Ucap Hoseok

Hoseok berusaha meyakinkan Eunji untuk dapat membantunya. Hoseok berpikir Eunji itu orang yang baik. Sekalipun tingkahnya yang kekanak-kanakan ia juga seorang gadis yang berperasaan. Hoseok ingin melihat sisi baik Eunji itu.

Eunji bukanlah orang yang mudah percaya kepada orang baru. Hoseok adalah orang yang telah menimbulkan kekotoran di kantor ayahnya dan baru saja ia telah menuduhnya mencuri. Eunji benar-benar merasa takut pada Hoseok.

“Dimana rumahmu ? alamat pastimu ?” Tanya Eunji tiba-tiba

“Mengapa kau bertanya itu ? Aku tidak sembarangan memberikan alamat rumahku kepada sembarang orang.” Jawab Hoseok

“Seperti itulah aku saat ini. Aku bahkan tidak tahu siapa kamu. Aku tidak bisa sembarangan membantu orang. Siapa tahu kamu adalah orang yang buruk.” Ucap Eunji

Hoseok berpikir Eunji belum percaya kepadanya. Akhirnya Hoseok memperkenalkan dirinya secara resmi di depan Eunji. Ia juga menanyakan nama Eunji da meminta Eunji memperkenalkan diri. Malu – malu Eunji akhirnya memperkenalkan diri. Walaupun Hoseok telah mengetahui nama Eunji dari temannya, tapi ia merasa lebih dekat sekarang. Hoseok memberitahu alamat rumahnya.Eunji pun akhirnya mau membantu Hoseok agar dapat melihat CCTV dapur.

Eunji dengan ramah memohon kepada petugas keamanan untuk memperlihatkan padanya dan Hoseok rekaman CCTV bagian dapur. Ucapan ramah Eunji diperhatikan Hoseok. Hoseok merasakan kesejukan di saat mendengar keramahan Eunji itu. Ia bahkan sering tersenyum melihat cara bicara Eunji. Hoseok akhirnya dapat melihat sisi baik Gadis jahil itu.

Setelah diperlihatkan rekamannya ternyata ponsel Hoseok tidak sengaja tersenggol oleh karyawan kantor dan masuk ke tempat sampah. Eunji menanyakan apakah Hoseok sudah mencari ponselnya di dapur sebelumnya. Dengan wajah memerah, ia menunduk dan menggelengkan kepalanya. Hoseok tadi hanya terus berpikir bahwa Eunji lah pelakunya, dan ia cukup yakin. Namun, malah ia yang kurang teliti dalam mencari. Hoseok langsung pergi mencari dan mengambil ponselnya di tempat sampah.

Aigo~. Sayangku kotor sekali. Tenanglah sayang, kau sudah di tanganku. !” Ucap Hoseok senang.

Suasana kegembiraan tampak pada wajah Hoseok. Eunji sempat sekali tersenyum saat mendengar nama sapaan Hoseok untuk ponselnya itu. Keduanya lalu saling bertatapan. Hoseok ingin sekali mengatakan terima kasih kepada Eunji. Begitu pula Eunji ingin sekali menagih permen yang di janjikan Hoseok. Mereka tiba –tiba memanggil satu sama lain secara bersamaan.

“Bahkan kau sedang memikirkanku sekarang kan ?” Goda Hoseok.

“Bukannya kau yang ingin sekali berbicara denganku. Kau ingin mengucapkan….. itu kan ?” Bantah Eunji.

“Eh ? Itu ? oh.. Terima kasih Eunji” Ucap Hoseok dengan tersenyum manisnya

“Baguslah kau sadar. Janjimu ?” Tagih Eunji

Tangan Hoseok gemetaran saat Eunji menagih janjinya. Eunji bertanya apa Hoseok melupakan itu. Hoseok berkata tidak, namun ia tidak bisa menepatinya di hari itu juga. Eunji tampak kesal, ia sangat menginginkan permen itu. Sudah lama Eunji tidak makan permen. Dia sering meminta kepada orang tua dan pembantunya namun tidak pernah dibelikan.

“Maaf, petang ini juga aku harus pulang. Orang tuaku sudah menungguku.” Ucap Hoseok dengan nada menyesal.

Eunji memaafkan Hoseok setelah ia mendengar kata orang tua. Eunji tidak ingin membuat orang tua Hoseok sedih. Hoseok pun berjanji lagi akan menepati janjinya itu besok. Ini membuat mereka berdua akan bertemu kembali.

Di perjalanan pulang yang panjang, tangan Hoseok terus saja gemetaran. Hoseok lalu berkata pada tangannya itu bahwa ia menemukan kesejukan dalam kehangatan. Hoseok lalu tersenyum dan menatap keluar jendela kereta. Dinginnya malam itu tidak terasa bagi pria tampan itu.

“Ibu ayah, aku pulang~” Sapanya sesampainya di kedai ayahnya. Hoseok langsung beranjak masuk ke dalam rumah dan bersiap membantu orang tuanya.

“Makan makan dulu sana !” Suruh tuan Jung pada anaknya yang tampak kelelahan itu. Langkah Hoseok terhenti ketika mendengar perintah ayahnya itu.

“Ayah mengerti apa yang anakmu ini inginkan ! baiklah aku akan makan dulu ! nyam nyami~” Hoseok mengganti arahnya dan menuju ke dapur dengan senangnya.

Suasana makan malam yang hangat dinikmati Hoseok. Walau ia makan sendiri, ternyata ada sesuatu yang menemaninya. Pria ini tersenyum bahagia setiap melahap masakan ibunya itu dengan sendoknya.  Ada begitu banyak hal yang serasa ingin ia luapkan, yakni kebahagian. Ia sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang hangat kepadanya.

“Bagaimana dengan gadis itu ?” Hoseok kemudian teringat Eunji

Setelah makan malam selesai, Hoseok pergi ke kedai dan siap untuk melayani pelanggan yang mampir ke kedainya. Dengan sikap hangat dan ramahnya itu, Hoseok mampu melayani pelanggan dengan baik. Berbagai pujian sering dilontarkan pelanggan terutama para ibu-ibu. Hoseok adalah pekerja keras. Ia sangat terampil dalam berbagai bidang. Fakta-fakta tersebut membuat Hoseok mulai digemari para ibu-ibu.

“Tuan Jung, mengapa baru sekarang mengenalkan anak emasmu ini pada pelangganmu ini ?” Teriak pelanggan kepada ayah Hoseok yang sedang menyiapkan pesanan. Dan ayah Hoseok hanya tertawa kecil mendegarnya.

Setalah kedai tutup, Hoseok tiba-tiba meminta waktu kepada ayahnya untuk bicara. Hoseok menjelaskan ia harus meminta pendapat  ayahnya mengenai suatu hal. Tuan Jung tampak lelah malam itu. Ia meminta waktu sebentar pada anaknya untuk menunggu sebentar, karena ia mau istirahat dahulu. Hoseok menyanggupinya.

***

Keesokan harinya, Hoseok seperti biasa bangun lebih pagi dan berangkat ke kantornya. Dengan perjalanan jauh sudah mulai terasa terbiasa olehnya. Hoseok pagi itu tampak sumringah. Raut mukanya cukup tenang dan santai. Ia juga sesekali tersenyum kepada orang-orang di sampingnya lalu menyapanya.

Setiba di kantor, Hoseok langsung menuju tempatnya dan pergi sebentar ke dapur. Ia ternyata berharap dapat bertemu dengan Eunji lagi di sana. Ia melakukan hal yang sama seperti kemarin. Namun ia tidak menumpahkan tehnya. Hoseok mengulur waktu menunggu gadis itu dengan berlama-lama meminum teh itu. Namun hasilnya nihil, Eunji tidak datang waktu itu.

“Mengapa aku menunggunya tadi ?” Ucap kesal Hoseok saat kembali ke tempat kerjanya. Hoseok terlihat tidak senang dengan ketidakhadiran Eunji pagi itu. Hoseok berharap sekali terjadi deja vu.

“Ah, mengapa aku tidak memberitahunya tempat bertemunya kemarin ?  Jika aku memberitahunya aku akan lebih mudah bertemu dengannya. Apa aku harus selalu menunggu kedatangan gadis itu ?” Hoseok menyesal ia kemudian bertingkah seperti anak bayi di depan komputernya.

Tidak lama dari itu, seorang gadis datang dengan kewibawaannya. Semua karyawan tidak ingin melewatkan untuk melihatnya. Mereka juga menyapa gadis itu dengan ramah dan sopan. Mereka bahkan memberikan jalan untuk gadis itu. Namun, sapaan ramah itu lewat begitu saja tanpa balasan, dan jalan itu terbuka sia-sia. Jung Eunji adalah gadis itu. Eunji langsung menuju ke gedung paling atas, ruang ayahnya.

“Lihatlah dia, jika dia bukan anak presdir aku tidak akan baik padanya ! cih !” Luapan emosi teman Hoseok.

“Dia bahkan tidak mengenalku.” Batin Hoseok yang tampak sedih melihat sikap Eunji.

***

“Ayah aku terima tawaran ayah untuk pergi ke Paris.” Kata Eunji dengan nada sopan di depan ayahnya

“Mengapa kau akhirnya menyetujuinya ?” Tanya sang ayah

“Aku, hanya ingin bersama ayah dan ibuku. Namun, apa daya kalian tidak ada untukku. Di sini hanya kalian, maka dari itu keinginanku itu tidak akan hilang. Sekarang aku putuskan untuk pergi. Agar aku dapat menghilangkan keinginan itu.”

Pernyataan Eunji membuat ayahnya tercengang. Ayahnya meminta maaf sebelumnya kepada putri tunggalnya itu. Ia menjelaskan bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah untuk EunJi dan berharap Eunji menyadarinya. Eunji hanya diam mendengarkan perkataan ayahnya itu.

Gadis itu tetap menatap ayahnya dengan penuh keyakinan bahwa ayahnya dapat mengerti perasaannya. Bukan permintaan maaf yang Eunji inginkan saat itu. Dalam hati kecil anak itu, tersimpan berjuta keinginan yakni kebersamaan bersama orang tuanya. Eunji bahkan menahan air matanya agar tidak keluar dengan terus menatap ayahnya itu.

“Eunji, Kau putri satu-satunya ayah. Kau yakin akan melepaskan orang tuamu ini ? Bukankah kau menyayangi kami ?” Bujuk ayahnya agar Eunji mengurungkan niatnya itu.

“Sayang ? Lalu bagaimana dengan kalian ? adakah sayang untukku ?” Kalimat yang masih dalam pikiran Eunji.

Eunji sangat menyayangi orang tuanya. Ia sebenarnya berat untuk berpisah apalagi lebih jauh dari orang tuanya itu. Mengatakan hal yang membuat mereka sedih juga berat untuk diucapkan. Hanya saja hari ini, gadis itu telah membuat ayahnya sedih. Eunji masih tetap menyembunyikan permintaan maaf atas perkataan kepada ayahnya itu. Eunji ingin sekali saja ayahnya dapat mengerti dia.

“Ayah, sekalipun aku ingin melepas ayah, itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika itu lepas, hatiku ini masih tetap mengingat nama dan wajah ayah.”Batin Eunji yang masih dalam kondisi diam menatap ayahnya.

Ayahnya akan memikirkan waktu dahulu sebelum memutuskan pembelian tiket Eunji. Setelah mendengar perkataan ayahnya tersebut, Eunji langsung pamit. Di setiap langkah Eunji, ayahnya terus menatap anaknya itu. Ia sangat berat melihat anaknya bergerak menjauhinya.

Di jam istirahat, Hoseok berniat mencari Eunji. Ia berpikir gadis itu masih ada di kantor, karena ia melihat mobil Eunji masih terparkir. Dan pencarian Hoseok pun membuahkan hasil. Ia menemukan Eunji di atap gedung.

“Gadis itu, benar-benar kekanak-kanakan.”Ucap Hoseok sambil melangkahkan kakinya mendekati Eunji yang tengah duduk di pinggiran atap.

Eunji menyadari kedatangan seseorang dari belakangnya. Ia kaget melihat Hoseok menghampiri dirinya. Eunji tiba-tiba menatap aneh Hoseok, yang hanya ia yang mengetahui maknanya.

“Aku datang membawa ini !” Kata Hoseok dengan menunjukan permen ternikmat yang ia beli saat berangkat ke kantor.

“Bukannya kamu akan mengajakku pergi ?”Tanya Eunji

“Maaf, tokonya tutup setiap sore. Jadi aku belikan saja ini, dan kita nikmati kesejukan musim dingin ini dengan permen ini.”Ucap bahagia Hoseok sambil memberikan satu permen kepada Eunji.

Sebelum mengambil permen itu dari tangan Hoseok, Eunji sempat menatap Hoseok dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. Hoseok bertanya pada Eunji apa dia menikmati permennya. Eunji hanya mengangguk. Hoseok mengartikan bahwa itu bahwa itu biasa saja. Jika Eunji menyukainya harusnya dia mengatakan menyukainya seperti itulah pemikiran pria itu. Raut muka Hoseok berubah sedikit menyesal, dan Eunji melihatnya.

“Aku menyukainya.” Ucap Eunji dengan ramah dan tersenyum dihadapan Hoseok. Pria itu pun kembali tersenyum dengan manisnya.

“Apakah kau menyukai kesejukan ?” Tanya Eunji kemudian.

“Aku tidak begitu mengerti itu bisa terjadi. Hanya saja aku tidak sering mendapatkannya, aku menyukainya.” Jelas Hoseok.

“Aku dengar kau adalah orang yang hangat. Kau sangat mudah mendapatkan kehangatan dari orang lain. Kau tidak puas akan itu ?” Tanya Eunji lagi.

“Aku tidak mau serakah. Keinginanku itu bahkan bukanlah kepuasan. Aku hanya ingin menyenangkan hatiku ini. Aku merasa lebih tenang disaat suasana yang sejuk.” Ungkap Hoseok, Eunji hanya terdiam.

“Apakah kau ingin mengetahui, dimana aku mendapatkan kesejukan itu ?” Hoseok menawari namun Eunji tidak ingin mengetahuinya. Hoseok terus membujuknya agar mau, namun Eunji tidak mau.

“Itu kamu. Dimana hatiku ini dapat merasakan kesejukan. Bersamamu!” Ucap Hoseok tiba-tiba, Eunji menatap Hoseok.

Suasana menjadi canggung. Eunji hanya terdiam dan Hoseok masih menunggu tanggapan darinya. Hoseok terus berpikir bagaimana caranya memecahkan suasana ini. Namun, suasana terpecahkan oleh Eunji.

Eunji berkata kepada Hoseok bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Hoseok bingung, sesuatu apakah yang dimaksudkan Eunji. Eunji tidak menjelaskan secara detail. Ia hanya berkata ia tidak ingin merasa bersalah, lalu apa yang harus ia lakukan.

“Eunji, menyembunyikan sesuatu itu bukan hal yang baik. Jika kau masih tetap bersembunyi dalam ketakutanmu maka itu adalah ketidakdewasaan. Cepatlah meminta maaf jika sesuatu itu adalah keburukan. Dan cepat jelaskan jika itu adalah hal yang penting.”Saran Hoseok. Pria itu kemudian menepuk punggung gadis itu dengan lembut, dan Eunji hanya menatap Hoseok

“Aku menyembunyikan kesedihan.“ungkap Eunji

“Kau adalah orang yang ramah. Mengapa aku menemukan kesejukan dalam dirimu ? Kau memancarkan sinar itu. Kau dengan senyumanmu itu. Sedingin apapun senyummu itu, itu adalah sebuah pohon untuk orang di sekitarmu.” Kata Hoseok dan menunjukkan senyuman terbaiknya kepada Eunji.

“Dan aku akan membuatmu merasakan kesejukan itu. Aku akan berusaha memancarkan sinar itu kepadamu. Itupun jika kau menganggapku ada.” Tambah Hoseok.

Eunji tersenyum kecil. Eunji memikirkan semua perkataan Hoseok. Ia beranggapan Hoseok adalah orang yang bijak. Ia kemudian bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia harus percaya kepada Hoseok. Sebelum Eunji meninggalkan kantor, ia meninggalkan nomor ponselnya kepada Hoseok. Ia berharap dapat berteman lebih dekat dengan Hoseok. Dan Hoseok tersenyum dan sangat senang mendengarnya.

***

Malam itu, nampak seseorang sedang menulis surat. Surat tersebut seperti surat perpisahan. Tepat di kalimat terakhir, jangan pernah lupakan aku dan tetaplah mengenalku. Surat tersebut terlipat rapi dan siap untuk dikirim. Malam itu terasa sangat sunyi dan dingin.

Keesokan harinya, tiket penerbangan ke Paris telah sampai ditangan Eunji. Nampaknya Eunji membelinya sendiri tanpa persetujuan dari ayahnya. Ia sempat menitipkan sebuah surat kepada pembantunya untuk disampaikan kepada ayahnya. Eunji pun berangkat menuju bandara.

Eunji tampak bimbang dengan keputusannya tersebut. Ia memberitahu Hoseok, bahwa ia akan pergi ke Paris hari ini, dengan jam penerbangan pukul 12.00 KST. Sebelumnya ia sudah berencana mengirimkan Hoseok surat, namun ia takut surat tersebut tidak terbaca oleh pria itu. Eunji berharap Hoseok dapat memberikan nasihat terakhir kepadanya.

Mobil Eunji bergerak pelan. Hal ini berbeda seperti biasanya. Gadis itu benar-benar sedang banyak pikiran. Ia tidak mempunyai seseorang untuk cerita.

“Kemana pria itu ? kemarin malam saja dia masih membalas pertanyaanku.”Keluh Eunji.

Mata Eunji tiba-tiba menatap sesuatu di luar mobilnya. Kakinya sontak memijak rem, dan membuat mobilnya berhenti. Dengan langkah terburu-buru ia turun dan menuju ke kotak surat. Ia berharap itu adalah surat dari ibunya. Ibunya yang sekarang ada di China.

Tangan Eunji gemetar saat mengambil surat itu. Ia benar-benar merindukan ibunya. Namun, setelah membaca nama pengirim surat tersebut mata Eunji membesar. Ia bahkan menatap sekali lagi dengan mendekatkan surat tersebut ke matanya.

“Jung Hoseok ?” Kaget Eunji. Gadis itu bingung mengapa Hoseok mengiriminya surat. Hoseok bahkan sudah memiliki nomor ponsel Eunji.

***

Eunji, Kesejukanku

Melalui surat ini aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku bukanlah orang yang dewasa. Aku bahkan tidak berani mengatakan itu secara langsung. Tapi saat ini aku mencoba untuk melupakanmu. Aku meminta maaf. Aku tidak akan bisa didekatmu sekarang, besok, dan suatu hari nanti. Maka dari itu, aku ingin melupakanmu.

Sebenarnya aku tidak bisa menghilangkan kesejukan dari hatiku. Namun, apadaya kesejukan itu akan sulit untuk aku dapatkan lagi. Aku hanya memohon padamu. Carilah kesejukan dalam dirimu sendiri, dan rasakan itu. Aku juga akan mencari kesejukanku sendiri. Jadilah pohon penyejuk untuk orang disekitarmu.Pancarkan sinar kesejukannmu. Sayangilah orang tuamu.

Terakhir, aku mengucapkan terima kasih, kau telah percaya padaku. Aku bukanlah pria yang baik. Aku bahkan sering melanggar janjiku. Aku meminta satu hal padamu. Tolong jangan pernah lupakan aku, tetaplah mengenalku.

Salam, Hoseok.

***

Eunji tidak mengerti apa yang ditulis oleh Hoseok dalam surat itu. Ia bahkan akan pergi ke Paris. Eunji benar-benar sedih melihat surat tersebut. Hoseok membuat hatinya sedih disaaat menyatakan cinta kepadanya.

“Bagaimana ada pria seperti itu ?” Ucap ketus Eunji dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Di sisi lain, Hoseok tengah berada di dalam pesawat terbang. Pria itu pergi ke China. Ia telah dipindahtugaskan di sana. Dalam jangka yang cukup lama Hoseok akan menghabiskan masa mudanya di sana. Hoseok tengah menatap keluar jendela pesawat. Dia memikirkan Eunji di lamunanya.

“Eunji, maafkan aku. Jika kita ditakdirkan bertemu lagi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” Batin Hoseok.

Flashback

            Setelah menunggu lama ayahnya istirahat, akhirnya ayahnya keluar juga.  Hoseok merasa senang ayahnya mau mendengarkan ceritanya. Malam itu, Hoseok meminta saran dari ayahnya apa yang harus ia pilih.

“Tetap disini dengan penghasilan yang sama setiap bulannya, ataukah pergi ke China dengan penghasilan tambahan. Aku mendapatkan surat perintah untuk dipindahtugaskan di China.” Ungkap Hoseok.

“Kau benar-benar anak yang berbakat. Bahkan atasanmu mengakui kemampuanmu. Ayahmu ini bangga terhadap semua yang kamu lakukan. Kau rela pindah dan menempuh perjalanan yang jauh demi orang tuamu ini. Dan kau bahkan tidak pernah mengeluh.” Jelas ayahnya.

“Lalu aku harus bagaimana ?”

“Pergilah. Kau mungkin akan mendapatkan pengalaman di sana. Jangan sampai kau mengecewakan atasanmu. Kau adalah tipe orang yang mencintai semua orang.” Hoseok mengangguk setelah mendapatkan nasihat dari ayahnya itu.

“Dan akhirnya aku harus mengecewakan cinta pertamaku.” Batin Hoseok.

***

Di dalam kantor, ayah Eunji sedang membaca surat kepergian dari anaknya itu. Pembantunya yang memberikan langsung padanya. Mereka ingin tuannya itu dapat mencegah kepergian Eunji. Ayahnya merasa bersalah kepada Eunji. Pembantunya saja dapat begitu sedih melihat kepergian Eunji. Tuan Jung pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju bandara setelah membaca surat dari anaknya.

Dengan surat yang masih ada di tangannya, Tuan Jung mempercepat langkahnya. Tiba di lobi kantor, ia kaget melihat anaknya disana. Eunji menatap ayahnya dan langsung berlari lantas memeluk ayahnya itu. Keduanya merasakan hangatnya musim dingin dalam pelukan.

“Eunji tidak akan meninggalkan ayah.” Ucap Eunji dalam pelukan ayahnya itu, dan ayahnya tersenyum mendengarnya dan mempererat pelukan mereka.

Eunji telah bertekad akan menjadi pohon seperti Hoseok tuliskan. Ia bahkan akan selalu mengingat kata-kata Hoseok. Eunji akan menjadi sosok yang lebih periang, itulah janjinya. Ia akan membuang sifat kekanak-kanakannya. Eunji bersungguh-sungguh akan semua hal itu.

Dalam hati Eunji, gadis itu menangis. Ia masih memikirkan kepergian Hoseok. Eunji menganggap Hoseok adalah cinta pertamanya. Gadis itu menyayangi Hoseok. Ia tidak akan pernah melupakan pria itu. Sekalipun pria itu melupakannya. Eunji menyayangkan kepergian Hoseok.

***

5 tahun kemudian

Seorang pria tampil dengan setelan jas yang rapi turun dari kereta. Hari ini tepat hari pertama musim gugur.  Pria itu berjalan tegap menuju sebuah kantor. Dengan langkah yang santai, pria itu menikmati perjalanannya. Pagi itu, ia harus melaporkan pekerjaannya selama ini kepada atasannya. Pria itu adalah Hoseok.

Hoseok berubah menjadi sosok yang gagah. Gaya busananya juga berubah. Sekarang dia tidak menyukai pakaian yang mencolok, ia menyukai warna gelap. Pria tampan itu suka bernyanyi di sepanjang jalan sekarang.

Tepat saat Hoseok berjalan, seorang gadis mengendari sebuah mobil sport dan memberhentikan mobilnya di samping Hoseok. Hoseok menatap tajam mobil itu. Ia berharap seseorang turun dari mobil tersebut. Gadis itu turun dengan sigapnya. Ia langsung berlari ke hadapan Hoseok. Eunji menatap Hoseok di depannya.

“Aku tidak pernah melupakanmu.” Ucap Eunji dengan mata berbinar. Hoseok langsung melangkahkan kakinya mendekatinya.

“Dan aku akan selalu pergi ke area yang sejuk.” Hoseok langsung memeluk Eunji

-FIN

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Green Light – Oneshot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s