[Chapter 3] The Silver Age of Virgo: Unidentified

virgo-series2

the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence

.

.

.

#3: UNIDENTIFIED

.

 

“Jejaknya mengarah ke sini, sebelum lenyap begitu saja.”

Laporan dari Alven itu tidak membantu, tidak bagi Rhea yang langsung mengerutkan keningnya kala ia menjejakkan kaki di atap sebuah gedung pertokoan. Mereka semua berada kurang lebih seratus meter jauhnya dari apartemen milik Killian, pergi melacak jejak-jejak sihir yang menyerupai kekuatan milik Axel. Namun, seperti yang sudah bisa diduga sebelumnya, pelacakan itu berbuah nihil.

“Tidakkah kamu kurang teliti atau semacamnya?”

“Ya ampun, Rhea.” Alven lekas menyilangkan kedua lengan, untuk sekali ini pembawaannya yang cenderung tenang dan ceria pergi begitu saja. “Haruskah aku terbang mengelilingi kota dulu sebelum kamu percaya?”

Rhea hanya mendengus mendengar jawaban itu, enggan mendebat lantaran Aleta sudah mendelik ke arahnya dari balik punggung Alven. Memulai pertengkaran lagi agaknya bukan hal baik, terlebih karena gadis bersurai panjang itu baru saja menangkap sosok Killian yang datang dari arah selatan. Dengan lihai menggunakan kekuatannya untuk melompat dari gedung ke gedung, sebelum akhirnya mendarat di samping Rhea dengan ekspresi muram.

“Tidak ada apa-apa. Jejak kekuatan sihirnya memang terasa di beberapa tempat sebelum hilang, dan….”

“Dan?”

Killian mengembuskan napas panjang. “Dan ia tidak hanya menghancurkan halaman apartemenku. Ada beberapa tempat yang mengalami hal serupa.”

Pernyataan itu sukses menarik atensi ketiga temannya, tatap mata langsung lekat ke arah sang pemimpin konstelasi. Walau bagaimanapun juga, kekacauan atau kerusakan yang diakibatkan oleh sihir selalu membawa banyak masalah. Orang-orang akan kebingungan, teori-teori mengenai kejadian misterius yang tak terpecahkan akan merebak. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus mengambil tindakan.

“Tenang saja, aku sudah membereskannya,” imbuh Killian beberapa sekon kemudian, menenangkan ketiga anggota Virgo yang lain. “Memodifikasi ingatan seperti biasa, memanipulasi keadaan.”

“Killian….”

Yang dipanggil lekas menoleh, memberikan senyum kecil ke arah Aleta. “Aku tahu, Al. It’s okay.

“Kamu tidak pernah suka melakukannya,”gumam Aleta, menggelengkan kepalanya. “Kita benar-benar harus segera menemukan mereka, kan? Sebelum kejadian-kejadian ini bertambah buruk dan….”

Kelanjutan dari kata-kata Aleta tak terdengar, tapi mereka semua tahu apa maksud gadis itu. Kendati belum ada yang tahu pasti, namun kemungkinan-kemungkinannya tidaklah banyak. Dugaan mereka adalah seseorang mengambil kekuatan milik Axel; atau lebih buruk lagi, mengendalikan pikiran sang lelaki. Apa pun itu, mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Lawan mereka belumlah diketahui, dan kemungkinan bahwa mereka harus melawan teman sendiri cukup besar.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Membuka mulutnya, kalimat bernada ingin tahu dari Rhea itu cukup untuk membuat yang lain tersentak. Mendadak sadar bahwa keadaan tidak akan membaik jika mereka bermuram durja, tahu bahwa mereka harus segera menyusun rencana atau menyelidiki keadaan. Maka, sembari bertukar tatap, mereka pun lekas memutar otak. Masing-masing memikirkan apa yang bisa dilakukan, sampai Killian membuka kedua belah bibirnya lebih dulu.

“Kurasa… ada baiknya jika kita mengetahui siapa lawan kita.”

Kerutan di kening Alven adalah reaksi pertama yang muncul.

“Bagaimana caranya?” tanya sang lelaki langsung, menyuarakan kuriositas dua orang lainnya. “Pelacakan ini tidak membuahkan hasil, dan satu-satunya aura yang bisa kita rasakan adalah aura Axel. Sampai lawan kita benar-benar menggunakan kekuatan mereka sendiri untuk melakukan penyerangan—“

“Mereka sudah melakukannya,” potong Killian lamat-lamat, memandang Rhea, Aleta, dan Alven penuh arti. “Malam itu, saat Fyre, Axel, dan Icy diculik. Mereka menggunakan kekuatan mereka, bukan? Kalian ingat?”

Anggukan singkat dari Aleta, selagi sepasang iris gadis itu melebar karenanya. Sekuat tenaga berusaha memanggil ulang memorinya dari malam itu, mengingat-ingat aura kelam yang sempat melingkupi dirinya dan Alven. Aleta juga ingat bahwa lingkaran sihir sang lawan sempat terlihat, tetapi—

“Aku ingat seperti apa auranya, aku yakin bisa mengenalinya jika sampah sialan itu menggunakan kekuatannya di dekat kita,” ucap Rhea tak sabaran, mengungkapkan kekesalan sekaligus isi pikiran Aleta pada saat yang bersamaan. “Namun, itu tidak berguna, Killian.”

“Aku—”

“Malam itu semuanya terlalu samar dan mendadak, sehingga aku tidak bisa mengenali lingkaran sihirnya,” lanjut Rhea, yang segera diikuti persetujuan Aleta. “Ditambah lagi, auranya bukanlah sesuatu yang pernah kita kenal. Ini jenis musuh yang baru, yang belum pernah beraksi di dekat kita sebelumnya.”

“Aku tahu.”

“Nah, lalu apa usulmu?”

“Sederhana saja, bukan?” jawab Killian sambil mengangkat bahu, seakan semuanya sudah jelas. “Kita butuh waktu untuk mengamati kejadiannya secara lebih jelas, untuk menjadi saksi alih-alih sibuk melawan. Waktu, teman-teman.”

Hening selama beberapa sekon, sementara tiga pasang mata yang lain menatap Killian tanpa berkedip. Mencerna usul itu, kemudian membelalak lebar saat menyadari apa makna di balik penekanan sang pemimpin pada kata ‘waktu’.

“Killian, kau tidak bisa—“

“Ya, aku bisa, Alven.”

“Killian, ini berbahaya. Kau bukan Icy—“

“—tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukannya,” balas Killian kalem, dengan santai berjalan menuju tepian atap gedung. Biarkan pendar keemasan muncul dari tempat ia menjejak, pertanda bahwa ia tidak mau mendengar bantahan dan siap menggunakan kekuatannya untuk kembali ke apartemen. “Aku pemimpin kalian, Alven. Selain itu, ini usulku.”

“Kalau begitu, biar aku yang—“

“Spica dan Vindemiatrix, kalian yang lebih kuat dariku, jangan sia-siakan kekuatan kalian,” ujar Killian tanpa menoleh, menyodorkan fakta itu pada ketiga temannya. “Pergunakan itu untuk melawan musuh kita, pergunakan itu untuk menyelamatkan keluarga kita. Toh, apa susahnya sih, membalikkan waktu?”

Kali ini, Alven tak sempat mendebatnya. Tidak karena Killian sudah menjejak dan meloncat pergi, dengan tangkas bergerak kembali ke apartemennya. Tinggalkan Rhea, Aleta, dan Alven yang hanya bisa bertukar pandang, tahu bahwa mereka tidak punya pilihan selain mengikuti Killian dan membiarkan sang pemimpin melakukan rencananya.

Lagi pula, bukankah mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa sampai mengetahui siapa yang bersembunyi di balik kegelapan?

.

-o-

.

“Aku masih berpikir kalau aku seharusnya—“

“Diamlah, Alven. Killian benar.”

“Killian benar?!”

Well, kalau kamu memikirkannya secara logis, dia benar,” sambar Rhea tanpa jeda, mengempaskan dirinya ke atas sofa di ruang tengah apartemen. “Kamu setuju kan, Aleta?”

Ditanya seperti itu, Aleta sontak tergagap. Menghentikan gerak tangannya yang sedang sibuk membuat teh, selagi ia mendongakkan kepalanya untuk bertukar pandang dengan sang saudara kembar. Ada sorot cemas yang kentara di manik Alven, satu yang Aleta yakin juga tercermin di kedua pupilnya kini. Mereka berdua sama-sama khawatir, tetapi bukan berarti Aleta bisa mengesampingkan ucapan Rhea tadi.

“Rhea… benar,” jawabnya terbata, dengan sigap menggapai wadah gula dan berpura-pura sibuk membukanya. “M-maksudku, secara rasional, dia dan Killian benar. Tanpa Fyre dan Axel, siapa lagi yang bisa kita andalkan untuk menyerang? Kak Alven, bukan?”

Alven hanya bungkam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Secara logis, perkataan Killian, Rhea, dan Aleta tadi memang benar. Mereka semua sudah paham jikalau si bintang Alaraph cenderung pasif, sehingga hal-hal seperti menyerang atau melukai bukanlah perkara yang disukainya. Namun, bukan berarti fakta itu mampu mengurangi kegelisahan Alven. Fakta lainnya, mengenai betapa banyaknya energi yang dibutuhkan untuk memutar balik waktu, tetap mengganjal di benaknya.

Itulah sebabnya mengapa tidak semua penyihir mau bermain-main dengan waktu.

Lupakan kenyataan bahwa sesungguhnya mereka semua bisa melakukan hal-hal yang serupa dengan sihir. Karena, layaknya manusia pada umumnya, mereka semua memiliki batasan. Ini bagaikan fakta bahwa semua orang sebenarnya bisa bernyanyi, kendati belum tentu semuanya pandai bernyanyi. Sihir mereka juga bekerja dalam cara yang sama. Semua yang memiliki kekuatan sihir pasti bisa mengendalikan waktu, tetapi belum tentu semuanya ahli dalam hal itu.

Dan dalam konstelasi mereka, waktu adalah keahlian Icy.

Gadis itu memiliki kekuatan dan energi yang cukup untuk memutarbalikkan atau menghentikan waktu, memastikan tidak ada kekacauan yang tercipta saat dirinya berkelana dalam detak jam. Namun, mengingat absennya Icy saat ini, siapa lagi yang bisa mereka andalkan? Ini adalah suatu hal yang berisiko, sehingga sebagai pemimpin, Killian lebih memilih untuk menanggungnya seorang diri.

Alven tahu itu, sungguh.

Ia tahu; hanya saja….

“Kak Alven?”

“Aku hanya takut.” Alven akhirnya mengaku lirih, mengerling ke arah Aleta. Biarkan sang saudari kembar melangkah mendekat, memeluk seraya membiarkan Alven menyandarkan kepala di pundaknya sejenak. “Bagaimana kalau semuanya bertambah buruk? Bagaimana jika Killian terjebak dalam waktu, dan butuh waktu lama baginya untuk kembali? Aku—“

“Killian tidak sebodoh itu.” Rhea memotong. “Jika hal-hal menjadi terlalu berbahaya, ia pasti akan segera kembali alih-alih memaksakan diri.” Jeda beberapa detik, sementara Rhea menolehkan kepalanya ke arah kanan. Seakan dengan begitu ia bisa melihat menembus dinding apartemen Killian, mencari tahu keadaan sang pemimpin yang sedang berada di kamar Icy dan mencoba memutar balik waktu. “Kita hanya bisa menunggu. Dan untuk sementara….”

“Untuk sementara?”

“Tidakkah kita harus memikirkan sesuatu?” Rhea berdecak, menyilangkan kedua lengannya dengan sikap menantang. “Oke, Killian akan mencari tahu siapa lawan kita. Lantas apa? Bagaimana cara kita mengetahui di mana mereka berada, pun mencari tahu kapan mereka akan menyerang? Kalau benar mereka mengendalikan kawan-kawan kita untuk membuat keributan… oh, aku akan dengan senang hati meninju Axel saat gilirannya tiba lagi!”

“Kamu serius?”

“Apa aku terlihat main-main sekarang, Alven?” balas Rhea galak, sementara Alven meringis karenanya. Pandang tertuju ke arah Aleta, yang alih-alih bereaksi sama dengan Alven, malah terlihat sedang melamun.

“Aleta?”

“Rhea benar.”

“Astaga, jadi sekarang kamu berpihak pada Nona Galak ini—“

“Hei!”

“Tunggu sebentar, please,” gumam Aleta sambil mengangkat kedua tangannya, menghentikan perdebatan antara Alven dan Rhea. Mengisi ruangan dengan hening, selagi ia memejamkan kedua mata dan berpikir. Butuh waktu beberapa menit sampai gadis berambut sebahu itu membuka kelopaknya kembali, disertai dengan kata-kata, “Bagaimana jika kita mencari tahu soal itu?”

“Soal apa?”

“Yang dikatakan Rhea tadi,” jawab Aleta, langsung menjelaskan. “Kita perlu tahu kapan mereka akan datang atau membuat keributan lagi, kan? Akan lebih mudah untuk menangkap atau membebaskan teman-teman kita dengan cara itu. Jadi, bukankah sedikit ramalan seharusnya bisa membantu?”

“Menurutku itu ide bagus,” tanggap Rhea langsung, seketika paham dengan apa yang akan dilakukan oleh Aleta. “Meminta ramalan lewat mimpi, itu kan maksudmu?”

Sebagai jawaban, Aleta membiarkan titik-titik cahaya biru bermunculan di dekatnya. Menanti sampai sihirnya bekerja, memunculkan seekor kupu-kupu yang berwarna biru dan berpendar misterius. Biarkan sayapnya mengepak, sebelum akhirnya melayang menembus tubuh sang gadis dan lekas lenyap. Pertanda bahwa perintahnya telah tersampaikan, bahwa apa pun mimpi yang akan dilihat Aleta malam ini akan merupa sebuah ramalan.

“Itu cukup, bukan? Meminta ramalan lewat mimpi juga bukan jenis sihir yang berbahaya, sehingga kita bisa melakukannya bergantian.” Aleta mengulas senyum, kemudian kembali ke arah cangkir-cangkir teh yang belum tersentuh. “Nah, bagaimana jika kita beristirahat dan minum—“

Namun, belum sempat Aleta menyelesaikan kata-katanya, pintu apartemen Killian sudah terbanting membuka. Lekas membuat ketiganya menoleh dan kembali melupakan teh yang tersaji, lantaran sang pemilik apartemen sudah berdiri di sana. Lengkap dengan napas terengah-engah dan tubuh limbung, nyaris saja jatuh tersungkur jikalau Alven tidak lekas-lekas berlari demi menangkapnya.

“Killian?”

“A-aku melihatnya,” ucap Killian, sedikit tersendat karena energinya sudah habis terkuras. “M-musuh kita….”

“Siapa?”

“T-tapi simbolnya….” Killian terbatuk sebentar. “…belum pernah kulihat sebelumnya.”

Detik berikutnya, tak ada yang mempertanyakan apa maksud Killian tersebut. Tidak karena sang pemimpin Virgo telah lebih dulu pingsan, meninggalkan ketiga kawannya dalam kepanikan dan kubangan tanya yang makin tak terjawab. Perjalanan Killian ke masa lalu jelas membuahkan hasil, tetapi bukan hasil seperti ini yang mereka inginkan. Bukan pernyataan mengenai simbol yang belum pernah terlihat sebelumnya, yang membuat usaha Killian terasa sia-sia.

.

Sebenarnya, lawan macam apa yang sedang mereka hadapi kini?

.

tbc.

.

.

The Alaraph
Killian

killian

Alaraph; sang bintang yang memiliki banyak sebutan. Dikenal juga dengan nama Zavijava dan Beta Virginis, bintang ini merupakan salah satu anggota Virgo yang presensinya jarang menarik perhatian. Wajar saja, Alaraph bukanlah bintang yang seterang Spica, Porrima, ataupun Vindemiatrix. Kendati demikian, terlepas dari kekurangannya itu, sang lelaki yang berada di bawah naungan sinarnya tetaplah seseorang yang patut dihormati.

Killian adalah anggota tertua di dalam konstelasi Virgo, sekaligus yang dipilih untuk menjadi seorang pemimpin lantaran dirinyalah yang paling mampu mengendalikan emosi, keadaan, dan senantiasa bersikap tenang. Bakatnya tidak seagresif milik Alven dan Aleta; menyerang bukanlah sesuatu yang ia sukai. Alih-alih, Killian lebih ahli dalam hal menyembuhkan, memengaruhi situasi, dan menciptakan segala sesuatu yang berbau keindahan. Namun, bukan berarti ia selalu pasif dan lemah. Jika situasi menuntut, maka Killian akan memilih untuk menaklukkan lawannya dengan menggunakan kekuatan para flora yang dipanggilnya; dengan harapan agar ia bisa membuat sesedikit mungkin kerusakan.

.

.

a.n:

a little side note

saat ini saya lagi berusaha mengetik chapter 5 dan 6 Messed Up, plus kelanjutan Virgo. Masing-masing masih 50%, dan harapannya sih selesai secepat mungkin. Tapi, karena ada tuntutan proposal skripsi yang harus selesai tiga minggu lagi, ada kemungkinan post-nya nggak bisa secepat yang dulu-dulu. Akan diusahakan seminggu sekali, dan akan diusahakan untuk tetap nulis di tengah balada semester tua ini :’)

anyway, do leave your review and thank you! ❤

Advertisements

24 thoughts on “[Chapter 3] The Silver Age of Virgo: Unidentified

  1. Pingback: [Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 8] The Silver Age of Virgo: Spica and Auva – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Chapter 7] The Silver Age Of Virgo: Unspoken – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Pingback: [Chapter 6] The Silver Age of Virgo: Impulsive – BTS Fanfiction Indonesia

  5. Pingback: [Chapter 5] The Silver Age of Virgo: After Effect – BTS Fanfiction Indonesia

  6. Pingback: [Chapter 4] The Silver Age of Virgo: Face to Face – BTS Fanfiction Indonesia

  7. Lisa Kim

    Aaaaaa… TBC nya bikin greget. Itu musuhnya siapa jdnya? Aduhhh.. penasaran tingkat dewa.huhuhu.

    Next ditunggu & Fighting buat proposal skripsinya ^^

    Like

  8. EruCchi

    Aq pernah baca fic ini yg 1&2 di blog km udah penasaran
    Eh ternyata berlanjut di sini, makin penasaran
    Q suka yg bau sihir-sihir kek Harry Potter, apalagi fic yg ini kyanya greget plotnya
    Update jangan lama ya thor plis plis

    Like

  9. Rishuu-Xx

    Killian? Aku Baper gitu :3
    Karaktermu disini nyante bangett >.< kereeen kamu Kil.
    Itu Killian maksain diri, yah akhirnya lemes juga tuh kan?
    Killian sih -_-
    Aaa !! Mbaq Rhea lagi PMS itu kek'nya wkwk, marahh muluu.

    Gasaabaarrr next chap.nya 😁 semangat Tsuki-chan(?)

    Like

  10. ratihpv_

    Mungkin musuhnya itu dari konstelasi zodiak lain.. Bisa aja libra atau sagitarius ((ditendang))
    Makin kesini makin seruuu… Aleta kan Minha, klo Rhea tu Claire ya?? ((ketauan kali baca komen :v)
    Cocok deh emang Jin jadi Killian si pemimpin.. Kalem, tenang dan temenan sma tumbuhan/?
    Keep writing authornim!

    Like

  11. Gia Anisa

    Ga sengaja tengah malem kebangun, trus ada notif baru dari sini langsung aja melesat baca..hehehe
    Maaf baru komen di part ini karena d part sebelumnya tiap mau komen suka susah -_-
    Next jangan lama ya, thor hehe

    ps. d tnggh juga messed up nya hehe
    Salam kenal ^^

    Like

  12. Fadhilah Septi

    Siiipp dah.. yg gak bsa tdur buka FF BTS FREELANCE n smngat liat nih update.an angkat tngan! ✋

    Kren! Bgt!! *gk bsa komen lain lg*

    D tnggu next.na yaw… gk sbar bgt.~~~

    Like

  13. AH KAK AMER EMANG PALING TAU JAM KALAU LAGI UPDATE MAH :”) PAS BANGET GABISA TIDUR DI TENGAH MALAM BEGINI JADI KEPIKIRAN KILLIAN :””D
    Seketika membaca ‘bermuram durja tidak akan membuahkan hasil’ (cuma inti) aku lgsg inget form sbmptn yang belum aku sentuh:”””D
    Tuh kan, kak amer paling bisa bikin si killian berwibawa gitu gimana aku gak makin cinta kak mana bts habis ngeluarin teaser lagi, ‘kan kacau sudah :”””D
    Yahhh kak amer sibuk tp tep semangat kak lanjutin virgonya ini :”D hwaitinggg!!!✨✨

    Like

  14. Rizuki

    JADI MISI UTAMA UDAH TERIAKIN MAS KILLIAN KAYA DI LINE YA, TSUKI-NIM……………………..
    Serius baper sama killian otokeee otokeeee /.\ /maapkeun kak icy maapkeun rhea /sungkem sama icy
    Nahkan barti bukan axel dong yang jahaaat ihiiiy /peluk mas axel/ barti musuhnya nyuri kekuatannya axel yaa? Dan pehlis tolong itu rhea karakternya…………………kleri ga jadi bellatrix ga jadi rhea sama aja galaknya astaga ㅡㅡ
    Eeyyy dek alven udah berani panggil pake panggilan sayang aka nona galak……..awas naksir lho /lalu disihir aleta/ XD yaampun itu mode aleta ato mode minha sama aja yaa demennta ngurusin bagian konsumsi(?) /ditendang beneran dr virgo/ 😀

    Udah aah komennya gitu ajaa wkwk. Semangaat selalu buat series seriesnyaa yaaa tsuki-nim! ♡♡♡

    Like

    1. Aku juga baper kak killian kok kak kleri………. mau balikan sama killian aja rasanya /heh

      Yakin axel ga jahaaaat? Bisa aja axel ganti lambang soalnya kak kleri udah ga setia /ini apa hubungannya ya /ampun /jangan galakin saya

      Kak kleri gausah macem2 sama aleta deh nanti ga dikasih makan repot kan(?)

      Ehehehe makasih kariiis~ lanjutannya bulan depan yaa /krik

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s