[What is Your Color?] Purple Couple – Oneshoot

Cover FF Purple Couple

 

[What is Your Color?]  Purple Couple  –  Oneshoot

 

Title                  : Purple Couple

Author              : Adellakim

Main Cast          : Park Jimin, Jung Eunhee (OC)

Support cast       : Kim Taehyung, Baek Sungji (OC)

Genre                : School Life, Romance, Friendship, Hurt

Rating               : T

Length              : Oneeshoot

Disclaimer         : BTS belong to God, parents, BigHit and Army’s. But, OC and story belong to me.                   Thanks J

 

Summary :

“Sudah ku bilang, aku tak terbiasa dengan benda-benda ini!” – Jung Eun Hee

.

.

***

Hening. Aku tak bersuara saat ini. Pandanganku nanar tak tentu arah. Organ dalamku, tepatnya bagian dada terasa ngilu dan nyeri seperti ada puluhan kerikil yang berhasil terlempar kearahnya.
Sosok gadis itu masih terasa keberadaannya walaupun kini ia sudah pergi meninggalkanku di taman sekolah. Bahkan, wangi aroma parfum khasnya yang sangat ku kenali masih tercium dan menyatu dengan udara di sekitarku.

Aku mematung.

Sekilas ucapan yang terlontar dari bibir tipis itu kembali terngiang dalam benak dan fikiranku.

“Maafkan aku. Kurasa kita harus mengakhiri semua ini. Kami sudah di jodohkan, Jim.”

Sial. Aku benci mengingat kalimat itu. Jari jemariku terkepal dengan kuat. Aku sudah siap menghantam apa saja yang sekiranya membuat emosiku semakin meningkat.

Perjodohan? Hah, alasan macam apa itu? Usianya bahkan baru menginjak 17 tahun.

Ini gila. Dia benar-benar melukaiku.
Tak punya perasaan! Dengan entengnya mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanku. Tega sekali.

Baek Sungji, gadis yang sangat ku cintai. Dia benar-benar tega mengakhiri hubungan yang sudah berjalan kurang lebih 2 tahun ini. Kisah-kasih asmara diantara kami sudah menjadi angin lalu mulai saat ini. Semua harapanku bersamanya lebih lama hanya tinggal angan-angan belaka.
Gadis itu kini sudah bukan milikku. Dia sudah menjadi milik orang lain.

Yang lebih menyakitkan,

kenapa harus Taehyung?

Taehyung adalah sahabatku sejak kami masuk sekolah ini. Kami satu kelas. Satu meja, pula!

Brengsek!

Netraku beralih, menatap objek yang ku pegang sejak beberapa saat yang lalu. Benda itu hampir rusak tak berbentuk setelah kepalan tanganku yang menekannya kuat-kuat. Aku menyeringai dengan pilu. Hah, setelah mengucapkan perpisahan, gadis itu bahkan tak tanggung-tanggung memberiku sebuah undangan. Undangan pesta ulang tahunnya yang ke-17 tahun.

Tak tahu malu.

Ketahuilah, mulai detik ini, aku tak lagi mencintainya. Rasa itu memudar begitu saja setelah apa yang dilakukannya kepadaku.

Menghela nafas dengan kasar, aku mencoba menetralisir kekesalanku.

Baiklah, aku tak boleh terlihat lemah. Akan ku pastikan gadis itu menyesal dengan keputusannya. Catat itu!

***

Aku menopang salah satu kaki saat duduk di tempatku. Pandanganku fokus tak beralih pada sebuah komik sejak 10 menit yang lalu.
Uh, ini lebih baik. Daripada harus memikirkan hal menyakitkan itu. Sungguh tak ada gunanya.

“Jim?”

Seseorang bersuara berat memanggilku dari samping.

“Kau sudah tahu, ya?” Ia melanjutkan dengan nada pelan.

Aku mengangguk tanpa menoleh padanya.

“Ya, aku tahu.”

“Emmm—kau marah padaku? Maafkan aku, Jim. Aku sungguh tak tahu dengan perjodohan ini.”

Aku menyudahi kegiatan membacaku lantas beralih meliriknya. Kami saling beradu pandang. Mata itu menatap nanar kearahku. Aku tahu betul, itu hanyalah topeng. Bisa ku rasakan dengan jelas ada sebuah sinar penghianatan di dalamnya.

“Tidak. Aku tidak marah.” Jawabku tenang.

“Kau bohong.”

Ku tunjukan senyuman terbaik dari seorang Park Jimin.

“Menurutmu aku berbohong, Kim Taehyung?”

“Jimin-ssi..”

Tak menyahuti lagi. Ku simpan sembarang komik itu di atas meja. Dengan gerakan cepat, aku segera beranjak keluar dari ruang kelas ini. Ah, aku mulai pengap dengan kehadirannaya!

Sudahlah, aku sedang tak ingin membahas itu, Kim Taehyung.

Aku tidak marah padamu, aku hanya kecewa.

Ku hirup udara musim panas dengan perlahan. Suasana di luar begitu ramai. Mengingat ini masih jam istirahat, tak sedikit murid-murid yang berlalu lalang di sekitar koridor kelasku.
Berdiri sambil menyenderkan punggungku pada tiang fondasi dan menikmati pemandangan sekolah dari lantai dua, kurasa lebih baik daripada harus menanggapi omong kosong si bodoh itu.

Belum sempat aku menikmati kesendirianku dengan waktu yang lama, tiba-tiba saja alis mataku bertaut saat melihat gadis yang sangat ku kenali berjalan memasuki kelasnya yang bersebelahan dengan kelasku. Ya Tuhan, hanya dengan melihatnya saja benar-benar membuat hatiku kembali terasa sakit. Sungguh, rasanya seperti ada beberapa peluru yang berhasil menembus dadaku saat ini juga. Menyedihkan.

Aku terdiam, teringat suatu hal.

Pesta ulang tahun Sungji.

Argh! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku benar-benar akan datang ke pestanya dengan membawa luka yang telah ia tanamkan di hatiku? Oh, ayolah. Itu terlalu dramatis.

Lalu bagaimana?

Kalau tidak datang, aku pasti akan di anggap sebagai pria yang payah oleh teman-temanku di acara itu.

Aku harus berbuat apa? Ayolah berfikir, Park Jimin!

Masih terdiam, aku merenung untuk beberapa saat mencoba membuka firkiranku mengenai hal itu. Namun itu semua tak berlangsung lama. Kendati demikian, kedua mataku sedikit melebar tatkala sebuah ide hebat melintas dalam benakku.

Aku menyeringai penuh kemenangan.

“Hei.”

Panggilan itu ku tujukan pada seorang gadis, –teman sekelas yang tengah berjalan melewatiku saat ini. Ia terhenti lantas menatapku dengan aneh.

“Apa?”

“Temani aku di acara pesta ulang tahun ya, kau mau?”

Ia mengernyit mendengar ucapanku.

“Kau kenapa, Jim?”

“Aku baik-baik saja. Bagaimana? Kau mau, tidak?”

“Hm, sepertinya tidak bisa. Pacarku akan marah kalau ia tahu aku pergi bersama pria lain. Maaf ya.”

“Oh, ya sudah. Tidak papa.”

Aku mengangguk mengerti. Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti karena ulahku.
Begitupun aku. Pandanganku kembali mengedar ke segala arah, mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa membantuku perihal pesta itu.

“Hei, Jihyun. Temani aku di acara ulang tahun ya.”

Aku kembali berucap dengan tiba-tiba seraya menahan lengan seorang gadis lain yang tentunya ku kenali.

“Apa yang kau lakukan?” Ia menyingkirkan tanganku yang detik lalu menyentuhnya. Gadis itu melanjutkan dengan angkuh, “Tidak bisa. Aku sibuk!”

“Emm- baiklah.”

Oh, gadis super jutek. Tak bisakah kau menjawabku dengan santai? Ck.

Ku lakukan hal serupa pada gadis-gadis lainnya. Entah kebetulan atau bagaimana, bagaikan bersekongkol, tak ada satupun dari mereka yang mau menemaniku pergi ke acara itu. Aku mengacak rambutku, kesal. Aku hampir frustasi.

“Tidak, aku tidak mau.”

Menyebalkan. Sok jual mahal sekali!
Secara gadis besar, itulah yang mereka katakan saat aku mengajaknya.

Ini benar-benar membuatku lelah. Apa wajahku begitu buruk sampai-sampai mereka tak mau menjadi gadisku semalam saja? Tidak, kalaupun wajahku jelek, tak mungkin Sungji yang memiliki paras sangat cantik, mau menjadi kekasihku.

Hah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin mengajak Shinyoon si gadis aneh berkacamata yang selalu berbicara sendiri saat di kelas. Gadis itu sangat horor. Tidak, jangan dia!

Aku menghela nafas lagi, beberapa detik berikutnya aku kembali terdiam.

Sosok gadis dengan rambutnya yang selalu di ikat kuda baru saja menarik perhatianku.
Jung Eunhee, dia adalah ketua murid di kelasku. Sedikit ragu, apa aku harus mengajaknya? Ketahuilah, dia adalah gadis yang sangat tomboy di sekolah ini. Penampilannya terbilang aneh, ia selalu memakai celana panjang di balik rok mininya. Tak pernah bersolek seperti gadis lainnya, dan –dia bahkan lebih menakutkan di banding seorang pria.

Ah, bagaimana ya?

Mungkin tak ada salahnya jika aku mencoba.

Aku berjalan hendak menghampirinya. Gadis tomboy itu baru saja keluar dari kelas beberapa saat yang lalu.

“Eunhee-ssi, tunggu!”

Merasa terpanggil, ia menoleh kearahku.

“Apa?” Ia menjawab singkat sambil menunjukan tatapan tajamnya yang begitu mengerikan.

Aigoo, jangan menatapku seperti itu. Kau benar-benar membuatku takut!”

Eunhee menghela nafas mendengar ucapanku.

“Baiklah. Ada apa, Jim?”

Dia tersenyum. Uh, kalau boleh jujur, gadis ini manis juga.

“Begini, kau mau membantuku?”

“Dalam hal apa?”

“Emmm- besok aku akan datang ke acara pesta ulang tahun. Kau mau menemaniku?”

Ha?”

Hampir tak percaya, mungkin. Gadis yang kini menjadi lawan bicaraku melebarkan matanya seketika. Aku tahu, dia pasti merasa sangat aneh dengan sikapku saat ini. Aku cukup tahu diri.

“K-kenapa aku?”

Eunhee menunjuk dirinya dengan heran.

“Kumohon, tak ada yang mau menolongku. Hanya kau harapanku satu-satunya.”

“Kau bisa pergi bersama kekasihmu, Jimin.”

“Emmm—kami sudah putus.”

Gadis tak berponi itu mematung dan masih membuka matanya lebar-lebar. Terlihat sekali, ia begitu terhenyak mengetahui hal ini.
Aku mendekat, mengikis jarak di antara kami.

“Taehyung sudah merebutnya dariku!”

Suaraku kelewat pelan, hampir menyerupai sebuah bisikan padanya.

“Hah, tidak mungkin. Bukankah Taehyung sahabatmu?”

Aku mengangguk mantap.

“Jangan bercanda. Ini tidak lucu, Jimin.”

Eunhee memandang remeh terhadapku. Dasar, memangnya siapa yang sedang melawak? Apa dia tak melihat garis wajahku yang begitu serius? Menyebalkan sekali, seharusnya dia percaya padaku.

Oh baiklah, baiklah. Aku harus sabar menghadapi si tomboy ini.

“Aku serius, Eunhee.”

Ia menghela nafas pelan.

“Memangnya siapa yang mengadakan pesta?”

“Baek Sungji.”

“APA?” Jawaban singkatku sukses membuatnya memincingkan mata. Untuk yang kesekian kalinya ia tercekat mendengar ucapanku. “Kau sudah gila. Mengajakku pergi ke pesta kekasihmu? Hah, omong kosong macam apa ini!”

Aku berdecak malas.

“Sudah ku bilang, aku tidak ada hubungan lagi dengannya!”

Eunhee terdiam.

“T-tunggu! Apa kau ingin menjadikanku jalan pintas untuk membalas dendam pada wanita itu?”

Mendengar itu, mata sipitku membola seketika.

“B-bukan begitu..”

“Aku tidak mau!”

“Ayolah,  ku mohon. Bantu aku, Eunhee-ssi.”

Aku merengek pada gadis tomboy itu. Ku gerakan tanganku berulang kali sebagai simbol permohonan padanya. Aku berharap banyak pada Eunhee, semoga dia mau membantuku. Walaupun dia gadis yang sangat di segani, namun selama kami satu kelas, aku tahu sekali dia adalah orang yang sangat baik.

“Jung Eunhee..”

Gadis itu memandangku dengan tatapan yang sulit ku artikan.

“Emmm— Baiklah.”

***

Hari itu tiba. Aku terdiam di belakang pengemudi. Sunyi sepi mendominasi di tempat ini. Ku lirik arloji tanganku dengan malas. Astaga, lama sekali dia.

Sudah 20 menit lebih aku menunggunya di dalam mobil. Untungnya aku tak sendiri, ada sopirku yang setia menemani saat ini. Syukurlah, aku tak terlalu bosan. Beberapa obrolan kecil membumbui kejenuhanku selama menunggu gadis itu.  Ahjussi itu sedikit membantuku. Sedikit!

Kini aku menarik nafas panjang, mencoba menghirup udara malam yang masuk melalui celah jendela mobil yang memang sengaja kubuka.
Detik berikutnya, ku tutup mataku sejenak.

“Jimin!”

Menoleh, aku menatap sumber suara itu.

“Lama sekali ka—“

—aku mematung terkejut. Kalimatku bahkan belum sempat ku selesaikan.
Uh, gadis itu benar-benar! Apa dia tak pernah pergi ke pesta ulang tahun? Ya Tuhan, penampilannya sungguh bertolak belakang denganku.

Sebuah T-shirt berwarna abu kebesaran dan celana Jeans agak longgar kini hinggap di tubuhnya. Tak lupa dengan rambut hitamnya yang masih selalu di ikat menyerupai ekor kuda. Dan di bagian bawah, nampaklah sepasang sepatu Converse yang sudah sempurna menutupi telapak kakinya saat ini.
Aku terperangah menatap tak percaya pada gadis yang berdiri di dekat pintu mobil ini.

Aku tahu dia tomboy, namun tak harus begini juga, kan?

Di tambah lagi dengan sebuah topi yang ia kenakkan di kepalanya.

Hah.

Aku mendesah pasrah.

“Kau kenapa?” Ia bertanya.

“Cepat masuk!!”

“Hei, kenapa nada bicaramu seperti itu?!!”

Ia berkacak pinggang sambil menatap tajam terhadapku. Uh, menakutkan sekali jika dia sedang marah. Matanya membulat sempurna, seperti ingin keluar. Astaga!

Sedikit menahan emosi. Sebelum tersenyum, aku menghela nafas terlebih dahulu.

“Baiklah, Eunhee-ssi. Bicaranya nanti saja ya, sebaiknya kau masuk lebih dulu.”

Aku berucap dengan penuh kelembutan padanya.
Kini aku tahu satu hal. Gadis ini jangan di kerasi. Ku sarankan jangan pernah mencobanya!

Jika di galaki, ia tak segan-segan akan lebih galak dan siap menerkam kita detik itu juga. Sungguh mengerikan!

Eunhee berdecak malas sebelum akhirnya ia masuk dan duduk di sampingku yang sudah kepalang bad mood menunggunya sejak tadi.

Kini mobil sudah melaju dengan percepatan sedang. Tak ada pembicaraan khusus diantara kami. Hanya lantunan beberapa lagu yang berasal dari tape mobil yang kini terdengar dan mendominasi di gendang telinga kami.

30 menit telah berlalu.

Bangunan besar tempatnya beberapa wanita untuk mempercantik dan merawat diri kini menjadi tempat awal yang kami singgahi saat ini.

Eunhee memandang tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

Sebuah gaun mini tak bermotif berwarna ungu dan sepasang High heels cantik kini menjadi objek utama dalam pandangannya.

Gadis itu menggeleng pelan.

“Aku tidak mau, Jim.” Entah untuk yang keberapa kalinya ia berkata seperti itu.

“Ayolah, kali ini saja.”

“Aku tak terbiasa mengenakan benda-benda itu.”

“Kumohon, Jung Eunhee.” Netraku menatapnya dengan penuh harap. “Lihatlah, gaun ini serasi dengan kemejaku.” Aku tersenyum meyakinkan seraya menunjuk kemeja berwarna ungu muda yang memang sudah ku kenakan sejak tadi.

“T-tapi..”

Please..”

Baiklah, ini yang kedua kalinya Eunhee luluh dengan permohonanku. Ia mengangguk pelan. Itu artinya aku benar-benar akan di temani oleh gadis cantik di pesta itu. Ralat! Si tomboy Eunhee ku pastikan akan menjelma menjadi gadis manis bergaun ungu. Warna itu sangat cocok untuknya.

Kau akan menyesal, Baek Sungji.

***

Gemerlap lampu hias di malam hari menyambut langkah para tamu undangan. Tak terkecuali aku. Aku melangkah dengan gagah menuju ke dalam rumah mewah milik Sungji –yang mana menjadi tempat utama acara meriah ini. Aku tak sendiri, seorang gadis dengan gaun indah se-lutut dan berwarna ungu menemani langkahku memijakkan tempat yang sudah lumayan ramai itu.

Rambut hitam sebahunya yang bergelombang, tergerai indah berkilau saat tersorot oleh lampu-lampu penerang. Di tambah lagi dengan make up-nya yang sengaja di buat sederhana dan tak berlebihan itu benar-benar membuatnya semakin terlihat cantik dan anggun.

Jujur saja, mataku membola tak menyangka saat melihat si tomboy itu merubah penampilannya. Aku terhenyak, kaget dan takjub. Hampir tak percaya, apakah dia benar-benar Jung Eunhee? Gadis tomboy yang menjadi ketua murid di kelasku?

Bolehkah aku mengatakannya?

Emmm—

Dia.. cantik sekali! Sungguh.

“Jimin, aku malu.”

Sebuah kalimat bisikan dari Eunhee berhasil mengalihkan sedikit bayanganku mengenai kamuflase dirinya beberapa saat yang lalu.

“Aku merasa aneh.”

“Tenangkan dirimu. Kau hanya sedang gugup.” Aku mencoba meyakinkan gadis bermarga Jung itu dengan diselipi sebuah senyuman manis untuknya.

Kini, pandanganku terhenti pada satu titik.

Seorang gadis berambut coklat panjang, sang empunya pesta kini tengah bercengkrama ria dengan seorang pria berpostur tubuh tinggi di sampingnya. Sesekali keduanya tertawa ringan dan saling memandang satu sama lain.

Aku menatap miris keduanya dari jauh.

Baek Sungji dan Kim Taehyung.
Hah, kalian bahkan terlihat begitu bahagia. Entah benar atau tidak mengenai perjodohan itu, aku tak peduli. Namun bisa ku lihat dengan jelas, kalian memang saling menyukai.

“Jim?”

Aku masih diam, tak menanggapi panggilan Eunhee.

Merasa di acuhkan –mungkin, kurasa Eunhee mengikuti arah pandangku melihat pasangan itu dari posisi kami saat ini.

“Kau tidak papa?”

Aku menoleh dan menarik sudut bibirku.

“Aku baik-baik saja.”

Pandanganku kembali pada Sungji dan Taehyung yang tengah berdiri di dekat kue ulang tahun yang lumayan besar dan beberapa jamuan makanan serta minuman sejak tadi. Ku lihat, beberapa orang memberikan ucapan selamat ulang tahun pada gadis itu. Mereka bahkan tak merasa asing dengan keberadaan Taehyung disamping Sungji. Cih, sebenarnya sejak kapan kedua orang itu menjalin hubungan? Menyebalkan sekali!

Oh, tidak.

Baek Sungji menyadari keberadaanku. Pandangan kami bertemu untuk beberapa saat dari kejauhan pada posisi kami masing-masing.
Dengan gerakan cepat, aku segera menggenggam pergelangan tangan Eunhee si gadis tomboy bergaun ungu itu dengan begitu erat. Tentu aku sengaja melakukannya.

Sentuhanku membuat Eunhee terperangah. Ia memandangku tak percaya.

“Hei, bukankah itu Park Jimin? Dengan siapa dia?”

“Sepertinya aku kenal. Coba perhatikan, bukankah dia Jung Eunhee?”

“Astaga, benar. Itu Jung Eunhee! Lihatlah penampilannya.”

Aku terdiam. Beberapa orang mulai berbicara tentang kami.
Aku bisa mendengarnya. Sangat jelas!

“Semuanya, lihatlah! Si tomboy Jung Eunhee sudah berkencan dengan Park Jimin. Hahaha..” Salah satu dari mereka berteriak kencang seolah memprovokasi. Songmyun, pria yang hobinya selalu bergosip dengan para wanita. Aku mengenalnya, dia adalah teman sekelas kami.

Hah. Kurang hajar, mati kau!

Semua orang melihat kearah kami bersamaan. Sebagian dari mereka ada yang saling berbisik satu sama lain. Mereka bahkan tak menghiraukan tatapan mengintimidasi yang di tunjukan Eunhee sejak beberapa detik yang lalu.

Aigoo, Eunhee dan Jimin memakai pakaian dengan warna yang sama.”

“Cocok sekali. Haha.”

“Benar, mereka terlihat seperti ubi ungu.”

“Hei, apa kalian tidak membaca undangannya? Haha..”

Terhenyak. Aku mematung di tempat.

Ucapan orang-orang itu berhasil membuat indra penglihatanku melebar sempurna.

Ya Tuhan, aku baru menyadarinya.
Hanya aku dan Eunhee yang berbeda dengan mereka. Sungguh tak percaya, semua orang mengenakan busana berwarna putih, baik pria maupun wanita. Hanya kami yang bebeda. Hanya kami!

Bodoh.

Ada apa denganku?

Kenapa aku baru sadar kalau mereka semua tengah membicarakan konstum yang kami kenakakan? Ini memalukan. Sungguh, aku tidak tahu. Aku benar-benar tak membaca isi undangan itu dengan teliti. Yang aku tahu hanya tempat, tanggal, dan waktu diadakannya acara ini saja.

“Jimin?”

Suara berat itu menyebut namaku di tengah gelak tawa para tamu undangan yang sebagian besar dari mereka adalah murid satu sekolahan dengan kami.

Taehyung, pria itu datang bersama Sungji. Aku baru sadar, keduanya bahkan memakai busana serba putih.
Taehyung nampak keren dengan kemeja santainya, sementara Sungji terlihat begitu cantik mengenakkan dress indah dengan warna serupa.

Alih-alih memikirkan hal itu, aku malah terfokus pada kedekatan mereka.

Mereka begitu serasi jika di lihat lebih dekat.

Bagiku ini sungguh pemandangan yang sangat buruk. Sejujurnya, aku tak kuasa melihat gadis yang sempat menjadi bagian dari hidupku berdampingan bersama seorang sahabat yang sangat ku percaya.

“Kau tidak membaca undanganku, ya?” Kini Sungji mulai bersuara.

Aku terdiam.

Astaga, untuk apa aku memikirkan kedua orang itu. Jelas-jelas mereka sudah berkhianat padaku. Seharusnya aku tidak usah mempedulikannya. Masa bodo kalaupun mereka terlihat begitu serasi. Bukankah itu sama sekali tak ada urusannya denganku?

Nada bicara gadis itu padaku bahkan seperti mengejek.

Kau benar-benar bodoh Park Jimin.

“Hei, Jung Eunhee. Kau sangat tidak cocok menjadi seorang gadis feminim. Haha.”

Umpatan orang-orang itu terdengar lagi entah darimana asalnya.

Aku kembali terperangah tak percaya. Berani-beraninya mereka berbicara seperti itu!

Lebih-lebih dariku, Eunhee yang namanya baru saja di sebutkan lantas menatapku dengan sangat-sangat tajam, seolah tersirat sebuah kemurkaan di dalam netranya.
Tak lama kemudian, gadis itu dengan kencang menghempaskan tanganku yang sejak tadi menggenggamnya dengan erat. Ia berlari meninggalkan tempat ini.

Aku menghela nafas sebelum beranjak mengejarnya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandang aneh diriku.

“Jung Eunhee, tunggu!”

***

Angin malam menyeruak, mengiringi langkahku menuju gadis bergaun ungu itu.

Jung Eunhee, ia melangkah di pinggir jalan sambil menenteng High heels yang sempat melekat di kakinya.

Gadis itu tak menyadari, sejak tadi aku membuntutinya dari belakang.

“Eunhee, berhentilah. Kakiku pegal..”

Aku mengeluh, membuatnya terdiam sejenak dan berbalik menatapku.

“Kau!”

Dengan kaki telanjang tanpa alas, gadis itu kini melangkah menghampiriku. Syukurlah, aku tak perlu susah payah mendekatinya.

BUK!

Sepertinya ekspektasiku tak sesuai dengan realita.
Karena sebuah pukulan baru saja menghantam tepat di sudut bibirku.

Aku meringis kesakitan. Eunhee telah meninjuku dengan keras. Kali ini benar-benar, sisi maskulin dari gadis ini terlihat. Oh, Tuhan. Kenapa Eunhee sungguh mengerikan? Dia bahkan tak tanggung-tanggung ingin melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya. Kalau saja aku tak menahannya, mungkin aku tak tahu akan jadi seperti apa wajahku saat ini.

“Aku tahu kau sangat marah. Maafkan aku, Eunhee. Ini salahku..”

“Brengsek! Kau puas, sudah mempermalukan ku?”

Menunduk pilu, hanya itu yang bisa ku lakukan selain memohon maaf padanya.

“Sudah ku bilang, aku tak terbiasa dengan benda-benda ini!” Eunhee menghempaskan sesuatu yang di pegangnya. Ia menjatuhkan High heels itu ke tanah tanpa ragu. “Mereka bilang aku tak cocok menjadi seorang gadis feminim!”

Eunhee berbicara dengan nada yang bergetar. Tatapannya masih dan selalu tajam kearahku. Namun suatu hal membuatku kembali terkejut.

“Eunhee, kau menangis?”

Ia terdiam, tak menyahuti ucapanku. Aku menatapnya dengan nanar. Baiklah, ku akui. Ini semua memang salahku. Karenaku Eunhee di permalukan 2 kali lipat.

Pertama, karena warna itu.
Demi apapun, aku benar-benar tak tahu kalau di pesta ulang tahun Sungji harus mengenakkan dress code berwarna putih. Aku salah, karena tak teliti membaca undangannya. Aku juga bodoh, kenapa aku tak menyadari suasana di pesta itu? Seharusnya sejak awal melihat, aku sadar jika semua orang mengenakan busana berwarna putih. Hah! Alhasil, hanya kami berdua yang berbeda dengan mereka. ‘Ubi ungu’? Mereka bahkan tak segan-segan mengatai kami seperti itu.

Poin kedua, karena penampilan Eunhee.
Sepertinya aku telah salah mengubah si tomboy Eunhee menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan anggun. Usaha ku sia-sia. Karena bukannya pujian, tetapi Eunhee malah mendapat ejekan dari orang-orang tak berperasaan itu.

Argh! Maafkan aku, Eunhee.

“Kalau saja aku tak menyukaimu, aku tak akan mau menerima ajakanmu ke pesta itu.”

“A-apa?”

Mataku terbelalak. Eunhee berhasil membuatku tercengang dengan tiba-tiba.
Apa yang dia katakan? Apa aku salah dengar?
Uh, sungguh ajaib! Gadis ini benar-benar spontan dan mengejutkan.

“Sudahlah. Lupakan!”

Eunhee berbalik. Ia kembali berancang-ancang mendahuluiku.

Tidak! Tak semudah itu. Karena aku lebih dulu menahan lengannya.

“Lepas!”

“Katakan padaku. Apa maksudmu mengatakan itu?”

“Park Jimin!”

“Apa kau menyukaiku?”

Gadis itu terdiam.

“Iya! Memangnya kenapa?”

Menghela nafas, kalimat Eunhee kali ini sukses membuatku menarik sudut bibir yang sedikit membiru karena pukulannya.

Aku tersenyum tipis.

“Dengar ya, Jung Eunhee. Kau tahu, mereka semua berbohong padamu. Kau pantas menjadi seorang gadis dengan penampilan seperti ini. Kau cantik. Ku akui itu. Kalaupun malam ini mereka beranggapan buruk tentangmu, mereka hanya tak terbiasa melihat penampilanmu seperti ini. Percayalah padaku.”

“Hah, rayuan macam apa ini?!”

Terdiam. Kedua mataku berputar dengan malas. Aku heran, setiap gadis pasti akan meleleh hatinya jika mendengar kata-kata bijak dari seorang pria yang memuji dirinya. Namun gadis ini tak demikian. Dia benar-benar aneh, dan –unik mungkin. Tadi saja, secara terang-terangan dia berani mengatakan bahwa dia menyukaiku. Aih.

“Aku tak sedang merayumu.”

“Lalu?”

Ku hela nafas lagi dengan pelan.

“Sudahlah, lupakan.” Tatapanku menuju padanya dengan intens. “Sekarang katakan padaku, sejak kapan kau menyukaiku?”

Eunhee menghindari kontak mata denganku. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Aku lupa.”

“Apa itu sudah lama?”

“Entahlah.” Eunhee terdiam sejenak, detik berikutnya ia kembali melanjutkan. “Aku ingin pulang.”

Si tomboy itu berjalan tanpa alas kaki, meninggalkanku yang sedang mematung di hantui rasa penasaran mengenai isi hatinya padaku.

“Kenapa kau baru mengatakannya?” Aku kembali bertanya sambil ikut mengiringi langkahnya dari arah samping.

“Karena kau punya kekasih.”

“Hah, apa kau cemburu saat itu?”

“Sudahlah. Aku tak ingin membahas itu!”

Aku menyeringai seketika. Eunhee menyukaiku? Lucu sekali. Pantas saja dia nampak terkejut saat mengetahui hubunganku dengan Baek Sungji telah berakhir.

“Baikah, baiklah. Satu pertanyaan lagi untukmu.”

“Apa lagi?”

“Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau hanya kita yang memakai kostum dengan warna berbeda di pesta itu?”

Langkahnya terhenti dengan tiba-tiba. Bagaikan magnet yang menempel pada sebuah besi, akupun lantas ikut terhenti mengikuti gerak tubuhnya.

Matanya menyipit dengan tajam. Aku tak mengerti. Apa memandang tajam pada lawan bicaranya menjadi rutinitas gadis itu setiap hari? Aneh sekali.

Eunhee mendengus sebal.

“Hah, aku bahkan tak tahu apa-apa mengenai pesta!”

Uh?”

Tak pernah merawat diri, berpenampilan aneh, dan tak tahu tentang pesta? Oh, Tuhan. Manusia macam apa yang sedang berhadapan denganku ini?

“T-tunggu! Aku tak se-kuno yang kau pikirkan! Aku tak tahu pesta karena aku memang tak pernah pergi menghabiskan waktuku untuk itu.”

Ah, begitu rupanya.

Aku menyeringai lagi pada gadis itu.

“Aku mengerti. Lagipula siapa yang mau mengajak gadis tomboy sepertimu pergi ke pesta? Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang berani melakukan itu.”

“Sial. Apa kau bilang?”

Tatapan Eunhee begitu tajam seperti pedang yang siap mengintimidasiku detik ini juga. Tuh kan, dia menatapku seperti itu lagi.

“Eh. Tidak, tidak..”

Gadis itu berdecak sebal.

“Dimana sopirmu? Antarkan aku pulang!”

“Baiklah, ayo kita pulang.”

Aku melangkah kembali bersama gadis tomboy itu menuju area parkir.
Ketahuilah, ada sedikit getaran kencang di hatiku saat ini. Eunhee sangat berbeda dengan gadis lainnya. Dia itu.. apa adanya. Polos dan —sangat spesial.
Dari luar, ia memang terlihat garang dan mengerikan. Namun bagaimanapun, dia adalah seorang perempuan. Perempuan yang bisa menyukai lawan jenisnya.

Pada kenyataannya Jung Eunhee kini tetaplah seorang gadis, yang sewaktu-waktu bisa terluka perasaannya walaupun hanya karena ejekan dari orang lain.

Ehm, sepertinya, aku mulai merasakan ada sebuah kenyaman dengan gadis bergaun ungu ini. Semua kepedihanku akibat penghianatan itu seperti rontok dan memudar. Aku tak lagi memikirkan hal itu.

Bahkan aku tak merasakan sedikit penyesalan perihal insiden di pesta itu. Entah mengapa, aku merasa bersyukur. Karena kini aku tahu, Eunhee menyukaiku.

Persetan dengan hubungan Sungji dan Taehyung. Aku tak peduli. Yang harus ku pikirkan adalah mengenai diriku dan juga Jung Eunhee. Sepertinya perasaan gadis itu kepadaku tak akan bertepuk sebelah tangan.

Karena apa?

Karena aku juga menyukainya.

“Lupakan masalah itu. Kau tahu, bagiku kau sangat cantik memakai gaun berwarna ungu ini. Rambut hitammu yang tak pernah kau gerai juga sangat indah rupanya. Hm, aku bisa melihat sisi lain di balik sifat tomboymu. Ku rasa, jika orang-orang melihat kita seperti ini, mereka pasti akan mengira kita adalah pasangan yang sangat serasi. Bukankah warna ini sangat cocok untuk kita?”

“Park Jimin?”

“Ya?”

“Omong kosong macam apa lagi ini?”

Aku tersenyum.

Aigoo, gadis ini galak sekali.

***

Fin.

.

.

.

Hai J Aku readers setia loh di BTSFF ini. Blog ini keren, aku suka^^
Aku juga sering bikin fanfiksi. Tapi aku belum pernah mengirimkan cerita aku di blog ini. And this is my frist time.
Waktu aku lagi buka blog BTSFF, kebetulan ada event. Aku tertarik untuk berpartisipasi mengikuti event ini J
Aku sudah mencoba, apapun hasilnya, semoga itu menjadi motivasi aku kedepannya supaya lebih baik lagi dalam menulis. Terima Kasih J

Happy 2nd Anniversary untuk BTS Fanfiction Indonesia^^

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Purple Couple – Oneshoot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s