[What is Your Color?] Orange Juice – Vignette

1457644807571

Orange Juice

By Nnafbjnr

Cast : Kim Namjoon& (OC) YooShinji.

Genre : sad, hurt, (idk for genres)

Lenght :1.313k words

Rating : T

Disclaimers : Tidak ada unsur plagiat apapun di dalam cerita ini. Hanya mengikuti kemana jari melompat di atas keyboard. Jika ada kesamaan alur atau apapun, itu bukan sebuah kesengajaan.

Summary :Tidak sadarkah itu adalah kode dariku bahwa aku menunjukkan sisi lainku?


Acara reuni kecil ini hanya dihadiri oleh diriku dan Namjoon yang telah berteman sejak tahun pertama SMP. Di adakan di sebuah kafe murah di dekat toko buku di daerah Gangnam. Menunggu setengah jam untuk kehadiran lelaki dihadapanku yang kini penampilannya tergantikan oleh waktu. Lebih modern, gaya ala remaja menginjak dewasa Korea jaman sekarang. Tentunya lebih.. keren. Rambutnya sedikit berubah potongannya, namun tak mengubah mimik wajahnya yang datar. Yang kuperhatikan bukan hanya perubahan atas penampilannya saja, sikapnya pun aku perhatikan dengan jeli. Aku tahu sebenarnya ia tak ikhlas membuang uangnya hanya untuk membayar taksi demi menghadiri acara reuni kecil ini. Itu terbukti dengan kalimat pertama saat dirinya duduk di hadapanku.

“Kuharap ini tidak lama. Dosenku menunggu dirumahku.”

Pesanan minuman kami saling berhadapan sama halnya seperti posisi kami duduk saat ini. Menunggu untuk segera mengaliri kerongkongan masing-masing dengan bosan tanpa gerakan apapun. Kalimatnya tadi sudah cukup bagiku untuk mengingatkanku tentang fakta Namjoon yang sampai sekarang belum pernah berubah; tak memiliki banyak waktu luang alias sibuk. Kusunggingkan senyum termanisku, berusaha agar lelaki itu membalasnya.

“Baiklah, aku tak akan lama,” ucapku. “Kau banyak berubah, Joon. Kau menjadi keren!”

“Tentu saja. Sejak dulu aku memang keren, Ji.”

“Kau selalu mengaku-ngaku.”

Kami tertawa kecil—tidak, hanya aku. Senyum angkuhnya terpatri mantap di wajahnya yang manis. Lesung pipi disana seakan ingin menelanku kedalamnya; sangat dalam. Aku sungguh merindukannya. Hubungan teman di antara kamilah yang membuat kami masih bisa bertemu hingga saat ini. Perubahan demi perubahan merubah segalanya. Bertemu lagi seperti sekarang ini membuatku merasakan debaran itu lagi. Debaran bertahun-tahun yang lalu. Yang sempat kulupakan sebentar.

Apakah ini pertandabahwa kita tak bisa jika hanya berstatuskan sebagai teman?

Berlebihan memang, tapi itu isi hatiku. Aku ingin lebih dekat dengan lelaki bernama Kim Namjoon dihadapanku ini. Ingin mengetahui lebih banyak mengenai dirinya dan..kita berdua? Rasanya akan ada sesuatu yang terjadi, itu membuatku takut.

Wajah kalem ala ilmuannya menatapku sembari menyesap kopi pesanannya. Ia bertanya, “Bagaimana kisah cintamu dengan lelaki itu? Masih bertepuk sebelah tangan?”

Aku mengedikkan bahuku, lantas menjawab, “Tak tahu. Tak ada perkembangan yang pasti.”

Pertanyaan macam itu? Nadanya terdengar biasa, hanya saja memiliki kesan menghina bagiku. Ah, atau akunya saja yang terlalu sensitif, ya? Tak tahu dimana enaknya pertanyaan itu, sebetulnya aku enggan menjawabnya. Tak mengerti apa sebetulnya yang ia maksud dari kalimat tanyanya itu. Menghina? Kode? Atau apa? Aku terlampau bodoh dalam hal menebak sesuatu dari cara bicara. Kebingungan ini tak mengenakkan bagiku, menimbulkan rasa bosan sedikit menyeruak. Tatapannya masih tertuju padaku, jantungku makin berpacu bak kaki kuda yang saling mengejar di lomba pacuan kuda. Ini aneh.

Mengingat jaman dahulu, diriku di tim paduan suara, dan dirinya di tim bola kasti sekolah yang saat itu sedang dalam masa keemasannya. Untukmu, aku tak benar-benar menyanyikan lagu bagaikan cerita cinta. Sulit dimengerti.Salah satu perjuanganku untuknya adalah ketika hari dimana aku lomba bersama timku dan turnamen bola kasti yang diadakan pada hari yang sama. Selesai bernyanyi untuk lomba, aku kabur demi menonton turnamen penting Namjoon. Sampai di tribun penonton turnamen, terlihat Namjoon sudah bersiap di tempatnya dengan wajah serius. Kudengar ini babak terakhir, setelahnya permainan ini akan berakhir.

Kemenangan yang di dapatkan Namjoon waktu itu menggembungkan hatiku, berpikir bahwa karena kedatangankulah penyebab tim bola kasti sekolah menjadi pemenang. Meski seorang gadis berkuncir dua terlihat mendekat ke arah Namjoon dan saling bertukar senyum, itu tak membiarkan pikiran pendekku enyah dengan mudahnya.

Aku tak akanmenggapaimu, aku tak bisa menggapaimu, Joon.

Eh, ngomong-ngomong kau mengambil jurusan apa? Matematika? Fisika? Atau seni?” tanyaku penuh antusias.

Math.” Jari kekarnya menggenggam cangkir kopi dengan erat. “Kau sendiri?”

“Sastra Bahasa Indonesia.”

“Langka sekali pilihanmu. Kau keren, Ji!”Senyumnya terlihat aneh sekarang.

“Jangan tersenyum begitu. Aku merasa terhina.” Aku mendelik.

Lihatlah, yang Namjoon ketahui tentangku hanya hasil-hasil sastraku yang tak bermutu dan menjadi sampah daur ulang negara. Bagaikan kata-kata yang tersusun menjadi kalimat tajam di dalam puisi, aku meringis di baliknya. Menahan segala kalimat yang mengiris, menyatakan fakta yang selalu kuelak. Sepertinya aku mulai terpengaruh dengan perasaan ini.

Tasku yang sedikit membesar kubuka resletingnya dan mengeluarkan satu kotak makan berukuran sedang berwarna jingga. Kusodorkan kotak makan tersebut ke hadapan Namjoon. Tampaknya ia bingung, aku mengatasinya dengan senyuman. Tutup kotak makan itu di buka oleh Namjoon perlahan.

“Aku membuatnya khusus untukmu, lho!” kataku. Namjoon hanya mengangguk lalu menutupnya kembali.

“Kumakan nanti di rumah bersama dosenku.” Tiba-tiba pandangannya berubah menyelidik. “Benar buatanmu sendiri atau membeli di toko sebelah?” tanyanya curiga.

“Yang benar saja! Aku memasaknya sendiri!”

Hei! Tidak sadarkah itu adalah kode dariku bahwa aku menunjukkan sisi lainku?

Memasak dan bersih-bersih juga keahlianku! Bukan melamar untuk menjadi pembantu dirumahnya, yang aku ingin buktikan adalah aku yang baik dan cocok untuk menjadi—lupakan.

Jus jeruk pesananku menganggur hingga es didalamnya sudah mencair sebelum aku meminumnya habis. Warna jingganya terlihat lucu dengan butir-butir air yang menempel di setiap jengkal gelasnya akibat suhu dingin yang dikalahkan oleh suhu ruangan disini. Sekian lama kuanggurkan, akhirnya kuminum juga meski hanya tiga teguk. Mengalir dengan segar di kerongkongan. Meski di minum warna jingganya tak memudar. Mataku menatap Namjoon—tidak memudar juga.

Bagaikan jingga pada jus jeruk yang tak akan pudar begitu saja, perasaanku juga tak akan menghilang begitu saja. Meski di anggurkan tanpa ketentuan yang pasti, jus jeruk itu juga akan habis dengan cara apapun. Di minum atau di buang ke saluran air. Masih sama dengan jus jingga favoritku, perasaanku yang menganggur tak jelas terombang-ambing bak ombak di laut akibat debaran yang abnormal, belum tahu masa depannya bagaimana. Dibalas, ditampung, tetap di anggurkan, atau di buang.

Pikiran pendekku menemukan fakta.

“Sepertinya perasaanku adalah kembaran dari jus jeruk ini. Terlalu banyak kesamaan,” ujarku tiba-tiba, mengatakan fakta yang baru saja ditemukan oleh pikiran pendekku.

“Itu menarik untuk di jadikan cerita untuk novel barumu.” Aku mengangguk. “Aku pulang sekarang, ya? Dosenku akan memperlambat waktu wisudaku satu detik jika aku telat sekarang.”

“Tunggu, Joon!” Namjoon pun menoleh.

“Ye?”

Suki da[1].Eh, hati-hati.”

Anggukan mewakilinya. Percakapan yang ini menjadi akhir pertemuan kami pada acara reuni kecil ini. Menyisakan kesedihan tak mengenakkan yang kubawa pulang sebagai oleh-oleh. Tak tahu ia mengerti atau tidak dengan kalimatku yang terakhir—itu tak masalah.Memandang punggungnya yang tegap menjauh, menimbulkan kekecewaan yang menghapus warna jingga dihatiku. Baru berwarna setengah, sudah kembali terhapus. Padahal hatiku bukan papan tulis yang dengan mudahnya mencoret dan menghapusnya dalam sekejap. Perasaanku terbengkalai, bingung untuk di apakan. Seakan tak berguna, itu hanya sebagai pengisi kekosongan hati saja, menjadi bias harapan yang pupus.

Apakah pikiranku dipenuhi dengan segala ekspetasi seorang gadis sastra penuh fantasi? Berekspetasi aku menjadi istri seorang Kim Namjoon dengan menyombongkan diri menggunakan kue buatan sendiri. Tak berguna! Aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan segelas jus jeruk yang masih tersisa setengah.

Wahai jus jeruk berwarna jingga cerah, maafkan aku untuk membiarkanmu dibuang karena takhabis kuminum. Hatiku tak sekuat dan setegas warna merah untuk merasakan kekecewaan dalam kisah cinta sendirian. Hatiku butuh teman yang senasib. Mengerti, ‘kan?

Hatiku dan jus jeruk itu sama-sama akan di buang.

Rela tak rela, aku harus rela. Ikhlas tak ikhlas, aku harus ikhlas. Bahkan jus jeruk pun tak memberontak bila akhirnya harus di buang. Warna jingganya yang kuat, tegar. Hatiku pun begitu. Jingga warna tak memaksa, tak memaksa untuk selalu ikut serta dalam hal mewarnai. Jus jeruk tak memaksa untuk di habiskan. Perasaanku tak memaksa untuk di terima oleh Namjoon.

Ah, aku terlalu baik.

.

.

Fin.

.

Author’s notes : ff gaje ini terciptakan begitu saja :” judulnya terinspirasi dari lagu SCANDAL’s Orange Juice. Berharap menang event lewat ini ff :”v senpai mohon yakini aku. Hiks~ Maapkeun juga kalo banyak typo :” sebelumnya makasih pada owner BTSFF yang udah bikin event :” hehee

[1]“Aku menyukaimu” dalam bahasa Jepang.

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Orange Juice – Vignette

  1. hey kamu ! ff ini layak menang di list ku… haha ini keren, suka bahasanyaa, kiasanya,, dan semua masuk akal untuk diriku yang senasib dengan mu ji , aku mengerti perasaanmu *pukpuk
    keep writing ^^

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s