[Drabble-Mix] Mnemophobia

PicsArt_04-21-12.01.59

Mnemophobia

a drabble mix by feyrefly
Related to Atelophobia but you can read it as stand alone fict.

[BTS’s] Jimin, Namjoon, Jungkook, and Nao [OC’s]
PG • 9 Drabbles [±1k words] • Dark, Psychology, Hurt/Comfort, Romance, slight! Family

.

He drives me crazy.

.

[1st]

Setelah kambuh semalam, aku meminta tinggal bersama Jimin untuk menemaninya, namun ditolak. Ia berkata padaku bahwa ia baik-baik saja seraya mengancingkan mantelku, ia menyuruhku pulang secara halus. Mencoba percaya, kulangkahkan kaki pergi dari sana. Sebelumnya kutinggalkan nomor ponselku di kantor keamanan, mengantisipasi jika Jimin kembali melakukan hal-hal gila, petugas keamanan bisa menghubungiku dengan mudah. Karena mungkin saja tidak ada kebetulan seperti semalam, di mana aku memang berniat bertandang ke rumahnya.

Aku baru saja tiba di rumah saat ponselku berdering, panggilan dari Jimin.

“Halo?”

“Halo, honey.”

You okay?”

“Nao-ya I killed someone.”

Kelopak mataku melebar, tubuhku gemetar. “Damn it, Jim?”

I killed the boy who used to be me.”

Kudengar ia mengerang di seberang, lantas suara dobrakan pintu dan jeritan orang-orang terdengar di telinga. Panggilan itu terputus, namun ada nomor baru yang menghubungiku.

Aku tahu, ia serius dengan ucapan itu.

[2nd]

Aku berderap mendorong ranjang beroda bersama beberapa suster ke ruang operasi. Jimin tak sadarkan diri, sayatan di lengan kanannya membuatku menangis. Setibanya di ruang operasi, langkahku tertahan di depan pintu. Aku dilarang masuk.

“Jimin-a ” Aku merosot ke lantai, masih menangis.

Seseorang memelukku, mengusap rambutku. Kudongakkan kepala, Kim Namjoon berdiri di sana.

Everything’s gonna be okay, Nao-ya.”

Aku ingin percaya, ingin sekali, tapi aku tidak bisa. Akankah Jimin baik-baik saja setelah kehilangan separuh darah dalam tubuhnya?

I’m so dumb,” bisikku. “Why I believed him when he said he was fine?”

Kak Joon memelukku, membekap tangisku malam itu.

Why you gotta be like this, Jimin-a?”

[3rd]

Aku benar-benar bersyukur saat Jimin membuka mata di pagi hari setelahnya. Meski masih tergolek lemah, ia sempatkan satu senyuman terulas untukku. Kuusap surainya, turun ke kedua pipinya, lengan, dan berakhir pada ujung pergelangan kanan di mana perban membebat.

“Jangan lakukan ini lagi, kumohon.”

Jimin tak bereaksi apa-apa.

Kuputuskan duduk bersandar di jendela sementara beberapa dokter datang memeriksa keadaannya. Pandanganku menyebar pada lalu lalang pasien di sekitar halaman rumah sakit. Beberapa dari mereka tertawa, beberapa yang lain berfokus hampa.

Tempat ini menyedihkan, namun sayangnya Jimin harus tinggal di sini demi kebaikannya.

“Nao-ya?”

Aku menoleh. “Ya?”

Dahi Jimin berkerut, matanya memindai sekeliling. “Apa ini rumah sakit jiwa?”

Bahkan, aku tak kuasa menganggukkan kepala.

[4th]

Jimin tidak mengamuk seperti ekspetasiku, namun ia menangis. Ia menangis dalam diam dan tak membiarkanku menenangkan tangisnya. Aku terduduk di sisi ranjang, ada batasan yang ia ciptakan di sana.

Ia masih menangis, aku tak tahu apa sebabnya.

Leave me alone, please.”

Aku menggelengkan kepala. Menolak kuat-kuat permintaannya.

I’ll be okay.”

Aku tidak percaya. Semeyakinkan apa pun ia mengucapkannya, aku tidak akan percaya.

Trust me, Nao-ya.”

Sekarang aku yang menangis di sini. Perlahan kakiku mengukir jarak dan meninggalkan ruang rawatnya. Aku kalah. Semenjak itu dia tak mengizinkanku untuk datang.

[5th]

Hampir satu bulan selama ia di sana dan aku tak pernah menemuinya—dia tidak pernah suka orang lain melihat bagaimana kini dunia memecundanginya. Namun aku tak serta-merta mengabaikan dia, Park Jimin masih kekasihku dan akan terus menjadi kekasihku sekacau apa pun itu.

Setiap seminggu sekali aku datang ke sana dan ia masih baik-baik saja. Perban di tangannya sudah dilepas, ia sudah mulai beradaptasi dengan sekeliling. Aku melihatnya dari kejauhan, berharap suatu saat nanti aku bisa memeluknya lagi.

“Ia sudah lebih baik sekarang, Nona Kim. Seminggu terakhir ia sudah tidak pernah mengamuk dan menyakiti orang lain.”

“Ada kemungkinan untuk sembuh, Dokter Min?”

“Jika ia terus memperlihatkan perkembangan seperti ini mungkin dia bisa sembuh dalam waktu cepat.”

Aku tersenyum, kuperhatikan ia yang sedang memberi makan pada segerombol ikan koi di kolam rumah sakit.

“Cepat sembuh, Jimin-a.”

Setelahnya aku berlalu dari sana.

[6th]

Jeritku melebur bersama kaca kamarku yang hancur. Darah mengalir dari genggaman di sela-sela jemari. Kini aku sekacau Jimin. Mungkin saja aku akan sempurna melakukan imitasi jika saja Kak Joon tidak muncul di ambang pintu dan mendekap erat tubuhku. Aku meronta, berteriak, namun tenagaku kalah kuat.

“Jangan seperti ini, Nao-ya.”

Aku benar-benar kalap. Otakku kehilangan fungsi untuk berpikir jernih. Semua tampak salah di mataku dan aku tidak nyaman dengan itu. Sepanjang malam Kak Joon harus terjaga demi memastikan aku tak melakukan hal gila lainnya. Cukup cermin di kamar yang menjadi sasaran amukanku.

Namun, emosiku tak lenyap semudah itu.

Paginya penampakanku seperti zombie dan aku tertawa memerhatikan penampilanku di permukaan cermin pecah, wajahku terlihat sangat menyeramkan. Mungkin, ini salah satu alasan mengapa dokter-dokter itu melarangku menjenguk Jimin mulai sekarang.

Kemarin mereka menelepon dan berkata; akulah yang membuat Jimin mendekam di rumah sakit jiwa. Pemuda itu akan kumat setelah melihatku. Hell, memangnya siapa mereka berani berkata seperti itu?

[7th]

Aku merasa ingin tertawa padahal tidak ada yang jenaka, aku ingin menangis padahal tidak ada yang terlihat sedih. Aku memecahkan barang, menertawai sayatan merah di sekitar lengan. Kulihat Kak Joon berair muka prihatin di ujung sana, aku masa bodoh saja.

Seseorang yang tampan membawaku keluar dari kamarku. Meskipun tidak setampan Jimin, kuakui seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Jeon Jungkook itu cukup menawan. Kami berkendara di mobil yang sama, ia ramah dan aku nyaman dengannya.

“Kita sampai.”

Ia membuka pintu mobil dan memintaku turun. Pemuda genit itu mengamit lenganku, huh, kalau saja Jimin sudah sembuh ia pasti memukul pemuda itu. Aku menurut saat ia mempersilakanku istirahat di sebuah ranjang dalam suatu ruangan. Semua terasa familiar, begitu pula pemuda bernama Jungkook itu.

Tunggu, bukankah ini rumah sakit jiwa yang sama di mana Jimin—berusaha—disembuhkan?

Aku menangis keras, aku tidak gila!

[8th]

Tempat ini tidak buruk, mereka menyediakan semangkuk bubur di setiap sarapan dan ayam goreng di makan siang. Kak Joon masih sering menemuiku sebelum ia bercakap-cakap dengan pemuda bernama Jungkook itu. Aku hanya membiarkan Kak Joon dan Jungkook yang menyentuhku. Selain mereka, aku tak pernah suka ada sentuhan ataupun tatapan mata.

Meski berada di tempat yang sama, aku dan Jimin tak pernah berjumpa.

Kak Joon pamit untuk bekerja setelah mengantarkan pizza pesananku. Lihat, kan? Aku bahkan masih bisa makan pizza di rumah sakit jiwa. Kubuka kotak pizza pemberian Kak Joon dan mulai memakannya. Ada Jungkook di sana, maka kutawarkanpizza itu padanya. Dengan senang hati ia mengambil sepotong dan kami makan bersama-sama.

“Jimin sudah sembuh.” katanya.

Aku tersedak, Jungkook memberikan segelas air. Benarkah? Aku bereuforia dalam diam. Sebentar lagi ia pasti mengingatku dan aku pasti akan segera ke luar dari tempat ini. Jimin sembuh, itu artinya kami bisa bersama lagi.

Bukan begitu?

[9th]

Bohong! Jimin pembohong! Selama berbulan-bulan aku mendekam di sini dan ia tidak pernah datang. Aku marah, meremukkan segala macam benda yang ada di ruang rawatku. Pecahan gelas berceceran di lantai, terinjak oleh kakiku yang berjalan tanpa alas. Aku meringis, darah mengucur dari sana.

Setelahnya Jungkook dan Kak Joon datang bersama beberapa dokter. Aku benci mereka! Mereka yang memintaku untuk tidak menemui Jimin dan pasti mereka juga yang melarang Jimin menemuiku!

Kudorong salah seorang dari dokter-dokter itu. Ia terjatuh, tangannya tergores pecahan kaca di lantai. Aku dengan lantang menertawainya, haha rasakan!

Kemudian Jungkook mendekat, aku berkelit waspada. Namun, ia berhasil mendekapku dan menahan gerakan kedua tanganku. Aku meronta, memanggil Kak Joon minta dilepaskan tapi ia tak merespon apa-apa selain meneteskan air mata.

Seorang dokter maju dan menyuntikkan sesuatu di balik kulitku. Untuk beberapa saat aku terdiam hingga reaksi cairan itu membuatku sakit kepala. Perlahan, tubuhku merosot di pelukan Jungkook. Kurasakan ia menggendong tubuh kerontangku ke atas dipan dan merebahkanku di sana. Sebelum beranjak, kudengar ucapan lirih dari bibirnya;

“Cepat sembuh, Nao-ya.”

—fin.

Mnemophobia; the fear of memories.

Ini Enchim edan, Nao edan, authornya edan, yuk readersnya juga mau sekalian? (ga)

Advertisements

26 thoughts on “[Drabble-Mix] Mnemophobia

  1. Parkdongseob29

    Kamu sih kebanyakan mikirin jimin, jadi ketularan kan? Enchim bakoh nao, jadi tenang aja. Gegara kamunya yg ngga bakoh, jadi gampang terserang penyakit jiwa kan? Hmzzz.. /igemwoya/gaje/biarkanlah/wekawekaweka

    Like

  2. Baru nginjekin kaki disini… salam thor, readers baru. DEMI APA AKU SUKA. JIMIN KUUUU/lah. keren banget, aku deg degan bacanya, suka banget fanfic genre ginian. BEST FANFICT. keep writing thor ^^/

    Liked by 1 person

  3. Aihara

    Karena terlalu stress mikirin Jimin yang sakit jiwa,
    Nao jadi ketularan?
    Miris sekali…
    But itu Jungkook perawatnya kan? Perhatian banget:3

    Like

  4. snineteen-hope

    Aku gk mau ikut2an edan kok thor *kyaaaa

    Suka banget sama plotnya !! Sering2 tulis fanfic ttng psycology ya hheheheheh suka banget pokoknya gk pernah bosen deh

    Liked by 1 person

  5. Ada saingan emak ternyata selama ini ya, ga sia-sia mbaay terdampar di sini.

    Kakfey gasekalian ikut mbanao? eh tapi bukannya kakfey lagi mode mbanao ya? jangan-jangan….kak sadar kak, pantesan semalem tlnya senggol nikahin ternyata….yasudahlah /pukpuk mbanao/ /kemudian mbaay dibuang ke jurang/

    Liked by 1 person

    1. Kenapa saingan emak?😭 fey hanyalah buntut cebongnya emak kaay huhu.

      Ga, fey udah ganti mode jadi fey kak. Nao lagi di rsj sama jimin (ea)

      Jadi gimana kaay jadi nikahin nao ga? Nao udah siapin seserahan nih (lah kebalik oneng)

      Liked by 1 person

  6. ratihpv_

    Keren.. Keren…
    Masih bingung sih sebenarnya ((belum cukup umur sepertinya untuk baca beginian /plak)) tpi ttp aja ku suka kak fey!
    Nao tu kenapa?
    Jimin kemana?
    Maksud phobianya Nao itu dia takut sama kenangannya sendiri apa gmn??
    Atau dia stres karena ga bsa ketemu Chim lagi? ((banyak tanya))

    Waktu baca dokter Min, sempet mikir tu Suga /waks

    Intinya ni ff keyen badai.. (y) ((abaikan celotehan gaje ini))

    Liked by 1 person

    1. Hayo ngeyel kan belom cukup umur…. sana cuci kaki terus bobo ya.

      Nao kenapa? Nao sakit jiwa, tih (kemudian fey digiles nao) jimin ga kemana mana kok. Dia dihatimuuuu (ea)(sekarang gantian digiles ratih)

      Btw thanks for reading yaaaa

      Like

  7. Phobianya jimin kan takut akan ketidaksempurnaan sdgkan nao ketakutan akan memori.
    Kalau nao yg bikin jimin begitu, mgkin nao sdh melakukan sesuatu pd jimin shingga jimin mrs tidak smpurna namun nao mengingat semua itu dan munculah phobianya /? (Aduh aku ngelantur :-()
    Berikanlah aku titik terang fey neuron ku cuma secuil pelet pancing :”)
    Tapi nice fic! Yang pov jimin juga keren😆✨

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s