[FICLET-MIX] Steps

PicsArt_04-30-07.46.46

Steps

a ficlet-mix special for Gyuskaups’ birthday
by snqlxoals818, tiarachikmamu, and echaminswag~

Starring : [BTS’] Park Jimin with [Gyuskaups’] Vallyra Park
| Genres : Family; Childhood, Fluff, Comedy | Length : 3 Ficlets | Rating : G |

Rules: No Plagiarism!

.

Vallyra dan Jimin dari waktu ke waktu.

.

.

[1st Ficlet]

“Aku pulang.”

Seruan dari pintu depan disambut senyap. Park Jimin mengerutkan kening ketika tak mendapati langkah kaki kecil adik perempuannya yang menyambut Jimin setiap kali dia pulang sekolah. Val tidak ada di kamar pun di halaman belakang bermain dengan anjing putih mereka.

“Val? Kakak bawa sekantung permen, nih.”

Masih hening.

Ini aneh, pikir Jimin.

Biasanya, kalau memang Val bersembunyi untuk mengagetkan Jimin, pancingan berupa permen bisa langsung membuat adiknya berteriak senang. Tapi sekarang, tidak ada sahutan sama sekali. Ini berarti Vallyra tidak ada di rumah. Dan entah kenapa, Jimin merasa gelisah.

Karena kedua orang tuanya sedang pergi… apa mungkin Val diculik?

Oh, tidak! Meskipun Vallyra masih berusia lima tahun, gadis cilik itu pintar. Dia bisa berteriak, menggigit tangan penjahat, atau melempar barang apa saja untuk melindungi diri.

Tapi Jimin benar-benar cemas!

Maka, dia bergegas menaruh tas sekolahnya dan kembali keluar rumah.

Sampai di pertigaan, Jimin mengarahkan tungkainya ke taman bermain kompleks–tempat satu-satunya yang mungkin dikunjungi sang adik jika sedang bosan sendirian di rumah.

Sembari mengatur napas di dekat pohon, Jimin mengamati sekitar. Taman saat siang memang sepi, jadi harusnya mudah mencari sang adik di sini. Dan benar saja. Vallyra ada di taman ini. Gadis cilik dengan baju terusan putih itu duduk di dalam lubang pipa di bawah papan seluncur.

Tiba di sampingnya, Jimin berjongkok. Tak lupa mengeluarkan kantung permen yang sempat dia bawa dan menyodorkan di depan wajah sang adik yang terbenam di balik kedua lengannya yang terlipat.

“Val, Kakak punya permen. Semuanya buat kamu, lho.” Alih-alih mendapat respons pekik kegirangan, Jimin mendengar isak tangis lirih. Merapatkan jarak, tangan Jimin menyentuh pundak adiknya. “Val kenapa?”

Perlahan, Vallyra mengangkat wajahnya. Ada bulir-bulir air mata yang membasahi pipi dan pucuk hidungnya memerah. Pun Jimin melihat darah yang mulai mengering di lutut sang adik.

“Kamu….”

“Kueku diambil sama anak jahat. Huaaaa….” Tangis Val makin keras mengingat kuenya yang raib dan perih di lututnya. Jimin merengkuh tubuh mungil adiknya dan menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya. “Tadi aku mau kasih kuenya ke Kak Jimin, t-tapi… kuenya diambil dan aku jatuh. Dan lututku sakit. Huaaaa….”

“Ssst. Enggak apa-apa, Val. Nanti kita bisa beli kue bersama, ya. Yuk, pulang. Biar Kakak obati lukanya Val.”

Tanpa menunggu jawaban, Jimin melepas pelukannya. Memutar tubuh, mengarahkan punggungnya di hadapan Val dan gadis kecil itu langsung mengalungkan lengannya di leher sang kakak.

“Siap berangkat, Kapten Vallyra?”

“Siap, Kapten Kak Jimin.”

Val memberi hormat. Melihat senyum manis yang kini terlukis di wajah adiknya, Jimin mengecup singkat pipi tembam Val. Dibalas kikik geli dan Val berhasil mencubit kedua pipi kakak lelakinya yang juga tembam.

“Val curang. Kak Jimin kok tidak dicium juga?” Merengut, Jimin pura-pura kesal dan memalingkan wajahnya.

Alih-alih luluh, Val malah makin kencang mencubit dan menyambar kantung permen dari saku celana Jimin sebelum beringsut turun dari punggung lelaki itu. Abaikan rasa perih di lututnya, Val berlari kencang sembari melambaikan kantung permen di genggaman.

“Aku enggak mau cium Kak Jimin yang kemarin dapat nilai lima di ulangan Matematika.”
.
.

[2nd Ficlet]

“Kak, aku pergi.”

Jimin hanya menggumam lirih tatkala sapaan sekaligus permintaan izin itu mengudara dari katup Vallyra. Tak banyak menanggapi, pemuda itu hanya melirik dari balik selambu putih berenda selepas Vallyra keluar dari rumah. Sontak, helaan kasar serta senyum pias tersungging tipis.

Vallyra sudah beranjak dewasa.

Ada yang menjemput dan mengantarnya ke sekolah, sekarang. Ada yang mengajaknya pergi jalan-jalan tiap akhir pekan, sekarang. Ada yang melindunginya dari marabahaya, sekarang. Pun ada yang memeluknya dan menggenggam tangannya ketika ketakutan, sekarang.

Jika dibilang terlupakan, mungkin itu kurang tepat. Namun, pada kenyataannya eksistensi Jimin tak lagi dihiraukan adik perempuannya itu. Ia sibuk dengan dunianya, dan Jimin sudah jarang mendapati Vallyra berada di rumah. Jimin rindu, jujur saja. Vallyra yang manis dan memenuhi seisi rumah dengan tangisnya yang luar biasa keras tiap kali Jimin menggodanya.

Kini, Vallyra sudah jarang menangis. Adakalanya gadis itu menangis bukan karena godaan dari Jimin, melainkan saat bertengkar dengan pacarnya. Iya, pacarnya yang tadi menjemput Vallyra ke rumah; yang saat ini masih berada di depan pagar bercengkerama dengan adik perempuannya itu.

Jimin menghantamkan punggung pada sandaran sofa ketika pintu kembali terbuka dan Vallyra masuk ke dalamnya. Gadis itu memulas senyum manis sembari bersitatap dengan sang kakak. Menangkap kerinduan yang mendalam dari sorot itu. Detik berikutnya, Vallyra memberikan sebuah pelukan erat dan kecupan singkat di pipi Jimin. Entah apa maksudnya.

“Jangan mengira aku lupa denganmu karena sudah punya pacar, ya, Kak. Asal kamu tahu, aku sangat bersyukur punya kakak yang baik sepertimu.”

Bukannya merasa terharu atas apa yang Vallyra ungkapkan, Jimin justru bergidik ngeri mendengarnya. Sejak kapan adiknya ini bisa membaca pikiran seseorang? Atau sejak kapan Vallyra menyadari Jimin merasa dilupakan olehnya?

“Oh, dan satu lagi, jangan menekuk wajahmu seperti itu lagi. Kautidak mau calon istrimu nanti memilih pemuda lain, ‘kan?” Vallyra tergelak riang, melepas pertautan mereka dan lagi-lagi mencium pipi sang kakak. “Aku menyayangimu, Kak Jimin. Dan aku harus segera pergi mencarikan hadiah untuk pernikahanmu sebelum malam. Jangan lupa habiskan makan malammu.”
.
.

[3rd Ficlet]

“Aduh! Akh!”

“Auuu!”

“Uhuk uhuk!”

“Aaakkhhh!”

Harusnya Vallyra prihatin. Harusnya. Tapi sungguh, deh. Akting Park Jimin kali iniㅡuntuk yang kesekian kaliㅡjelek sekali sampai-sampai mampu mengubah prihatin jadi ingin melempar panci.

“Vall…. Uhuk uhuk!”

Jimin melambai-lambaikan tangannya, berusaha menggapai Vallyra yang hanya berdiri tak acuh di ambang pintu.

“Vall…. Kayaknya kakak nggak akan berumur panjang, deh. Uhuk uhuk!”

Bukannya merinding, Vallyra malah menatap jengah.

“Kak, jangan akting lagi, deh.”

“Kakak nggak akㅡuhuk uhuk!”

“Vallㅡuhuk uhuk!”

Masih enggan mendekat, Vallyra memilih melirik-lirik dari tempatnya. Yeah, kali ini akting Jimin tidak buruk-buruk amat, sih. Tidak seburuk waktu pura-pura pingsan saat Vallyra akan fitting baju pengantin dengan calon suaminya, juga tidak seburuk waktu pura-pura sakit perut saat Vallyra akan membeli cincin kawin.

“Uhuk uhuk! Vall, tega sekali kamu denganㅡuhuk uhuk!”

Masa, sih, Park Jimin sakit sungguhan?

Pada akhirnya Vallyra mendekat. Duduk di pinggir tempat tidur, lantas mendaratkan tangannya pada dahi sang kakak.

Demam. Demam sungguhan.

“Kak, Kak Jimin sakit sungguhan?” Giliran Vallyra yang terlonjak. “Sudah minum obat? Kenapa nggak bilang sejak tadi, sih!”

“Kan, aku sudah bilangㅡuhuk uhuk!”

“Aish! Tunggu di situ!”

Baru saja Vallyra akan bangkit, Jimin telah lebih dulu menarik lengannya kuat-kuat. Membuatnya limbung lantas terhempas ke atas tempat tidur yang langsung disambut pelukan erat dari sang kakak.

Vallyra tidak yakin, sih, itu pelukan. Kakinya dikunci rapat, serapat lengannya yang didekap sampai tak ada ruang untum bergerak.

“Jangan menikah dulu….” bisik Jimin lirih.

Vallyra hanya menghembus napas jengah.

Topik ini lagi.

“Kan, aku tidak ke mana-mana, Kak,” jawab Vallyra.

“Bukan begituㅡ”

“Aku janji akan sering-sering main kemari,” tandas Vallyra sebelum Jimin melanjutkan protesnya.

“Bukan begitu, Vall. Maksudku, menikahlah setelah aku menikah. Atau carikanlah aku jodoh sebelum kamu menikah. Kan, aku jadi kesepian kalau setiap hari sendirian.”

Dasar Park Jimin sialan!

“Ikut biro jodoh sana, kek,” tukas Vallyra kesal.

Jimin hanya tertawa kecil. Yah, bagaimana pun, ucapannya tadi tidak sepenuhnya salah, sih. Jimin memang belum rela kalau adiknya harus diambil orang. Tapi bukan Jimin haus jodoh seperti yang barusan dikatakannya.

“Vall,”

“Hm?”

Jimin terdiam. Sengaja memberi jeda, sekaligus menguatkan hatinya untuk berkata,

“Nanti sayangi suamimu kayak aku, ya.” Jimin menghela napas panjang. “Dan…maaf kalau kakak belum sehebat yang kamu bayangkan. Semoga…calonmu bisa jadi teman sekaligus jagoanmu.”
fin.

Selamat ulang tahun Triska! ❤

Advertisements

16 thoughts on “[FICLET-MIX] Steps

  1. Baca ini jad pengen punya kakak laki-laki yg mustahil buat dimiliki :”)
    Sweet banget sumpah,jim! Enak ya jadi Val yg punya kakak kayak Jimin. envy sumpaaah!
    Suka bgt sama cerita kayak gini :”

    Like

  2. Aihara

    Rasa keinginanku buat punya kakak laki-laki kandung–yang terlalu mustahil terjadi–makin menjadi-jadi setelah baca ini><
    Jimin kenapa dirimu sweet sekali sih
    Pas bilang jangan menikah dulu itu loh ya ampun~

    Like

  3. Anjaaaayyy para senpainim kolab anjaaaaay petjaaaah ya uwuwu
    Enak ya val, punya kakak kaya jimin sayangnya sih fana HAHA /dibuang ke jurang/ ah debes lah pokoke ❤

    Budiiiir mbaay terdampar di sini budir /icik lu ay/ /dibuang beneran/

    btw pi besdey mbahtrisssss <3<3<3

    Liked by 1 person

  4. YA ALLAH TOLONG BANYAKAN POPULASI KAKAK LAYAKNYA JIMIN YA ALLAH AMIIN… Aduh fic nya yakali punya kakak kayak jimin gak bakal tak tinggal nikah malah aku ajak nikah/GAK/
    Hepi b’day kak tris kenapa gak bilang kalo kamu ultah 😕 Kamu juga udah lama gak nongol kamu dimana kak ALL kangen/eeaak XD / wish you all the best kak tris laf you ❤

    Liked by 1 person

  5. nnafbjnr

    Waahh keren bgt ya amvun. Itu jimin so sweet aned sih jdi kakak! Aaaa sinih nikah sama aku aja bang :v

    Eh authornim, we meet again! /abaikan

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s