[Vignette] SORORI

dd

A birthday fic for FiolaCindy from feyrefly, imjustagirl, and Ivyjung.

[BTS’s] Kim Taehyung and Amelia Kim [FiolaCindy’s OC]

PG-15 • Vignette • Family

cr.poster by imjustagirl

.

“Namanya Amelia Morgan, sekarang dia resmi menjadi adikmu, Kim Taehyung.”

.

.

Ketika ayah membawa seonggok makhluk gadis mungil melewati birai pintu utama, Taehyung teramat cepat dalam memasang wajah kurang suka. Kelopak beserta obsidiannya memicing dalam melakukan pemindaian, sosok gadis kecil di hadapannya menjadi objek utama atas apa yang terasa menyakiti mata.

Siapa dia?

Kisaran tubuhnya hanya setinggi pinggang Taehyung. Helai surainya berpola lurus coklat menjuntai, tulang hidungnya tinggi menengahi antara dua mata, sedangkan warna kornea matanya meminjam lembaran daun maple di kala musim gugur tiba.

“Namanya Amelia Morgan, sekarang dia resmi menjadi adikmu, Kim Taehyung.”

Taehyung bersungut lesu. Adik, katanya? Padahal sang ibu baru saja dikebumikan tiga hari yang lalu dan sekarang sang ayah memperkenalkan gadis kecil ini sebagai seseorang yang menyandang status sebagai adiknya? Ia kira semudah itu Taehyung akan menerima?

Derap kaki Taehyung membelah atmosfer ruang keluarga. Bersama debam pintu yang ditutup paksa, Taehyung merepresentasikan ketidaksudiannya atas keberadaan orang baru di keluarga mereka. Apakah Taehyung masih belum cukup menjadi anak satu-satunya?

.

.

Good morning.” Selirih suara kecil membuka pagi seorang Kim Taehyung. Ia baru saja memijak anak tangga terbawah di rumahnya ketika selintas bocah bernama Amelia itu muncul ke hadapan, menyelorohkan sapaan dalam bahasa ibunya dengan logat yang masih teramat kental.

Tak mau repot-repot menyapa ulang, Taehyung melenggang seraya memaling muka ke arah ruang makan. Lambungnya perlu mencerna sarapan sebelum berhadapan dengan ulangan matematika di sekolah nantinya. Semula Taehyung bersemangat untuk segera mengunyah waffle berlumuran nutella hasil mahakarya pembantu di rumahnya, namun ketika sosok gadis itu turut mengisi satu ruang kosong di meja makan rumahnya, ia tidak tahan untuk tidak mendengus keras.

Haruskah ia selalu ada di setiap Taehyung membuka mata?

“Ayo sarapan, Taehyung-ah.” Tuan Kim tersenyum lebar, menyambut kedatangan putra sulungnya saat bergabung bersama mereka. Taehyung mengambil kursi bersebrangan dengan Amelia. Setangkup waffle ia makan dalam diam.

“Taehyung-ah, nanti kau antar Amelia ke sekolah barunya, ya? Dan tolong ajarkan dia Bahasa Korea pelan-pelan.”

Haruskah ia? Taehyung berdecak dalam hati. Lagi-lagi ia meneliti penampilan Amelia yang kini terbalut dalam seragam sekolah dasar berwarna merah muda. Surai hitamnya di ikat dalam dua kepangan, menguatkan garis wajah Austroloid yang ia miliki. Sekilas ia tampak seperti anak kecil biasanya, namun sesuatu dalam dirinya membuat mengkal dalam hati Taehyung membuncah-buncah.

“Aku berangkat,” Lutut Taehyung tegak berdiri. “dan jangan harapkan aku mau membawa anak itu turut serta.” Oktaf yang disuarakan Taehyung berintonasi pelan tapi sarat penekanan. Sang ayah hanya mampu merunut kepergian sosok Taehyung hingga tertelan pintu dengan senyum kaku, sedangkan Amelia hanya bisa meratap dan menelan kunyahan waflenya.

Ia tak begitu cakap dalam Bahasa Korea, tapi ia memaknai satu hal dalam ucapan kakaknya; bahwa kehadirannya tak pernah sekali pun diharapkan di sana.

Kim Taehyung benci Amelia Morgan.

Semua kasih sayang dari sang ayah berpindah haluan kepada si bocah tanpa tersisa secuil pun. Perhatian yang dia dapatkan semakin lama semakin hilang sedikit demi sedikit.

Pun sekarang Taehyung tidak pernah mendengar ayahnya menyapa kala pagi hari. Malah amarah yang dia dapatkan.

Taehyung hanya bisa mencebik kemudian berlalu dengan gebrakan meja yang membuat Amelia tertunduk takut atau malah terkadang menangis dengan gaya sok imut yang Taehyung pikir kentara sekali sangat dibuat-buat, demi menarik perhatian ayah dan demi membuat dia sendiri menjadi objek penderitaan.

Kecil berengsek, batin Taehyung berbicara.

“Kak Taehyung, benci Amy, ya?” Suara kecil Amelia menyambangi gendang telinga Taehyung, si lelaki tak kunjung menjawab, malah bergerak menjauh. Lebih memilih untuk menyalakan televisi menonton reality show dibanding menanggapi pertanyaan Amy.

“Jadi benar Kak Taehyung benci Amy?”

“Menurutmu?”

Hilang sudah mood Taehyung hari ini. Tidak cukup apa dia menggangu kala ayah masih di rumah? Bahkan saat ayah berangkat kerja Taehyung harus diusik kembali.

Taehyung muak setengah mati.

.

.

Menggigiti bibir bawahnya yang lumayan tebal sudah Taehyung lakukan sejak beberapa jenak. Kecamuk dalam tempurung kepalanya sedang beradu argumentasi.

Salahkah?

Benarkah?

Netranya menumbuk manik biru adik—yang entah datang dari mana—itu untuk beberapa sekon. Sudah tak terhitung ia mengumpati wajah polos itu hingga memerah dan tak jarang berurai fluida bening dari dua pelupuknya. Taehyung muak, memang. Namun sebersit perasaan lain menyambanginya dengan tiba-tiba tanpa Taehyung sendiri sempat menduga.

Amelia terlihat lelah, satu yang Taehyung cerna dengan tepat kala kedua bola mata mereka beradu.

“Pergi sana!” Tenggorokannya tercekat ketika harus mengusir Amy, menggoreskan luka hati pada bocah kecil itu untuk kesekian kali. “Hanya sakit hati yang akan kaudapatkan jika terus memaksakan diri seperti ini. Aku malas meladenimu, jujur saja.”

Tanpa benar-benar mengerti maksud kalimat Taehyung, Amy malah melakukan hal yang membuat pemuda tujuhbelas tahun itu terperenyak.

“Ya!”

Taehyung tak sempat mengumpatinya lebih banyak. Ada semacam mantra yang membuat pemuda itu bungkam alih-alih memarahi Amy yang telah lancang beringsut serta memeluknya begitu erat.

Amelia menangis, terisak-isak dalam pelukan Taehyung yang membatu.

“Maafkan Amy, Kak.”

Kalimat yang susah payah bocah itu pelajari demi mencairkan kerasnya hati sang kakak. Kalimat yang selalu ingin diucapnya setiap saat namun selalu tercekat dalam kerongkongan. Kalimat itu akhirnya berhasil Amy loloskan dengan terbata.

“Maafkan Amy. Amy sayang Kak Taehyung.”

Sepuluh jemari Taehyung tergenggam erat. Tak ingin memberikan reaksi atas aksi yang diterimanya, namun juga tak kuasa untuk tetap bergeming lebih lama. Ia memilih mendorong tubuh adiknya menjauh beberapa jengkal, lalu menangkupkan dua telapaknya pada wajah mungil Amy.

“Jangan menangis di depanku. Sudah saatnya makan siang. Cepat bergegas kalau kau tidak mau melihatku dimarahi ayah karena membiarkanmu kelaparan. Kau tidak mau membuat masalah lagi denganku, ‘kan?”

Jika diingat-ingat, mungkin ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Taehyung ucapkan pada bocah kecil di depannya. Tambahkan rekor baru karena ia mengucapkan dengan lembut tanpa emosi sama sekali. Oke, Taehyung sudah lelah.

.

.

“Susunya?”

Dengan nyali ciut, Amy menerima segelas penuh susu coklat yang disodorkan Taehyung di tengah santapan siangnya. Perasaan lega membuncah dalam dadanya, namun rasa takutnya pada pemuda berjarak delapan tahun dengannya itu belum juga sirna. Amy trauma. Ngeri kalau-kalau dirinya diteriaki lagi seperti biasa.

“Aku tidak akan menggigitmu. Jangan menatapku seperti itu. Anggaplah ini permintaan maafku. Tenang saja, aku tidak akan memarahimu lagi.”

Sembari bercakap, ia menoleh ke arah jendela. Sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan adiknya. Denting sendok milik Amy yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya sumber suara yang menyelamatkan mereka dari keheningan. Amy sibuk menandaskan makan siangnya. Sedangkan Taehyung sibuk menghitung mundur.

Sepuluh.

Sembilan.

Delapan.

Diembuskannya napas yang menyesakkan dada. Beginikah mereka seharusnya? Tertakdir sebagai kakak beradik yang berdampingan dalam kedamaian? Taehyung baru sadar bahwa selama ini ia melakukan sesuatu yang sia-sia. Ya, seharusnya memang seperti ini. Bukan mengumpat, mengutuk, atau menyalahkan semua orang atas kehadiran Amelia Morgan ini. Toh Amy tak begitu menyusahkan, Taehyung baru sadar.

Tujuh.

Enam.

Lima.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kim Taehyung begitu berhati-hati mengulang hafalan angka yang pernah ia pelajari sewaktu masih taman kanak-kanak. Kalau perhitungan matematikanya tidak meleset, harusnya sekarang sudah—

Argh!

Pemuda itu terkesiap seiring daun telinganya yang tersambangi erangan tipis dari bibir mungil gadis di hadapannya. Bocah itu meringkuk, tubuhnya mendadak kejang, lantas kepalanya limbung terkulai di atas piringnya yang nyaris kosong.

“Amy?”

Taehyung mengigit bibir bawahnya lagi. Menelengkan sedikit kepalanya agar visinya mampu menangkap wajah pucat adiknya.

“Amy, are you okay?”

Tak ada jawaban atas pertanyaan retorikal yang diudarakan Taehyung. Amy tidak baik-baik saja, jelas Taehyung sudah memperhitungkan itu semua.

Ck! Kau tidak asyik, Amy. Ini baru dua sendok penuh dan kau sudah sekarat? Astaga, sia-sia aku membeli sebotol dengan harga mahal.”

Polahnya seperti menyesal bukan kepalang, namun wajahnya tak menyiratkan kepanikan sedikitpun melihat gadis kesayangan ayahnya membeku dengan busa mengalir dari sudut-sudut bibirnya. Dikikisnya jarak dengan tubuh tergolek tak berdaya itu. Taehyung mengusap sejenak surai hitam yang menutupi sebagian wajah pucat Amy, lalu jemarinya meraba bagian leher; memburu denyut nadinya. Seringaian tipis terlukis kemudian.

Bye, Amy. Aku menang.”

.

.

HAPPY BIRTHDAY FIOLACINDY :*

Fey, Ulang, Ipy ❤

Advertisements

14 thoughts on “[Vignette] SORORI

  1. WHAT THE

    TWIST

    Aku ngga nyangka
    Pas Amy udah meluk Taehyung dan Taehyung-nya udah kalem ya bilang ga bakal marahin Amy
    Dan berpikir mereka bakal jadi kakak-adik yang rukun
    Eh…
    Nyatanya Taehyung masih gitu, sampai tega mau ngebunuh/?
    Pantes sih, aku awalnya juga udah ngerasa aneh mengenai ‘hitungan’nya itu
    Tbh it’s good~

    Like

  2. tae pliss sejak kapan kamu kek gini nak haduh nahloh engga ada lagi yang mau jadi adek kamu sssh

    waktu tae ngitung udah agak curiga gitu ya tapi mikir lagi masa iya bakalan ada scene bunuh-membunuh(?) eeeh ternyata oh ternyata alien kita sudah berubah(?)

    Like

  3. Bagus mphi, kamu memang lebih cocok jadi pembunuh daripada baik baikin si Amy /dibuang/

    Males ah ketemunya abah lagi, kakfey lagi, kakpy lagi, bosen. Kak lain kali bikinin buat mbaay dongs /dibuang beneran/

    Btw buat yg ultah, pi besdey yaaaa🎉

    Like

  4. PLOT TWIST YA ALLAH, DASAR ZENPHAY ZYALAND
    gak kepikiran banget bakalan ada sad ending begitu (derita anak gamau baca genre)

    kmprt ya kmprt -_-

    Like

  5. Tunggu.. Tunggu…
    ITU AMY MATI BENERAN??!!!!
    YA, Tae kakak durhaka… Jangan dicontoh!! Kakak macam apa ini?!!
    Awalnya kira mereka beneran baikan lalu Amy kejang karena punya riwayat penyakit kronis/?? Kemudian Tae panik gt..
    Eh pas baca dua sendok itu langsung ngeh T.T
    Nice ff (y) (dgn ending yg tragis)

    Like

  6. Huwa!! Jahat sekali main udah dimatiin xD but, kak, ini rasanya hadiah April Mop daripada Birthday Gift. Kakfey, kakulang, kakivy, yang kalian lakukan ke aku itu …. JAHAT /korban AADC2. aku kira taehyung bakal minta maaf ke amy trus baikan ma dia, ternyata~~

    THANKS KAKAK-KAKAK ZENPAININ. LUV KALIAN :*

    Like

  7. Ternyata taehyung ngitung nunggu si amy mati?! jahat banget sih… tapi aku nangis terharu bacanya. tapi bahasanya juga ketinggian, gk nyampe sama otah q. untuk author, KEREN!!

    Like

  8. ENDINGNYA KOKKKKKKK…….???!!!!! Aku kira tae ngitung apaan ternyata nunggu si amy tergeletak habis neguk racun sial mana tau endingnya tragis gini padahal bacanya udh senyum2 –” nice fic lah T-T happy birthday jg buat author yg ultah 😀

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s