[BTS FF Freelance] LOVESTRIKES : Love Begins (Chapter 1) – (Multi chaptered)

love-strikes-1-2jpg

LOVESTRIKES | by: namgiyea | Oneshot

Main casts: BTS Jeon Jungkook, BTS Park Jimin, OC Lee Nicha, OC Choi Nara| Rating: PG-15| Genres:School life, friendship, romance, comedy.

Remake from my old pic, Pure mine, No plagiarism.

Sebuah waktu di mana dimulainya sebuah kisah,

Apakah cinta itu tak pernah salah memilih?

Aku menyukaimu tetapi sukar untuk ku jelaskan dan kali ini berbeda!

.

.

 

LOVESTRIKES

Love Begins (Chapter 1)

 

Kedua remaja laki-laki itu duduk diatas sofa tempat yang biasanya dipakai untuk penanganan siswa-siswa bermasalah yang ukurannya tak begitu besar.Pria paruh baya yang mengenakan setelantraining dankepalanya nyaris kinclong tanpa ditumbuhi rambut itu membentak kedua pria dihadapannya.

Walaupun beberapa kali menunduk keduanya sukar untuk menahan tawa. Menurut mereka saat lelaki itu marah-marah, ia akan terlihat sangat konyol.Seperti sedang menonton adegan di Gag Concert. Situasi seperti ini pula sudah menjadi makanan mereka sehari-hari.

Yang surainya berwarna hitam dan memiliki tindikan di telinganya bernama Jeon Jungkook. Si lelaki tampan berwajah imut yang digemari para siswi disekolahnya dan seluruh wanita dari berbagai kalangan usia. Usianya dua tahun lebih muda dari teman seangkatannya karenaia mengikuti program akselerasi. Namun, sering kali berlaku usil dan kerap melakukan pelanggaran tata tertib sekolah.

Lelaki disampingnya bersurai coklat, ukuran badannya lebih kecil namun lebih kekar daripada Jungkook.Namanya Park Jimin.Lelaki yang paling keren di sekolahnya.Ia merupakan seseorang yang sangat supel dan figure seorangsangnamja. Tingkahnya jelas tidak jauh berbeda dengan Jungkook.

Kedua anak itu seperti satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan.Mereka kedua sahabat yang bolak-balik dari ruangan itu karena ulah mereka.

 

Ya, Berhenti tertawa!Memangnya lucu?”Bentak Jung seonsaengnim sambil memukul tongkat kebangsaannya ditangan beberapa kali.

Ahjussi..” Jungkook mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.

Sebelum Jungkook melanjutkan perkataannya, Jung seonsaengnim memotong pembicarannya.“Ya! Kalian berani-beraninya memanggil saya dengan ‘ahjussi’ ?dimana rasa sopan santun kalian?”

 

‘mengapa lelaki tua itu mengelak kenyataan? sudah tau sudah tua tapi tidak mau disebut ahjussi. tidak habis pikir..’ jungkook membatin.

“Ah ya Jung seonsaengnimapa salahnya kami menonton video dewasa itu? Ya bukannya kami melunjak karena kami belum dewasa.Jujur saja saya kurang pandai pelajaran biologi, maka dari itu saya harus menontonnya agar ilmunya bisa tervisualisasi di otak saya. Jadi, itu hanyalah bentuk pembelajaran bagi kami“ Jiminmembuat alasan yang jelas tidak sesuai dengan kebenarannya yang sudah ia siapkan sedari ia terdiam.

“Yang saya takutkan kalian meniru adegan yang ada di video ini!Ditambah lagi untuk apa kalian membawa alat kontrasepsi seperti ini?”

Saem..dengar ya, itu alat kontrasepsi tidak kami gunakan untuk macam-macam. Kebetulan hari ini teman kami berulang tahun. Agar tidak terkesan mainstream , kami mengganti balonnya pakai itu. Warnanya kan bagus-bagus, bukankah terlihat imut?” alasan Jungkook memang benar adanya namun karena hari itu Kim Taehyung temanya sedang berulang tahun.Namun pernyataannya tidakmembuat Jung seonsaengnim percaya. Malah aliran darhanya langsung naik hingga keubun-ubunnya.

Ya!sayasudah tidak tahan lagi menghadapi anak-anak nakal seperti kalian. Mau saya keluarkan saja dari sekolah ini?”

“Eits..tenang-tenangsaem rileks..rileks.. Jungkook itu salah satu aset dari sekolah ini lho! Tampan iya, pintar sudah pasti, main basket oke“ Jimin mulai memuja-muja kelebihan Jungkook sambil tangannya membuat tanda ceklis didagunya dengan jarinya . “Apa saem mau mengeluarkan anak seperti dia?Oh iya jangan lupakan juga kerennya saya!” tambah Jimin, membuat Jung seonsaenngim berpikir dua kali.

“Yang jelas saya akan menghapus video ini” Jung seosaengnim membuka kunci layar ponsel jungkook hendak mencari folder video.

Saem..saemjebal! Video itu harganya saya beli mahal dan itu yang special edition! Jebal saem, buttakhae!”Jungkook tampak histeris melihat aksi Jung seonsaengnim.

Saem, kalau saem menginginkan videonya bilang saja!Jangan seperti ini caranya pasti akan kami beri kok!”Jimin memohon-mohon seperti seorang anak kecil yang membujuk orang tuanya untuk sebuah permen.Jung seonsaengnim hanya mengacuhkan perkataan dari kedua muridnya yang badung itu

Merasa tidak didengarkan, Jungkook bangun dari sofa itu dan mencoba untuk nekat dengan menahan tangan Jung seonsaengnim yang hendak menghapus video miliknya.Jungkook memberi aba-aba agar Jimin mau membantu merebut ponsel miliknya.

“Apa-apan yang kalian lakukan hah?!”Jung seonsaengnim meronta-ronta. Jungkook menahan Jung seonsaengnim dari belakang sedangkan Jimin bagian yang merebut ponsel Jungkook dari depan. Namun, ia jelas kalah lincah dengan tangan Jimin.Akhirnya ponselnya bisa terebut kembali ke tangan mereka.

Saem, maafkan kelakuan kami.Lebih baik kami keluar sekarang ya saem?Kami khawatir kalau terlalu lama disini tensi darah saem langung meroket!”Jiminberalasan sambil mencoba kabur dari ruang tersebut Jungkook mengikuti dari belakang dan berlari sekencangnya agar tidak terkejar.

Jung seonsaengnim tak mampu menghentikan keduanya.Menurutnya tidak perlu Jimin meminta maaf.Karena tensi darahnya sepertinya sudah meroket terlebih dahulu sejak mereka ada di ruangan itu.

 

Setelah agak jauh dari ruang itu mereka pun berhenti dengan nafas yang tersenggal-senggal.Masih sempatnya menertawakan sikap mereka yang telah beraninya membuat jengkel guru.Jungkookmen’tos’ tangan Jimin berterima kasih atas kerjasamanya.

Segerombolan siswi kelas 2 berjalan kearah mereka dengan hebohnya dan berbisik-bisik seperti sedang membicarakan kehadiran Jungkook dan Jimin di koridor sekolah.

“Jungkook-ah kau terlihat lelah, apa kau menginginkan minumanku?”Salah seorang gadis menyodorkan minuman ion tubuh pada Jungkook.

“Tentu saja!”Mata Jungkook berbinar saking dahaganya.Ia memenuhi kerongkongannya dengan air itu hingga hampir habis.“Gomawo noona!” Jungkook tersenyum manis yang membuat segerombolan gadis-gadis didepannya meleleh seketika.

Itulah kebiasaan Jungkook.Walaupun notabenenya mereka setingkat dan satu angkatan, saat Jungkook memanggil seorang gadis dengan noona itu menjadi daya tariknya. Sehingga ia terkenal dengan sebutan noona killer.

“Hei bagaimana denganku?”Tagih Jimin sambil melipat tangan dan cemberut iri.

“Mmm anu ini milikku saja..” seorang gadis lainnya dengan malu-malu menyodorkan minumannya. Saat Jimin menerima minumannya wajahnya memerah semerah kepiting rebus.

“Terima kasih ya, kami duluan!” ujar Jimin sambil mereka berdua berjalan menjauh dari segerombolan gadis itu. Dilihatnya dibelakang mereka gadis-gadis itu super antusias

“Mau kemana nih hyung?”

“Sekarang pelajaran matematika nih, bolos yuk?”

****

Baginya Jimin adalah seorang penyelamat, seorang kakak, dan seorang teman yang baik.

 

Bukan berarti Jungkook jatuh cinta pada dirinya.

Hanya saja dirinya adalah seseorang yang berarti, sahabat pertamanya.

Mereka membaringkan badannya diatas rooftop sekolah, Jimin sudah tertidur pulas terlebih dahulu.Jungkook yang belum bisa tertidur hanya menatap langit-langit diatas kepalanya.

 

Kalau diingat-ingat Jungkook bersamanya seperti ini dengan Jimin bukan untuk waktu yang sebentar melainkan sejak mereka duduk di bangku SMP dulu.Jungkook mencoba memejamkan matanya dan teringat beberapa potongan kisah masa lalunya.

 

Jeon Jungkook, ia terdiam di depan kelas 2-1 dengan tergesa-gesa dan penuh rasa takut.Ini kali pertamanyaia bersekolah di Korea dan secara langsung ia pun harus beradaptasi lagi dengan kultur Korea yang jauh berbeda dari Amerika. Jungkook pun merupakan tipikal orang yang agak sulit beradaptasi.Itu lah kesulitannya.

Ia mengenakan lengkap seragam sekolah SMP Ansan. Seseorang pun memegang pundaknya dari belakang, Jungkook menoleh.Seorang wanita dengan senyum ramah di pipinya.

“This is your classroom, They will be your friends. Shall we enter?”Tanya perempuan itu dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.ia adalah wali kelas Jungkook disekolahnya yang baru ini. Jungkook mengangguk, wanita itu berjalan terlebih dahulu.Jungkook mengambil nafas dalam dalam sambil membetulkan posisi kacamatanya lalu melangkah.

Gurunya mempersilahkannya untuk memperkenalkan diri sementara anak-anak dikelas mulai heboh saat ia masuk dan berdiri di depan kelas dengan gugupnya.

“Nama saya Jeon Jungkook….” Jungkook pun dengan malu-malu berhenti bicara, Gurunya sudah menginstruksikan untuk melanjutkannya berbicara lebih banyak.”Saya dari Amerika Serikat, saya murid akselerasi” ia berhenti bicara lagi karena anak-anak dikelasnya bersuara lebih keras darinya.

“Usiamu berapa memangnya?”Tanya seorang murid yang badannya bongsor.

“a..aku lahir tahun 1997” Jungkook tergagap, seluruh murid disana terkejut mengetahui betapa mudanya Jungkook.

“Ck, pantas saja.Mana ada orang Amerika sependek dia!”Celetuk salah satu anak dengan nada mengejek.Seketika seluruh murid tertawa lepas membuat Jungkook tambah merasa malu.

“Harusnya kan masih SD, untuk apa ia datang kesini?” komentar anak yang lain

Teman-teman disekolahnya yang baru tidak memperlakukan Jungkook dengan baik seperti yang ia harapkan sebelumnya. Ia menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Mulai dari dipalak, dicaci, dan dibanjur air pel atau dipukuli apabila ia menolak perintah dari teman-temannya.

Jungkook nyaris depresi dengan segala perlakuan teman-temannya.Rasanya sangat berat kalau sudah waktunya pergi sekolah. Ia sendiri enggan untuk memberitahukan orang tuanya karena tak ingin membuat mereka khawatir.

Hari itu Jungkook memilih untuk tidak masuk kelas dan diam dibawah pohon sambil menangis dan memeluk tas ranselnya.

Duuk

 

Sebuah batu kerikil mendarat tepat di kepalanya.Jungkook menatap kearah atas dan didapatinya seorang lelaki sedang memegang ketapel duduk diatas dahan pohon.Penampilannya seperti anak badung yang membuatnya ketakutan. Sepertinya ia diam di tempat yang salah. Ia yakin akan menjadi objek bully oleh anak itu.

“Oy, laki-laki kok menangis?”Ujar lelaki itu sambil melempar tangkap beberapa batu kerikil ditangannya.

Sontak Jungkook langsung bergidik ketakutan.Ia menghapus air mata yang berlinang dimatanya dan membetulkan kacamatanya sambil berdiri berniat menghindar dari anak itu.

“Tenang saja, aku tidak bodoh kok seperti teman-temanmu itu.”Pernyataan anak laki-laki diatas pohon itu sontak membuatnya terkejut.Jungkook menghentikan langkahnya karena penasaran.Lelaki itu langsung turun dari pohon.

“Namaku Park Jimin” ia menjulurkan tangannya pada Jungkook lalu menambahkan lagi.

“Mau jadi temanku?”

 

Jungkook memang sering mendengar nama Jimin sebelumnya karena sering diperbincangkan oleh siswi dikelasnya. Jungkook tidak menyangka, Jimin yang sangat supel dan populer itu kini menjadi temannya yang paling dekat. Dengan kehadiran Jimin, ia tidak ditindas lagi bahkan ia juga menambah beberapa teman baru berkat Jimin.

Jimin pula yang menginspirasi Jungkook.Jimin itu kuat, namun bukan penindas.Jungkook banyak belajar dari Jimin untuk bertambah lebih kuat dan tidak direndahkan orang lagi.Jadilah Jungkook yang sekarang.

Ia tumbuh bersama Jimin hingga sekarang ia yang dahulunya mungil kini memiliki tinggi badan diatas Jimin.

 

Baginya Jimin bukan hanyalah sekedar teman.Namun seorang saudara, seorang hyung walaupun tanpa ikatan darah.

 

****

 

Seperti biasanya saat jam makan siang, kantin akan terasa penuh sesak dipenuhi oleh seluruh siswa. Terutama kalau sudah datang si karismatik Jeon Jungkook.

Jungkook dan Jimin membawa nampan berisi makanan penuh .Sementara Jungkook dikerumuni oleh sekumpulan perempuan mulai dari adik kelas hingga kakak kelas, Jimin berusaha keluar dari kerumunan itu sambil berjinjit-jinjit mencari tempat kosong karena terhalangi oleh banyaknya penggemar Jungkook.

Jungkook ditarik-tarik oleh para penggemarnya hingga beberapa kali hampir terjatuh.Tujuannya adalah agar Jungkook mau duduk dimejanya walaupun Jungkook sudah beberapa kali menolak semuanya.

Walaupun dongkol, Jungkook tetap senyum semanis mungkin sebagai bentuk darifanservice.

 

Praak

Salah satu nampan siswi yang lewat terjatuh tersenggol oleh penggemar Jungkook, Kang Seulgi.

“Siapa suruh kau melewati jalan ramai seperti ini” Sahut Seulgi sinis sambil melanjutkan jalannya mengikuti Jungkook tanpa berkata satu kata ‘maaf’ pun.

Gadis itu diam ditempat.Saking kesalnya dan tak habis pikir dengan orang macam Seulgi.Rasa sabarnya sudah tak dapat terbendung lagi.Ia menendang dengan kerasnya nampan dengan makanan yang sudah berceceran di lantai.

 

Jimin melihat sekumpulan lelaki melambaikan tangannya di meja pojok.Jimin mengaba-abakan Jungkook untuk menyusulnya.

 

“Duh lelahnya, bisa gila aku!”Jungkook meletakkan nampannya di atas meja dan duduk di kursi.“Pakai ada acara nampannya Lee Nichan tersenggol lagi!” tambahnya sambil mengelap keringatnya di dahinya.

“Lee Nichan? Kok aku tidak pernah dengar ya?Cantik tidak?”Ujar salah satu orang di meja itu, Min Yoongi atau yang kerap dipanggil Suga yang selalu paling on kalau membicarakan tentang perempuan.

“Hah? Teman sekelasku, biasa saja” jawab Jungkook dengan cueknya sambil terus memasukan makanan ke mulutnya yang penuh.

“Ckck, Kalau untuk Jungkook yang populer standar cantiknya memang tinggi ya!”Goda Taehyung sambil iseng menggelitik dagu Jungkook.

“Ah, hyung!Keumanhae!”Ujar Jungkook melepaskan tangan Taehyung paksa masih dongkol dengan perlakuan penggemar gilanya.

“Perhatian semuanya!”Namjoon menepukkan tangannya beberapa kali agar mendapat perhatian teman-temannya. Semua orang yang ada di meja itu yang notabenenya anggota klub basket langsung otomatis diam mendengar perkataan sang kapten.

“Hari ini kita akan latihan jelang final untuk terakhir kalinya, Awas saja kalau ada yang bolos!” Ujar Namjoon. “Dan kau Jungkook..”Ia menambahkan.

“Eh iya hyung?”

“Kau harus lebih fokus!Kau adalah harapan kami!” kata Namjoon dengan pandangan serius, Jungkook mengangguk mengerti.

 

*****

 

Final pun akhirnya tiba, suasana di GOR terasa lebih menegangkan dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Selain final, yang membuat menarik adalah hari ini akan menghadirkan dua sekolah besar di bidang bolabasket .Yaitu SMA Hanyoung melawan SMA Sungji.

Ditambah lagi Jungkook yang nan populer dan kemampuan bermainnya yang mumpuni itu menyita perhatian seluruh siswi bahkan dari sekolah lain datang untuk mendukungnya.Seluruh penjuru GOR dipenuhi dengan nama Jeon Jungkook dan tak lupa meneriakan namanya sekencang mungkin.GOR mendadak menjadi seperti sebuah panggung konser.

Dua kuarter telah berlalu, Sungji tetap unggul diatas Hanyoung karena dari fisik pun mereka terlihat memiliki badan yang jauh lebih besar.

Jungkook duduk diatas bench sambil menyesap air mineralnya. Lalu diam dan merenung.Ia merasa performanya kurang maksimal saat itu dan benar-benar menyesalinya. Hendak berkunpul untuk membuat strategi dengan pelatih, Seketika pandangannya tertuju pada satu gadis di tribun penonton.

 

Rambutnya panjang coklatnya tergerai dengan rapi, kulitnyaa putih seputih susu, badannya mungil dan ketika ia tersenyum sangat manis. Kalau dibayangkan, ia seperti Sandara Park dari grup 2NE1, idola kesukaan Jungkook. Jungkook terus memandangi gadis itu.

Para penggemarnya tampak histeris tetapi ia tidak mendengar suara apapun kecuali detak jantungnya.

“Oy, jangan melamun saja!”Taehyung menepuk pundak Jungkook membuyarkan lamunan 10 detiknya.Ia langsung menghampiri kerumunan tim basketnya yang sedang membahas strategi bersama pelatih.

Kuarter tiga pun akhirnya dimulai, Hanyoung mampu mengejar ketertinggalannya pada Sungji dan permainan mereka pun membaik dari sebelumnya. Jungkook salah satu yang paling berpengaruh, ia beberapa kali menyerang pertahanan lawan dan mencetak poin. Di kuarter ini Jungkook berusaha semaksimal mungkin.

Baginya gadis yang dilihatnya tadi adalah penyemangatnya nomor satu.Ia ingin membuat Hanyoung menjadi juara sekaligus membuat gadis itu terkesan.Setelah berkejar-kejaran skor, pertandingan itu diakhiri dengan kemenangan Hanyoung yang tipis dengan skor 60-58.Jungkook senang bukan main begitupun teman-temannya.

 

Selagi teman-temannya merayakan kemenangannya dibelakang lapang.Jungkook hanya duduk terdiam sibuk dengan pikirannya. Masih terbayang-bayang akan sosok gadis di tribun penonton itu. Namjoon menghampiri Jungkook yang telihat mencurigakan karena hanya diam.

“Kenapa diam saja?”Tanya Namjoon duduk disebelah Jungkook.

“Eh hyung, Ah tidak ada apa-apa kok” Jungkook tersadar dari lamunannya, baru menyadari kehadiran Namjoon.

“Masa sih?Hanyoung menang dan kau menjadi MVP.Kok mukanya suram begitu?”Namjoon terheran lalu tiba-tiba Namjoon tersadar akan sesuatu. “Oooh hyung tahu!”Jungkook langsung mendongak.

“Perempuan dari Sungji yang buat kamu senyum-senyum sendiri saat break itu ya?” Goda Namjoon tepat sasaran.

Jungkook terkejut dan pipinya berubah merah padam “Kok hyung bisa tahu?”

“Ya tahu lah!Terus kenapa lagi?”

“Engg..itu.. aku ingin berkenalan dengannya”

“Ya sudah datangi saja dan ajak berkenalan.Aku yakin dia belum pulang” Namjoon menepuk pundak Jungkook menginstruksikannya untuk segera menemui gadis itu.

Jungkook beranjak dari tempat duduknya dan memakai jaket hitam dan menutup kepalanya dengan hoodie. Dibalik jaket itu ia masih memakai kaus tim basket Hanyoung lengkap.

Saat hendak keluar Namjoon berkata sekali lagi.“Ucapkan terima kasih padanya, berkatnya Hanyoung bisa menang” canda Namjoon.

****

Setelah berlari keluar dan mencari-cari gadis itu disekitaran penonton basket yang hendak keluar dari arena GOR,akhirnya ia menemukan punggung gadis yang ia cari itu. Jungkook sumringah dan berlari ke arahnya.

“Sandara Park!” Panggil Jungkook pada gadis itu , namun ia tak kunjung berbalik.

“Dara noona!”Jungkook menepuk pundaknya berhenti sambil mengatur nafasnya tanpa berhenti melepas senyum di bibirnya.Gadis itu pun berbalik.

“Namaku Choi Nara, Na-ra!Sepertinya kau salah orang” jawab perempuan bernama Nara itu datar dan tatapan dinginnya.

“Tapi kau sungguh cantik, cantik seperti Sandara Park” Jungkook tersenyum lebih manis daripada gula namun tidak mempan pada gadis itu karena ia tetap acuh tak berekspresi. Ia membuang muka dan melanjutkan jalannya.

Jamkkanman” Jungkook menahan tangan gadis itu.Ia pun kembali berbalik.

“Ada apa lagi sih?”

“Kau tahu siapa aku kan?” Jungkook membuka hoodie dan memperlihatkan wajahnya yang tampan itu secara lebih jelas.

“Kau kesini cuma mau mengejek sekolahku yang kalah kan?”

“Eh bukan begitu..emm itu aku boleh minta nomor kamu?” Jungkook memberanikan diri dengan langsungto the point.

“Aku tidak memberi nomor pada orang asing” jawab Nara langsung tanpa keraguan.

“Oh yasudah..” Jungkook sedikit kecewa.

“Nara, katanya tadi mau pulang?” Seorang teman perempuannya langsung menggandeng tangan Nara. Ia pun beranjak pergi tanpa bicara satu patah kata pun. Jungkook memerhatikan pundaknya yang semakin menjauh.

 

“Hati-hati ya, Sandara-ssi!” Jungkook melambaikan tangannya dari jauh ketika ia berlalu meski itu tidak akan terlihat oleh Nara. Ia semakin jauh dari matamya. Ia tetap tersenyum sambil tertunduk malu dengan sikapnya sendiri. Walaupun ia tidak mendapat nomornya, setidaknya ia mengetahui siapa namanya.

“Ya Jungkook!Bicara sama siapa sih?”Jimin menghampirinya heran melihat Jungkook mengacuhkannya dan tetap senyam senyum seperti meraba-raba seseorang.“Perempuan baru lagi ya?”

 

“Sandara Park..”Jungkook tetap membayang-bayangkan sosok Nara yang sudah berlalu.

 

****

 

“Jungkookie, dapat nih nomornya!”Seru Jimin sehabis mendapatkan pesan dari temannya yang bersekolah di Sungji yang memberi nomor Nara.Jungkook yang kala itu sedang sibuk meladeni penggemarnya langsung menghambur menghampiri Jimin.

Jeongmal?Cepat berikan hyung!”Jungkook menarik-narik Jimin tidak sabaran.

Ne, aku dapat dari temanku yang bersekolah di Sungji!”
“Ah gomawo hyung!Hyung memang bisa diandalkan!” kata Jungkook sumringah.

“Dia itu ternyata terkenal sekali lho. Selain jadi Miss Sungji dia juga terkenal dimana-mana.Sering menjadi model shopping mall..eh tunggu” Jimin men-scrolldown ponselnya lebih cepat seolah menperoleh informasi penting tentang Nara di bagian bawah.

“Dia kelas 3?”

“Ya mungkin saja. Lagipula kalau kelas 3 apa masalahnya? Aku ini sudah cukup berpengalaman!”Jawab Jungkook percaya diri.“Soojung noona, Suzy noona, Joohyun noona” Jungkook menyebutkan mantannya satu persatu yang sudah kelas 3.

“Benar juga sih..”Jimin tetap ragu.

“Mana hyung cepat nomornya” Jungkook langsung merebut ponsel Jimin dan langsung menyalin nomor itu dan mengirimkan ke ponselnya.“Beres!”

“Duh dasar ini anak, ada-ada saja” omel Jimin.

“Kalian membicarakan apa sih?”Yoon Bomi salah satu penggemar Jungkook yang daritadi Jungkook acuhkan mulai angkat bicara sambi berkacak pinggang.Ia penasaran dengan apa yang dimaksud oleh mereka berdua.

“Jangan-jangan, Jungkook menyukai perempuan lain?” Bomi menambahkan.Lagaknya sudah seperti ibu-ibu yang menegur anaknya.

“Eh..anu.. tidak kok noona” Jungkook menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil menggaruk ia sibuk mencari kata-kata untuk beralasan namun otaknya tetap mentok. “Walaupun aku cinta pada Naranoona, Bomi noona tetap ada dihatiku kok!” ucap Jungkook keceplosan.

 

“TETAP SAJA TIDAK BOLEH!” teriak Bomi memekakan telinga.

 

*****

Jungkook memencet tombol intercom apartemennya dan dibukakan oleh ibunya.Seorang ibu yang wajahnya terlihat masih muda dengan rambutnya yang setengah diikat memberinya senyuman hangat pada putra tunggal kesayangannya.

“Oh wasseo?”Ibunya, Park Mirae membukakan pintunya lebih lebar agar anaknya dapat masuk.Lalu langsung mencium Jungkook mulai dari kening hingga kedua pipinya seperti kebiasaannya pada Jungkook. Walaupun Jungkook sudah besar ia tetap menganggapnya sebagai bayi kecilnya. Jungkook pun tidak pernah mengelak saat ibunya melakukan itu.

“Kok pulangnya telat?”

“Biasa, tadi ada latihan dulu” Jungkook meletakkan sepatunya di rak balik pintu.

Eomma, Appa sudah pulang?” Tanya Jungkook.

“Tidak ia sedang bertugas di luar kota, Kau mau makan dulu Jungkookie?” Tawar ibunya yang menyiapkan makan di dapur.

“Nanti dulu saja, aku masih kenyang.Aku ke kamar dulu ya eomma?”

“Mau belajar ya?Belajar yang benar ya anakku!”

Jungkook langsung berjalan ke kamarnya dan menutup kamarnya rapat-rapat.

“Akhirnya…” Jungkook menyimpan tasnya dan duduk diatas kursi belajar. Tidak untuk belajar seperti yang diperintahkan oleh ibunya, tapi untuk tujuan lain.

Ia tidak akan bisa melakukan ini kalau ayahnya sedang ada dirumah. Ayahnya memang sangat menekan Jungkook harus sesuai dengan apa yang ia inginkan, terutama soal belajar.

Jungkook mengambil buku sejarah ke atas mejanya seolah-olah ia sedang belajar apabila ibunya menghampirinya. Namun sebenarnya ia sedang membuka ponselnya hendak mengirim sebuah pesan pada Nara.

 

‘Nara noona, sakit tidak jatuhnya? Jatuh dari kayangan kan?’Tulis Jungkook tanpa berpikir.Itulah pesan yang biasa kirim untuk merayu perempuan. Namun ia menghapusnya kembali karena merasa ‘kurang’. Ia mengetik bunyi pesan yang lain.

Nara noona, mulai dari sekarang noona jangan dekat-dekat bunga lagi ya.Kasihan bunganya nanti minder.Kalah cantik sama noona!’Jungkook merasa geli dengan tulisannya lalu menghapusnya kembali sehingga pesannya menjadi kolom yang kosong lagi.Jungkook berpikir keras mencari kalimat yang tepat.

‘Hai’

Hanya satu kata itu yang ia kirimkan. Walaupun singkat Jungkook berharap Nayra membalasnya.Sudah harap-harap cemas namun Nara tidak kunjung membalas pesannya.

 

****

Jungkook menyandarkan badannya didepan tembok bertulis ‘Sungji High School’. Ia memerhatikan setiap siswi yang keluar dari gerbang mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Choi Nara.Jungkook menjadi pusat perhatian siswa-siswi disana dengan blazer Hanyoung yang berwarna blue black yang jelas kontras berbeda dengan blazer Sungji yang berwarna coklat.

Menurut apa yang dikatakan Suga dari apa yang ia ceritakan padanya tentang pesannya yang tidak dibalas itu, ia menyarankan Jungkook untuk menemuinya langsung. Selain kalau ia bertemu kesannya akan jauh lebih baik daripada hanya mengirimnya pesan. Jungkook menyerah mencari Nara disekerumunan siswi yang keluar dari Sungji, Ia pun menelpon gadis itu.

Tepat saat panggilan itu tersambung, ia menemukan sosok Nara.

 

Nara memerhatikan sederet nomor asing diponselnya dan mengangkatnya.“Yoboseyo?

“Nara-ssi, ingat aku?” sahut si lawan bicara. Namun anehnya Naradapat mendengar suarnya dari sebelah telinganya yang lain. Nara terheran dan mencari sumber suara tersebut.Orang itu melambaikan tangannya.
Annyeong!” katanya.Meyakinkan kalau ialah pemilik suara itu.Ia menghampiri Nara yang sedang bersama kedua teman perempuannya.

“Kau dapat dari mana nomorku? Tanya Nara pada Jungkook dengan intonasi datar dan ekspresinya yang samadatarnya. Tidak jauh berbeda dari pertama kali bertemu dengannya.

“Siapa dulu dong yang mencarinya!”Jungkook dengan bangga membuat tanda ceklis dengan jarinya dibawah dagunya.

“Lho, dia bukannya pemain basket Hanyoung yang imut-imut itu?”Sahut temannya yang malah tersipu malu melihat Jungkook.“Sejak kapan kau kenal dengannya?Kok kita tidak pernah tahu?”Tanya temannya yang satu lagi penasaran.

“Aku tidak kenal dengannya, bahkan aku tidak tahu namanya!” seru Nara.

“Kalau mau tahu namaku bilang saja, Jeon Jungkook”

“Ck, bukan begitu maksudku” Jawab Nara merasa salah bicara.“Ada yang penting tidak?Aku mau les nih buru-buru.”

“Les dimana?”

“Bukan urusanmu”

“Mau aku antar?Kebetulan aku bawa sepeda.Walaupun pakai sepeda kan bisa lebih menghemat waktu daripada naik kendaraan umum” Tawar Jungkook sudah seperti seorang salesman yang sedang mempromosikan produknya.

Nara pun awalnya ragu dengan tawaran Jungkook.Sedangkan teman-temannya mendukungnya untuk menerima tawaran Jungkook.Setelah dipikir-pikir ada untungnya juga kalau ia menerima tawarannya.Ia pun mengangguk pelan walaupun masih sedikit ragu.

“Hati-hati ya!”Nara duduk miring di jok sepeda Jungkook yang tidak begitu besar.

“Beres!” Jungkook mulai mengayuh pedal sepedanya

Angin berhembus dengan lembut senada dengan kayuhan sepeda.Diwarnai dengan keheningan dan pikiran masing-masind dan irama jantung yang berdegup.Rambut kecoklakatan Nara tergerai bebas oleh angin. Dibelakang Jungkook ia bisa mencium jelas aroma tubuh Jungkook yang harum.

“Berpegangan padaku yang kuat!” Intruksi Jungkook karena ia akan mempercepat laju sepedanya. Nara melingkarkan tangannya ke perut Jungkook dan menopang kepalanya di punggung Jungkook.Punggung laki-laki yang tegap dan hanya membuatnya merasa nyaman. Dan disisi lain Jungkook tampak tersenyum cerah dan bersemangat mengayuh sepedanya tanpa rasa lelah sedikitpun.

****

“Pinjam buku matematikamu dong”

Suara yang familiar dan setiap pagi ia mendengarnya dengan susunan kalimat yang hampir sama. Saat ia mendongakkan kepala dari menulis tak salah lagi, pemilik suara itu ialah Jeon Jungkook yang masih menenteng tas ranselnya, alias penyalin PR setianya.Nichan secara otomatis memberikan buku matematikanya dengan berat hati.

Gomawo” Kata Jungkook.Nichan tidak menggubris dan hanya kembali menulis.

 

Jungkook menyimpan ranselnya dan meletakkan buku yang dipinjamnya diatas meja.Ia duduk dan langsung memainkan ponselnya tanpa menyapa Jimin yang ada disebelahnya.

“Pasti dengan Naranoona, baru kenal sudah akrab saja tuh rupanya..” Tebak Jimin sambil berusaha mengintip apa yang ada di layar ponsel Jungkook.

Jimin melihat sesuatu yang lebih menarik perhatiannya diatas meja Jungkook.“Eh pinjam dong. Aku belum mengerjakan PR nih!”ia melihat buku matematika mirip Nichan.

“Ambil saja” kata Jungkook tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar.

“Kau tidak akan mengerjakannya?”Tanya Jimin memastikan.

Hyung saja dulu”

Jungkook yang biasanya tidak bisa diam hanya diam dan membiarkan jari-jarinya saja yang bergerak.Ia sedang berkirim pesan dari Nara. Ia tidak ingin telat membalasnya satu menit pun.

‘Bosan sekali!Guruku bicara panjaaaaaang sekali seperti kereta. Buatku mengantuk! Oh iya besok temanku ulang tahun. Menurutmu aku kasih dia apa ya? Eh aku mengganggu tidak?’

Jungkook tersenyum dan tertawa sendiri.Nara sudah mulai menunjukkan respon padanya tidak sedingin yang lalu-lalu.

Hyung..”Jungkook akhirnya bersuara.

Eo?

“Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kali ini”

 

****

 

Tak ada lagi yang bertugas piket selain dirinya, ia bertugas sendirian. Entah pergi kemana teman-temannya yang bertugas bersamanya.Kalau Jungkook, ia sedang menemui noona tercintanya Choi Nara. Dengan malasnya ia menyapu kelasnya dengan asal, berharap tugasnya itu cepat selesai.

Jimin membersihan bagian kolong meja dan ia melupakan sesuatu, ia belum mengembalikan buku matematika Nichan yang ia pinjam dari Jungkook.

 

Aigo..kenapa bisa kelupaan ya” Jimin menepuk kepalanya.

Jimin mengingat kalau Nichan pasti belum pulang jam segini. Ia pasti ada di perpustakaan. Walaupun ia terlihat cuek pada Nichan, ia mengetahui kebiasaan teman sekelasnya itu. Jimin langsung membawa bukunya untuk dikembalikan pada yang mempunyainya.

Menaiki beberapa anak tangga, berjalan melewati lorong, akhirnya Jimin menemukan punggung Nichan.Hendak memanggilnya Nichan langsung terjatuh ke lantai.

Jimin terkejut bukan main, ia menghampiri Nichan yang terbaring lemah di lantai tidak sadar. Jimin langsung dengan segera membawa Nichan di punggungnya dan berlari menuju ruang kesehatan berharap masih ada dokter yang bertugas disana.

Jimin memandangi Nichan diatas ranjang.Dirinya tak kunjung siuman.Wajahnya pucat pasi, sepertinya gadis itu kelelahan.

”Cepatlah sadar, aku mengkhawatirkanmu” Ucap Jimin sambil membenarkan selimut.Ia menyimpan bukunya di meja samping ranjang Nichan. Ia pun bergegas pergi. Ia ingin memastikan kalau gadis itu baik-baik saja namun ia terlalu malu jika Nichan tahu ialah yang membawanya kesini.

 

Tak lama Nichan mencium aroma balsam pekat disekitar philtrumnya.Ia membuka matanya masih terasa berat dan cahaya remang-remang mulai menelisik matanya. Ia mendapati sebuah lampu diatas kepalanya. Setelah beberapa waktu Nichan baru menyadari ia berada di ruang kesehatan sekolah.

“Oh sudah sadar ya?”Sahut dokter Yoon yang sedang menuangkan teh.Ia adalah wanita kisaran 30-an yang bertugas sebagai dokter sekolah. Ia menghampiri Nichan yang sedang memaksakan tubuhnya agar duduk tegap.

“Jangan dipaksakan, kau baru saja siuman” Dokter Yoonmemberikan secangkir teh hangat yang baru ia tuang.

“Apa aku pingsan?”Tanya Nichan bangkit dan memegang kepalanya yang sakit.Dokter Yoon balas mengangguk.

“Siapa yang membawaku kesini?”Tanya Nichan sekali lagi penasaran.

“Hmm.. aku juga kurang tahu sih namanya siapa. Dia kelas 2 juga sama sepertimu. Orangnya tampan bukan main. Ia sangat mengkhawatirkanum, aku bisa membaca dari kedua matanya” Dokter Yoon menerawang. Nichan tidak mendapatkan clue sama sekali dengan orang tersebut. Ia menyesap teh yang sedari tadi ada di tangannya dan menyimpannya diatas meja. Matanya tertuju pada sesuatu diatas meja.Sebuah buku yang tadi dipinjam Jeon Jungkook.

 

*****

 

Jungkook duduk sendirian menunggu seseorang di sudut kafe.Ia membetulkan surainya yang hitam di depan kaca. ia harus terlihat ‘oke’ di depan gadis yang ia sukai. Tak lamaia menemukan sosok Nara yang dengan cantiknya memakai sweater merah dan rok tennis putih. Ialebih terlihat cantik dan dewasa ketika memakai baju bebas. Membuat Jungkook tambah menyukainya.

Mereka duduk berhadapan berdua.Pembicaraan dikuasai oleh Nara yang menceritakan kesehariannya.Jungkook berusaha menjadi pendengar yang baik bagi Nara.Tetapi, Nara menemukan keanehan di diri Jungkook.Ia terlihat gugup padahal mereka sudah sangat dekat.

“Kamu kenapa sih?”Tanya Nara yang akhirnya berhenti bicara.

Jungkook menarik nafasnya dalam-dalam.

 

 

Noona, Mau tidak jadi pacarku?”

 

To Be Continued

 

A/N: Hai hai namgiyea kembali dengan ff baru! Cuma kali ini bukan murni ff baru alias ini ff lama aku dari judul yang sama dan aku rombak abis-abisan dari segi kebahasaan. Makanya jangan heran kalo nemu ff dengan judul yang sama, cerita yang sama, poster yang sama tapi author yang beda. Yup karena dulu aku pake nama gianadya alias nama real aku. Terus ikuti ff lovestrikes ya dan jangan lupa leave comments! Love you guys!

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] LOVESTRIKES : Love Begins (Chapter 1) – (Multi chaptered)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s