[BTS FF FREELANCE] Hide And Seek Chapter 10 END

PicsArt_12-17-03.14.25

Hide And Seek

Chapter 10 END

 

Author                  : Ryu97

Cast                       : Jeon Jung Kook BTS

                                Shannon Williams

Zelo Choi B.A.P

Other cast           : Yook Sung Jae BTOB

Jung Chan Woo iKON

Jang Ye Eun CLC

Kim Seok Jin BTS

Bang Yong Guk B.A.P

Genre                   : Mysteri, Psychology, Thriller, Frienship, AU

Length                  : Chapterd

Rating                   : 14

Cover by              : Ryu97

Disclaimer          : Semua cast di FF ini aku bikin OOC. Seluruh cast milik Allah SWT, Keluarga, Agency dan juga para fans mereka. Jk milik Ye Eun *ditebasfansnJK* 😀

Maaf kalo alurnya ngebingungin dan masih banyak typo. Alur cerita hasil pemikiranku. Ada beberapa adegan yang terinspirasi dari beberapa film Thriller – Mysteri yang aku tonton.

Visit my blog :https://dazzlingryu97.wordpress.com

.

.

.

 

“Kenapa kau serius begitu? Aku hanya bercanda.” Sung Jae berjalan mendekati Jung Kook dan merangkul bahunya. Jung Kook mengangkat ujung bibirnya ikut duduk bersama Sung Jae di kursi taman.

 

 

 

 

Suara jangkrik memenuhi keheningan. Keduanya nampak membisu dan focus dengan pikiran masing – masing.

 

“Aku …. Merindukan semuanya seperti dulu.” Kata Sung Jae memecah keheningan. Jung Kook menoleh ke arah sahabatnya itu tanpa berminat untuk mengomentarinya.

 

 

“Zelo dan Shannon, kau, aku … kita menghabiskan waktu bersama – sama, mengerjakan PR bersama bahkan sempat berbagi contekan bersama hahaha … “ Sung Jae terkekeh mengingat semuanya, perutnya terasa geli saat mengingat mereka berbagi contekan waktu itu.

 

 

“Sayang semuanya tidak akan pernah bisa terulang lagi.” Lanjutnya, Jung Kook mengalihkan titik fokusnya pada jalanan kosong di depannya, ini hampir larut malam jadi tak ada kendaraan yang lewat ke jalanan itu. Sejujurnya bukan hanya Sung Jae yang merindukan itu Jung Kook juga, ia merindukan saat bersama teman – temannya termasuk bersama Ye Eun. Ia tak menyangka kenapa Ye Eun begitu cepat meninggalkannya padahal ia belum sempat mengutarakan perasaannya pada Ye Eun.

 

 

 

“Omong – omong, aku merasakan ada yang ganjil dengan kematian Ye Eun.” Sung jae mengubah posisi duduknya membuka kantung plastic berisi dua buah cup coffee yang sudah tidak terlalu panas, ia menaruh salah satunya di samping Jung Kook.

 

 

 

“Maksudmu?”

 

 

“Hmm… tidak. Aku hanya merasa jika kematian Ye Eun sudah direncanakan.”

 

“Direncanakan? Oleh siapa? Maksudmu Ye Eun dibunuh juga begitu?” Jung Kook mulai berantusias dengan pembicaraan Sung Jae.

 

 

 

 

Sung Jae menancapkan sedotan pada ujung cup dan mulai menyeruput coffeenya yang sudah tak sepanas tadi.

 

 

“Direncanakan tuhan.” Kedua ujung bibirrnya terangkat sempurnya. Sementara Jung Kook yang mendengarnya dengan serius hanya memutar bola matanya kesal karena telah tertipu Sung Jae.

 

 

“Bodoh! Ku kira kau bicara serius. Ini benar – benar tidak lucu Yook!” dengus Jung Kook, ia juga mulai menyeruput coffenya. Saat ujung lidahnya tersapu coffee itu Jung Kook ingin protes pada Sung Jae karena coffeenya sudah tidak panas tapi ia mengurungkan niatnya karena masih kesal.

 

 

 

 

Pemuda bermata sipit itu melempar cup coffee kosong itu ke tong sampah ia berdiri dari tempat duduknya.

 

“Jeon ayo kita pulang! Ini sudah sangat larut.” Ajak Sung Jae sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Jung Kook buru – buru menghabiskan coffenya dan membuangnya ke tong sampah. Mereka lantas berjalan beriringan menuju rumah masing – masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Hari memang belum terlalu siang, awan berwarna abu – abu menghalau sinar matahari pagi ini. Membuat pagi yang seharusnya cerah mendadak menjadi sedikit gelap padahal menurutramalan cuaca hari ini akan sangat cerah, kenyataanya malah sebaliknya. Terkadang perkiraan tidak pernah sepenuhnya benar.

 

 

 

Sung Jae mengetuk – ngetukkan ujung sepatunya ke lantai, ia bosan. Sudah sepuluh menit ia duduk menghadap kaca besar berlubang bulat tiga dan menunggu sahabatnya yang tak kunjung datang, padahal dia sudah berantusias untuk menyampaikan berita baik pada sahabatnya itu.

 

 

KREEKK!
pintu berderit, seorang pemuda berkulit putih masuk ke dalam ruangan diikuti seorang pria berseragam polisi. Pemuda itu lantas duduk dan menatap sahabatnya sambil tersenyum miris.

 

 

“Yak! Jun Hong jangan tersenyum miris seperti itu, kau terlihat menyedihkan hahaha ….” Zelo tertawa menanggapi lelucon Sung Jae yang sudah lama ia rindukan, semenjak ia masuk ke dalam ruangan bersel besi beberapa hari yang lalu, ia tak pernah bisa lagi tertawa.

 

 

“Lucu ya? padahal aku tidak bercanda, aku mengatakan yang sesungguhnya.” Aku Sung Jae masih dengan tawanya yang lebar.

 

“Aku senang bisa melihat kau tertawa lagi Zelo, rasanya sudah lama tak melihatmu tertawa seperti itu.”

 

 

 

 

Sung Jae melipat kedua tangannya di atas dada, menyandarkan punggungnya ke kursi dan mencari posisi yang nyaman untuk berbicara.

 

 

“Zelo, kau tidak bertanya padaku kenapa aku datang menemuimu sepagi ini?” Zelo menggeleng.

 

“Memangnya kenapa? Mungkin kau merindukanku.” Jawab Zelo asal.

 

“Merindukanmu? Hah … “ Sung Jae membuang wajahnya ke samping kiri. “Salah besar. Kau tahu …..” Ia mendekatkan wajahnya ke arah kaca.

 

 

“Aku sudah menemukan pembunuh Shannon.” Kedua mata Zelo membulat untuk beberapa saat, ia lalu tersenyum.

 

“Kau berbohong!”

 

“Aku tak berbohong Jun Hong! Aku sudah menemukannya, kalau tidak percaya ya sudah! Aku tak memaksamu. Kau masih betah ya berada lama – lama disini? Kau tak mau keluar?”

 

 

Zelo memilih diam dari pada menjawab perkataan sahabatnya itu, ia bukan malas biacara atau kehabisan kata – kata, saat ini otaknya dipaksa untuk berfikir lebih keras memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Saat ini Zelo belum genap tinggal satu bulan di ruangan bersel besi yang lumrah di sebut penjara, tapi sahabatnya sudah menemukan idensitas pembunuh kekasihnya itu, apa Sung Jae sedang bercanda saat ini? Walau ia tahu jika Sung Jae mewarisi keahlian kakeknya yang seorang jaksa tapi, seorang anak berumur delapanbelas tahun bisa mengungkap kasus pembunuhan itu luar biasa.

 

 

“Baiklah, aku tak harus memaksamu untuk percaya atau tidak. Tapi yang pasti kau akan lebih terkejut lagi saat kau tahu siapa pembunuh itu.” Sung Jae menyunggingkan smirknya.

 

 

 

“Waktu kunjungan telah selesai.” Ucap sang sipir sambil membantu Zelo beranjak dari tempat duduk bersiap untuk meninggalkan ruangan pengap itu.

 

 

“Jun Hong, bersabarlah kau akan cepat – cepat keluar dari tempat menyedihkan ini.” Seru Sung Jae sesaat sebelum sang sipir menutup pintu.

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

Jung Kook mengedipkan matanya beberapa kali saat angin berhembus mengenai kedua matanya. Semenjak tadi malam bertemu dengan Sung Jae, Jung Kook belum sempat memejamkan kedua matanya. Bukan tidak sempat sihhanya saja pertanyaan Sung Jae terus saja berngiang di telinganya dan membuatnya tidak berselera untuk tidur ditambah lagi semalam ia meminum coffee, meskipun hanya satu cup dan coffeenya sudah tidak panas. Pertanyaan yang Sung Jae tanyakan, itu bukan kali pertama. Pemuda bermarga Yook itu juga sempat menanyakan hal yang sama sebelumnya, tapi apa semalam Sung Jae memang benar – benar sedang bercanda? Jung Kook bahkan tak mengira begitu, karena saat Sung Jae mengatakan itu kedua matanya terlihat benar – benar serius. Dan kenapa Sung Jae bisa berasumsi jika Ye Eun meninggal secara tidak wajar? Anak itu memang penuh misteri.

 

 

“Kenapa Sung Jae bisa menanyakan hal itu lagi padaku? Apa … dia sudah menemukan pelakunya?” gumam Jung Kook, semakin lama memikirkannya kepala Jung Kook mendadak menjadi pusing. ia memegang kedua kepalanya, sangat sakit. Rasanya ada beribu paku yang menghujam kepalanya sekarang, ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke dinding saat ini juga.

 

 

 

 

“Biarkan aku yang menyelesaikannya!”

 

“Biarkan aku yang menyelesaikannya!”

 

 

Suara itu lagi, dia datang lagi.

 

Dengan susah payah, pemuda tampan itu berusaha berdiri dan berjalan menghampiri cermin besar yang tertempel di salah satu daun lemari pakaiannya.

 

 

 

 

Jung Kook melihat ada dua bayangan di cermin itu. Satu bayangan memperlihatkan kondisinya saat ini yang nampak menyedihkan dengan lingkaran hitam di bawah mata dan penampilan yang sangat urakan. Sementara yang satunya lagi nampak rapi, ia bahkan terlihat sedikit misterius dengan mascara hitam yang membuat kedua matanya terlihat lebih tajam dari milik Jung Kook.

 

 

 

“Jangan memasang tampang bodoh seperti itu Jung Kook! jika kau tak mau kepusingan dengan masalah itu, aku akan menyelesaikannya.” Ujarnya, Jung Kook masih diam tak merespon.

 

 

 

“Aku bisa dengan mudah menyingkirkan si pemuda bermata sipit yang so tahu itu dan kau bisa hidup tenang kembali.” Lanjutnya, merayu.

 

 

 

“Maksdumu apa? Kau ingin menyingkirkan Sung Jae?” pantulan wajah orang bermaskara itu menyeringai.

 

 

“Hanya membutuhkan waktu lima belas menit dan semuanya akan kembali normal. Ayolah, ijinkan aku untuk menggantikanmu sekarang!” pintanya lagi.

 

 

“Tidak. Sudah cukup John! Sudah cukup! Aku tak mau kehilangan lagi.” Tolak Jung Kook mentah – mentah.

 

 

“Kehilangan? Kau tak kehilangan Jung Kook! aku hanya menyingkirkan!”

 

 

“Apa kau yang membuat Shannon mati?” pantulan wajah yang dipanggil John itu tertawa lebar.

 

 

“Kenapa? Ada masalah denganmu hmm? Aku tak suka dengannya karena menolakku, tidak hanya itu dia bahkan menamparku waktu itu. aku kesal padanya dan ku rasa dia bisa membuat kita terganggu jadi aku menghabisinya.” John bercerita panjang lebar dengan wajah santai tanpa rasa menyesal sedikitpun berbeda dengan Jung Kook yang nampak terpukul mendengar kenyataan itu. Kedua pipinya mulai basah terkena air mata, ia menatap kedua tangannya bergantian. Kedua tangannya yang membuat Shannon pergi untuk selama – lamanya.

 

 

“Kau juga harus tahu, aku baru saja menyingkirkan orang yang selalu menghalangiku untuk menggantikanmu. Aku sudah menyingkirkan gadis berbibir cherry itu beberapa hari yang lalu.” Lanjut John, Jung Kook mengangkat wajahnya mencoba menebak siapa yang dimaksud John.

 

 

“Ye Eun?”

“Gadis itu, aku juga membencinya karena membuatku sangat sulit untuk keluar.”

 

 

PRANGGG~
Jung Kook melempar cermin itu menggunakan mobil mainannya. Kaca itu hancur berkeping – keping. Jung Kook duduk di lantai sambil terisak karena menangisi semua perbuatannya. Jadi secara tidak langsung ia adalah pembunuh? Dan lebih menyedihkannya lagi orang yang dibunuhnya adalah teman – temannya. Jung Kook tak mengira semuanya akan berakhir seperti ini. Kenapa ia harus menjalani hidupnya semenderita ini, apa tuhan tidak sayang padanya? Jung Kook benar – benar menyesali dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosinya waktu itu. Tapi menyesal saat ini tidak ada gunanya. Ia harus meminta maaf pada Zelo, yeah itu adalah jalan terakhirnya.

 

 

 

“Biarkan aku menggantikanmu Jung Kook!”

 

“Kau tidak berguna!”

 

“Jung Kook!”

 

Kata – kata itu membuat Jung Kook pusing, ia berteriak frustasi sambil mengacak rambutnya. Andai saja saat ini ia tidak sendirian di rumah, mungkin ia tidak akan sestres ini karena keluarganya pasti akan langsung memanggilkan dokter langgananya. Masalahnya saat ini ia hanya tinggal sendirian di rumah. Adiknya – Arin sudah berangkat sekolah, sementara ibunya pasti sudah pergi ke tempat kerja dan kakak sepupunya, Seok Jin dia sudah pulang ke rumahnya. Jadi saat ini Jung Kook sendirian dan benar – benar kesepian.

 

 

 

“Baiklah Jung Kook, Don’t panic! Kau harus tetap sadar dan semuanya akan baik – baik saja.” katanya menyemangati dirinya sendiri.

 

 

 

 

 

Jung Kook lantas berdiri, berniat untuk menemui Zelo dan mengatakan yang sesungguhnya lalu menyerahkan diri kepada polisi. Ia menggapai kenop pintu dengan susah payah. Berjalan dengan menyeret satu kakinya yang terasa kaku. Satu demi satu anak buah tangga itu berhasil Jung Kook lewati dan kini ia berada di depan pintu depan rumahnya. Sejenak Jung Kook menarik nafasnya dalam – dalam guna menghilangkan rasa pusingnya dan ia menekan kenop pintu itu.

 

 

“Saudara Jung Kook, anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan Shannon Williams.” Kini borgol besi melingkar di kedua pergelangan tangannya. Dua orang polisi yang pernah bertemu dengannya tempo hari itu menggiring Jung Kook masuk ke dalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.

 

 

 

 

#Find

 

Yeay! 😀

Akhirnya selesai juga, mianhe kalau postnya suka telat terus endingnya kurang memuaskan -__-

Aku mau ngucapin terimakasih buat readers yang sering baca FF aku terutama yang suka komen ya, makasih banyak #bow

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Hide And Seek Chapter 10 END

  1. rinyoung

    Jadi inget kill me heal me
    Salah satu kepribadian ji sung yg preman banget tapi ga smpe bkin org mati….
    Ending nya kurang greget thor….
    Over all keren critanya…..

    Like

  2. raserin

    thor ini ending?? yahh kayaknya masih kurang deh.. kok pas baca chapter 10 ini pengen nangis ya?? kasian kookienya.. tapi bagus kok ceritanya keren..

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s