[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 1)

Kookies

Title : Run

Author : Maru

Genre : friendship, family, crime

Cast :-Member BTS

-And others ….

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Aku hanya memiliki cerita dan OC, selainnya bukan.

 

………………………………………………………………………………………………….

 

Hari sudah mulai pagi. Matahari pun mulai menunjukan wujudnya dan memancarkan sinarnya. Di sebuah ruangan, tampak sesosok namja mencoba menarik selimutnya yang ditarik paksa oleh seseorang. Ia menggeliat pelan kemudian memilih untuk merelakan selimutnya dan memeluk gulingnya. Namja yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia langsung merebut guling itu dan memukulnya ke namja di hadapannya.

“Yak, Jungkook! Cepat bangun! Kau ingin kita terlambat ke sekolah, eoh?” tanya namja itu setengah membentak.

Namja bernama Jungkook itu tidak memberi respon yang berarti. Ia hanya melirik namja itu sekilas kemudian menutup matanya lagi.

“Yak, Kim Jung Kook! Cepat!”

“Ergh, aku masih mengantuk, Jimin.” elak Jungkook tanpa membuka matanya.

Kesabaran Jimin sudah habis. Ia langsung menarik tubuh Jungkook sampai terjatuh ke lantai dan membuat namja itu berteriak kesakitan.

“Akh! Yak, Park Ji Min! Jangan menarikku sampai jatuh. Sakit, tahu!?” celetuk Jungkook sambil mengelus bagian tubuhnya yang menyentuh lantai lebih dulu.

“Kau sulit dibangunkan, sih. Apa yang salah dengan mu? Bukannya kau yang biasanya membangunkan ku? Ini sudah pukul setengah delapan. Tiga puluh menit lagi bel masuk berbunyi. Cepat! Aku tidak ingin terlambat!” perintah Jimin.

Dengan malas, Jungkook bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Jimin pun tersenyum puas melihat namja itu takluk padanya. Namun ada sedikit pertanyaan dibenaknya. Apa yang terjadi sampai Jungkook yang selalu bangun pagi menjadi seperti ini?

Jimin mengedarkan pandangannya, berharap mendapatkan jawaban. Namun yang ia dapatkan hanyalah keadaan kamar Jungkook yang sedikit berantakan. Ia menghela nafas pelan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kalender yang tergantung di dekat cermin. Ada sebuah lingkaran pada salah satu tanggal di sana. Itu tanggal hari ini.

“Hm. Apa dia merencanakan sesuatu hari ini?” tanya Jimin pada dirinya sendiri.

Namun menurut Jimin itu bukanlah hal penting baginya. Ia pun memilih untuk keluar dari kamar Jungkook dan berjalan menuju ruang makan. Tampak dua orang paruh baya tengah duduk di sana. Jimin pun duduk di hadapan namja paruh baya yang merupakan appa-nya.

“Apa Jungkook sudah bangun?” tanya eomma sambil menyodorkan sepiring makanan ke hadapan Jimin.

“Sudah,” jawab Jimin pendek.

“Hm? Kenapa Jungkook baru bangun? Bukannya biasanya dia selalu bangun pagi?” tanya appa yang curiga dengan perubahan Jungkook yang tiba-tiba ini.

“Sepertinya dia sudah merencanakannya. Dia melingkari tanggal hari ini di kalendernya.” kata Jimin

Jimin melahap makanan yang disediakan eomma-nya. Tak lama kemudian, Jungkook keluar dari kamar dengan seragam sekolahnya yang sudah dikenakannya. Ia pun mendekati meja makan dan duduk di sebelah Jimin.

“Ada apa, Jungkook? Apa ada yang salah?” tanya eomma Jimin.

“Eum? Tidak, tidak ada apa-apa, Bibi Park.” balas Jungkook.

Eomma Jimin memicingkan matanya, menatap wajah Jungkook dalam. “Apa semalam kau menangis?”

Jungkook menggeleng cepat. “Tidak.”

“Kalau begitu cepat habiskan makan mu. Sepuluh menit lagi jam delapan.” ujar appa Jimin.

“Uhuk!” Tiba-tiba Jimin tersedak. Ia langsung mengecek jam di pergelangan tangannya. “Yak, kita bisa terlambat! Jungkook, kau makan di kantin saja nanti. Eomma, appa, kami pergi. Annyeong!”

Jimin langsung menarik lengan Jungkook yang belum sempat menyentuh makanannya sama sekali. Jungkook pun hanya menurut dengan ajakan Jimin. Mereka langsung berlari menuju halte bis. Namun sebuah bis baru saja meninggalkan halte itu. Itu artinya mereka harus menunggu lima menit lagi untuk menaiki bis selanjutnya.

“Akh, bagaimana ini?” keluh Jimin.

“Tidak ada pilihan lain.” kata Jungkook. “Kita lari saja. Ayo!” Jungkook langsung berlari meninggalkan Jimin.

“Apa? Yak, Kim Jung Kook!” Jimin berusaha mengejar Jungkook yang sudah berada jauh di hadapannya.

 

~o0o~

“Sudah kubilang, kita akan terlambat.”

“Ya, aku minta maaf karena aku bangun siang.”

Jungkook dan Jimin sampai di sekolah lima menit setelah gerbang ditutup. Hukumannya mereka harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali dan setelah itu mereka tidak boleh mengikuti pelajaran pertama.

Jungkook dan Jimin baru saja menyelesaikan putaran kelima mereka. Tiba-tiba seseorang tampak bergabung dan berlari di samping Jimin. Jimin pun melirik orang di sebelahnya untuk mengetahui siapa yang berlari di sebelahnya.

“Taehyung, kau terlambat juga?” tanya Jimin.

“Ya, seperti yang kau lihat.” balas Taehyung sambil tersenyum kecut. “Kenapa kalian terlambat? Bukannya kalian selalu datang pagi-pagi?”

“Jangan tanyakan padaku. Tanyakan pada Kookie yang bangun kesiangan hari ini.” kata Jimin sambil melirik Jungkook.

Taehyung pun memalingkan wajah ke Jungkook yang hanya menatap kosong ke depan.

“Yak, yak, yak! Berhenti!”

Ketiga namja itu langsung berhenti mendadak ketika mendengar seruan dari depan mereka. Mata mereka langsung membulat ketika mendapati Guru Cha -yang menghukum mereka- berdiri di hadapan mereka sambil memberikan sebuah tatapan mengerikan.

“Lihat-lihat kalau berlari!” hardik Guru Cha. “Ulangi hukuman kalian! Hitung lagi dari nol!”

“Apa?!”

“Kalian menolak, hah? Kalau begitu hukaman kalian lima belas putaran. Cepat!” seru Guru Cha marah.

“B-baiklah.”

Ketiga namja itu hanya bisa menuruti perintah Guru Cha. Jika mereka menolak, pasti mereka akan diperintahkan untuk berlari lagi. Guru yang kejam, menurut mereka.

 

~o0o~

 

Taehyung menyeruput jusnya hingga habis. Setelah itu ia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sementara itu Jimin hanya memandang malas jus miliknya dan Jungkook tengah melahap makanannya.

“Membosankan.” ucap Jimin tiba-tiba.

Jungkook yang sedang makan tidak merespon ucapan Jimin, sedangkan Taehyung hanya mengangguk mengiyakan. Setelah makanannya habis, Jungkook langsung bangkit.

Jimin, aku ingin pergi. Nanti tolong sampaikan kepada guru kalau aku izin. Katakan saja aku sakit, jadi aku pulang duluan. Terima kasih atas makanannya, ya.” Jungkook sudah bersiap pergi.

Eh, tunggu! Kau ingin kemana?” tanya Jimin.

Aku … hanya ingin pergi saja. Tidak apa, kan?” Jungkook langsung berbalik lagi dan langsung berlari meninggalkan kedua namja itu di kantin.

Kenapa dia menjadi aneh?” gumam Jimin.

Hm, kau bilang apa?” Taehyung mendekatkan telinganya ke Jimin.

Eung, dia benar-benar aneh hari ini. Tadi pagi ia bangun kesiangan, dan sekarang ia membolos, begitu? Sejak kapan ‘si rajin’ Jungkook berubah seperti itu?” kata Jimin.

Oh, hanya itu.”

Yak, komentar mu hanya seperti itu?”

Memangnya kenapa? Tidak bolehkah jika seseorang berubah hanya untuk satu hari saja?” tanya Taehyung.

Tidak ada yang melarang, sih. Tapi … sepertinya dia sudah merencanakannya.”

Taehyung mengerutkan keningnya.Apa maksud mu?”

Tidak, bukan apa-apa. Ah, sepertinya waktu istirahat sebentar lagi akan habis. Aku pergi dulu, ya.” Jimin segera bangkit meninggalkan bangkunya.

Park Ji Min, kau tidak ingin meminum jus mu? Untukku, ya!” pinta Taehyung setengah berteriak karena Jimin sudah mulai menjauh.

 

~o0o~

 

Jungkook sekarang sudah berada di dalam sebuah bangunan besar. Ia mendekati sebuah meja panjang di ruangan utama bangunan itu.

“Permisi. Aku ingin bertemu Kim Seok Jin.”

Namja paruh baya yang berdiri di balik meja itu langsung menunjukan sebuah buku dan menyuruh Jungkook untuk menanda tanganinya. Setelah itu ia memanggil rekannya untuk mengantar Jungkook. Namja itu membawa Jungkook kesebuah ruangan kecil. Ruangan itu terbagi menjadi dua dengan pembatas sebuah kaca. Jungkook duduk di kursi yang diarahkan menghadap ke kaca itu. Tak lama kemudian, dua sosok namja memasuki ruangan di depannya. Satu diantara mereka duduk di hadapan Jungkook sedangkan yang satunya lagi mengawasi mereka dari belakang.

“Kookie, bukannya kau seharusnya masih sekolah?” tanya namja yang duduk di hadapan Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Ada apa?” tanya namja itu lagi.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ….” Jungkook menghentikan ucapannya sejenak. “Saengil chukkhaehamnida, hyung!”

Jungkook mengeluarkan sebuah kotak dan menempelkannya ke kaca di hadapannya. “Aku tahu hyung tidak bisa mengambilnya, tapi aku akan tetap membelikan ini sebagai hadiah untuk hyung.

“Eoh, Kookie. Terima kasih. Apa itu?”

Jungkook membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan yang terlihat mewah.

Namja itu membuatkan matanya. “K-Kookie, bukankah jam itu mahal? Dari mana kau mendapatkan uang? Kau tidak mencuri, kan?”

“Apa? Mencuri? Tentu saja tidak.” Jungkook memajukan bibirnya. “Aku sudah menabung sejak lama untuk ini. Hyung menginginkan jam tangan ini, kan?”

Namja itu tersenyum. “Terima kasih. Kau simpan saja dulu. Hyung akan mengambilnya jika hyung sudah keluar dari sini.”

Jungkook mengangguk. Ia memasukan kotak itu ke tasnya. Tiba-tiba saja memorinya tentang kejadian satu bulan yang lalu itu kembali berputar di otaknya. Kejadian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kejadian yang membuat keadaannya menjadi seperti ini. Kejadian yang membuat orang yang dicintainya menjauh darinya.

 

~Flashback~

 

Jungkook mempercepat langkahnya agar ia lebih cepat sampai ke rumah. Ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan sebuah kabar gembira kepada keluarganya. Ia berhasil menempati peringkat pertama dalam ujian kenaikan kelas.

Jungkook membuka pintu rumahnya lebar-lebar. “Eomma, hyung! Aku pulang!”

Hening. Tidak ada jawaban. Jungkook mengecek keberadaan kedua orang itu di dapur. Namun ruangan itu kosong. Tidak ada siapapun di sana.

Mungkin hyung di kamar.” gumamnya sambil berjalan menaiki tangga.

Jungkook membuka pintu kamar hyung-nya dan memanggilnya. Tapi ia tak mendengar balasan karena ruangan itu kosong. Jungkook pun memilih untuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia turun ke bawah berniat ke kamar eomma-nya.

Eomma, aku masuk, ya.” ucap Jungkook sebelum membuka pintu kamar eomma-nya.

Kosong. Jungkook memajukan bibirnya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu. Tiba-tiba Jungkook merasa ada yang mendorongnya dari belakang dengan keras hingga ia terjatuh. Jungkook langsung berbalik. Ia membulatkan matanya ketika mendapati dua namja bermasker berdiri di balik pintu. Salah satu diantara mereka menodongkan sebilah pisau ke leher yeoja yang dirangkulnya. Yeoja itu benar-benar terlihat ketakutan. Jungkook semakin kaget ketika menyadari bahwa yeoja itu adalah eomma-nya. Namja yang satu lagi mendekati Jungkook dan menyamakan tingginya dengan Jungkook yang tengah terduduk. Jungkook masih membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kau Kim Jung Kook, kan?” tanya namja itu.

Jungkook hanya terdiam. Lidahnya terasa kelu melihat eomma-nya diperlakukan seperti itu.

Namja itu berdiri. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pisau dan bersiap menikam Jungkook. Jungkook merasa tubuhnya mati rasa. Ia tidak bisa bergerak. Jungkook pun hanya menutup matanya pasrah.

Jangan!”

 

 

 

 

Jungkook terdiam beberapa saat. Ia sudah yakin rasa sakit akan segera menghampirinya. Tapi … apa ini? Rasa sakit yang ia takuti berubah menjadi sebuah kehangatan. Jungkook membuka matanya perlahan.

E-eomma!”

Eomma Jungkook memeluknya sesaat sebelum pisau itu berhasil menyentuh Jungkook. Alhasil pisau itu mendarat pada punggung eomma Jungkook.

Sudah ku duga.” kata namja yang hendak menikam Jungkook tadi. “Sebaiknya kita pergi. Ayo!”

Kedua namja bermasker itu langsung berlari pergi. Sementara Jungkook melepaskan pelukan eomma-nya yang semakin melemah. Ia melihat dengan jelas cairan merah mengalir deras dari punggung eomma-nya.

E-eomma.” Suara Jungkook terdengar bergetar. Ia mengulurkan tangannya ke pisau itu dan berniat melepasnya, namun eomma-nya langsung mencegahnya.

T-tidak perlu, K-Kookie.” ucap eomma Jungkook terbata-bata. “Hidup dengan baik, ya.”

Jungkook menggeleng kuat. Setetes air meluncur bebas melewati pipinya.

Tidak, eomma tidak boleh pergi. Kookie masih membutuhkan eomma.

BRAKK

Pintu ruangan itu terbuka dengan kasar. Sesosok namja yang membukanya langsung terpaku ketika melihat keadaan di ruangan itu. Ia berlari mendekati keduanya.

Eomma! Apa yang terjadi?!” tanyanya histeris.

Eomma mencoba tersenyum setulus mungkin. “S-Seokjin, sebaiknya kau segera membawa Kookie pergi. Biarkan eomma di sini. Eomma tidak apa.”

Tidak, aku tidak mau! Aku tidak ingin pergi!” tolak Jungkook.

Kookie, eomma mohon.”

Jungkook terdiam. Di satu sisi ia tidak ingin meninggalkan eomma-nya, tapi di sisi lain ia tidak ingin menolak permintaan eomma-nya. Begitupun dengan Seokjin. Ia benar-benar bingung dengan keadaan seperti ini.

Kookie, ayo, kita pergi!” Seokjin menarik lengan Jungkook.

A-apa? H-hyung, bagaimana dengan eomma?

Sebaiknya kita pergi.” kata Seokjin dingin. Ia langsung menarik lengan Jungkook dengan paksa untuk keluar dari ruangan itu dan membawanya keluar rumah.

Kookie, kau pergi ke rumah Jimin, ya. Nanti hyung akan menyusul.” kata Seokjin ketika mereka sudah berada di luar.

Hyung, bagaimana dengan eomma?” tanya Jungkook disela tangisnya yang belum mereda.

Seokjin tersenyum. “Eomma yang meminta kita pergi. Kau pergi duluan, hyung akan menyusul.”

Tapi, hyung-

Sudahlah. Kau pergi saja, ya.”

Jungkook menundukan kepalanya. Ia mengangguk pelan dan langsung berlari menuju rumah teman dekatnya, Park Ji Min. Sementara Seokjin langsung berlari kembali ke dalam rumahnya.

 

~Flashback End~

 

Jungkook menundukkan kepalanya, berharap hyung-nya tak menyadari bahwa tetesan air itu mulai mengalir deras dari matanya. Namun bagaimanapun Jungkook menyembunyikan wajahnya, suara isakannya masih bisa terdengar oleh Seokjin yang duduk di hadapannya.

“Kenapa kau menangis? Kau tidak ingin waktu mu yang terbatas ini hanya kau gunakan untuk menangis, kan?” ucap Seokjin mencoba meredakan tangisan adiknya.

Jungkook tak menanggapi ucapan Seokjin. Isakannya malah semakin menjadi-jadi. Seokjin mencoba tersenyum. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca itu. Ia ingin sekali mengusap air mata adiknya itu.

“Kookie,” panggil Seokjin. “Jika kau menangis, aku juga akan ikut menangis. Kau … tidak ingin aku menangis, kan?”

Jungkook mengusap air matanya kasar. Ia masih belum berani mengangkat wajahnya untuk menatap Seokjin.

Hyung,” Suaranya bergetar. “Untuk apa hyung melakukan itu? Kenapa hyung menyuruhku pergi waktu itu? Hyung tidak seharusnya berada di sini. Ini bukan salah hyung.

Seokjin terdiam mendengar ucapan adiknya, namun ia mencoba tetap menampakan senyumannya.

Karena … aku menyayangi mu, Kookie.”

Jika hyung menyayangiku, seharusnya hyung tidak meninggalkan ku di luar sini. Aku membutuhkan mu, hyung.” kata Jungkook yang masih mencoba menghentikan isakannya.

Seokjin hendak membalas, namun seorang petugas masuk ke ruangan Jungkook dan mengatakan kalau waktunya sudah habis. Jungkook segera bangkit dan berpamitan dengan Seokjin. Di luar, Jungkook mendekati kursi di halaman luar dan duduk di sana. Tatapannya masih kosong. Ia masih belum melerakan hyung-nya berada di balik jeruji besi itu.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan membuatnya tersadar dari lamunannya.

Jungkook,” Orang itu menyebut namanya. “Kau ada di sini? Bukankah kau seharusnya masih sekolah?”

Jungkook mendongakkan kepalanya. “Eung, hanya … aku ingin bertemu hyung lebih cepat.”

Namja paruh baya itu tersenyum dan duduk di sebelah Jungkook. “Apa kau lapar?”

Tidak, aku tidak lapar.” kata Jungkook.

Jungkook menghela napas panjang. Ia mengeluarkan kotak berisi jam tadi dari dalam tasnya dan memberikannya kepada namja di sebelahnya.

Appa, aku ingin menitip ini. Aku akan mengambilnya jika hyung sudah dibebaskan.”

Namja itu memandang Jungkook bingung. “Hm. Apa ini?”

Itu hadiah ulang tahun dari ku untuk hyung.” jawab Jungkook.

“Oh, baiklah. Jungkook, apa kau tidak ingin tinggal dengan appa saja?”

Jungkook menggeleng. “Bibi Yoonji, kan, tidak menyukai ku. Aku tidak ingin appa ribut dengan Bibi Yoonji.

Ya, appa mengerti. Tapi jika kau menginginkan sesuatu, minta saja ke appa. Jangan meminta kepada Tuan dan Nyonya Park.”

Ya. Eum, aku ingin pulang. Aku pergi dulu, appa.” Jungkook bangkit dari kursinya. Ia membungkukkan tubuhnya kemudian berjalan pergi.

Namja itu menatap langkah Jungkook yang mulai menjauh. Setelah Jungkook menghilang dari pandangannya, namja itu membuka kotak yang tadi diberikan Jungkook. Namja itu tersenyum simpul ketika mengetahui isinya.

Tuan Jeon,”

Namja itu mengangkat wajahnya dan mendapati sesosok namja yang memakai seragam polisi berdiri di hadapannya. Tuan Jeon tersenyum dan memberi isyarat kepada namja itu agar duduk di sebelahnya.

Bagaimana?”

“Dia menangis tadi.” ucap namja itu.

Sepertinya dia masih mengingat eomma-nya.” kata Tuan Jeon.

Eum … apa Jungkook memang sering menangis?”

Tuan Jeon menolehkan kepalanya ke arah namja itu dan tersenyum. “Kau juga mengetahui-nya, bukan?”

Namja itu menundukkan kepalanya. “Maafkan aku.”

Untuk apa minta maaf? Itu bukan kesalahan mu seluruhnya.” kilah Tuan Jeon. “Seharusnya aku yang meminta maaf kepada mu karena telah merepotkan mu.”

Eh. T-tidak, ini tidak merepotkan ku, kok. Tapi … apa Kim Seok Jin benar-benar bukan pembunuhnya?” tanya namja itu.

Aku tidak tahu kejadian aslinya. Tapi aku yakin Seokjin tidak akan membunuh eomma-nya sendiri. Jika memang ia yang membunuhnya, untuk apa Jungkook masih menjenguknya?” terang Tuan Jeon.

Namja itu mengangguk mengerti. Kemudian ia berpamitan kepada Tuan Jeon karena ia memiliki tugas. Namja itu pun berjalan pergi meninggalkan Tuan Jeon sendirian di kursi itu.

Aku harap dia percaya,” gumamnya pelan.

 

~o0o~

 

Jimin melangkahkan kakinya dengan malas menuju rumahnya. Sekarang sudah hampir tengah malam. Hari ini ada pelajaran tambahan sehingga murid-murid pulang lebih larut dari biasanya. Jimin mendengus kesal karena ia harus berjalan di jalanan sepi ini sendirian. Jimin mencoba berjalan santai walaupun sebenarnya ia sedikit ketakutan.

Di tengah perjalanan, Jimin menghentikan langkahnya. Ia mencoba menajamkan pendengarannya ketika ia mendengar ada suara di sekitarnya.

BUGH

Yak, kau ingin main-main, eoh?”

Kita bunuh dia saja, hyung!”

Jimin mengedarkan pandangannya, mencari asal suara itu. Ia memicingkan matanya ketika melihat siluet di sebuah gang. Tampak dua orang tengah berdiri di sana, dan di hadapan mereka terdapat satu orang yang sedang mencoba bangkit. Jimin membulatkan matanya. Ia langsung mengambil langkah seribu karena ketakutan.

Jimin menghentikan langkahnya ketika sudah cukup berada jauh dari tempat tadi. Ia mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tepukan di pundaknya dan itu sukses membuatnya terpekik kaget.

Argh, jangan bunuh aku!” serunya sambil menutup kepalanya menggunakan tasnya.

Namja yang baru saja menepuk pundak Jimin menatapnya bingung. “Apa? Memangnya aku ingin membunuh mu?”

Jimin merasa tidak asing dengan suara itu. Ia langsung berbalik.

Yak, Kim Tae Hyung! Kau menakuti ku!” Jimin memukulkan tasnya ke tubuh namja itu.

Akh, hentikan! Itu sakit, Park Ji Min.” keluh Taehyung.

Lagipula kau menakut-nakuti ku!” seru Jimin. “Eh, sedang apa kau di sini? Rumah mu kan jauh dari sini.”

Ya, rumah ku memang jauh dari sini. Tapi keluarga ku sedang berada di rumah nenekku yang berada di dekat sini. Eomma menyuruh ku ke rumah nenek.” kilah Taehyung. “Apa yang terjadi? Kau terlihat ketakutan.”

“Tadi aku melihat ‘pembunuh’.”

Taehyung membulatkan matanya. “Apa?! Pembunuh? Kenapa kau tidak melaporkannya ke polisi?”

“Ah, bukan begitu maksud ku. Hm, sepertinya terjadi semacam pemerasan begitu. Tadi aku mendengar dua orang yang mengancam akan membunuh orang di depan mereka. Itu belum bisa dikatakan pembunuh, kan?” terang Jimin.

“Yak, itu hanya ancaman! Tentu saja orang itu belum bisa dikatakan pembunuh. Dasar, Jimin pabbo!” ejek Taehyung.

“Apa!?”

“Oh, kau ingin aku mengulanginya? Baiklah. Jiminie pabbo!” teriak Taehyung sambil berlari sekencang-kencangnya.

“Yak, Kim Tae Hyung!”

 

~o0o~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 1)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s