[Chapter 2] The Prince of Vesperia and His Aide

vesperia 2
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | SHINee’s Lee Taemin as Erden

BTS’s Min Yoongi as Fyre | BTS’s Park Jimin as Alven

OC’s Icy & Reyn

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

beautiful poster by namtaegenic (Kak Eci) 

.

He’s back?!

.

Killian selalu bangun lebih awal. Bahkan sebelum dua pelayannya masuk untuk membangunkannya, Killian sudah selesai berpakaian. Membuat satu cangkir teh hangat dari pantri kecilnya dan menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan, sembari menikmati hamparan luas hutan pinus di sekeliling istana. Hutan yang selama ini hanya bisa ia amati dari dalam istana. Berbeda dari hari sebelumnya, mulai besok dan dua bulan selanjutnya, ia akan menikmati pagi di hutan itu bersama Icy. Gadis bersurai cokelat gelap sepunggung yang dengan senang hati ia terima sebagai pengawal pribadinya.

Tepat ketika gigitan terakhir roti lapis itu ditelan, pintu kamar Killian bergerak membuka. Tampilkan seorang gadis dengan sampiran pedang di sisi pinggulnya, memakai kaus hitam lengan panjang di balik jubah selutut cokelat tanpa lengan, dan sebuah lencana emas berlambang Vesperia tersemat di dadanya.

“Bukankah aku sudah memberikanmu seragam Vesperia?” tanya Killian mengerutkan dahinya.

Icy sudah menduga kalau Killian pasti akan menanyakan hal itu. Kontras dengan apa yang dikenakannya, seragam Vesperia memang jauh lebih bagus. Berbeda dengan seragam pengawal yang kemarin dilihat Icy, seragamnya hanya berupa jubah putih gading bertudung dengan garis merah yang mengelilinginya. Warna yang jarang sekali ia kenakan, karena Icy lebih memilih warna gelap untuk membalut tubuhnya.

Hm….” Icy menggaruk tengkuk. Berpikir alasan apa yang harus ia utarakan, tetapi tak ada opsi lain selain jujur dan menerima konsekuensi ditertawakan oleh Killian. Meraup oksigen banyak-banyak dan memaku manik pada ujung sepatu hitamnya, Icy mulai bersuara. “Jubahnya kebesaran. Aku sudah meminta tukang jahit istana untuk mengatasinya. Jadi—”

That’s it!

Benar saja. Killian langsung memalingkan wajahnya dan tertawa. Tidak terpingkal-pingkal sampai ia harus berguling-guling di karpet, memang, tapi tetap saja pemandangan itu membuat Icy kesal. Mencengkeram pinggiran jubah cokelatnya, sebisa mungkin Icy menahan jemarinya untuk tidak melesatkan sebuah belati hitam miliknya ke arah tirai merah muda di belakang Killian yang masih membuatnya sakit mata.

Lihat saja. Aku akan mencari tahu kelemahanmu, Killian!

“Maaf, maaf.” Berdeham, Killian berusaha mengontrol tawanya. Sebelah tangan menutup mulut selagi telunjuknya yang lain diarahkan pada satu cangkir kosong lain di hadapannya. “Kau mau secangkir teh?”

“Tidak, terima kasih,” jawab Icy datar. Untuk saat ini, lupakan formalitas atau rasa segan pada seorang pangeran.

“Oke.” Bangkit berdiri, Killian merajut langkah ke arah pintu. Mengulum senyum dan beri satu tepukan pelan di bahu pengawal pribadinya, sebelum berujar, “Ayo. Aku sudah tidak sabar melihat permainan pedangmu.”

.

Saat mereka tiba di gedung khusus untuk para kesatria berkumpul, Erden sedang berlatih bersama Trevor sebagai lawannya. Beberapa kali sebelumnya, Killian sempat melihat permainan pedang Erden dan ia selalu terpukau. Entakkan kakinya bergerak lincah, tubuh lihai mengelak, dan ayunan pedangnya terasa ringan. Seakan di arena pertarungan itu Erden tengah menari diiringi musik tak kasatmata. Killian pernah mencoba meminjam pedang sehitam jelaga milik Erden dan terkejut karena pedang itu tak seringan yang ia kira. Sangat jauh berbeda dengan pedang perak miliknya yang didesain cukup ringan untuk dipakai Killian.

Sekian menit mengamati di pinggir arena, akhirnya pertarungan kecil itu berakhir. Killian bertepuk tangan selagi senyumnya terkembang lebar. Erden berjalan menghampiri, mengusap peluh di dahi, dan beri bungkukan sebagai sapaan.

“Menakjubkan seperti biasa, Erden.”

“Terima kasih, Killian.” Erden menggaruk tengkuk dan tersenyum kikuk. Kedua alis terangkat ketika maniknya bersirobok dengan milik kakak perempuannya yang berdiri di samping Killian. “Kau ingin melihat Icy bertarung?”

Yeah, begitulah.” Killian mempersilakan Icy memasuki arena, sementara Trevor memilih satu ahli pedang Vesperia untuk maju. “Aku menyesal telah melewatkan turnamen pedang di Meridies tahun lalu,” ujarnya, manik menatap lurus ke arah Icy yang bersiap di tengah arena.

“Beruntung kau tak melihatnya.”

Menoleh, Killian menjungkitkan sebelah alisnya, tak mengerti. Sebelum satu tanyanya terkuar, terdengar aba-aba pertarungan dimulai. Semua pasang mata tertuju pada satu titik, tak terkecuali dengan Killian.

Perbedaan antara permainan pedang Erden dan Icy begitu kentara. Berkebalikan dengan Erden yang langsung menyerang lawannya, Icy memilih geming. Kuda-kuda kokoh terpasang dan alih-alih menghunuskan pedang, kedua tangannya terangkat sebagai tameng. Iris cokelat gelapnya memindai pergerakan lawan seiring langkah kakinya perlahan bergerak menghindar.

“Kenapa Icy tidak—”

“—dia tidak pernah mengeluarkan pedang dari tempatnya kecuali dalam situasi terdesak,” jawab Erden memangkas kuriositas Killian. Keduanya kembali diam, sama-sama mengamati bagaimana Icy yang terus-menerus menghindar dari sapuan pedang lawan, kendati ia memiliki jeda luang untuk menarik bilah pedangnya. “Tempat itu dibuat khusus oleh Trevor. Perlu waktu sepersekian sekon untuk memisahkan isi dengan cangkangnya.”

“Apakah Icy juga tidak menggunakan pedangnya dalam turnamen?”

Erden menggeleng. Mengulas senyum tipis dan tatapnya berubah sendu ketika satu memori itu terulang kembali. “Icy hanya mengeluarkan pedang saat pertempuran terakhirnya.”

Secepat pertarungan itu dimulai, secepat itu pula Icy berhasil merobohkan pertahanan lawannya. Satu tepisan di tangan lawan hingga pegangan pada pedangnya terlepas dan Icy mulai menyerang. Memelintir tangan yang ia cengkeram ke belakang dan layangkan tepukan cukup keras di bahu. Hingga lelaki itu terbaring di tanah, meringis nyeri merasakan sakit yang menjalar dari pundaknya. Icy mengulurkan sebelah tangan, membantu ahli pedang Vesperia itu berdiri. Membungkuk ucapkan terima kasih dan permohonan maaf sebelum ia memosisikan diri di sisi Erden yang memberikannya handuk kecil. Keduanya saling berbagi senyum dan obrolan singkat, melupakan sejenak presensi sang pangeran yang tengah mengamati Icy tanpa berkedip. Sampai kehadiran seorang prajurit di sampingnya membuat atensi Killian juga Icy dan Erden teralihkan.

“Yang Mulia.”

“Ada apa?”

“Pangeran Fyre dari Kerajaan Orient dan pengawal pribadinya baru saja sampai.”

Mengangguk, Killian lantas menyuruh pengawal itu untuk membawa Fyre dan Alven (pengawal pribadinya) ke tempat di mana mereka biasa berkumpul. “Kami hanya akan berlatih memanah. Kau tidak perlu ikut denganku,” ujar Killian menghentikan langkah Icy yang ingin mengekorinya. “Selagi Erden melanjutkan latihannya, kau bisa pergi ke istal.”

Hah?”

Menanggapi raut kebingungan di wajah Icy, Killian terkikik geli. Lambaikan sebelah tangan pada pengawal pribadinya itu sebelum melangkah pergi. Tetapi ia sempat berhenti di ambang pintu, menoleh, dan berseru, “Temui Reyn. Dia bisa mengajarkanmu cara berkuda dengan baik.”

Setelah itu, sosok sang pangeran benar-benar pergi dari sana. Tinggalkan Icy dengan semburat kemerahan di pipi, lantaran lagi-lagi Killian berhasil mengejeknya secara tak langsung.

“Erden!” seru Icy berkacak pinggang menatap adik lelakinya. “Kau yang memberi tahu Killian tentang—”

“Bukan aku, Kak.” Erden mengangkat bahu tak acuh. Ia pun terkejut mendengar perkataan Killian. Yah, mungkin saja Killian punya cara tersendiri mengetahui rahasia kakaknya itu.

.

Kecuali… Killian masih ingat masa lalunya….

.

.

“Tembakan yang bagus, Fyre.”

Alven bersorak dari tempatnya berdiri. Itu adalah busur ketiga dari Fyre yang tepat mengenai pusat papan sasaran. Tak diragukan, Fyre memang terkenal dengan kemampuan memanahnya. Begitu pula dengan Alven. Ketepatan mereka dalam meluncurkan anak panah hampir seimbang. Meskipun umurnya lebih muda dua tahun dari Fyre, Alven jauh lebih unggul dalam hal memanah.

Ingin menyambar satu lagi busur panah untuk diberikan pada pangeran dari kerajaan Orient itu, pergerakan Alven dihentikan oleh suara pintu yang membuka.

“Hei.”

Semburan angin menyambut ketika Killian menginjakkan kakinya di balkon terluas di belakang kastel. Tempat yang selalu mereka gunakan untuk berlatih memanah, tanpa perlu dilindungi oleh sederet pengawal istana. Karena kedua pangeran yang telah bersahabat sejak lama itu sama-sama tidak menyukai kawalan yang terlalu mengikat. Fyre lebih sering melakukan perjalanan ke berbagai kerajaan bersama pengawal pribadinya jika ia memiliki banyak waktu senggang. Berbeda dengan Fyre, setelah kejadian lima belas tahun lalu, Killian tak pernah lagi diizinkan keluar istana.

“Kau sendiri?” tanya Alven mengangkat kedua alisnya ketika tak menemukan siapa pun yang mengekori Killian. “Kupikir kabar tentang—”

“Dia di istal.” Alih-alih menyambar busur dan panahnya, Killian duduk di salah satu kursi. Menuangkan secangkir penuh teh hangat, sama sekali tak menunjukkan ketertarikannya untuk memanah. “Boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?”

Fyre mengedikkan bahunya tak acuh. Mau tak mau, Alven yang harus meladeni pertanyaan Killian sementara pangeran Orient itu kembali menyibukkan diri dengan panahnya.

“Silakan, Yang Mulia.” Alven duduk di hadapan Killian. Tangan terlipat di atas meja, siap mendengar pertanyaan yang akan diajukan padanya.

“Apa kau menyaksikan turnamen pedang tahun lalu di Meridies?”

Yeap.”

“Berarti kau melihat Icy bertarung?”

“Kau bercanda? Tentu saja aku melihatnya. Icy menjadi pusat perhatian setelah pertarungannya di babak penyisihan. Benarkan, Fyre?”

Meletakkan busur dan mengenakan kembali jubah birunya, Fyre duduk di samping Alven. Menyesap kopi yang disodorkan pengawal pribadinya sebelum bertanya, “Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?”

“Apa yang terjadi di pertempuran terakhir Icy?”

Alven dan Fyre saling pandang. Seakan berkomunikasi siapakah yang harus menjelaskan kejadian yang membuat seluruh peserta juga penonton yang hadir saat itu tercengang, dan tak mungkin bisa cepat dilupakan kendati masa itu telah berlalu hampir satu tahun silam.

Mengembuskan napas, Fyre menghadap Killian. Meneliti raut wajah lelaki itu yang masih menunggu jawab darinya atau Alven. “Aku bertaruh, Erden dan Icy belum memberitahumu.”

“Ayolah, Fyre, Al. Memangnya aku tidak boleh tahu apa yang terjadi pada aide-ku sendiri?” Killian mengusap wajahnya frustrasi. Tak mengerti kenapa semua sahabatnya serempak merahasiakan hal ini padanya. Ia memang belum sempat menanyakannya pada Icy. Tapi melihat respons bungkam yang diberikan Erden, Fyre, dan Alven, ia yakin kalau Icy pun tak akan menceritakannya.

“Beruntung kau tak melihatnya.”

“Jawaban klasik.” Mendengar jawaban yang sama seperti yang diberikan Erden, Killian memutar bola matanya kesal.

Melihatnya, Alven tergelak sementara Fyre mengulum senyum. Bangkit berdiri, ia melepas jubahnya dan melempar busur kepada Killian sebelum mengambil busur panahnya sendiri. Satu anak panah dilepaskan sebelum Fyre menerima yang lainnya dari Alven. Sedikit memberi jeda untuk bertanya pada Killian yang bersiap di posisinya. “So, how’s your aide?”

“Baik.” Berdecak sebal karena sasarannya melenceng, Killian menarik satu anak panah lagi. Seringai terpahat di wajah saat ia mengatakan, “Kautahu, dia benar-benar kesal saat aku mengejeknya.” Tembakan lagi dan panahnya menancap tak jauh dari pusat sasaran.

Kali ini, Alven juga memberikan satu anak panah kepada Killian. Disertai senyuman dan berujar, “Dia tidak berubah, huh?”

“Ya. Dia masih Icy yang dulu.”

.

.

Reyn bukan seorang lelaki dekil dan bau badannya seperti kuda. Tidak, lelaki yang memiliki tawa juga cengiran berlebih itu lebih muda darinya, bersih, dan Icy bisa mengendus wewangian segar saat lelaki itu melintas di dekatnya.

Reyn pandai berkuda, pantas Killian merekomendasikan Icy untuk belajar padanya. Tapi, Reyn bukan pengajar yang cukup handal. Lantaran, sejak Icy mengutarakan niatnya ke istal sampai dua puluh menit berikutnya, Reyn terus saja menggodanya dan mereka berakhir saling adu mulut.

“Seorang pengawal pribadi Pangeran tidak bisa berkuda? Lucu sekali.”

“Aku bisa! Hanya tidak terlalu mahir.”

“Apa bedanya, Nona?”

“Tentu saja beda!” Icy bersiul. Seekor kuda seputih salju berderap menghampirinya. “Lihat.” Menarik tali kekang dan satu entakkan, Icy mulai menuntun kudanya mengelilingi arena berkuda yang terletak di dalam ruangan.

Mengamati, Reyn bersedekap di sisi kuda cokelatnya. Ia mengakui kalau Icy sebenarnya bisa menunggang dan mengendalikan kuda miliknya, namun geraknya terkesan hati-hati dan kaku meski Reyn belum meletakkan palang rintang di arena. Akan susah jika Icy menemani Killian berkuda ke hutan besok pagi, pikir Reyn. Selain dilapisi salju, Hoogland juga merupakan gunung berbatu. Terlalu berbahaya untuk melintas bagi seseorang yang takut berkuda seperti Icy. Dan, Killian memang tak pernah ke gunung itu sebelumnya. Tetapi, kemampuan berkuda pangeran Vesperia itu jauh lebih baik.

“Bagaimana?” tanya Icy, masih duduk di atas pelana sembari tersenyum lebar setelah menghentikan kudanya di depan Reyn. “Aku bisa—”

“—turunlah dulu dan ikut aku.” Menghiraukan protes dari pengawal pribadi pangeran itu, Reyn menggerakkan tungkainya ke arah bangku kayu. Duduk di sana dan mengeluarkan gulungan perkamen.

“Perintah dari Raja?” Icy menjungkitkan sebelah alis saat perkamen itu disodorkan padanya. Sejak kiriman perkamen dari Raja tempo hari, Icy jadi merasa tak nyaman melihat gulungan berwarna krem itu.

Menggeleng, Reyn lantas membuka perkamen di tangannya dan menyuruh Icy duduk di sebelahnya. “Ini peta hutan Hoogland. Aku sudah menandai jalan yang aman untuk dilalui dan jalan mana saja yang berbahaya. Kau bisa me—”

“Wah.” Terkagum, manik Icy berbinar. Melihat dari gambarnya, Icy yakin kalau Reyn membuat sendiri peta itu. Meski sedikit berantakan, namun tiap-tiap lekuk jalannya tak luput dari keterangan kecil yang ditorehkan lelaki itu. “Petanya untukku?”

“Lebih tepatnya, aku pinjamkan. Sampai kau menghafalnya dan bisa berkuda.” Lagi-lagi meledek, Reyn menjulurkan lidahnya sebelum berlari menjauhi jangkauan tangan Icy yang ingin memukulnya.

“Aku bisa, tahu!”

“Bisa tapi masih takut.” Reyn sudah duduk di pelana. Mengedikkan bahu ke arah kuda putih Icy dan berujar, “Ayo, kita berkuda keluar istana.”

Tak bisa mengelak, karena yang dikatakan Reyn benar adanya, Icy menurut. Menaiki kuda putihnya yang diberi nama Ice, lantas bergerak perlahan mengekori Reyn di depannya.

Namun, belum sempat tapal kudanya menjejak keluar istal, perbincangan dua pengawal yang melintas menarik atensinya.

Penjaga benteng perbatasan yang menemukannya.”

Menurutmu, harus diserahkan kepada Raja atau tidak?

“Tunggu.” Menarik tali kekang, Icy mengarahkan kudanya untuk menghadang dua pengawal itu. Tak menghiraukan pelototan dari Reyn, Icy bergegas turun. “Boleh aku lihat benda itu?”

Kedua pengawal itu saling pandang. Melayangkan tatap curiga pada gadis di hadapan mereka dan hampir membentak kalau saja Reyn tidak cepat bersuara. “Namanya Icy, pengawal pribadi Pangeran Killian.”

Bergegas, kedua pengawal itu membungkuk. “Maaf. Kami kira Erden yang menjadi pengawal pribadi Pangeran.”

“Tidak apa. Maaf juga karena aku belum sempat memperkenalkan diri.”

“Ini….” Salah satu pengawal itu lantas mengulurkan sebuah belati perak pada Icy. “Temanku, penjaga benteng perbatasan yang menyerahkannya padaku untuk diserahkan pada Raja.”

Mengamati belati yang kini berada dalam genggamannya, Icy tertegun. Ukiran samar di permukaan belati itu yang mengejutkannya. Reyn yang melihat hal itu lantas mendekat setelah menyuruh kedua pengawal itu pergi dan mengatakan bahwa mereka yang akan memberi tahu Raja.

“Ada apa? Kautahu siapa pe—”

“Hurton.”

Hah?!” Tak percaya, Reyn mengambil alih belati itu. Menyipitkan mata dan benar saja. Di permukaan belati itu terukir satu nama tadi. Yang tentu dikenalnya, terlebih lagi bagi Icy. “Kenapa orang itu bisa sampai di Vesperia?”

Setelah kejadian yang melibatkannya dengan pemilik belati itu, Icy mendengar Fyre, Pangeran Orient, memberi perintah untuk menangkap Hurton. Memenjarakan lelaki itu dalam waktu yang lama. Namun, keberadaan belati ini tak mungkin ada tanpa pemiliknya.

Satu konklusi pahit yang harus ia terima. Bahwa Hurton, lawan yang ia hadapi di pertempuran terakhir turnamen pedang itu, telah kembali.

.

.

Kumohon, Reyn. Rahasiakan hal ini pada Killian.”

.

.

tbc.


Oke, aku tau ini telatnya udah keterlaluan dan aku minta maaf banget banget karena telat update /.\ Dua puluh tiga hari kemarin aku sedang refreshing bareng Ibu di pelosok XD yang pastinya susah sinyal *sigh* Tapi aku tetap ngetik fic ini di hape dan Alhamdulillah chapter 4 udah selesai. Aku janji untuk chapter 3 gak akan lama update-nya 😀

Oh iya aku mau minta maaf lagi (dan lagi) buat dua hal… (1) belum sempat bales komen dan (2) belum lanjutin BTS soulmate!AU series-nya /.\ benernya udah mau dilanjutin tapi… terhambat ke-mager-an dan mood ngetik yang entah ke mana itu 😥

Sekian curhatnya/? dan sampai berjumpa di chapter 3~ \(^0^)/

.

yeni

Advertisements

21 thoughts on “[Chapter 2] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. Waah.. Makin seru thor ffnya! Ckck sang musuh telah kembali, jgn sampai killian kenapa2. Jd penasaran apa yg sebenarnya terjadi sm Icy di pertarungan. N apa yang terjadi d msa lalu sampai killian harus dikurung di istana. Lanjut thor!

    Like

  2. Akhirnya sang musuh keluar dari sarangannya…..
    Jadi penasaran apa yg akan terjadi di chapter berikutnya dan knapa icy gk mau klu killian tau mengenai masalah itu ???

    Like

  3. Ngerasa pernah tau cerita ini, ternyata dari anime snow white in the red hair (Akagami No Shirayuki).
    ceritanya bagus thor. patut ditunggu kelanjutannya.

    Like

  4. Icy ada apa sih waktu ngelawan Hurton?
    Sampai-sampai Killian ngga boleh tau
    Kan jadi kepo:3

    Kayen (mau sksd nih wkwk), Soulmate!AU-nya ditunggu loh ya, suka banget:3
    +Fanfict ini juga jadi salah satu yang kutunggu><

    Like

    1. Hmmm ada apa ya….. ehehehe nanti pasti dijelasin ko. Mungkin agak2 di akhir chapter 😀

      Soulmate!au nya entah kenapa masih stuck aja nih 😥 tapi doakan saja semoga bisa cepet dilanjut 🙂
      Makasih ya aihara udah sempetin baca dan komen ^^

      Like

  5. Duh kayen, aku terpesona sana icy loh😃 ini penasara aku sm kisah lengkapnya icy, btw ada apa sm hurton, kyaaaa aku penasaran😅 ditunggu next chptnya, fightinggg kaa^^

    Like

  6. He he q belum BC chapter 1 NY, tp Dr BC chapter 2 q dB tau kl INI ff seru abis, JD di tunggu next chapternya BTW SLM kenal authornim ^^ angel imnida^^ naega reader baru di sini izin BC ff disini yh😘

    Like

  7. Kakkkkkk~ aku nungguin tiap malem loh ini update nya sungguh aku gak bohonh 😦 pas liat email masuk buru-buru aku baca. Dan yah walaupun yang aku hafal karakternya cuma Icy, Erden, Killian dan Ice/?/ tapi aku ngerti kok jalan ceritanya dr awal XD
    Dan ada apa dengan icy setahun lalu? Kenapa dengan 15 tahun lalu? Mereka semua kenal icy? Icy lupa ingatan? Ah kak cepetan update ceritanya seruuuuu XD semangat buat lanjutin chp selanjutnya kak~~
    Buat saran fic nya keknya sih gak ada soalnya aku suka tulisannya kakak yang ringan, mudah di pahami, tp tetep indah XD

    Like

  8. Janji beneran lho thor, jangan lama update, lanjutin sampai tamat FIGHTING!! /nari2 ala cheerleader

    Kayaknya alurnya agak slow ya thor? *gapapa sih biar feelnya dapet. asalkan update kilat hehe plis plis
    Aku penasaran, bgt thor.
    Di chapter ini aku baca masih seputar orientasi karakter2 di fic ini 😃😃

    Semangat FIGHTING!!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s