[What is Your Color?] Sunshine – Oneshot

sunshine-poster

Sunshine

Jeon Jungkook, Min Hari(OC) | Kim Seokjin, Jung Chan Woo, Bambam

Family, failed!Angst, life, Friendship, Romance

Oneshot | G

By. OK!

Story are mine! Don’t plagiat it or i kill you!

Happy reading

Lelaki itu selalu memberikannya kehangatan.

Layaknya matahari, lelaki itu memberikan harapan dan selalu disampingnya

 

Bagaikan matahari, remaja lelaki itu selalu ada di samping Hari. Memberikannya kekuatan, memberi cahaya di tengah kegelapan yang selalu Hari rasakan. Jika lelaki itu di sampingnya, Hari seakan bisa melupakan semua masalah hidupnya, baik dengan keluarganya yang over-protective, maupun masalah pertemanan yang selalu ia alami.

Jeon Jungkook, nama lelaki itu. Jungkook yang kini berstatus kekasihnya itu menerima Hari apa adanya, begitu juga dengan Hari. Gadis itu mencintai Jungkook apa adanya, meski dengan penyakit leukimia yang diidapnya, yang kini semakin memburuk.

Bersamanya, Hari merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya

***

“Jung”

Panggil Hari pada lelaki-yang berstatus kekasihnya sejak seminggu yang lalu- bersender pada ranjang rumah sakit, di nakas di sampingnya ada beberapa botol obat, di sekitar ranjangnya ada kursi roda.

“ada apa?” tanya lelaki yang bernama Jungkook itu.

“bagaimana caranya berteman?” tanya Hari, menatap Jungkook. Jungkook tersenyum. “perkembangan yang bagus, kamu kini menanyakan bagaimana cara berteman. Aku senang jika kamu begini terus, mulai mencari teman, tidak menyendiri lagi seperti dulu”

“oke… lalu bagaimana caranya tuan Kim?” tanya Hari, jengah dengan jawaban Jungkook yang bertele-tele.

Jungkook terkekeh melihat reaksi Hari. “maafkan aku”

“pertama, buka dirimu untuk menerima orang lain, maka otomatis mereka juga akan membuka hati untuk berteman denganmu. Kedua, sebisa mungkin nikmati waktumu dengan teman, itu… sungguh kenangan yang terindah selama di sekolah” jelas Jungkook seraya tersenyum kecil.

Melihat itu, Hari ikut tersenyum. “kamu merindukan teman-teman kita di sekolah ya?”

Jungkook mengangguk. “sudah seminggu aku dirawat, aku rindu melakukan kenakalan dengan Chanwoo dan Bambam. Aku ingin sekali kembali ke sekolah, menjahilimu, Gayoung dan si tomboy Sora”

Mata berbinar Jungkook perlahan meredup, lelaki itu menghela nafasnya berat mengingat penyakitnya. “tapi, kata dokter kankerku sudah masuk stadium akhir, hidupku hanya tersisa beberapa bulan, aku juga sudah kehilangan kemampuan berjalanku. Tak mungkin rasanya aku bisa kembali bersekolah lagi”

Hari bangkit dari sofa yang didudukinya dan mendekati Jungkook di ranjang. “jangan bersedih, kalau mau, aku bisa menyuruh mereka untuk datang kemari” ucapnya. “juga, jangan merasa terbebani dengan penyakitmu. Kau tahu? Aku, Jin oppa, dan teman-teman selalu ada untukmu. Kami akan selalu mendukungmu Jungkook-ah

Jungkook tersenyum mendengar ucapan Hari. “terima kasih” Jungkook  mengecup puncak kepala Hari singkat.

“pulanglah, keluargamu pasti mengkhawatirkanmu” kata Jungkook.

Hari mengangguk. Memakai jaketnya dan keluar dari ruang rawat tersebut. “aku pergi”

Sunshine

Pagi ini Hari merasakan sesuatu yang baik, entah apa yang akan terjadi, tapi itu membuat Hari bersemangat. Ia bertekad merubah dirinya mulai sekarang, menganti image ‘gadis es’nya dengan gadis yang ramah. Hari bersenandung kecil menyisir rambutnya yang dipotong pendek, tak lupa memakai bando yang ia beli kemarin.

“pagi eomma!” sapa Hari duduk di meja makan untuk sarapan.

Sang ibu tersenyum. “kapan kamu memotong rambutmu?” tanyanya.

“kemarin” jawab Hari seraya tersenyum. “tapi aku cantik ‘kan eomma?” tanya Hari.

Ibu mengangguk. “kamu sangat cantik sayang! Sekarang makanlah, kita berangkat sama-sama ya?”

ne

***

Hari yang baru saja sampai duduk di bangkunya, ia dihampiri oleh Gayoung, yang menyeret Sora. “pagi Hari”

Hari tersenyum. “pagi”

“wow! Akhirnya kamu membalas sapaan kami juga!” Sora yang terkejut berkata heboh. Gayoung pun langsung menutup mulut Sora yang menganga.

“ups, maaf ya Hari. Yeoja  ini memang terkadang memalukan” ucapnya, melepaskan tangannya yang sedari tadi menutup mulut Sora.“uh, bau” celetuk Gayoung tak sengaja mencium tangannya. “Sora pasti tidak mandi lagi”

YA! enak saja kamu berbicara!”

Hari terkekeh kecil melihat pertengkaran kedua sahabat itu. “ngomong-ngomong, kenapa kalian menghampiriku?”

Mendengar pertanyaan Hari, Gayoung menepuk jidatnya. “aku jadi lupa mengatakannya!” kata Gayoung. “kamu mau ikut kami pulang sekolah nanti? Kita lihat sama-sama baju musim panas yang diobral di Myeongdong”

“iya! Nanti sesudah belanja kita bisa makan di cafe baru dekat stasiun. Ayo ikut saja!” timpal Sora bersemangat. Hari terdiam, apa ia harus ikut? Ia takut, kalau hanya dimanfaatkan. Ia menatap kedua mata Gayoung dan Sora. Mereka sepertinya sangat menginginkan Hari ikut, mereka tulus mengajaknya. Hari tersenyum lalu mengangguk.

“aku akan ikut”

.

.

.

“Jeon Jungkook!” Hari mengalungkan lengannya memeluk leher Jungkook, Jungkook sendiri sedang ada di taman rumah sakit menikmati suasana sore. Meski sudah sore taman masih ramai, ada yang berbincang dengan keluarga yang menjenguk, ada juga sekelompok anak yang bermain sepakbola.

“apa yang terjadi? Kenapa terlihat senang?” tanya Jungkook menuntut Hari bercerita.

Hari tersenyum. “aku tadi pergi jalan-jalan dengan Gayoung dan Sora. Tadi menyenangkan sekali. Kami membeli beberapa baju, aksesoris dan berfoto stiker” jelasnya seraya terus tersenyum. “sekarang aku baru tahu jika berteman bisa sangat menyenangkan”

Jungkook mengacak rambut Hari lembut. “antar aku ke kamar. Kamu mau?”

Hari mengangguk, lalu mendorong pelan kursi roda Jungkook.

“kamu potong rambut?” tanya Jungkook.

“iya, baru kemarin”

“cantik. Kamu terlihat lebih segar” puji Jungkook, yang membuat pipi Hari merona.“terima kasih”

***

“Jungkook-ah!” panggil Jin yang masuk ke ruangan, tangan kanannya menenteng kantung plastik.“aku membawa taiyaki untukmu!”

jinjja?!” tanya Jungkook senang. “terima kasih hyung!”

Namun, Jin malah menaruh itu di nakas ranjang. “makanlah dulu, aku dengar dari suster kalau kamu belum makan seharian” ucapnya.

hyung~” Jungkook mulai merajuk. “aku tidak mau… aku bosan dengan makanan rumah sakit”. Jin menggeleng, mengambil nampan berisi makan malam Jungkook. “ini, makan ya? Tolong jangan buat hyung khawatir”

Dengan wajah yang cemberut Jungkook mengangguk, lalu memakannya. Jin tersenyum lantas mengacak rambut Jungkook. “Jungkook-ah, hyung tahu kamu lelah dengan keadaanmu, tapi jangan pernah menyerah ya? Lakukan pengobatan untuk hyung, Hari dan teman-temanmu. Kamu mengerti?”

Jungkook mengangguk. “aku janji hyung

Sunshine

“hoi! Min Hari!” Chanwoo dan Bambam mendekati Hari, Gayoung dan Sora di kantin sekolah.

wae?”

“kamu tahu kemana Jungkook? Sudah dua minggu ia absen” tutur Chanwoo. “apa ia sakit?”

“ia dirawat di rumah sakit”

Mereka berlima membulatkan matanya mendengar perkataan Hari. “ne?!”

“Jungkook sakit apa?” tanya Bambam. Hari menyuruh kedua namja itu duduk, lalu kemudian berbisik. “jangan bilang siapa-siapa ya?”

Mereka mengangguk.

“Jungkook…” Hari menjeda kalimatnya. “ia sakit kanker”

Mereka terdiam. “kamu… mengatakan hal yang benar ‘kan?” tanya Gayoung, berharap Hari akan menggeleng. Mengatakan kalau yang dikatakannya tadi sebuah kebohongan, berharap jika itu hanya lelucon belaka.

Sayangnya Hari mengangguk.

“maafkan aku teman-teman, Jungkook yang memintaku merahasiakannya. Ia tak suka dikasihani, karena itu ia tak pernah mengatakannya”

“ya sudah, pulang sekolah nanti kita jenguk Jungkook ya? Kalian mau?” usul Sora, dibalas oleh anggukan semua temannya.

.

.

.

Jungkook yang terbangun karena suara pintu terbuka, mengusak wajahnya di lengan bajunya. Ia terdiam, kenapa teman-temannya ada di sini? Dari mana mereka tahu kalau ia sedang di rawat?

“kenapa… kalian ada di sini?” tanya Jungkook.

Chanwoo menghampirinya, memegang kedua bahu Jungkook. “kenapa kamu tidak mengatakannya sejak dulu? Kenapa kamu berbohong?” tanyanya sendu, namun agak berteriak. “KAMU TAHUKAN KALAU AKU TIDAK SUKA KEBOHONGAN?!”

“maafkan aku”

“apa kata dokter?” tanya Gayoung, berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Bagaimana tidak? Tubuh berisi Jungkook kini terlihat lebih kurus, wajahnya juga terlihat pucat. Sangat berbeda dengan Jungkook yang ia kenal.

“katanya… keadaanku semakin memburuk, umurku hanya tersisa beberapa bulan. Dan kankernya sudah sampai stadium akhir”

Gayoung membalikkan tubuhnya memunggungi Jungkook, menangis pelan. Sora menepuk punggungnya menenangkannya.

Pintu terbuka lagi, menampilkan Jin yang membawa kantung plastik yang cukup besar. “kalian semua sudah datang?” tanyanya tersenyum. “ayolah, hapus air mata kalian. Aku membawakan kalian makanan nih”

Semuanya menatap Jin kebingungan. “kenapa? Aku tahu kalian akan datang karena Hari mengirimiku pesan tadi” ucap Jin yang menaruh plastik tadi di meja.

“ayo kita makan bersama!”

.

.

.

hyung, benarkah kalau umurnya hanya tersisa beberapa bulan?” tanya Bambam sendu, kini di ruangan itu hanya tersisa Jin, Chanwoo dan Bambam, tentu saja dengan Jungkook yang sedang tertidur pulas. Sementara para gadis pulang sore tadi.

Jin mengangguk.

“tapi kenapa harus Jungkook hyung?” tanya Bambam sendu.

Jin hanya tersenyum. “aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan kini hanya mendukungnya untuk melawan penyakitnya. Kalian mau?”

Bambam dan Chanwoo mengangguk.

“terima kasih sudah mau menjadi teman Jungkook” kata Jin. “aku yakin, ia sangat senang punya teman seperti kalian”

Sunshine

Akhir-akhir ini Jin merasa khawatir, keadaan Jungkook belum ada peningkatan, atau malah semakin menurun.

Ada yang berbeda darinya, kini setiap Jin menjenguk adiknya Jungkook seringkali tertidur. Suster juga memberitahunya, Jungkook tidak mau lagi memakan makanannya, ia juga lebih sering tidur.

Hari minggu, Jin memutuskan untuk menemani Jungkook seharian. Sejak pagi Jungkook tidak mau makan, padahal asupan makanan sangat ia butuhkan untuk sembuh.

“Jung, ayo buka mulutmu. Makan bubur ini” bujuk Jin.

Jungkook menggeleng, menutup mulutnya, seperti ada yang ingin ia keluarkan dari mulutnya.

Jin yang menyadarinya segera menggendong Jungkook ke kamar mandi, membuka tutup kloset, membiarkan Jungkook memuntahkan isi perutnya. Tentu saja yang keluar hanya sedikit, berhubung baru sesendok bubur yang ia makan.

Namun tak lama, Jin membulatkan matanya melihat yang Jungkook muntahkan kali ini. Darah? Separah itukah keadaannya?

Melihat Jungkook yang setengah sadar, Jin menggendongnya kembali ke ranjang. Menekan tombol untuk memanggil dokter.

***

Setelah memeriksa keadaan Jungkook, dokter menghampiri Jin. Membuat isyarat untuk mengikutinya.

“bagaimana dokter? Keadaannya baik-baik saja ‘kan?” tanya Jin khawatir.

“aku sebenarnya tak mau mengatakan ini” kata dokter itu menjeda kalimatnya. “tapi relakanlah Jungkook pergi”

“keadaannya memburuk sekarang, tak ada lagi harapan hidup untuknya” lanjut dokter itu membungkukan tubuhnya. “maafkan aku tak bisa menyembuhkannya lagi”

Jin mulai menangis, ia sungguh tak ingin kehilangan adiknya, keluarganya satu-satunya. Jungkook-lah yang membuatnya semangat menjalani hidup setelah kedua orang tua mereka meninggal.

Lelaki 22 tahun itu menghapus air matanya kasar, melangkahkan kakinya keluar rumah sakit. Memutuskan pulang sejenak untuk menenangkan diri.

.

.

.

Hari merasa gelisah sejak pagi tadi. Ia pun pamit dan memutuskan pergi ke taman.

Di taman gadis itu menutup matanya, menikmati suasana tenang dengan angin yang sejuk. Sampai pundaknya ditepuk oleh seseorang.

“Jin oppa?” Hari membalikkan tubuhnya. Jin tersenyum.

“sendirian?”

Hari mengangguk.

“dokter tadi mengatakan padaku…” kata Jin menggantungkan kalimatnya. “dokter bilang, aku harus merelakan Jungkook kali ini”

Hari membulatkan matanya. “memangnya apa yang terjadi? Kenapa bisa?!”

“keadaannya terus memburuk dan puncaknya adalah hari ini” jelas Jin. “tadi Jungkook juga kembali memuntahkan makanannya, tapi… bukan hanya makanan, ia juga memuntahkan darah”

“Jungkook… keluargaku satu-satunya, adik kesayanganku yang dititipkan oleh ayahku. Aku tak mau kehilangannya…” ucap Jin sendu. “tapi aku juga tak mau melihatnya kesakitan lagi, aku harus bagaimana?!”

Jin mengacak rambutnya frustasi.

“aku kira itu memang jalan terbaik. Membiarkannya menyerah pada penyakitnya” kata Hari, berusaha tersenyum di tengah kekhawatirannya. “membiarkannya melepas rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Bukankah kita harus memilih jalan yang baik untuk semuanya?”

Jin perlahan tersenyum. “mau makan es krim tidak?”

“ayo”

Kini mereka mencoba untuk tersenyum dan menjalani hari mereka seperti biasa. Meski ada takdir buruk yang menunggu mereka.

Sunshine

Jam dua siang, Jin menerima telepon dari dokter, Jungkook sudah bangun dari tidurnya dan menanyakan Jin. Mendengar itu Jin dan Hari segera ke rumah sakit.

Begitu sampai di depan pintu ruangan, Jin segera masuk.

“maaf nona, tunggu disini saja ya” kata suster mencegah Hari masuk. Hari hanya mengangguk dan duduk di kursi ruang tunggu, berdo’a untuk kekasihnya.

.

.

.

“Jung”

Jungkook tersenyum lemah.

Nafasnya tidak teratur, monitor  ECG menunjukan detak jantungnya yang naik turun.“apa aku boleh menyerah sekarang?” tanyanya. “aku… ingin tidur…”

Jin tersenyum, menghampiri adiknya dan mengelus rambutnya lembut. “kamu lelah?”

Jungkook mengangguk.

“kalau begitu tidurlah. Hyung sudah melepasmu sekarang” ucap Jin.

“aku… mau…hyung tidur disampingku. Aku kedinginan…” pinta Jungkook.

Jin pun naik ke ranjang dan berbaring di samping Jungkook, memeluknya erat. “hei, sebelum kamu tidur, hyung ingin mengatakan sesuatu. Mau mendengarnya?”

Jungkook mengangguk.

“terima kasih karena sudah mau berjuang untuk hyung, kamu sudah bekerja keras. Dua tahun bertahan, itu sangat hebat. Hyung bangga padamu” ucap Jin.

“Selain itu… terima kasih sudah lahir di dunia ini, dan mau menjadi adikku, menjadi kakakmu… sungguh anugerah terbesar untuk hyung” Jin terus berbicara sembari mengelus rambut adiknya lembut.

“sekarang tidurlah, tidur yang nyenyak. Lupakan rasa lelahmu, lepaskan sakitmu…”

Jin bisa merasakan nafas yang tidak teratur itu perlahan melambat, bunyi alat ECG semakin jarang terdengar, yang diakhiri dengan bunyi panjang. Tubuh lemah yang dipeluknya pun mulai mendingin.

“Jung… kamu belum tidur?” tanya Jin sendu. “jawab hyung Kim Jungkook!”

Namun Jungkook masih diam, matanya tertutup sempurna.

“Jung…” Jin terisak, memeluk tubuh adiknya erat. Jin menatap wajah adiknya, ia mengecup dahi Jungkook cukup lama.

hyung menyayangimu…” ucap Jin disela tangisannya.

Dokter yang sedari tadi melihat interaksi kakak adik itu, beralih melihat arloji yang dipakainya.

“tanggal 4 Juni 2015, pukul 15.30. Pasien Kim Jungkook, umur 17 tahun, meninggal dunia” ucapnya.

 

Hari menangis, kinimataharinya sudah tiada. Melepas semua beban hidup, menutup mata selamanya,  meninggalkannya sendirian. Bagaimana ia bisa hidup sekarang?

Jin menghampirinya, duduk di samping Hari yang masih menangis.

“ke-kenapa harus sekarang? Masih banyak yang belum kami lakukan…” isak Hari. Ia berhenti menangis ketika Jin menepuk pundaknya. “jangan menangis, Jungkook tak pernah mau diakhir hidupnya ia membuat banyak orang menangis”

Jin memberikan kertas yang terlipat. “ini surat yang ditulis Jungkook malam kemarin. Ia berpesan, jika ia sudah tiada, aku harus memberikan surat ini padamu. Bacalah”

Hari membukanya, dan mulai membaca.

 

Hei Min Hari! Apa kabarmu?

Kalau kamu sedang sedih karena kepergianku segera hapus air matamu, aku tak mau melihatmu menangis, apalagi itu karena aku…

Oh ya, kamu pernah menanyakan padaku. Kenapa aku memilihmu sebagai cinta pertamaku, padahal banyak wanita yang lebih cantik dan baik darimu. Kamu juga merasa tak pantas kucintai.

Mau tahu alasannya?

Tidak ada kata tidak pantas di hidupku, terlebih itu soal kamu. Memang banyak wanita yang lebih cantik darimu tapi begitu aku mencoba berpaling aku tetap tak bisa lepas darimu. Kamulah yang terbaik, kamu anugerah terbesar dalam hidupku.

Kurang baik apa? Kamu menerimaku apa adanya dengan penyakitku, bahkan ketika kamu tahu umurku hanya beberapa bulan saja. Kamu dengan tulus menyemangatiku untuk melawan penyakit ini.

Berjanjilah padaku, kamu harus bersosialisasi di sekolah, jangan menjadi seorang penyendiri oke? Aku yakin, orang lain pasti mau menerimamumenjadi temanmu, asalkan kamu juga membuka dirimu sendiri.

Satu lagi, aku mau kamu terus tersenyum meski aku sudah tidak ada di sampingmu, karena… aku akan selalu ada dihatimu, menemani dan menjagamu dari atas sini. Yakini itu dalam hatimu

Aku janji, meski kini aku sudah tiada aku masih akan tetap mencintaimu.

Kim Jungkook

 

END

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Sunshine – Oneshot

  1. Hoaaaaaa ff apa ini thor tanggung jawab bikin aku nangis nih.. sedih bangeet paling sedih itu pas detik detik terakhir.. T.T

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s