[BTS FF Freelance] 7 Days – Vignette

PicsArt_12-28-03.11.19_20151228152025570

7 Days

A story written by salsberrymous

Starring by BTS’s V and You Genres Romance, Fluff, slightly Angst Duration Vignette Rating Teen

Disclaimer I just own the story and poster.

Enjoy reading.

*

Sudah hari ketujuh,

dan dia masih bertingkah aneh.

*

 

Seoul, 1 Desember 2015

Manik mataku masih sibuk memandang lekat pada buku matematika yang sudah tergeletak dengan rapih, atau mungkin acak adut di atas meja bundar berkayu ini. Tidak, aku tidak bisa fokus, pasalnya—

 

“Sampai kapan mau terus belajar? Tidak pusing?”

 

—suara tenor itu kerap menganggu perhatianku.

 

Akhirnya, aku memilih untuk melirik lelaki itu dengan kedua ujung mataku. Terlihat jelas ia sedang mengembangkan senyumnya, memperlihatkan sederetan gigi rapihnya.

 

Aku menghela napasku sesaat, sebelum bertanya dengan mimik yang tak bersahabat, “Sampai kapan kau mau terus mengusikku? Tidak haus?”

 

Seketika sang pemuda mengangkat cangkir putih yang berisi moka dengan asap mengepul itu.

 

“Tidak akan, aku sudah banyak minum,” begitu ujarnya. Masih dengan wajah konyol juga cengiran di bibirnya.

 

“Taehyung-a, kau kenapa, sih?”

 

“Apanya?”

 

“Kau aneh hari ini. Kau sakit?”

 

“Tidak, aku tidak sakit.”

 

“Lalu?”

 

“Hmm, entahlah.”

 

Kedua bola mataku memutar sebal tatkala mendengar jawaban tak pasti darinya. Masa bodoh dengan lelaki yang bermarga Kim itu.

 

Sejujurnya, dia memang bersikap aneh hari ini. Dia bersikap—kau tahu, lebih manis dari biasanya. Entahlah, mungkin Taehyung baru saja menonton roman picisan di televisi kemarin malam.

 

“Hei, kau mencoba mengabaikanku lagi?” tanyanya seakan menegurku ketika aku baru saja mengerjakan soal matematika yang rumit ini.

 

“Diam dulu, Taehyung-a.”

 

Telingaku dapat mendengar helaan napasnya, yang kemudian tercium oleh hidungku. Wangi kopi mengeruak dari napasnya, dan jelaslah hal itu mengusik aktifitasku.

 

“Ayolah, lihat keningmu sudah berkerut karena soal matematika itu. Lebih baik selesaikan di rumah saja. Tidak kasihan melihat sahabatmu melata disini hanya demi menunggumu?” kemudian ia dengan lancang meraih bukuku dan menutupnya rapat.

 

Hal itu sontak membuat manik mataku kembali menatap lekat ke dalam iris hitamnya. Menggelikannya, lelaki itu masih saja memasang senyuman lebarnya, seakan tak bersalah.

 

“Kau ini kenapa, sih? Tidak biasanya ‘kan kau merengek seperti ini. Biasanya, kalau kau memang sudah lelah kau—”

 

“Hei, apa kau menyukaiku?”

 

Apa…katanya?

 

“A-Apa?”

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

Aku tak bergeming, bibirku mengatup rapat, diam tanpa kata maupun tanggapan yang berarti. Selain hanya kedua mataku yang mengerjap berulang kali.

 

Sesaat kemudian aku mendengar gelak tawa suara yang menurutku amat berat itu. Oh, sial, mengapa dia malah terbahak?

 

“Sudahlah, ayo kita pulang.”

 

Tangannya yang hangat sudah menarikku keluar kafe beraroma kopi dan roti ini. Kedua netraku melirik lelaki yang kini sudah di sampingku dengan kedua alis yang bertaut. Kedua ujung bibirnya masih berjungkit ria, memformasikan suatu senyuman lebar seakan tak bisa pudar. Sudah kubaca segala arti terselubung itu, namun tak jua kutemukan titik pencerahan.

 

Heran, mengapa ia menanyakan apakah aku menyukainya?

 

*

 

Seoul, 2 Desember 2015

 

Aku memangku kaki kananku pada kakiku yang satunya lagi. Mantel krem masih mengerat di tubuhku. Tanganku sibuk memutar bolpoin, iseng, katanya hal itu dapat membantu dalam hal konsentrasi yang sebenarnya kuragui kebenarannya pula. Sinkron dengan kedua mataku terpaku pada benda tebal berisikan sederetan tulisan ini.

 

Sekarang sudah musim dingin hari kedua, dan aku harus belajar untuk ujian. Yang benar saja, rasanya ingin sekali bermain salju dibawah terpaan dan rintikkan salju-salju kecil yang halus, layaknya saat aku masih berumur enam tahun.

 

“Astaga!” jeritku kaget. Bagaimana tidak, secara tiba-tiba terdapat permen loli di hadapanku yang secara mulus membuyarkan lamunanku begitu saja. Refleks lah aku menengok ke belakang, berusaha melihat siapa yang melakukan hal ini. Dan ternyata,

 

“Kim Taehyung?”

 

Pemuda tersebut malah sibuk terkekeh pelan, sebelum kemudian memilih untuk duduk di sampingku. Kau tahu, beruntungnya adalah bangku taman ini panjang, jadi aku tidak perlu berdempetan dengan Taehyung.

 

“Belajar lagi?” tanyanya memecah keheningan.

 

“Tentu. Kau tidak belajar?”

 

“Aku? Sudah, baru saja.”

 

“Lalu, kau mau apa kesini?”

 

“Menemanimu belajar.”

 

Aku mencebik pelan, “Menemani atau menganggu?”

 

“Hmm, keduanya?”

 

Kilat mata bahagia terlihat kala aku memandang kedua manik mata hitamnya. Jangan lupakan penampilannya yang memakai mantel bertudung. Bukan itu maksudku, tetapi hal konyolnya adalah ia mengeratkan tudungnya hingga hanya wajahnya saja yang terlihat.

 

Tak hendak kugubris, malah menyibukkan diri dengan mengemut permen loli yang baru saja diberikannya lalu melanjutkan belajar.

 

“Bagaimana?” pertanyaan tiba-tibanya itu lantas membuatku menengok ke arahnya.

 

“Apanya?”

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

Oh, tidak, pertanyaan itu lagi.

 

Rasanya hatiku sudah mengumpat berulang kali. Napasku tercekat kali ini, berdampingan dengan jantung yang berdebar tak dapat terkontrol lagi. Aku meneguk ludahku sesaat merasakan tenggorokkanku kering. Bila aku boleh menebak, pasti kedua pipiku sudah memanas.

 

“M-mengapa bertanya hal seperti itu, sih?”

 

Taehyung menggertakkan giginya, seraya mencubit kedua pipiku gemas, “Jawab saja, memangnya itu sesulit soal Bahasa Jepang?”

 

Dia bodoh atau apa? Jika aku sanggup, aku akan meneriakki tepat di telinganya. Itu sangat sulit hingga lidahku kelu tak bisa menjawab.

 

“Aku—”

 

Teeet.

 

Gemaan bunyi bel menyela rangkaian kata yang hendak kuciptakan. Membuat Taehyung mendengus pelan. Detik selanjutnya, ia memamerkan senyuman lebarnya. Perubahan suasana hati yang sungguh cepat.

 

“Semoga sukses, cantik.”

 

Aku sadar, dia masih bertingkah aneh.

 

*

 

Seoul, 3 Desember 2015

 

Telunjukku masih mengabsen serentetan buku di perpustakaan ini. Pun kedua netra ini masih menyisir segala jenis buku yang tertampak, namun tak juga aku temukan buku dengan judul ‘Pintar Kimia Dalam Sehari‘.

 

Kuakui, judulnya hanya omong kosong.

 

“Hei,” suara tenor tak asing itu tiba-tiba berbisik di telingaku. Refleks kuarahkan pandanganku pada sumber suara.

 

Taehyung sedang menopang dagunya pada pundakku, dengan senyuman khasnya yang manis. Kedua matanya meneliti rak buku dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas.

 

“Kau mencari buku apa?” suaranya kembali berbisik. Kali ini aku dapat merasakan napasnya memburu terhembus di pipiku.

 

Tunggu, respon macam apa ini? Aku bahkan tidak bisa mencegah kerja sarafku untuk mempercepat kerja jantungku. Pikirkan saja, jika ada seorang lelaki berbisik tepat di telingamu, ini—cukup—ini memalukan!

 

“Taehyung-a, jangan begini.”

 

“Apanya?”

 

“J-Jangan sedekat ini.”

 

Sekon selanjutnya digunakan Taehyung semaksimal mungkin. Dipamerkannya senyuman usil yang sejujurnya tak bersahabat bagiku, “Jadi, kau mau lebih dekat?”

 

Oh, kurasakan kedua pipiku memanas dan itu berarti mereka pasti sudah memerah seperti tomat rebus yang siap disantap.

 

“Kau semakin cantik dengan pipi merah itu.”

 

Ayolah, aku butuh buku Kimia bukan perilaku manisnya seperti ini.

 

“T-Taehyung, aku harus mencari buku.”

 

“Hmm,” pemuda itu bergumam sejenak. Kedua matanya menyipit, tipikal sedang mencari benda, “Ini, ‘kan?”

 

Aku menganga lebar dibuatnya. Pasalnya, aku sudah mencari selama setengah jam sementara ia dapat menemukannya hanya dalam hitungan menit.

 

“Benar, terima kasih!” seruku girang. Segera kuraih tanganku untuk mengambil buku itu. Tetapi, lelaki-baik-tetapi-jahil itu malah menjauhkannya dariku.

 

“Tidak akan kuberi sebelum kau menjawab,” seringaian miliknya—yang sebetulnya konyol menurutku, sudah tercetak di bibir yang tak pernah dipoles oleh apapun namun merahnya hampir setara merekah dengan bibir para gadis.

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

Aku terhenyak. Selalu saja begini setiap ia bertanya hal yang sama. Tenggorokkanku bahkan seketika menjadi kaku.

 

“Taehyung—”

 

“Jawab saja. Aku siap mendengar jawabanmu.”

 

Otakku menimbang-nimbang. Mengertilah, aku tidak bisa menjawabnya. Apa jawaban yang sekiranya pantas untuknya, bagaimana cara menjawabnya, dan lebih lagi, apa jawaban yang setulusnya hendak terlontar dari bibir lubukku?

 

Taehyung tersenyum sesaat, setelah ia menghembuskan napasnya tertahan.

 

“Tidak apa, tidak perlu dijawab. Lebih baik kita pulang,” lelaki itu menggamit tanganku, kemudian menjalin jari-jemariku dengannya. Lantas menuntunku keluar dari perpustakaan.

 

Apa aku menyukainya?

 

*

 

Seoul, 4 Desember 2015

 

Pagi ini aku sudah terduduk di bawah pohon maple yang rindang ini. Sekalipun rindang, dingin salju yang masih terjatuh sesekali mengenai kakiku. Hal itu lantas membuatku semakin mengeratkan mantel hitam yang mendekapku erat.

 

Baru saja hari keempat bersalju, tetapi suhu sudah mencapai minus satu derajat Celcius, itu pun menurut prakiraan cuaca. Yang berarti aku harus siap siaga dengan probabilitas akan terkena serangan dingin dari salju deras ini.

 

Aku seketika kelabakan tatkala seseorang menarik buku yang kugenggam. Kutolehkan kepalaku sebagai respon refleks, menatap sang pelaku.

 

Kim Taehyung, lagi.

 

Lelaki itu menyunggingkan senyuman lebarnya, lagi.

 

“Tidak dingin disini?”

 

“Dingin, tapi nyaman.”

 

“Kau bisa mati kedinginan kalau begitu,” cecarnya, jika kudengar lamat-lamat, tersirat seberkas rasa khawatir di balik ucapannya. Kemudian tangannya menarikku, memaksaku untuk bangkit.

 

“Apa yang kau lakukan?” aku bertanya saat melihat lelaki itu malah duduk di tempat yang sebelumnya kududuki.

 

“Duduklah disini.”

 

Tangannya yang kekar menarikku ke dalam pangkuannya. Jelas lah hal itu membuatku terkejut atas tingkahnya.

 

Hangat. Hanya itu yang bisa kurasakan saat ini. Bagaikan magis, energinya terpancar dan membuatku merasa nyaman. Terlebih dengan darahku yang berdesir kencang, membuatku semakin memanas.

 

“Bukankah lebih nyaman? Aku tidak rela kalau gadis cantik sepertimu mati kedinginan.”

 

Ujarannya terdengar sangat enteng. Apalagi, ditemani dengan senyuman yang masih mengembang. Aku hanya bisa diam tak bergeming, otakku kebingungan untuk hanya sekedar merespon, segala benak bertumpah ruah menjadi tak tentu bagai abstrak atau mungkin lebih seperti pita kaset hitam yang kusut.

 

Pada detik selanjutnya, fokusku sudah teralihkan pada buku tebal berisikan segala rumus kimia ini.

 

Tidak, sudah lima kali aku mengulang membaca rumus mengesalkan itu, tetapi jantungku yang berdegup kian kencang kerap membuat perhatianku teralih.

 

“Hei, apa kau menyukaiku?”

 

Pertanyaan itu lagi. Tenggorokkanku selalu kaku setiap dia bertanya demikian. Entahlah, sepertinya tubuhku sudah diatur untuk tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

 

Satu detik,

 

Dua detik,

 

Tiga detik,

 

Aku masih terdiam.

 

“Jadi, bagaimana?” Taehyung menegurku. Lantas aku kembali memaku perhatianku padanya.

 

“A-Aku—”

 

Hatchi!”

 

Sial, aku malah bersin. Pasalnya, suhu di sini sungguh dingin, sehingga membuat hidungku terasa gatal.

 

“Kenapa? Kau sakit?” lelaki itu bertanya. Raut panik tergambar jelas di wajahnya. Segera kuulaskan sebuah senyuman tipis, hanya alih-alih hanya agar kepanikannya berkurang.

 

“Tidak. Hidungku hanya sedikit gatal.”

 

“Kedinginan, ya? Kita ke kelas saja kalau begitu,” tawarnya seraya menuntunku untuk bangkit. Dan aku hanya dapat mengiyakan, menyetujui segala perbuatannya padaku.

 

Ragaku sudah berjalan bersamanya, tetapi jiwaku sudah terpaut entah kemana, bersama pikiranku yang masih tertuju pada perkataan Taehyung.

 

Pertanyaan yang sama selama empat hari ini.

 

*

 

Seoul, 5 Desember 2015

 

Cahaya fajar membias dari balik tirai cokelat kamarku. Hal itu memaksaku untuk tersadar dari tidur lelapku. Tanganku tergerak untuk mengucek kedua mataku yang malah kian terasa berat.

 

Terdengar ketukan pintu bergema di kedua telingaku. Aneh, biasanya ibuku tidak pernah mengetuk pintu jika ingin masuk.

 

“Ibu? Masuk saja.”

 

Pintu kayu itu terbuka. Kedua pupilku melebar seketika saat mendapati bukan ibuku yang masuk. Tetapi, sosok lelaki dengan surai hitam kecokelatan.

 

“Taehyung? Kenapa kau kemari? Tidak ke sekolah?”

 

Lelaki itu mendengus, sembari mendudukkan dirinya di pinggir kasurku.

 

“Pikirmu, kalau kau sakit aku bisa belajar dengan tenang?”

 

Baiklah, suara beratnya terdengar galak kali ini. Sontak aku langsung berpikiran bahwa ia sedang kesal. Dan aku hanya bisa menunduk dalam.

 

“Maaf,” gumamku penuh rasa sesal.

 

Jemarinya menarik daguku, membuatku terpaksa menatap pada kedua manik hitamnya itu.

 

“Maaf aku sudah membentakmu. Sekarang, kau makan dulu, mengerti? Aku sudah membawakanmu bubur.”

 

Bagaikan terhipnotis oleh senyumannya, aku mengangguk pelan. Mataku masih memerhatikan gerak-geriknya yang sedang membuka bungkusan yang dibawanya. Sesaat kemudian, ia menyodorkan sendok yang sudah terisi penuh oleh bubur.

 

Secara otomatis, aku menerima suapannya. Lidahku memang terasa pahit. Tetapi entahlah, melihat ketelatenannya dalam hal menyuapi itu membuatku makan semakin lahap.

 

“Sekarang kau istirahat,” titahnya halus. Lagi dan lagi, aku hanya dapat menurut.

 

Lekas aku kembali berbaring di kasurku. Kudapati Taehyung pun sudah ikut terbaring di sampingku, sebelum kedua mataku terpejam rapat. Kurasakan jemari hangat lelaki itu membelai helai demi helai rambutku dengan teratur, membuatku semakin nyaman dibuatnya.

 

“Apa kau menyukaiku?” aku masih dapat mendengar suaranya bertanya dalam bisik, sebelum aku terlelap dalam mimpiku.

 

Tanyakan pada mimpiku, dan senantiasa ia tak sanggup menjawab.

 

*

 

Seoul, 6 Desember 2015

 

Aku mendaratkan kakiku pada lantai berkayu di ruangan yang didominasi oleh warna merah muda. Ya, setelah kemarin aku hanya dapat beristirahat di kamarku ini, aku merasa sedikit suntuk. Rasanya berat badanku bertambah karena aku hanya bisa makan dan tidur, atau mungkin berkurang karena sakit dadakan efek musim salju.

 

Kakiku melangkah menuju kamar mandiku. Walaupun sebenarnya tak berniat mandi, hanya ingin menyikat gigiku.

 

“Selamat pagi!” sahutan seseorang seketika membuatku bergedik bahu kaget. Nyaris aku menelan pasta gigi rasa mint ini jika saja aku tak segera berkumur.

 

Terlihat jelas dari pantulan cermin ini. Seorang lelaki yang kukenal wajahnya sedang memberiku cengiran kuda.

 

“Hei, Kim Taehyung! Bisa ‘kan tidak usah mengagetkanku?” sungutku galak.

 

“Maaf, aku hanya ingin memberi kejutan.”

 

Aku mendelik tajam, “Kejutan apanya? Kau sekarang terlihat seperti penguntit, apalagi masuk ke dalam kamar mandiku!”

 

“Memangnya kenapa? Kau tidak sedang mandi juga, ‘kan?” lelaki itu berujar santai. Membuatku gemas karena ulahnya.

 

“Tetapi kalau aku sedang mandi, bagaimana?”

 

“Nyatanya tidak.”

 

“Terserah. Lalu kau mau apa kemari?”

 

“Menemanimu. Bukannya ayah dan ibumu sedang ke Busan?”

 

Aku terdiam sejenak. Oh, benar saja, ayah dan ibuku pergi ke Busan untuk beberapa hari. Bagaimana dia bisa hapal, sementara aku yang anaknya saja lupa?

 

“Nonton, yuk? Aku akan mempersiapkannya, kalau kau sudah selesai langsung ke bawah saja.”

 

Belum sempat aku bertanggap, Taehyung sudah berlalu ke lantai bawah. Pemuda itu menyebalkan, sebagai informasi jika kau tidak tahu.

 

Segera kusimpan sikat gigiku pada tempatnya. Kedua kakiku dilangkahkan menuruni anak tangga ini. Netraku sudah mendapati Taehyung sedang memasukkan kepingan plastik bundar ke dalam player-nya.

 

Aku memposisikan diriku duduk di atas sofa hitam ini, sembari memerhatikan tingkah Taehyung yang masih kesibukan. Beberapa jenak kemudian, lelaki itu mendekatiku lalu duduk di sebelahku.

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

“Aku—”

 

“Kau menyukaiku, tidak?”

 

“Maaf, tetapi aku tidak tahu.”

 

Sial, konversasi dalam film itu membuatku tertohok, serasa tersindir. Lekas kutelan ludahku kasar, merasa tenggorokkanku kering bak tak minum dua hari.

 

Ujung mataku melirik ke arah Taehyung yang masih fokus menonton. Beruntungnya aku, rupanya dia tidak menyadari tentang percakapan di film itu. Tidak sebelum—

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

—ia memberhentikan film ini, dan bertanya kepadaku.

 

Kepalaku tertoleh padanya, manik matanya sudah menatapku lekat seakan ingin menerobos dan menyelami pikiranku. Dan mati-matian aku menahan rasa gugupku.

 

Oh, jantungku sepertinya tidak berpihak padaku, dia malah sibuk memompa darah dengan kencang tanpa pikir panjang atau sekedar dua kali.

 

“Aku…”

 

Taehyung masih menusuk retinaku, aku dapat melihat jelas gambaran tentang segala ekspektasinya yang penuh. Dan aku hanya dapat menggigit bibir bawahku, sebagai pengalihan rasa gugup ini.

 

“Aku… tidak tahu.”

 

Sekon selanjutnya, tatapan Taehyung sudah teralih dariku. Kini ia memilih untuk menatap pada televisi sebesar empat puluh dua inci itu.

 

“Baiklah. Terima kasih sudah menjawab,” sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sejujurnya tidak dapat kuterjemahkan. Kemudian, film ini kembali diputar olehnya.

 

Benarkah, aku tidak tahu?

 

*

 

Seoul, 7 Desember 2015

 

Bunyi bel rumahku yang menggema itu sontak membuatku tersadar dari lamunanku. Bibi sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, akhirnya aku yang harus membuka pintu rumahku.

 

“Hei, tumben sekali kau yang membuka,” suara yang sangat kukenal tertangkap di indera pendengaranku.

 

“Oh, Taehyung? Ada apa?”

 

Lelaki itu tersenyum simpul. Tangannya menarik pergelangan tanganku tanpa basa-basi, tingkahnya itu membuat alisku bertaut.

 

“Kita mau kemana?”

 

“Taman kota, ikut saja.”

 

Aku pun hanya mengangguk patuh. Syukurlah, taman kota tidaklah jauh dari rumahku. Tetapi, untuk apa dia membawaku kesana?

 

“Indah sekali pemandangan taman di musim salju.”

 

Pandanganku teredar mengelilingi taman ini, sebelum mengangguk setuju pada tuturan Taehyung.

 

Sesaat kemudian, ia sudah mendudukan dirinya di atas bangku taman yang sedikit bersalju itu. Refleks, aku mengikutinya untuk duduk di sebelahnya.

 

“Omong-omong, mengapa kau mengajakku kesini?” tanyaku yang tak dapat menutupi rasa penasaran. Terliha ia kembali memamerkan seulas senyum.

 

“Bukankah kesukaanmu adalah bermain salju disini saat masih kecil? Mumpung kita ada waktu, aku ingin mengajakmu bermain salju.”

 

Jawaban Taehyung seketika membuat kedua manik mataku berbinar. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dan berlari di sekitar taman dengan riang.

 

“Ini menyenangkan!” pekikku merasakan euforia akibat bermain salju.

 

Kakiku masih berlari girang tanpa henti. Kepalaku kudongakkan ke atas, memandang butir-butir salju yang turun ke tanah. Aku memutar-mutarkan badanku, sembari mengulas sebuah senyuman lebar.

 

Tin!

 

Tunggu, bunyi sesuatu yang nyaring membuatku terusik.

 

Seperti bunyi klakson.

 

Lantas aku berhenti dari aktifitasku dan memandang ke arah sumber suara. Sebuah mobil sedan tengah melaju dengan kencang, dan—

 

“Awas!”

 

BRUK!

 

“T-Taehyung?”

 

—mobil itu dengan sukses menabrak Taehyung.

 

Tubuhku yang tadi terpental ke atas tumpukan salju kini sudah bangkit. Aku segera berlari menuju Taehyung yang terkapar lemah di atas salju dingin. Darah segar mengalir dari pelipisnya. Kedua matanya tak lagi menatapku, melainkan terpejam rapat seolah direkatkan

 

“Taehyung, bangun!” aku berseru kepanikan. Tanganku sudah tergerak untuk mengguncang tubuhnya yang tergeletak.

 

Air mata merebak keluar dari peraduannya, secara lancang melewati pipiku dan membentuk sungai kecil tak berlabuh. Abstraksi segala kejadian yang kukira semula adalah delusi, namun baru tersadar jikalau harus kubuang persepsi itu. Apalah daya, aku tak bisa semudah itu menerima kejadian ini. Kejadian yang terasa seperti mimpi buruk yang terjadi sangat cepat.

 

Seketika aku dapat melihat pemuda itu membuka kedua matanya, menatapku dengan sorot tatapan sayunya. Senyuman tipis menghiasi bibirnya.

 

“Aku ingin bertanya—” Taehyung mergap-mergap, suaranya serak bagai tercekat.

 

“—apa kau menyukaiku?”

 

Sedetik berikutnya, aku menyadari bahwa senyumannya, tatapannya, bisikannya, semua guratan indah yang tak lekas kunikmati sudah sirna. Matanya kembali terpejam, dia tertidur dalam mimpi abadinya.

 

Ya, aku menyukaimu,

 

Aku sangat menyukaimu.

 

Tujuh hari yang terlihat sia-sia ternyata tidak sungguh sia-sia, ‘kan,

 

Kim Taehyung?

 

FIN.

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] 7 Days – Vignette

  1. lighty

    SUMPAH INI NYESEK!!! (boss caps lock jebol :D)
    Gak rela taetae pergi gitu aja kan belum jawab “Iya aku suka sama kamu. Enggak deh aku cinta sama kamu.”
    author besok besok buat yg happy ending aja ya…

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s