[What is Your Color?] Brothers – Oneshot

brothers

Brothers | by fikeey | Cast: Jeon Jungkook, Park Jimin, Kim Taehyung | Genre: Family | Length: Oneshot (1,1 k) | Rating: PG-13 | Disclaimer: I do not own any of BTS member, but the plot is mine.

.

Toh selama matanya masih bisa memandang warna penuh kenangan ini, tulang rusuk patah bagi Jungkook bukanlah masalah.

Ada alasan tersendiri bagi Jeon Jungkook yang selalu mengambil tempat duduk tepat di samping jendela. Ah, lolos dari perhatian guru tentu sebuah keuntungan besar, namun bukan itulah sebab utama dirinya rela datang pagi-pagi sekali demi meletakkan bokongnya di barisan kelas paling kiri.

Pagi ini seperti biasa, Jungkook adalah jiwa pertama yang menunjukkan presensi, menggeser pintu kelasnya dengan malas, dan berjalan agak limbung menuju deret ketiga dari depan. Ia berjengit ketika area tulang keringnya menyenggol salah satu kaki mejahasil perseteruan semalamlantas melempar pandangan ke luar jendela. Matahari mulai meninggi, dan titik-titik kecil di luar sana yang berpakaian identik dengan miliknya tengah mengais langkah lunglai melewati gerbang sekolah.

Langit kala itu biru cerah dibayangi sedikit awancukup mampu melukis senyuman lebar di bibir lelaki itu.

Dagunya ia topangkan di tangan kiri sementara dwimaniknya merekam lamat-lamat pemandangan ini. Langit biru, lapangan dengan ring basket warna biru, pesuruh sekolah dengan seragam biru, dan biru-biru lainnya. Entah. Warna satu itu selalu mengingatkannya pada rumah, kedua kakak lelakinya, serta mendiang ibunya.

Jungkook tak berbohong jika ia mengatakan pergi ke sekolah adalah salah satu caranya melupakan banyak hal yang silih berganti menyerangnya di rumah. Well, di antara hal-hal yang mampu menahan niatnya kabur dari sana, ada pula selundupan negatif lain yang kadang nyaris membuatnya gila.

Umpatan, teriakan, suara kaca yang dibanting atau meja kayu yang beradu dengan dinding adalah makanan sehari-harinya, bisa dibilang. Ibunya yang baik tidak lagi hadir di tengah keluarga kecil nan menyedihkan itu, pun tingkah laku ayahnya yang menjadi sumber kejatuhan mereka sama sekali tak membantu. Kakak tertuanya sudah duduk di bangku kuliah, suatu hal yang dengan berat hati dilepaskan oleh si kakak tengah. Bila memendam perasaan bisa membunuh, Jungkook mungkin sudah mati perlahan sekarang, menunggu tubuhnya terurai lalu membusuk.

Total lima detik yang ia butuhkan untuk mengatasi disorientasi perasaannya, karena ruang kelas yang mulanya senyap kini penuh dengan celotehan nyaring. Siswa terakhir yang datang baru saja menutup pintu, lalu berlari kecil mengambil tempat duduk.

Jungkook menarik lengan jas sekolahnya, mengintip arloji digitalnya yang bersebelahan dengan luka baret panjang hampir mengering. Lelaki itu menghela napas lantas tersenyum timpang kala ingatannya bergulir pada kejadian tiga hari yang lalu.

Ayahnya mengamuk lagi dan memilih meja kopi di ruang tamu sebagai penyalur emosi. Jungkook sendiri tak salah apa-apa, hanya sedang berbaik hati membersihkan serpihan hasil huru-hara. Namun kerahnya justru ditarik dan ia yang berakhir diteriaki. Sesuatu seperti: “Anak sialan.” atau “Bajingan kecil.”sudah biasa ia dengarlalu detik berikutnya luka baret sudah di mana-mana. Sisa dua yang lainnya di pipi dan dahinya, kalau tidak salah, saat tadi pagi ia berkaca sembari menyikat gigi.

Ah, sudahlah.

Hitung-hitung latihan ketahanan jika huru-hara selanjutnya terjadi. Dua kakak laki-lakinya sudah terlalu sering menyerahkan hidung dan tubuh mereka sebagai pelindung untuk sang adik kecil. Tidak ada salahnya apabila kali ini ia membalas budi. Toh selama kedua matanya masih bisa memandang warna penuh kenangan ini, hidung berdarah atau tulang rusuk patah bagi Jungkook bukanlah masalah.

Bulan sudah menggantung ketika Jungkook meniti langkahnya menjauhi halte bus. Senandung pelan mengiringinya sembari menjinjing seplastik besar kudapan kecil yang masih mengepul, serta pekerjaan rumah tambahan dari guru-gurunya. Untunglah kedai penjual camilan tepung beras berbumbu di dekat sekolah masih memiliki porsi sisa, karena ia tidak yakin kakak-kakaknya sempat mengisi perut mereka sebelum pulang.

Kakinya masih terasa linu, pun belakang kepalanya yang mulai ngilu. Obat pereda sakit yang diminumnya tadi pagi mulai kehilangan presensi ditambah cercaan berkali-kali waktu kelas olahraga siang tadi.

Jungkook baru akan memastikan bahwa ia tak lupa membawa kunci ketika dilihatnya sang kakak tertua tengah menyandar di dinding dekat bak sampah tak jauh dari rumah. Jiminyang lebih tua dua tahun darinyamengangkat wajah dengan gugup ketika jarak mereka tak lebih dari sepuluh langkah.

Jungkook hendak memanggil namun namanya lebih dulu terdengar.

“Kook, aku tidak ingin masuk rumah.”

Alis Jungkook mengernyit. Wajah kakak tertuanya pucatkatakanlah, seperti habis melihat hantubicaranya terbata, dan tubuhnya mulai menggigil. “Kau sakit?”

“Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa,” respon sang lawan bicara. “Lebih baik kita tunggu Taehyung di sini, ya?”

“Tapi, Jim

“Ada apa ini? Kalian berniat kabur dan tak memberitahuku?”

Entah dewa jenis mana yang repot-repot mengumpulkan kakak-beradik ini beberapa meter dari rumah mereka, sama-sama memiliki ekspresi bingung, sama-sama bertanya satu sama lain. Jimin terlihat normalmenurut Jungkookmembawa ransel super besarnya yang berisi diktat kuliah namun terlihat luar biasa lelah. Taehyungkakak tengahnyapun begitu. Hanya ada semilir aroma alkohol waktu ia mendekat dan mengambil alih bungkus makanan di tangan Jungkook.

“Habiskan dulu di sini. Jika pulang sembari membawa makanan, taruhan dia pasti akan mengambil semuanya dan membuat kita kelaparan lagi semalaman.” Taehyung berujar asal, melangkahkan kakinya ke posisi awal Jimin tadi menyandar. Dengan tangan bergetar karena kedinginan ia membiarkan uap-uap makanan itu menyebar ke mana-mana. “Kalian tidak makan?”

Jimin terlihat frustrasi. “Sebaiknya … sebaiknya kalian melihat ini,” tuturnya, membetulkan posisi ransel yang tadi sempat merosot. “Aku sengaja menunggu kalian berdua pulang. Aku tidak mau lagi masuk ke dalam sana sendirian.”

Hati Jungkook mencelus.

Kedua kakaknya ada di sana semalam, ketika ayah mereka lagi-lagi pulang dalam keadaan tidak stabilentah karena kalah taruhan lagi, atau uangnya habis karena memborong bir. Sang anak bungsu hanya melakukan kesalahan minor dengan menambahkan saus sedikit lebih banyak, mengakibatkan dirinya menjadi papan umpan pelemparan botol bir kosong. Taehyung yang berteriak kesetanan harus diseret Jimin menjauhi ruang makan sebelum sempat menyerang ayahnyahal terakhir yang sempat disaksikan Jungkook sebelum pandangannya buram dan menghilang.

Well, apakah kakak tertuanya telah melewati limit di mana ia benar-benar trauma hingga ketakutan masuk ke rumah sendiri?

Jungkook mungkin terlalu tenggelam dalam pikirannya lantas tidak sadar bahwa jalan menuju rumah hanya tinggal beberapa langkah kaki. Taehyung memimpin, masih menjinjing kantong makanan dan mengunyah makan malamnya yang terlambat. Jimin berjalan tak jauh di sebelah adik tengahnya, masih terlihat linglung dan setengah ketakutan.

Ada suara ‘klik’ pelan begitu kuncinya diputar dan Jungkook adalah orang pertama yang melangkahkan kaki melewati lorong utama. Kendati ruangan masih gelap gulita, lelaki itu tahu ke mana melangkah. Pun begitu, ada raut bingung terpeta di wajahnya kala menginjak sesuatu yang terasa asing.

Lampu utama menebar cahaya, tepat ketika Jungkook menatap mata sang kepala keluarga.

Jimin mungkin akan pingsan sebentar lagi disusul Taehyung yang buru-buru ambil langkah seribu menuju wastafel di kamar mandi.

Sesuatu asing yang tadi sempat diinjak Jungkook adalah genangan air yang entah berasal dari mana, sementara ada piring tertelungkup yang isinya berhamburan di sini-sana. Ruang tengah dengan dominasi warna favorit mendiang ibu mereka terlihat kacau, dan tiba-tiba Jungkook merasa sesuatu mengoyak ulu hatinya, mencabiknya hingga menjadi potongan kecil-kecil.

Setelah malam ini, warna biru tidak akan hanya mengingatkan Jeon Jungkook akan rumah, kedua kakak lelakinya, serta mendiang sang ibu, namun juga akan menghadirkan bayangan kuat tentang tubuh ayahnya yang terbujur kaku dan mulai membiru.

*

 

Advertisements

11 thoughts on “[What is Your Color?] Brothers – Oneshot

  1. Aihara

    E-eh?
    Itu ayahnya kenapa? Siapa pelakunya?
    Semua kaget dan Jimin ketakutan
    Mungkin itu balasan karena udah nyiksa anak-anaknya/?

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s