[What is Your Color?] Changing Autumn – Oneshot

changing autumn poster

 

Judul        : Changing Autumn

Author        : hyeonMP

Genre        : Fantasy, Angst, Romance

Length        : Oneshot (3609 words)

Rating        : T

Cast        : Kim Seokjin (BTS), Jeon Jungkook (BTS), Baek Jeong Hee (OC), Min Yoongi (BTS)

Disclaimer    : I only own the plot, all pure from my imagination, please don’t plagiarize

Summary    : “Tolong ubah musim gugur itu.”

Jin.

Hm, rasanya sudah cukup lama semenjak terakhir kali telinganya menangkap panggilan macam itu. Dua atau tiga bulan lalu, entahlah–Jin bukan penggila angka yang selalu berhitung–terlampau senggang baginya untuk bisa merasakan gertak rindu akan lingkungan hidupnya. Pemandangan yang biasanya terobral oleh awan dan birunya angkasa, atau justru di luar itu semua–hanya gelap di atas atmosfer, ditinggalkannya pada musim panas, kini beralih ke planet bertajuk ‘bumi’ yang dipenuhi hamparan manusia. Yah, memang sudah seharusnya. Lagipula Jin tidak membencinya–malah sangat menyukainya.

Makhluk yang siluetnya tampak di lantai atap itu tersenyum, tetap memfokuskan pandang pada kumpulan jingga yang terhias di ujung-ujung cabang pohon musim gugur. Warna-warna itu menenangkannya, mendistraksi pikirannya dari keinginan kembali merasakan suhu atmosfer, menjadikannya seperti seorang pengamat seni yang menatap lukisan suasana musim gugur–namun berdimensi lebih, hingga terlalu nyata untuk disebut lukisan.

Ah, persetan dengan lukisan, dimensi, dan seni. Sesuatu yang berbau bumi seperti itu tidak tertulis dalam daftar ‘hal penting untuk dipikirkan’ milik Jin. Terlebih saat benda rapuh berwarna jingga yang ditatapnya dari menit lalu bergerak tiba-tiba. Bukan terhembus angin dan beterbangan di udara seperti biasa, tapi bergoyang-goyang, melambai terikut gerakan cabang pohon yang terdapat tiga bocah manusia di bawahnya.

Atensi makhluk yang berpakaian rapi itu pun teralih, sekarang tertunjuk pada tiga bocah tadi. Jin hanya tertawa pelik, berpikiran bahwa sosok-sosok mungil yang sekilas berpancaindera sama dengannya itu sebenarnya jauh berbeda. Loh, berbeda apanya? Iya, berbeda. Nyatanya, Jin, kan, memang bukan manusia.

Musim gugur–seperti itulah titel di awal namanya yang kini terganti oleh dua abjad hangul ‘Kim’ dan ‘Seok’. Jika kalian berpikiran bahwa musim gugur adalah tentang daun-daun yang berubah warna dan terlepas dari rantingnya, juga sama sekali tak terkait dengan sosok pria jangkung dengan paras rupawan yang berdiri di atap ini, jelas salah besar. Realitanya adalah pria jangkung rupawan itulah yang mengakibatkan adanya daun berwarna jingga. Ya, rumit memang. Tapi hukum alam itu sudah mutlak adanya, meskipun dari jutaan manusia di seluruh permukaan planet tidak ada barang satupun yang mengetahuinya.

Jin si musim gugur itu menderukan napas pelan, lantas menggerakkan leher untuk menopang dongakan kepalanya. Menatap ke langit, Jin teringat lagi akan keluarganya di atas sana. Entah sesama musim gugur atau tidak, mereka semua keluarganya.

“Jin!”

Yang dipanggil menoleh refleks, terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Baru beberapa belas menit lalu ia memulai lamunan tentang panggilan itu, tiba-tiba sekarang ada yang merealisasikan kerinduannya.

“Kook?”

Alis Jin terangkat tunggal, kuriositasnya tinggi saat salah satu rekan angkasanya tengah berdiri menghadapnya, wajah kusut nan muram, sudah seperti kemeja putihnya di apartemen yang belum dicuci.

Jin pun memutar tungkai, dengan benar berhadapan dengan makhluk musim dingin itu.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Matanya lebar, terkejut akan eksistensi kerabatnya yang tak wajar. Maksudku, di bumi? Kan, tidak masuk akal.

Well, kalau dari tadi kalian bertanya-tanya tentang alasan Jin berada di bumi juga, sebenarnya yang itu simpel. Setiap makhluk musim pasti akan kedapatan bertugas di bumi, dan Jin tengah melakukannya sekarang. Kalau Jin, tugasnya begitu sederhana. Alih-alih mengatur tekanan udara, awan, dan temperatur dengan segala perhitungan rumit, di planet semacam bumi ini yang dilakukannya hanya membuat daun-daun itu berganti warna. Itu saja? Memang. Sudah dibilang simpel, kan?

Nah, sekarang kembali ke masalah tadi. Sesosok musim dingin tengah berdiri di hadapannya, padahal ia belum mendengar kabar apa-apa tentang-

“Iya, aku ditugaskan di bumi, Jin.”

Nada kesal dari makhluk yang dipanggilnya ‘Kook’ tadi tiba-tiba menginterupsi, seolah tahu apa yang tengah mengalir di serebrumnya.

Jin terkejut lagi lantaran Kook sudah tak lagi berdiri di hadapannya, kini meringkuk di salah satu sudut bangunan atap ini. Didekatinya si musim dingin, masih dengan mata terbelalak.

“Kamu, sudah ditugaskan?”

Oktaf Jin meninggi, keheranannya masih bertambah. Bagaimana tidak? Kook tergolong musim dingin baru, ia belum genap berumur tiga abad dan baru saja diciptakan.

Rasanya Jin ingin sekali mengumpat lantaran rasa penasarannya tak kunjung ditanggapi oleh lawan bicara. Namun napasnya kembali merendah ketika tiba-tiba netranya bertemu dengan milik Kook.

“Iya, kenapa? Mau menertawaiku?”

Jin akhirnya terdiam, segala macam pertanyaannya sudah luluh saat diingatnya perkataan Suga tentang keahlian Kook kemarin. Si musim dingin Kook, dia belajar begitu cepat dan dalam jangka waktu dua abad enam puluh tiga tahun ini belum pernah melakukan kesalahan. Setidaknya itu yang diingat Jin dari apa yang diceramahkan lead-nya.

Daripada tertawa seperti yang diabakan Kook sesekon lalu, Jin hanya terkekeh sunyi–berakhir mengikut pada posisi Kook, duduk di lantai atap itu.

“Kenapa juga aku menertawaimu?” Tangannya terangkat untuk mengacak surai maroon bocah musim yang masih tak berhenti merengut itu. “Lagipula, seharusnya kamu senang. Malah cemberut mulu.”

Kook menatapnya tajam tiba-tiba. “Senang? Memangnya apa yang bisa disenangi dari berkeliaran di planet manusia, memakai pakaian mereka, harus memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’, dan-apa? Jeon Jung-Kook? Oh, Ya Tuhan, apa jangan-jangan kamu malah senang mereka memanggilmu Kim Seok-Jin?”

Mulutnya terus meracau, mengeluh tentang nama tengah dan nama marga khas Korea yang disisipkan ke awal nama atmosfer mereka. Jin pun hanya membalas senyum bisu dan endikan bahu. Dikiranya Kook akan diam setelah itu, tapi yang ada malah sebaliknya.

“Lagipula ini, kan, masih awal musim gugur. Memangnya aku harus apa dalam dua bulan ini jika tidak ada pekerjaan? Manusia yang memandang satu abad kita sebagai satu tahun mereka itu, aku harus bergaul dengan mereka? Sungguh menyebalkan.”

Jin sudah ingin melakban mulut Kook jika wajahnya yang bersungut-sungut sekarang itu tidak lucu. Dasar bocah, rutuknya. Dibiarkannya anak itu terus mencercah beratus kata padanya, memang sudah wajar.

“Kenapa aku harus bertemu dengan manusia,”

Tiba-tiba wajah Kook berubah ekspresi, binar matanya sendu dan kini tak bertemu dengan milik Jin.

“…lagi?”

Suara terakhirnya pelan, tak terdengar siapapun akibat terbawa angin yang mengibarkan rambut kedua makhluk musim itu.

….

Manik pekat Jin sesekali pergi ke ujung, melirik ke nametag bertuliskan ‘Baek Jeong Hee’ milik gadis SMA yang berstatus sebagai muridnya sekarang ini. Mendapatinya masih duduk dan sesenggukan di sampingnya sejak beberapa menit lalu, Jin mengusap lehernya pelan. Bingung dan penasaran, itu yang bisa dirasakannya saat ini. Apa yang biasa dilakukan guru terhadap muridnya? Jin memang sudah terlampau sering bertugas di bumi dan berpakaian bak manusia, namun menjadi pengajar adalah pengalaman pertamanya.

“Guru Kim,”

Akhirnya Jeong Hee angkat bicara, menarik atensi guru berumur dua puluh abad itu untuk menoleh padanya.

“Ya?”

Netra Jeong Hee membalas tatapan Jin setelah tanggapan kecil keluar dari mulutnya.

“Aku ingin cerita, boleh?”

Matanya memohon, membuat Jin tak punya pilihan lain. Well, mungkin dia memang bukan guru BK atau bahkan wali kelas gadis itu, tapi entah kenapa hatinya berkata lain. Baru beberapa saat lalu dia bertemu dengan gadis ini di atap, mendapatinya menangis lalu duduk di sampingnya dalam diam, namun dalam jangka waktu itu pun musim gugur itu merasakan sesuatu yang aneh. Hm, mungkin kurang tepat disebut aneh, sepertinya lebih ke menyenangkan? Perasaan yang membuat degup jantungnya menderu dan lidahnya kelu, apa itu namanya? Ah, sudahlah, lupakan itu semua.

Jin pun mengangguk pelan sebelum tiba-tiba anak yang menganggapnya sebagai guru Kimia di kelasnya itu mengalihkan pandang, merogoh sesuatu dari kantung jas seragamnya. Sesekon kemudian, kedua ain Jin terfokus pada selembar kertas yang dipegang erat jari-jari Jeong Hee, memang sengaja diarahkan padanya.

Oh.

Tunggu.

Bukannya itu.

“Kook?”

Mata Jin terbelalak, refleks terpekik menyuarakan nama dari sosok yang dikenalinya dari selembar foto itu. Yang benar saja? Ada apa sebenarnya? Kenapa foto Kook ada pada Jeong Hee? Mungkin Jin masih bisa terima jika paling tidak ia sudah mengenal Jeong Hee sebelumnya meski dia seorang manusia, tapi nyatanya gadis ini baru ia temui beberapa menit lalu, bahkan namanya hanya ia tau dari absensi dan tanda di seragamnya. Oh, Tuhan.

Masih terbingung, Jin pun menatap Jeong Hee yang kini bermata lebar sama seperti dirinya. Dia juga terkejut, mungkin karena pekikan Jin yang tiba-tiba, atau?

Oh, crap. Jin ingin sekali menampar pipinya sendiri sekarang ini. Seakan-akan baru ingat kalau dia tengah berada di bumi sekarang, dengan seenaknya ia melanggar peraturan yang sudah dihafalnya sejak berabad-abad lalu. Apapun itu, bagaimanapun keadaannya, tidak boleh ada sepatah kata yang terkait dengan makhluk musim keluar dari mulutnya. Aih, Jin hanya bisa memohon-

“Guru Kim? Kenapa anda melamun? Tadi anda bilang apa?”

Sebuah tangan yang melambai-lambai di depan penglihatannya tiba-tiba memecah kepanikan pikirannya sendiri–yang, ehm, mungkin terdengar konyol karena nyatanya Jeong Hee tidak mencurigainya sedikitpun, malah tak mendengar apa-apa darinya.

Jin pun bersyukur berat dalam hati, berkali-kali membayangkan dirinya bersujud di bawah kaki Suga karena tak jadi mengacau tugasnya.

“Ah, bukan, bukan apa-apa.” Jin pun lekas menjawab meskipun masih tergagap. “Ini-ini siapa?”

Jeong Hee akhirnya kembali menatap foto yang dipegangnya, ujung bibir tertarik sekilas. “Dia, ah, aku juga tidak yakin.”

Sejujurnya, Jin ingin sekali berteriak pada gadis berseragam ini, bertanya padanya siapa sebenarnya yang ada di foto itu, dan apa hubungannya dengannya. Berkenalan dimana, bagaimana bisa bertemu, apakah ia juga memandangnya sebagai manusia atau-

“Pacar juga bukan, keluarga tidak, disebut teman pun tak pantas.”

Lagi-lagi suara itu menginterupsinya. Jin pun menghembus napas pasrah, mencoba mengerti apa yang ingin dijelaskan Jeong Hee meski dia terus saja berbicara diksi. Laki-laki itu hanya diam, layaknya ketika murid-murid perempuannya menyatakan cinta mereka padanya. Yah, resikonya jadi tampan. Ia tersenyum sejenak mengingat-ingat serentetan kejadian yang tak pernah absen menemani kehidupannya di bumi.

“Sudah meninggal dua tahun lalu, tapi masih saja membayang-bayangi, dasar.”

Jin tersentak untuk kesekian kali, bolak-balik matanya berganti memandang Jeong Hee dan foto itu. Meninggal? Apa maksudnya?

“Dia, ah, sebut saja aku sangat mencintainya.”

Jin bersumpah ada air mata di sudut mata Jeong Hee.

“Aku mengenalnya sejak SMP, dan ternyata kami satu SMA juga.” Kini jelas bahwa Jeong Hee menangis lantaran jari-jari tangan kanannya terangkat untuk mengusap butiran air mata yang sudah akan keluar. “Tapi sayangnya, hanya beberapa bulan pertama aku bersamanya di SMA. Dia tiba-tiba saja pergi.”

“Begitu tiba-tiba, hingga membuatku membencinya.”

“Yah, aku membencinya sekarang, sangat.”

Makhluk musim gugur itu mengernyitkan dahi. Tak begitu memperdulikan kata-kata terakhir Jeong Hee, ia memilih untuk memikirkan Kook. Entah darimana datangnya, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan Suga berabad-abad lalu, beberapa saat setelah ia diciptakan.

“Makhluk musim bisa tercipta dari jasad manusia yang sudah mati juga, tapi kamu tidak. Jadi bersyukurlah.”

Klik.

Oke, setidaknya Jin mengerti sedikit sekarang.

“Aku membencinya, sangat, seperti aku membenci daun-daun jingga di musim gugur.”

Jeong Hee masih berucap, namun kali ini Jin menoleh tajam padanya lantaran kata-kata yang menurutnya ditujukan padanya. Yah, meskipun tidak.

“Ke-kenapa?”

Jeong Hee mengangkat wajah, kini melekatkan netra pada milik Jin. Matanya berkaca-kaca, namun masih memaksakan seutas senyum.

“Jungkook sangat menyukai musim gugur dan warna-warna jingga itu, namun…

….dia mati di musim gugur, dengan daun-daun berwarna jingga yang keji menutupi mayatnya.”

….

“Hmm…, setidaknya ini membuatku merasa lebih baik, Jin,”

Jin hanya melirik Kook sekilas dan menyunggingkan senyum kecut, kembali pada kegiatan semulanya menjilat es krim.

“Hei, sudah kubilang jangan lupa untuk memanggilku Seokjin-hyung. Statusmu di bumi hanyalah seorang anak SMA berumur delapan belas tahun yang notabene menjadi adikku.” celetuk Jin kemudian dengan tawa kecil tersisip di antara kata-katanya, mendistraksi dirinya sendiri dari berpuluh pertanyaan yang diinginkannya segera menerima jawab dari Kook.

“Cih.” Jin melirik lagi dan dapat dilihatnya manik cokelat Kook meminggir, menatap penuh tak terima padanya sebelum menggerutu lagi. “Sungguh, JIN, aku menyesal berada di bumi bersamamu.”

Si musim gugur berambut hazel itu tertawa lagi ketika Kook menekankan panggilan padanya, tak lagi terpeduli pada resiko jika ada manusia yang mendengarnya.

Jin menghembus napas pelan–akhirnya berhenti tertawa–sebelum menjatuhkan tatapan dalam pada makhluk yang kini berstatus sebagai adiknya itu. Teringat akan kata-kata Jeong Hee sebelumnya, sesekali ia bergidik akan kalimat menusuk yang diucapkan siswinya itu. Tapi bagaimanapun juga hal itu mengganggunya,–memang sangat mengganggu lantaran Jin merasa cintanya tertolak otomatis–masih ada masalah lain yang mengangkat tinggi kuriositasnya.

“Kenapa memandangiku? Merasa gagal akan kesombonganmu sebagai musim gugur tertampan? Lalu tiba-tiba kasihan pada murid-muridmu yang sangat menyukaimu itu? Ingin mengenalkan satu padaku?”

Yang dilontari pertanyaan bertubi terjingkat tiba-tiba, didapatinya Kook masih fokus pada cone es krim meski mulutnya tak henti berkonversasi dengan dirinya. Jin pun mengusap tengkuknya ragu. Sejenak terlintas di pikirannya tentang bagaimana reaksi Kook saat ia bertanya nanti, apakah ia akan jujur atau tidak, apa ia akan marah padanya dan ingin melenyapkannya, atau mungkin justru mengaku dan bercerita padanya? Hal-hal itu mungkin masih tertaut dalam otaknya, namun rasa penasaran yang mendatanginya tiap malam dan mempengaruhinya untuk tidak bermimpi indah itu yang dirasa Jin begitu berat.

“Kook, aku ingin bertanya.”

“Tanya saja.”

Kook hanya menjawab pintas, tak menyadari colok serius dalam intonasi Jin, namun akhirnya melekatkan pandang pada manik Jin juga. Tangan masih menggenggam es krim, ditinggalkannya benda itu sebentar untuk berfokus pada Jin.

Entah kenapa, rasa ragu lagi-lagi menyeruak dalam alir darah Jin selama beberapa sekon, merasa terbebani oleh tatapan innocent Kook yang tak tahu apa-apa. Ia pun menderukan napas dalam terakhirnya sebelum Kook berubah sikap padanya akibat dari kuesion yang diberikannya.

“Kamu…..,

…apa, apa,…

…apa kamu dulu manusia?”

Jin menemukan kegugupan pada tiap patah kata yang terucap, sedikitnya sekarang sudah lega akan kekomplitan misinya untuk bertanya. Degup jantungnya normal lagi, tak memikirkan tentang kata-kata benci milik Jeong Hee di hari kemarin. Namun, bukan itu yang saat ini begitu mendapat atensinya.

Tepat sesekon setelah berakhirnya suara Jin, terdengar olehnya bunyi benda yang dari tadi dikait jari-jari Kook terjatuh. Tak memperdulikan bercak es krim yang menempel di sepatunya, manik Jin masih menembus milik Kook, menatap intimidasi tanpa ampun. Yang disudutkan membalas pandang dengan terpaksa. Mata terbelalak dan bibir tak terkatup miliknya menandakan jawaban yang sudah pasti bagi Jin.

….

Si musim gugur berpostur tinggi dan bersurai hazel itu menepuk-nepuk dadanya lagi dan lagi. Tentu ia tahu betul mengenai alasan berdiri kaki-kaki miliknya di atas lantai berawan dengan pakaian serba jingga menghiasi penampakannya lagi hari ini, dimana seharusnya ia terfokus akan salah satu dari pekerjaannya di planet nomor tiga dari matahari–mengajar di sekolah atau menyebar warna jingga favoritnya pada dedaunan yang mulai terpudar. Namun sayang, ada kasus lain yang dirasa lebih membebani pundaknya. Pikiran itu masih berputar mengikuti arus jalan serebrumnya–tentang kebencian seorang manusia pada dirinya dan juga keadaan kerabat musim dinginnya yang kemarin tak merespon apapun. Bagaimanapun segar udara di atas sini baginya, tetap tak menghapus kenyataan bahwa hati paling dalamnya terus menangis.

“Kamu tahu kenapa aku memanggilmu di sela-sela tugas di bumi, kan, Jin?”

Sebuah suara berat penuh kharisma membuyarkan semua masalah-masalah dalam kepala Jin, membuat makhluk itu berputar balik hingga penglihatannya menangkap sosok lead dari segala jenis musim berdiri di ujung ruangan, menatapnya intens.

Merasa sedikit gugup, Jin tertunduk paksa–tak mendapat cukup rasa berani untuk balas menatap Suga. Bibir bawahnya tertangkap di selipan gigi-giginya, berusaha tak menampakkan kesan yang buruk pada makhluk berderajat tertinggi yang tengah ia hadap. Matanya pun berlarian dari ujung ke ujung, mengusir segala desir negatif dan berusaha membiasakan dirinya sendiri dengan kepulan awan di kakinya.

“Jin! Kamu mendengarku?”

Tiba-tiba sentakan berat itu menginterupsi lagi, kini berhasil membuat kepala Jin terdongak, melekatkan pandang pada makhluk musim berkulit super putih di depannya. Secuil rasa bersalah pun menyebar ke setiap pembuluh darahnya saat bisik kecewa tercuat dari netra yang menatap miliknya.

“A-aku, iya.”

Dapat didengar hembusan napas berat Suga dari setiap penjuru ruang, tak terkecuali telinga Jin. Keinginannya untuk segera mengakui kesalahan sebenarnya tinggi, segala konsekuen sudah dikenalinya baik dan ia sendiri merasa pantas menerima semua itu. Tapi ia pun tahu lebih dari siapapun jika sosok bak malaikat di depan sana masih terlampau berat untuk merealisasikannya.

“Jin, kamu tahu, kan, kamu musim gugur terbaik selama lebih dari lima abad terakhir, dengan segala kepatuhan dan kesempurnaan tugasmu, entah di atmosfer atau bumi.” Sedikit sengguk tangis mencelos dari mulut Suga, tak mampu mendengar kata-katanya sendiri. “Tapi kenapa, Jin, kenapa kamu tiba-tiba melanggar peraturan berat seperti ini?”

“Maaf, aku sadar akan kesalahanku. Aku akan menghadapi hukumannya, aku pantas untuk itu.” Jin pun tak mampu merespon apa-apa lagi selain menjadi terdakwa utama.

Empat hingga lima menit berlalu dalam hening, tak satupun dari dua makhluk musim yang berada di ruangan berselimut awan itu bersuara. Jin hanya tertunduk, merasa kata-katanya sudah cukup dan tak begitu ingin mengetahui apa yang dilakukan Suga. Kini otaknya pun serasa beku. Menjatuhkan pandang pada ujung sepatu jingganya,–karena seluruh outfit-nya berwarna jingga saat di angkasa–Jin teringat akan daun-daun di bumi yang tiap dini harinya ia tebari warna-warna itu. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuatnya tak pernah bosan menjalankan tugas di bumi, malah lebih senang daripada beterbangan di atmosfer mengecek tekanan udara pada tiap inchinya. Ujung bibir itu terangkat sedikit – menyadari bahwa pemandangan penuh warna jingga tak bisa lagi nampak di pelupuk matanya sebentar lagi.

“Ya, baiklah.”

Jin lantas mengangkat kepala lagi ketika Suga kembali membuka konversasi. Maniknya sedikit melebar, terkejut akan kesembaban di bawah mata Suga dan beberapa titik air yang masih tertinggal di sisi wajahnya.

“Pelenyapanmu akan dilakukan dalam dua hari. Selama selang waktu itu, bereskan semua hal yang terkait denganmu, baik di bumi ataupun atmosfer.”

Jin pun menunduk dalam sekilas, memberi penghormatan terakhir pada Suga sebelum sosok itu keluar dari ruangan, terganti oleh ekstensi para petinggi makhluk musim yang segera tersibuk untuk mengurus keputusan yang baru saja dilontarkan Suga.

Musim gugur Jin, dua puluh abad.

Lenyap karena hukuman, melanggar larangan berat nomor empat belas: “Jatuh cinta pada manusia.”

….

“Masih benci musim gugur?”

Yang ditanya sedikit terkejut oleh kehadiran tiba-tiba sosok yang disebutnya guru di sampingnya, menatapnya sekilas sebelum ikut memandang pepohonan penuh jingga di depan mereka.

“Tch, kenapa juga aku harus berhenti benci?” jawabnya kemudian dengan nada kesal terselip di tiap patah katanya. “Lagipula, yang paling aku benci adalah warna jingganya, bukan musim gugur.”

Jin lantas menoleh atas jawaban muridnya. Entah merasa sedikit lebih baik karena ada hal lain yang dibenci Jeong Hee selain dirinya, atau semakin tersedih lantaran warna kesukaannya yang juga menjadi icon dirinya, Jin tak tahu harus bagaimana. Ia menarik napas pelan, berpikir bahwa apapun yang terjadi tak akan mempengaruhi keputusan pelenyapannya besok.

“Oh, ya?”

“Hm,” Jeong Hee bergumam pelan meski sedikit ingin tertawa akibat pertanyaan gurunya yang sangat tidak penting. “Andai saja daun-daun itu tidak jingga. Kuning, cokelat, merah, ataupun birupun tak apa. Asalkan tidak jingga, pasti rasa benciku pada musim gugur tak akan sebesar ini.”

Lagi-lagi Jin mendaratkan pandang pada Jeong Hee dengan mata terbelalak. Kenapa tidak bilang dari dulu? Ingin sekali ia melontarkan pertanyaan macam itu pada gadis di sampingnya, namun detik berikutnya ia kembali sadar akan realita bahwa jika ia ingin mengubah warna daun-daun itu–mengabai pada warna jingga sebagai kesukaannya–pun ia tak bisa.

“Tidak bisakah kamu menghilangkan rasa benci itu?”

Jeong Hee akhirnya tertawa, membuat si musim gugur melayangkan tatapan heran. “Guru, anda ini kenapa? Bertanya hal-hal aneh dari tadi.”

Jin berdecak pelan lantaran Jeong Hee tak menanggapinya serius. “Tidak bisa, ya? Bahkan jika aku memintamu untuk berhenti membencinya?”

Gadis berambut hitam itu pun terpaksa mengakhiri acara tertawanya akibat kuesion dari gurunya itu berubah menjadi konyol. Ia menderukan napas sekilas sebelum merespon Jin. “Tidak, Guru Kim. Sudahlah, aku memang menceritakan segala rahasiaku padamu,–aku juga tak tahu kenapa–tapi berhentilah memberiku pertanyaan yang tidak masuk akal.”

“Bagaimana jika Jungkook kembali di musim gugur?”

Jeong Hee membeku tiba-tiba setelah Jin sedikit memotong paksa perkataannya. Kalimat yang keluar dari mulut Jin menjadi semakin tidak jelas seiring waktu, tapi yang ini berhasil menarik atensi Jeong Hee, membuat gadis itu menghela napas lagi untuk menjawabnya. Setidaknya kali ini dengan jawaban serius.

“Aku akan menganggap itu tidak mungkin,” Jeong Hee mengalihkan pandang ke arah dedaunan jingga di depan penglihatan mereka sebelum kalimatnya berlanjut. “Tapi jika mungkin, aku pasti tidak akan membenci musim gugur dan warna jingga lagi.”

Senyum Jin merekah lebar mendengar kata-kata positif dari Jeong Hee. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin sekali mewujudkan perkataan tak masuk akalnya tadi menjadi nyata. Pikirannya pun melayang-layang sejenak sebelum akhirnya menangkap sebuah jalan keluar yang cukup mungkin untuk dilakukan baginya.

….

“Jin?”

Nada penuh heran serta satu alis terangkat menatapnya heran dari Suga adalah hal pertama yang ditemui Jin saat tungkainya melangkah mendekati tempat si lead musim itu duduk.

“Pelenyapanmu masih besok, hari ini kamu masih diperbolehkan berada di bumi.” jelas Suga kemudian meski nyatanya ia yakin akan pengetahuan Jin tentang hal itu.

Jin menghentikan langkahnya di depan Suga, senyumnya mengembang kecil dan ragu. “Aku, ingin bertanya tentang sesuatu.”

Kuriositas Suga pun hilang, kini mengangguk pelan sebagai respon dari kalimat permisi Jin. “Bertanya apa?”

“Ehm,” Jin berdehem kecil berusaha menghilangkan kegugupannya yang akhir-akhir ini sering muncul saat ia pergi ke angkasa. “Aku, akan dilenyapkan besok.” Dia menjeda lagi, mengecek tanggapan Suga yang kini didapatinya menatap dengan sorot sendu. “Itu berarti aku punya satu permintaan terakhir, kan?”

Suga menghela napas berat, seberat ia melepas kepergian anak didik kesayangannya itu. “Iya, tentu.”

Jin pun ikut-ikut menghembus kecil sebelum berkata-kata lagi.

“Aku ingin Kook dihidupkan lagi menjadi manusia.”

….

Seorang laki-laki bersurai maroon kembali menarik napas dalam untuk dihembuskan di sela-sela kegiatannya menatap pohon-pohon musim gugur dengan dedaunan berwarna jingga di puncaknya.

Tatapannya intens, mengobservasi warna daun-daun yang jatuh ke tanah satu persatu itu. Dikedipkan matanya beberapa kali saat apa yang ditelitinya sudah menemui jawaban.

“Memang berbeda.”

“Apa yang berbeda, Jungkook?”

Laki-laki itu terkejut saat terdengar suara perempuan dari ujung lain bangunan atap, namun segera membalas senyum orang itu lantaran figur yang dilihatnya terlampau familiar buatnya.

“Jeong Hee, kuliahmu sudah selesai?” tanyanya kemudian, membuka konversasi.

Gadis berambut hitam dengan beberapa buku di tangannya itu pun berjalan mendekatinya. “Hm.” jawabnya pintas. “Kamu sedang apa?”

Jungkook pun kembali berfokus pada daun-daun jingga itu sebelum menjawab pertanyaan gadisnya. “Warna daun-daun itu, berbeda dari warna jingga cerah yang kulihat di musim gugur tiga tahun lalu.” Mahasiswa itu bernapas pelan. “Itu terlalu kusam.”

Jeong Hee terkekeh atas kata-kata kekasihnya. “Kamu bicara apa, sih? Musim gugur tiga tahun lalu, bukannya saat kamu kembali?”

Masih memandangi warna-warna jingga yang baru saja dibilangnya kusam itu, Jungkook merekah senyum pahit. Teringat lagi akan musim gugur tiga tahun lalu dan warna jingganya yang begitu menawan, ia pun sadar kebahagiannya saat ini tereksistensi akibat hilangnya sosok berharga dalam hidupnya.

“Iya.” Jungkook menoleh ke arah Jeong Hee yang tak begitu mengerti perkataannya. “Tiga tahun lalu adalah musim gugur terindah dalam hidupku. Setelahnya, aku rasa musim gugurnya sudah berubah.

….

FIN

Advertisements

9 thoughts on “[What is Your Color?] Changing Autumn – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s