[What is Your Color?] Like A Little Grass – Oneshot

Like A Little Grass

Like A Little Grass

An oneshot by Viotae

Kim Taehyung × Jung Vio (OC)
| AU, Married Life, Sad Romance | PG-16 |

Plot and OC are pure mine!

 

Happy Reading!^^

 

***

‘Dari sekian banyak bunga, mengapa kau memilih untuk menyukai ilalang? Bukankah mawar jauh lebih indah?’

 

Minggu tenang. Atmosfer yang diciptakan Tuhan melalui makhluk-makhluk kecil-Nya sungguh menenangkan rohani. Apalagi jejak yang ditinggalkan hujan semalam membuat aroma tanah dan embun pagi beradu memanjakan hidungku. Dedaunan hijau jauh berdiri di hadapanku sana seolah melambaikan salamnya dibantu semilir angin.

Aku tak hentinya menunjukkan senyum kecil saat sedari tadi kulihat pria itu sibuk dengan kertas, pensil, dan spidol warna warni pelangi di atas meja kerjanya. Entah apa yang ia lakukan, yang jelas rasa penasaran membawaku menghampirinya.

“Sedang apa?” tanyaku seraya lengan kananku merangkulnya dari arah samping. Dari sini wajah seriusnya sungguh menggelitik perutku. Apalagi jika aku memandangnya dari depan.

Dia menengadah melihatku, “Selamat pagi sayang.” sapaan itu yang menambah pagiku begitu istimewa. Tak lupa ia menyapa makhluk kecil yang tepat berumur sembilan bulan di dalam perutku, “Selamat pagi juga Little Kim.” jemarinya membelai lembut permukaan kulitku.

“Kapan ia akan lahir? Aku sangat tidak sabar ingin menimangnya.” ucapnya sesekali mengecup perut besarku. Ya Tuhan, ini sangat geli.

“Kimtae hentikan! Ibunya kegelian.” tawa geli tak bisa kutahan dari ulahnya. Tanganku menangkup kedua pipinya. “Sekarang sudah sembilan bulan. Bukankah kurang 10 hari lagi dia akan melihat betapa tampan ayahnya ini hem?” balasku sembari mengecup sekilas bibir pinknya.

Oh! Lihat kedua pipinya yang merona dengan senyum tersipu malunya. Ia pun beralih menghindar kembali pada meja kerjanya dari manik mataku yang terus memandangnya kagum. Dasar!

“Sejak tadi, kau hanya berkutat dengan kertas-kertas ini. Apa yang kau gambar?” aku mengubah posisi menjadi duduk. Sedikit kuintip lembaran putih yang sudah tergores hitamnya pensil. Mini Dress berwarna hijau muda tergambar sangat apik di sana. Sepertinya itu untuk balita.

“Ini untuk putri mahkotaku. Berwarna hijau sesuai dengan yang kau sukai. Sangat cantik bukan?” ia mendeskripsikan gaun itu dengan kedua mata berbinar. Aku dapat merasakan betapa antusiasnya pria-ku menyambut putri kecilnya.

Aku meraih hasil karya Kim Taehyung. Sungguh cantik. “Wah! Apa sekarang Kim Taehyung beralih profesi menjadi designer?” ucapku menggodanya.

“Apanya? Ini hanya untuk putri mahkotaku seorang.” tawa kecil yang membuatku melambung terlukis diwajahnya mengiringi balasan pertanyaan menggoda dariku. “Ini akan kuberikan padanya saat usianya tepat sepuluh bulan.” lanjutnya.

“Kenapa harus sepuluh bu─” kurasakan perutku mulai bereaksi nyeri berlebihan. Aku hanya menggigit bibir bawahku menahan sakitnya. Dan kulihat setetes air bening kental mengalir di kakiku. Kenapa dengan diriku? Apa sekarang waktunya?

“Kimtae…” panggilku lebih seperti bisikan. Ini sakit, sungguh. Sekarang nyeri itu semakin menjadi seiring bertambah derasnya air bening itu meluncur. “Sakit!!” setelah kutahan, rintihan itu akhirnya keluar dari mulutku.

“Vio? Sayang, ada apa denganmu?!” ucapnya terdengar sangat panik.

“Kimtae ini sangat sakit!!” rasa sakit itu berbuah aliran embun yang lolos terjun dari kedua mataku.

Sebagai responnya, ia menggendongku ala bridal style menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. “Bertahanlah sayang.” ujarnya dengan langkah tergopoh-gopoh masuk ke dalam mobil di bagian pengemudi.

.

.

.

“Sayang, ayo makan. Jika kau seperti ini terus kau tak akan cepat sembuh. Buka mulutmu aaa..” dengan susah payah ia membujukku untuk makan. Tapi bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini?! Bayiku sendirian disana.

“Kau ingat janji kita di bangku kecil itu dulu?” ujarku tak menghiraukan sesuap bubur yang ada di tangannya.

 

[Flashback]

 

Aku berlari kecil dengan riangnya menuju tempat favoritku bersama pria itu yang berada di belakangku. Aku berhenti berlari dan berbalik menghadapnya. Senyum lebar senantiasa ku perlihatkan. “Taehyung-ah, cepat! Lambat sekali.” panggilku.

Ia tersenyum kecil melihatku seriang ini. Garis simetris manis itu yang membuatku susah berpaling dari pesonanya. Terkadang aku berpikir, begitu beruntungnya aku dari sekian puluh gadis yang mengaguminya dapat meraih hati seorang Kim Taehyung.

Setelah ratusan langkah kulalui, akhirnya sampai juga di tempat menyenangkan ini.

 

Hamparan hijau jauh memandang hingga terlihat kaki langit jingga biasan cahaya matahari setengah tenggelam. Pohon besar rindangnya sebagai pemanis tempat ini begitu memanjakan mata. Aku suka warna hijau.

Warna yang identik dengan alam. Membantu seseorang yang berada dalam situasi tertekan untuk menjadi lebih mampu menyeimbangkan emosi. Karakter yang terkesan segar dan membumi. Inilah mengapa hijau disebut warna rileksasi.

Aku menepuk tempat kosong di sebelahku mengisyaratkan Taehyung untuk duduk di sebelahku. “Bukankah tempat ini semakin cantik saja?”

“Iya, seperti dirimu.” balasnya. Cih! Mulut manisnya beraksi lagi. Sebenarnya, pandangan orang lain kepada pria ini sungguh berbalik dengan apa kenyataannya. Di luar boleh ia terlihat dingin, tak peduli pada sekitar. Tapi sesungguhnya Taehyung adalah pria ceria paling perhatian kedua yang pernah ku temui setelah Ayah.

“Vio-ya.” panggilnya.

“Ya?”

“Dari sekian banyak bunga, mengapa kau memilih untuk menyukai ilalang? Bukankah mawar jauh lebih indah?” tanyanya. Tersirat senyum kecil sebagai balasanku. Entah pola pikirku bagaimana aku sendiri pun tak bisa memahaminya.

“Aku suka warna hijau. Kau tahu itu kan?”

“Aku yakin ada alasan lain. Setiap gadis kebanyakan akan memilih mawar sebagai bunga favorit mereka.” jelasnya heran mendengar alasan yang menurutku logika pun tak dapat mendeskripsikannya.

“Sederhana Tae.” aku beranjak menjauh darinya hanya sejauh satu meter. Aku memandang wajah penasarannya yang tergambar jelas menunggu alasan lainnya dariku.

“Setidaknya ilalang tak memerlukan cara yang rumit untuk hidup. Dan juga, ilalang tak memiliki duri.” Taehyung mendengarku dengan seksama. Aku menghela nafas melanjutkan kalimatku, “Bukankah hidup tanpa menyakiti orang lain adalah sebuah kebahagiaan?” ia mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti apa yang kukatakan.

“Aku berjanji tidak akan menyakitimu Kim Taehyung.” tungkaiku menghampirinya. Ku kalungkan lenganku dan mengecup singkat bibir lembut pinknya.

 

[Flashback end]

 

“Maafkan aku.” ujarku terisak. Rasa bersalah menyelimutiku. Aku bukan pendamping hidup dan ibu yang baik bagi keluargaku. Aku begitu jahat membiarkan bayiku sendirian menyusuri heningnya jalan.

“Kenapa aku tak menjaganya dengan baik hah?!” teriakku. Aku tak terima ia di ambil begitu saja dari hidupku.

“Ssstt! Vio, bukan salah siapa-siapa disini.” ucapnya seraya merengkuhku bermaksud menenangkanku.

“Tidak! Biarkan aku mengikutinya Taehyung! Kasihan dia!!”

“Dan kau akan meninggalkanku sendiri disini?! Sadarlah Vio, aku yakin ia sekarang bersama bidadari cantik yang menjaganya.” ku dengar isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Tidak. Aku sudah menyakitinya.

Hening. Hanya suara isakan pilu yang terdengar dari mulut kami. Hatiku sangat sesak mengingat aku yang membuat janji dan aku sendiri yang melanggarnya. Terlebih kepada bayi cantikku. ‘Maafkan ibu sayang.’

 

‘Menyukai ilalang. Tapi sama saja dengan apa yang dilakukan oleh mawar.’

 

FIN.

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Like A Little Grass – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s