[What is Your Color?] Growing Pains – Oneshot

cover

Growing Pains

 

Author: Salma Nur Azizah

Cast:

  • Oh Han Bi
  • Jeon Jungkook
  • Jessica Lee

Genre: Sad love (Color: Blue)

Rating: PG-15

Length: Oneshoot

Summary:

“Akhirnya aku menyadari. Ada sesuatu yang tidak akan bisa ku dapatkan selama apapun aku menunggu. Tuhan, mengapa takdir ini begitu menyesakkan?”

Disclaimer: Fanfiction ini 100% bikinan saya. Saya sudah menguras otak dan pikiran saya untuk membuat FF ini. FF ini genrenya sad. Saya harap cerita ini nge-feel banget buat para reads, dan membuat kalian berkaca-kaca. Hahaha. Okay, Happy reading all

.

[Busan. August, 29th. In 19.17 p.m. KST]

Han Bi masih termenung menatap ke luar jendela kaca yang di tutupi oleh tetes-tetes air hujan. Secangkir  coffee Americano yang ia pesan masih terisi penuh, dengan kepulan asap yang keluar dari cangkir kopi tersebut. Gadis berambut blonde yang duduk di hadapannya, sudah tidak tahan lagi dengan sikap sahabat karibnya tersebut.

“Sampai kapan kau mau termenung seperti itu?” Sedetik kemudian, Han Bi tersadar. Tangannya mulai meraih cangkir kopi tersebut, dan meneguknya sedikit. Rasa pahit langsung menyebar ke seluruh bagian lidahnya. Tak biasanya dia memesan CoffeAmericano. Karena dia lebih suka Caramel Macchiato atau Café Latte. Namun, saat ini ia ingin merasakan sesuatu yang pahit. Secangkir Americano ini tidak lebih pahit dari apa yang ia rasakan. Pengalaman pahitnya akan cinta.

“Kau, menggangguku.” Ucap Han Bi datar. Membuat gadis berdarah Amerika-Korea itu mendelik kesal. Kedua lengannya ia lipat ke depan dadanya.

“Lalu untuk apa kau memintaku untuk menemanimu?  Jadi aku hanya diam saja disini, untuk melihatmu termenung saja begitu?! Kau ini sebenarnya kenapa?” Han Bi menunduk. Sementara gadis bernama lengkap Jessica Lee itu masih menggerutu tidak jelas. Han Bi menangkup wajahnya sambil menggeleng cepat dan kembali menangis tak terelakan. Jessica sampai bingung sendiri bagaimana caranya ia bisa menenangkan Han Bi yang sudah benar-benar parah ini. Mungkin hanya satu hal yang bisa menyelesaikan masalah Han Bi dan orang itu adalah Jungkook, tapi saat ini lelaki itu tidak ada disini.

“Jika aku boleh menebak, mungkin Jungkook memiliki kekasih dan kau cemburu?” Tebak Jessica ragu-ragu, sementara Han Bi semakin menangis sambil menggeleng mengelak atas tebakan Jessica membuat gadis keturunan bule itu menggaruk kepalanya dengan bingung.

“Apa yang harus ku lakukan, Jess? Apa?” Han Bi berkata dengan kepalanya yang masih menunduk. Setetes air mata jatuh, mengenai celana bahannya berwarna abu-abu yang ia beli di sebuah situs OL-Shop dua minggu yang lalu. Seketika hening. Jessica dan Han Bi larut oleh pikirannya masing-masing. Air mata Han Bi pun, terus berjatuhan. Dia tidak sakit, dia hanya hancur.

“The thing about loving someone, it makes you happy. It doesn’t make you cry.”  Ucap Jessica, setelah sekian lama hening. Han Bi perlahan meredakan tangisnya, dan menegakkan kepalanya. “Astaga!” Ujar Jessica histeris saat Han Bi benar-benar menatapnya dengan mata yang bengkak, hidung yang memerah, dan pipi yang merah dengan sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. “Kau bahkan lebih terlihat seperti mayat hidup.”

Han Bi kembali menunduk dan menguras habis isi tasnya untuk mencari tissue dan menggunakannya untuk mengusap air matanya. Ia kembali membuka tasnya dan mengambil kaca untuk melihat pantulan wajahnya, dan ia hampir teriak karena terlalu asing dengan pantulan wajahnya yang terpatul di cermin. Salahkan jika ia menyukai seseorang? Apa salah jika ia jatuh hati pada seorang Jeon Jungkook, lelaki tampan pemilik senyum termanis di dunia. Dia memang salah. Salah, karena ia terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Hampir 3 tahun lamanya ia menyembunyikan perasaannya tersebut. Jungkook terlalu bodoh untuk bisa memahami Han Bi. Biarpun begitu, Han Bi tetap menyukai Jungkook. Dan bahkan setiap hari, rasa sukanya semakin bertambah. Namun, tiba-tiba ia mengetahui bahwa Jungkook sedang mengincar gadis lain. Yang mana adalah teman dekatnya sendiri. Hatinya terluka.Sekali lagi, ini bukan kesalahan Jungkook atau siapapun, melainkan kesalahannya sendiri. Memberitahu Jungkook bahwa ia menyukainya, dirasa lebih susah dibanding mengerjakan 100 soal matematika dan fisika dalam waktu satu jam. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang, Han Bi tetap bertahan.

“Tidak mudah bagiku untuk mengetahui bahwa dia sebenarnya menyukai gadis lain!” Ucap Han Bi dengan nada yang tercekat-cekat. Jessica menghela nafas panjang.

“Aku sudah berulang kali memberitahumu, Bi. Bahwa pria itu tidak akan pernah tahu, Jika kau tidak memberitahunya.”

“Bagaimana bisa? Aku-aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya, Jess! Kau tahu, aku adalah wanita yang lemah. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika aku mengatakan hal itu. Dan bagaimana dengan Ha Jin? Dia-dia temanku. Gadis beruntung yang telah mendapatkan cinta Jungkook. Lalu, dengan mengatakan perasaanku pada Jungkook, sama saja bahwa aku telah merebut kebahagiaan Ha Jin.” Jelas Han Bi panjang lebar. Sementara itu tangannya sibuk untuk menghapus setiap air mata yang jatuh ke pipinya. Jessica mendengarkannya dengan seksama.

“Kau, benar-benar wanita yang terlalu baik, Bi.” Jessica lagi-lagi menghela nafas panjang. Dirinya benar-benar tidak tahu, apa lagi yang harus ia katakan untuk sahabatnya itu. Han Bi menggigit bibirnya sambil menahan tangis. Sungguh, ia merasa benar-benar bingung saat ini. Dia hanya bisa diam, karena Han Bi tahu sahabatnya itu pasti sedang kesal padanya. Tetesan air mata lagi-lagi jatuh di pipinya. Han Bi kembali menangkup wajahnya.

“Cry as hard as you want to. But just make sure that when you’re finished, you never cry for the same reason again.” Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali menangis, meluapkan seluruh perasaannya. Terkadang ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah. Tetapi, dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.

—*—

[Busan. August, 30th. In 09.47 p.m. KST]

Pelataran kampus mulai ramai dengan mahasiswa dengan berbagai kesibukan mereka yang beragam. Han Bi menghentikan langkahnya tepat didepan halaman fakultas seni yang ramai oleh mahasiswa yang sedang melakukan aktifitasnya. Biasanya ia segera melangkah kesana dan duduk disamping Jungkook yang sibuk menggoreskan pensilnya diatas buku sketsa yang dipenuhi oleh lukisan tangannya. Namun saat ini, dirinya belum berani untuk bertemu dengan pria itu. Han Bi menggelengkan kepalanya dengan tegas sambil kembali melangkahkan kakinya, tanpa mencoba untuk melirik taman fakultas seni sama sekali. Walaupun lehernya terasa ingin menoleh namun sekuat tenaga ia menahannya.

Suara hentakan sepatu High heels berwarna hitam yang ia pakai, dengan lantai marmer tersebut, menggema ke seluruh penjuru koridor kampus. Han Bi berjalan sedikit tergesa menuju ruang kelasnya, sehingga ia tidak sengaja menabrak seorang pria dan membuat keduanya terjatuh. Han Bi merasakan nyeri  yang luar biasa pada pergelangan kakinya. Pria itu segera bangkit. “Maaf,” saat Han Bi mendongak, matanya membulat sempurna tatkala melihat wajah yang selalu menghantui pikirannya itu, ada di hadapannya. “J-jungkook?”

“Oh! Han Bi. Kau tidak apa-apa kan?” Jungkook tiba-tiba berubah menjadi panik. Ia segera mengulurkan tangannya, untuk membantu Han Bi berdiri. Han Bi segera meraih tangannya, dan mencoba untuk berdiri. Namun kaki nya terlalu sakit untuk menopang tubuhnya, sehingga ia jatuh kembali, tapi kali ini Jungkook segera menangkapnya.

“Aww! Sakit.” Gadis itu meringis sakit, sementara tangannya mencengkram bahu Jungkook erat. Han Bi masih belum sadar sepenuhnya, akan posisinya saat ini.

“Sepertinya kakimu terkilir.” Jungkook berusaha untuk melihat wajah Han Bi. “Mau ku bawa ke klinik?” Gadis itu dengan cepat menggeleng. “Tidak usah, tidak apa-apa.” Namun Jungkook segera berbalik dan berjongkok. “Naiklah! Aku tidak terima penolakan.” Sekarang Han Bi tak bisa mengelak lagi. Ia pun segera naik ke punggung Jungkook.

 

—*—

Han Bi tengah duduk menyender di atas ranjang pasien, sambil menatap pergelangan kaki kirinya yang dibalut oleh perban kain.

“Maafkan aku membuatmu jadi seperti ini.” Kepala Han Bi spontan menoleh kearah Jungkook. Ia tersenyum seraya berkata, “Tidak apa-apa. Ini salahku, karena jalan tergesa-gesa.” Jungkook balik menatapnya, kemudian tersenyum lebar. Tuhan, rasanya Han Bi ingin mendongak dan melarang lelaki bernama Jeon Jungkook itu untuk tersenyum dihadapannya dan membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. Namun apa daya ia justru hanya bisa menunduk semakin dalam.

“Kau kenapa, Bi?” Tanya Jungkook sedikit tertawa. “Kau terlihat aneh.”

‘Tuhan. Jika aku menunjukkan perasaanku yang sebenarnya sekarang, apa dia juga akan bersamaku sekarang?’ Ucapnya dalam hati. Ia memegangi dadanya dan merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

“Bi, kau tahu? Ternyata Ha Jin juga mempunyai perasaan yang sama dengan ku. Dia, dia juga menyukaiku! Hahaha” Kabar gembira Jungkook, terdengar seperti kabar duka bagi Han Bi. Gadis terdiam memperhatikan wajah gembira Jungkook. ‘Andai aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, apa kau juga akan menunjukkan wajah gembira itu di hadapanku, Jeon? Kurasa tidak.’ Han Bi menggigit bibirnya, dan memalingkan wajahnya dari Jungkook.

“Ah, mungkin akan seru jika aku berkencan padanya malam ini,” Han Bi berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.

“Dan memutuskannya besok pagi.” Sontak Han Bi segera menoleh kearah Jungkook.

“A-a-apa?” Ia tidak mengira Jungkook akan sejahat itu. Setahunya Jungkook adalah pria yang baik.

Han Bi memang belum mengetahui sepenuhnya tentang Jungkook. Ia dan Jungkook tak sengaja bertemu di perpustakaan kampusnya. Sejak saat itu mereka menjadi teman dekat. Mereka satu kampus, namun berbeda jurusan. Jungkook mengambil jurusan seni, dan Han Bi mengambil jurusan bahasa. Semua mahasiswa fakultas seni tahu, bahwa Jungkook bukan pria baik-baik. Dia bahkan di cap Playboy oleh semua mahasiswa fakultas seni. Tapi Han Bi benar-benar tidak mengetahui hal itu.

“Kenapa kau seperti itu?” Pertanyaan itu, terlontar begitu saja dari mulut Han Bi.

“Karena, aku tidak bisa mencintai seseorang.” Jawaban Jungkook membuat Han Bi kembali merasakan kesedihan.

“Jika tidak tahu bagaimana caranya mecintai, sebaiknya belajarlah untuk peduli.” Mata bulat milik pria itu menatap  wajah Han Bi. Lalu ia tersenyum simpul.

“Aku sudah melakukannya.”

“Kapan?” Han Bi mengerutkan dahinya.

“Tadi. Kakimu terkilir, lalu aku menggendongmu ke klinik dan mengobatimu. Apa itu bukan suatu bentuk kepedulian?”

Han Bi diam mematung, dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Jawaban Jungkook benar-benar diluar dugaannya. Entah ia harus senang atau sedih. Yang jelas sekarang perasaan senang lah yang dominan.

“Panas sekali hari ini.” Jungkook segera membuka hoodienya. Pria itu terlihat tampan dengan keringat yang muncul didahinya, membuat sedikit rambutnya basah. Han Bi susah payah menelan salivanya. Matanya tak bisa lepas untuk memandang pria tersebut.

“Sebegitu tampan kah aku, hingga kau melihatku seperti itu?” Han Bi dengan cepat menggeleng, ada sesuatu yang salah pada pikirannnya. “Tidak juga.” sanggah Han Bi, cemberut.

“Bi, pertama kali aku bertemu denganmu, aku jadi semakin percaya bahwa malaikat itu benar-benar ada.” Han Bi tertawa mendengar pernyataan Jungkook. Gadis itu berusaha untuk tidak terbang. Walaupun jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, menghasilkan semburat merah dikedua pipinya.

“Aku serius, Bi. Kau adalah gadis yang baik hati. Sangat baik. Terimakasih sudah mau menemaniku selama ini.” Baru kali ini Han Bi melihat wajah Jungkook, terasa sangat menenangkan. Sebuah senyuman terukir di indah di wajahnya.

“Jika seseorang menyakitimu, atau membuatmu terluka, segera beritahu padaku. Aku akan memberi orang itu pelajaran.” Han Bi terkekeh pelan. “Kau seorang malaikat, yang harus mendapatkan pria seperti malaikat juga, Bi.” Tangan Jungkook kini tengah menggenggam tangan Han Bi. “Jika ada orang yang harus melindungimu, akulah orangnya.”

—*—

[Busan. August, 31th. In 18.17 p.m. KST]

 

Keesokan harinya, dari pagi hingga sore ini Han Bi tidak melihat keberadaan Jungkook. Biasanya pria itu selalu duduk di bawah pohon besar dekat perpustakaan kampus. Bahkan ia rela bolos kelas Mr. Huang untuk bisa mencari Jungkook ke seluruh penjuru kampus.  Han Bi terpaksa harus berjalan pincang, karena rasa sakit di pergelangan kakinya belum sepenuhnya pulih.

“Hey, Lee Han Bi!”

Han Bi enggan menoleh, karena ia sudah tahu siapa yang memanggilnya dengan nama lengkapnya seperti itu. Jessica Lee, temannya yang begitu cerewet itu kini sedang menopang tubuhnya dengan meletakan tangan diatas lututnya sambil mengatur nafasnya seolah ia baru saja mengikuti kejuaraan berlari yang sangat diimpikannya. Jessica menegakkan tubuhnya lalu ia duduk didepan Han Bi.

“K-kau sekarang juga cepat pergi ke rumah sakit!” Ujar Jessica dengan nada suara yang tercekat-cekat masih merasa kelelahan

“Aku tidak sakit, untuk apa pergi kesana?” jawab Han Bi dengan nada datar. ‘Oh Tuhan, bagaimana ini? bagaimana bisa aku mengatakan hal ini kepada nya?’ Ucap Jessica dalam hati panik.

“J-jungkook di-dia kecelakaan!”

“A-apa?!” Tiba-tiba ia merasakan dadanya sesak. Kakinya lemas. Cairan di mata nya mulai mendesak untuk keluar.

 

At Hospital>>> [21.21 p.m. KST]

Han Bi duduk lemas di bangku tunggu, depan ruang IGD. Gadis itu benar-benar kacau saat ini. Ia benar-benar gelisah. Bibi Jungkook beberapa kali mencoba menenangkannya, namun telinga nya benar-benar tertutup rapat. Kedatangan Jessica bertepatan dengan keluarnya sang dokter dari dalam ruang IGD.

Han Bi, Jessica dan Bibinya Jungkook segera mengerubungi dokter tersebut.

“Kecelakaanya sangat parah, menyebabkan pendarahan pada otaknya. Keadaannya sekarang sangat kritis, Kalian semua banyak-banyaklah berdo’a. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”

Kaki Han Bi terasa lemas, ia terduduk lesu  di lantai rumah sakit. Penjelasan dokter tersebut membuat dadanya semakin sesak. Jessica mencoba menenangkan Han Bi dengan cara memeluknya. Han Bi menangis, menangis sejadi-jadinya di pelukan Jessica.

“Jessica, kau harus menyelamatkannya. Tolong buat dia sembuh.” Isak tangis Han Bi, membuat sebagian pengunjung rumah sakit memperhatikan mereka. Gadis itu segera melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke ruang IGD. Jessica sempat menahannya,  gadis itu memang keras kepala.

“Jung..kook.” Ia tak kuasa lagi  untuk menahan tangisannya. Melihat kondiisi Jungkook, yang terbaring lemah di tempat tidur. Dengan balutan perban di kepala dan kedua tangannya. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Keadaan Jungkook benar-benar parah.

“Jungkook! Jungkook, bangun. Kau, kau harus kuat” Ia menggenggam tangan Jungkook erat. Sesekali menciumnya.

“Kau bisa mendengarku kan? Jung, aku- aku menyukaimu. Bahkan lebih dari itu, aku sangat sangat menyayangimu. Kau harus kuat, kau harus melindungiku! Aku mencintaimu, Jeon. Aku sudah memendam perasaan ini selama bertahun-tahun Jung! Aku mencintaimu.” Tiba-tiba, tangan Jungkook bergerak perlahan. Dan membuka sedikit matanya. Han Bi seketika tersenyum.

“Bagaimana bisa kau mencintaiku? Aku lelaki brengsek, Bi. Aku hanya bisa memainkan perasaan wanita. Aku kan sudah bilang. Kau harus mencari pria yang baik.” Ucap Jungkook dengan suara yang serak, nyaris tidak terdengar.

“Aku tak peduli. Karena aku hanya bisa mencintaimu, jadi aku tidak bisa mencintai orang lain sebesar aku mencintaimu.” Han Bi meletakkan punggung tangan Jungkook, di pipinya. Membuat tangan Jungkook basah oleh air matanya.

“Aku juga, mencintaimu Bi. Tapi aku terlalu takut. Aku takut menyakiti perasaanmu. Maafkan aku karena membuatmu, memendam rasa cinta itu selama tiga tahun ini. Aku sungguh minta maaf.”

Han Bi menggeleng dan tersenyum. “Tidak, Jeon. Jangan meminta maaf. Ini bukan salahmu.”

Tangan Jungkook menunjuk pada sebuah tas di pinggir kursi yang Han Bi duduki, seperti mengisyaratkan Han Bi untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Ia meraih sebuah buku dengan cover berwarna biru. Rupanya itu adalah buku sketsa milik Jungkook.

“Aku berikan ini padamu. Terimakasih telah mencintaiku, Bi.” Nafas Jungkook tak beraturan. Ia terlihat sangat lemas. Sudut matanya berair.

“Aku mengantuk, Bi. Aku akan tidur. Selamat malam, Han Bi. Aku mencintaimu.”

Tangis Han Bi pecah, saat mendengar alat detektor jantung Jungkook membunyikan bunyi ‘tiiit’ yang panjang. Sekarang, Jungkook sudah tertidur pulas, untuk selamanya.

 

-FIN-

Advertisements

3 thoughts on “[What is Your Color?] Growing Pains – Oneshot

  1. 전's

    mirip banget ama kisah nyataku :””/curhat/tapi semoga endingnya nggak sama/loh?/

    numpang curhat dikit/aku ugha suka ama orang udah 3 taun juga. tapi nggak berani ngungkapin./cukup sekian

    ff nya bagus. nyesek deh. feel nya dapet banget malah.

    ditunggu karya selanjutnya. keep writing 🙂

    Like

  2. gabriella berliana

    Walaupun tidak sepenuhnya sama, tapi cerita ini mampu membuat saya nostalgia dengan masa lalu, apalagi setelah membaca kata ” … rasa cinta itu selama tiga tahun..” haa .. benar-benar, cinta itu seperti kopi manis dan pahit akan selalu ada di dalamnya. Good luck, semoga ceritanya semakin hari semakin bagus 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s