[BTS FF Freelance] Run Sufflower – (Chaptered 1)

flowers

Tittle: Run Sufflower

Author: Hy-AKA ^^

Cast: Jung Hoseok (BTS) and So You

Genre: Holiday, comedy, and little bit for romance

Rating: Teenager

Length: One Shoot

Summary:

Gedung-gedung, kantor, jalanan ibu kota… keseharian yang berjalan baik-baik saja. Tak ada yang berbeda untuk segala rutinitas di kota. Ingin rasanya menjalani liburan di desa. Sayang sekali seluruh keluarga dekat tinggal di kota besar..

RUN SUFFLOWER

Cuaca perkotaan rasanya sedikit lebih panas dari sebelumnya. Semua orang memakai lengan pendek atau baju kantor yang sedikit lebih tipis untuk meredakan gerah. Berbeda dengan SoYou, ia malah memakai kemeja panjang dengan celana kantor sehari-harinya. Begini lebih baik menurutnya. Ia tak suka kulitnya terekspos matahari. Maklum perawatannya sulit.

SoYou membawa setumpukkan laporan yang telah selesai ia kerjakan beserta selembar kertas kepada atasannya yang baru saja menutup panggilan. Sang atasan rupanya lebih tertarik membaca selembar kertas itu ketimbang laporan. Dia tersenyum sesaat dan memberikan cap.

“Selama kau bekerja kau jarang sekali meminta cuti SoYou-ssi” Ny Soo memberikan surat cuti itu pada SoYou. “Ku rasa ini ide bagus. Tapi kemana kau akan pergi?”

“Desa tempat tinggal kenalan.. aku ingin merasakan hidup di desa. Kebetulan disana sedang panen bunga sufflower”

“Benarkah? Pulang nanti bawakan aku pemerah pipi yah..” SoYou ikut tertawa bersama Ny Soo. “Jika kau memberikannya, aku akan memberimu cuti lagi tahun depan. Kali itu bukan lagi 14 hari seperti sekarang. Kau bisa 20 hari”

“Aku seperti orang hamil saja..”

“Baiklah. Nikmati liburannya!” ucap Ny Soo menyambut kepergian SoYou yang berbalik sejenak sekedar untuk mengangguk.

RUN SUFFLOWER

SoYou memandangi pemandangan dari balik kaca jendela kereta. Ia sudah tak sabar berkunjung ke desa. Seumur hidupnya inilah kali pertama ia bepergian dari Seoul. Ia tak punya keluarga dekat di pedesaan, untunglah ia memiliki seorang teman di sana. Teman lama memang. Tapi setidaknya komunikasi mereka tetap berjalan baik meski sudah 5 tahun tak berjumpa semenjak lulus SMA.

“Yeobseyo… ah, Hyeri aku sudah sampai. Kapan kau menjemput?” SoYou menelepon temannya itu. “Penjemputnya menungguku?” ia menengok kesana kemari mencari orang yang dimaksud Hyeri.

Dari arah kursi penunggu. Seorang pria berlari tergopoh-gopoh menuju SoYou. “Anda SoYou?”

“Ye..” SoYou mengangguk heran.

“Syukurlah..” pria itu langsung membawa tas SoYou ke bagasi mobil.

“Cha.. Chakkaman agashi..” SoYou berusaha menghentikkan gerakkan pria itu memasukkan tasnya kedalam bagasi.

“Ah.. Mian. Kau mungkin mengira aku akan mencuri tasmu. Eish.. dimana sopan santunku pada gadis kota. Kenalkan aku Jung Hoseok. Aku tetangga Kim Hyeri”

“Ah.. begitu” SoYou tertawa geli mengingat dugaan-dugaan buruknya pada Hoseok. Setelah semuanya selesai. SoYou masuk kedalam mobil. Tujuan mereka tentu saja ke rumah Hyeri.

Walau mobil Hoseok tak begitu besar, serta modelnya yang yah.. lumayan ketinggalan jaman. Setidaknya kondisi mobil itu sangat baik. Kira-kira terlihat seperti mobil baru pada masa kejayaannya dulu. SoYou menghirup segarnya udara pedesaan. Senyumnya selalu merekah melihat panorama yang disuguhkan padanya. Tidak sia-sia ia berkunjung ke desa. Ini bahkan jauh lebih baik daripada mall, dan tidak menguras dompet tentunya.

Disini SoYou bukan hanya sekedar berlibur, dia melakukan aktivitas bertani yang dapat menambah ilmu juga isi dompet. Tidak kok… sebagian besar tujuan untuk merasakan kehidupan desa semata.

Tanpa ia sadari, mereka telah tiba di pekarangan rumah Hyeri yang luas. Hyeri berlari kecil menyambut SoYou dan Hoseok bersama anak laki-lakinya yang mungkin masih TK. Sebelum Hoseok kembali ke rumah, mereka minum teh bersama-sama dahulu.

“Oh ya, panennya kapan?” tanya SoYou.

“Pagi besok. Jangan lupa gunakan sarung tangan. Bunga sufflower cukup tajam untuk melukai tangan mulusmu SoYou-ssi” mereka tertawa mendengar penuturan Hoseok.

“Besok kau juga akan memanen Hoseok-ssi?” tanya SoYou lagi.

“Aku punya sawah yang harus diurus.. lagipula petik-memetik bunga itu identik dengan wanita bukan?”

“Jangan sok jantan kau Hoseok! Memangnya bocah mana yang rela-rela naik bukit demi bunga lonceng yang katanya indah sekali…” Hoseok memasang wajah bete mendengar Hyeri. Dia tambah bete lagi mendengar yang lainnya tertawa.

“Bunga itu juga untukmu tau!” bela Hoseok, mengalihkan pandangan kesal ke samping.

Hyeri menyuruh agar SoYou mendekatkan telinganya sedikit. Penasaran, SoYou pun melaksanakan. “Kau tahu tidak. Sebelum aku pindah ke Seoul aku SMP disini. Dia dulu naksir padaku” bisik Hyeri diikuti tawa geli SoYou. “Sayang sekali Hoseok.. bunga-mu tak berpengaruh padaku. Aku lebih menyukai teman sebangkumu. Lihat ada Hyori disini..” lantang Hyeri sembari memangku Hyori yang duduk di sebelahnya tadi.

Hoseok mendesis kesal. “Masa lalu yah masa lalu. Aku pulang dulu. Gamsahamnida atas tehnya Hyeri.. SoYou, sampai jumpa” Hyori meloncat dari pangkuan ibunya mengikuti Hoseok menuju mobil. Anak itu ingin sekali bersama Hoseok meski Hoseok sendiri menolak secara halus. Hyeri dan SoYou yang melihat betapa lengketnya Hyori, tertawa geli. Dari kejauhan mereka melihat Hoseok membungkuk untuk berbicara dengan Hyori, sejenak kemudian anak itu mengangguk dan masuk mobil. “Hyeri! Anakmu kuculik yah!” teriak Hoseok.

“Silahkan saja. Dia bagus menjadi budakmu” teriak Hyeri juga.

“Kau ibu yang sangat baik. Ayo Hyori paman punya kesemek di rumah” Hoseok pun melaju ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa kaki saja dari rumah Hyeri. Masih ingatkan kalau mereka bertetangga?

“Hyeri-ah.. ini SoYou teman mu itukan?” tanya Kim Taehyung yang baru pulang dari kantor desa tempatnya bekerja. Ia meletakkan payungnya di gantungan lalu melap kaki. Hyeri menyambut suaminya ceria. Dia mengangkatkan tas suaminya ke kamar sementara Taehyung minum teh bersama SoYou. “Hmm.. sepertinya Hyori bersama bossnya hari ini” Taehyung memandang seisi ruang tamu.

“Baru saja dia pergi bersama Hoseok” SoYou melahap kue kering. Setelah berbicara cukup banyak dengan Taehyung, tentang kota, desa, kesibukkan di kantor dan banyak hal lagi. SoYou beristirahat di kamarnya yang berada di lantai dua. Rumah ini memanglah bertingkat, tapi tidak semewah yang terfikirkan. Rumah ini sederhana namun memikat dengan aneka tanaman hias di pekarangan yang luas, serta hampir keseluruhan bangunan terbuat dari kayu. Namanya juga rumah adat Korea. Rumah ini warisan turun-temurun keluarga Taehyung, sama seperti rumah-rumah lain disekitarnya.

Ketika semua orang terlelap. Lampu mulai dimatikan, namun ada cahaya dari arah jendela yang menarik perhatian SoYou. Ia membuka jendela. Angin malam yang dingin menerobos lembut ke dalam kamar, menggerakkan kain gorden di sisi jendela. Matanya memejam menikmati udara segar malam itu. “Indahnya bintang-bintang…” SoYou menopangkan tangannya pada bibir jendela. Kepalanya menoleh ke rumah sebelah, rumah Hoseok. Sepertinya orang itu juga belum tidur, lampu rumahnya masih menyala semua. SoYou melongokkan kepalanya ke bawah tepat ke arah Hoseok yang tengan tiduran santai di pekarangan samping rumah dekat pagar. “Hoseok-ssi!”

Hoseok nampak mengedarkan pandangannya mencari arah suara. “Oh! Kau di lantai atas yah”

“Ye.. Hoseok-ssi gomawo tadi repot menjemputku”

“Itu bukan masalah. Lagipula aku yang menawarkan diri menjemputmu. Aku penasaran saja bagaimana rupa anak kota..”

“Ah…! kau fikir gadis kota itu memakai baju minim di musim panas ini?” SoYou tertawa kecil. “Aku tak mau kulitku rusak tersengat matahari”

“Bukan itu. Ku fikir kau ada penelitian atau hanya sekedar liburan. Rupanya kau jauh-jauh kesini dengan alasan merasakan kehidupan desa” mereka tertawa bersama. “Cha!” Hoseok pun bangkit dari duduk. “Ini sudah malam. Aku mau tidur dulu, sampai jumpa pagi nanti”

“Ne!”

“SoYou-ssi awas!” sebelum SoYou dapat menyadarinya. Seekor kelelawar nyasar ke dalam kamar lewat jendela. SoYou berusaha mengusirnya dengan sapu, tapi kelelawar itu malah terbang tak tentu arah dilangit-langit kamar. Untunglah kelelawar itu akhirnya menemukan jalan keluar lewat ventilasi. “SoYou-ssi kau baik-baik saja”

SoYou berlari ke jendela. “Ne! Nan gwaencahana”

“Syukurlah. Cepat tutup jendela, untung saja yang masuk kelelawar bukan maling”

“Maling? Disini rawan?” panik SoYou lekas menutup jendela.

“Tentu saja tidak. Hanya maling bodoh yang mau merampok rumah petani” gumam Hoseok berjalan masuk ke dalam rumah. Satu persatu lampu di setiap sekat ruangan di rumah itu dimatikan, dan yang tersisa hanya lampu tidur saja. Malam indah!

RUN SUFFLOWER

Pagi-pagi buta SoYou dan para petani lainnya sudah mulai memanen bunga Sufflower. Ketika tangannya menyentuh bunga itu, ia teringat cerita dari neneknya mengapa bunga kuning cerah itu bisa menjadi merah. Katanya, bunga itu memerah karena cipratan darah dari tangan-tangan petani yang memetiknya dengan tangan kosong. Bunga-bunga ini laksana emas bagi petani yang mencari rezeki hingga mereka rela tangan mereka terluka.

SoYou membuka sarung tangannya dan mencoba memetiknya dengan tangan telanjang. “Sshh… perih..” tangannya agak lecet. SoYou memasang kembali sarung tangannya. Pekerjaan ini sangat menyenangkan baginya. memetik bunga sambil menikmati panorama alam, ditambah lagi dapat menghasilkan upah. Pantas saja petani disini selalu ceria meski rumah mereka hanya kayu. Benar, bahagia itu tak perlu harta melimpah. Ketenangan seperti inilah yang lebih membuatnya bahagia.

“SoYou! Mari minum teh” ajak salah seorang ahjumma pemetik bunga seraya berjalan ke atas tanah lapang tempat yang lainnya juga berkumpul. SoYou mengangguk senang.

Rupanya bukan hanya pemetik bunga saja disana. “Hei Hoseok-ssi” SoYou mengambil posisi disamping pria itu. Hoseok memberikan SoYou beberapa buah kesemek kering. Tentu saja dia menerimanya.

Usai minum-minum teh. Para pemetik bunga membawa bunga-bunga itu ke rumah Hyeri untuk diolah. Bunga-bunga itu diangkut menggunakan mobil bak terbuka yang cukup besar. Hoseok-lah yang mengemudikannya. Beberapa pemetik yang akan mengolah pergi menggunakan sepeda, ada juga yang jalan kaki. SoYou mendapat bagian menjaga bunga di belakang. Sepanjang perjalanan ia dapat menikmati liuk anak sungai yang mengairi sawah ditemani musik radio mobil.  Ia… ia jatuh cinta pada desa ini.

Setibanya di tujuan. SoYou mencuci bunga-bunga itu dalam keranjang yang dicelup-celupkan ke dalam air mengalir, ditiriskan lalu dijemur di tempat terbuka. Jika bunga-bunga itu telah teroksidasi, maka dengan sendirinya bunga itu akan memerah. Beberapa hari proses peragian akan mengubah warnanya menjadi merah cerah dan lengket. Kemudian dipukul-pukul dalam lesung kayu, dibulatkan seperti bola kemudian dijemur kembali sampai akhirnya menjadi bahan dasar pemerah pipi.

“Ahjumma lihat ini!” SoYou menertawai wajah coreng Hyori yang seperti orang-orang indian. Anak itu mewarnai pipinya dengan sisa tumbukkan bunga di lesung. SoYou berkelit dari serangan pemerah pipi Hyori. Sayang sekali, Hyori jauh lebih gesit dari yang ia kira. Bagian atas bibirnya terkena pemerah pipi. “Wah ahjumma punya kumis seperti kakek Namjoon!”

Hoseok yang baru datang membawa bunga-bunga yang akan dijemur, berlari ke arah SoYou. “SoYou-ssi neo gwaenchana? Hidungmu berdarah!” Hoseok mengeluarkan saputangan. Sontak saja Hyori dan SoYou menertawainya.

“Ania, ini hanya pemerah pipi” SoYou meraih saputangan itu dan melap bagian atas bibirnya. “Sudah bersih?”

“Tentu saja belum, cucilah muka kalian. Kalau belum… tak ada kesemek atau teh sore ini” SoYou dan Hyori segera bangkit. Mereka memberi hormat laksana prajurit lalu berlari ke sumur.

“Ahjumma, apa kau pernah mewarnai kain dengan cairan sisa penekanan bunga?” tanya Hyori. SoYou menggeleng. “Kajja!” Hyori menarik pergelangan tangan SoYou menuju bagian belakang rumah. Disana ada Taehyung yang tengan memutar alat penekan air bunga. “Appa! Sarinya mana?”

“Kau mau mewarnai kain lagi?” Hyori mengangguk. Taehyung mengambil seember cairan kuning dibelakangnya. Dengan penuh semangat, Hyori menarik SoYou menuju sumur. Hyori mencelupkan kain putih kedalam ember perasan bunga lalu merendamnya dalam air bersih, pigmen kuning yang kuning yang larut dalam air meyisakan warna merah muda yang cerah.  SoYou tersenyum cerah.

“Cantiknya…”

“Ayo kita jemur!” mereka berlari menuju tempat penjemuran dan menjemur kain-kain itu. setelah kering, kain-kain itu dijahit oleh Hyeri menjadi baju. Warnanya bukan hanya merah muda saja, ada juga yang orens dan kuning. SoYou juga belajar menjahit. Karena ini kali pertama ia menjahit, jadi maklum saja ia turut menjahit bagian lubang tangannya. “Ahaha!… ahjumma kau mau membuat sarung bantal?” SoYou dan Hyeri ikut tertawa.

“Ide bagus. Ku rasa sarung bantal di kamarku perlu diganti” SoYou meneruskan jahitannya di bagian lubang kepala dan hanya menyisakan bagian bawah baju sebagai tempat memasukkan bantal. SoYou juga belajar cara membordir manual. Kadangkala tangannya tertusuk jarum namun ia tetap tertawa. Hyori yang bahkan anak laki-laki rupanya lebih luwes membordir.

“Wah! Baju yang bagus. Untuk siapa?” Hoseok datang-datang langsung ambil tempat di tengah-tengah.

“Ini mungkin untuk atasanku, Ny Soo” jawab SoYou.

“Kalau aku untuk James!” semangat Hyori.

“Sejak kapan kura-kura bisa pakai baju?”

“Anjing saja bisa, kenapa kura-kura tidak?” protes Hyori. Hoseok memilih mengalah pada pendirian Hyori. Toh itu baju buatan dia, untuk siapa itu juga terserah dia bukan. “Ahjumma habis ini kita bikin celana untuk James eotte?”

“Heh?” Hoseok menggeleng tak habis fikir.

“Apapun untuk Hyori tampan!” SoYou menggandeng Hyori ke dalam rumah.

Kini tinggal Hyeri yang menyulam, Taehyung yang memeriksa bola-bola yang hampir kering dan Hoseok yang makan nasi kepal di teras rumah. Satu personel lagi datang. nenek Jae baru saja selesai menjemur sisa bola-bola di atap lumbung. Beliau duduk di samping Hoseok sambil menepuk paha Hoseok. Pria itu tersenyum menyapa nenek Jae. Wanita tua itu melap keringatnya lalu meminum air putih yang memang telah disediakan Hyeri.

“Hoseok-ah..”

“Ne halmeoni”

“Apa kau tak kesepian sendirian di rumah besar itu? kakakmu sudah menikah dan menetap di kota. Orang yang dulu kau taksir juga sudah memiliki keluarga..” seketika Hoseok tersedak nasi. “Aigo… makanlah pelan-pelan” nenek Jae menyodorkan air.

Hoseok agak lega setelah minum air segelas penuh. “Ah… aku masih belum dapat yang tepat halmeoni..” Hoseok tersenyum canggung.

“Wah ada Jae halmeoni” Hyori dan SoYou duduk di masing-masing sisi nenek Jae. “Kalian bicara apa?” tanya SoYou selagi Hyori pergi bersama ayahnya ke kandang James.

Nenek Jae menatap SoYou dengan senyum mengembang, yang ditatap tersenyum balik pada nenek Jae. “Hoseok-ah ku fikir kalian cocok” sontak keduanya melongo. Mereka saling menatap, yang satunya meminta penjelasan, yang satunya lagi menepuk jidat. Bingung mau  bilang apa. “Kalian menikah saja, sama-sama lajang di usia seperti ini tidaklah menyenangkan” dan mengertilah sekarang SoYou.

SoYou terbahak. Terpingkal-pingkal malah. Dan seketika diam. Ia tak berbicara apa-apa dan pergi begitu saja menuju jalan setapak menuju kebun bunga Sefflower. Hoseok ingin sekali menjelaskan sesuatu agar SoYou tak salah paham, tapi ia tak berani.

“Halmeoni bukankah ini keterlaluan?” ujar Hyeri mendekati nenek Jae.

“Aku tak merasa ini salah. Jadi untuk apa menyesali?” dengan santainya nenek Jae meminum air putih.

RUN SUFFLOWER

Usai mengurusi bunga-bunga seperti kemarin-kemarin. SoYou menghabiskan sisa siang ini dengan berjalan-jalan bersama Hyori. Kebetulan mereka bertemu Hoseok yang tengah menanam padi. Hyori berlari diatas lumpur sawah ke Hoseok. Tampaknya Hoseok agak kaget dengan kedatangan dadakkan Hyori. Ia menggiring Hoseok menuju jalan setapak sawah.

“Anyeong SoYou-ssi” SoYou membalas senyum Hoseok. “Untuk yang kemarin..tolong maafkan Jae halmeoni”

“Gwaenchana. Itu lebih baik daripada diperkenalkan dengan anak teman ibumu bukan? Aku sudah mengalaminya 2 kali” SoYou mengibaskan tangannya santai. “Boleh aku bantu menanam padi?”

“Tentu saja. Tapi upahnya kesemek”

“Hah! Itulah yang monster kesemek ini inginkan, bukan begitu raja kesemek?” Hyori menganggukki ucapan SoYou. Mereka berdua segera menggulung celana sampai ke pangkal betis. SoYou mengambil 2 pasang boots dari traktor Hoseok. Akan tetapi Hyori tak mau memakai boots. Ia bertelanjang kaki masuk ke sawah. “Hyori pakailah bootsmu!” Hyori tak mengindahkan perintah SoYou maupun Hoseok. Ia asik saja dengan pencarian belutnya.

“Ahjumma! Ahjussi! Aku dapat belut!” seru Hyori seraya naik ke atas permukaan. SoYou dan Hoseok pun turut ke permukaan.

“Wah besar sekali tangkapannya” SoYou menusuk-nusuk kepala belut yang hampir mati dengan jarinya.

“Hyori sudah ku bilang pakai boots. Coba lihat kakimu digigiti 2 lintah” Hyori dan SoYou menengok ke bagian kaki yang ditunjuk Hoseok. Jujur, SoYou agak merinding geli melihat lintah-lintah itu mengisap darah Hyori sampai tubuh mereka membesar. Hoseok mengambil korek lalu meletakkan apinya di bawah tubuh lintah. Perlahan lintah itu melepaskan diri dan mati. “Sekarang pakai bootmu” Hoseok mengangkat tubuh Hyori di atas boots.

“Ania..! ania!” sebisa mungkin Hyori mengangkat kakinya dari lubang sepatu boots. Keringat dingin menjalari tubuhnya. Ia meronta minta dilepaskan, bahkan sampai menangis. “Ahjussi.. ania”

“Hoseok-ssi, ku rasa Hyori takut pada sepatu boots” ujar SoYou iba.

“Ku rasa juga begitu. Hyori kenapa kau takut dengan boots? Ini tidak berbahaya”

Hyori menyeka ingus dan air matanya dengan baju. “Ani! Boots ini akan menelan kakiku”

“Geureh.. tapi kau tak akan dapat bahan bakar raja kesemek” Hoseok berkacak pinggang.

“Hyori-ah, eotteokhe? Ahjumma sangat ingin makan kesemek. Lagipula boots ini tak berbahaya, dia bukannya menelan. Tapi melindungi kakimu agar tak digigit lintah. Bayangkan saja jika lintah-lintah itu terus menghisap darahmu.. kau mungkin akan mati kehabisan darah…” SoYou memasang wajah sok dramatisnya. Kelihatannya ucapan SoYou berpengaruh pada Hyori. Bocah itu menelan ludah, matanya menatap ngeri lubang boots. Hyori berlari ke rumahnya. “Yah… dia malah ketakutan”

SoYou dan Hoseok kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tak lama kemudian Hyori kembali datang dengan dua plastik besar dan gulungan tali. Ia berlari hingga hampir terjatuh ke sawah.

“Hyori hati-hati!”

“Ahjumma aku tak perlu sepatu boots lihat!” Hyori berdiri dengan gagahnya. Tangannya berkacak pinggang, mirip seperti gaya superhero di tv. Ia memperlihatkan kakinya yang ditutupi plastik yang diikat dengan tali sampai batas paha. Brilian juga bocah ini. begitulah kira-kira pemikirang SoYou dan Hoseok. “Ahjussi! Raja kesemek akan membantumu, jadi siapkan upetinya arrata”

“Ne.. raja kesemek yang terhormat” Hoseok membungkuk layaknya rakyat pada rajanya.

RUN SUFFLOWER

Hari ini adalah hari kepulangan SoYou. Hyeri, Hyori, Taehyung, Hoseok dan beberapa petani termasuk nenek Jae mengatar kepergiannya di stasuin kereta. Mereka berpelukkan dan memberikan SoYou oleh-oleh untuk keluarga SoYou di Seoul.

“Ini bunga Sufflower dan kesemeknya” Hoseok memberikan SoYou keranjang anyaman. Gadis itu menerimanya dengan penuh suka cita.

“Aku akan datang lagi. Pasti.” SoYou melambaikan tangan sebelum memasuki gerbong. Ia duduk menghadap jendela. Hyori berlari sambil mengucapkan perpisahan pada SoYou. Ia menatap ke belakang, disana mereka masih berdiri sambil melambaikan tangan. “Jiwaku seperti berada di rumah sendiri saat berada di sini..” SoYou membaringkan kepalanya pada sandaran kursi.

“Chogi.. bisa aku duduk disini agashi?” tanya seorang pemuda sambil menunjuk tempat kosong di hadapan SoYou. Setelah dipersilahkan pemuda itupun duduk. “Anda akan bekerja di Seoul?” tanyanya.

SoYou menggeleng. “Saya berlibur disini”

“Owh.. sayapun begitu. Maklumlah liburan keluarga. Kami memiliki villa dekat pantai, butuh 2 jam menuju kesana bila menggunakan mobil”

“Keluargamu mana?”

“Mereka pulang duluan. Siang ini mereka akan ke Busan lalu ke Jepang”

Mereka terbilang cukup akrab sebagai orang yang baru kenalan. Sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk mengobrol, tidak juga sampai non stop. Merupakan suatu kebetulan karena tempat tinggal mereka hanya bersebelahan komplek. Dan jadilah mereka tetangga yang saling berkunjung satu sama lain.

RUN SUFFLOWER

“Seperti kataku 20 hari” Ny Soo memberi nafas naganya sebelum memberi cap pada surat cuti SoYou yang kedua kali. “Apa kau akan panen bunga lagi? Aku sangat menyukai baju dan pemerah pipi tahun lalu” SoYou tersenyum.

“Aku mungkin akan membawakanmu belut juga Ny Soo”

“Brilian. Aku menunggumu”

RUN SUFFLOWER

SoYou duduk menunggu kedatangan jemputannya. Tidak seperti tahun lalu, kedatangannya kali ini memang agak dadakkan. Wajar saja jika ia sampai menunggu lama.

“SoYou-ssi!”

SoYou berdiri membantu Hoseok memasukkan tas-tas. “Akhirnya kau datang juga”

“Barangmu lebih banyak” Hoseok menoleh ke belakang. “Kau akan lama?”

“20 hari”

Hoseok mengangguk dengan mulut membulat. “Bagaimana kalau kita ke kebun bunga langsung?” tawaran itu diterima SoYou. Ia amat merindukan ladang bunga itu, bahkan ia merindukan perihnya tertusuk sufflowers. Ia terlajur jatuh cinta pada desa penentram ini. “Para pemetik sedang mengolah bunga sekarang” ujar Hoseok saat SoYou berbalik dengan dahi berkerut heran.

SoYou duduk di rerumputtan. “Aku jatuh cinta pada desa ini. aku ingin tinggal saja disini” ia membaringkan tubuhnya di bawah kaki Hoseok. Dari bawah, Hoseok terlihat jauh lebih tinggi.

“Lalu kenapa tak tinggal saja?”

“Aku ingin. Tapi tak ada suatu alasan untuk itu, aku bahkan tak punya tempat pulang untuk menetap. Jika membeli rumah.. hah.. aku terlalu terbiasa dengan rumah yang ramai”

Hoseok berjongkok. “SoYou.. kenapa tak tinggal saja dirumahku?”

“Eh?”

“Kau butuh alasan? Bagaimana jika jadikan saja aku alasan penahan?”

“Bunga sufflowers-nya kuning cerah” SoYou bingung mengatakan apa. ia berlari di antara bunga-bunga sufflowers. Hoseok mengejarnya, ia menahan bahu SoYou dan membalikkan tubuh gadis itu menghadap wajahnya.

“Jangan lari dengan sufflower. Aku mengerti, setiap kali kau katakan jatuh cinta. Kau sedang menyatakan perasaanmu pada seseorang bukan desa ini. iya kan?” SoYou diam saja. Memang benar ucapan Hoseok. “Aku mengikutimu saat nenek Jae mengatakan kita cocok. ‘Disini kau menggumamkan aku jatuh cinta padamu, tapi aku ragu denganmu’,”

“Lalu kenapa?”

“Tidak. Hanya saja orang yang kau sukai itu transgender perempuan. Laki-laki yang kau temui itu perempuan! Dia yuri!” SoYou membulatkan matanya. Dia menepis tangan Hoseok dari bahunya.

“Orang yang kusukai yuri?” SoYou menutup wajahnya frustasi dengan tangan. “Tidak mungkin kau yuri!”

Sekarang gilirang Hoseok yang keheranan, dia menunjuk wajahnya sendiri. “Aku laki-laki normal”

“Tapi kau bilang orang yang kusukai Yuri” jadilah mereka terheran-heran berjamaah.*bahkan author pun heran dengan alur cerita sendiri 0,0*

“Ku kira yang kau suka itu Sung Lee? Dia orang yang satu kereta denganmu saat pergi pulang Seoul. Apa kau tak ingat orang itu sesekali mengunjungi ladang dan menumpang mobil makanya kau dapat tugas menjaga bunga di belakang?”

“Aku tak menyadarinya…ahahahah!!” merekapun tergelak bersama-sama. “Lagipula aku baru melihatnya saat pulang, dan saat pertemuan itu aku langsung tahu dia bukan laki-laki. Mana ada laki-laki tanpa jakun atau kumis?”

“Hei, jadi kau benar menyukaiku?” tanya Hoseok di sela tawa.

“Hoseok-ssi aku sudah terlanjur jujur karenamu. Jika kau menolakku, setiap hari akan ku tusuk kau dengan sufflower”

“Rupanya gadis kota sadis. Omo.. aku heran kenapa yah bisa jatuh hati pada gadis kota semengerikan ini” Hoseok mendekati SoYou untuk memeluk gadis itu. tapi tiba-tiba SoYou melempar bunga sufflower ke wajah Hoseok. Hoseok baru saja akan menangkap SoYou tapi tiba-tiba gadis itu mengangkat telefon atassannya.

SoYou-nim apa kau mengenal pemuda bernama Sung Lee. Dia mencarimu dari kemarin” ujar Ny Soo. Kini wanita paruh baya itu berbisik. “ku rasa dia menyukaimu. Buktinya dia membawa bunga. Hati-hati… ku rasa dia pria jadi-jadian”

“Ny Soo katakan padanya aku akan berlibur selamanya disini setelah menikahi pria berwajah sufflower ini. aku akan kesana setelahnya untuk mengurus pengunduran diri. Bye! Saranghae Ny Soo” SoYou menutup cepat telepon dan kembali melanjutkan pelariannya ke ladang sufflower. Berlari dan terus berlari hingga Hoseok menangkapnya dan menjerembabkan gadis itu di parit. Akhir yang kurang romantis memang… tapi namanya juga sufflowers. Nyambungnya dimana? Ah sambung-sambungkan saja. Tdha! Tdha!

ANDA SUDAH SELESAI MEMBACA

SADAKALLAHUL’ADZIM

 

JANGAN BOSEN BACA FF LAIN HYUN READER SEKALIAN

SEKIAN :3

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Run Sufflower – (Chaptered 1)

  1. I really adore this fic. The best i’ve ever read. Aku suka sama trivia pemerah pipi dan sun flower. Monster kesemek dan raja kesemek… Uh, hoseok juga keliatan humble banget… Oh, sampek bingung ngomongnya… Sumpah… Keren…

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s