[Chapter 3] The Prince of Vesperia and His Aide

vesperia 2
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | SHINee’s Lee Taemin as Erden

BTS’s Min Yoongi as Fyre | BTS’s Park Jimin as Alven

OC’s Icy & Reyn

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

beautiful poster by namtaegenic (Kak Eci) 

.

Unresolved.

.

Sepanjang malam, Icy memikirkan bagaimana belati milik Hurton bisa sampai di benteng perbatasan Vesperia, tak lupa kembali mempelajari peta hutan Hoogland, dan berlatih menarik pedangnya dalam waktu secepat mungkin. Rasa lelah dan nyeri di pergelangan kakinya akibat berkuda menjelajahi hutan bersama Reyn, belum juga hilang meski ia telah meminum obat yang diberikan oleh herbalis istana. Seakan dewi fortuna lenyap di peredaran, cahaya mentari disusul ketukan di pintu kamarnya bertandang tepat ketika Icy baru saja ingin merebahkan tubuh dan menutup matanya.

Kepala Killian menyembul dari balik pintu. Tanpa permisi ia masuk. Menyilangkan lengan di depan dada dan senyumnya terkembang lebar saat melihat Icy menggerutu sebal.

“Ayo, Icy. Nanti kita terlambat.”

Alih-alih turun dari kasur, Icy melihat jam saku di atas nakasnya. Dahi mengernyit dan selanjutnya ia tak segan-segan melempar bantal ke arah sang pangeran. “Demi Tuhan. Ini baru pukul tujuh, Killian!”

“Hei! Kau berani berbuat begini pada Pangeran Vesperia, huh?”

“Tentu. Karena aku tidak takut pada muka marahmu itu, tahu.”

Icy mendorong Killian keluar kamarnya. Membanting pintu tepat di depan wajah pangeran bertunik hijau gelap itu setelah memastikan tak ada pengawal di sekitar mereka.

Aku akan menunggumu di istal.”

“Jangan!” Membuka lagi pintunya, Icy lekas menarik tangan Killian. Setelah kemarin waktunya tersita untuk belajar berkuda dan mengabaikan tugas mendampingi Killian, Icy tak mau dicap sebagai pembangkang titah Raja meskipun Killian sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. “Sepuluh menit. Tunggu di kamarmu.”

Tepat sepuluh menit kemudian, Icy dan Killian bersamaan keluar dari kamar mereka masing-masing. Mengulum senyum, Killian sedikit takjub melihat penampilan Icy yang kini memakai jubah Vesperia. Ternyata, warna putih jauh lebih cocok daripada jubah dan pakaian berwarna gelap yang selalu membalut tubuh aide-nya itu.

Sampai di istal, Reyn sedang menyiapkan kuda hitam milik Killian. Di sampingnya ada Alven yang memberi makan kuda putih Icy. Sedangkan Fyre sama sekali tak terlihat di sana. Pangeran Orient itu pasti masih meringkuk di dalam selimut, enggan membuka mata sebelum sinar matahari benar-benar menyoroti kulit pucatnya.

Setelah bercakap-cakap sebentar, Killian dan Icy duduk di pelana kuda mereka. Wajah sumringah Killian sangat berkebalikan dengan raut tegang juga lelah di wajah Icy. Gadis itu hanya berharap tak ada kejadian buruk yang menimpa Killian karena ini adalah kali pertama pangeran itu keluar istana, lagi. Pun kali pertama bagi Icy mengawal seseorang dengan kemampuan berkudanya yang masih minim.

“Siap?”

Sebuah anggukan sebagai jawab, mereka berangkat.

Tak ingin membuang percuma hasil belajarnya menghafal semua jalan setapak di Hoogland dan latihan berkuda selama berjam-jam bersama Reyn, Icy berusaha fokus. Menstabilkan gerak kudanya di jalanan licin dan sebisa mungkin mengimbangi laju kuda hitam milik Killian di depannya.

Pagi ini, udara tak begitu dingin meski salju masih memenuhi Hoogland. Ada cahaya matahari masuk di sela-sela pepohonan yang menambah sedikit hangat menjalari tubuh. Icy sempat menangkap senyum di wajah Killian yang belum luntur sejak tadi. Respons yang terbilang wajar, mengingat Pangeran Vesperia itu selalu terkurung di dalam istananya dan hanya bisa menunggang kuda di arena yang berada di dalam ruangan.

Sesekali Killian melambatkan laju kudanya, menoleh pada sang pengawal pribadi dan tersenyum sembari menjelaskan bagaimana indahnya hutan Hoogland saat musim semi atau gugur yang ia lihat dari dalam kamarnya. Tapi, Killian yakin, pemandangan di dalam hutan ini saat kedua musim itu tiba, akan jauh lebih indah.

Di sisinya, Icy setia mendengarkan. Tatap tetap waspada mengawasi sisi lain hutan yang tak terjamah sinar mentari sementara ia masih memikirkan perihal belati juga sang pemiliknya.

Reyn berjanji, ia tidak akan mengatakan pada siapa pun, termasuk Raja, mengenai belati itu. Icy juga meminta Erden untuk menanyakan tentang Hurton kepada Fyre dan Alven sementara ia menemani Killian berkuda. Icy tak sempat bertanya langsung kemarin. Tidak di saat Killian ada di sekitar mereka. Entah mengapa, Icy merasa hal ini harus ia rahasiakan dari Killian. Dan Erden setuju dengan keputusannya.

Lagi pula, masalah ini adalah masalahnya dengan Hurton. Lelaki yang telah me—

“Hei, Icy?”

Tersentak oleh tepukan di pundaknya, Icy tak sadar menarik tali kekangnya terlalu kencang. Mengakibatkan kuda putih miliknya meringkik kencang dengan dua kaki depannya terangkat tinggi. Hampir menjatuhkannya dari pelana kalau saja Icy tidak lekas memeluk erat leher kuda putihnya.

“M-Maaf. Aku—”

“Aku baik-baik saja.” Berdeham, Icy berusaha mengatur napas juga degup jantungnya. Menghindari tatap khawatir dari Killian, gadis dengan jubah putih itu kembali menegakkan punggung. Ingin melanjutkan perjalanan, namun Killian menghadangnya. “Kenapa?”

“Kita istirahat dulu,” jawab Killian. Meski sekejap, sebelum Icy menyembunyikan tangannya di balik jubah, Killian sempat melihat jemari gadis itu bergetar. Ia tahu, Icy tidak terlalu mahir berkuda di alam bebas. Apa lagi dengan medan yang cukup sulit seperti ini. “Haya lima menit. Tidak lebih,” bujuk Killian lagi saat melihat gadis itu masih geming.

Alih-alih turun dari kudanya, Icy mengeratkan cengkeraman pada gagang pedangnya. Tak ada embusan angin, Icy melihat pergerakan di sela semak belukar, jauh di belakang Killian. Anggap ia berlebihan, karena bisa saja itu hanya tupai atau kelinci hutan. Namun, di tengah permasalahan mengenai penemuan belati Hurton seperti ini, Icy tak ingin mengambil risiko dengan nyawa pangeran sebagai taruhannya.

“Sebaiknya kita pulang, Yang Mulia.”

Memutar bola mata, Killian mendengus kesal mendengar sebutan itu. “Bukankah sudah kubilang kalau—”

“—Killian, please. Kita pulang. Sekarang.”

Penekanan juga nada suara tegas dari Icy membuat Killian bergidik. Serta-merta menarik tali kekang dan melajukan kuda hitamnya kembali ke istana.

Ada apa dengannya?

.

.

“Ini aneh.”

Alven menyipitkan mata. Untuk kali ketujuh ia meneliti belati perak yang dibawakan Erden dan hasilnya tetap sama. Ukiran nama ‘Hurton’ terpampang di sisi tajamnya, membuat ketiga lelaki yang berada di kamar Fyre menginap itu menerka segala kemungkinan yang ada.

Hurton, lelaki yang tengah menjadi pusat pemikiran mereka, seperti yang mereka ketahui, Fyre telah menjebloskannya ke dalam penjara. Ia masih menjadi tawanan Orient akibat insiden ‘kecil’ yang ia lakukan. Mustahil jika ada orang lain yang menggunakan belati itu untuk mengambinghitamkan sang pemilik aslinya, ‘kan?

“Kau yakin dia masih di dalam tahanan?” tanya Erden memastikan. Manik bergantian menatap Fyre di hadapannya dan Alven yang mulai beralih untuk berkemas. Tepat tengah hari nanti mereka berdua akan kembali ke Orient. Ini adalah kunjungan tersingkat dari Pangeran Orient itu. Biasanya, Fyre bisa menghabiskan waktu seminggu penuh untuk singgah di Vesperia. Selain tugas yang menumpuk, perihal ditemukannya belati inilah yang menyebabkan Fyre harus cepat kembali. “Maaf jika ini menyulitkan posisimu sebagai Pangeran.”

Fyre menggeleng pelan. Membagi senyum tipis dan menepuk pundak Erden sebelum berujar, “Sudah tugasku.”

“Dan, tugasmu adalah menjaga Icy,” Alven menambahkan.

Fyre tidak pernah sembarangan memenjarakan seseorang. Tentu harus disertai hukum yang berlaku. Namun, untuk masalah Hurton, sesungguhnya ia berat menjatuhi hukuman penjara padanya. Stephen Hurton, ahli pedang kebanggaan Orient yang akan menjadi aide kedua Fyre, telah melakukan kesalahan yang… yah, tak bisa dibilang sepele. Kendati hukuman penjara terlalu berat, Fyre tak bisa menolak suara terbanyak yang diutarakan rakyatnya.

“Menurutmu, kenapa ia mencari Icy?” Alven mengetuk dagunya. Manik menerawang memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, dan dibalas embusan napas jengah dari Fyre. “Kenapa? Kautau alasannya?” Berkacak pinggang, Alven menyorotkan tatap tajamnya pada sang pangeran.

“Apa itu penting?”

“Tentu saja.” Mendapat decak kesal dari Fyre, Alven semakin bingung. Di ruangan ini tidak ada Killian. Itu berarti, tidak ada yang perlu mereka rahasiakan. Mereka bisa membicarakan insiden setahun lalu yang berkaitan dengan Icy secara leluasa. Dan, melihat Fyre yang mengedikkan dagunya ke arah Erden, membuat dahi Alven mengernyit.

“Hurton tidak sepenuhnya salah.” Erden tersenyum getir. Malu mengakui, namun ia harus menerima fakta yang tersuguhkan. “Kalau saja Icy—”

“Hurton tetap salah.”

Tak mau lagi berdebat atau memabahas masalah yang sama, Fyre memangkas ucapan Erden. Balik melayangkan tatap tajam pada pengawal pribadinya untuk berhenti bertanya macam-macam, sebelum ia berjalan menghampiri kasurnya. Masih ada waktu dua jam sebelum makan siang. Agaknya, melanjutkan tidur yang sempat diganggu Erden pagi tadi, merupakan pilihan tepat.

“Pergilah kalian berdua. Aku mau tidur.”

.

.

Killian tak ingin menaruh curiga sedikit pun kepada aide-nya. Kendati ia tahu, ada yang disembunyikan Icy darinya. Dan ketiga sahabatnya sama sekali tak membantu. Mereka serempak menggeleng dan berkata, “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Killian”, saat ia bertanya apa yang mereka diskusikan di belakangnya.

Ketika Fyre dan Alven pergi selepas makan siang tadi, ia melihat Icy bercakap-cakap dengan mereka cukup lama. Membuat Pangeran Vesperia itu geram lantas pergi dan abaikan panggilan dari Alven.

“Kau harus menyusulnya, Icy.” Alven terkekeh. Beri tepukan di pundak gadis itu sebelum menduduki pelana kuda cokelatnya. “Kami akan segera mengabarimu.”

“Terima kasih, Al. Kau juga, Fyre.”

Mengangguk, Fyre dan Alven lekas melajukan kuda mereka untuk kembali ke Orient.

“Senang aku tidak di sana mengganggu obrolan rahasia kalian, huh?”

Memasuki perpustakaan sekaligus ruang kerja Killian, Icy disambut pertanyaan bernada sinis itu. Alih-alih takut, ia malah mendengus. Menahan tawa karena wajah Killian saat marah benar-benar lucu. Tatapnya masih tak lepas dari lembar-lembar dokumen yang harus ia tandatangani, bibir mengerucut, dan sesekali berdecak sebal.

“Sebaiknya aku tidur siang saja,” ujar Icy berusaha menarik perhatian Killian. Pangeran Vesperia itu sontak mengangkat kepalanya. Mengerutkan kening melihat pengawal pribadinya masih berdiri di ambang pintu dan menguap lebar. Bersedekap, Icy mengedikkan bahunya. “Apa? Bukankah kau marah padaku? Jadi, lebih baik kalau aku—”

“—stay.”

“Hah?”

Bangkit berdiri, Killian berjalan menghampiri. Menutup pintu di belakang Icy dan mendorong gadis itu untuk berdiri di samping meja kerjanya sebelum Killian kembali duduk berhadapan dengan tumpukan dokumen yang harus ia periksa. “Tetap di sana. Kau bisa membaca buku atau membantuku membereskan dokumen-dokumen ini.”

“Baiklah, Yang Mulia.”

Alih-alih kesal seperti tadi di hutan, kali ini Killian memilih tersenyum lebar. Tahu bahwa panggilan itu ditujukan untuk meledeknya lantaran Icy baru saja menjulurkan lidahnya sebelum beralih menyambar buku. Laku yang mampu membuat Killian bernapas lega lantaran gadis yang kini duduk di birai jendela sembari membaca buku itu adalah Icy yang sama seperti Icy di masa lalunya. Benar kata Alven, terlepas dari secuil memorinya yang hilang, Icy tidak berubah sama sekali.

“Killian.”

Hm?” Killian menggumam. Jemari sibuk memilah berkas-berkas selagi ia menunggu sang pengawal pribadi melanjutkan perkataannya.

“Mungkin ini sedikit lancang. Tapi aku penasaran akan satu hal.”

Memutar tubuh, Killian bersitatap dengan aide-nya. Kedua alis berjungkit kala ia melihat Icy menunjuk sebuah gambar pemanah di dalam buku yang sedang ia baca. Lantas jantungnya berdegup kencang dan Killian berdeham sebelum bertanya, “Ada apa dengan pemanah?”

“Kau bisa memanah?” Icy balik bertanya. Manik memicing mengamati apakah ada gerak Killian yang tidak biasa. Ia masih mencari kelemahan pangeran Vesperia itu, omong-omong. Lantaran kemarin ia tidak diperbolehkan melihat Killian berlatih memanah, Icy menduga ada yang disembunyikan lelaki itu darinya.

Meski gugup, Killian berusaha tampak setenang mungkin, takut jika Icy menyadari bahwa memanah bukanlah keahliannya. Dan berada di bawah sorot tajam aide-nya, sebuah ide dan dugaan kecil terlintas di pikirannya.

Meletakkan penanya, Killian bangkit berdiri dan bersedekap di hadapan aide-nya. Ulasan senyum di wajahnya membuat Icy menyesal telah mengajukan tanya itu. Terlebih, Killian tahu-tahu saja merunduk, menjajarkan wajah mereka dan berkata, “Ayo, kuajarkan kau memanah.”

.

Ini bencana.

Tak berhasil menemukan kelemahan Killian, Icy malah berakhir berdiri menggenggam busur dan anak panah. Selain berkuda, ia juga tidak pandai memanah. Sial. Oh, salahkan Trevor yang terus-menerus mengajarkannya berlatih pedang hingga mengabaikan pentingnya memanah pada saat seperti ini—saat-saat Killian menikmati bagaimana jemari Icy yang gemetar ketika menarik panah.

Sebisa mungkin Killian menahan tawa melihat ujung anak panah yang diluncurkan pengawal pribadinya sama sekali tidak menyentuh papan sasaran. Benar dugaannya, Icy tidak bisa memanah. Well, Killian bisa sedikit menyombong karena setidaknya ujung tajam anak panahnya bisa menancap di papan sasaran.

Mendengus kesal, Icy menyambar anak panah lainnya. Ambil posisi semirip mungkin dengan pemanah yang ada di buku tadi dan melihat titik merah di tengah papan sasaran dengan sebelah matanya.

Namun, belum sempat tali busur direntangkan, Icy lekas melemparnya. Beralih mencengkeram pergelangan tangan seseorang yang menyentuh pundak kanannya sebelum menyikut tulang rusuk orang itu. Berbalik, Icy bersiap memutar gagang pedangnya. Seketika maniknya membola lantaran seseorang yang telah ia ‘serang’ adalah Killian.

Great! Icy baru saja melukai seorang pangeran!

“Astaga! M-Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya… kukira ada… oh, ya ampun.” Erang kesakitan dari Killian sontak membuat Icy lekas mendekat. Berdiri satu langkah di hadapan Killian, tak tahu harus melakukan apa melihat pangeran dengan tunik merah marun itu terus meringis. “Kau terluka? Ada yang sakit? Apa ada penjaga yang melihat? Apa aku akan dipenjara? Ya ampun, aku akan dihukum mati!”

Melihat aide-nya mondar-mandir, panik mendominasi raut wajahnya, mau tak mau Killian terkekeh. Niatnya ingin mengajari Icy, seperti yang pernah diceritakan Fyre padanya saat ia mengajarkan memanah pada Aleta—saudari kembar Alven, Killian malah mendapat serangan kecil dari pengawal pribadinya sendiri.

Tiba-tiba, Killian menarik ujung jubah putih Icy yang melambai. Tak menyangka gadis itu sampai hilang keseimbangan dan terjatuh. Punggung tepat membentur dada bidang Killian dan pangeran Vesperia itu tak lagi bisa menahan tawanya kala semburat kemerahan terlukis di kedua pipi sang gadis.

“Kau ba—”

“Aku baik. Sangat baik!” Menarik tudung jubah guna menutupi wajahnya, gadis bersurai cokelat gelap itu cepat-cepat menjauh. Menghindari kedua iris cokelat Killian yang terus menatapnya dengan mengedarkan pandang ke arah lanskap yang tampak dari atas balkon di belakang kastel. “W-Wah, saljunya putih, ya.”

Dan kalimat itu sukses membuat tawa Killian semakin kencang. Tak mengacuhkannya, Icy lekas berlari kembali memasuki istana. Tinggalkan Killian yang mulai meredakan tawanya dan berganti dengan mengulas senyuman. Bersedekap, tatap sendunya beralih mengamati jendela kamar yang tak ia izinkan Icy untuk memasukinya.

Jillian….

Menggumamkan nama itu, memori lima belas tahun silamnya kembali terputar, mengingat si kecil Icy saat kali pertama Jillian mengajarkan memanah pada gadis itu. Laku yang sama seperti yang akan Killian lakukan tadi, namun si kecil Icy tetap diam mendengar arahan dari Jillian dengan pipi merona.

.

.

Hei, Kak. Apa kau merindukan Icy?

.

.

tbc.


Sesuai janji, chapter 3 aku post lebih cepat 😀 tapi… berhubung chapter 5 belum mulai diketik lagi, next chapter agak lamaan ya /.\

Oh iya, maaf kalo fic ini terlalu banyak konflik atau masalah yang belum terpecahkan > <

.

yeni

Advertisements

14 thoughts on “[Chapter 3] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. baby blue

    Aaa.. Blm terjawab rasa penasaranku tentang apa yg terjadi pada Icu saat pertarungan n apa yg terjadi 15 thn lalu pada killian. Udh ada teka teki lg! Siapa hurton? Apa yang dilakuin sm dia di penjara? Dan siapa lagi itu jillian? Apa dia kakanya killian? Waaa.. Penasaran ><" . lanjut thor! .

    Like

  2. puspa mega

    Hohoho ada rahasia di balik kmar yg tak boleh dimasuki icy, apa mungkin jillian sudah gk ada krn kesalah icy atau berhubungan ama icy

    Like

  3. Aihara

    Jillian? Kakaknya Killian…
    Icy dulu suka sama Jillian?
    Icy hilang ingatan?
    Dan masalahnya sama Hurton itu bikin aku kepo
    Maaf banyak tanda tanya karena penasaran nih mwehehe:3

    Like

  4. Lisa Kim

    Jillian? Kkanya Killian yaa? Jgn2 Icy ada apa2nya sama Jillian nie.hemmmm..
    Saya kepo, saya penasaran… chap selanjutnya palli juseyooo kka Authornim *Kedip2UnyuBrngKookie*

    Like

  5. ErucChi

    Aaaah akhirnya fic favorit keluar juga

    Walau alur ketiga chapternya agak slow aku malah bisa ngerasain chemistrynya Killian sm Icy lho, thor. Aku jadi deg2 serr sendiri masa 😂😂😂Manis bgtttt kya!!❤❤

    Tapi tetep authornya bikin gw jumpalitan gara2 keseringan nyebut ‘Hurton’. Aku kevo parahh nunghu bagian klimaks. Siapa itu siapa??? Apalagi siapa itu Jillian???

    Yang semangat ya Thor!! Aku bakal pantengin n trz komen!! *goyangin pom pom

    Like

  6. Jillian itu siapa ㅠ_ㅠ
    Kak kali ini aku gak mau banyak komentar karena aku tau fic kakak ini keren dan selalu aku tunggu, dan pastinya kakak juga tau kalau aku masih penanasaran dengan banyak hal yang memang kakak sengaja buat di setiap chapternya (hmmm)
    Aku tunggu next chapternya kak kapanpun itu di update! Smngat buat ngerjain chp5 nya kak😆😆😆

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s