[What is Your Color?] Last Proposal – Oneshoot

tumblrjn

Last Proposal.

misshin017 present

Jung Hoseok & OC’s / Romance, angst / PG-15 / 2.500+W (oneshoot) /

This is my own plot! My fanfiction and my imagination!

“Hubunganku dengan Hoseok berbeda, aku ungu dan dia biru. Kami adalah lambang keidealan dan aku menyukainya. Kami kosong, maka aku senang saat sadar jika aku dan Hoseok saling melengkapi.”

 

***

Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi, maksudku, biasanya dia tak seperti ini. Aku membiarkan makan malamku mendingin hanya untuk berdiri tak percaya di depan pintu saat melihat orang yang mengetuknya adalah laki-laki yang biasanya ku sebut ‘kekasih’. Tapi, entahlah, aku bahkan tak yakin dia kekasihku ketika aku menemukannya berpenampilan seperti—maaf, sungguh aneh.

Oke, aku tahu dia memang aneh, namun tak seaneh ini sebelumnya.

Dia, Jung Hoseok, nampak memakai kemeja putih dengan dasi gelap berbalut jas nila? Yah, aku tak mampu mengidentifikasi warna apakah itu karena jujur, mataku terlalu terpesona dengan rambutnya yang mengkilap tersiram gel segenggam, ah ya, sepatunya juga tak berdebu dan pantulan raut muka tak enak dipandang milikku terpampang dengan baik di sana. Aku tak tahu dan tak mau tahu seberapa lama dia menyemir sepatunya, karena mungkin akan terdengar mengerikan.

“Hai.” sapanya seolah tak terjadi apa-apa.

“Hai, Seok?”

“Ya, aku Hoseok.”

Aku bahkan hampir menutup pintu karena aku yakin, dia bukanlah kekasihku. Maaf saja, tapi tak pernah ada sebuket mawar merah yang laki-laki itu berikan, sebelumnya. Tetapi, malam ini, seseorang yang mengakui Hoseok malah membawa dua buket mawar, DUA! Aku rasa ini memang bukan Hoseok.

“Kau?”

“Ayolah, aku Jung Hoseok, kekasihmu, yang paling tampan. Dan, aku memintamu atau memaksamu menerima bunga ini lalu mundurlah tiga langkah agar aku bisa masuk. Paham?” dia mengatakannya selayak kereta api yang biasa kunaiki, dan itu membuatku ‘paham’,  ternyata dia memang Hoseok, kekasihku, yang tidak tampan.

Tanganku meraih buketnya dan tungkaiku mundur tiga langkah sesuai intruksinya, dia masuk dan aku tetap berdiri mencium bunganya. Astaga, dia menyemprotkan parfum Jimin ke benda ini.

“Kenapa? Kau tak suka bunganya?” seharusnya suka, tapi—

“Ini terlalu bau, kau tahu.” keluhku lalu meletakkan dua buket itu ke atas meja dan berjalan menuju ranjang tempatku biasa bernaung.

Dari ujung mata aku tahu Hoseok mendengus tak terima mendengarnya. Setidaknya aku selalu jujur dan tak bermuka dua layaknya gadis lain. Ah, andai Hoseok dapat mengerti itu.

Kuambil remote televisi kemudian mengganti channelnya sesuai keinginanku, tapi sungguh, aku bahkan sama sekali tak terfokus ke siaran apa yang kumau. Hoseok berdiri beberapa langkah di sampingku dan dia seperti patung pangeran Yunani (oh, waw) dengan tatapan jengkel terlempar kepadaku karena aku sedari tadi memang tak berniat menghiraukan keberadaannya. Uh, seharusnya dia tahu mata ini tak henti curi pandang kepadanya.

“Serius, aku menyiapkan semua ini hingga rambut Jungkook keriting, tapi kau?” ucapnya tiba-tiba. Aku terdiam dan menautkan alis, bersandiwara.

“Apa?”

Dia mendengus keras sekali dan aku senang mengetahuinya.

“Tidak, lupakan.”

Aku tertawa. Hoseok membuang muka.

Sebenarnya tidak ada yang lucu, tapi melihat reaksinya seperti ini membuatku sedikit banyak merasa terhibur ketimbang menonton acara komedi siang malam lewat televisi. Pertunjukkan asli memang punya kesan yang berbeda daripada yang terekam di layar kaca.

“Oke, maafkan aku. Jadi apa?” kuusap airmata yang hampir keluar dari mataku, tenang saja ini airmata bahagia.

Hoseok terdiam sambil memasukkan kedua tangannya ke saku kemeja. Tunggu, aku paling suka pose yang ini.

“Bagaimana penampilanku?”

Awh, dia bergerak memutar dan itu sungguh menyakitkan mata.

“Aneh.” lugasku karena faktanya memanglah begitu.

Dia mendengus untuk keberapa kalinya, aku tahu seberapa dia kuat dia menahan emosi saat seperti ini. Sungguh, justru itulah hal yang paling kusukai darinya. Sifat sabarnya yang luar biasa.

Mungkin, kalau Hoseok bukan pemuda penyabar, dia bisa saja pergi dan meninggalkanku layaknya debu.

Yah, mungkin.

Aku meringis membayangkannya.

“Ini jas terbaik yang ada di toko Jungkook, aku dapatkan dengan harga terendah. Walau dia, agak uring-uringan menyetujuinya.” ceritanya dengan bangga. Aku jadi merasa kasihan kepadanya, bisa jadi ini jas mahal dan Hoseok malah memaksa turun harga hingga setengahnya.

“Lalu?”

“Euhm, kau tak mau menanyakan kenapa warnanya nila?”

Hening.

Dia benar. Aku suka warna ungu dan Hoseok mencintai biru sepenuh hatinya. Tapi jas ini—nila. Tsk, pesona manusia sial ini benar-benar mengalihkan ketelitian mataku.

“Tidak, aku tak tahu. Memangnya kenapa?” aku memiringkan badanku berhadapan dengannya. Hoseok mengulum senyumnya dan aku suka itu.

“Singkat. Nila adalah warna ungu yang berbaur dengan pekatnya biru. Motifnya tidak ada dan warna sekundernya sungguh istimewa. Jelasnya, ini warna kita berdua.”

“Nila?”

Hoseok mengangguk dan aku bertepuk tangan mendengarkan filosofi kerennya. Terserah dia mau mengutip dari novel atau lirik lagu buatan Yoongi, yang pasti itu manis sekali.

“Lalu, kenapa mendadak kau mau pakai jas ini?” tanyaku memancing obrolan lebih panjang.

“Hanya ingin terlihat seperti Brad Pitt.”

“Oh ya?”

Satu fakta yang terlewatkan, Hoseok benar-benar tolol. Kumainkan ujung baju sambil membisu menahan geli.

“Tapi aku sukanya Edward.”

“APA?!”

Bibirku terbuka dan terdengar tawa memekak. Ini sungguh tidak waras. Aku dan Hoseok adalah pasangan paling sinting, dan seperempat orang mengiyakannya. Bukan, aku tidak suka Brad Pitt atau Edward atau Charlie Puth (mungkin–), yang jelas aku tak suka siapa-siapa.

Kecuali laki-laki ini.

“Jimin bilang kau suka Brad Pitt.”

“Dia bohong.” jawabku dan Hoseok menghempaskan nafasnya kasar, layaknya dia telah salah langkah hingga terpaksa jatuh dalam kubangan penuh lumpur hisap. Sejujurnya tidak apa, dia mau berlagak seperti siapapun aku tetap, erghh, cukup senang.

“Kau mau apa?” kulihat dia mengeluarkan ponsel kemudian mengetik digit-digit tak kasat mata di layarnya.

“Jimin.”

“Ini tidak penting, lupakan. Bisa jadi dia sedang dengan gadisnya.”

“Bisa jadi juga dia di hotel dengan ‘gadis’nya.”

Lidahku kelu.

“Bisa jadi.” monologku.

“Dia tak menjawab.” Hoseok menghempaskan ponselnya lalu menggaruk rambutnya. Unik sekali.

“Memangnya kenapa? Ada yang penting tentang Brad Pitt?” sindirku.

“Awalnya aku mau jadi John Legend.”

Y a ampun, ini sangat tidak lucu. Dan, tapi, aku tetap membiarkan diriku terhanyut dalam tawa. Sebenarnya sejenius apa isi kepala kekasihku ini?

“Jangan marah, ayo ganti topik.” kataku buru-buru mengetahui perubahan ekspresinya. Aku memutar mata mencoba mencari sesuatu yang seru untuk kami bicarakan, selagi Hoseok jadi Brad Pitt pastinya.

Mungkin aku bisa menceritakan soal drama yang kemarin kutonton. Atau, merk pengharum ruangan yang baru diganti ibuku. Atau juga, kami bisa menghebohkan konser Eminem yang katanya ada adegan ‘hot’.

Sayangnya tidak satupun yang cocok jadi tema kali ini. Aku dan Hoseok cuma diam dibawah raungan suara televisi. Ini terasa lebih baik.

“Rabu lalu Jiyeon memakiku di depan pintu lift.” Hoseok memulai cerita.

Aku tahu dia tak pernah membosankan dalam hal seperti ini. Jadi aku menatap matanya dalam-dalam, menyelami sesuatu yang membiru dan bercampur keunguan di sana.

Nila.

“Aku hanya diam saat dia mengatakan isi hatinya, aku tahu ini kesalahanku. Sampai sekarang agak enggan menyapanya di koridor, padahal dulu, dulu cukup lengket.”

“Apa yang terjadi?”

Hoseok menyandarkan bahunya ke dinding. Melesu memandang marmer putih bersih itu.

“Konyol, tapi, kau akan jijik barangkali.”

“Teruskan.”

“Dia bilang, resletingku harus diperbaiki.”

Seperkian detik.

Wajahku memerah menahan tawa yang siap menyembur kemana-mana. Namun aku menahannya, bermaksud tidak menyinggung Hoseok.

“Katanya sudah tiga kali, dan dia yang terus mendapatinya. Jiyeon terlalu frontal.”

“Ya, benar.” jelasku.

“Jelas itu kesalahanmu.” ledekku kembali dan membuat Hoseok menyetujuinya.

“Kau sendiri? Katanya ada dokter tampan yang senang mendengarkan degup jantungmu.”

Aku tersipu membayangkan raut Seokjin ketika mencatat apa yang dia dapatkan dari degup dadaku. Dia tampan, tapi Hoseok lebih memikat.

“Aku memintanya lebih sering ke sini,tapi dia hanya diam sambil tersenyum baknya ini permintaan anak dari kamar sebelah.

Masih teringat dengan jelas bagaimana aku amat terpukul ketika meminta nomor ponselnya dan dia terlihat sangat canggung, dan khawatir menyadari itu. Aku tahu aku punya kekasih, dan teramat sangat tahu kalau tertarik dengan laki-laki lain bukanlah suatu kesalahan.

Hubunganku dengan Hoseok berbeda, aku ungu dan dia biru. Kami adalah lambang keidealan dan aku menyukainya. Kami kosong, maka aku senang saat sadar jika aku dan Hoseok saling melengkapi. Aku menyerahkan kontak teman-temanku lalu membiarkannya memilih satu yang paling cantik untuk diajak ke suatu tempat. Aku tidak apa-apa, melepasnya dengan orang yang seharusnya diisi oleh diriku.

Suatu ketika aku mengerti, kemudian memahami. Kutatap Hoseok yang membuka lemari di dekat televisi, mencari sesuatu sebagai emilan untuk menganjal perutnya yang tidak berisi.

Sejauh apapun aku berlari dan mencoba bersembunyi, semakin aku berbohong dan menutupinya sendiri. Hoseok tetap akan datang dan memintaku mengakuinya, walau aku harus terluka dengan jawabanku. Dia, terlebih selalu menjadi rumahku berlabuh dari perjalanan yang sangat jauh.

Kadang aku menjadi takut. Apa yang akan terjadi kalau nanti aku hanya sendiri?

“Kau tidak makan obatnya?” Hoseok memegang berbungkus-bungkus plastik yang berisi kapsul obatku. Seharusnya aku tidak meletakkannya di sana, begitulah.

Aku menggeleng dan dia mengernyitkan dahi.

“Tidak mau sembuh?”

“Tidak.”

Hoseok mengunci mulutnya, barangkali kata-kataku menjatuhkannya ke alam yang penuh duri.

Tungkainya melangkah dan aku yakin, ini akan menjadi sesuatu yang serius. Kubalas memandangnya dan aku rasa nyaliku semakin membara. Ini sudah terlalu sering terjadi, semuanya berakhir dengan aku yang menangis di bawah selimut seperti siput lalu Hoseok yang ditangkap polisi karena mabuk di jalanan.

Situasi ini, terlalu monoton.

“Aku tahu ini sangat membosankan dan aku benci itu.” Hoseok menjilat bibirnya.

“Jujur, aku ke sini karena aku bosan dengan rumah yang seperti neraka. Mereka mengolok-olokku, membuatku sebagai bahan guyonan, tidak peduli seberapa terhinanya aku merasakan itu. Sekalipun aku mencoba menuli, masuk kamar dan mengunci diriku dari keramaian, ini tetap terjadi dan pasti.”

Aku terdiam, menelan ludah, memasang telingaku sebaik mungkin, mendengarkan uneg-unegnya.

“Seharusnya kau paham, menggali lubang untuk menyimpan kesedihanmu hanya untukmu, melupakan diriku yang berdiri di bentang yang sangat sepi. Seharusnya kau mengajakku, kau membawaku, kita selesaikan ini bersama, dan aku ingin kau juga menginginkan ini. Aku bertahan untuk alasan yang aku ketahui, aku membangun istanaku dan selalu menyiapkan kamar yang cocok untuk kau tiduri. Selama ini aku berjuang, dan aku berharap kau sama.”

Aku meringis mendengarnya. Perutku melilit, dan mataku panas.

“Aku rela tidak tidur seminggu demi memikirkan bagaimana nantinya semua ini, membuat kepalaku serasa pecah, tubuhku lemah, hingga semua orang berteriak betapa mengerikannya keadaanku. Aku sangat layu dan kau membuta, kau pura-pura tidak tahu dan tetap membiarkanku seperti itu sampai rasanya ingin mati. Ketika aku menolak dan tidak ingin kau pergi, kau malah— kau malah seenak hati melemparkan dirimu sendiri! Kau kira itu lucu?!”

“Hoseok, bukan, aku—“

“Ambil saja langkah yang paling kau suka, aku harap kau bahagia, dan, dan lepaskan aku. Kita akhiri ini sehingga semuanya jelas—“

“Apa yang jelas?!” raungku menamparnya.

Aku menutupi wajahku dengan telapak tangan, mencium bau obat-obatan yang berkeliaran di sana. Aku rapuh, aku memintanya agar terus berdiri lalu berjalan menapaki semua ini. Tapi untuk Hoseok, laki-laki itu tidak akan mungkin, aku takut, aku takut kian lama dia juga akan hancur berkeping-keping. Perasaanku tidak pernah menentu, aku hanya bisa baring dan duduk layaknya bangkai di ruangan ini. Jendela itu menyumpahiku dan aku hanya mampu menunduk, aku kalah oleh jaring-jaring yang mengukungku.

Tanpa sadar, aku ingin segera pergi.

Aku ingin berlari mencapai langit paling tinggi, aku ingin membuang bebanku kemanapun asal tidak ada yang tahu.

Aku menangis dan Hoseok tidak henti menghisap hatiku yang terluka, layaknya sebuah belanga yang memuat banyak cerita.

Aku ingin pergi, pergi sekuat tenaga yang saat ini masih aku punya.

Aku—

“Aku ingin mati.”

“Tidak, aku tidak akan biarkan itu terjadi.”

“TAPI AKU AKAN MATI!” jeritku tak terima.

Hoseok menggeleng, menyangkal permintaanku yang baginya sangat mustahil. Namun faktanya seperti itu. Aku akan mati, aku akan sendiri, tidak ada Hoseok yang memegangku, tidak akan pernah ada dia yang menopangku. Sebesar apapun aku mengkhianati kenyataan ini, semuanya akan tetap sama, seolah menempel di diriku, dan aku marah karena tak mampu mengalahkannya.

Aku ingin mengatakan apa saja yang ada di otakku, meracau layaknya orang gila dan membuat Seokjin atau dokter keparat lain berlari ke sini demi menyuntikkan obat penenang kepadaku. Mereka semua penipu, tersenyum dan terus berkata semua akan baik-baik saja. Nyatanya tidak, aku semakin parah dan semua ini akan menjemputku dengan paksaan.

Aku tidak punya alasan hidup, bahkan Hoseokpun bukanlah penyebabnya. Aku berada di sini, di rumah sakit ini, ini untuknya. Aku melakukan ini untuknya, untuknya agar tetap bisa bernafas, untuknya agar bisa selalu tersenyum, untuknya agar bisa selalu menghadapi tekanan dari keluarganya. Terkadang aku bertanya, sebenarnya untuk apa aku hidup?

Bahkan aku tak menginginkan hal ini.

“Aku—“

“Tidak, pulanglah, aku lelah.” aku membungkus tubuhku dengan selimut, menikmati bagaimana kegelapan yang menjadi duniaku. Rasanya tidak enak.

Airmataku terus-menerus keluar dan aku tahu itu sangat sulit. Deru nafas Hoseok masih memburu, aku tahu dia di sana. Dia tidak pergi, dan mungkin tidak pernah, meski aku memintanya, meski aku mengusirnya. Itu membuatku terluka, aku kira semuanya akan berjalan seperti pertengkaran kami yang biasa. Dan, tidak.

Kepalaku terasa berputar, denyutnya membuat aku tak yakin dimana aku berpijak. Bibirku bergemetar dan gigiku saling bertaut satu sama lain. Ini lebih parah dari biasa, aku ingin semua berkahir, aku tidak suka fase ini terus menjadi santapanku sehari-hari.

Telingaku terasa mendidih, bagai ada besi cair yang bertumpahan dari sana. Sesuatu sudah terjadi, dan Hoseok tidak menyadarinya. Aku membiarkannya tetap di sana, aku menantinya, tidak apa, ini akan berlalu dengan cepat.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu tersakiti—, aku hanya, hanya kesal. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau pergi, aku tak mampu membayangkannya karena itu pasti sangat gila.”

Aku mengigit sudut bibirku. Dahiku berkerut, aku hanya berharap dia menyelesaikan ini sebelum aku yang selesai duluan. Untuk terakhir saja, untuk Hoseok yang entah kesekian kalinya.

Untuk dia, aku bertahan di medan penghujung.

“Aku tahu, aku bukan laki-laki yang baik, yang bisa membuatmu dikelilingi hal-hal yang baik. Aku brengsek dan itu benar. Aku hanya bisa berdiri di atas panggung, melompat seperti orang sinting, aku sungguh buka  tipemu.”

Ya, kau sama sekali bukan laki-laki impianku. Aku tak pernah mengidamkan yang seperti dirimu, kau terlalu berbahaya.

“Aku tidak bisa mengajakmu makan di tempat yang kau inginkan, aku tidak bisa menjagamu dari panas matahari, aku tidak bisa selalu menelfonku kapanpun kau rindu, aku tidak bisa membelikanmu barang yang kau sukai, aku tidak bisa menyayangimu seperti laki-laki yang lainnya, aku tidak bisa memberikanmu perasaan cinta yang sempurna, aku—sangat pengecut.”

Tanganku mengepal kuat-kuat. Rasa ini kembali datang, nafasku putus-putus dan aku tak ingin lari sebelum Hoseok mengungkapkan isi hatinya. Aku tahu, mungkin aku tak akan bisa paham dengan keinginannya yang selalu memperjuangkan diriku, aku tidak sekuat dirinya yang penuh topeng itu. Aku lemah, aku wanita dan aku sadari kekuranganku.

Di sini, tanpa Hoseok sengaja, akulah pengecutnya.

“Barangkali, kau tidak suka dengan sikapku yang mengajak teman-temanmu berkencan, atau tetangga sebelah apartemenmu, aku, minta maaf soal itu. Sungguh, dimanapun, kapanpun, dan bahkan dengan siapapun aku saat itu, hanya kau yang kubayangkan, kau bersemayan ditiap gadis dan itu membuatku mabuk.”

Aku tahu soal itu.

“Untuk semua yang telah aku lakukan, membuatmu merasa keberatan dan tertekan, aku minta maaf. Aku bukan laki-laki yang baik dan bukan laki-laki yang pantas untuk kau jadikan sebagai alasan untuk semua perjuanganmu, aku tahu kau begitu. Aku hanya ingin kau sadar, kau membuka matamu dan lihat, aku untukmu, aku selalu menjadi satu dari jutaan orang yang rela menghabiskan waktuku untuk memikirkanmu. Tanpa kau mengira siapa saja yang menginginkanmu, tolong ingat aku, tolong sebut aku, tolong percaya padaku dan lewati batas ini.”

Kian lama tubuhku terasa melayang, aku menangis dalam rasa yang terluka. Aku merasa bebas, aku merasa semua ini pantas untuknya. Aku bertahan untuknya, dan dia pantas mendapatkan pengorbananku.

Meski sekarang aku telah melampaui batasku, aku membiarkan diriku tergerogoti hingga layu. Aku baik-baik saja, semuanya telah kuusahakan untuknya. Walau susah, walau rumit, aku yakin ini akan selesai, selesai di sini.

Aku tersenyum, aku mendengar ucapannya dengan sebaik mungkin untuk yang terakhir.

“Park—

Ayo menikah denganku.”

Ayo, ayo Hoseok.

.

.

.

.

.

.

tittt… tittt… tittt…

.

.

Dan Hoseok sangat mengerti, dia mengerti arti bunyi itu, dan paham apa jawaban dari sang kekasih.

Cinta mereka layaknya nila. Selembut ungu, dan sepekat biru.

***

END

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Last Proposal – Oneshoot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s