[What is Your Color?] Rosa Chinensis Viridiflora – Vignette

3270970_1bfe9348-9666-11e3-b121-8de14908a8c2

Rosa Chinensis Viridiflora

Author : MintPanda

Genre : Sad, Family,Friendship

Length : Oneshot (1800+ words)

Cast :

MinYoon Gi (BTS)

Jeon Jungkook (BTS)

Min Alexie (OC)

Summary:

“tapi, Apa dengan menangisinya, kau akan bisa membangunkannya kembali? Kau kira dengan meratapi kepergiannya dia akan bahagia? Apa kau anggap ini lelucon?

. . . . . . .

Dreeett….

Suara decisan pintu yang sendari tadi terdengar, beradu aksi dengan jendela bergoyang yang di tiup angin, seakan dirinya tak ingin kalah dalam hal ingin meramaikan suasana.

Suara dua benda itu cukup keras hingga menenggelamkan pantulan bunyi sepasang kalung perak yang berayun dalam dekapan tangan seorang pemuda, yang menghimpitkan tubuhnya di meja kayu tua.

Matanya bergerak, mengikuti arah gerak sang liontin yang menari ke kiri dan ke kanan. Menari bebas tanpa beban, tak seperti yang dirasakan sang pemiliknya.

Pemuda dengan rambut hijau itu tak sedikit pun bergerak, rambutnya yang acak-acakan, dengan balutan jas hitam yang masih sama seperti yang terakir kali ia kenakan beberapa hari lalu. Matanya berair, entah kapan air itu akan mengering. Belum sempat tetesan itu hilang, tetesan dari kelopaknya yang lain ikut turun melintasi pipinya yang mulai tirus.

Min Yoon Gi, kali ini ia merasakan rasa sakit yang kembali menghampiri , setelah bertahun-tahun lamanya rasa kehilangan itu lenyap yang kemudian hilang di balik dentingan jam, namun nyatanya, ‘rasa’ sakit itu datang lagi, dan kembali menghampirinya. Rasa perih yang entah dengan cara apa ia harus mengungkapkannya, karena ia yakin satu hal, tak mungkin ada orang yang bisa mengerti kenapa rasa itu bisa hadir kembali. Kehilangan seseorang yang menjadi alasanmu hidup, kehilangan tempat untukmu bersandar, keilangan orang yang seharusnya kau lindungi, laksana sebatang lilin yang berada di antara angin. Mati, dan kemudian semua menjadi gelap. Sangat menyiksa.

Rasanya, baru tadi pagi ia meneriaki Alexie –adik perempuannya- yang tak kunjung bangun, yang menggeliat di dalam selimut dengan sepasang headpone yang menggantung di telingannya. Bersembunyi dibalik miniatur pepohonan-pepohonan dan dedauna yang menggantung dari ujung hingga ujung .

Rasanya baru tadi pagi ia melempari Alexie karena ulahnya yang menimpali kertas tugas Yoongi dengan gambar aneh yang benar-benar  layak disandingkan dengan gambar anak SD.

Rasanya baru tadi pagi ia mendengar gadis itu berceloteh tak karuan karena telur yang Yoongi goreng hangus dan susu yang Yoongi buat tawar, tak ada rasa sama sekali.

Rasanya, baru tadi pagi melihat gadis mungil itu pergi diboncengi Jungkook ke sekolah, dengan sepatu yang masih di tangan, rambut yang tak diikat dan roti selai kacang yang tersemat di mulutnya. Melambaikan tangan kepadanya yang terus berceloteh tak karuan karena kesal.

Tak berhenti di sana, sederet kenangan manis antara Alexie, Jungkook dan dirinya terus melayang-layang di otaknya. Menari-nari bebas,menguak yang satu, memancing yang lain keluar. Satu demi satu kenangan itu datang dan mengganggunya lagi.

Yoongi ingat betul dengan sepasang mendali emas yang menggantung di dinding itu, satu miliknya dan satu milik Alexie. Betapa masih terbayang dengan jelas paras jelita Alexie ketika namanya disebut sebagai pemenang Taekwondo nasional, impian kecil yang sendari lama ia agungkan. Hari bersejarah itu, di mana baru pertama kali-dan sayangnya juga untuk terakhir kali- ia melihat Alexie tersenyum secerah itu. Dan itu terjadi  seminggu lalu.

hyung, kau masih di sana?

Dari luar, Jungkook menyerukan namanya, namun sayang, tak ada respon dari sang pemilik nama yang bersembunyi di balik pintu.

hyung, kurasa kau harus turun. Aku sudah membuatkanmu sarapan. Ini sudah lebih 3 hari kau tak makan hyung.”

Jungkook masih berdiri di seberang pintu, berharap hyungnya itu dapat ia bujuk untuk di ajak makan. Sudah berhari-hari lelaki berambut hijau itu mengasingkan diri di dalam kamar ,tanpa air atau makan. Bahkan Jungkook sendiri tak yakin kalau hyungnya itu baik-baik saja.

Sudah seminggu, Jungkook menghabiskan waktu di tua rumah ini. menemani Yoongi –yang ia yakin- benar-benar kesepian. Semua rutinitasnya ia hentikan sejenak, mulai dari ke sekolah hingga keluar untuk sekedar bermain bersama temannya yang lain. Ia sadar, jika saja ia lengah untuk sepersekian detik saja, maka hal yang benar-benar tak ia inginkan akan kembali terjadi. Cukup dengan luka yang belum mengering itu yang mengusiknya, jangan lagi ada luka baru datang menimpali.

ARGHHHTTTT

Belum juga kakinya menyentuh anak tangga pertama-untuk turun-, Jungkook harus dikagetkan dengan erangan frustasi –yang ia yakini itu milik Yoongi- menembus udara. Bergegas pula ia mengubah arah tujuannya, kembali lagi ke tempatnya semula tadi.

Hyung kau baik?! Hyung bukalah!! Jawab aku hyung!!”

Jungkook memukul bahkan menendang pintu di hadapannya tak sabaran, berharap pemiliknya diseberang membukanya.

Namun tak dengan Yoon Gi, ia tak sedikit pun menghiraukan suara pintu yang terus-terusan di hakimi Jungkook tanpa ampun, tangannya menyapu bersih semua benda yang ada di hadapannya. Tak peduli itu benda berharga atau sekedar benda pajangan tak bernilai.

Baginya,  hal yang  tersisa dari diri Alexie sekarang hanya kamar dengan dekorasi alam ini saja. Warna ini setidaknya sudah cukup menenangkan seluruh amarah yang tersembunyi dalam dirinya, maka dengan datang dan berdiam diri di sini, setidaknya sedikit emosi yang ia miliki bisa mencair, layaknya nuansa tenang yang di tersembunyi ruangan kecil ini.

Namun sekarang tidak lagi.Semuanya berubah, hancur, semua benda di ruangan ini telah hancur ketika Jungkook akhirnya dapat mendobrak pintu itu hingga terbuka,matanya menatap seisi ruangan yang berantakan, sangat jauh berbeda dengan terakhir kali ia masuk kemarin beberapa hari yang lalu.

Yoon Gi mengerang, berteriak bahkan memaki dirinya sendiri.

hyung?!”

Jungkook bergegas menarik Yoon Gi ke dekapannya, namun pemuda itu terus merancau dan berusaha melepas pelukan Jungkook dengan paksa.

lepaskan aku bocah!”. ucap yoongi ketika ia berasil melepaskan tdiri dari dekapan Jungkook. Lelaki  itu sempoyongan, kakinya tak lagi sanggup mengemban berat badannya, hingga akhirnya ia harus rela menubruk meja.

Aura kehidupan di dalam kamar ini hilang, bunga-bunga mawar hijau kecil-yang langka- dalam vas yang biasanya berjejer di jendela layu. Pohon-pohon kecil di sudut-sudut ruangan tumbang. Lukisan-lukisan tangan di atas dinding luntur.

Air, memang tak pernah bisa bercampur dengan minyak.

Itulah hal yang kini sedang terjadi.

Kamar yang semula rimbun dan hangat berubah pengap, lembab, dan mati. suasana tenang dan damai yang mulanya bersahabat hilang, bersamaan dengan pemiliknya yang sudah tiada.

Setumpuk impian, harapan, keceriaan dan semangat api yang dulunya mengelilingi tempat ini, berubah layaknya hantu yang terus mengusik siapa saja, datang dan pergi dengan menyisakan ketakutan dan kengerian yang mencekam.

Ruangan kecil ini serasa berubah menjadi gedung besar yang kosong, suram, jauh dari cahaya dan kedamaian.

Yang ia rasakan hanya sepi, sakit, hilang, hancur dan mati. Ya, semuanya sudah berakhir, tapi Yoon Gi benar-benar tak bisa berhenti disini.

Yoon Gi tak lagi bisa membedakan, antara air mata ataukah keringat yang kini membasahi dirinya. Semuanya terasa sama.

Jungkook yang kini mulai dikuasai emosi, melempar sebuah kursi ke arah sepotong kaca besar yang memantulkan bayangnya. Dan yang kini  terlihat, hanya pantulan potongan tubuh yang pecah seirama dengan hantaman kursi dan dinding.

“YAKH!!!!” Yoon Gi meraung, tangannya mengepal, namun tak sedikit pun bisa bergerak meliat perilaku Jungkook .

Aksi Jungkook tak berhenti hingga di sana, tangannya dengan  sengaja meraih setangkai mawar  hijau yang masih tersisa di jendela, memisahkan bunga malang itu dengan tangkainya sebelum akhirnya. .  .

“Jungkook! Kau gila!!!”

Telapak tangannya menggenggam bunga itu  hingga menjadi kepingan-kepingan kecil yang hancur. Tak peduli dengan duri tajam yang menusuk telapaknya, Jungkook tak lagi bisa merasakan apapun sekarang, melainkan kesedian yang kian lama kian  membuatnya melemah.

Harus ia akui, kesedihannya tak sebanding dengan yang Yoon Gi rasakan, rasa kehilangan Yoon Gi bakan lebih dalam dari yang dapat ia tunjukkan. Namun setidaknya,  Yoon Gi harus sadar, bahwa bukan hanya dia yang kehilangan.

Kenangan-kenangan hangat mereka bertiga kembali berputar di kepala Jungkook. Canda tawa dan air mata, juga senyuman gadis -yang ia sayangi diam-diam- memudar. Layu dan hancur, layaknya nasip bunga mawar hijau kecil di genggamannya. Tak ada  lagi senyum yang terukir di bibirnya.

Yoon Gi, mungkin masih bisa mengontrol dirinya, hingga jungkook datang  menghancurkan benda yang mati-matian ia lindungi, mawar hijau.

Bugh..

Sebuah pukulan telak melayang menyentuh pipi kiri Jungkook, ia kembali tersungkur di dekat kursi, tatapannya kosong, dan hanya mengarah kepada  Yoon Gi.

Namun tak lama,Yoon Gi lantas  menekuk lututnya tepat di dekat Jungkook,  memandangi serpihan kaca dan kelopak bunga yang tak lagi berbentuk di dekatnya.

“kau mengancurkannya! Semuanya sudah berakhir !!!” ada nada bergetar di setiap frasa yang Yoon Gi keluarkan, melukiskan betapa  malangnya nasipnya sekarang. Orang yang ia lindungi mati-matian telah pergi, dan satu-satunya kenangan yang tersisa telah lenyap.

“cih!”Jungkook mendecis pelan, dan kemudian mendongakkan kepalanya hingga menyentuh dinding.

hyung!  Kau kira, kau saja yang kehilangan?”

“kau kira, kau saja yang kesakitan?”

“apa kaukira, kau saja yang kesepian?”

“apa kau melupakanku? Kau anggap aku ini apa?”

“kau benar, ini sudah berakhir.”

“tapi, Apa dengan menangisinya, kau akan bisa membangunkannya kembali? Kau kira dengan meratapi kepergiannya dia akan bahagia? Apa kau anggap ini lelucon?

“hyung! Bangunlah, kumohon! “ Jungkook berlutut tepat di hadapan Yoongi

“akhiri semua mimpi buruk ini. kepergiannya bukanlah akhir dari semua ini. Kau hanya perlu membuka jalan baru untuk semua ini.”

Jungkook menundukkan kepalanya, namun akirnya ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan tubuh Yoon Gi yang kini terlentang di lantai sendirian, mungkin adalah hal yang tepat untuk  sekarang, meski lelaki diadapannya ini  tampak begitu mengenasan.

Meski kenyataan itu menyakitkan, tapi kebohongan jauh lebih menyiksa batin. Berpura-pura kuat untuk menutupi kelemahan, tidak akan mengubah keadaan.

Kadang kau perlu menangisi dan juga ditangisi. Tapi bukan berarti dengan kedua hal itu, membuatmu jatuh semakin dalam ke dalam lubang keterpurukan. –

-Mengapa aku tidak bisa menyerah

Menahan kenangan yang melayu

Apakah itu keserakahan? Aku mencoba megulang keadaan-  

Dead Leaves

“Yoongi-ya!!! Lihat ini!” gadis itu berlari menghampiri sosok pemuda yang ada di atas ayunan taman
“Hey, apa kau tak pernah belajar sopan santun? Apa kau tak bisa membedakan yang mana teman dan yang mana orang yang lebih tua darimu, Min Alexie??” protesnya

“Ya, kenapa kau mendorong kepalaku? Eh, lihat. Cantik kan?” tak sedikitpun menggubris perkataan sang kakak, gadis bernama Alexie itu lantas semerta-merta mengalihkan fokus kakak lelakinya itu kepadanya.

“Bunga lagi? Apa kau ingin membuat kamarmu benar-benar seperti hutan? Kenapa tak sekalian kau tinggal dihutan hah?” lelaki itu menutup buku yang sedang ia baca, dan dengan terpaksa harus melayani kehadiran adik kecilnya yang mengganggu.

“Kau mengusirku?  Sudahlah,  kau tau tidak, ini bunga yang langka. Di mana kau bisa menemukan mawar hijau ini? ini tumbuhan yang amat sangar sangat langka. Benar `kan Jung?” Alexie memutar kepalanya kebelakang, memandang seseorang yang ia panggil ‘Jung’ tadi

“Dasar makhluk hijau! Setiap kali kau membawa pulang benda hijau seperti ini, kau menyebutnya ‘langka’.  Aku bahkan bisa mendapatkan benda  yang lebih bagus lagi dari punyamu!” Omongannya terhenti ketika seorang pemuda seusia adiknya datang dengan 2 vas bunga kecil yang sama dengan yang ada di genggamannya.

“Ya, Jungkook, sejak kapan kau beralih menjadi pecinta bunga?”

“Kurasa sejak kita bersama!” jawab Jungkook seadanya

“Haah,,, dasar kalian berdua, aneh!” Yoong Gi menempatkan kedua lengannya di belakang kepala.

“Darimana kau mendapatkannya?” lanjutnya

“Rahasia!!” Alexie lantas membenarkan posisi duduknya, tepat di sebelah Jungkook.

“Jangan-jangan kau mencuri!!” tebak Yoongi asal

“Yakh, Min Yoon Gi! Apa tampangku ini seperti pencuri?” tak terima, Alexie lantas mendaratkan sebuah jitakan keras di kepala Yoon Gi

“Yak!!! Kenapa kau malah menjitakku! Dasar bocah, jangan lari kau!!!”

“tangkap aku, wek!!!

Kenangan itu kembali berputar, dan akan terus seperti itu. Kenangan  masa lalu yang pernah ia alami, mengantarkan Yoon Gi ke dalam ketenangan. Setidaknya kini ia dapat terlelap sejenak, melupakan seluruh amarah dan rasa kehilangannya. Kehilangan pada orang yang ia sayangi.

Sang adik , Min Alexie . . .

….

 

-Everything is over, but i can`t stop it.

I can`t distinguish whether it`s sweat or tears-

Oke, ini cerita aneh, Cuma terinspirasi dari MV Run. . .semoga reader(s) terhibur saja lah :v see ya.. .

 

Advertisements

3 thoughts on “[What is Your Color?] Rosa Chinensis Viridiflora – Vignette

  1. Sblm komentar mau kasi tau dulu sbnrnya semalem mau baca tp krn ngantuk aku like aja dulu dan skrg baru smpt baca :”v maafkeunn
    Well, kita kembali ke topik. Jangan-jangan….yoongi rambutnya ijo gara-gara si adik suka sama yang berbau hijau-hijau lagi XD
    Yah awalnya aku udahduga ini terinspirasi dari run dan trnyata udh di jelasin di notenya :v
    Nice ficcccc! Ceritanya bagus, mudah di pahami, dan alurnya berjalan bak aliran sungai. Pokoknya jjang! Keep writing🙌

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s