[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 5)

foal4

Fantasy of A Liar (Chapter 5)

by zerronozelos

Main Cast :

| Han Hyun Woo (OC) | Min Yoon Gi |

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst (not sure) etc.

SchoolLife!AU

Rate : T

Length : Chaptered

A/N : Ide cerita murni dari imajinasi liar saya. Kalaupun ada kesamaan, saya jamin tidak akan seluruhnya karena ide cerita datang darimana dan siapa saja—atau kita berjodoh 😀 .. ati-ati, banyak typo bertebaran. […] for flashback. Saya tidak yakin bisa membuat cerita menjadi singkat, karena cinta butuh proses lebih untuk mendalaminya *uhuk* Maaf saya update nya lama :v

Happy Reading and leave a comment please ><

.

.

[ .. Kau tahu apa fantasi terbesar seorang pembohong? .. ]

.

.

Min Yoon Gi POV

Tanganku menggapai-gapai nakas di samping tempat tidur, meraba-raba benda bulat dengan tombol kecil di atasnya. Sial, kenapa jam beker ini tidak mau berhenti berbunyi?!! Terlalu frustasi, aku pun melemparnya ke sembarang arah sampai terdengar suara benturan keras di sudut kamar. Itu adalah jam kedua puluh tiga yang hancur selama sebulan ini. Karena acara tidurku telah terganggu, aku pun bangun lalu melirik tirai yang menutupi jendela. Jam berapa sekarang?

“Jam enam.”

Tepat. Tidak kurang, tidak lebih. Memang alarm alami lebih manjur ketimbang alarm buatan. Sial, badanku kaku semua. Telapak kaki menyentuh lantai dan menimbulkan decakan keras. Aku berjalan menuju kamar mandi, sebelum itu aku sempat mengamati foto yang tergeletak di atas meja. Memandangi dua orang beda gender yang tertawa bersama sembari mengeratkan pelukan mereka, aku tersenyum. Waktu telah memisahkan mereka.

“Tsk. Tidak ada waktu untuk menangis, dasar cengeng.”

Punggung tangan mengusap kasar butir air yang lolos dari mata. Aku benci. Cuma dengan memandangi foto itu air mataku spontan mengalir dan dalam sedetik aku menjadi orang paling cengeng sedunia. Kenapa aku mencintai dia sebegitu besarnya? Apa mungkin karena dialah orang yang paling mengerti aku? Tidak mungkin. Kalaupun dia adalah orang yang paling mengerti aku, pasti dia tak akan meninggalkan aku dalam keadaan menyedihan seperti ini.

Foto penuh kenangan kubalik, meski belum saatnya aku melupakan.

Di sebelahnya ada ponselku, dan kejadian semalam pun teringat.

Tidak tahulah. Aku mau mandi!

Pintu kamar mandi kugeser kasar, cepat-cepat aku menyalakan shower dan mengisi bathub.

***

“Silakan, Tuan Muda.”

“Ya, ya. Aku tahu.”

Dengan gesture tangan melambaiku yang sangat fenomenal, pelayan itu pun kembali ke mobil dan pergi. Seperti biasa, aku datang ke sekolah hanya untuk titip tas dan melenggang pergi ke rooftop. Tidak, tidak perlu sekolah untuk mengetahui akan jadi apa aku besok. Masa depanku sudah ditentukan oleh orang tua, aku akan jadi penerus bisnis keluarga satu-satunya. Salah kalau orang-orang mengatakan bodoh, aku tidak bodoh dan hanya malas saja. Di rumah aku sudah mendapatkan pembelajaran bagaimana caranya menjadi pengusaha sukses. Meski aku lemah terhadap matematika, setidaknya aku punya insting kuat soal uang.

“Yoon Gi Oppa.”

“…”

Aku menoleh, mendapati seorang siswi sedang memasang wajah merajuk ke arahku. Mau apa?

“Pulang sekolah nanti—“

“Aku ada acara.”

“Baiklah, kalau begitu besok—“

“Keluarga besarku mengajak makan malam bersama.”

“Eum, baiklah. Lusa—“

“Sepertinya aku akan sibuk sepanjang waktu. Maaf, tidak bisa menemanimu.”

Daripada harus menanggung akibat, lebih baik aku menolak duluan. Para gadis yang terus menggoyang-goyang ekor rubah mereka ke arahku. Persetan semua.

Andaikan aku terlahir sebagai pria miskin dan jelek, mereka mau apa? Meludah dan menampakan wajah jijik kepadaku? Dunia memang seperti itu. Tapi lain halnya dengan seseorang, apakah Kim Da Hyun masih mau menerimaku kalau diriku ini tidak terlahir sempurna?

Lagi-lagi Kim Da Hyun. Apa kau tidak bosan, Min Yoon Gi?

Terus-terusan berharap pada orang yang sudah mati.

“Aku harus pergi.”

Oppa.”

Maaf, rajukanmu tidak mempan. Aku sudah terlampau biasa dengan rajukan seperti itu. Kaki-kaki ku berlari menaiki anak tangga, hingga sebuah pintu rooftop yang terbuka menyambutku. Tsk, siapa yang berani merebut wilayahku? Jangan bilang kalau—

“Han Hyun Woo!!”

Kelopak mataku mengerjap beberapa kali, sampai aku tersadar bahwa tidak ada siapa-siapa di sini. Apakah aku terlalu mengharapkan sosok seseorang yang kutelpon semalam? Tapi dia tidak ada di sini. Lalu siapa yang membuka pintu rooftop? Bukan hantu pastinya. Angin kencang menampar wajah, menyibak helai-helai rambut satu-persatu. Aku mendekati pagar pembatas lalu memandang bawah. Gerbang sekolah belum ditutup, bel masuk pun belum berbunyi.

Sepertinya aku batal sekolah hari ini.

Tanpa basa-basi, tas yang sebelumnya kutaruh sembarangan pun kuambil. Sial, aku tidak bisa santai. Kaki-kakiku berlari cepat menuruni anak tangga, hampir saja aku terjatuh dan beresiko meremukkan tulang tengkorak ku. Mataku menyipit saat menyadari pintu gerbang bergerak, mempersempit jarak keluar. Sial sial sial. Aku harus lebih cepat lagi kalau ingin keluar.

“Hei.”

Tidak peduli dengan teguran penjaga sekolah, aku pun berhasil melewati gerbang sekolah lalu berlari menjauh. Sempurna, gerbangnya sudah tertutup. Aku masih berlari, lalu menoleh ke belakang. Kenapa tidak ada bus yang datang?! Aku tidak mau menunggu lebih lama. Tidak ada pilihan lain, aku hanya harus terus berlari hingga tenagaku habis. Sekelebat bayangan Da Hyun menuntunku kemari,  membuatku tidak berhenti untuk berlari. Kedua lututku terasa berat, mana bisa kau berhenti sekarang? Kau sama saja orang lemah!

Sebuah bus datang. Aku cuma harus naik dan istirahat sebentar.

***

Gedung besar menyambut, aku melangkah tanpa ragu-ragu. Menatap satu-persatu deretan kursi yang masih menyisakan kursi kosong. Hm.. ada satu. Aku pun mendekat, lalu meletakkan tas di samping kakiku. Baru saja aku hendak mengambil ponsel, atensiku teralihkan. Cih. Orang di sebelahku punya seragam sekolah yang sama denganku. Tidak kusangka, siswi sepertinya membolos hanya demi main game online. Aku pun menarik mouse lalu log in.

Game mungkin bisa membuatku sedikit rileks. Aku pun melenturkan jemari-jemari, mematahkan kepala ke kanan dan kiri. Ada seseorang yang menantangku berduel, tapi tentu saja ini tidak akan berakhir mudah. Memang levelku tidak terlihat, ya? Berani sekali menantangku berduel dengan kemampuan segitu. Kita lihat, akan serendah apa kau kupermalukan.

Orang yang menantangku hampir membuatku tertawa keras. Sudah jelas amatiran, bisa dilihat dari strategi dan caranya bermain yang .. asal-asalan plus tidak karuan. Pemenangnya sudah ditentukan dari awal, kenapa tidak menyerah sebelum jadi pecundang. Tsk.

“Hei. Kau kalah.”  Suara seorang pria tertangkap indera pendengaranku.

“Hm ..”

Orang di sebelahku ternyata juga kalah. Wanita bisa apa soal main game online. Saatnya mencari penantang baru. Aku pun mencoba melihat-lihat senjata apa saja yang bisa kugunakan untuk mengalahkan pemain lain.

“Siapa yang mengalahkanmu?”

“Lihat. Username-nya … SugarMan! Ah, sial. Ingin sekali kubunuh orang itu.”

Apa?

Membunuh seseorang dengan username SugarMan?

Tapi SugarMan adalah aku.

Jangan bilang kalau aku berduel dengan seseorang di sampingku. Aku pun melirik, mencoba mencari tahu rupa gadis itu.  Nadanya yang kelewat antusias saat berkata ingin membunuhku membuat penasaran. Dia berani menantangku? Gadis tengil macam dia.

“Eh?”

“Kau kenap—hmmph!!”

Lirikan mata kami bertemu sekilas. Dia buru-buru menutup mulut teman di sampingnya, bisa didengar dari suara bekapan kilat barusan. Aku memajukan wajah, dan malah mendapat respon negatif. Gadis itu memajukan wajahnya ke arah komputer sehingga membuatku tidak dapat melihat dikarenakan pembatas yang menghalangi. Aneh. Tidak normal. Aku tak peduli lagi kalau barangkali salah orang, tapi dia satu sekolah denganku dan aku berhak tahu seperti apa wajahnya.

“Permisi, kau terlalu dekat dengan komputer. Bukankah itu tidak baik bagi matamu.” Sindirku.

“A-ah .. tidak apa-apa. Aku terbiasa melihat komputer seperti ini.”

“Itu tidak normal.”

“…”

“Kau orang dengan username HanWoo?”

Bahkan dilihat dari username-nya saja terasa aneh. Daging premium paling enak di Korea?

“Oh, Yoon Gi!!”

Aku pun menoleh ke arah teman di sebelahnya yang melambaikan tangan. Apa aku mengenal orang itu? Tapi kami pakai seragam sekolah yang sama.

“Aku yakin kau tidak mengenalku, namaku Kim Tae Hyung. Senang bertemu denganmu.”

Kim Tae Hyung? Pernah dengar nama orang itu, tapi dimana?

“Aku datang dengan teman sekelasmu. Han Hyun Woo.’”

Han Hyun Woo? Benar juga, dia pernah bilang padaku soal Tae Hyung.

—Tunggu. Jadi gadis ini Han Hyun Woo?!!

Harusnya aku sadar kalau username itu sungguh melambangkan betapa anehnya dia.

Dan yang lebih penting lagi, bukankah dia pernah berkata kalau Kim Tae Hyung adalah anak aneh yang tiba-tiba menyapa dan menarik dagunya? Lalu sekarang mengapa mereka bolos bersama?

“Hei, kau.” Tegurku.

“I-iya.” Dia melongokkan kepalanya.

“Kau bolos?”

“Kau sendiri?”

“Aku bertanya padamu, sial.”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku juga.”

“Cih, tidak penting.”

Aku memalingkan muka, kembali menatap layar monitor.

“Hei. Tae Hyung, ayo pulang.”

“Ha? Bukankah kau bilang kalau kau mau main sampai malam lagi?”

“Tiba-tiba aku malas main, ayo pergi dari sini.”

“Bagaimana dengan Yoon Gi? Dia teman sekelasmu, ‘kan.”

“Memangnya aku perduli.”

Aish. Kalau memang mau pergi silakan saja, jangan bawa-bawa namaku. Aku paling tidak suka namaku disebut-sebut. Karena itu bisa membuatku sangat kesal dan penasaran. Terdengar suara kaki kursi menggores lantai lirih, gadis ini menyebalkan. Aku benci dia.

Benci karena dia membuatku berubah seperti orang lain.

“Kau tahu. Sepertinya kita harus bicara.”

Tak tahan lagi, aku pun bangkit dan menarik lengannya. Dengan mudah ia mengikutiku lalu meronta-ronta layaknya hewan peliharaan minta dibebaskan. Ini aku, tuanmu. Kenapa kau tidak mau menuruti perintahku?

“Lepaskan, sial.” Hyun Woo mencoba melepaskan tanganku.

“Sebaiknya kalian berdua bicara di luar, di sini banyak orang.” Tae Hyung menyarankan sambil tebar senyuman.

“Ide bagus. Terima kasih, aku pinjam dia sebentar.” Aku menunjuk Hyun Woo.

“Ah, tak apa. Jangan minta izin denganku, aku tidak punya hak soal dia.” Tae Hyung melambaikan tangan.

“Oi, Kim Tae Hyung. Kenapa kau malah membiarkanku dibawa oleh orang mesum sepertinya?!”

“Kalian hanya harus bicara, tenanglah Hyun Woo. Jangan membuat keributan.”

“Ikut aku.”

Interupsi. Tanpa belas kasihan aku menyeret Hyun Woo ke luar gedung, memandang sekeliling sekiranya ada tempat untuk bicara. Ada bangku di depan sana. Hyun Woo masih meronta-ronta, aku mengeratkan peganganku. Aku bukan seorang sadistis yang gemar menyiksa, hanya saja orang ini perlu diberi peringatan ekstra agar cepat mengerti. Kami berhenti di depan bangku.

“Duduk.”

“Tidak mau.”

“Duduk.”

“Tidak mau.”

“Kalau begitu .. jangan menangis.”

“Ti—eehhh??”

Dia mengusap-usap kedua pipinya sendiri lalu baru menyadari jika ia mengeluarkan air mata. Bagus, orang-orang yang lewat pasti menganggapku sudah melakukan kekerasan seksual padanya. Berapa kali kukatakan kalau aku ini bukan orang mesum atau pelaku kejahatan seksual. Tidakkah wajahku ini mengatakan segalanya. Aku super duper tampan dan keren—meski betisku terlalu kecil untuk ukuran seorang laki-laki. Mana ada orang tampan dan keren melakukan kejahatan seksual pada wanita, yang ada malah wanita itu yang minta dikejahatani seksual—lupakan, aku tidak tahu aku bicara apa.

“Jadi kau ingin biara soal apa?” Hyun Woo mengeluarkan tisu.

“Kau bolos bersamanya?” Tanyaku tidak percaya.

“Nya siapa?”

Suara aneh menginterupsi dialog kami, Hyun Woo sedang mengeluarkan ingusnya.

“Menjijikkan.”

“Daripada ingusku keluar tidak kulap, itu lebih menjijikkan.”

“…”

“Siapa yang kau bicarakan?”

“Kim Tae Hyung.”

“Ah, dia. Kami sekarang berteman baik.”

Aku membelalak. Dalam sehari mereka bisa jadi teman baik? Tidak mungkin. Memangnya semudah itu mendeklarasikan pertemanan? Sial. Kenapa aku malah kesal sendiri? Bahkan itu semua sama sekali bukan urusanku.

Author POV

Hyun Woo menatap Yoon Gi dengan tatapan bingung. Mau menyalahkan takdir lagi juga tidak mungkin. Berapa kali dia mencoba menyalahkan takdir yang membuat nasibnya merana di depan Min Yoon Gi. Anggap saja kebetulan, Hyun Woo sedang mencoba menanamkan faham ‘kebetulan’ pada dirinya sendiri. Karena semua bisa jadi mengerikan saat berhadapan dengan orang mesum ini.

Dia penuh kejutan.

Seperti membuka kertas lotre, kau bisa mendapat hadiah besar atau malah mendapat tulisan ‘tidak beruntung’.

Tapi, semua itu membuat setiap orang resah. Pada akhirnya mereka hanya akan menggenggam kertas lotre tanpa ada keberanian untuk membukanya.

Dan Hyun Woo termasuk salah satu dari mereka, para pengecut.

“Kau sudah selesai bicara? Baiklah, aku kembali.” Hyun Woo ambil langkah.

“Kau bolos. Kau anak nakal.” Ucap Yoon Gi spontan.

“Lalu kau sebut dirimu sendiri apa? Orang baik huh? Terserah kau saja.”

“Sebenarnya aku tidak ingin kita berdebat, bukan ini yang kumau.”

Helaan napas kasar lolos dari mulut Hyun Woo, dia berbalik menatap Yoon Gi. Kedua tangannya bersidekap di depan dada.

“Lalu, apa mau mu. Min Yoon Gi?”

Jelas ada yang berbeda, apa lagi saat Hyun Woo memberi penekanan pada nama lengkap Yoon Gi.

“Mari berteman. Hari ini dan selanjutnya.”

Entah setan mana yang merasuki Yoon Gi, dia tiba-tiba mengulurkan tangan. Menunggu sambutan dari Hyun Woo yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Jadi hubungan mereka selama ini apa? Bukan teman juga? Hyun Woo merasakan nyeri di dada, dia tertohok oleh kalimat tegas Yoon Gi. Seperti apa Han Hyun Woo di mata Min Yoon Gi?

Seseorang penyuka Yoon Gi?

Seseorang yang bodoh?

Seseorang yang mudah dipermainkan?

Jangan salahkan Hyun Woo bila terjadi kesalahpahaman. Karena sedari awal orang itu sendiri yang telah memulainya. Dialah yang membuat segala sesuatu menjadi lebih rumit. Ketika Hyun Woo ingin menyederhanakan perasaannya yang murni, Yoon Gi malah mempermainkannya tanpa henti. Han Hyun Woo mungkin tahan banting, tapi jauh di dalam sana dia pastilah punya hati seorang wanita. Maka dari itu, dia ingin memperjelas lagi … jadi selama ini Yoon Gi menganggapnya sebagai siapa?

Minimal Yoon Gi menganggapnya sebagai seorang manusia yang punya hak hidup.

“Setelah kita berteman, kau mau apa?” Selidik Hyun Woo curiga.

“Menghabiskan waktu layaknya siswa SMA.” Jawab Yoon Gi tanpa ragu.

“Seperti?”

“Bermain ke Game Center denganmu.”

“Tunggu sebentar.”

Tangan Hyun Woo memberi intruksi kepada Yoon Gi. Hyun Woo berbalik memunggungi Yoon Gi. Sial, aku terlena dengan kalimatnya barusan. Padahal cuma bilang  ingin main bersama, tapi berhasil membuatku membumbung ke awan. Tanpa sadar Hyun Woo membekap mulutnya agar tidak tersenyum. Rasa senang membuncah di dalam dada, tampaknya ada bunga-bunga bermekaran.

Hyun Woo berdehem lalu kembali menghadap Yoon Gi.

“Aku pulang setelah ini.”

“Dengan?”

“Tae Hyung mungkin.”

“Harus bersama dia?”

“Aku datang bersama dia. Kalau bisa, pulang pun juga harus bersama dia.”

“Oh.” —Tidak bisa pulang denganku saja?

Setelah itu, Hyun Woo pergi meninggalkan Yoon Gi yang masih setia memaku tanah. Dia menjatuhkan diri ke atas bangku, merentangkan tangan lalu menghembuskan napas berat. Kedua kelopak mata sedikit menyipit, mencoba membiasakan diri dengan sinar matahari yang silau. Kalau memang rasa cinta itu ada, mengapa tak bertahan selamanya? Yoon Gi membatin. Sampai sekarang dia masih belum mengerti apa itu cinta.

Tapi kalau memang cinta adalah sesuatu yang ia lakukan selama ini yaitu dengan mengekang masa lalu dan mematri kuat nama seseorang di lembah hati maka arti cinta pastilah semudah itu. Perasaan yang membuat semua orang bodoh. Tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Pikiran mereka selalu hanya untuk satu orang, tak pernah tidak. Jadi orang jatuh cinta itu tidak ada bedanya dengan orang dungu. Sama-sama dibutakan kebodohan dan pikiran pendek.

“Yoon Gi-ssi.”

Yoon Gi mendongak, lalu menemukan senyuman lebar dari seseorang.

“Kim Tae Hyung?”

“Kau ingat namaku.”

Tae Hyung mengambil tempat di samping Yoon Gi. Dengan kebaikan hatinya dia mengulurkan sekaleng kopi dingin. Kebetulan sekali kerongkongan Yoon Gi sedang kering kerontang, tanpa pikir panjang ia meraih pemberian Tae Hyung. Tarikan kuat yang berhasil membuka kaleng dan membuat rongga besar. Yoon Gi meneguk pelan kopi dinginnya.

“Terima kasih.” Yoon Gi berucap.

“Sama-sama.”

“Kau menunggu anak itu?”

“Maksudmu Han Hyun Woo?”

“Ya, begitulah.”

“Hm, tidak juga.”

“Tapi dia bilang dia ingin pulang denganmu.”

“Benarkah? Hyun Woo sedang tenggelam dalam game saat ini.”

“Dia tidak jadi pulang?”

“Sepertinya tidak.”

“Tsk.”

Dengan tak sabar, Yoon Gi menelan likuid hitam yang tersisa. Setelah kaleng kosong, dia pun berdiri lalu menendangnya ke sembarang arah. Tae Hyung hanya tertawa melihat tingkahnya. Yoon Gi sempat akan menyahut ‘apa yang lucu?’ tapi urung dilakukan karena mereka baru kenal. Bisa-bisa dia dituduh cemburu dengan Han Hyun Woo. Tidak sudi.

Dilihat dari sikapnya, Tae Hyung mungkin tidak punya rasa canggung dengan orang yang baru ia kenal, atau jangan-jangan tak punya rasa malu juga. Yoon Gi sedikit terhenyak ketika menyadari Tae Hyung seolah terus mengumbar senyum. Jadi Han Hyun Woo jatuh hati hanya karena senyuman mautnya itu? Hanya karena itu? Bukan maksud menyombongkan diri atau apa. Tapi Yoon Gi pernah terkenal dengan julukan ‘Si Senyum Gula’ . Beratus-ratus kali lebih manis ketimbang gula sampai beresiko terkena dibates bagi yang melihat senyumannya. Yoon Gi kembali duduk.

“Yoon Gi-ssi.”

“Cukup panggil aku Yoon Gi.”

“Baiklah. Yoon Gi.”

“Ada apa?”

“Kau menyukai Hyun Woo?”

“Terbalik.”

“Ah, jadi Hyun Woo yang menyukaimu.”

“…”

“Tapi kau benar-benar tak punya perasaan kepadanya, ‘kan?”

“Aku harap begitu. Kami sebatas .. teman satu kelas.”

“Eum, syukurlah.”

Syukurlah? Yoon Gi langsung menoleh. Menatap tidak suka ke arah Tae Hyung. Yang ditatap malah senyum-senyum tidak jelas ke arah jalan raya. Tidak, tidak, bahkan Kim Tae Hyung bukan rival yang sepadan. Lalu mengapa dia merasa tersaingi? Merasa terbebani dengan kehadirannya yang ternyata sangat mengganggu. Kim Tae Hyung. Anak kelas sebelah.

“Bagaimana kalian bisa bertemu?” Tanya Yoon Gi penasaran. Sudah menyiapkan telinga.

“Entahlah. Baru kemarin kami bertemu, dan kami langsung main.” Jawab Tae Hyung dengan nada ceria.

“A-apa? Tapi kalian sebelumnya benar-benar tidak saling kenal, ‘kan? Tapi bagaimana bisa ..”

“Kupikir Hyun Woo bukan orang yang tertutup ataupun pemalu, dan aku pun juga begitu. Mungkin hal itu yang bisa membuat kami cocok satu sama lain.”

“Cocok katamu?”

“Ya. Apa harus sekaget itu, ya?”

“Tidak, bukan apa-apa. Aku harus pergi.”

“Baiklah.”

***

Hyun Woo menendang kerikil asal, memusatkan segala kekesalannya pada benda kecil yang bahkan tidak tahu apa-apa itu. Mereka sudah berjanji untuk bertemu di toko buku samping sekolah. Mereka? Maksudnya adalah Hyun Woo dan Hye Ri. Sudah lama sejak dua minggu yang lalu mereka tidak menghabiskan akhir pekan bersama. Waktu bersama teman perempuan itu seratus kali lebih penting dari apapun.

Makan makanan manis tanpa takut gendut, membeli segala pakaian dan aksesoris tanpa khawatir uang habis, yang penting bersama teman. Hyun Woo melihat layar ponselnya lalu menghela napas. Kebiasaan Jung Hye Ri yang paling dibenci setiap orang, yaitu terlambat.

“Han Hyun Woo.”

Dia berlari sambil memegangi tasnya yang bergoyang-goyang tak karuan, Hyun Woo menoleh dan menatap kesal. Bukankah Hyun Woo sudah bilang kalau toleransi keterlambatan Hye Ri hanya lima belas menit? Tapi dia datang tiga puluh menit lebih lama dari jam perjanjian mereka. Pelajaran moral apalagi yang harus ia ajarkan pada anak itu?

“Maafkan aku. Aku harus men—“

“Stop. Aku mengerti. Kita pergi sekarang.”

“Maafkan aku, sungguh.”

“Iya, aku tahu. Kita harus cepat kalau tidak ingin ketinggalan bus.”

Mereka berdua berjalan tergesa-gesa ke arah halte. Rencana mereka hari ini adalah pergi ke Lotte World. Hye Ri lah yang mengusulkan agar mereka pergi bermain ke sana, Hyun Woo pun akhirnya setuju. Meskipun dia asli orang Seoul dan Lotte World terasa tidak asing di telinga, Hyun Woo belum pernah sekalipun ke sana. Agak memalukan tampaknya. Tapi Hyun Woo tentu sangat antusias hingga ia membawa setumpuk uang hasil kerja kerasnya mengumpulkan uang saku selama sebulan.

Anggap saja ini semua bagian dari proses untuk melupakan seseorang. Dia sudah mengatakan berulang-ulang dan mendoktrin otaknya agar bisa melupakan orang itu. Tapi yang ada malah menambah beban pikiran. Sekarang, Hyun Woo ingin mengalir saja. Menikmati segala proses dalam usaha melupakan meski pelan dan perlahan.

“Hei. Bagaimana kemajuan hubunganmu dengan Yoon Gi?”

Kesalahan besar.

Dua gadis itu duduk di sudut bus, dan Hye Ri dengan santai menanyakan hal yang sangat sensitif.

Mungkin dia belum tahu.

“Hubungan? Sejak kapan kami ada hubungan?”

“Huh? Jadi belum ada hubungan diantara kalian berdua?”

“Maaf, tapi sepertinya tidak akan ada suatu hubungan diantara kami berdua.”

“Teman baik sekalipun?”

“Ya.”

“Katakan padaku kalau si Min Yoon Gi itu menyakitimu. Aku akan menghajarnya karena sudah membuat sahabatku patah hati.”

Hye Ri menggulung lengan kemejanya dan memasang wajah garang seperti kucing yang akan berkelahi. Hyun Woo cuma menggeleng lalu memijit pelipis perlahan.

“Beberapa hari yang lalu dia menelponku.”

“Apa?!!”

Beberapa orang menoleh ke arah mereka, Hye Ri pun melambaikan tangan lalu memasang wajah polos. Dia pun menarik tangan Hye Ri agar dia lebih mendekat.

“Bagaimana bisa dia menelponmu? Dia punya nomormu?”

“Entah dia dapat dari mana. Yang jelas dia menelponku malam-malam setelah dia bertemu denganku sebelumnya.”

“Lalu?”

“Aku yakin Yoon Gi tak tahu kalau aku memiliki nomornya. Dia pasti terlalu yakin kalau aku tak punya nomornya. Maka dari itu aku pun mengatakan isi hatiku dengan jujur dan …”

“Dan?”

“Dia mematikan panggilan dengan tiba-tiba.”

“Astaga. Apa yang kau katakan sampai dia bisa seperti itu?”

“Aku hanya bilang kalau dia sudah memilih kebahagiaan yang paling benar. Menurutku itu tidak terasa salah. Kalau dia memang masih ingin mengenang gadisnya terdahulu maka jangan bawa-bawa aku ke permainannya.”

“Dia bahkan tak akan bisa membuatmu jadi bidak, Hyun Woo.”

“Jangankan jadi bidak, jadi lawannya dalam menggerakkan bidak saja aku tak mau.”

Hye Ri mengangguk-angguk lalu menepuk pelan punggung Hyun Woo, mencoba memberikannya semangat. Hyun Woo yang seakan mengerti usaha Hye Ri ikut mengangguk-angguk. Kasihan sekali sahabatnya ini, cinta pertama memang tidak semulus yang dibayangkan orang-orang atau drama-drama. Karena cinta pertama yang penuh kebodohan dan ketidaktahuan, setiap orang pun pasti memaklumi. Hye Ri berharap yang terbaik untuk Hyun Woo, masih banyak laki-laki yang lebih cocok di luar sana. Lagi pula jalan mereka ke depan masih panjang, umur mereka hampir tujuh belas dan dunia dewasa sudah berada tepat di depan mata.

Setelah empat puluh menit berdiam diri di bus, mereka tiba di halte. Masih harus berjalan untuk sampai ke Lotte World, Hyun Woo menggigit bibir bagian bawahnya. Tidak sabar menikmati keseruan setiap wahana permainan. Ini taman bermain indoor terbesar yang dikatakan orang-orang, dan sekarang taman bermain itu berada tepat di depan matanya. Dia mengeluarkan ponsel lalu memotret tampak depan Lotte World. Ponsel diturunkan, Hyun Woo kebingungan mencari Hye Ri yang beberapa detik lalu berada di sampingnya.

“Jung Hye Ri.”

Senyuman geli terbentuk, Hyun Woo menghampiri sahabatnya yang sedang menggigit sosis panggang ukuran jumbo. Belum apa-apa sudah makan, Hye Ri tampak tidak takut dengan kemungkinan perut mual-mual lalu muntah. Hyun Woo melirik kedai gula kapas di sebelahnya, dia berandai-andai sedang berada di dunia fantasi. Membeli gula kapas lalu bermain semua wahana sepuasnya, bersama orang yang dicintai. Tapi dunia fantasi yang seperti itu bahkan terlalu jauh dibawa ke dalam angan-angan.

“Kau mau?” Hye Ri menawarkan sosisnya yang tinggal separuh.

“Tidak. Aku tidak mau mual-mual saat bermain nanti.” Jawab Hyun Woo.

“Ah, benar juga. Tapi sayang kalau dibuang, sosis ini mahal. Rasanya enak sekali.”

“Sementara menunggu sosismu itu turun ke perut, bagaimana kalau kita bermain wahana yang aman-aman dulu?”

“Maksudmu yang tidak ekstrim?”

“Ya.”

“Ide bagus. Ayo.”

***

Masih ada uang. Hyun Woo bertekad menghabiskan uangnya untuk hari ini. Benang dalam genggaman, dia mendongak lalu tersenyum melihat balon yang dibelikan oleh Hye Ri. Sedangkan sahabatnya sedang asyik menyantap makanan kecil—lagi. Hye Ri sibuk menjilati es krim dengan irisan buah tropis warna-warni, manik matanya bergerak ke sana kemari mencari-cari wahana permainan apa yang terlewatkan oleh mereka. Tiba-tiba dia memekik.

“Ayo main itu.”

“Hah?”

“Itu .. kita hanya harus menembak bebeknya.”

“Tapi bebek itu berjalan.”

“Aku harus dapatkan boneka Rilakkuma!!”

“Baik—jangan lari, Hye Ri-ah!!”

Orang yang diteriaki sudah terlanjur menutup telinga. Dia berlari mendekati seorang pemuda yang sedang memberesi peralatan permainan. Hye Ri terlihat menahan napas saat menemukan boneka Rilakkuma sebesar pelukan tangan orang dewasa.

Ahjussi, aku ingin main.” Hye Ri berkatak tidak sabar.

“Tunggu aku, Hye Ri-ah.” Hyun Woo memprotes kecepatan lari sahabatnya.

Pemuda itu pun mendongak lalu membenarkan topi berlogo yang ia pakai.

“Kalian berdua menghabiskan libur akhir minggu di sini, ya?”

“Eh? Kim Tae Hyung?”

“Kau kenal Ahjussi ini?”

Tae Hyung menatap Hye Ri, lalu menggeleng karena tidak terima disebut Ahjussi dalam umur yang semuda ini. Hyun Woo menatap Tae Hyung dari ujung kaki sampai ujung kepala yang lengkap dengan seragam khas Lotte World, dia kerja di sini?

“Kau ..” Hyun Woo menunjuk Tae Hyung.

“Aku menggantikan kakakku yang sedang sakit.” Tae Hyung tersenyum.

“Ah ..”

“Jadi siapa Ahjussi ini, Hyun Woo?” Hye Ri gantian menunjuk Tae Hyung.

“Katakan pada temanmu ini untuk berhenti memanggil pria tampan sepertiku dengan sebutan Ahjussi.”

“Dia temanku dari kelas sebelah, namanya Kim Tae Hyung.”

“Oh, temanmu dari kelas sebelah—tunggu, jadi temanmu dari kalangan Ahjussi juga?!”

“Dia satu sekolah dengan kita, Hye Ri.”

Ringisan tak berdosan muncul, Hye Ri mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk-nunjuk boneka Rilakkuma. Tae Hyung mengehela napas kemudian memberikan senapan berisi tiga butir peluru plastik. Tidak perlu berkata, semua orang  juga tahu peraturannya. Tembak bebek berjalan itu atau kau kalah. Hye Ri memincingkan mata, mengangkat senapan seolah-olah dia terlatih sebagai penembak profesional. Hyun Woo cuma menggeleng menanggapi sikap berlebihan sahabatnya.

Tae Hyung menyenggol lengan Hyun Woo, dia pun menoleh lalu menaikkan dagu tanpa bertanya ada apa.

“Teman laki-lakimu tidak ikut?”

“Siapa?”

“Yoon Gi-ssi. Ah, bukan, Yoon Gi.”

“Dia bukan temanku.”

DOR!!

“Lalu siapa? Pacar?”

“Dia juga bukan pacarku.”

DOR!!

“Bagaimana kalau teman tapi mesra?”

“Cih, tidak sudi.”

DOR!!

“Pelurunya habis. Berikan padaku lagi, cepat!!”

Ada satu orang yang membuat suara mengganjal ketika percakapan antara Tae Hyung dan Hyun Woo dimulai. Tae Hyung berdecak kagum, Jung Hye Ri pastilah orang yang keras kepala. Apa lagi kalau dihadapkan dengan boneka Rilakkuma. Diambilnya empat butir peluru plastik.

“Aku beri bonus sebutir.”

“Terima kasih.”

“Tapi jangan—“

DOR!!

“Jangan—“

DOR!!

“Jang—“

DOR!!

DOR!!

“Jangan cepat-cepat menghabiskannya.” Ucap Tae Hyung terlambat.

“Ah, sial. Tidak kena satupun, berikan aku lagi. Kalau perlu bonusi aku dua butir peluru.”

“Kalau cara mainmu seperti itu, selamanya kau mencoba pun tak akan pernah kena sasaran.”

Hyun Woo menoleh, dia sempat berpikir kalau Tae Hyung bertransformasi jadi orang sok tahu soal tembak-menembak. Lalu diawasinya setiap gerakan Tae Hyung saat memegang senapan. Posenya terlihat sangat meyakinkan. Fokus dan diam. Terkesan kalem tidak tergesa-gesa seperti yang baru saja dilakukan oleh Hye Ri. Tatapannya tajam mengarah ke sebuah bebek buatan yang berjalan digerakkan mesin, jari telunjuk menyentuh picu. Ketika terjadi tarikan picu oleh jari telunjuk, Hyun Woo sadar kalau tarikan itu tidak menghentak dan juga tidak keras. Karena bila itu terjadi maka jari yang lain akan bergetar dan membuat sasaran akan berubah.

Sekian milimeter sasaran berubah akan berdampak banyak di sasaran tembaknya.

DOR!

Suara senapan menyalak.

Satu bebek terjatuh.

Satu orang berteriak girang.

“Rilakkuma, aku dapat Rilakkuma.” Hye Ri meloncat-loncat senang.

“Hei, Tae Hyung. Aku yakin kau pernah latihan menembak.” Hyun Woo menepuk pundaknya.

“Tidak juga. Aku cuma sering mainan seperti ini.” Tae Hyung terkekeh.

Sebuah boneka Rilakkuma besar berpindah kepemilikan. Hye Ri tersenyum lebar lalu menciumi barang yang ia idam-idamkan sejak tadi. Hyun Woo meminta maaf kepada Tae Hyung karena sudah terlalu banyak merepotkannya. Mereka berdua pun pamit ingin melanjutkan acara bermain yang sempat terhenti. Tae Hyung tersenyum lalu melambaikan tangan.

Han Hyun Woo POV

Aku menatap hasil perkerjaanku. Beres. Tinggal membersihkan satu deret lagi meja, dan aku bisa pulang. Kelas sepi karena semua orang sudah pulang, Hye Ri pergi ikut kegiatan klub musik. Sedangkan aku sebagai orang yang tidak tertarik dengan kumpulan orang-orang pun membersihkan kelas. Masker yang melorot kunaikkan, aku menepuk-nepukkan tanganku yang penuh debu.

Kemarin adalah hari paling keren. Lotte World memang tiada duanya. Lain kali aku akan pergi ke sana lagi. Terserah dengan siapa, kalau bisa aku ingin mengajak anakku main ke sana. Sepertinya angan-anganku terlalu jauh. Kim Tae Hyung. Aku cukup yakin kalau para gadis yang melihat wajah seriusnya saat menembak bisa meleleh. Itu sama sekali bukan watak Kim Tae Hyung yang aneh dan cengengesan.

“Hah ..”

Ternyata Tae Hyung keren. Aku bisa jadi fansnya kalau terus-terusan memikirkan raut wajah seriusnya kemarin. Apa aku harus mengingat-ingat dia terus? Lumayan, aku bisa agak melupakan keberadaan Min Yoon Gi. Seperti biasa, dia hanya titip tas dan pergi ke rooftop. Syukurlah aku tidak bertemu dengannya. Aku terlalu malas berhadapan dengan Yoon Gi. Kalau bisa dia tidak usah muncul dulu, biarkan aku menenangkan pikiran dan hatiku.

Lap basah kuperas, lalu gosokkan ke kaca jendela. Apa yang kulakukan sebelas dua belas dengan melakukan hukuman. Tapi sungguh, aku bersih-bersih dari hatiku yang paling dalam dengan perasaan yang tulus. Lagi pula kaca jendela di sudut kelas jarang dibersihkan, terbukti dari tumpukan debu di pinggiran jendela. Aku menatap loker setiap siswa-siswi yang beragam.

“Kau dihukum?”

Astaga, aku ingin pulang sekarang.

“Hei.”

Aku menaikkan masker sampai ke atas hidung.

“Aku bertanya padamu.”

Lebih baik pura-pura tidak dengar saja.

Terdengar derap sepatu mendekat, aku cuma bisa berdoa dalam hati agar datang keajaiban. Maksudku aku ingin Yoon Gi pergi dan pulang sekarang juga. Tapi doaku tidak dikabulkan, aku bisa merasakan aura gelap di belakang punggungku.

“Kau flu?”

Dia berjalan ke hadapanku, mencari-cari wajahku untuk diajak bicara.

Aku menjawab dengan lap yang kuangkat.

“Ah, sedang bersih-bersih rupanya.”

“…”

“Berikan aku maskermu.”

Dia ini bicara apa? Mau menggangguku lagi? Menggodaku lagi? Maaf saja, tidak bakal mempan rayuan buayanya itu.  Aku heran kenapa orang di depanku ini senang sekali mengusikku. Memang benar aku suka padanya, tapi kalau diganggu terus aku tak mungkin rela.

Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.

“Aku lebih membutuhkannya daripada kau. Bagaimana kalau di perjalanan nanti aku dikejar-kejar fans?”

“Kau bahkan bukan seorang artis.”

“Siapa tahu, selama ini banyak gadis jadi fansku. Termasuk kau.”

“Aku sudah tidak jadi fans mu lagi.”

“Kenapa?”

Semoga aku salah dengar, tapi barusan nada tanyanya menyiratkan kekecawaan.

“Karena aku sudah terlalu kecewa padamu.”

“Kenapa? Karena aku sudah memilih kebahagiaan yang paling benar?”

“Jadi kau yang menelponku waktu itu?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

Tsk. Sial. Dia lebih pintar dariku. Ternyata Yoon Gi tahu kalau aku punya nomor kontaknya.

“Sudahlah. Lebih baik kau segera pulang, aku ingin menuntaskan acara bersih-bersihku.”

“Bagaimana kalau kubantu?”

“Yang ada malah kau mengangguku. Sudah, pergi sana.”

“Tidak mau.”

Rasanya ingin menjerit. Dia diciptakan untuk membuat orang lain kesal setengah mati. Aku menghembuskan napas berat, abaikan saja, Han Hyun Woo. Kau cuma harus fokus menyelesaikan pekerjaanmu. Dia iblis. Pengganggu. Penggoda. Otak mesum.

Kalau bisa akan kuberikan semua julukan yang bersifat jelek padanya.

“Kalau kau mau, ambil saja.” Aku melemparkan lap basah padanya.

“Dan bagaimana denganmu?”

“Aku sudah selesai.”

“Tidak. Aku tidak mau bersih-bersih sendiri.”

“Lalu aku harus apa?! Kau terus saja menggangguku, menggodaku. Kenapa kau tidak pernah mengerti seberapa kerasnya usahaku untuk mencoba melupakanmu?! Kalau memang kau ingin main tarik ulur, aku tidak sudi. Kau mainkan saja semua permainanmu sendiri, jangan bawa-bawa orang lain. Kalau memang kenangan itu susah dilupakan, maka jangan buat kenangan baru untuk menutupinya. Itu sama saja sebuah kebohongan.”

Yoon Gi terdiam. Aku menahan napas. Isi hatiku tumpah ruah. Sudah lama aku memendam ini, aku cuma tidak tahu kapan harus mengungkapkannya. Dan sekarang hatiku jadi lebih lega. Aku siap. Aku siap kalau Yoon Gi bakal berhenti berkomunikasi denganku. Tidak akan pernah ada hubungan di antara kami berdua. Tidak akan pernah ada.

“Kau .. tahu apa soal masa laluku.”

Dia menatapku tajam. Sial. Kenapa aku berharap sebuah pukulan keras darinya. Mungkin kata-kataku barusan keterlaluan. Tapi tak apa, kalau memang ingin memukulku, ya jangan ragu. Dengan langkah panjang dia menghampiriku. Aku ancang-ancang untuk menepis pukulannya. Tapi dia berhenti. Menunduk dan menyorotku tajam. Menurunkan tingkat kepercayaan diriku untuk melawannya.

“Kalau tidak tahu lebih baik kau diam saja.”

“Kenapa aku harus diam kalau kau terus-terusan mengungkitnya?”

Aku menaikkan masker yang lagi-lagi melorot.

“Apa perlu aku mengajarimu cara untuk diam?”

“Tidak. Aku sudah selesai dengan perasaan ini. Aku sudah muak.”

Tiba-tiba lenganku ditarik kuat. Aku sampai memekik kecil akibat terkejut. Jangan-jangan setelah ini Min Yoon Gi akan memukulku dengan satu pukulan telak. Aku menahan napas. Sulit sekali menelan saliva.

Dan aku merasakan jari-jari Yoon Gi menekan okspital, tengkukku diraih cepat.

Detik berikutnya aku bisa merasakan sensasi hangat pada bibirku yang terlapisi oleh masker.

Min Yoon Gi. Dasar orang gila.

Bisa-bisanya dia menciumku. Bisa-bisanya dia menciumku saat bibirku tertutupi oleh masker.

Apa ini yang dinamakan ciuman tidak langsung? Tapi aku bahkan benar-benar bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari bibir sampai telinga.

Aliran udara kembali terasa. Aku terpaku menatap wajah Yoon Gi yang dekatnya tidak terkira.

“Aku jelas-jelas menyuruhmu untuk diam, ‘kan.”

.

.

.

TBC

Oke. 5k words lebih.. Benar-benar perjuangan untuk mengisi kekosongan cerita. Tidak mungkin saya hanya menceritakan dua orang itu saja. Han Hyun Woo juga punya kehidupan lain bersama sahabatnya. Maka dari itu, saya tidak ingin melulu dia bersama Yoon Gi (meski pada akhirnya mereka berdua bertemu lalu diakhiri dengan perdebatan). Terima kasih sudah mau baca. Sekian, dan sampai jumpa di Fantasy of A Liar Chapter 6 😀

 

Advertisements

24 thoughts on “[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 5)

  1. Gita Dharma

    Yeaahhh itu si taehyung perannya tiba-tiba nyempi di lotte world.
    Gila saat-saat terakhir yg mendebarkan tadi tuh ! Knapa maskernya hyun woo kagak dibuka dulu thor ?? Kan sayang itu bibirnya bang suga disia-siain.
    Oka aku lnjut bca dulu thor !

    Like

  2. LaveniA

    Authorrrr aku menunggu utk chapter selanjutnyaa lohh udah 1 bulann hiksz.. Readers ny jgn dgantung gn dongg thorrr sedihh.. Ud baperr bgt bacanya ga sabar nunggu crta lanjutnyyaa 😭😭😭 Mian thorr br coment d chapter ini.. Crtanya baguss bgtt cptN updtee thorrr gomawooo thorrrr 😭😭☺️☺️

    Liked by 1 person

  3. Hilda Nurulhuda

    Halo author! Mian aku baru bisa komentar di chapter ini, aku terlalu kebawa suasana pengen cepet2 baca chapter selanjutnya. Jujur ini ff bts terseru terbaper yg pernah aku baca, uuu aku bingung sama jalan pikiran yoon gi tapi ff ini sukses bikin aku senyum senyum sendiri. Aku tunggu chapter selanjutnya ya thor! Fighting!!!

    Like

  4. Hyeri17

    KYAAAAA!!! Mian thorr baru comment di ff ini, aku sibuk baca sampe lupa comment di chapter” sebelumnya ehehehhehe.. AKU SUKA BENER-BENER SUKA SEMUA KARAKTER DI FF INI!! Bener-bener kyk gk ada di dunia nyata. Bisa pingsan klo ketemu karakter yg mirip yoongi di kehidupan nyata kekekkek keep writing thor! Ditunggu chapter 6nya yaaa. Hwaiting!!

    Like

  5. @myuungg

    AYO THORR LANJUTKAN HUHUHUHU AKU SUDA MENUNGGU LAMA INI GIMANA PERKEMBANGANNYA AGUS-HYUNWOO HUHUHU AKU TUNGGU THORR JANGAN LAMA2 <- gak nyantae uda terlalu cinta sama authornya hehe ♥♥♥♥♥♥♥

    Like

  6. 전's

    O H M Y G O D ! ! !
    INI BAGUS BANGET!/maaf baru bisa komen di chapter ini/duhhh… aku baper baper dan baper!
    gatau mao komen apalagi. yang jelas ni ff bagus banget.

    ditunggu next chapternya. fighting!

    Like

  7. nnafbjnr

    Aku slama ini slalu silent reader :v maapkeun aku authornim! I love ur story and diksi :v yaa diksinya rapih :” tpi untuk beberapa kata yg menggunakan “ku…” setauku hrusnya d satuin deh :v “kulemparkan” yegak yegak?
    /abaikan
    Lanjut terooss

    Liked by 1 person

      1. nnafbjnr

        Aaaa tpi udh rapih and bagus kok critanyaa. Mangadh! Mangadh! I wait for the next chapter, ok? Wkwk btw, nice to meet u~

        Like

  8. Dae93

    Omgomgomg >.<
    Kyaaaa teriakteriak sendiri bacanya yaampun yoongi asdfghjkl
    Bagus bgt ceritanya yaampun bahasa dan kalimat diceritanya juga gabisa diungkap dgn kata kata
    Duh walaupun panjangnya 10k words lebihpun aku betah bacanya
    Ditunggu bgt part selanjutnya thor
    Jangan lama lama :"
    Oiya thor kalo bisa banyakin bikin ff ber chapt dgn cast min yoon gi hehe ini permintaan khusus

    Like

  9. taera

    akhirnya yang ditunggu² keluar jugaa..😁 seru beneran deh thor😭👏👏 huaa taehyung yang asli juga kalo masang muka serius bnr² deh😭 semangat thor…

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s