[What is Your Color?] My Annoying Neighbor – Oneshot

Poster My Annoying Neighbor

My Annoying Neighbor

Amara17

Amara Amalia (author *kagak boleh proteslho :v*), Jeon Jung Kook(BTS)|Friendship, Comedy(?), Family, dan sedikit Romance | General | Oneshot

Disclamer : Cerita adalah milik author dan author jadi pemeran utama bersama Jungkook :v MUAHAHAHAHAHA!! *ketawa setan(?)
Tidak terima protes :v
Apa yang kalian baca disini adalah murni sikap author di kehidupan nyata :v

Cerita terinspirasi dari kartun terkenal, Spongebob Squarepants.

WARNING : APAPUN BISA TERJADI DI DALAM FANFICTION :> *evil smile*

Summary :
Kuning… perlambangan untuk persahabatan, kehangatan, keceriaan, semangat, dan optimis.

Cerita yang mengacu pada persahabatan antara dua orang yang berbeda gender, karakter, bahkan berbeda kebangsaan.
Karena tujuan persahabatan itu adalah menyatukan perbedaan…

LET’S READ!!^^

–-–

Aku punya tetangga.

Mereka hanya keluarga biasa.Tapi yang membuat mereka berbeda adalah mereka berasal dari Indonesia.Salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia.

Kepala keluarga mereka di pindah tugaskan ke Korea 2 tahun lalu.Dan mereka tinggal di samping rumahku.

Meski terkadang kami sulit berkomunikasi karena perbedaan bahasa, tapi aku tahu kalau mereka adalah orang baik.

Keluarga itu punya 1 orang anak perempuan.Dan dia yang paling fasih berbahasa Korea di keluarganya.Kadang juga dia menjadi translator untuk kami.

Dia lebih muda satu tahun dariku.

Tapi… dia selalu berbicara denganku menggunakan bahasa informal dia sama sekali tidak pernah memanggilku dengan sebutan hormat. Maksudku, aku kan lebih tua. Setidaknya panggillah aku dengan embel-embel ‘oppa’.

Apa di Indonesia tidak pernah diajari memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan hormat?

Dan walaupun berbeda 1 tahun, dia satu angkatan denganku waktu SMA dulu. Kelas 2.

Katanya kalau di Indonesia, dia memang sudah kelas 2.

Oh… jadi mungkin itu alasannya dia tidak memanggilku ‘oppa’. Dia menganggap aku temannya.

Tapi kalau bisa, budaya Indonesia sana jangan dibawa kesini!

Aku agak tersinggung karena dia bicara informal padaku.

Aku harus memberitahunya.

Dan kalau boleh jujur, dia itu… anak yang sangat aneh!

Dia suka main game.Pertama kali dia internetan, reaksinya sungguh berlebihan, aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan tapi aku dengar dia bilang “Widiiiiih~!! Koneksi di Korea cepet bangeeeet!!”, entah apa artinya, aku tetap berpikir kalau dia itu berlebihan.

“Jungkook-ah~~!!”

Sial! Dia datang.

Aku langsung buru-buru berlari ke dalam kamarku yang ada di lantai 2 untuk bersembunyi dari anak itu.

Di kamar, aku mencari-cari tempat persembunyian yang menurutku tidak akan anak itu ketahui.

Akhirnya aku memilih bersembunyi di dalam lemari pakaianku.Meski pengap, yang penting aku bisa bersembunyi darinya.

Dengan tergesa-gesa aku menutup lemari pakaianku dan mengintip di celah pintunya yang sedikit terbuka.

KRIEK!

Dia muncul!

“Jungkook-ah.Kau ada disini?” tanyanya.

Tapi dia tidak menemukan keberadaanku.

Hehe. Berhasil!

Akhirnya aku bisa bernafas lega karena dia memilih untuk keluar dari kamarku.

Tapi aku aku tidak langsung keluar.Aku memastikan kalau anak itu tidak kembali.

“Dia tidak kembali.”Kekehku pelan.

Perlahan aku buka pintu lemariku.Aku tidak mau menimbulkan suara bising supaya dia tidak datang lagi.

Untunglah dia tidak menemukanku.Aku sangat bersyukur tidak bertemu dengannya untuk hari ini.

Dengan langkah ringan aku pun menuju pintu kamarku bermaksud keluar dari sana.

Aku memegang kenopnya dan…

“JUNGKOOK-AH!!”

“UWAAAA!!” Aku memekik kaget saat wajah anak itu muncul didepanku.Saking kagetnya aku sampai jatuh terduduk.

“AMARA!! KAU MEMBUATKU KAGET SAJA!!” seruku marah.

Tapi bukannya merasa bersalah atau apa, dia malah nyegir seperti orang bodoh. Kemudian dia berjongkok menyamakan tingginya denganku.

“Tolong temani aku belanja di PasarDongdaemun.Ibu menyuruhku beli sayur.”Pintanya.

Aku menatapnya sinis.

“Pergi saja sendiri.Kenapa mesti minta ditemani aku?” tanyaku ketus.

“Ibu tidak mengijinkanku pergi sendirian.Makanya aku minta kau menemaniku.” Jawab Amara.

“Ck! Tidak mau!” tolakku.

“Ayolah, Jungkook-ah~~” rengeknya.

Sikapnya yang manja ini yang membuatku ilfeel padanya.

“Tidak mau!Sana!” usirku.

Aku bisa melihat wajah cemberut Amara.

Nah, dialah anak perempuan asal Indonesia tetanggaku yang aku ceritakan sebelumnya.

Menyebalkan, bukan?

Namanya Amara Amalia. Tapi dia biasa dipanggil Amara atau Mara.Lahir tanggal 17 Desember 1998.

Sedangkan hari lahirku adalah 1 September 1997.

Tuh! Bahkan umur kami berdua berbeda lebih dari setahun, tapi dia tidak pernah memanggilku ‘oppa’!

Dasar anak tidak tahu diri!

“Oh ya, kenapa kau tidak pernah memanggilku ‘oppa’, Mara?Padahal aku lebih tua darimu.” tanyaku.

“Oh itu.Karena dulu pas aku masih sekolah di Indonesia, aku punya teman sekelas namanya Junaidi.Dia lahirnya bulan Maret tahun 97. Dan aku memanggilnya Junai, Junet, Unai…”

“AH! STOP! Berisik tahu!” seruku memotong perkataannya.

“Makanya, Junai yang lebih tua darimu saja tidak aku panggil kakak, apalagi kau yang lebih muda daripada Junai.”Katanya polos.

Aku memutar bola mataku jenuh.

“Ah, kangennya ama temen-temen di Indonesia.Tahun ini sih kami udah lulus, udah wisuda…” gumam Amara.

“Kau bicara apa?” tanyaku tak mengerti dengan yang dia ucapkan. Soalnya dia menggunakan bahasa Indonesia.

“Aku rindu teman-temanku disana.Tidak terasa sudah 2 tahun aku tinggal di Korea. Kalau saja aku masih di Indonesia, aku bisa mengambil jurusan desain grafis di Institut Seni Yogyakarta. Universitasnya keren lho, Jungkook” katanya.

“Aku tidak peduli. Keluar sana. Nanti ibumu marah kalau kau tidak beli sayur.”Ucapku.

“Temani…” pinta Amara lagi.

“Tidak. Sana!”

***

Suatu hari aku tengah bersantai di bawah pohon cemara di halaman belakang rumahku.Kukira aku bisa bersantai hari ini.Tapi sialnya, Amara malah berkunjung ke rumahku. Huh!

“Jungkook-ah.”Panggil Amara yang duduk di sampingku.

“Hm?” jawabku dengan dehaman kecil.

“Kita berdua mirip Spongebob dan Patrick ya?”

“Hah? Kenapa begitu?” tanyaku bingung.

“Karena kita bertetangga dan kita sahabat baik. Mirip Spongebob dan Patrick kan?”Amara malah nyengir aneh.

“Kurasa kita berdua lebih mirip Spongebob dan Squidward. Kau selalu menggangguku.” Kataku cuek.

“Ck! Kalau kau memilih jadi Squidward, berarti kau orangnya membosankan dong?”

“Aku tidak membosankan.” Ucapku datar.

“Tuh kan! Jeon Jung Kook sang lelaki dingin. Tapi aku masih tetap mau jadi sahabatmu.”Amara tersenyum lebar.

“Huh! Kalau aku sih sama sekali tidak tertarik untuk berteman denganmu. Apalagi sampai bersahabat denganmu.” Aku mencoba mengabaikannya.

“Oh… menurutmu begitu ya? Walaupun bagimu berteman denganku adalah hal yang biasa, tapi bagiku bisa berteman denganmu adalah hal yang luar biasa!” Amara mengatakan itu sambil tersenyum lebar.

Aku terdiam.

Apa benar yang Amara katakan itu? Dia senang berteman denganku?

Huh! Palingan dia hanya bermulut manis di depanku dan di belakangku dia membicarakan hal buruk tentangku.

Sudahlah! Aku tidak mau berhubungan dengan siapapun lagi!

Orang-orang di sekitarku, semuanya munafik!

***

Aku melangkahkan kakiku memasuki kamarku, lalu aku membaringkan tubuhku di atas kasur tanpa mengganti bajuku.

Akhirnya aku bisa melepaskan penatku setelah seharian menjalani beberapa mata kuliah yang melelahkan itu.

“Jungkook~”

HAH?! Dari mana datangnya suara menyebalkan itu?

Ah, pasti hanya imajinasiku saja. Aku mulai memejamkan mataku.

“JEON JUNG KOOK~”

Aish!!

Aku bangkit dari kasur dan membuka jendela balkon kamarku tempat dimana suara itu terdengar.

“Ah, Jungkook-ah.” Panggil Amara dari kamarnya.Di seberang kamarku.

Aku menatapnya sinis.

”Ada apa sih malam-malam menggangguku?! Aku lelah tahu!!” seruku sewot.

“Jungkook-ah.Pssstttt~ aku mau mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting.” Bisik Amara.

“APA?” tanyaku.

“Hai.” Katanya sambil tersenyum.

Aku diam sebentar untuk mencerna kata-katanya.

“APA?! Kau hanya mau bilang itu?!” tanyaku tak percaya.

“Iya. Hehehe.” Kekehnya.

Menyebalkan!!

Dengan mood yang benar-benar buruk karena anak itu, aku menutup jendela kamarku kasar.

Masa bodoh jika jendela kaca itu pecah atau apa.

Aku benar-benar kesal!

Bisa-bisanya dia menggangguku yang kelelahan malam ini.

Kenapa aku harus bertetangga dengan orang yang menyebalkan seperti Amara?!

***

-Universitas Konkuk-

Para mahasiswa Universitas Konkuk tengah menikmati waktu istirahat siang mereka. Ada yang sedang makan di kantin kampus, hang out bersama teman-teman di taman, bahkan berolahraga di lapangan.

Sementara itu Jungkook duduk sendirian di bawah pohon ceri di taman seraya mendengarkan musik melalui earphone-nya. Kadang dia bergumam pelan mengikuti alunan lagu yang dia dengarkan dari smartphone miliknya itu.

Tanpa Jungkook sadari, dia terus diperhatikan oleh para mahasiswi yang berada tak jauh dari tempatnya. Diam-diam mereka memuji ketampanan Jungkook.

Ya, Jungkook adalah salah satu mahasiswa populer di Universitas Konkuk.

Kepopulerannya bermula sejak pertama kali dia masuk sebagai mahasiswa baru beberapa bulan lalu.Dia bisa lolos tanpa harus mengikuti ujian masuk.Itu berarti Jungkook sangat pintar.

Selain itu dia juga multitalenta dan berparas tampan.

Wajar saja banyak gadis yang menyukainya.

Tapi… Jungkook sama sekali tidak pernah mau membuka hatinya untuk gadis manapun, walau mereka itu sangat cantik, pintar, dan kaya raya. Justru dia malah menjaga jarak dan bersikap dingin dengan mereka.

Tidak hanya para perempuan, Jungkook bahkan tidak begitu akrab dengan para laki-laki. Akibatnya dia banyak tidak disukai oleh para mahasiswa di kampusnya.

Jungkook seakan menutup diri dan menjaga jarak dari semuanya.

Namun ada seorang gadis yang menghapus batas itu.

Dia adalah Amara Amalia.Gadis asal Indonesia yang pindah ke Korea Selatan sejak 2 tahun yang lalu bersama kedua orangtuanya karena ayahnya yang dipindah tugaskan kesana.

Dia bertetangga dengan Jungkook.

Dan hari-hari Jungkook yang tenang, berubah menjadi sangat berisik karena Amara selalu mengganggunya. Baik siang maupun malam.

Jungkook sangat terganggu dengan suara tawa Amara yang terdengar menyebalkan di telinganya.

Ia pernah meminta Amara agar jangan mendekatinya lagi. Namun Amara sama sekali tidak mendengarkan permintaan Jungkook dan terus mendekatinya.

Jungkook rasa ia akan jadi gila jika terus berada di dekat Amara.

“Jungkook-ah!”

Tuh, baru saja dibicarakan (-_-)

“Aku membawa bekal. Kau mau makan?” tanya Amara sembari memperlihatkan kotak bekal berwarna kuning miliknya pada Jungkook.

Jungkook merasa terganggu.Lagi.

“Ck! Tidak mau!” tolak Jungkook.

“Kenapa? Padahal ini masakan buatanku. Namanya Oseng Tempe.”

“Aku tidak mau makan. Dan pergilah.” Usir Jungkook.

“Iish~ ya sudah. Kalau kau tidak mau makan, aku akan makan sendiri.” Amara membuka tutup kotak bekalnya.

Hmmm… aroma Oseng Tempe tercium begitu wangi di hidung Amara.

“Hm~ aromanya wangi. Jungkook-ah, benar kau tidak mau makan?” tanya Amara lagi.

Jungkook amat kesal karena Amara dari tadi tidak pernah berhenti mengganggunya.

“Sudah aku bilang, aku tidak mau!”

Dia menepis tangan Amara dengan kasar.

SRAK!!

Tanpa sengaja, Jungkook malah menumpahkan makanan Amara hingga tersisa setengah.

Amara kaget dengan perlakuan Jungkook.

Sedangkan Jungkook juga kaget karena telah menumpahkan bekal milik Amara.

Sedikit ada rasa bersalah di dalam benaknya, namun rasa gengsi dan egois telah menguasai dirinya.

Dia menatap Amara yang masih melongo memandangi bekalnya yang tumpah.

“Su-sudahlah.Kau selalu menggangguku. Pergi sana.” Ucap Jungkook pelan.

Amara masih diam.

“Kau… marah… ah, tidak. Kau benci padaku kan? Karena itu pergilah dari sini.”

Tapi Amara malah tersenyum.

“Dibalik segala kesalahan, seorang sahabat tidak pernah bersungguh-sungguh ingin menyakiti sahabatnya.” Kata Amara.

Jungkook menatap Amara yang juga tengah menatapnya dengan ceria.

“Aku tahu kau tidak sengaja, Jungkook-ah. Aku tidak membencimu kok! Karena kita adalah sahabat.”

Lagi-lagi, Jungkook hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan Amara.

“Mara… kau… serius ingin berteman denganku?” tanya Jungkook.

Amara mengangguk yakin.

“Iya. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu 2 tahun lalu, kau tampak begitu kesepian. Karena itu, aku pikir kau membutuhkan seorang teman. Makanya aku sangat ingin jadi temanmu, Jungkook.”

Hati Jungkook bergetar mendengar perkataan gadis itu.

Bisakah Jungkook membuka hatinya untuk Amara?

***

Aku berjalan melewati koridor kampusku. Mata kuliahku untuk hari ini sudah selesai.Sekarang aku mau pulang.

“Jungkook-ah~ tunggu aku!”

Aku mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku. Ya, itu suara gadis menyebalkan bernama Amara yang tengah berlari dari belakangku.

Tanpa menunggunya, aku terus saja berjalan.

“Aish! Jungkook-ah! Aku kan sudah bilang tunggu!” keluh Amara ketika sudah berjalan di sampingku.

“Untuk apa juga aku menunggumu? Sama sekali tidak penting.” Kataku ketus.

Di luar gedung, aku berpapasan dengan beberapa orang laki-laki yang tengah berkumpul bersama.

“Oh. Hei, Jeon Jung Kook. Kami berencana mau pergi ke pantai bersama beberapa mahasiswi akhir pekan ini. Mereka cantik-cantik lho. Kau berminat mau bergabung?” tanya salah satu mahasiswa.

“Tidak. Aku tidak tertarik.” Tolakku dingin dan langsung pergi meninggalkan mereka.

“Huh! Sombong sekali, si Jeon Jung Kook itu! Mentang-mentang dia populer, dia tidak mau berbaur dengan kita.” Cibir teman mahasiswa itu.

“Iya, kau benar. Apa dia merasa kalau dirinya itu sempurna sampai-sampai dia mau dekat-dekat dengan kita? Huh! Dia memang brengsek.”

Aku bisa mendengar percakapan para mahasiswa yang menjelek-jelekkanku itu.Amara pun mendekatiku dan berbisik, “Jungkook-ah, mereka mengejekmu tuh. Apa kau tidak mau memberi mereka pelajaran? Kenapa kau diam saja?” tanya Amara.

Aku diam sebentar.

“Diam tidak akan menyelesaikan masalah, tapi… diam juga tidak akan menimbulkan masalah.”Jawabku.

Amara menatapku.

“Sudahlah. Aku juga tidak peduli pada mereka.”

Aku terus berjalan hingga keluar dari gerbang kampus lalu menyeberang menuju halte bus yang tak jauh dari sana.

Kemudian aku duduk di salah satu bangku halte itu untuk menunggu bus datang.

Amara ikut duduk disampingku.

Aku hanya menatap lurus ke depan.

“Jungkook-ah.” Panggil Amara.

“Hm?”

“Aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Amara.

Aku hanya diam.

“Kalau kau tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa kok. Tapi dengarkan saja pertanyaanku, oke?”

Dia menghela napasnya sejenak.

“Kenapa kau begitu dingin dengan semua orang?”

Akhirnya dia menanyakan ini juga. Aku tahu anak ini pasti akan bertanya tentang alasanku tidak mau akrab dengan orang-orang.

“Karena… aku…”

Ucapanku menggantung sesaat setelah diseberang sana aku melihat seorang gadis yang aku kenal tengah berjalan bersama seorang lelaki.

Ya. Gadis itu adalah mantan kekasihku, Park Ji Soo. Dan laki-laki yang bersamanya itu adalah ‘bekas sahabat’-ku, Kim Min Gyu.

4 tahun lalu, kelas 1 SMA…

Aku tidak bisa menahan tubuhku yang gemetaran gugup karena aku akan menyatakan perasaanku pada seorang gadis untuk yang pertama kalinya.

Gadis itu adalah Park Ji Soo. Siswi yang satu angkatan denganku.

Alasan aku menyukainya?

Dia adalah gadis baik hati, ramah dan cantik.Dia gadis yang bisa mengusir rasa kesepianku yang selalu ditinggal orangtuaku yang pergi bekerja di luar negeri. Dia satu-satunya gadis yang bisa membuat hatiku berdebar kencang jika aku berada didekatnya. Dan dialah gadis pertama yang membuatku merasakan ‘cinta’.

“Mi-Min Gyu, a-aku deg-degan sekali. Lebih baik nanti saja aku melakukan ini.” Kataku pada sahabatku, Min Gyu.

“Ck! Kau ini ada-ada saja. Kau kan mau menembak gadis yang kau sukai. Masa kau mau mundur?” tanya Mingyu.

“Ta-tapi…”

Tiba-tiba Mingyu menepuk kedua pundakku dengan tangannya.

“Hei, Jungkook. Aku akan selalu mendukungmu. Percayalah.” Ucap Mingyu.

Aku menatapnya penuh haru. “Terima kasih, kawan. Kau memang sahabat terbaikku.”

Kim Min Gyu, dia adalah sahabat pertamaku sejak masuk SD hingga sekarang aku kelas 1 SMA. Mingyu selalu ada untukku dan dia adalah pendengar yang baik untuk keluh kesahku.

Dia sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.

Setelah aku menyatakan cintaku pada Jisoo, dia dengan senang hati menerimanya. Akhirnya kami pun resmi berpacaran.

“Jungkook, aku mau ke mall. Kau mau menemaniku?” tanya Jisoo suatu hari.

“Maaf, Jisoo. Hari ini aku harus mengikuti rapat OSIS. Lain kali ya?” kataku sedikit menyesal.

“Jungkook, kenapa kau selalu tidak bisa meluangkan waktumu untukku? Aku pacarmu kan?”

Aku lihat Jisoo tampak kesal.

“Iya. Kau memang pacarku, Jisoo. Tapi ada yang lebih penting dari pada itu. Maafkan aku, ya?” aku mengelus puncak kepalanya pelan. Namun dia langsung menepis tanganku kasar.

“Sudahlah. Urus saja OSIS sana!”

“Jisoo…”

Tanpa menghiraukan panggilanku, Jisoo berjalan meninggalkanku yang masih berdiri di koridor sekolah.

Sebenarnya aku merasa bersalah. Akhir-akhir ini aku tidak bisa meluangkan waktuku bersama Jisoo, karena sebentar lagi sekolahku akan menggelar hari jadinya yang ke-30 tahun. Aku yang ikut kepengurusan OSIS dan terlibat sebagai panitian pun dibuat kewalahan oleh sekolah.Tapi karena aku suka berbaur dengan orang banyak, aku melakukannya dengan senang hati. Tapi sepertinya Jisoo tidak terlalu suka dengan apa yang aku lakukan. Dia bilang, gara-gara ini aku tidak pernah punya waktu untuknya. Mau bagaimana lagi?

“Hei, sepertinya pacarmu itu marah.” Ucap Mingyu yang muncul entah dari mana.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanyaku kaget.

“Baru saja. Oh ya, hari ini aku ada keperluan. Jadi aku akan pulang duluan. Tidak apa-apa kan?” Ujar Mingyu.

Aku hanya tersenyum.“Aku mengerti.Aku juga ada rapat OSIS setelah ini. Dan kurasa, aku akan terlambat. Tidak apa-apa.”

Mingyu juga tersenyum.

“Syukurlah.Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu.”

“Ya.”

Mingyu berjalan meninggalkanku.

Ah, iya. Sebentar lagi rapat OSIS akan dimulai. Aku harus cepat-cepat ke ruang OSIS.

***

“Baik.Aku berterima kasih pada kalian yang sudah membantuku menyelesaikan proposal kita. Besok pagi aku akan menunjukkannya pada kepala sekolah. Semoga saja beliau menyetujui ide kita. Kerja bagus untuk kalian hari ini. Sampai jumpa besok.”

Setelah ketua OSIS mengatakan itu, rapat ditutup dan para anggota OSIS pun membubarkan diri kecuali para anggota inti.

Aku yang bukan anggota inti ikut meninggalkan ruangan OSIS bersama yang lain.

“Hei, Jungkook. Sekarang kami mau pergi jalan-jalan. Kau mau ikut?” ajak Yoo Seungwoo, salah satu anggota OSIS.

“Bagaimana ya? Aku mau bertemu pacarku.” Kataku menimbang-nimbang tawaran Seungwoo.

“Oh, ayolah. Jangan pacaran melulu. Sekali-sekali berkumpullah dengan teman-temanmu ini.”

“Hmm… tunggu dulu ya. Aku mau menghubungi pacarku dulu.”

Aku mengeluarkan smartphone dari saku blazer-ku. Lalu mencari kontak Jisoo.

Kudekatkan smartphone itu ke telinga kiriku.

Trrrrt…

Belum ada jawaban.

Klik!

“Halo?”

“Ah, Jisoo. Kau ada dimana sekarang?” tanyaku.

“Eh? Ng… a-aku… sedang bersama temanku…” jawab Jisoo diseberang sana.

“Oh ya? Aku hanya memberitahumu kalau rapatnya sudah selesai. Aku mau mengajakmu jalan sekarang. Tapi sepertinya kau sedang sibuk ya?”

“I-iya, aku sedang sibuk. Jadi kita tidak perlu jalan hari ini.”

“Hmm… begitu ya? Ya sudah, aku akan meneleponmu lagi nanti. Sampai jumpa besok. Aku mencin…”

TUT! TUT! TUT!

Jisoo langsung memutuskan sambungannya.

Padahal aku belum selesai bicara. Tapi sudahlah. Aku juga tidak mau mengganggunya.

“Bagaimana, Jungkook?” Tanya Seungwoo.

“Aku bisa pergi.” Sahutku.

“Horeee! Ayo kita pergi ke mall!”

***

-Seoul Central Plaza-

Aku berjalan-jalan dengan teman-temanku mengitari mall dengan masih menggunakan seragam sekolah kami.

Mereka sangat menyenangkan.

Tapi seandainya ada Mingyu dan Jisoo, mungkin akan lebih menyenangkan buatku.

“Uwaa~ aku lapar. Ayo kita makan ayam goreng!” ajak temanku.

Kami pun berjalan menuju ke gerai KFC yang berada di basemen mall.

“Hei, Jungkook. Bukankah itu pacarmu?” tunjuk salah satu temanku. Aku menoleh ke arah yang ia tunjuk.

Jisoo?

Benar. Itu Jisoo!

Tapi orang yang bersamanya itu bukankah… Mingyu?!

Kenapa mereka jalan berdua?

“Maaf, aku mau menghampiri mereka dulu.” pamitku pada teman-temanku.

Dengan langkah kilat aku pun langsung mendekati Jisoo dan Mingyu.

Namun langkahku melambat saat melihat pemandangan yang agak menyakitkanku.

Mingyu memeluk Jisoo dengan erat. Dan Jisoo membalasnya.

Mereka berpelukan seperti sepasang kekasih. Ditambah Mingyu mengecup dahi Jisoo dengan lembut. Sangat mesra sekali.

Aku memutuskan memanggil mereka.

“Jisoo! Mingyu!”

Mereka berdua nampak terkejut. Dan cepat melepaskan dekapan mereka saat menyadari keberadaanku.

Aku berdiri didepan mereka berdua. Lalu menatap mereka bergantian.

“Apa yang kalian berdua lakukan disini?” tanyaku.

“Ju-Jungkook… kami hanya…” Jisoo terlihat gugup. Dia tidak mau menatapku.

Aku hanya diam.

“Mingyu… kenapa kau memeluk dan mencium dahi pacarku seperti itu?” tanyaku pada Mingyu.

Mingyu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku pahami.

Kenapa perasaanku agak tidak enak ya?

“Maaf, Jungkook…” kata Mingyu.

Maaf? Kenapa minta maaf?

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Kurasa… kau harus mendengarnya sendiri dari Jisoo.”

Aku beralih menatap Jisoo. Dia tampak ketakutan.

“Jungkook… aku mau putus…” ujar Jisoo.

Aku terpaku.

Jisoo mau putus denganku?

Kenapa?

“Ke-kenapa, Jisoo?” tanyaku.

Jisoo menghela nafasnya. Lalu memandangku serius.

“Karena kau tidak pernah bisa meluangkan waktumu untukku. Kau tahu? Aku sangat kesal karena kau tidak pernah ada untukku. Kau selalu sibuk dengan organisasimu itu! Kau terlalu mementingkan orang lain daripada aku, pacarmu sendiri. Kau tidak pernah ada saat aku memerlukanmu. Aku sudah muak. Aku sudah tidak tahan dengan hubungan ini. Maafkan aku, Jungkook…”

Kemudian Jisoo mengamit lengan Mingyu yang berdiri disampingnya.

“…hatiku sudah terisi oleh Mingyu. Dia berbeda denganmu yang tidak pernah punya waktu untukku. Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya. Dia tidak pernah mengecewakanku sepertimu.”

Aku tak dapat berkata-kata lagi.

Tak kusangka gadis baik dan ramah yang aku kenal sejak SMP bisa berkata sekejam itu.

Dan teman masa kecilku yang katanya akan selalu mendukungku itu… bisa menusukku dari belakang.

“Hahahaha!!”

Aku tertawa dengan keras. Tanpa mempedulikan orang-orang yang memandangiku aneh.

“Jadi… kau mau mengakhiri hubungan kita seperti ini? begitu saja? Oke, aku mengerti. Kalau begitu selamat berbahagia, nona Park Ji Soo dan tuan Kim Min Gyu…”

Aku tidak tahan berlama-lama lagi disini dan memutuskan untuk pergi meninggalkan dua pengkhianat itu.

Satu hal yang aku pelajari dari kejadian ini. Jika kau sudah tahu kau dikhianati oleh sahabatmu sendiri, berarti dia bukanlah sahabatmu.

Aku selalu mengingat hal itu. Hingga akhirnya aku mulai menutup diri dengan orang-orang disekitarku. Saat naik ke kelas dua, aku tidak mencalonkan diri lagi untuk menjadi pengurus OSIS. Aku bersikap dingin dan menjaga jarak dengan orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Aku tidak mau disakiti untuk yang kedua kalinya.

Tapi… aku malah bertemu dengannya.

Gadis menyebalkan dengan suara tawanya yang memengkakkan telingaku.

“Halo, tetangga. Namaku Amara Amalia. Aku baru pindah dari Indonesia. Semoga kita bisa akrab dan menjadi teman yang baik ya?”

Kau mau berteman denganku?

“…kook.”

“Jungkook.”

“HEI, JEON JUNG KOOK!”

Aku tersadar dari lamunanku. Aku menoleh ke arah Amara yang duduk disampingku dikursi halte.

“Karena apa?” Tanya Amara.

Aku diam menatapnya

“Bukan apa-apa…” jawabku pada akhirnya.

“Yaaaah~ kau curang. Kenapa begitu?” Amara tampak kecewa.

Hihi~ entah kenapa melihatnya cemberut begitu membuatku sedikit terhibur.

Dia cukup menggemaskan.

Eh, tunggu.

Menggemaskan?

Anggap aku tidak pernah memikirkan itu.

***

Jungkook menghabiskan waktunya di sebuah kedai Yangkkochi (sate kambing) pinggir jalan yang berada sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Dia bosan sendirian disana.

Tak terasa sudah sekitar 30 tusuk sate yang sudah dia makan, Jungkook mulai merasa perutnya sudah penuh. Dia pun bangkit menuju ke bibi pemilik kedai itu untuk membayar makanannya.

“Semuanya jadi 35.000 won. Sudah dihitung dengan minumannya.” Kata bibi pemilik kedai.

Jungkook mengeluarkan uang sebesar 50.000 won dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada bibi itu.

“Silahkan, kembaliannya 15.000 won. Terima kasih sudah berkunjung.” Bibi membungkuk terima kasih pada Jungkook. Sementara dia membalas bibi itu dengan senyuman tipisnya.

Kemudian dia keluar dari kedai sate itu. Di tatapnya layar ponselnya.

Sudah jam 19.21

Tiba-tiba…

TIN! TIIINN!!

Jungkook dikejutkan dengan suara klakson yang datang dari arah belakangnya.

Terlihat seorang pengendara motor tengah melajukan kendaraannya ke arah Jungkook.

Dan…

Ckiiiit!!

Pengendara itu mengerem mendadak motornya tepat didepan Jungkook yang hampir pingsan karena shock.

Siapa yang menduga kalau pengendara motor itu adalah Amara setelah dia membuka kaca helm-nya

“Jungkook, apa yang kau lakukan disini?” tanya Amara.

Jungkook masih shock.Tak lama kemudian, dia berhasil mengumpulkan nyawanya.

Lalu…

“HEH! BOCAH!! KAU MAU MEMBUNUHKU YA?!” tanya Jungkook geram.

“Tidak kok. Aku cuma mau mengagetkanmu saja.” Jawab Amara polos.

Jungkook menganga tak percaya. Dia merasa lututnya lemas.

Jungkook menatap wajah Amara yang tersenyum ke arahnya.

“Ayo naik. Kita pulang.” Ajak Amara.

Singkat cerita, Jungkook sudah naik motor yang dibonceng oleh Amara. Tidak lupa dia memakai helm lain yang tersimpan di dalam jok motor itu.

“UWAAAA!! AMARA!! PELAN-PELAN BAWA MOTORNYA!!!” seru Jungkook panik dan takut. Terang saja Jungkook was-was saat dibonceng Amara, gadis itu membawanya zig zag mengitari jalanan kota Seoul.

“Tenang saja, Jungkook! Aku sudah punya SIM kok!” jawab Amara.

“APA?! Kau sudah punya SIM?” tanya Jungkook tak percaya.

“Iya. Ini buktinya.” Amara merogoh sakunya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap menggas(?) motornya.

“Ini SIM-ku. Fotonya agak jelek sih.”

Jungkook menerima kartu SIM Amara dan memandanginya.

“Kau umur 17 tahun sudah punya SIM? Jadi sejak kelas 1 SMA kau juga sudah boleh mengendarai motor?” tanya Jungkook.

“Di Indonesia, umur 17 tahun itu sudah dewasa. Dan 17 tahun itu sudah kelas 2, bahkan kelas 3 SMA.”

“Begitu ya?”

“Iya.”

Tes!

Eh? Hujan ya?

ZRAAAAASSSSHHH!!

“Uwaaa!! Jungkook-ah! Pegangan ya?” kata Amara.

BRUUUM!!

Amara mendadak tancap gas. Jungkook sangat terkejut sampai-sampai dia reflek memeluk pinggang Amara XD

“Waaa!! Jungkook-ah! Geli! Lepaskan aku!”

“Tidak! Aku tidak akan melepaskannya!” seru Jungkook takut-takut.

Amara melajukan motornya dengan cepat.

“Lagipula kau yang menyuruhku pegangan!”

“Tapi ini geli, Jungkook! Ahahaha!”

“Sudahlah! Fokus saja ke jalan! Hujannya semakin lebat!”

SKIP!

Amara sudah mengembalikan motor yang dia pinjam dari temannya, Seungkwan. Kemudian dia dan Jungkook pulang ke rumah masing-masing.

Dengan tubuh yang basah kuyup, Jungkook segera menuju ke kamar mandi tanpa mempedulikan lantai rumahnya yang basah karena ulahnya.

“Tiap kali aku bertemu anak itu, kesialan selalu saja datang. Huh!” keluh Jungkook.

Saat akan membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba ia merasakan gatal di hidungnya.

“Ha… ha… HACHIIIIMHH!!” Jungkook bersin dengan sangat nyaring.

“HACHIMHH!! HACHIIIIIMMHHH!!”

“Gawat. Sepertinya aku akan demam.” Gumamnya.

“HACHIIIMH!!!”

Paginya~ 😀

“Selamat pagi dunia~” aku menyambut pagi yang cerah ini dengan ceria. Setelah semalaman diguyur hujan, matahari akhirnya menampakkan sinarnya di langit kota Seoul.

Kubuka jendela kamarku yang tepat menghadap ke beranda kamar Jungkook, tetanggaku.

“Jungkook-ah~” panggilku.

Hening.

Kucoba memanggilnya sekali lagi.

“Hei, Jeon Jung Kook. Kau mau malas-malasan di pagi yang indah ini? Ayo bangun.”

Masih tidak ada respon.

“JEON JUNG KOOK!!” teriakku.

Mendadak jendela kamar Jungkook terbuka.

Ah, dia datang.

“Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut?” tanya Jungkook dengan suara yang serak.

Eh? Kenapa wajah Jungkook pucat?

“Kau ini suka sekali mengganggu… ku…”

BRUK!

Aku tersentak kaget saat Jungkook tiba-tiba ambruk di beranda kamarnya.

“Jungkook!” seruku panik.

Dengan nekat, aku langsung melompati pagar pembatas antara kamarku dengan kamar Jungkook. Aku meletakkan kepalanya di atas pahaku. Kemudian menepuk-nepuk pipi Jungkook yang pucat.

“Ya ampun, panas sekali.” Gumamku.

Apa jangan-jangan Jungkook deman karena kehujanan tadi malam?

Akhirnya dengan kekuatan yang aku miliki, aku mengangkat tubuh Jungkook masuk ke kamarnya

Ukh! Dia berat sekali…

Lalu aku baringkan dia di kasurnya.

“Jungkook, kau berbaring saja disini. Jangan bergerak ya? Aku akan mengambilkan kompres.” Aku langsung lari keluar kamar Jungkook menuju dapurnya.

Aku kembali ke kamar Jungkook dengan membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk kecil. Setelah itu aku menarik kursi belajar Jungkook dan mendekatkannya pada kasur.

Aku merendam handuk ke dalam air dingin lalu memerasnya. Kemudian aku menyikap poni Jungkook dan meletakkan handuk di atas dahi Jungkook sebagai kompres.

Bisa kulihat wajah Jungkook yang pucat pasi, bibirnya bergetar, dan keringat bercucuran di wajahnya.

Sepertinya dia benar-benar demam.

“Jungkook, kau lapar? Aku akan membuatkanmu makanan. Kau tunggu disini ya?”

Aku beranjak dari tempat dudukku. Tapi mendadak aku merasa tanganku di tahan oleh benda hangat.

Aku menengok ke belakang dan mendapati Jungkook yang tengah memegang tanganku.

“Jangan pergi…” kata Jungkook pelan.

“Aku hanya akan pergi ke dapur untuk membuat makanan.”  Sahutku lembut.

Jungkook hanya menatapku lemah.

“Aku melakukan ini bukan untukku, tapi untukmu.”

Namun Jungkook tidak melonggarkan pegangannya.

“Baiklah. Aku akan tetap disini. Kalau kau mau makan bilang padaku, oke?”

Jungkook mengangguk.

Aku kembali duduk di kursi. Hanya menatap Jungkook yang tengah memejamkan matanya.

Aku merasa bersalah karena sudah mengganggunya pagi-pagi ini.

“Maaf…” ucapku lirih.

Jungkook membuka matanya.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Karena… aku sudah mengganggumu…”

Kutundukkan kepalaku. Aku tidak berani menatap Jungkook.

“Tidak apa-apa…”

Aku mendongakkan kepalaku melihat Jungkook.

“Hah? Kau bilang apa tadi?” tanyaku memastikan kalau aku tidak salah dengar.

“Aku bilang, tidak apa-apa…” ulang Jungkook.

“Kau serius? Bukannya kau selalu marah kalau aku ada didekatmu?”

“Awalnya iya. Tapi kelihatannya aku… mulai terbiasa…”

Aku tersentuh mendengar ucapan Jungkook. Jadi sekarang dia mau berteman denganku?

“Mara…” panggilnya.

“Ya?”

“Ada sesuatu yang mau aku tanyakan dari dulu.” ujar Jungkook.

Tumben Jungkook memulai pembicaraan. Biasanya selama ini dia selalu mendiamkanku.

“Silahkan…”

Jungkook menghela napasnya sejenak.

“Bisakah aku mempercayaimu?”

“Maksudmu?” aku bingung.

“Maksudku… mempercayai orang lain… adalah hal yang paling sulit buatku… aku tidak punya orang yang bisa aku percayai untuk membagi keluh kesahku. Kau tahu kan kedua orangtuaku sedang dinas di luar negeri? Sebenarnya aku mau saja ikut mereka. Tapi… aku tahu aku hanya jadi beban untuk mereka…”

“Jungkook…”

Entah kenapa aku bisa merasakan kesepian dari tatapan mata Jungkook.

Aku juga ikut sedih…

“…jangan bilang begitu… aku tahu… mereka pasti juga menyayangimu…”

Jungkook tersenyum tipis.

“Aku harap memang benar begitu, Mara…”

Kami sama-sama diam.

Tiba-tiba…

“HACHIIIIMMHH!!!”

Jungkook bersin hingga membuatku terlonjak kaget.

“Hachiimh! HACHIIIMHH!!”

“Jungkook, ternyata demammu parah juga ya? Tunggu disini. Aku akan pulang mengambil obat penurun demam di rumahku.”

Aku langsung berlari keluar meninggalkan Jungkook.

Beberapa jam setelah aku memberi obat pada Jungkook, dia hanya tidur sampai siang.

Sementara itu, aku membuatkannya bubur ayam ala Indonesia yang sudah aku pelajari dari kelas 9.

Saat aku memasuki kamar Jungkook dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air putih, aku melihat Jungkook sudah bangun dan bersandar di headboard kasurnya.

“Hei, kau sudah mendingan?” tanyaku. Kemudian aku meletakkan nampan itu di atas meja belajar Jungkook.

“Iya…”

“Ini, makan dulu. Aku membuatnya sendiri.” Aku mengambil mangkuk berisi bubur dan membawanya mendekat pada Jungkook.

Dia tampak ragu melihat masakan buatanku.

“Kau memasaknya sendiri? Apa kau lupa kejadian beberapa bulan lalu?” tanya Jungkook.

Sekitar 4 bulan yang lalu…

“Jungkook~ aku membuat nasi omelet! Aku membuatnya penuh dengan cinta untukmu!”

Jungkook baru memasukkan satu suapan, dia langsung…

“UEEEEEKKK!!”

~

“Ah, itu… karena aku masih belajar! Tapi makanan ini sudah aku kuasai dari kelas 3 SMP! Jadi percayalah padaku kali ini. Aku tidak akan membuatmu sakit perut lagi. Aku berjanji.” Kataku penuh keyakinan.

Walau bimbang, Jungkook akhirnya meraih mangkuk yang aku pegang,

Tangannya gemetaran mau menyuap atau tidak.

Dia melirikku sebentar. Aku mengangguk mantap.

Akhirnya bubur buatanku masuk ke dalam mulut Jungkook, lalu dia mengunyahnya perlahan. Sambil menutup matanya rapat-rapat.

Aku deg-degan menunggu reaksinya.

“Enak.” Kata Jungkoook.

“Eh? Benarkah?!” tanyaku memastikan.

“Iya. Enak.” Jungkook kembali melahap bubur ayam buatanku.

Aku merasa sangat tersentuh. Serius.

“Jungkook-ah.” Panggilku. Jungkook menoleh ke arahku.

“Cepatlah sembuh. Kalau kau sakit, aku akan kesepian. Karena kau adalah temanku.” Ucapku tulus.

Jungkook berhenti mengunyah buburnya.

“Mara… kau benar-benar ingin berteman denganku?” tanya Jungkook.

“Tentu saja!” jawabku mantap.

Dia diam.

“Apa alasanmu ingin berteman denganku?”

“Kenapa kau malah tanya? Tentu saja tujuan pertemanan itu adalah saling setia dan bekerja sama. Aku mau kita jadi teman sampai kapanpun.  Karena itu aku akan menjadi sahabatmu, Jungkook. Karena pikiranku sudah diatur begitu.”

Perlahan aku melihat kedua sudut bibir Jungkook terangkat membentuk sebuah senyuman.

Eh? Jungkook tersenyum?

Baru kali ini aku melihatnya tersenyum setelah 2 tahun kami bertetangga. Ternyata senyuman seorang Jeon Jung Kook bisa terlihat menenangkan seperti ini.

“Kau ini ada-ada saja.”

Aku masih terpana menatap senyuman Jungkook.

“Baiklah… mulai sekarang… jadilah sahabatku…”

Aku menganga. Masih tidak percaya dengan apa yang barusan Jungkook katakan.

“Kau serius, Jungkook?” tanyaku lagi.

Jungkook mengangguk. “Iya. Aku serius.”

Aku serasa ingin menangis. Akhirnya Jungkook mau menerimaku sebagai sahabatnya.

Ternyata kami berdua memang mirip Spongebob dan Squidward.

Meskipun bagi Squidward, Spongebob itu sangat menjengkelkan, tapi hati Squidward akan luluh juga.

Ternyata warna kuning memang cocok melambangkan diriku.

Kuning sebagai lambang persahabatan…

Sejak pertama kali bertemu dengan Jungkook, aku sangat ingin menjadi sahabatnya. Semoga persahabatan kami berdua tetap awet sampai kapanpun.

“Jungkook-ah, ayo lakukan cross.” Ajakku.

“Apa itu?” tanya Jungkook tampak bingung,

“Kita silangkan tangan kita dan membuat tanda X. Lalu berteriak ‘TEMAN ADALAH KEKUATAN’! bagaimana?” saranku.

Jungkook berpikir.

“Bukankah itu agak kekanakan?”

“Ck! Tidak! Itu malah keren. Ayo kita lakukan.”

“Baiklah.” Jungkook dengan pasrah mengikuti permainanku.

Aku dan Jungkook menyilangkan tangan kami. Kemudian berteriak bersama-sama.

“TEMAN ADALAH KEKUATAN!!”

“Persahabatan selamanya dan tak akan pernah terlupakan.”

-Fin-

Ayo what’s up!

Author Amara17 dataaaang!

Sebenernya saya bukan author baru (._.)v

Bagi yang pernah baca ff Protect the Boss, Fail, atau Adu Panco, mungkin tahu yang namanya author JINjja. Nah! Author JINjja baru diakikah(?) oleh wordpress.com beberapa waktu lalu dan berganti nama menjadi  Amara17.

Author mau minta maaf pada ARMY, khususnya Jungkook stan, karena menjadikan author sebagai pemeran utama bersama Jungkook *bungkuk hormat* Dan kelemahan cerita ini adalah tidak fokus ke warna kuning yang author pilih. Tapi malah makna dari warna kuning itu sendiri.

Meskipun begitu, ada beberapa pelajaran yang bisa kalian petik dari cerita ini (mungkin)

Terutama tentang makna persahabatan, kesetiaan,  dan kesabaran.

Ambil sisi positifnya, yang negatif jangan ditiru.

Oh ya, follow IG author dong~ *promo dikit XD* disini https://www.instagram.com/bfriendamara17/ usernamenya bfriendamara17. Kalian bisa lihat muka asli author disana :v

OK! That is all from me 🙂

See you in the next ff~

 

Love,

Amara17 :*

(PS : Kalau responnya baik, author punya rencana bikin sequel dari ff ini :3)

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s