[What is Your Color?] Red Point – Vignette

redpoint1

Red Point

Ariesha97 presented

starring Jeon Jungkook [BTS]

genre Psychology, Hurt/Comfort, Life, Dark length Vignette rating PG-17

 

Jungkook yang berusia enam tahun hanyalah anak kecil yang tahu caranya bermain, dia hanyalah seorang bocah yang senang ketika sang ibu mengajaknya bermain petak umpet ketimbang menyuruhnya tidur malam itu. Tanpa tahu apa yang sebenarnya–mungkin–terjadi.

 

Jungkook hampir saja terlelap setelah tiga puluh menit menunggu untuk ditemukan, ia masih duduk meringkuk memeluk lutut di antara tumpukan perabot dapur yang baru saja dibeli ibu minggu lalu. Di tempat persembunyiannya; dalam lemari perabot dapur, ia mengintip mencari tahu dari celah-celah pintu kayu begitu mendengar suara gaduh dari ruang tamu–meski itu percuma saja. Inginnya keluar, melihat apa kiranya yang membuat gaduh, namun ia teringat akan pesan ibu sebelum permainan petak umpet–

 

“Jungkook tidak boleh keluar sebelum ibu menemukanmu, ya.”

 

–Jungkook mengiyakan, ia menurut.

 

Masih dengan mata awas mengintip dari celah pintu yang ada, Jungkook mendengar suara ibunya menjerit, ia terkejut hampir saja keluar sebelum maniknya menangkap figur sang ibu yang berlari ketakutan? Kenapa?

 

Kali ini suara gaduh berpindah ke dapur, tangan ibu bergerak tidak sabaran mencari sesuatu, sementara dari arah pintu sosok pria berjas–bukan ayahnya, yang Jungkook tahu orang itu adalah tamu kedua orang tuanya–berjalan mendekat dengan sebilah pisau di tangan. Jungkook mulai takut, setali tiga uang dengan Ibunya yang mengacungkan pisau dapur, gemetar.

 

“Jangan mendekat!”

 

Alih-alih menurut, pria itu malah tersenyum asimetris, terus mendekat tanpa takut pisau dari sang ibu membawa petaka untuknya–oh tidak, mungkin sebaliknya. Pria itu berhenti tepat sesenti dari ujung pisau yang diacungkan padanya, senyum yang kelewat asimetris itu tak kunjung meredup, malah berganti tingkat menjadi tawa meremehkan. Mencengkeram tangan ibu dengan kuat hingga pisau itu tak lagi dalam genggaman, tendangan di bagian perut ia berikan, punggung yang berbentur keras dengan dinding menjadi reaksi atas aksi sedetik. Dengan cepat pria itu menghampiri si ibu yang tergeletak, tangannya tergerak untuk mencekik lehernya dengan kuat selagi tawa menjadi latar suara yang menyeramkan, sama sekali tak mengindahkan tubuh di bawahnya yang meronta minta dilepaskan.

 

Jungkook menyaksikan semua itu dalam diam, tubuhnya gemetaran, ia takut. Sungguh. Inginnya ia memejamkan mata–tidur kalau bisa, sehingga ia tidak melihat hal lebih buruk yang terjadi atau mengganggap ini semua hanyalah halusinasi, ia takut namun dirinya tahu, ia tidak bisa memejamkan mata begitu saja, maniknya semakin awas melihat kejadian di hadapannya, melalui celah-celah pintu lemari ini.

 

Pria itu sudah tak lagi mencekik tapi ibunya terlanjur lemas akibat udara yang terhambat memenuhi rongga paru-paru. Kedua pasang manik itu saling beradu sesaat, satu memohon belas kasih, satu membuang simpati. Si pria menatap datar, tangan kanannya bersiap dengan sebilah pisau tajam, menghujam dada kiri si wanita tanpa ampun, menancapkannya dalam sampai menembus tulang rusuk dan mengoyak jantung yang terlindungi. Ibunya menggerang, menahan sakit yang teramat, mengabaikan cairan pekat yang berlomba keluar, si pelaku nampaknya belum puas menyiksa.

 

Menggenggam pisau yang masih indah tertancap, ia memutarkan benda itu dengan santai. Satu putaran penuh. “Seharusnya kalian membayar hutangnya.” Pria itu berkata tanpa mengindahkan korban yang meringis kesakitan seraya terbatuk darah.

 

Dua putaran penuh. “Atau seharusnya …” Ibunya menggerang keras, sakit tak dapat lagi ia tahan kala si pelaku kembali memutar pisau itu selagi menariknya keluar secara perlahan. “…dari awal, kau menikah denganku.” Dan pria itu mengakhiri permainannya dengan tusukan berulang sekalipun korbannya sudah meregang nyawa. Ia tidak peduli.

 

Si kecil Jungkook masih menyaksikan tindakan keji itu tanpa satupun yang terlewat, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi disertai peluh, napasnya tak lagi teratur dan kuku ibu jarinya menjadi korban gigitan pengalih takut. Jiwanya terguncang, Jungkook takut luar biasa.

 

Perlahan ia keluar dari persembunyian setelah dirasa si pria berjas itu benar-benar telah pergi–beruntung pria itu lupa bahwa keluarga ini memilik anak, Jungkook masih bisa bernapas. Melupakan pesan ibu, Jungkook berniat menghampiri sang ibu disana.

 

Awalnya ia ragu, perasaan takut masih jelas menguasainya, namun ia tetap melangkah mendekat, perlahan hingga telapak kakinya tenggelam dalam genangan darah. Langkahnya serentak terhenti, ia berpijak lama selagi menatap nanar sosok tak berdaya di hadapannya. Berdiri dalam geming di antara hening yang menghantui.

 

Tangis tak lagi dapat ia tahan kala melihat ibunya tertidur dengan alas merah yang menggenang.

.

.

.

Jam dua belas malam, lonceng berbunyi. Jungkook tebangun dari mimpi di masa kecil.

 

-o-

 

Jungkook yang berusia dua belas tahun bukanlah anak periang namun pendiam. Dia cenderung menutup diri dan hemat suara–berbicara jika ada perlu–sehingga ia tak punya banyak teman, hampir tidak ada. Kepribadiannya yang terlalu introvert membuat dirinya seolah tengah dikucilkan anak-anak sekitar, tak mau ada yang berteman dengannya, tapi toh Jungkook tidak peduli. Enam tahun menjalani hari tanpa seorang teman sudah biasa baginya.

 

Enam tahun ia tinggal di panti semenjak kedua orang tuanya meninggal dalam pembunuhan keji. Saat itu ia datang dengan raga lengkap namun jiwa terguncang pun seolah tunawicara, saat itu semua penghuni panti menyambutnya ramah meski ia berlaku apatis, saat itu ada satu anak yang gencar menyapanya kendati ia terus bersikap abai. Jungkook tak perlu mengingat namanya toh ia juga tahu mereka tak dapat berteman, panggil saja si rambut merah–entah warna itu asli atau sengaja di cat, dan mungkin itu yang jadi penyebab mereka tak bisa berteman. Merah mengingatkannya pada kejadian keji.

 

“Hai, tidak ingin bermain bersama?”

 

Oh, panjang umur.

 

Tak mengindahkan, Jeon Jungkook bersikap abai dan memilih untuk tetap menunduk demi memperhatikan butir-butir pasir yang berterbangan mengikuti semilir angin, membiarkan si gadis berambut merah menduduki ayunan di sebelahnya.

 

“Jeon Jungkook, tidak mau bermain bersama yang lain?”

 

“Pergilah.”

 

Kerap kali Jungkook berkata ketus namun tak pelak membuat si gadis berambut merah tersinggung pun balik menjauhinya seperti kebanyakan anak yang lain, yang ada malah sebaliknya, si gadis berambut merah semakin gencar mengajaknya mengobrol dan berlaku seolah dia akrab dengan Jungkook. Padahal Jungkook tidak perlu itu, ia sungguh benci berurusan dengan yang namanya merah.

 

“Mau permen tidak? Rasa stroberi.”

 

Tidak.

 

Jungkook menampik kasar permen yang disodorkan, menatap si gadis berambut merah dengan tajam, abaikan raut terkejut di sana atas perlakuannya yang kasar, “Sudah kubilang, pergi.”

 

Diusir seperti itu tak jua membuat si gadis berambut merah menurut dan pergi begitu saja, ia malah melemparkan tatapan simpati kontras dengan Jungkook yang masih menatapnya tajam. Sejatinya si gadis berambut merah tak mengerti mengapa Jungkook gemar menyendiri dan menutup diri, sekalipun ia tahu kejadian pedih yang menimpa lelaki itu di masa lampau tapi menurutnya Jungkook telah salah bersikap.

 

Lelaki itu masih punya kehidupan yang harus dijalani dengan suka cita ketimbang meratapi dengan keterpurukan mendalam. “Masih membenciku, Jungkook?”

 

Inginnya Jungkook tidak menjawab toh itu retorik, tapi mengingat gadis ini tak akan pergi sebelum ia bersuara, maka Jungkook menanggapi, “Merah membawa pengaruh buruk, asal kau tahu.”

 

“Sebegitu bencinya dengan merah?”

 

Jungkook menatap nyalang si gadis berambut merah, nadanya yang santai justru terdengar meremehkan di telinga Jungkook, sempat terpikir bahwa gadis ini mungkin berbeda dari kebanyakan orang, tapi mulai sekarang Jungkook harus mengingatkan diri untuk tak lagi berpikir seperti itu, baik gadis ini dan orang-orang di luar sana sama saja.

 

Mungkin mereka masih mengerti bagaimana rasanya menjadi saksi mata atas kejadian keji, bagaimana sulitnya melihat semua itu di umur yang sangat butuh kasih sayang orang tua, bagaimana terpukulnya kehilangan orang terkasih, hingga mereka akan dengan senang hati berbagi empati pun simpati dan mengumbar kata baik-baik saja.

 

Mungkin mereka pikir itu adalah pilihan terbaik yang dapat dilakukan. Salah. Jungkook sama sekali tidak butuh simpati, ia tak butuh belas kasih, ia tak butuh kalimat baik-baik saja, sama sekali tidak membutuhkan hal semacam itu, sebab Jungkook tahu, semuanya tidak akan pernah baik-baik saja.

 

“Kau benci merah, itu artinya kau benci darah, sama saja kau membenci dirimu sendiri.”

 

Lagi-lagi nadanya yang santai membuat Jungkook semakin jengkel, si gadis berambut merah berpolah ia tahu segalanya lantas bertingkah bahwa ia benar dan mengumbar kata bijak yang memuakkan telinga. Jungkook tidak suka itu.

 

“Kau hidup dan mati dengan darah, omong-omong.”

 

“Lalu kenapa?”

 

“Tidak seharusnya kau membenci darah.”

 

Semakin lama konversasi ini terasa begitu memuakkan, tahu apa memangnya si gadis berambut merah sampai mengharuskannya untuk ini dan itu? Punya hak apa memangnya?

“Orang yang tidak tahu kejadiannya memang begitu ya.” Kebencian Jungkook akan gadis ini semakin bertambah.

 

“Aku tahu, tapi kurasa kau sedikit berlebihan.”

 

Masa bodoh, dirinya sudah tidak dapat menahan diri, gadis ini … juga omongannya sungguh membuat emosinya meluap. Jungkook mungkin membenci merah, tapi Jungkook juga yang membuat semuanya merah.

.

.

.

Jam dua belas malam, lonceng berbunyi. Jungkook terbangun dari kenangan pahit.

 

-o-

 

Jungkook yang berusia tujuh belas tahun hanyalah pemuda tanpa tujuan hidup. Kesehariannya hanya berputar dalam ruang 3 x 3 m2 yang lengang, makan dan tidur jadi kegiatan pokok. Tidak lagi berpikir apakah hari sudah malam, siang, atau pagi, Jungkook akan melakukan kegiatannya di kala ingin. Meski sebagian banyak menghabiskan hari untuk tenggelam dalam renungan tak berarti.

 

Hidup sendiri selama sebelas tahun membuat Jungkook acap kali bertemankan rindu untuk membunuh waktu. Selayaknya malam ini, Jungkook sungguh merindu akan sosok penghadirnya. Ayah dan ibu.

 

Kala Jungkook ingin bertemu, mereka akan hadir di sana, dalam balutan putih yang elegan mereka sama-sama tersenyum menenangkan, satu hal yang membuat Jungkook semakin merindu. Ia ingin berlari dan menjatuhkan diri dalam peluk hangat keduanya, ia ingin kembali ke masa di mana ia masih bisa merasakan nikmatnya masakan ibu, di mana ia masih bisa merasakan serunya bermain dengan ayah, di mana ia masih bersama dengan ayah juga ibunya, di mana semuanya masih baik-baik saja.

 

Sekali saja, ia ingin kembali. Mungkin, setelah itu semuanya akan baik-baik saja. Iya, mungkin.

 

Dan mungkin itu sekarang, sekarang ia bisa kembali toh ayah dan ibunya sudah menunggu di pojok ruangan sedari tadi. Mereka datang untuk menjemput dirinya, membantu Jungkook terlepas dari kehampaan dan mengantarkannya dalam kehidupan abadi.

 

Maka tanpa ragu lamat-lamat Jungkook mendekat, satu langkah, setelah ini ia bisa terlepas dari kehidupannya yang monoton. Dua langkah, mungkin juga ia tidak lagi hidup bertemankan sunyi. Tiga langkah, yang paling penting ia kembali bersama dengan ayah juga ibunya. Iya, itu yang paling penting. Namun langkah Jungkook seketika terhenti di angka lima, beriring dengan matanya yang membelak sempurna, terkejut. Jika sedari tadi manik teduh yang menatapnya kini terlihat kosong, senyum menenangkan justru berganti menjadi seringai yang menyeramkan, pun kepala yang tadinya tegak jadi terteleng tajam ke arah kiri seolah telah patah, juga pakaian putih elegan perlahan berubah menjadi merah, darah.

 

Jungkook mendadak takut, merinding, tubuhnya gemetaran disertai peluh, napasnya tak lagi teratur pun jantungnya yang berdetak tak karuan membuat pikirannya semakin kalut, tak lagi dapat berpikiran jernih. Rasa takut yang berlebihan terlanjur menginvasi jiwanya.

 

Sementara makhluk seram itu perlahan mendekat selagi memanggil namanya, Jeon Jungkook susah payah melangkahkan kakinya mundur. Bukan ia takut akan hal-hal yang menyeramkan, dia hanya benci warna merah, ia tidak suka darah, ia sungguh benci merah dan darah. Merah dan darah membawa kenangan buruk.

 

Jungkook berteriak selagi mata terpejam erat dengan kedua tangan yang memegang kepala kuat-kuat, berusaha menghalau semua kejadian buruk yang memunculkan diri, mencoba menghapus semua kenangan pahit. Meski Jungkook tahu, ia tidak akan bisa, alih-alih menghapus dirinya justru semakin terperosok jauh dalam bayangan masa lalu. Semakin dalam, semakin gelap, semakin kelam.

.

.

.

Jam dua belas malam, lonceng berbunyi. Jungkook terbangun untuk kesekian kali.

 

-o-

 

Jungkook yang berusia dua puluh tahun bukanlah pemuda dengan segudang prestasi ataupun karier cemerlang. Putus sekolah membuat Jungkook menjadi tunakarya di usianya yang bisa dibilang dewasa, sangat disayangkan memang. Bertahun-tahun ia menyibukan diri dalam pikiran tak berujung hingga hidupnya tak lagi berarti. Terlalu monoton, tidak menarik.

 

Kerap kali pertanyaan semacam ‘Untuk apalagi dirinya hidup?’ mampir dalam sel serebrumnya hingga membuat ia berpikir keras. Dan sesering pertanyaan itu hadir, sesering itu pula Jungkook mendapati diri berada dalam suatu ketidakpastian, ia tak tahu jawabannya.

 

Hidupnya tak lagi berguna. Ia sudah tak memiliki tujuan hidup. Jangankan tujuan hidup, motivasi untuk dia bangun di pagi hari saja tidak ada. Terlalu berat sudah beban yang ditanggungnya sendirian, Jungkook menyerah, tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya, empat belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam rasa sakit di hati. Kehilangan orang tua di usia belia bukan hal yang sepele, kehilangan seseorang di tangannya sendiri juga bukan hal yang mudah, dan kehilangan diri dalam batas normal kehidupan itu jauh lebih sulit.

 

Tidak salah kan bila Jungkook memutuskan untuk mengakhiri diri? Di dunia ini banyak sekali alternatif untuk membuat hidup terhenti di angka dua puluh, dan mungkin Jungkook akan mengambil salah satu atau dua dari sekian banyak alternatif yang disediakan dunia.

 

Lagipula ia menghilang dari dunia ini pun juga tidak ada yang merasa rugi, ia tidak punya siapa-siapa lagi, omong-omong. Jadi, tidak mungkin ada yang menangis karna dirinya tak lagi bernyawa. Di balik itu, Jungkook rasa itu justru menguntungkan dirinya, ia tak lagi harus takut terbayang-bayang kenangan kelam, tak lagi dihantui pengalaman keji, tak lagi merasa resah akan pikirannya sendiri, semua beban hidupnya selama ini akan lepas, menghilang.

 

Kesehariannya akan diliputi rasa damai, ia terlepas dari kehampaan yang kelam dan hidup dalam keabadian. Hanya itu yang Jungkook butuhkan.

 

Namun, kala ia tinggal selangkah lagi untuk memperoleh apa yang ia butuhkan, ragu datang merambati benaknya. Sejenak berdiam diri dalam geming selagi memaksa otaknya untuk berpikir ulang. Iya atau tidak. Lakukan atau batal. Sekarang atau nanti. Hidup dalam kesengsaraan atau hidup dalam keabadian.

 

Berulang kali Jungkook berpikir, sebanyak itu pula ia jatuh pada keraguan. Tetapi satu hal yang Jungkook tahu dengan pasti, ia sudah menyerah dengan semuanya.

.

.

.

Jam dua belas malam, lonceng berbunyi. Jungkook terbangun dengan pilihan putus jiwa atau putus nyawa.

 

-o-

 

“PTSD[1]?”

 

“Ya, kemungkinan ia juga seorang Erytophobia[2] dan mungkin juga Hematophobia[3], kurasa.”

 

“Itu buruk.”

 

“Kau yakin bisa mengatasinya?”

 

Well, tidak semua orang depresi harus berakhir bunuh diri kan?”

 

.fin

 

[1] PTSD :  Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan.

[2] Erytophobia : Phobia warna merah

[3] Hematophobia : Phobia darah

 

Advertisements

11 thoughts on “[What is Your Color?] Red Point – Vignette

    1. Halo, Little_Turtle ^^
      kelanjutannya………….. silahkan tanya Jungkook, kelanjutan hidupnya gimana /gagitu

      makasih ya udah baca dan komentar ❤️

      Like

  1. Hmm…. suka bagian terakhirnya. Pasien depresi ga mesti bunuh diri. Iyasih, apalagi kalo yang takut darah macem jungkook gitu. Mau mati kepikiran darahnya bakal gimana, ya gajadi jadi matinya ((plok)) ((tabok aku kak aku rela))

    Hmm yahh, aku sebenernya juga gatau harus komen apa. Aku suka sisi psikologis yang diusung di fic ini. Nambah ilmu lah minimal kalo aku mau lanjut abnormal psychology(?) Huhahahahahah…. keep writing yhaa!!

    Liked by 1 person

    1. Halo, LaillaMP ^^
      sebenernya, nulis ini juga cuma mau nyampe in orang depresi tuh enggak mesti bunuh diri /plak
      dia kalo bunuh diri minum racun kak biar enggak ada darahnya /krik

      makasih ya udah baca dan komentar, semangat ngelanjutin abnormal psychology-nya ❤️

      Like

    1. Halo, gxxfyh ^^
      sebelumnya, maafkan kalo fic absurd ini bikin kamu gagal paham karna yang nulis juga enggak tahu ini nulis apaan /krik/
      jadi, bagian terakhir itu percakapan dokternya. Jungkook di sini diceritakan dia menderita trauma mendalam akibat kejadian di masa kecilnya yang juga membuatnya jadi benci sama darah ato phobia sama darah dan warna merah. Bagian awal sampe sebelum percakapan dokter itu menjelaskan gimana jungkook menderita insomnia (salah satu gejala dari PTSD) dan selalu dibayangi masa lalunya.
      ya intinya begitu, maafkan kalo tambah bikin kamu gagal paham, tapi makasih ya udah baca dan komentar ❤️

      Like

  2. /hening/
    Wah jungkookie kalau kamu benci darah kita sama dong :””v
    Yah aku harus bilang apalagi sama authornya ficnya bagus bangeeettttt T-T
    Pokok.a jjang buat authornya! Dan alur ceritanya keren trus posternya aku juga suka XD
    Keep writing~~~❤️

    Liked by 1 person

    1. Halo, sweetpeach98 ^^
      ciee yang samaan~ tapi kamu enggak punya trauma yang sama kaya Jungkook kan /ya enggaklah
      aku juga enggak tahu harus bilang apalagi, kamu juga jjang pokoknya 😀

      makasih ya udah baca dan komentar ^^

      Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s