[BTSFF Freelance] Teman?-Oneshoot

jiminTEMAN?

BTS` Jimin

(OC)  Min Alexi

Friendship|school life |general|Oneshoot

 

Disclaimer :

BTS milik Tuhan, orangtua mereka pasti, juga Bighit.

Alur murni milik MintPanda selaku autor/?, dan jika ada yang sama, memang benar-benar tanpa sengaja.

 

Summaraze:

~~Sepertinya, Jimin memang harus  mengisi kembali stok kesabaran untuk mengadapi temannya yang satu ini~~

 

Warning: typo(s) everywhere

 

…A story by MintPanda…

 

_ONE_

Slash, slash

Goresan demi goresan  terpampang jelas di atas benda persegi panjang yang mengambil hampir setengah bagian dari dinding depan kelas. Angka-angka menempel dengan indanya layaknya kerta-kertas kecil yang berambutan di atas lantai. Memuakkan dan mengganggu pemandangan.

Begituh sekiranya matematika di bayangan Alexi untuk hari ini.

Sekali lagi, untuk hari ini. karena sejujurnya dia adalah salah-satu jagoan sekolah dalam bidang angka.

Ini konyol, jam dinding sudah dari tadi melewati angka sembilan, dan sialnya guru ini belum juga hilang-walau untuk sepersekian sekon saja-dari hadapannya.

-sebenarnya apa sih yang membuat orang itu betah berlama-lama di kelas yang membosankan ini? Alexi saja sudah muak dengan ruangan serba cream yang disana-sini tertempel gambar-gambar, layaknya sekolah bagi anak TK-

Membuang nafas, ia pun mengalihkan fokus, menatap sahabat seperjuangannya yang telah terlebih dulu mengambil bagian di tempat yang berbeda darinya.

Ya, Jimin sejatinya sekarang tengah berasda di alam lain yang jauh terpisah oleh dimensi waktu dan ruang dengannya.

“hufp!” Alexi-gadis keluarga Min yang sendaritadi berdiam di dekat Jimin- hanya bisa mendengus kesal dengan kejadian yang tengah terjadi pada detik ini.

Alexi menjulurkan sebelah tangannya ke meja, menjadikannya sebagai pengganti bantal yang jauh sekali dari kata empuk untuk sekedar dipakai meletakkan kepala yang memang sudah begitu berat.

Mamainkan  jemari, setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk sekedar mengusir jenuh sesaat dari kebosanan belaka yang sejatinya terus saja menghampirinya hari ini.

Sesekali ia mencuri-curi pandang ke arah jam dinding yang ada tepat di atas papan  tulis. Dan sayangnya, waktu serasa berhenti. Ketiga jarum itu tak bergerak sesuai harapan. Jam 09.10, dan ia masih benar-benar harus  menanti dengan kesabaran ekstra.

“Jim! Bangun!” jenuh, lantas Alexi mencoba mengudarakan sebuah nama yang sendaritadi mengacuhkan keadirannya.

“ya!! Bangunlah, kau sudah tidur 2 jam lebih!!!” tak ada respon, Jimin tak sedikit pun mengindakan suara Alexi dalam bisik yang ia dengungkan.

Sebal, geram,kesal. Perasaan itu yang datang menghampirinya. Namun itu tak bertahan lama ketika retinanya menangkap sebuah benda persegi di dekat kepala Jimin

Bohong memang jika sekarang Alexi tidak sedang  memikirkan  sebuah ide gila yang sebentar lagi akan menjadikan Jimin sebagai korban kekonyolannya. Mengerjai seorang Park Jimin yang sedang benar-benar terlelap di dunianya.

Sebuah ide gila nan nekat terlintas, Alexi merogoh kantung bajunya, mengambil benda persegi dengan bentuk dan warna yang sama seperti yang ada di hadapan Jimin.

Dengan cepat, Alexi menekan beberapa angka diponselnya, dan kemudian membiarkannya  bekerja sesuai perintah.

Tak butuh waktu lama untuknya  menunggu hasil yang spektakuler.

Sesekon berikutnya, seisi kelas dibuat terkejut bukan kepalang, tak terlupa Jimin yang masih menapak jejak di pulau kapuk harus merelakan kepalanya mengantam meja karena terkejut. Mengapa tidak, sebuah suara melengking yang berasal dari handphone miliknya sendiri sukses menarik peratian seisi ruangan.

Guru Liem -yang sendaritadi sibuk dengan angka yang belum ia selesaikan di depan- pun dibuat tersentak hingga kacamatanya yang tergantung dihidung hampir-hampir  meluncur ke bawah.

“PARK JIMIN!!!!”

Wanita itu melolong keras tanda bahaya, kedua tangannya ia letakkan di kedua pinggangnya. Mata sipitnya yang tersembunyi di balik kacamata menatap tajam ke arah Jimin kala itu. Tak sedikitpun ingin membiarkan mangsanya terlepas dari pantauan.

Jimin-dengan wajah kantuknya- lantas reflek berdiri kala mendengar namanya tersebut dengan lantangnya, bak suara riuh halilintar yang menembus sunyinya malam yang senyap.

“sepertinya kau tau tugasmu setelah kelas berakhir!”

Masih mencoba mengumpulkan segenap ronya, Jimin hanya mengangguk dengan tampang-ada. apa. ini?-Yang jujur wajah itu membuat Alexi yang ada disebelah nya ingin  mengudarakan tawa terbesarnya .

Dengan segenap roh yang akhirnya terkumpul kembali, Jimin berbalik menatap Alexi yang berusaha untuk tak tertawa dan menggidikkan bahu seakan tak tau apa-apa. Tapi itu nihil, bohong memang jika ia tak ingin tertawa untuk sekarang, melihat Jimin dengan tampang tololnya mendaratkan tanya pada dirinya.

Kesal tak mendapat hal yang diinginkannya, lantas pemuda setengah acak-acakan itu meraih benda yang tergeletak begitu saja di atas meja-yang menjadi akar semua permasalahannya saat ini-

“Alexi sialan!!!!” umpatnya dalam diam.

Yang dihardik tak bergeming, mengilangkan sebagian kepalanya ke tumpukan buku yang berceceran di atas meja.

“awas kau!”

Jimin mengudarakan perang, dan dengan senang hati Alexi membalas itu dengan senyum yang membuat Jimin bergidik ngeri dibuatnya.

 

_TWO_

Jam sudah melewati angka 12, namun Jimin masih memegang sebuah benda yang seharusnya ia pakai untuk menyapu, namun malah beralih fungsi menjadi benda pelampiasan kekesalannya kala benda persegi yang dikantonginya berbunyi.

Sebuah pesan dari …

From: Tengkorak bejalan

Apa kabar Jim? ^^

 

Cih, ingin rasanya kedua kepalan tangannya ini melayang ke wajah sok polos Alexi yang –ia yakini- tengah tertawa puas di luar sana.

 

To: Tengkorak bejalan

Kenapa? Belum puas mengerjaiku? Awas kau, sebaiknya kau memasang kuda-kuda yang benar sebelum aku datang!!

 

From: Tengkorak bejalan

Ah? kau tak salah mengingatkan? Bukannya kau yang harus menguatkan kuda-kuda?

Kakimu sudah sembuh memang? Aku ragu… hahaha

 

To: Tengkorak bejalan

Jangan coba-coba meremekanku. Dalam 5 menit aku akan selesai. Sebaiknya kau bersiaplah. Karena kali ini kau tak akan pernah bisa pulang dengan selamat!

 

Selepas menuliskan itu, Jimin lantas bergegas melempar benda di genggamannya asal hingga menimbulkan bunyi nyaring yang lumayan memekakkan telinga.

“sudahlah, besok juga ada yang akan membereskannya!”

Dan dengan santainya, Jimin mengamit tas dan berlenggak meninggalkan tugas yang belum sepenuhnya selesai.

-omong omong, Jimin di  hukum membersikan kelas, tapi hasilnya ya… –

 

_THREE_

“Ayolah pak, teman saya masih di dalam! Gimana kalau dia diculik tuyul? Kan bahaya pak! Bapak mau tanggungjawab, emang?”

“berenti mengucap hal konyol Alexi, cepatlah pulang, ini sudah lewat tengah malam! Temanmu si pendek itu tak akan kenapa-napa di sana. Lagipula, mana ada tuyul nyulik manusia, yang ada tuyul kerjaannya nyolong duit!!”

Alexi hanya bisa mengerucutkan bibirnya, ia belum pulang, melainkan tengah berdebat dengan satpam sekolah mereka yang melarangnya masuk ke sekolah, dan menyurunya pulang dengan paksa.

Awalnya, Alexi bersembunyi di koridor kelas, menunggu Jimin menyelesaikan hukumannya-yang omong-omong karena ulah usilnya—dengan sekedar bersenandung menghilangkan bosan.

Sialnya,malam itu pemeriksaan sekolah dilakuakan tak lama setelah seisi sekolah kosong, dan itu artinya keberadaan Alexi terancam ketahuan.

Sempat bersembunyi, namun tak bertahan lama ketika tungkainya  refleks melangka ke salah satu ruangan yang tak sedikitpun ditembus cahaya lantaran semua lampu padam.

Tersentak, kala senter di hanphonenya menyala dan tepat mengarah pada salah-satu tengkorak hasil modifikasi anak biologi yang hampir-ampir mirip dengan manusa tanpa roh.

Dan sayangnya, suaranya terlanjur keluar sebelum telapak tangannya berasil menutup seluruh mulutnya yang kebablasan kala itu.

Niat hati ingin sembunyi,namun nyatanya ia tertangkap basah di ruang praktikum.

Dalam sekejap, satpam teladan sekolah mereka datang mengampirinya. Bukannya menanyai keadaan Alexi yang setengah pucat bak mayat, orang tersebut lebih memilih memarahinya dan menyeretnya keluar dari sekolah.

Ya, me-nye-ret, dan tentunya gadis Min itu tak tinggal diam, beberapa kali ia sempat meronta, namun nihil yang ia dapat.

Dan disaaat beginilah dia mengutuki dirinya yang tak pernah mau belajar kata-kata manis untuk sekedar membujuk dari Jimin.  Padahal pelajaran itu benar-benar dibutuhkannya untuk saat ini.

Nasib memang  terkadang menyebalkan…” gerutunya dalam hati.

Dan dengan sisa-sisa otaknya yang mulai kehabisan ide, untungnya sosok pemuda yang sendari tadi dinantinya berlenggak keluar .

“datang juga akhirnya!”

“Ya! Jim!!” Alexi melambai, dan entah mengapa bibirnya terangkat sedikit untuk mengukir senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada Jimin

­_FOUR­­_

“kau menungguku?”

Jimin yang tak percaya dengan apa yang ia lihat, kembali menyuarakan tanya, dan tentunya mengarah pada sosok gadis kurus kering yang seperti tulang berjalan-menurut tafsiran Jimin yang sudah bersamanya sejak mereka masih memakai popok- di sebelahnya.

“ya, tidak sih. Tadi ada bukuku yang ketinggalan, tapi satpam tua itu tak mengizinkanku masuk!”

Enggan mengaku, Alexi tampaknya harus memendam rasa bersalahnya-juga rasa khawatir- pada Jimin.

“kenapa tak memintaku mengambilnya?” diam sejenak,  Alexi memutar badannya mengadap Jimin, tangannya terulur untuk menyentuk kening lelaki berambut hitam pekat itu.

Was-was, jimn lantas bertolak mundur selangkah,mencoba menghindari tangan Alexi. Kali saja gadis di depannya ini ingin menghakiminya. Siapa yang tau isi otak manusia bringas ini.

“aish, jangan bergerak bodoh!” ucapnya kesal.

“yah!!!, kukira kau sedang sakit. Sejak kapan kau menawariku bantuan tanpa imbalan?”

Dengan tampang bingung, Jimin kembali merajut langkah, mencoba menyelaraskan posisinya dengan Alexi. Jimin yang tadinya ada di ujung ketakutan kembali bisa tenang.

Malam semakin pekat kala awan keabu-abuan mulai menutupi kota. Angin yang bertiup semakin kencang, juga dengan jalanan yang mulai sepi. Hanya ada beberapa lampu toko yang masih menyala yang menuntun langka keduanya.

“Mau bertaruh dengan tugas fisika?”

Kali ini Jimin menyuarakan tantangan, yang ditantang hanya bisa memasang muka heran, namun sejurus kemudian mengangguk mantap tanda setuju.

“Hingga pertigaan komplek, yang kalah mengerjakan tugas fisika selama seminggu penuh tanpa keluhan.” Jimin meluruskan pandangan, dengan telunjuk yang mengarah lurus kedepan.

Tak perlu berjabat tangan dan mengucap kata ‘deal’. Bagi mereka,saling bertemu pandang dengan muka yang dibuat licik-selicik mungkin sudah menjadi kata setuju.

Satu..

Alexi selesai dengan tali sepatu yang diikat sekencang mungkin,pun Jimin sudah membenarkan letak tasnya yang sendaritadi disangkutnya asal di pundak.

Dua..

Kedua bocah itu saling bertukar pandang, menunggu kata mulai yang akan menandakan awal dari permainan mereka.

Ti…

Ups, belum juga Jimin  mengabiskan hitungannya, Alexi telah lebih dulu mengambil langkah meninggalkan Jimin. Bukan itu yang membuat Jimin geram bukan kepalang saat ini, melainkan sepakan Alexi yang sialnya mengenai tulang kaki Jimin yang masih terbalut perban dan…

“ALEXIIIII…… AWAS KAU GADIS KURUS!!!”

Itu sangat menyakitkan, percayalah…

.

Clear^^

.

Wowww…..Selesai juga, setelah berhari-hari mentok, akhirnya kelar juga ni cerita aneh binti absurd nan hancur…

Kenalin, diriku penulis pemula yang masih iseng-iseng sih buat nulis. Bahasanya masih Hancur, dan feelnya? Lebih lagi gadapat!

Big thanks banget buat nekippo(?) yang udah ngasih semangat kakak buat nulis J …. aaaa, jadi pengen meluk nenek ….

Big thanks juga buat admin disini yang udah ngepost cerita ini :v

Oh iya, ini sebenarnya cerita nyata antara aku dengan temanku . Gara-gara daku iseng nelpon dia  pas dianya dikelas(pelajaran matematik lagi), eh akirnya dia kena hukuman bersihin kelas sendiri ampek hampir tengah malem :’v (ini serius bikin aku pengen ketawa :v)

.

Last, mohon reviewnya ya buat kakak-kakak semua.

Maaf, kalo daku malah bikin mata kalian sakit dengan tulisan aneh ini/?

Jangan lupa berdoa  mohon keselmatan sebelum baca ( ga ada hubungannya -­_- )..

Salam hangat,

MintPanda~~

Advertisements

3 thoughts on “[BTSFF Freelance] Teman?-Oneshoot

  1. Pdhl tadi mau komen tp kuota keburu habis jd like dulu baru di komen :”””D
    Aaahhh imutnya merekaaaa apalagi jimim kek orang bego XD ini dari real life? Entah kenapa kalau dr real life feelnya kerasa benerb/plak/ nice fic!!

    Like

    1. uhaaaaa,,,, makasih banget udah nyempetin baca fic ini…
      Kuotanynya abis?? Wah,,, besok lah Mint request ke jimin buat beliin kuota internet buat eonnie…
      Ini real life,, psitttt!!! Jgn ribut ne, ini rahasia :v
      Maslah jimin bego, itu sudah menjadi rahasia umum
      (Dibunuh jimin)
      Makasih udah mampir 🙂

      Liked by 1 person

      1. Wahahah iyanih aku tunggu loh kuota internet dari kang chimchim XD
        eh btw kenalan duluuu, ji/jihyeon disini line 98 ^^

        Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s