[What is Your Color?] Senja Terakhir – Oneshot

senja terakhir

Judul : Senja Terakhir

Nama Author : Yoonme

Genre : Sad Romance

Length : Oneshoot [4700+ words]

Rating : PG-17

Cast : BTS’ Kim Taehyung, RED VELVET’S KANG SEULGI

Disclaimer : I don’t own anything. Original characters are belong to themselves. Story and plot are mine.

Summary : “Aku berjanji, ini adalah senja terkahir yang kau lewati tanpaku.” –Kim Taehyung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kim Taehyung berdiri menghadap senja di ufuk barat. Di ujung dermaga kayu yang nyaris menyentuh danau. Ia menghela nafas pelan. Nyaris marah pada dirinya sendiri karena masih melakukan hal yang sama; menunggu apa yang tidak akan kembali. Namun jika ia mengingat kembali raut wajah seseorang yang ia rindukan, amarahnya menguap begitu saja. Dan ia kembali pada keyakinannya, senja akan menyatukan keduanya.

“Kau pernah memelukku seperti senja memeluk langit. Begitu indah, namun juga singkat. Saat malam mulai naik, sinarmu perlahan tenggelam. Dan aku masih menunggu di tempat yang sama.”

 

YOONME PRESENT – SENJA TERAKHIR

 

Satu tahun saling mengenal membuat Kim Taehyung yakin akan perasaannya pada Kang Seulgi. Seorang gadis pendiam dengan rambut berwarna hitam dan selalu terurai. Setiap hari, Taehyung berusaha mati-matian untuk membuat Seulgi tersenyum. Dan begitu usahanya berhasil, jantung pria itu akan berdetak lebih cepat. Pernah suatu hari Taehyung berhasil membuat Seulgi tertawa terbahak-bahak dengan leluconnya. Hal itu membuatnya nyaris pingsan.

“Kau adalah orang pertama yang berhasil meledakkan tawa seorang Kang Seulgi.” Komentar salah satu temannya. Dan Taehyung benar-benar bangga.

Sore itu sepulang dari kuliah, Taehyung mengajak Seulgi untuk jalan-jalan. Bukan dengan menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau restaurant. Namun Taehyung memilih sebuah danau yang letaknya agak jauh dari kota. Karena ia tahu, gadis pujaannya ini bukanlah penyuka keramaian dan hiruk pikuk. Jadi ia memilih sebuah tempat yang tenang untuk mengungkapkan perasaannya.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka sampai. Taehyung mematikan mesin mobilnya lantas mengajak Seulgi untuk turun. Ia mengajak Seulgi berjalan di atas sebuah dermaga kayu yang panjang. Dan begitu sampai di ujung dermaga, langkah keduanya terhenti. Menatap lurus senja yang menyelimuti cakrawala. Matahari nyaris tenggelam di ufuk barat. Jingga semakin nampak jelas, membuat suasana semakin teduh. Pantulannya juga begitu indah di permukaan air danau.

“Seulgi, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,” suara berat milik Taehyung berpadu dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Seulgi merasa pipinya dingin.

“Ya?” ia menoleh. Mendapati sepasang manik mata hitam tengah menatapnya. Fokus. Seolah di dunia ini hanya ada dirinya saja.

“Jadilah kekasihku.”

 

Seulgi sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Hanya bibirnya yang semula terkatup menjadi sedikit terbuka. Ia masih menatap Taehyung, begitu pula sebaliknya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Anginpun seolah meredam suaranya. Dan kini yang didengar oleh Taehyung hanyalah degup jantungnya sendiri.

Setelah beberapa detik menatap mata pria di sampingnya, Seulgi kembali pada langit senja. Akhirnya ia menghela nafas. Karena setelah Taehyung melontarkan kalimat tersebut, Seugi tidak sadar kalau ia menahan nafasnya.

“Kang Seulgi?” tegur Taehyung. Mulai khawatir karena Seulgi sama sekali tidak merespon pernyataannya.

“Ya?”

“Bagaimana dengan jawabanmu?”

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?”

“Terlalu banyak untuk kujelaskan,”

 

Seulgi memutar badannya hingga berhadapan dengan Taehyung. Ia maju satu langkah dan semakin dekat pada pria dengan jaket denim hitam itu. Disentuhnya pipi kiri Taehyung perlahan, menatap dalam-dalam padanya.

“Satu saja,” bisik Seulgi. Taehyung memejamkan matanya perlahan lantas kembali membukanya. “Karena kau seperti langit senja.”

“Apa yang menyamakanku dengan langit senja?”

“Senja membawa bumi menuju malam. Malam itu tenang dan sunyi. Malam adalah saat dimana kau melepaskan semua lelahmu karena siang. Dan pada malam hari, kau selalu hadir di dalam mimpiku.”

 

Jawaban Taehyung membuat Seulgi menyunggingkan senyum manisnya. Sosok humoris ini ternyata bisa membuat kalimat romantis seperti tadi.

“Tanggal berapa ini?”

“Um, 10 Maret. Ada apa?”

“10 Maret yang akan datang, bawa aku ke tempat ini lagi.”

“Untuk apa?”

“Merayakan satu tahun hari jadi kita.”

—000—

 

Kim Taehyung tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Pagi pertama dengan status sebagai kekasih Seulgi benar-benar membuatnya tidak bisa menghilangkan senyum dari wajahnya. Dan itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Ia menjemput Seulgi saat akan berangkat kuliah dan mengantarnya pulang jika jam kuliah berakhir. Setiap akhir pekan mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di kawasan Myeongdong atau Hongdae. Taehyung menunjukkan pada gadisnya bahwa dunia itu sangat indah dan penuh warna. Selama ini Seulgi lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Ia bukan seorang anti social. Hanya lebih menyukai ketenangan.

Hari-hari terasa begitu cepat bagi Taehyung dan Seulgi. Tepat di satu tahun hari jadi mereka, Taehyung mengajak Seulgi kembali menuju danau tempat ia menyatakan perasaannya dulu. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Taehyung mencuri pandang pada kekasihnya. Seulgi tetap tidak banyak bicara. Ia lebih sering menatap jalanan yang mereka lalui. Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dengan mobil, Taehyung berhenti di tepi danau. Pemandangan di sana tidak banyak berubah. Air di permukaan danau sedikit bergolak saat diterpa hembusan angin. Dengan antusias, Seulgi turun dari mobil dan berjalan agak cepat menuju dermaga. Sementara Taehyung tidak langsung turun. Ia mengambil bouquet bunga mawar yang sudah ia siapkan di belakang jok kemudinya. Setelah merapikan pita penghiasnya, Taehyung turun dari mobil menyusul Seulgi yang sudah lebih dulu berada di tepi dermaga.

Tangan kanannya ia letakkan di balik punggungnya, menyembunyikan rangkaian bunga yang sangat istimewa untuk kekasihnya. Seulgi sama sekali tidak menoleh ke belakang meskipun ketukan sepatu Taehyung terdengar jelas beradu dengan dermaga yang terbuat dari kayu. Begitu sampai tepat di belakang Seulgi, Taehyung melingkarkan tangan kirinya di sekitar pinggang kecil kekasihya.

“Happy our 1st anniversary,” bisik Taehyung di telinga Seulgi. Seulgipun tersenyum dan membalikkan badannya agar berhadapan dengan Taehyung. Segera Taehyung menunjukkan bouquet yang sedari tadi ia pegang. Dan ia berikan pada Seulgi.

“Terimakasih,” ujar Seulgi sambil menerima mawar pemberian Taehyung. Ia cium sekali bunga itu, lantas tanpa aba-aba memeluk sosok Taehyung yang sangat dicintainya. Seulgi memejamkan matanya sambil menghirup kuat-kuat aroma feromon yang menyatu dengan aroma parfum dari tubuh Taehyung.

“Aku yang seharusnya berterimakasih, Seulgi. Kau sudah menjadi senja terindah yang pernah kumiliki.”

“Kenapa kau selalu menyamakanku dengan senja?”

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu, kan?”

 

Seulgi mengangkat kepalaya sesaat untuk menatap wajah teduh milik Taehyung. Lantas kembali menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat seorang Kim Taehyung. Ia tidak pernah menyangka bisa menjadi kekasih pria berisik itu. Seulgi bahkan tidak memiliki ketertarikan ataupun cinta kepada Taehyung. Ia juga tidak tahu kalau Taehyung sangat tergila-gila padanya. Karena menurut Seulgi, dirinya bukanlah gadis cantik dengan penampilan yang glamour. Namun tepat satu tahun yang lalu, ia jatuh cinta begitu saja pada Taehyung. Di tempat ini, di bawah siraman cahaya jingga. Dan tanpa pikir panjang Kang Seulgi menerima pernyataan cinta Kim Taehyung.

Ia mengenal Taehyung dengan baik. Jadi ia merasa kalau Taehyung adalah pria yang tepat untuknya. Seulgi menyandarkan seluruh hatinya pada pria itu. Tanpa ada niat untuk berpaling sedikitpun. Meskipun keduanya memiliki karakter dan sifat yang jauh berbeda, Seulgi justru merasa itulah yang istimewa dari hubungan mereka. Taehyung dengan tingkah dan tutur kata yang selalu membuat Seulgi –si pendiam dapat melepaskan tawanya.

Setelah matahari terbenam dengan sempurna, warna langit yang semula jingga perlahan menjadi keunguan dan semakin gelap. Lampu-lampu di sekitar dermaga mulai dinyalakan. Taehyungpun mengajak Seulgi meninggalkan dermaga menuju bangunan yang ada di sepanjang tepi danau.

Taehyung telah mempersiapkan semuanya. Sebuah meja dengan kain putih yang menjuntai, di atasnya terdapat beberapa jenis makanan dan sebotol sampanye. Mereka lantas duduk berhadapan. Taehyung menuangkan sampanye ke dalam gelas milik Seulgi dan juga miliknya. Bersulang untuk merayakan hari jadi pertama mereka.

“Kuharap kita bisa merayakannya kembali tahun depan, juga tahun-tahun yang akan datang.” Ucap Seulgi. Taehyung menanggapinya dengan sebuah anggukan.

“Kita masih akan merayakannya di tahun-tahun berikutnya. Aku berjanji.”

—000—

 

Kim Taehyung adalah tipikal pria yang penuh dengan kejutan. Di tahun kedua hubungannya dengan Seulgi, Taehyung datang ke rumah Seulgi. Tepatnya di tanggal 10 Maret, pukul 7 malam. Ia datang dengan pakaian rapi. Dengan niat yang begitu kuat, ia menghadap kedua orang tua Seulgi. Dan mungkin malam itu adalah malam yang paling memacu detak jantung Seulgi. Taehyung melamarnya.

“Taehyung, kau yakin dengan ucapanmu?” Seulgi bahkan tidak percaya dengan kalimat yang meluncur dari mulut kekasihnya. Padahal selama ini ia tidak pernah ragu pada Taehyung.

“Nak, kalian bahkan belum lulus. Bagaimana kau akan memberi makan putriku?”

“Saya akan mencari pekerjaan. Dan saya berjanji akan menjaga Seulgi dengan sebaik-baiknya. Saya sangat mencintainya.”

“Cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga, Nak. Tolong pikirkan terlebih dahulu.”

 

Sebenarnya Taehyung bisa bekerja di perusahaan milik ayahnya jika ia mau. Namun Taehyung tidak mau menggantungkan hidupnya pada sang ayah. Ia ingin mandiri. Dengan adanya Seulgi di sampingnya, ia yakin bisa menjalani semuanya. Karena ia terlalu takut kehilangan Seulgi, maka ia memutuskan untuk melamar gadis itu.

“Kau yakin bisa memenuhi kewajibanmu jika kau menikahi Seulgi?” tanya Ayah Seulgi sekali lagi. Taehyung menjawabnya dengan penuh keyakinan,

“Saya yakin. Dan saya berjanji.”

“Seulgi, bagaimana denganmu?”

“Ayah memberikan ijin?”

“Jika kebahagiaanmu adalah dengan Taehyung, ayah akan mengijinkanmu meraih kebahagiaanmu.”

 

Tidak butuh waktu lama setelah melamar Seulgi, pernikahan pun diadakan. Pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga dan para kerabat. Senyuman tak pernah lepas dari wajah Seulgi dan Taehyung. Hari itu menjadi hari paling bersejarah bagi mereka berdua. Setelah tiga tahun, akhirnya Taehyung bisa memiliki wanita pujaan hatinya. Semuanya berjalan mudah sampai detik ini.

Taehyung menolak untuk tinggal bersama orang tuanya atau tinggal di rumah orang tua Seulgi. Ia benar-benar ingin membuktikan pada orang tua mereka bahwa ia adalah pria sejati yang bertanggung jawab pada setiap keputusan yang diambilnya. Maka Taehyung mengajak Seulgi untuk tinggal di sebuah rumah yang sudah ia sewa beberapa minggu sebelum melamar Seulgi. Dan ia merasa rumah itu adalah tempat yang sangat tepat bagi keduanya.

Rumah minimalis dua lantai dengan dinding kayu dan dicat warna putih. Terdapat beberapa anak tangga di bagian lantai dengan tanah. Dan bagian paling sempurna dari rumah itu adalah terletak di tepi danau tempat Taehyung menyatakan cintanya pada Seulgi. Tempat yang sangat berarti dalam hubungan mereka.

“Kau menyukainya, Seulgi?” bisik Taehyung di telinga istrinya. Seulgi menoleh dan menganggukkan kepalanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Taehyung memilih rumah ini sebagai tempat tinggal mereka.

“Sangat menyukainya,” jawab Seulgi pelan. Ia tengah berdiri di samping Taehyung. Menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam dari balkon rumahnya. Langit berwarna jingga dengan selimut dari awan yang masih tampak jelas. Taehyung menarik pelan Seulgi ke dalam pelukannya.

“Terimakasih kau mau menikah denganku, Seulgi.”

“Aku tahu kita memang ditakdirkan untuk bersatu, Tae. Hanya saja yang tidak pernah kuduga, kau menikahiku secepat ini.”

“Aku tidak akan pernah membuatmu menyesal. Aku berjanji.” Taehyung memegang bahu Seulgi dengan kedua tangannya. Lantas dikecupnya dahi istrinya itu. Perempuan yang paling dicintainya.

“Selamanya aku tidak akan pernah menyesal. Aku berharap bisa terus menyaksikan senja bersamamu.”

“Kita akan melakukannya seumur hidup kita. Aku berjanji.”

—000—

 

Taehyung mengatur semuanya agar Seulgi dapat menjalani kehidupan barunya dengan mudah. Di awal-awal masa rumah tangga mereka, terkadang mereka masih menerima kiriman uang dari orang tua Taehyung. Pria itu terlahir di tengah-tengah keluarga yang berada. Ayahnya seorang direktur utama dan memimpin sebuah perusahaan dengan empat anak cabang yang tersebar di seluruh Korea. Namun hal itu tidak membuat Taehyung ingin menopang hidup pada sang ayah. Ia ingin mencari pekerjaan tanpa campur tangan Tuan Kim.

Taehyung melamar pekerjaan di sebuah café sebagai seorang waiters. Ia bekerja dari jam 6 sore sampai 12 malam. Jam kuliah berakhir pukul 4 sore dan ia langsung mengantar Seulgi pulang ke rumah mereka berdua. Begitu sampai di rumah , ia istirahat sebentar sementara Seulgi memasak untuk bekal Taehyung. Lantas Taehyung kembali berkendara menuju kota dengan kecepatan penuh agar bisa sampai di tempat kerjanya tepat waktu.

Di saat Taehyung bekerja, Seulgi mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian kotor dan membersihkan rumah. Seusai makan malam, ia akan mengerjakan tugas kuliahnya. Seulgi tidak akan tidur jika Taehyung belum pulang. Meskipun rasa lelah luar biasa menderanya, namun ia merasa bahwa itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. Ia tidak bisa membiarkan Taehyung berpacu dengan waktu sementara dirinya tidur di rumah. Meskipun Taehyung sudah berulangkali menyuruh Seulgi untuk tidak menunggunya pulang. Namun  ia tidak pernah menurutinya.

Dan hari ini, tepat tiga bulan setelah mereka menikah. Dan Taehyung menerima gaji pertamanya sebagai waiters. Begitu café tutup, Taehyung bergegas pulang. Namun sebelumnya, ia terlebih dahulu menuju sebuah minimarket membeli buah-buahan untuk Seulgi. Begitu selesai, Taehyung langsung masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya agar segera sampai di rumah.

Taehyung sampai di rumah pukul 1 dinihari. Ia memarkirkan mobilnya di garasi kecil yang ada di samping rumah. Saat berjalan menuju teras, ia melihat permukaan danau yang begitu tenang. Taehyungpun tersenyum dan menghela nafas. Baginya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat wajah Seulgi. Cepat-cepat Taehyung masuk ke dalam rumah dan mendapati Seulgi tengah berkutat dengan layar laptop.

“Aku pulang,” suara Taehyung memecah kesunyian yang ada di sekitar mereka. Seulgi sedikit terkejut saat mendapati Taehyung sudah berdiri di belakangnya sambil membawa sekantung plastik berisi buah-buahan.

“Kau mengejutkanku, Tae.” Sulgi memekik pelan sambil memegangi dadanya. Melihat reaksi Seulgi, Taehyung justru tertawa. Ia meletakkan kantung buahnya di samping laptop Seulgi dan melihat ke layar. “Kau membeli buah-buahan?”

“Aku menerima gaji pertamaku tadi.”

“Benarkah? Kurasa lebih baik kau tabung saja. Uang dari ayahmu masih cukup untuk satu bulan kedepan.”

 

Taehyung mengangguk. Ia lantas membaca apa yang tertera di layar laptop Seulgi. Seulgipun berujar, “Aku punya hobi baru sekarang.”

“Sejak kapan kau mulai suka menulis?”

“Baru-baru ini. Aku merasa bosan kalau hanya menonton tv saat menunggumu pulang. Jadi aku menulis. Akan kukirim ke majalah dan jika diterbitkan, uangnya bisa kita tabung.”

“Kau kuliah jurusan sastra. Sudah seharusnya bisa membuat tulisan yang bagus dan layak terbit.”

 

Taehyung mengecup pucuk kepala istrinya lantas melenggang masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower dan tetes-tetes air hangat langsung menimpa seluruh tubuhnya. Rasa lelahnya menguap begitu saja saat melihat wajah Seulgi dan mendengar suaranya.

Lima menit kemudian, Taehyung keluar dari kamar mandi dengan celana pendek dan kaos oblong warna putih. Di punggungnya tersampir handuk coklat yang ia pakai untuk mengeringakn badannya tadi. Seulgi membuatkan segelas teh hangat dan ia letakkan di meja makan. Wanita itu juga mengupaskan jeruk untuk Taehyung.

“Terimakasih,” ujar Taehyung sambil menerima jeruk pemberian Seulgi. Sambil menyantap buah berwarna orange itu, Taehyung duduk di samping Seulgi yang kembali pada tulisannya. Tidur larut malam sudah menjadi kebiasaan baru bagi keduanya. Meskipun sudah sampai rumah, Taehyung tidak langsung naik ke tempat tidur. Ia lebih memilih bercengkerama sebentar bersama Seulgi. Lantas mereka baru tidur begitu salah satu di antaranya berkata, “Ayo kita tidur.”

Dan malam ini, mereka tidur pukul 2 dinihari karena besok ada kelas pukul 8 pagi. Taehyung merebahkan diri terlebih dahulu. Seulgi mematikan lampu lantas menyusul Taehyung. Tanpa menunggu lama, Taehyung memeluk tubuh mungil istrinya dan menutup tubuh mereka dengan selimut.

“Jaljayo..” bisik Taehyung yang diikuti dengan kecupan kecil di bibir Seulgi.

—000—

 

Meskipun berusaha membuat semuanya baik-baik saja, toh pada kenyataannya Taehyung mulai lelah dengan rutinitas yang dijalaninya. Setelah lulus, Taehyung melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Iapun mulai bekerja di tempat baru, dengan gaji yang lebih besar dari saat ia bekerja di café.

Ia mengira semua akan lebih baik. Tapi perkiraannya salah. Taehyung masih harus berkendara selama satu jam saat berangkat  maupun pulang. Terkadang juga ia harus pulang larut malam karena pekerjaan yang luar biasa banyak. Ia sampai di rumah dengan keadaan kacau. Terlalu lelah sampai-sampai terkadang menjawab pertanyaan Seulgi dengan ketus.

Seulgi sadar dengan keadaan sulit yang dialami oleh suaminya. Suatu hari di tengah-tengah makan malam mereka, Seulgi mengatakan semuanya.

“Tae, bagaimana kalau kita kembali ke Seoul?”

“Apa maksudmu?”

“Kulihat semakin hari kau semakin kacau. Kau berangkat pagi dan pulang sangat larut. Dan aku sadar waktumu kau habiskan hanya untuk berkendara. Kalau kita kembali ke Seoul, mungkin kau tidak sekacau sekarang, Tae.”

“Kau ingin kita pindah?”

“Aku tidak bisa berdiam diri di rumah sementara kau selalu pulang dalam keadaan setengah hidup. Atau setidaknya biarkan aku membantu–“

“Kau tetap di rumah. Aku baik-baik saja.”

“Kalau kau tidak ingin kita pindah dari sini, setidaknya kau bisa menyewa sebuah flat di sana. Jika kau merasa terlalu lelah untuk mengemudi, kau bisa istirahat di flat.”

“Seulgi, itu sama saja memisahkan aku darimu. Dengar, apapun yang terjadi, aku tetap akan pulang kesini. Di sini. Karena ini rumah kita. Kau tahu, Seul? Saat aku merasakan lelah yang luar biasa dan masih harus mengemudi, satu-satunya hal yang terlintas di kepalaku hanyalah wajahmu. Begitu aku sampai di rumah, semua lelahku hilang begitu saja saat aku melihat kau menyambutku pulang dengan senyumanmu itu. Kita bisa melewati ini semua, sayang. Kau hanya perlu ada di sisiku jika aku membutuhkanmu.”

“Kau yakin, Tae?”

 

Taehyung mengangguk kaku. Ia memasukkan nasi ke dalam mulutnya diikuti oleh sepotong daging. Menyadari suasana kaku yang tiba-tiba tercipta di antara keduanya, Taehyung mengalihkan topik pembicaraan. “Bagaimana dengan novelmu?”

“Hampir selesai.” Jawab Seulgi singkat. Ia hanya meminum segelas air lantas membawa piringnya yang masih terdapat nasi dan daging dalam jumlah yang cukup banyak ke wastafel. Nafsu makannya mendadak hilang saat Taehyung membantah sarannya tadi.

Sadar akan sikap istrinya yang berubah, Taehyung meletakkan sumpitnya dan menghampiri Seulgi yang tengah mencuci piring. Dengan lembut ia memeluk pinggang Seulgi dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu Seulgi yang terbalut kemeja longgar abu-abu.

“Ada apa?”

“Kenapa? Aku tidak boleh memeluk istriku sendiri?”

“Ck. Katakan apa maumu, Kim Taehyung?”

“Um, tidak ada. Aku hanya ingin tidur lebih awal, Seul. Setelah ini kita tidur, oke?”

“Besok kau libur, kan? Kenapa harus tidur lebih awal?”

“Jam tidurku sekarang sangat sedikit. Apa salahnya?”

 

Seulgi mematikan keran air, mengeringkan tangannya dengan kain yang tergantung di dinding. Ia lantas membalikkan badannya menghadap Taehyung. Mengecup singkat bibir suaminya dan berlalu begitu saja. Taehyung tersenyum kecil dan menyusul Seulgi ke tempat tidur.

Hari-hari terasa begitu lambat bagi Seulgi dan Taehyung. Kinerja Taehyung yang baik membuatnya dipercaya oleh perusahaan sebagai ketua tim di perusahaan. Pekerjaan yang dibebankan kepadanya juga semakin banyak. Awalnya Taehyung berusaha menangani semuanya, berusaha terlihat baik-baik saja di depan Seulgi. Namun sebagai seseorang yang menjadi belahan jiwa bagi Taehyung, Seulgi sadar akan kesulitan yang dihadapi oleh suaminya.

“Jangan membahas ini lagi, Seulgi. Kau akan mendapat jawaban ‘tidak’ setiap kali kau memintaku menyewa flat di Seoul.”

“Kenapa kau sangat keras kepala, Taehyung? Kenapa kau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri?”

“Aku baik-baik saja, Seulgi.”

“Tidak. Bagaimana bisa kau tetap baik-baik saja jika kau selalu pulang pukul 2 dinihari, lantas kembali berangkat pukul 8 pagi. Berhenti berpura-pura, Taehyung. Carilah flat yang dekat dengan tempat kerjamu.”

“Aku tidak bisa jika harus jauh darimu, Seulgi.”

“Kalau begitu kita pindah saja dari sini! Kita jual rumah ini!”

 

Taehyung terkejut dengan kalimat terakhir Seulgi. Ia tidak menyangka Seulgi bisa mempunyai pikiran seperti itu. “Apa maksudmu, Seulgi?”

“Aku mengkhawatirkanmu, Taehyung! Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Kau selalu pulang seperti mayat hidup. Bahkan terkadang saat kau sampai di rumah, kau tetap tidak bisa tidur karena tiga gelas kopi yang kau minum saat di kantor agar kau tetap terjaga. Tidakkah kau sadar aku sangat mengkhawatirkanmu?”

“Berhentilah mengkhawatirkanku!”

 

Seulgi merasa dipukul dengan sangat kuat. Dua bulir air mata meluncur dengan cepat melewati pipinya. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan tangisnya. Dan saat mengankat kepala, ia melihat Taehyung menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tanpa pikir panjang Seulgi berlalu dari hadapan Taehyung dan mengunci diri di dalam kamar.

Taehyung menyesal ia tidak menjaga lidahnya. Beberapa menit kemudian, ia menghampiri Seulgi yang ada di dalam kamar. Diketuknya pintu kamar dengan pelan.

“Seulgi..” panggil Taehyung. Namun tidak ada respon dari Seulgi. Ia kembali memanggil istrinya untuk yang kedua kali. Tetap saja ia diacuhkan.

“Kang Seulgi jangan acuhkan aku,” kini ia mendengar Seugi membuka kunci kamar, namun pintu masih tertutup. Taehyung menghela nafas lantas memutar handle pintu. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Seulgi duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya basah oleh air mata, dan itu membuat Taehyung merasa menjadi pria paling jahat di dunia. Iapun berlutut di hadapan Seulgi yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menyenbunyikan tangis yang sudah dilihat oleh Taehyung. Digenggamnya telapak tangan Seulgi yang ada di pangkuan.

“Seulgi, maafkan aku.” Taehyung benar-benar menyesal. Seulgi tidak menjawab dan masih terisak. “Aku sudah membentakmu,”

“Apakah mengkhawatirkanmu itu adalah sebuah dosa?”

“Maafkan aku. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”

“Kau tahu? Aku merasa bahwa aku bukanlah istri yang baik untukmu, Taehyung. Kita menikah hampir 5 tahun, tapi aku belum bisa memberikan keturunan untukmu.”

“Seulgi, apa yang kau bicarakan? Kau adalah wanita terbaik yang kumiliki dan aku tidak pernah menyesal memilihmu sebagai pendamping hidupku.”

“Aku selalu merasa bersalah padamu, Tae.”

“Ssstt… kau tidak melakukan kesalahan apapun, Seulgi. Kau adalah alasan aku masih bertahan sampai detik ini. Membuatku rela menempuh satu jam perjalanan agar aku bisa melihat kau tersenyum padaku. Jangan pernah merasa bersalah lagi, oke?”

 

Seulgi mengangguk. Ia tersenyum saat Tehyung mencium kedua tangannya. Menghapus air matanya dan mengecup keningnya. “Kita tidur saja. Kau pasti lelah, kan?”

—000—

 

Akhirnya Taehyung menyetujui saran Seulgi tentang menyewa flat di kota. Namun Taehyung menegaskan bahwa ia hanya akan tidur di flat jika merasa tidak mampu untuk pulang dan Seulgi mengiyakan. Seulgi juga mengatakan ia juga akan menemani Taehyung di flatnya sesekali waktu. Dan semua itu dimulai sejak hari ini. Taehyung menelpon bahwa ia tidak pulang dan Seulgi berkata tidak apa-apa. Ia tidak ingin Taehyung terus menerus kekurangan jam tidur.

Semuanya berjalan sesuai rencana. Di akhir pekan, Seulgi akan menyusul Taehyung ke kota dan mereka menghabiskan malam dengan jalan-jalan seperti saat masih berpacaran dulu. Kemudian pulang ke rumah di dekat danau dan saling melepas rindu. Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan bagaimana mereka saling merindukan satu sama lain. Cukup dengan pelukan dan dekapan malam itu, Taehyung dan Seulgi sadar bahwa mereka saling membutuhkan.

Semakin lama, Seulgi semakin terbiasa dengan kesendiriannya. Sudah empat bulan sejak Taehyung tinggal terpisah darinya. Meskipun begitu, Taehyung selalu menelpon ataupun melakukan video call. Jadi ia tidak benar-benar merasa kesepian. Apalagi novelnya kini tengah memasuki tahap finishing oleh penerbit dan sebentar lagi novel perdananya akan terbit. Kesibukannya juga mengurangi rasa sepinya. Semuanya terasa begitu normal bagi Seulgi.

Begitu pula dengan Taehyung. Pekerjaan benar-benar membunuh waktunya. Semakin hari tugas yang harus ia selesaikan semakin banyak. Bahkan di akhir pekan, ia sudah jarang pulang. Jika Seulgi tidak terlalu sibuk, ia akan menyusul Taehyung. Menunggu di flat sampai larut malam dan menemani suaminya. Membuatkan makanan dan melayaninya. Minggu malam Seulgi pulang sendiri menaiki bus atau diantar oleh ayahnya. Hanya ada satu alasan. Taehyung terlalu sibuk.

Satu senja di akhir bulan ketujuh ia hidup terpisah dengan Taehyung. Seulgi duduk di tepi dermaga sambil menyaksikan matahari tenggelam. Satu hal yang sangat ia rindukan saat bersama Taehyung. Seulgi lantas menelpon Taehyung. Perlu sedikit menunggu sampai Taehyung mengangkat teleponnya.

“Hallo..”

“Taehyung,”

“Ada apa, Seulgi?”

“Kau sedang apa?”

“Aku masih menyiapkan materi untuk rapat besok. Ada apa?”

“Tidak ada. Aku masih menyaksikan matahari terbenam dari dermaga. Sudah lama sekali kita tidak menikmati senja bersama, ya?”

“Sepertinya begitu. Kalau aku bisa pulang akhir pekan ini, kita akan– tunggu sebentar,“

 

Pembicaraan mereka terhenti. Seulgi mendengar di seberang sana Taehyung tengah berbicara dengan atasannya lewat telepon. Ia menghela nafas, menunggu sampai suaminya selesai bicara. Lima menit kemudian, Taehyung kembali pada panggilan mereka.

“Jadi, bagaimana tadi?”

“Oh, tidak apa-apa. Kau bisa pulang akhir pekan ini?”

“Um, aku tidak tahu. Tapi akan aku usahakan,”

“Kuharap kau bisa pulang, Tae.”

“Aku juga berharap seperti itu.”

“Lanjutkan pekerjaanmu, Hero.”

I love you..”

            “I do love you..”

 

Seulgi menutup teleponnya. Matahari sudah terbenam dengan sempurna. Saat berdiri dan hendak meninggalkan dermaga, tiba-tiba Seulgi merasakan kepalanya luar biasa sakit. Pandangannya kabur sesaat dan ia mendapati setetes darah di punggung tangannya. Seulgi menyentuh hidungnya, begitu terkejut saat menyadari ia mimisan. Dengan telapak tangan ia menutupi hidung dan berlari menuju rumah untuk membersihkan darah yang megalir deras dari hidungnya. Begitu darah berhenti mengalir, Seulgi menatap pantulan wajahnya di cermin. Iapun menggumam pada dirinya sendiri, “Taehyung tidak boleh tahu tentang ini..”

—000—

 

Dulu saat masih belia, orang tua Seulgi pernah mengatakan padanya. Untuk mendapat satu kebahagiaan, maka harus ada yang direlakan. Dan sekarang Seulgi mendapati bahwa ucapan orang tuanya benar adanya. Ia ingin Taehyung bahagia dan memperoleh kesuksesan. Dan ia merelakan dirinya sendiri. Semata-mata hanya untuk kebahagiaan suaminya.

Hari ini adalah hari peluncuran novel pertama Seulgi. Penerbit yakin bahwa novel ini akan menjadi best seller di pasaran karena ide cerita yang disuguhkan oleh Seulgi sangat bagus. Sayangnya, Taehyung tidak ada di sampingnya di hari bersejarah ini. Tidak masalah bagi Seulgi. Iapun mengirimkan satu buah novel ke flat Taehyung.

Malamnya, Seulgi menelpon suaminya. Kali ini tidak butuh waktu lama bagi Seulgi menunggu Taehyung mengangkat panggilannya.

“Ya? Ada apa Seulgi?” suara baritone Taehyung masih membuat jantung Seulgi berdetak dengan cepat.

“Kau sudah menerimanya?”

“Novelmu?”

“Iya. Pasti sudah kau terima, kan?”

“Um. Masih kupegang.”

“Bacalah, Tae. Penerbit bilang novelku berpeluang besar menjadi best seller. Dan kau harus membuktikan bahwa cerita di dalamnya benar-benar bagus.”

“Tentu. Akan kubaca.”

“Bagus..”

 

Tiba-tiba Seulgi kembali merasa kepalanya sakit. Sampai-sampai ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat agar Taehyung tidak mendengar rintihannya.

“Seulgi.. Apa yang terjadi? Kenapa kau diam saja? Seulgi..”

“Oh, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu,” bohong Seulgi.

“Memikirkan apa?”

“Tentang… senja…”

“Senja?”

“Um, aku takut jika suatu hari, aku tiak bisa menyaksikan senja bersamamu lagi.”

“Seulgi bicara apa kau ini?”

“Pulanglah, Taehyung. Sudah hampir 2 bulan kau tidak pulang sama sekali.”

 

Ada jeda sesaat sebelum Taehyung berkata, “Maaf..” nada bicaranya terdengar begitu menyesal. Dan di kamarnya, Seulgi mati-matian menahan sakit di kepalanya, juga membersihkan darah yang mengalir dari hidung dengan tisu.

“Aku menunggu sampai kau pulang. Demi sepotong senja yang ingin aku nikmati bersamamu.”

—000—

 

Seulgi menghela nafasnya dengan berat saat membaca hasil pemeriksaan dokter. Ia harus istirahat total di rumah. Dokter melarangnya bekerja terlalu berat atau bepergian jauh sendirian. Padahal ia berniat hendak mengunjungi Taehyung siang nanti. Namun karena sudah dilarang oleh dokter, akhirnya Seulgi memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, ia mencoba menelpon suaminya. Namun nomor Taehyung tidak aktif. Ia kesal, apakah Taehyung terlalu sibuk sampai harus mematikan ponselnya?

Seulgi kembali pada lembar kerja di laptopnya. Ia akan menulis lagi meskipun novel perdananya baru saja dilepas di pasaran. Dan sesuai prediksi, novel tersebut berhasil terjual sebanyak 2000 eksemplar dalam waktu satu bulan. Benar-benar hebat untuk sebua debut novel. Namun itu tidak banyak berarti bagi Seulgi karena sampai detik ini, ia belum juga bertemu Taehyung.

Musim gugur kembali menyapa. Daun-daun mulai meranggas dan mengotori halaman rumah Seulgi. Membuatnya harus bekerja keras untuk membersihkannya. Namun karena kondisinya yang semakin memburuk, Seulgi tidak bisa terlalu lama. Lima menit sekali ia harus duduk dan istirahat. Ia juga kembali mimisan.

Seulgi mengambil ponselnya dan menelpon Taehyung. Tiga detik menunggu, Taehyung langsung menjawab teleponnya.

“Taehyung..”

“Ada apa, Seulgi?”

“Pulanglah..”

“Apa yang–“

“Kumohon, Taehyung. Sediakan sedikit waktumu untukku. Aku ini istrimu, Tae.”

 

Seulgi mendengar Taehyung menghela nafas. “Baiklah. Besok aku akan pulang.” Mendengar jawaban Taehyung, Seulgi beseru, “Benarkah? Awh..”

Ia berseru terlalu keras sampai kepalanya terasa sakit. “Ada apa, Seulgi?”

“Ah, tidak apa-apa. Janji?”

“Iya. Aku berjanji.”

“Kita akan melihat senja bersama.”

“Tentu. Aku berjanji, ini adalah senja terakhir yang kau lewati tanpaku.”

“Aku menunggumu, sayang.”

“Tunggu aku, oke?”

 

Seulgi mematikan teleponnya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Iapun berlari masuk ke dalam rumah dan menenggak obat dari dokter. Ia harus bertahan. Ia tidak boleh menyerah sekarang. Setidaknya sampai Taehyung pulang.

“Kau pasti bisa, Kang Seulgi.”

—000—

 

Seulgi menghambur keluar rumah begitu mendengar bunyi mesin dari mobil Taehyung. Benar saja. Taehyung pulang pagi ini. Seulgi langsung memeluk suaminya begitu Taehyung turun dari mobil. Ia benar-benar merindukan pria itu. Tiga bulan lebih tidak bertemu membuat Seulgi nyaris gila.

Ketika Taehyung bertanya apa yang ingin ia lakukan untuk menghabiskan waktu, Seulgi menjawab ia tidak ingin melakukan apa-apa. Ia hanya ingin di rumah saja, itulah yang ia inginkan untuk menghabiskan waktu bersama Taehyung. Karena satu-satunya hal yang diinginkannya adalah menyaksikan senja bersama suaminya.

Sore harinya, Taehyung mengajak Seulgi menyusuri dermaga. Duduk di ujung dermaga dengan kaki yang menggantung nyaris menyentuh permukaan danau. Seulgi menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Keinginannya telah terpenuhi. Begitu senja semakin jingga, Seulgi tersenyum.

“Taehyung, jika aku harus mati sekarang, aku rela. Karena aku akan mati dalam bahagia.”

“Ck. Kau selalu bicara hal-hal aneh, Seulgi.”

“Aku bersungguh-sungguh. Aku sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.”

 

Taehyung menolehkan kepalanya, menatap Seulgi yang berinang air mata. Ia lantas merengkuh wajah istrinya itu, dan mencium bibirnya dengan lembut. Seulgi memejamkan matanya. Mungkin ini akan menjadi ciuman terakhirnya dengan Taehyung. Ia benar-benar bahagia meskipun harus pergi saat ini juga.

Setelah cukup lama, Taehyung melepaskan ciuman mereka lantas memeluk Seulgi erat.

 

“Kau tidak akan pergi, Seulgi. Kau harus berjanji padaku.” Ucap Taehyung. Namun Seulgi justru tertawa kecil. Seulgi melepaskan diri dari pelukan Taehyung dan memilih untuk meletakkan kepalanya di atas pangkuan Taehyung. Dari sini ia menatap wajah Tehyung. Pria yang paling ia cintai itu tengah menatap matahari yang akan tenggelam. Seulgi tersenyum dan menggenggam tangan Taehyung yang memeluk pinggangnya.

Ia memejamkan mata. Menikmati hembusan angin yang lembut menerpanya. Dengan lirih, Seulgi berkata, “Aku mencintaimu, Kim Taehyung.”

 

Matahari telah terbenam dengan sempurna. “Ini senja terindah yang pernah kulihat, Seulgi.” Ujar Taehyung pada Seulgi. Ia menundukkan kepala dan mendapati Seulgi memjamkan mata di pangkuannya.

“Kau tertidur, Seulgi?” Taehyung membelai wajah Seulgi pelan. Namun istrinya itu tidak merespon. “Seulgi, ada kabar baik yang ingin kusampaikan padamu. Direktur mengangkatku sebagai manager regional. Bukankah itu hebat? Kita harus merayakannya, Seulgi.”

Seulgi tetap terdiam. Tidak bergerak sedikitpun. Taehyung mulai panik. Ia menepuk pipi Seulgi dan terasa dingin. “Seulgi… Bangun.. Kang Seulgi…”

—END—

EPILOG

 

“Leukimia?”

“Benar. Stadium akhir.”

“Tapi sebelumnya saya tidak merasakan apapun, dokter. Kenapa cepat sekali.. tidak mungkin–”

“Dalam beberapa kasus, penderita leukemia sering kali tidak merasakan gejala penyakitnya, Nyonya. Dan ini yang terjadi pada anda. Saya berikan beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit yang sering muncul tiba-tiba.”

“Berapa lama harapan hidup saya?”

“Tiga sampai empat bulan..”

Advertisements

4 thoughts on “[What is Your Color?] Senja Terakhir – Oneshot

  1. Judulnya menarik. Apalagi cast nya Mphiii 😆
    Tertipu sama ceritanya. Kirain genre sad di atas cuma sad yg sedikit2 ajaa /? Nggak sampe end dan bkalan happily ever after. Ehh ternyataa tiba2 Seulgi nya pergii hweee T^T
    Aku sukaaaa.
    Diksinnya bagus dan tetep mudah dimengerti 😉 like it.

    Like

  2. :’)) fine, akhirnya aku pun meneteskan air mata /alay detected/ aku ga tau kenapa, alurnya agak mirip efef CB ‘10080’, mungkinkah author ter-inspirasi dari sana ato emang kebetulan, bisa saja keduanya .-. Tapi ini ceritanya krenyess banget ya ampun ;A; mana pemerannya V sama Seulgi, gakuku akoeh(?) XD Ya oke, ini gaje, sekian. Hwaiting, buat fanfiksi lainnya~~ semangat ❤

    Like

  3. Sejujurnya aku bkn tipe org yang suka baca fic idol x idol dgn beribu kata. Tp, aku tertarik baca ini krn posternya /eh/ dan alurnya kereeeen bgttttt bikin baper ini mah baper bangeeettt T-T
    Ada beberapa typo tapi gak parah dan tertutupi sama alur ceritanya pokoknya ini jjang!!! Kereeen

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s