[BTS FF Freelance] Hold Me Tight – Oneshoot

꽉 잡아줘

꽉 잡아줘  [Hold Me Tight]

A fanfict originally written and poster by BabyChim

BTS’ Park Jimin || OC’s Song Wooshin

Teen || Sad, Hurt, Angst || Oneshoot (About +2500 words)

Notes! Well, pasti setiap ending fanfict angst aku, pasti ada yang meninggal, dan sumpah, itu buat aku boring parah. Sorry buat ide cerita yang itu-itu lagi..

이제 나를 믿어줘, 다시 나를 잡아줘. 너를 느낄 수 있게 나를 끌어안아줘..

Backsound

BTS – Hold Me Tight or Butterfly, The Ark – The Light

.

.

.

.

.

^o^

.

.

“I’m nothing without you. Everything feels cold and I’m even scared of the clear sky. If you’re not here, I’m just a corpse, so how can I breathe? I can only see you. I can only see you alone. Look, I’m fair with everyone else but you. Now I can’t live a day without you, please. Your cold face tells me everything rather than words. I can see a break up rising over me like a high tide. I know it will soon be our last but I can’t let you go..” (BTS – Hold Me Tight)

.

.

“Jimin-ah, apakah kau mau berjanji sesuatu padaku di masa depan nanti?” .

“Tentu saja. Apa janjimu?”.

“Apa kau mau berjanji untuk selalu menggenggam tanganku, walaupun saat itu aku sudah tak bernyawa? Apa kau mau berjanji padaku untuk tidak pernah meninggalkanku sendirian dan menjauhiku?”.

“Sesuai keinginanmu, Wooshin. Aku akan memenuhinya..”.

“Semoga kau tidak lupa dengan janji ini … Jimin-ah,”.

.

.

Jimin bergumam. “38,45 derajat. Ini sudah demam..”.

“Kalau begitu tidurlah..” suruh seorang wanita paruh baya.

“Ya, baiklah..” Jimin mengangguk pelan dan berjalan menuju ranjangnya, menarik selimut sampai leher lalu memejamkan matanya.

Wanita paruh baya itu mematikan lampu lalu keluar dari kamar Jimin. Jimin membuka matanya. “Aku tidak bisa tidur..” gumamnya pelan seraya turun dari ranjangnya. Kaki hangat Jimin menyentuh lantai yang dingin. Bulunya meremang sesaat. Ia berjalan perlahan ke arah jendela. Menyentuh jendela yang dingin karena guyuran hujan.

Sesaat, Jimin memejamkan matanya dan tanpa sadar, setetes cairan hangat turun dari kelopak matanya. Dan disusul beberapa tetesan lagi. “Maaf karena aku telah meninggalkanmu..maaf karena aku telah mengingkari janjiku….” Jimin memejamkan matanya. Mengingat sebuah kenangan masa kecil―yang kelam.

.

.

Flashback 13 years ago.. 19.45 KST

“Jimin-ah, kemari kau!” seorang gadis cilik berumur 7 tahun mengejar pria cilik berumur 7 tahun. Masa bodoh dengan bulan yang sudah memeluk matahari sehingga menyembunyikan sinarnya dan karpet bintang-bintang yang bulan gelar di atas langit, kedua anak kecil itu masih kejar-kejaran

“Tangkaplah aku, Wooshin-ah!!” Jimin berhenti sesaat lalu menjulurkan lidahnya. Wooshin terus mengejar Jimin yang berlari ke arah taman, “kau! Ayo kemari!”

“Tangkaplah aku..” Jimin meledek. Dan, benar! Wooshin mendapatkan Jimin. Wajah Jimin sesaat menjadi pucat. Jimin menyengir. “Hehehe, mianhae, Wooshin-ah … lepaskan aku, ya?”.

“Tidak mau,” wajah Jimin menjadi cemberut. “Kalau begitu, kau tidak akan kutraktir ice cream!” wajah Wooshin menjadi semangat sesaat. “Aku akan melepaskanmu kalau kau mau membelikanku ice cream..”.

“Ya, baiklah.” Jimin pasrah.

“Yaay! Ayo, ayo, ayo~” Wooshin mengajak Jimin.

“Dasar~”kesal Jimin.

.

.

Jimin menunjuk ke angkasa. “Lihat, Wooshin”.

“Ada apa?” Wooshin yang sedang menjilat ice cream-nya mendongakkan wajahnya ke atas

Jimin tersenyum. “Bintang-bintang itu indah, ya?”

Wooshin bergumam dan mengulas senyuman. “Ya, indah sekali,”

“Bintang yang itu terang sekali.” tunjuk Jimin.

“Ya, be―”.

“Seperti dirimu..” lanjut Jimin.

Wooshin menoleh pada Jimin. Jimin ikut menoleh.

“Apa maksudmu?” Wooshin bertanya.

“Kau sangat terang seperti bintang itu..” Jimin tersenyum lebar.

“Kau ini … kau masih kecil, tahu!” Wooshin berdecak.

Jimin menyengir. “Hehehe,”.

“Jimin-ah, apakah kau mau berjanji sesuatu padaku di masa depan nanti?” Wooshin bertanya dengan nada serius.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti mereka. Tidak terdengar suara jangkrik. Semua aktivitas hewan malam tak terdengar dan membuat dunia hening sesaat. “Tentu saja. Apa janjimu?”.

“Apa kau mau berjanji untuk selalu menggenggam tanganku, walaupun saat itu aku sudah tak bernyawa? Apa kau mau berjanji padaku untuk tidak pernah meninggalkanku sendirian dan menjauhiku?” Wooshin tersenyum kecil.

“Sesuai keinginanmu, Wooshin. Aku akan memenuhinya..” Jimin tersenyum. “Aku berjanji.”.

Jimin dan Wooshin menautkan kelingking kanan. “Semoga kau tidak lupa dengan janji ini … Jimin-ah,” gumam Wooshin pelan―walaupun itu terdengar seperti bisikan―seraya tersenyum pahit.

“Eo? Apa?” Jimin yang mendengar gumaman pelan Wooshin itu menoleh.

“T–tidak, Jimin-ah! Ayo pulang!” ajak Wooshin.

Jimin mengangguk.

.

.

“Jimin-ah..” Wooshin memanggil Jimin dari pintu gerbang rumahnya. Ia men-dribble bola basket yang ia bawa.

“Sebentar..” seseorang menjawab dan terbukalah pintu. Jimin. Jimin keluar dengan pakaian bermain. “W–wooshin?”.

Wooshin tersenyum lebar. “Ayo main, Jimin-ah.”

Jimin menggeleng pelan, wajahnya sedikit pucat. “A–aku tidak bisa.”.

Senyuman Wooshin memudar. “Wae? Apa kau―”.

“Mulai hari ini, Jimin tidak bisa bermain dan berteman bersamamu lagi, Wooshin.” seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Tampak dari raut wajah dan nada perkataannya, ia tampak kesal dan tidak suka dengan Wooshin.

“Tapi, mengapa, Bibi? Apa Jimin―”.

“Jika saya bilang tidak bisa, ya tidak bisa! Jimin tidak bisa berteman denganmu lagi. Kau hanya membawa keburukan dan masalah bagi Jimin,” Ny. Park marah lalu membawa masuk Jimin ke dalam rumah.

Wooshin berbalik badan dan berjalan pelan sampai akhirnya ia berlari ke Taman. Ia terduduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari batu, tempat duduk kesukaaannya dan Jimin. “J–jimin..” tangis Wooshin. “Kemarin kau bilang kau takkan meninggalkanku, tetapi sekarang kau malah meninggalkanku …, k–kenapa..?”.

Jimin adalah sahabat terbaik yang pernah Wooshin punya. Wooshin sebenarnya gadis yang pendiam dan tak pernah keluar, tetapi berkat Jimin, Wooshin berubah, dan sekarang … Jimin menjauh darinya.

Sejak hari itu, di Sekolah, Jimin lebih sering bermain dengan anak-anak lain dan tak pernah mengajak Wooshin bermain atau mengobrol. Padahal sebelumnya, Jimin selalu bersama Wooshin. Ketika dalam kerja kelompok, bila Jimin satu kelompok dengan Wooshin, Jimin akan menolaknya dan akan menukar tempatnya dengan murid lain. Jimin pun sering sekali mengeluarkan kata-kata tajam pada Wooshin. Jimin yang lembut, ramah dan sopan berubah 180 derajat menjadi Jimin yang ketus, pemarah dan egois. Menyakitkan bagi Wooshin melihat kebencian Jimin padanya dan perubahan sikap Jimin. Dan itu berlangsung sampai kelas 6.

Di Upacara Kelulusan, hanya Jimin seorang yang tak mau bersalaman dengan Wooshin, begitupula dengan orangtua Jimin pada Wooshin dan ibunya.

“Kenapa aku harus satu sekolah lagi dengan Jimin..?” Wooshin, gadis berumur 13 tahun itu menggeram.

“Hanya itu pilihanmu, Wooshin. Segera mandi dan berangkat sekolah!” tegas Ny. Song. “Satu SMP dengan Jimin pasti akan merubah segalanya.”

Wooshin berangkat ke Sekolahnya. Satu SMP dengan Jimin bahkan tidak akan dapat membuat semuanya berubah, akan sama saja. Malah, Jimin akan lebih ketus padanya―fikir Wooshin.

Dan benar saja. Tatapan mata Jimin yang begitu membenci Wooshin, membuat Wooshin bergidik ngeri. Kata-kata tajam Jimin dan perilaku kasarnya. Jimin lagi-lagi membenci Wooshin. Bukan itu saja, hampir setiap hari di Sekolah, Wooshin selalu kena omelan dan perkataan tajam Jimin. Ingin rasanya Wooshin menangis, tetapi ia tak bisa. Terlalu sulit. Air matanya seakan sudah mengering karena sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Wooshin sering menangis tiap malam sebelum tidur karena Jimin. Wooshin selalu berdoa agar keesokannya Jimin berubah, tetapi sama saja. Jimin masih membencinya. Sungguh, sekarang Wooshin tidak tahu apakah benar dia Jimin? Karena setahunya, Jimin tidak seperti itu.

“Kau! Song Wooshin!” seseorang memanggil Wooshin yang sedang berjalan di koridor Sekolah yang sudah sepi karena 7 menit yang lalu bel pulang sudah berbunyi.

Wooshin menoleh. “Jimin?”. Raut wajah Wooshin berubah menjadi cerah. Bayangkan saja, sejak Sekolah Dasar, Jimin tidak pernah memanggil namanya. Dan sekarang? Wooshin sangat bahagia. Tetapi, apa yang terjadi?

Jimin mendatangi Wooshin dengan tatapan kesal. “Kau! Dengar ini! Jangan mencampuri urusanku lagi! Sudah kubilang, kau bukan siapa-siapaku dan aku bukan siapa-siapamu! Mengerti?” sejenak, Wooshin serasa mati untuk sesaat. “Urusi saja hidupmu sendiri yang tak becus itu!” Jimin berteriak.

Wooshin yang menunduk, mendongakkan wajahnya. Ia tak tahan, ia mengepal kedua tangannya, lalu melayangkan tangannya dan menampar wajah Jimin. Jimin hanya terkaget, lalu menatap Wooshin dengan tatapan yang bahkan tak bisa Wooshin jelaskan. Sebuah tatapan kesedihan yang terkurung dalam sebuah kebencian. “Apa yang membuatmu berubah, Jimin?” Wooshin menatap tak percaya pada Jimin. “Dulu, kita selalu bersama. Sekarang, kita bagaikan orang tak dikenal..apa yang membuatmu berubah, eo?” Wooshin menangis. “Aku merindukan Jiminku dulu yang begitu lembut dan ramah.”.

“Itu Jimin yang dulu,” Jimin menatap dingin Wooshin. “Dan ini Jimin yang sekarang. Mau kau merubah apapun atau takdir sekalipun, Jimin yang dulu takkan pernah kembali. Dan tidak akan pernah ada Jimin yang dulu mulai sekarang..”.

Wooshin menggeleng. “Tidak! Kau bukan Jimin. Jimin yang kukenal adalah pria yang baik dan ramah. Bukan pria yang jahat dan ketus.”.

“DIAM KAU!!” Jimin berteriak. “Kau … kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!” Jimin membalikkan badannya lalu berlalu.

“Tentu saja aku tahu dirimu. Seorang pria yang sangat egois, sombong dan angkuh. Menjauhi seseorang dengan alasan yang tidak pasti dan … seorang pembohong!” gumam Wooshin.

Jimin menghentikan langkahnya, ia berbalik badan. “Pembohong? Pembohong apa? Memangnya aku pernah membohongimu, eo?”.

“Ya. Hanya sekali, tetapi itu dapat merubah kehidupan kita.” Jimin terdiam.

“Dulu saat berumur 7 tahun, aku menyatakan janji padamu agar tidak meninggalkanku sendirian, kau berjanji akan hal itu, tetapi kau malah meninggalkanku. Apa itu bukan pembohong?” mata Wooshin berkaca-kaca, menahan bendungan airmatanya.

“Kau … tidak tahu alasan mengapa aku menjauhimu!” Jimin menegaskan.

“Kalau begitu, beritahu aku alasannya mengapa, saat ini, sekarang juga! Jika kau tidak ingin kupanggil … pembohong….” Wooshin menantang dengan sorot mata tajamnya.

“Alasan aku membencimu adalah … karena aku tak sanggup memenuhi janjiku.” Jimin menunduk. Menahan tangisnya. “Karena aku … sudah melanggar janjiku.”.

Wooshin bertanya, “apa maksudmu?”.

“Dulu, seusai kita melihat bintang waktu itu, aku ditanyai orangtuaku mengapa pulang larut saat sampai di Rumah. Aku menjawab bahwa aku menghabiskan waktu bersamamu, dan aku dimarahi karena berteman denganmu. Kau … membawa masalah dan dampak buruk bagiku kata orangtuaku. Mereka menyuruhku menjauhimu, bukan membencimu. Dan esoknya, saat kau dimarahi ibuku karena kau datang untuk mengajakku bermain, awalnya aku ingin membelamu, tetapi aku tak bisa. Aku tak berdaya. Dan saat Sekolah, aku berfikir bahwa membenci dan menjauhi itu sama saja, orang yang dibenci akan merasa dijauhi. Makanya kulakukan dua-duanya. Makanya aku mulai membencimu sekaligus … menjauhimu. Setiap kali melihatmu menangis, aku ingin datang dan mengatakan ini, tetapi … aku tak sanggup. Aku menjauhimu karena aku tak bisa memenuhi janjiku untuk selalu bersamamu….” Jimin menangis. Benteng pertahanannya yang sudah ia bangun sejak Sekolah Dasar sudah hancur.

BRUKK!

Tiba-tiba saja, Wooshin menghamburkan dirinya dalam pelukan Jimin. Mereka menangis dan saling memeluk.

Jimin meminta maaf. “Maafkan aku, Wooshin … aku tidak bermaksud membencimu..”.

“Aku juga minta maaf … aku membawa dampak buruk bagimu,” Wooshin ikut meminta maaf.

Jimin memeluk Wooshin makin erat dan menenggelamkan wajahnya ke tengkuk Wooshin. “Aku menyukaimu..” bisiknya parau.

Wooshin terdiam. Apa telinganya tak salah dengar? Menyukai? Jimin …menyukainya?

“Aku menyukaimu sejak kita kelas 5, dan aku selalu membohongi perasaanku bahwa aku menyukaimu..” Jimin terus terang.

“Ya, aku juga menyukaimu..” balas Wooshin terus terang diiringingi senyuman kecil.

Mereka melepaskan pelukan mereka. Wooshin tersenyum kecil. “Apa … kita bisa mengulang dari awal kembali semua yang telah terjadi bertahun-tahun lalu?”.

Jimin tersenyum sesaat, tak lama, senyumannya memudar. Ia memalingkan wajahnya. “Tidak bisa. Itu mustahil!”.

Wooshin menatap sendu, “mengapa?”.

Jimin tak bergeming. Enggan membuka mulutnya. “Bukan ini jawaban yang kumau, Jimin-ah. Bukan diammu yang kumau. Hanya jawabanmu. Hanya alasanmu. Jawab aku! Kenapa?!” paksa Wooshin seraya menangis dan mengguncangkan tubuh Jimin.

“Aku … aku akan pindah ke Van Couver..” Jimin terpaku.

Hati Wooshin seakan tersobek. Seakan belati tajam yang sudah diasah tepat berada di hati paling dalamnya. Kakinya bergetar hebat.

“K–kenapa?” mata Wooshin berkaca-kaca.

Jimin mendongakkan wajahnya, “ayahku dimutasikan kesana. Awalnya, kami akan pindah ke Hiroshima, tetapi, kantor ayahku mengirim ayah ke Van Couver..”.

Wooshin tak percaya. “K–kapan kau akan pergi..?”.

Jimin tak memberikan jawaban.

“Jangan diam! Bukan diammu yang kuinginkan. Alasanmu yang kuinginkan. Kapan kau pergi, eo?”.

“Hari ini, sekarang juga..” Jimin menatap sendu Wooshin. Matanya kembali memerah. “Apa kau puas sekarang?”.

Wooshin tertegun. “Tidak … kau tidak boleh pergi, Jimin-ah..” Wooshin menghalangi. “Masih banyak kegiatan yang harus kita lakukan bersama … k–kau tidak boleh pergi.”.

“Aku tahu itu, aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu, tetapi, maaf….” Jimin berlalu.

Wooshin tak percaya. Ia terduduk lemas di lantai. Wooshin bangkit dan akhirnya berlari menuju gerbang sekolah. Dan ia mendapati Jimin duduk di dalam bangku mobilnya. “JIMIN….!!!” teriak Wooshin.

Jimin yang mendengar teriakan Wooshin menoleh ke jendela. Ia mendapati Wooshin sedang menangis seraya berteriak memanggil namanya.

“Sampai jumpa,” Jimin tersenyum kecil.

Wooshin berlari mengejar mobil Jimin. Dari dalam mobil, Jimin mengetuk kaca jendela mobil dengan wajah panik dan terkejut. “Jangan mengejarku! Kau tidak akan bisa!” Jimin mengatakan hal itu. Tetapi, persetan bagi Wooshin. Tanpa sengaja, ia terjatuh karena batu. Kakinya berdarah, sehingga membuatnya tak bisa berjalan, apalagi berdiri. Disisi lain, Jimin lega sekaligus bercampur panik. Wooshin terjatuh. Wooshin hanya bisa menangis dan ia menangis lebih keras ketika akhirnya mobil yang Jimin naiki menghilang di tikungan jalan.

“JIMINN…!!!”.

.

.

“Jimin-ah?”.

Jimin tersadar dari lamunanya. Ia menoleh ke belakang. Ny. Park. “Ya, Eomma?” Jimin tersenyum.

“Sudah 1 minggu kita disini sejak kembali ke Seoul…” Ny. Park menjeda perkataannya. “Apa … kau tidak mau mengunjungi Wooshin?”.

Jimin terdiam sesaat. Bibirnya begitu kelu. “Ya, aku akan mengunjunginya.”. Jimin berlalu.

Ny. Park hanya gelisah. “Semoga kau bisa tahan dengan semua ini….”.

.

.

Jimin datang dengan membawa sebuket bunga. Ia berjalan perlahan menuju areal pemakaman. Ia berjalan menuju sebuah nisan dan menemukan seorang wanita paruh baya sedang berdoa. Jimin tersenyum kecil.

“Annyeonghaseo, Song Ahjumma..” Jimin membungkuk.

Wanita yang sedang berdoa tersebut menoleh. Ia sedikit terkaget. “J–jimin..?”.

“Ya, Eommonim … ini aku..” Jimin mengulas senyuman. “Bagaimana kabar Eommonim?”.

“Tidak baik semenjak kepergian Wooshin 2 tahun lalu..” Ny. Song menunduk.

“Maaf, baru hari ini aku bisa menjenguk Eommonim dan Wooshin,” sesal Jimin.

Ny. Song tersenyum. “Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau berada di sini..”.

Jimin memeluk Ny. Song. “Eommonim harus sabar, ya?”.

Ny. Song menangis.”Eommonim sangat merindukan Wooshin..Eommonim tidak mengira jika Wooshin meninggalkan Eommonim begitu cepat..”.

Penyakit Wooshin yang baru saja diketahui 7 tahun yang lalu, gagal jantung―Penyumbatan aliran darah di bagian Jantung―stadium 2 membuat Wooshin harus berada di Rumah Sakit lebih lama. Menghilangkan semua kesedihan, stress dan fikiran juga beban berat, itu pesan Dokter. Tetapi, tampaknya, Wooshin tak bisa. Ia selalu memikirkan Jimin. Wanita itu terkena insomnia setiap malam. Apa yang sedang Jimin lakukan, apakah Jimin sehat atau sakit, apa Jimin bahagia di sana, semua itu yang berada di dalam fikiran Wooshin. Akibat stress yang begitu berat, Wooshin tak kuat dan akhirnya, menghembuskan nafas terakhirnya. Dan, kabar kepergian Wooshin … juga menjadi hadiah bagi Jimin di ulang tahun ke-21-nya. Semua perasaan bersalah Jimin begitu mengikat jiwanya. Dan selama 3 hari, Jimin terus mengurung diri di kamarnya, berusaha meninggalkan rasa bersalahnya yang terus menghantui fikirannya.

“Wooshin meninggal karena diriku, Eommonim … karena kepergianku … maafkan aku …,” Jimin menangis tersedu-sedu.

“Ini bukan salahmu, Jimin-ah..” Ny. Song membelai pelan rambut Jimin. “Ini takdir..”.

Jimin menangis. “Wooshin dulu pernah menyatakan janji padaku bahwa aku takkan pernah meninggalkannya sendirian, aku berjanji akan hal itu, tetapi aku … aku mengingkari janjiku … aku adalah seorang pembohong..”.

“Jangan menyalahkan dirimu..” Ny. Song menggeleng pelan. Ia melepaskan pelukannya lalu merogoh tas-nya. “Ini,” Ny. Song memberikan sebuah surat.

Jimin mengusap air matanya lalu mengambil surat itu, “ini apa?”.

“Surat dari Wooshin untukmu. Dia bilang, jika Eommonim bertemu denganmu, tolong berikan ini padamu … ahh, dan satu lagi. Kau tahu, bukan, Wooshin menulis sebuah novel? Wooshin memberikan novel ini untukmu. Kau harus membacanya,” Ny. Song memberikan sebuah novel, ia tersenyum pahit lalu berjalan mendahului Jimin yang membeku.

.

.

Sesampainya di kamar, Jimin melepas mantel. Melemparkannya ke ranjang. Menatap sendu novel yang tergeletak di ranjang. Jimin terduduk dan menyandarkan dirinya pada kasur. Perlahan, Jimin membuka novel Wooshin. “A Promise Never Ends,” gumam Jimin. Ia membuka novel tersebut. Seusai membaca novel Wooshin, Jimin menutup novel tersebut, lalu ia menangis sejadinya. Novel ini bercerita tentang kisah mereka. Tentu dengan akhir yang berbeda. Akhir yang ia―Wooshin― dan Jimin inginkan. Sebuah kebahagiaan. Tak tahan, Jimin melempar asal novel itu dan memakai mantelnya, lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Tanpa Jimin sadari, sebuah halaman terakhir dari novel tersebut terbuka sepenuhnya. Ada sebuah tulisan tangan di halaman tersebut.

“Seorang sahabat baikku pernah mengatakan, “Kalau kau menyesali hidupmu, jangan salahkan takdir, karena takdir tak pernah salah. Salahkanlah dirimu sendiri, yang mengikuti apapun dengan kemauan dan nafsumu sendiri, bukan dengan fikiran dan hati nurani..”. Dia juga mengatakan, “Kau selalu bertanya padaku mengapa penyesalan selalu datang di akhir. Kuberitahu kau jawabannya. Seandainya saja penyesalan datang di awal, apakah kau pernah merasakan kecewa atau kesedihan dari adanya penyesalan? Apakah kau tak berfikir, kalau kau bahagia dengan adanya penyesalan datang di awal, orang lain juga akan menikmatinya? Jangan pernah berfikir atau berharap hal-hal  konyol yang kau inginkan bisa terwujudkan, karena bisa saja kemauanmu tidak sesuai dengan dirimu dan orang lain….”. Aku terus berfikir apa maksud dari perkataannya, tetapi sekarang, aku tahu betul apa maksud dari perkataannya. Sebuah kebahagiaan akan didapatkan bila bersama dengan orang yang kita cintai, benar? Tetapi, aku masih bisa bahagia walaupun tidak bersama orang yang kucintai. Orang mengatakan bahwa kehilanganlah yang banyak belajar dari memiliki, tetapi sebenarnya, memilikilah yang banyak belajar dari kehilangan. Kita tidak akan bisa memiliki apapun atau siapapun sebelum merasakan sebuah kehilangan. “.

“After I met you, my eyes opened, I see this empty space. You, fill this empty space. I didn’t know living for others could make me happy. Now I will be there. Hold my hand when you need somebody. I’ll be that somebody. Only look at me when you need a shoulder. Give me all your tears and worries. Whenever you call you know that. I’m right by your side I’ll be there..” (The Ark – The Light).

~ FIN ~

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Hold Me Tight – Oneshoot

  1. Diousé

    Ah, dapet bgt feelnya~~ Huwaa sedih.. ㅠ.ㅠ Apalagi sambil denger Hold Me Tight & Butterfly, tambah mewek2 T.T
    Pas Jimin dilarang ketemu Wooshin itu aku sempet mikir Wooshin punya penyakit menular masak /plak/
    Kasian bgt Wooshin, udh dicuekin, trus ditinggal pergi, duheh..
    Kenapa juga dia harus sakit, jadi ga happy end kan uhu T.T
    Tapi sebenarnya endingnya dah ketebak, soalnya kan authornim bocorin di awal 😂 Ga apa sih, yg penting alur ke endingnya itu yg sulit ketebak, ga nyangka2 gt bacanya /apa coba?/
    Segitu dulu komen dariku, mian kalo ga mutu dan gaje/? gini /bhaks/

    Like

  2. nisrinadc

    Huwaaaa …. Thor, ffmu bagus banget 😊😊
    Sampai terharu lho aku bacanya😀 ngomong2 soal nama wooshin, aku juga jadi keinget woozi svntn entahlah meskipun ngga ada hubungannya, lupakan saja soal woozi itu #ngomongapaini .-.
    Keep write and fighting author ^∆^

    Like

  3. hyeri17

    FFnya susah ditebak ternyata. Aku kira Jiminnya yang sakit terus minta maaf karena bentar lagi mau… -oops. Ternyata Wooshin yang meninggal… Terus aku kira Wooshin itu cowok soalnya keinget ada member Up10tion namanya mirip-mirip itu atau apa aku lupa kkk~~ Keep Writing ya, thor! Hwaiting!

    Like

  4. sweetpeach98

    Aku kira wooshin anak haram sampe jimim ngejauhin dia tapi ternyata gara2 pulang malem :”””v dan sedih banget wooshin meninggal 😦
    Ada koreksi dikit kalau mslkan pake bhs korea jangan lupa di italic ya author nim, itu aja sih selebihnya udah bagus XD
    Nice fic 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s