[Chapter 4] The Prince of Vesperia and His Aide

Vesperia
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | SHINee’s Lee Taemin as Erden

BTS’s Min Yoongi as Fyre | BTS’s Park Jimin as Alven

OC’s Icy & Reyn

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

beautiful poster by tsukiyamarisa (Amer) 

.

‘To protect and protected.’

Not to fall in love.

.

One week later.

Tak ada perkembangan apa pun. Burung pengantar pesan yang dijanjikan Fyre akan dilepaskan dari Orient, meski Icy telah berkali-kali meniupkan peluit titipan Alven, burung itu tak kunjung datang. Penjaga gerbang di empat penjuru Vesperia pun tidak ada yang melihat burung biru itu melintas. Icy percaya, Fyre pasti menepati janjinya. Berpikir positif, ia menduga Fyre dan Alven sedang sibuk dengan urusannya atau Stephen Hurton memang masih di dalam tahanan.

Well, mungkin juga belati milik Hurton itu bukan miliknya yang asli, kan?

Mengesampingkan permasalahan Hurton sejenak, ada hal lain yang kini mengganggu kinerja otak seorang Icy. Setelah kejadian di balkon belakang kastel seminggu lalu, Icy masih belum bisa melupakan bagaimana lepasnya tawa Killian saat itu. Pun bagaimana ia yang tak bisa tidur nyenyak malam harinya.

Oh, jangan lupakan debar jantung sang ahli pedang tersebut yang selalu di luar batas normal ketika Killian menyapanya dengan senyuman.

Icy tahu ini salah. Selintas rasa yang terkadang hadir saat ia berada terlalu dekat dengan Killian atau perhatian-perhatian kecil yang diberikan pangeran Vesperia itu padanya; harus lekas ia lupakan. Karena bagaimanapun juga, ia hanya sebatas aide—seseorang yang ditugaskan untuk menjaga putra dari raja Vesperia, bukan lantas menaruh rasa suka pada lelaki itu.

Jangan bertindak bodoh, Icy.”

Kalimat itu selalu ia tegaskan di dalam hati. Melarangnya untuk tidak bertindak melebihi batas antara seorang pangeran dan aide-nya. Melarangnya untuk tidak memerhatikan Killian terlalu lama. Melarangnya untuk tidak kehilangan fokus pada saat mereka berlatih pedang dan memanah bersama hanya karena Killian selalu memujinya.

Kemarin lusa, suasana arena pertandingan pedang mendadak senyap ketika Killian berhasil menodongkan ujung pedang peraknya tepat di leher Icy. Alih-alih mendapat riuh tepuk tangan, bisik-bisik dari beberapa kesatria juga pengawal yang menyaksikan pangeran Vesperia dan pengawal pribadinya berlatih pedang, memenuhi ruangan besar itu. Bukan sesuatu yang aneh, mengingat Icy memang tidak boleh melukai Killian, tetapi kekalahan gadis itu sangat kentara disebabkan oleh kelalaiannya. Bukan karena mengalah, namun konsentrasi sang gadis terdistraksi saat sebelumnya Killian tak sengaja menyentuh pundaknya. Mengakibatkan ia yang tak bisa membaca pergerakan Killian, meski lelaki itu bukan termasuk pengguna pedang yang handal.

“Ada apa denganmu, Icy?!”

Menggeram kesal, satu belati hitam legam berhasil menancap tepat di tengah papan sasaran. Icy memang tidak bisa memanah, tapi bidikan belati miliknya tak pernah melenceng sedikit pun.

Prang!

Ah, kecuali yang barusan itu. Ujung belatinya jauh mendarat dari papan yang menempel di dinding kamarnya dan berhasil menghancurkan sebuah vas bunga.

Shit!”

Icy kembali merebahkan kepalanya. Pening yang mendera sejak kemarin malam belum juga pergi. Begitu pula dengan suhu tubuhnya yang mendadak naik selepas ia kembali dari menemani Killian inspkesi ke benteng utara perbatasan Vesperia. Mungkin saja itu semua ulah hujan deras yang mengiringi perjalanan pulang mereka, ditambah cuaca Vesperia yang masih diselimuti dingin, menyebabkan herbalis istana menyimpulkan bahwa Icy menderita demam dan harus beristirahat selama seharian penuh.

Pagi tadi, Killian sempat mengunjungi Icy sebelum berkutat dengan penyusunan laporan mengenai keadaan di benteng utara dan penandatanganan dokumen yang terus menumpuk. Saat Killian duduk di tepi ranjangnya, Icy berusaha menahan matanya untuk tidak membuka. Biarkan Killian menganggapnya masih terlelap kendati sang gadis di balik selimut itu susah payah meredam detak jantungnya dan menenangkan diri selagi jemari Killian menyentuh helai rambut cokelat gelap Icy yang menutupi wajahnya. Belum lagi Killian berbisik di dekat telinga pengawal pribadinya yang langsung mendapat toyoran di bahu Killian.

Mukamu merah, tuh.”

“Ish! Ini karena demam, tahu!

Killian terkekeh, menepuk puncak kepala Icy lantas mengedikkan dagunya ke arah nakas. “Aku buatkan bubur. Jangan lupa dimakan.”

Setelahnya, Killian pergi. Tinggalkan Icy yang terus mengumpat sembari memakan bubur buatan Killian, yang sialnya sangat enak. Ternyata, Reyn tidak berbohong perihal Killian yang bisa memasak. Icy jadi semakin terpuruk, lantaran di hari kesembilannya menjadi seorang aide, ia belum bisa menemukan kelemahan Killian. Lelaki itu bisa bermain pedang, meski tidak selihai Icy ataupun Erden. Bisa berkuda, memanah, memasak, hafal beberapa karya sastra kuno di jajaran rak bukunya, dan Killian bisa menaklukan seorang Icy hanya dengan senyuman.

Shit!”

Wow.” Suara tepuk tangan lirih dari arah pintu sontak membuat Icy menoleh. Kedua manik membola dan rasanya detak jantung gadis itu sempat berhenti sepersekian detik saat melihat tunik putih khas kerajaan Vesperia tampak di keremangan lampu kamarnya. Perlahan mendekat dan tampilkan sosok Killian dengan senyum andalannya. “Aku tidak tahu kalau kau bisa mengumpat.”

Beruntung Icy belum sempat menyalakan lampu dan cahaya rembulan di luar sana sedikit redup tertutup awan karena Killian pasti akan mengejek pipinya yang sekarang kembali merona. Lagi pula… untuk apa, sih lelaki pencinta merah muda itu datang kemari?

“Untuk memastikan kau sudah jauh lebih baik,” ujar Killian seakan menjawab pertanyaan di dalam pikiran pengawal pribadinya. Menyeringai, Killian duduk di tepi ranjang berlapis seprai biru laut milik Icy sebelum mendaratkan telapak tangannya di kening sang gadis. “Suhu tubuhmu hampir normal. Kurasaㅡ”

“Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”

Baik Killian maupun Icy, keduanya sama-sama tersentak. Icy sendiri terkejut karena ia baru saja menepis tangan Killian terlampau kencang. Membuat lelaki itu sontak bangkit berdiri dan mengusap punggung tangannya yang kemerahan. Iris cokelatnya bergulir cepat, deru napas tak beraturan, dan Killian menggigiti bibir bawahnya; seperti seseorang yang didera kepanikan luar biasa dan Icy lekas menggumamkan kata maaf.

Namun, alih-alih merespons dengan candaan seperti biasa, Killian lantas berbalik dan berlari keluar ruangan.

.

Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!

Kalimat itu masih menggema di dalam benak seiring langkahnya tergesa-gesa menyusuri koridor. Killian berhenti tepat di hadapan sebuah pintu dengan ukiran sederhana. Tangan terulur menggenggam kenop, namun Killian lekas menarik kembali tangannya. Setumpuk rasa takut yang terpendam sejak lima belas tahun lalu mulai menerobos keluar, menyelimuti rongga dadanya hingga sesak, dan Killian jatuh terduduk memeluk lutut.

Di saat ia perlahan mulai melupakan setitik masa lalu kelamnya, kalimat yang dilontarkan Icy berhasil meruntuhkan tembok kokoh yang telah ia buat. Pasalnya, suara yang melontarkan kalimat yang terus menyerbunya itu bukanlah suara Icy. Melainkan suara dari seorang gadis cilik dengan pedang kayu yang selalu tersampir di pinggang kirinya, gadis cilik yang kerap menemani sang ayah berkunjung ke istana Vesperia, gadis cilik yang selalu tersenyum dan memerah pipinya jika Jillian mengajaknya bermain di taman istana, gadis cilik yang diam-diam selalu Killian perhatikan dari jauh, gadis cilik yang membentaknya dengan kalimat tadi sebelum ia pergi dan kehidupan seorang Killian berubah sejak saat itu.

Dan gadis cilik itu adalah Icy.

“Ini semua salahku.” Killian menenggelamkan kepala di balik kedua lipatan tangannya. Mengakibatkan mahkota emas berhias batu ruby miliknya bergulir terempas ke atas lantai. Mendongak, Killian menatap miris simbol yang ia junjung selama ini, yang nantinya mahkota kecil itu akan berganti dengan mahkota besar dengan tanggung jawab yang lebih besar pula.

Saat ia kecil, Killian ingin menjadi seperti ayahnya. Duduk di singgasana besar, mahkota besar di kepalanya, dan jubah besar dengan lencana emas tersemat di kedua pundaknya. Namun, peluangngnya menjadi raja terlampau tipis ketika ia hanyalah seorang pangeran kedua. Ada Jillian, pangeran pertama Vesperia, yang mutlak akan menjadi raja Vesperia jika lelaki yang lebih tua tujuh tahun dari Killian itu menikah nantinya. Killian sempat iri, marah, dan suatu malam ia sempat berteriak pada Jillian perihal mengapa sang kakak yang harus mendapat takhta itu. Dan Jillian hanya meresponsnya dengan seulas senyum, diiringi sebuah kalimat yang saat ini Killian menyesali kebenarannya.

Kamu yang akan menjadi raja Vesperia, Lian. Percayalah.”

Killian tidak mau memercayainya sekarang. Ia ingin percaya bahwa Jillian-lah yang akan dan harus menjadi raja Vesperia. Tetapi Killian tak bisa mengubah takdir. Ia tak bisa me—

“Yang Mulia.”

Seorang pengawal menginterupsi kesendirian Killian. Bergegas ia bangkit setelah memakai kembali mahkotanya. Tak menghiraukan tatap heran dari pengawalnya, Killian menanyakan maksud kedatangannya kemari.

“Raja telah menunggu Anda di ruangannya, Yang Mulia.”

Oh, ya tentu. Ada suatu topik ‘penting’ yang akan mereka bicarakan. Terlalu penting sampai-sampai Killian enggan menerima undangan dari ayahnya.

Setibanya Killian di ruangan dengan warna merah marun mendominasi, Lachlant benar-benar sudah menunggunya. Pria berusia hampir separuh abad itu duduk di kursi tinggi membelakangi jendela. Mahkota besar di atas kepalanya selalu membuat Killian teringat akan kakaknya dan sebuah tanggung jawab yang harus Killian terima, tak lama lagi.

“Kau sudah memikirkan tentang perjodohanmu?”

Tak ada basa-basi lagi, pikir Killian.

Inilah pembicaraan yang kerap Killian hindari. Pun yang tak pernah berujung baik. Killian tahu bahwa suatu saat ia harus menikah dan menggantikan posisi ayahnya sebagai raja. Ia tahu tentang di balik seringnya undangan kepada Meridies untuk berkunjung ke Vesperia bukanlah sebatas persahabatan. Dan ayahnya pasti benar-benar menginginkan aliansi dengan kerajaan Meridies terlaksana. Sebuah aliansi yang mengharuskannya menikahi seorang putri kebanggaan Meridies. Putri yang mendekati—atau sudah sejajar dengan kata sempurna. Banyak pangeran di luar empat kerajaan besar menginginkan bisa menikahi putri itu. Well, bahkan Reyn berkata, ia bersedia menggantikan Killian bertunangan dengannya. Tak diragukan, gadis itu memang cantik, sangat baik, dan segala tutur kata juga tingkah lakunya begitu mencerminkan seorang putri kerajaan yang sesungguhnya. Namun, sesempurna apa pun ia, Killian tidak bisa menganggap Putri Lucy lebih dari sekadar teman.

Alasannya adalah….

“Aku menyukai gadis lain, Ayah.”

“Oh, maksudmu gadis itu?”

Mendengar nada meremehkan yang terlontar dari mulut ayahnya, Killian mengeratkan kepalan tangannya di balik punggung. Membuat buku-buku jarinya memutih, menahan kekesalan yang kian memuncak. Jika yang berbicara bukanlah seorang raja dan ayahnya sendiri, Killian pasti sudah melayangkan tinjunya tepat setelah tanya itu terkuar.

“Apa kau sadar siapa gadis yang kau sukai itu, Killian?” Lachlant menatap putranya lekat. Seakan mengingatkan lagi kepada Killian tentang masa lalunya, tentang mengapa ia yang harus menjadi raja kelak. “Biar kuingatkan padamu.”

Rahang Killian mengatup rapat. Menanti kelanjutan perkataan ayahnya, dan ia siap membalasnya dengan sebuah kenyataan yang luput dari pemikiran seorang raja Vesperia itu selama ini.

“Hanya karena gadis itu, kita kehilangan Jillian. Kautahu itu.”

“Oh, benarkah?” Killian menyilangkan lengannya di depan dada. Abai pada tatap terkejut dari ayahnya, ia melanjutkan, “Dan ada yang perlu Anda ketahui juga, Yang Mulia. Bahwa gadis itu juga harus kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya hanya karena menyelamatkanku— menyelamatkan kita.”

“Killian!”

Bangkit berdiri, Lachlant menggebrak mejanya. Tak menggetarkan Killian yang lantas membungkuk. Ada gurat kesedihan terpahat di wajah lelah seorang Lachlant yang luput dari penglihatan Killian ketika ia berbalik pergi.

.

I’m sorry, my sons.”

.

Semoga Rhea menerima suratnya.”

Samar, kalimat itu menyambut Killian saat memasuki kamar Icy. Meski hanya sekelebat, Killian bisa melihat seekor burung berbulu biru yang baru saja terbang dilepaskan sang gadis dari balkon kamarnya. Burung biru berparuh kuning yang dikenal sebagai burung pengantar pesan.

Tak ingin mencampuri urusan aide-nya, Killian memilih abai. Bukannya tak peduli, tapi yang Killian perlukan saat ini adalah menjumpai sang gadis, berharap sedikit obrolan ringan dengannya bisa meruntuhkan kekesalan Killian.

Agaknya Icy tak menyadari kehadiran Killian. Maka, lelaki itu perlahan mendekat sembari menyaksikan Icy lamat-lamat memejamkan kelopaknya. Semilir angin malam menerbangkan helai surainya yang bebas. Jemari menggenggam gagang pedangnya dan manik Killian membola ketika rembulan menyinari pedang perak pekat yang terhunus ke udara. Pedang yang pernah Killian lihat sewaktu ia kecil. Pedang Atlan, begitu Killian menyebutnya.

Sekian detik mengamati Icy mengayunkan pedangnya, gadis itu menoleh. Killian berdiri mematung di dalam kamarnya. Icy lekas menyembunyikan pedangnya di balik punggung lantaran tatap Killian terus terarah pada pedang miliknya. Namun sayang, Killian terlanjur mematri tiap detail pedang yang tak memiliki sisi tajam itu di kepalanya.

“Pedangmu….”

“A-Aku bisa menjelaskannya, Killian.” Seiring langkah sang pangeran kepadanya, Icy semakin merapatkan diri di birai balkon. “Pedang ini—”

“—pedang Atlan.”

Tersudut, Icy tak bisa berkutik ketika jarak mereka hanya setengah depa. Pasrah membiarkan Killian menyambar gagang pedang di cengkeramannya, sementara Icy hanya bisa merunduk memandangi kakinya yang tak beralas.

Pedang Atlan adalah pedang yang sengaja dibuat tanpa memiliki satu atau dua sisi tajam. Dengan kata lain, pedang itu tumpul. Takkan ada luka sayatan jika Icy menebas pedangnya ke arah lawan. Trevor sengaja memberikan pedang itu padanya untuk melindungi Icy dari melukai dirinya sendiri. Dan sebagai gantinya, Trevor mengajarkan semua trik menggunakan pedang Atlan dengan berdasarkan pada sebaris kalimat yang terpahat di permukaan perak pekat itu.

Melindungi tanpa melukai.

Meski terkadang diremehkan atau diragukan kemampuannya, Icy terus mempelajari semua trik yang diberikan Trevor. Berlatih setiap waktu hingga semua trik itu ia kuasai. Dan sekarang, Icy selalu berhasil menjatuhkan lawan tanpa ada darah yang mengotori pedangnya.

Sebenarnya, Icy percaya, kalau Killian tak mempermasalahkan bagaimana bentuk pedang miliknya. Tetapi Icy takut jika Killian juga meragukan ia yang tak bisa melindungi seorang pangeran hanya dengan sebuah pedang tumpul. Dan nyatanya….

“Aku menyukai pedang Atlan.”

Mendongak, seulas senyum yang selalu bisa memacu debar jantungnya tampak di wajah Killian. Dengan lembut, pangeran Vesperia itu menarik tangan Icy. Menyerahkan kembali pedang itu pada pemiliknya dan tak lupa mengacak surai cokelat gelap sang gadis sebelum berbalik. Tinggalkan Icy yang kini berganti mematung, sembari menatap punggung tegap Killian yang perlahan menjauh tanpa tahu ada gumam lirih yang lolos dari bibir sang pangeran ketika menutup pintu kamar pengawal pribadinya itu.

.

.

Dan aku lebih menyukai pemilik pedangnya.”

.

.

tbc.


Bagi yang bertanya siapa itu Jillian, yap, Jillian itu kakaknya Killian. Semoga keterangan di atas bisa ngejawab sekilas siapa Jillian dan ke mana Jillian. Untuk Hurton, masa lalunya Icy, atau apa yang terjadi sama pertarungan pedang Icy setahun lalu, insyaAllah akan sedikit-sedikit dijelasin nanti.

Next chapter (agak) lama ya /.\

.

yeni

Advertisements

12 thoughts on “[Chapter 4] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. Lisa Kim

    Aaaaaaa…. aku gak tau klw ini dh update. Jd ketinggalan baca.huhuhu…

    Ahh, benerkan Jillian kkanya Killian…Yeyyyy…tp msh penasaran sama kisah lengkapnya.hemmmm…
    Next chap ditunggu, Kak Yeni *Kedip2UnyuBrngKillian* kkkk~

    Like

  2. Aihara

    Aaah
    Ini udah terjawab beberapa tapi masih banyak yang bikin aku penasaran XD
    Aw itu, gumaman Killian:3
    Makin excited aja deh baca fanfict ini =D

    Oke, ditunggu ya kelanjutannya~
    Dan,
    Soulmate!AU-nya kutunggu banget kak sampai kapanpun itu><

    Like

  3. Ah parah sih ini wah ga ngerti lagi harus mengomentari apa. Jadi makin penasaran sama kelanjutannya apalagi cerita dibalik kenapa Jillian bisa ‘menghilang’ dan masa lalunya Icy sama Killian

    Huhuw kutunggu selalu kelanjutannya

    Like

  4. astri.dewi99@gmail.com

    Yeey, like always fic series favoritku smpe tiap hari pantengin BTS ff nungguin chap baru 😄😄

    Thanks banget Kayenn ngasih pencerahan di akhir cerita. Kirain pertama Jillian itu kembar atau gak kakak beda dikit lah, ternyata tujuh tahun waah. Kekepoan ku jadi agak berkurang hehe

    Kali ini aku kusyuk banget sama ceritanya. Berasa padat aja gitu, ada manis-manisnya KillIcy, sedikit flashback, dialog Lachlant ke Killian, bahasan tentang pedang Atlan (ingat pedang tumpul jadi berasa liat anime) n mottonya. Ada dalam satu chapter keren lah pokoke

    Semangat Kayen!!!!

    Like

  5. sweetpeach98

    Jadi, jillian itu…. ya begitu /?/
    Ah aku suka nih Killian x Icy, bawaannya aku baper aja gitu lihat mereka kalau udah berdua gak Killian gak Icy bikin gemes aja ><
    trus itu si Killian tegas amat sama bapaknya sendiri dan, Icy nyelametin mereka dan kehilangan orang tuanya sama si Jillian, itu aku lumayan penasaran sama apa yang sebenarnya terjadi /cieh/ XD
    Icy pasti dulunya suka sama Jillian yah (kalau aku tidak salah?) XD tapi Killian juga suka sama Icy, jadi semacam kisah cinta segitiga gitu (?)

    Udah ah komentarnya nanti kepanjangan macam fic drabble, intinya; aku masih penasaran sama segala hal seperti kelanjutan kisah cinta antara Killian dan Icy, terus siapa itu Hurton, kenapa Icy lebih milih buat gak melukai lawan, banyak banget deh kak yen :3

    Aku tunggu kelanjutannya kak :3 sama Soulmate!AU nya juga aku tunggu, loh! :3 Mangatzzzz!

    Like

    1. Icy dulunya…………… suka ga ya sama jillian XD suh cinta segitiga……. berasa icy cewek populer banget /.\

      Pasti dilanjut~ soulmate!au nya ya………. doakan saja ya :”)
      Mangaatzz! Makasih ya jihyeon udah sempetin baca dan komen ^^

      Liked by 1 person

      1. sweetpeach98

        Weh-weh dari tadi aku dapet notif dari kak yen :3 berasa habis di kasih perhatian sama bias (?)
        Aku bakal nimbrug di cinta segi tiga mereka kak, dan akan menjadi cinta segi empat (?)
        Aku selalu berdoa di setiap fic yang update siapa tau Vesperia atau Soulmate!AU yang nongol :’3
        Huhu, terimakasih kembali kakak! :3

        Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s