[Chapter 4] The Silver Age of Virgo: Face to Face

virgo-series2

the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified

.

.

.

#4: FACE TO FACE

.

Ketika Killian membuka matanya pagi itu, ia lekas bertemu pandang dengan tatap khawatir Rhea. Sesuatu yang membuat rasa pening itu hadir lagi, namun dengan terpaksa ia abaikan. Ini bukan saatnya untuk kembali beristirahat, tak peduli kendati ia baru saja menghabiskan seluruh energinya kemarin. Situasi sedang gawat, dan—

“Alven dan Aleta pergi.”

“Apa?”

Lekas-lekas duduk adalah hal yang Killian lakukan, sementara Rhea beralih menyilangkan kedua lengannya dan bergumam menggerutu, “Dua orang itu benar-benar—”

“Rhea, ada apa?”

Berusaha untuk turun dari kasurnya, Killian menatap Rhea yang masih mengomel kesal. Alis berjungkit tanda bingung, tak mengerti mengapa si gadis bisa mengeluarkan pernyataan macam itu. Apa yang Rhea maksud dengan pergi? Tentunya Alven dan Aleta tidak akan melakukan itu tanpa alasan, kan?

“Rhea, jelaskan padaku.”

Nada suara Killian kini berubah memerintah, selagi ia mengamati Rhea yang mengembuskan napas dalam-dalam. Si bintang Vindemiatrix itu tampak kesulitan mengendalikan emosinya, dan Killian tahu persis bahwa ia harus turun tangan sebelum keadaan menjadi makin runyam. Ini bukan saatnya untuk saling tuduh atau menyalahkan, terlebih ketika ia bahkan belum bisa memahami situasi yang tengah terjadi. Maka, mengulurkan tangan untuk menyentuh pundak Rhea, Killian pun bermaksud untuk menggunakan kekuatannya—

“Simpan tenagamu, Killian.” Rhea langsung bergerak menjauh, memberi isyarat bahwa ia tak butuh bantuan. “Beri aku lima menit.”

Hanya bungkam yang bisa Killian lakukan, seraya ia membiarkan Rhea memenuhi paru-paru dengan oksigen. Mengatur emosinya, serta menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan. Butuh hampir sepuluh menit bagi si gadis untuk melakukan itu, dalam diam melangkah keluar dari kamar Killian selagi sang pemimpin Virgo mengikuti.

Well?”

“Semalam, Aleta punya usul untuk mendatangkan ramalan lewat mimpi,” ujar Rhea begitu mereka sampai di ruang tengah. “Kamu tahu, agar setidaknya kita bisa mengira-ngira kapan dan di mana serangan berikutnya akan terjadi.”

“Oke, itu—“

“Itu ide bagus dan aku mengakuinya.” Satu kedikan bahu dari Rhea sebelum ia menambahkan, “Aku juga punya ide yang sama. Dan Aleta adalah yang pertama mengajukan diri untuk melakukan sihir itu.”

“Jadi, dia melakukannya.”

“Dia melakukannya,” ulang Rhea, kali ini beralih memijat keningnya dengan ujung jemari. “Masalahnya di sini adalah, ia dan Alven sudah menghilang ketika aku bangun tadi. Tanpa memberitahuku mimpi macam apa yang ia lihat, tanpa memberi kabar atau penjelasan.”

Killian mencerna itu semua tanpa berkomentar, memilih untuk mengempaskan dirinya di atas sofa dan berpikir. Ia kenal Alven dan Aleta selama bertahun-tahun lamanya, ia tahu bagaimana perangai sepasang saudara itu. Keduanya tidak akan mengambil tindakan tanpa pertimbangan matang, pun melakukan sesuatu yang dirasa akan membahayakan konstelasi. Namun, di tengah situasi yang serba kacau seperti sekarang, adakah yang masih bisa menjamin akal sehat untuk bekerja?

Konstelasi mereka toh sudah dalam bahaya.

Kalau begitu….

“Killian?”

“Aku percaya pada Aleta,” ujar Killian lamat-lamat, berusaha untuk menata isi pikirannya dan menyajikan penjelasan yang masuk akal. “Apa pun yang tengah terjadi sekarang, aku masih percaya padanya.”

Rhea hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.

“Menurutku, apa pun yang dilihat Aleta dalam mimpinya….” Killian mengambil jeda beberapa sekon, membiarkan beberapa praduga melintas di dalam benak. “Yah… antara itu adalah sesuatu yang bisa mereka tangani berdua, atau sesuatu yang akan membahayakan kita.”

“Aku tak yakin kalau mereka bisa menanganinya berdua,” dengus Rhea, melempar sorot tak setuju ke arah Killian. Gadis bersurai panjang itu lantas ikut mendudukkan diri pada sofa yang berada di seberang Killian, menyilangkan kaki sebelum melanjutkan, “Jika ini berhubungan dengan musuh kita, bukankah akan lebih baik kalau kita menghadapinya bersama?”

“Mungkin, mereka tak mau—“

“Tak mau kita ikut berada dalam bahaya?” sambar Rhea, menyelesaikan kata-kata Killian tanpa merasa bersalah barang sedikit pun. “Dengar ya, Killian. Aku percaya pada Aleta dan Alven, oke? Aku percaya, tapi aku juga tidak mau jika mereka berakhir kalah dan malah ikut tertangkap. Kalau itu terjadi, pikirmu kita berdua bisa menyelesaikan ini?”

“Rhea….”

“Siapa pun lawan kita, mereka hanya mau kita makin terpecah-belah!” sahut Rhea, tanpa sadar emosinya kembali melonjak ke permukaan. “Ayolah, Killian! Kamu tahu aku mengatakan ini berdasarkan akal sehat, kan? Untuk sekali saja, tak bisakah kau—“

“Aku tahu,” potong Killian, lekas-lekas memasang ekspresi menyesal. “Aku… maafkan aku, Rhea. Tapi, aku benar kan jika berkata bahwa kita berdua sama-sama peduli?”

Rhea memilih saat itu untuk membuang muka, sementara Killian mengulum senyum kecil. Lelaki itu tahu jika Rhea hanya susah untuk mengakui perasaannya secara langsung, lebih memilih untuk menutupinya dengan sikap galak dan kata-kata tajam. Namun, paling tidak, perkataan Killian tadi sukses meredakan pertengkaran yang nyaris tercipta. Keduanya kini sudah lebih tenang; meskipun jika ditilik dari kerutan yang tahu-tahu muncul di kening Rhea, Killian tahu kalau gadis itu baru saja memikirkan sesuatu yang kurang menyenangkan.

“Killian, menurutmu….”

“Lanjutkan.”

“Mimpi Aleta,” gumam Rhea perlahan, mengarahkan tatap seriusnya ke arah sang pemimpin sebelum melanjutkan, “kurasa itu ada hubungannya dengan Fyre.”

“Dan apa yang membuatmu berpikir demikian?”

Tak salah lagi, Killian dapat melihat ekspresi malu yang melintas di wajah sang gadis Vindemiatrix. Si bintang yang terkenal keras kepala, yang saat ini tengah berdeham dan berusaha untuk terdengar abai saat berujar, “Karena jika ada di posisinya, kurasa aku akan berbuat sama.”

“Maksudmu untuk Axel?” Killian menanggapi tanpa berniat memberi jeda, sementara Rhea bergegas melempar pelototan. Sesuatu yang Killian anggap sebagai jawaban ‘ya’, membuatnya ingin terkekeh jika saja ia tak teringat dengan situasi gawat yang tengah menghadang. Lagi pula, pemikiran Rhea barusan dapat dibilang cukup beralasan. Tambahkan fakta jikalau Alven dan Aleta memang selalu dekat dengan Fyre—ketiganya adalah kawan yang tak pernah terpisahkan sejak mereka kanak-kanak dulu. Sesuatu semacam itu pastinya cukup untuk mendorong seseorang bertindak gegabah, bukan?

“Kurasa kamu benar,” ujar Killian, mengembalikan atensi Rhea ke arahnya. Kedua bintang itu lantas berpandangan sejenak, sebelum akhirnya sama-sama bertukar anggukan dan lekas bangkit berdiri tanpa berbasa-basi. Tanpa perlu berdebat melangkah keluar dari apartemen, tak ingin menyia-nyiakan waktu atau membuat kesalahan di saat-saat kritis semacam ini.

“Ayo kita cari mereka.”

.

-o-

.

“Ramalan dalam mimpi selalu bisa diandalkan, Kak.”

Alven hanya melirik Aleta sekilas, tak berani terlalu lama melepas fokusnya dari sang lawan. Mereka berdua sedang berada di atap sebuah gedung tua tak terpakai, menunggu selama berjam-jam sampai akhirnya sosok itu muncul. Tepat pada saat mentari nyaris terbenam, dalam diam hadir di hadapan sepasang saudara tersebut. Lengkap dengan ekspresi muka kosong, sementara Aleta sempat tertegun tak percaya saat melihatnya.

“Aleta, jangan—“

“Apa pun itu, akan lebih baik jika kita tidak saling melukai.” Aleta bergumam, lamat-lamat menggerakkan tungkainya mundur beberapa langkah. “Benar kan, Fyre?”

Tak ada jawaban tentu, lantaran Fyre hanya bisa bungkam dan mulai mengeluarkan bola sihirnya di telapak tangan. Dengan gerak lambat mengarahkannya pada Alven dan Aleta, secara terang-terangan membidikkan energi cahaya tersebut ke arah dua orang terdekatnya. Oh, dan omong-omong, Alven tahu betapa berbahayanya sihir menyerang macam itu. Kekuatan Fyre bukanlah sesuatu yang dapat digunakan untuk candaan—

“Awas!”

—dan untung saja Alven mengeluarkan sihir perisainya tepat waktu.

“Fyre!”

Teriakan itu adalah milik Aleta, yang hanya bisa membelalakkan mata selagi ia menyaksikan sihir kakaknya dan sihir Fyre bertemu. Timbulkan percikan yang turut mewarnai senja, yang membuatnya bergidik ngeri dan tak mampu ikut menyerang. Kehadiran Fyre sebagai musuh bukanlah sesuatu yang mampu dipahami secara cepat, pun malah menambah keterkejutan mereka atas cara si musuh beraksi. Bahkan mimpi ramalan yang didapatkan Aleta pun tak banyak membantu, mengingat sang gadis berambut sebahu itu tahu jikalau dirinya tak akan bisa menyerang Fyre secara langsung.

“Fyre….”

“Kamu tahu jika itu bukan dirinya, Al!”

“Itu masih dirinya, Kak!” balas Aleta, membiarkan Alven untuk menarik dirinya menjauh. Agaknya lelaki itu tahu bahwa Aleta tak akan mampu menyerang, sehingga untuk saat ini, ia pun terpaksa menyuruh sang adik untuk berlindung di balik tubuhnya. “Musuh kita pasti telah mengendalikan pikirannya—“

“Dan sampai pengendalian itu hilang—“ Jeda sebentar yang digunakan Alven untuk menciptakan perisai lain, menghalangi anak-anak panah perak buatan Fyre agar tak melukai mereka. “—kita harus menganggapnya sebagai lawan!”

“Tapi Kak Alven—SEBELAH KIRIMU!”

Peringatan itu tiba tepat pada waktunya, seraya Alven mengelak menjauh dari ujung bilah pedang keperakan yang diciptakan Fyre dari udara kosong. Praktis menghancurkan kubah perisai yang tadinya ada di sekeliling mereka, selagi pedang tersebut kembali menyambar dan berhasil merobek bagian depan kemeja Alven. Sebuah pertanda bahwa percakapan normal tak akan mampu menyelesaikan semua ini, sehingga Alven pun memilih untuk berkonsentrasi dan memunculkan pedang miliknya sendiri dari kekosongan.

“Kak….”

“Aku tidak akan melukainya, kamu bisa pegang janjiku.”

Tak ada jawaban yang sempat diberikan oleh Aleta. Alven sudah terlanjur mendorongnya untuk berdiri di sudut atap gedung, sementara dirinya sendiri melangkah maju ke bagian tengah. Mata pedang diarahkan pada Fyre yang tampak siap menyerang, lantas sedetik kemudian diikuti dengan suara dentang keras. Dua bilah saling beradu, kaki bergerak lincah, dan pergelangan tangan dengan handal memainkan senjata masing-masing. Terus demikian selama beberapa menit lamanya, sampai Fyre bergerak menggunakan tangannya yang bebas untuk mencipta bola cahaya baru—

“Aleta!“

“Kak Alven!”

Argh!! Shit!

—dan pada detik itulah perhatian Alven mulai teralih.

Mengerang, Alven hanya bisa memegangi lengan kanannya yang tergores dan mulai mengeluarkan darah. Tatap berkelebat ke arah Aleta, yang hanya mampu berdiri terpaku di samping reruntuhan tembok pembatas. Rupa-rupanya, bola sihir yang berisi energi mematikan milik Fyre tadi meleset dan menabrak tembok pembatas di atap gedung tersebut. Ciptakan lubang besar reruntuhan, yang seketika menghancurkan fokus Alven pada pertarungan yang ada. Segalanya berlangsung terlampau cepat: Aleta yang berteriak memperingatkannya dan mulai memunculkan lingkaran sihirnya sendiri, ia yang terlambat menoleh untuk melihat serangan berikutnya, serta Fyre yang—

“Hentikan, Fyre!”

.

.

BRAAK!!

 .

.

“Fyre!!”

Sepasang seruan itu berasal dari kerongkongan Aleta, pun dengan suara benturan yang terdengar menyakitkan. Membulatkan manik, Alven tampaknya butuh waktu untuk menyadari bahwa Aleta-lah yang baru saja menyelamatkan lehernya dari tebasan pedang. Saudarinya itu telah menggunakan sihirnya untuk bergerak secepat kilat ke arah Fyre, menariknya menjauh serta memaksa pedangnya untuk lenyap, yang kemudian dibalas dengan hantaman pada tembok terdekat. Fyre bahkan tak berkedip saat ia memunculkan seringai di wajahnya, langkah terajut ke arah Aleta yang masih jatuh tersungkur.

“Fyre….”

Entah karena alasan apa, Alven mendapati tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa digerakkan di tengah kepanikan yang ada. Pun dengan suaranya yang terasa bagai tersangkut di leher, juga usahanya untuk memunculkan kekuatan sihir yang langsung digagalkan. Tampaknya, Fyre telah mengeluarkan energi yang cukup untuk membawa akibat fatal. Yang membuat Alven tak bisa berbuat apa-apa, dipaksa untuk menjadi saksi dari pertarungan yang kini telah beralih—antara Fyre dan Aleta.

“Fyre… k-kamu….”

Sejelas Alven yang hanya mampu mendengar rintihan itu, Aleta pun bisa mendengar bagaimana suaranya nyaris pecah. Bagaimana ia hampir menangis, bagaimana hatinya jauh lebih terluka dibandingkan tubuhnya saat ini. Fyre yang ia kenal bukanlah Fyre yang akan menggunakan tangannya untuk membunuh. Fyre yang ia kenal tak akan mencengkeram pangkal lehernya seperti ini, memaksa keduanya untuk bertukar tatap dengan cara yang kasar. Dan lagi, Fyre yang ia kenal pasti akan membalas pelukannya, bukannya malah berusaha mendorong Aleta menjauh dan hampir mengempaskannya pada tembok bata lagi.

Namun, Aleta tak peduli.

“A-aku tak bisa menyerangmu,” bisik gadis itu terbata, berusaha melawan usaha Fyre yang kini beralih mencekal bahunya. “Aku tak… aku tak peduli, Fyre. A-aku mengenalmu dan aku selalu menyayangimu.”

Fyre masih tak bersuara, masih berusaha untuk mendorong Aleta menjauh. Kendati demikian, Aleta pun sama. Sang pemilik kekuatan Spica itu tetap merengkuh Fyre erat-erat, pada akhirnya menumpahkan semua air matanya pada bahu si bintang Auva. Ia tak lagi bisa berpikir, tak lagi bisa merasa acuh pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Tak apa jika Fyre kembali mengeluarkan pedangnya dan membunuhnya, tak apa pula jika si lawan memutuskan untuk ikut mengambil dirinya. Toh, Aleta hanya tak mau Alven terluka. Dan lebih-lebih lagi, Aleta juga tidak mau melukai Fyre yang—

“Aleta.”

Eh?

Gemetaran, Aleta bisa merasakan jemari Fyre tak lagi mencengkeram dalam konteks menyakiti. Alih-alih, cekalannya pada bahu Aleta sekonyong-konyong mengendur. Diikuti dengan lengannya yang tahu-tahu melemas, bergerak turun sampai ia bisa balas merengkuh gadis itu dan menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak disangka. Sesuatu yang membuat Aleta kembali menggulirkan butir air mata, sesuatu yang kemudian diikuti dengan keheningan lantaran Fyre sudah keburu tak sadarkan diri.

.

“A-aku… menyayangimu.”

.

tbc.

.

.

The Vindemiatrix
Rhea

rhea

Vindemiatrix; sang Epsilon Virginis yang terkenal dengan sifat meledak-ledak dan keras kepalanya. Bersama dengan Spica dan Porrima, bintang ini adalah salah satu dari tiga bintang paling terang dalam konstelasi Virgo. Kekuatannya sudah pasti tak diragukan, kendati pada saat yang sama, kekuatannya untuk menghancurkan pun berjalan segaris lurus dengan fakta tersebut.

Si gadis bersurai panjang dengan nama Rhea ini memang terkenal ceroboh dan impulsif—membuat Killian selaku pemimpin sering sekali menggunakan sihirnya untuk meredakan emosi si gadis. Namun, di samping Killian, ada pula Axel yang senantiasa bisa membuat gadis ini merasa tenang. Keduanya sudah cukup lama saling mengenal, mengawali kisah sebagai dua orang yang berkelana bersama sebelum akhirnya bergabung dengan naungan konstelasi Virgo. Kekuatan utama Rhea adalah menghancurkan dan mencipta kegelapan, menghadirkan energi sihir yang bisa merusakkan apa saja. Inilah sebabnya mengapa sang gadis enggan untuk memamerkan sihirnya terlampau sering; lantaran ia sendiri belum tahu bagaimana cara menggunakan dan mengendalikan kekuatannya dengan baik.

.

.

Claire Jung (Rizuki’s OC) as Rhea

big thanks to Kak Riris! ❤

.

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “[Chapter 4] The Silver Age of Virgo: Face to Face

  1. Pingback: [Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 8] The Silver Age of Virgo: Spica and Auva – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Chapter 7] The Silver Age Of Virgo: Unspoken – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Pingback: [Chapter 6] The Silver Age of Virgo: Impulsive – BTS Fanfiction Indonesia

  5. Pingback: [Chapter 5] The Silver Age of Virgo: After Effect – BTS Fanfiction Indonesia

  6. Pingback: Nida’s Pick | Coffee Hee

  7. Pingback: Hai, Nida! | Coffee Hee

  8. RHEA-SSI, KAMU TEH PMS TIAP HARI APA KUMAHAA………? /.\ kasian kan mas nazin kalo kesabarannya diuji terus begitu/??? bhaks
    Yeaayy~ akhirnya komen wakakkaka padahal udah rusuh duluan di chatroom pfft. Cuma mau bilang chapter ini semakin kece dan aku masih suka menboong sama yunha tengs XD

    Chap depan sangat sangat sangaaaatt ditungguu /eh/ mangaatsss terussss tsuki-nim!!!! Sarangeeeeekkkkkk…………………………………..kimjinan XD ♡♡♡

    Like

  9. Diousé

    Aku sempet lupa ama bag sebelumnya dan baca ulang lagi chp 3 /waks /ga nanya/
    Killian sabar aja ya hadepin si Rhea, duh pemimpin idaman(?)..
    Yah, gimana coba orang kalem gt disuruh berduaan sama Rhea yg meledak-ledak/? /kutip dari introduce/
    Kya, keren bgt adegan berantem nya Spica sma Fyre.. Serasa melawan kawan sendiri/?
    Duh, Alven jan terlalu ceroboh jadi luka kan? Untung ada Aleta.. Dan kenapa Aleta ikut2an?! Awalnya takut nih dia kenapa2 tapi ternyata endingnya….
    Sweet~ Yaampun, Fyre ga nyangka bisa bilang gt >< Sudah sadarkah?
    Lanjut terus yeth kak, kepo ih 😂

    Like

  10. Keren Kak…
    Terus itu alven sama aleta, persaudaraan mereka bukin ngiri deh. Killian jg bijak bgt, trus Rhea yg hobinya marah2 tp tetep aku suka…
    Kalimat terakhir itu WOW bgt, yaampuun. Eh, itu berarti Fyre-nya udah sadar, gitu?

    Like

  11. sweetpeach98

    KAK AMEEEERRRRR :”D
    Sebelum aku mengulas tentang ini aku buru-buru baca sambil gosok gigi saat dpt email (terlalu jujur)(oke kita abaikan bagian yang ini)

    Well, kita kembali ke hati Killian (eh?) aduh mbak Rhea emosian mulu awas lo cepet tua hati-hati mbak XD dan Killian aduh mas kamu berwibawa banget cocok deh punya masa depan sama aku (eh?)
    Trus Aleta sama Alven, aduh langung menuju lokasi TKP waktu tau itu Fyre dan acara serang-serangan Fyre x Alven serasa amat sangat nyata aku gak bohong waktu Fyre ngeluarin bola kekuatan aku pun ikutan sambil baca (oke abaikan)
    Dan, cieh akhirnya kata-kata Aleta bilang aku menyayangimu itu bikin Fyre kemungkinan besar sudah sadar (bener kah yang ini?)

    Aduh setiap kak amer update chp terbaru perasaan komentarku sepanjang ficlet :”D maafkeun aku kak, aku terlalu bersemangat XD Aku tunggu kelanjutannya kak semoga Icy cepat di temukan ya kak XD

    Liked by 1 person

  12. Jadi iti fyre sadar?? Maksudnya udah berhasil lepas dari pengaruh sihir dan balik lagi ngumpul sama virgo?? Woaaaaahh hanya satu kalimat “aku menyayangimu” bisa melunturkan sihir jahat *tsaaaahh

    Btw…. killian yg sabar ya ngadepin rhea XD

    Keren pokoknya! Scene berantemnya kerasa banget dan kebayang > <
    Oke ditunggu kelanjutannya ya mer~ semangat ^^)9
    *salam dari icy yg masih di tahanan

    Liked by 2 people

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s