[BTS FF Freelance] Sometimes, Him… – (Vignette)

sometimes him.

Sometimes, Him….

a fanfic by

riria ly

Cast:

Kenzie Kim (OC)

BTS’s Jungkook a.k.a Jeon Jungkook

Genre: Romance, Humor, Fluff(?) | Rating: PG 16 | Length: Vignette

Jungkook punya Tuhan, ortu sama agensinya. Warning: typo, gaje,OC.

Terimakasih karena lahir 6 bulan lebih dulu dan sudah mau menungguku, Noona!

==========

Dua kata dari Kenzie Kim untuk pria itu. Sulit ditebak. Ya, kadang dia begitu romantis dengan mengiriminya bunga, kadang pria itu juga begitu perhatian dengan menanyakan apa yang sedang dilakukannya, kadang dia begitu usil dengan mengganggunya mengerjakan tugas dari kantor, kadang dia begitu cerewet dengan menyuruhnya tidak boleh ini itu, kadang dia begitu menyebalkan dengan sikap sok tahunya, kadang dia begitu sok tebar pesona di depan teman kerjanya –ini benar-benar membuat Kenzie kesal, dan masih banyak kadang-kadang yang lain.

Dan sekarang ini, Kenzie agak bingung menentukan kadang yang mana.

“Oh ayolah, seniormu yang bernama Min Yoongi itu memang tampan kan.” Dari tempatnya duduk, Kenzie menampakkan ekspresi wahnya. Dari tadi pria itu terus saja membahas salah satu fotografer di tempatnya kerja.

Aniyo”, balas Kenzie setelah mendapat satu seruan lagi dari pacarnya itu.

“Jangan bohong!”

“Terserah kau sajalah Jeon Jungkook.” Sudah lebih dari 8 tahun Kenzie berpacaran dengan Jungkook, dan kurang lebih dia sudah mengetahui luar dalam pria berambut gelap itu –termasuk sifatnya yang keras kepala dan tak mau mengalah.

“Berarti kau mengakuinya ya, sudah kutebak.” Nadanya itu penuh ucapan terselubung, bahkan ekspresinya juga mencemooh? Atau masam? Kenzie tak bisa menebak ekspresinya di saat tugas kantornya sedang banyak kan?

Hening.

Kenzie merasa ia harus melakukan sesuatu.

“Apa kau lapar? Ingin kubuatkan sesuatu?”

“Tak usah, aku ada jadwal operasi dua jam lagi”, Jungkook membalas.

“Ah kalau begitu pergilah.”

“Wah kau bahkan mengusirku sekarang.” Ekspresi tak percaya Jungkook itu justru membuat Kenzie bingung.

“Bukannya tadi kaubilang ada  operasi, kau harus bersiap-siap, kan?” Dua tahun yang lalu saat perayaan anniversary mereka yang ke-6 Kenzie terpaksa harus menyelesaikan film sendirian, gara-gara Jungkook yang butuh persiapan atau entalah apa itu menjelang operasi.

“Perjalanan dari sini ke rumah sakit hanya 20 menit, aku hanya memerlukan waktu 30 menit sebelum operasi. Jadi kurang lebih aku masih punya waktu bebas satu jam.”

“Ahh, kalau begitu kau mau dibuatkan makan?” Di tengah kebingungannya, Kenzie menawarkan diri lagi.

“Tak perlu, Nayoung Noona ingin mentraktirku makan sore ini.”

Kenzie mengangguk-ngangguk. “Ahh baiklah.” Kemudian gadis bermarga Kim itu kembali menekuni laptopnya.

“Hanya itu?”

Mwo?”

Jungkook berdiri dari sofa apartemen Kenzie dan menatap sang pemiliknya malas. “Sudahlah, aku mau pergi.”

“Hmm.”

Kenzie masih sangat sadar jika Jungkook masih menatapnya sampai dua menit kemudian, ia kini menanggalkan laptopnya dan menatap pria itu.

“Bukannya kau bilang mau pergi, kenapa masih berdiri di situ.”

“Wah diusir lagi, sakit rasanya hatiku.” Setelah mengatakan itu, Jungkook menghilang melalui pintu apartemen. Walaupun Jungkook telah menghilang, tapi Kenzie masih menatap pintunya.

“Dia kesambet apasih?”

****

Sembari menenteng bekal makan siang, Kenzie memasuki kantor tim bedah Jungkook. Kantor itu sepi, jadi dia langsung menuju ruangan Jungkook. Pria itu memang menjadi ketua tim meskipun usianya termasuk cukup muda, bukan karena dia anak Direktur rumah sakit ini –tapi dia sangat pandai saat berada di ruang operasi.

Sudah dua hari semenjak kedatangan Jungkook ke apartemennya, pria itu sama sekali tak mengabarinya. Sudah pasti Jungkook marah padanya, tapi seberapa keras pun Kenzie berpikir ia tak mengetahui apa penyebab pria itu marah. Oleh karena itu Kenzie berada di sini sekarang, berharap Jungkook akan luluh jika dia membawakannya makanan.

Kenzie menggapai salah satu figura yang terletak di meja kerja Jungkook. Dia selalu tersenyum saat melihat gambar itu- kumpulan foto ia dan Jungkook, dari kecil hingga dewasa seperti ini. Dirinya dan Jungkook memang sudah saling kenal sejak mereka kanak-kanak karena orang tua mereka bersahabat, yang membuat keduanya juga menjadi dekat sebagai seorang sahabat, yang lama kelamaan tumbuh menjadi benih-benih cinta, dan mereka mulai bersama saat Jungkook dengan tidak romantisnya menembak Kenzie –jika membayangkan itu, Kenzie masih tak mengerti kenapa bisa ia menerima pernyataan cinta sahabatnya itu dulu.

Lamunan Kenzie soal itu terbuyarkan saat seseorang masuk. Kenzie otomatis menampilkan senyum terbaiknya.

“Apa operasinya berjalan lancar?” Pandangan Kenzie mengikuti Jungkook yang tengah menanggalkan jas dokternya dan menaruhnya asal.

Kenzie memungutnya dan menaruhnya ditempat yang benar. “Ayo kita makan, aku membawakanmu bekal.”

Masih belum ada balasan. Kenzie mati-matian agar tak mendamprat pria itu.

“Aku membuat makanan kesukaanmu.” Jungkook sempat meliriknya sejenak, sebelum mengambil tas berisi makanan yang di bawanya.

Makanan memang segalanya baginya. Kenzie membantu mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tas itu.

“Aku bangun pagi-pagi untuk menyiapkannya”, kata Kenzie dengan suara lelah, berharap Jungkook akan bersimpati. Tapi ya hasilnya sama, nihil.

Karena Kenzie bukan jenis orang yang mudah menyerah ia masih melanjutkan. “Bagaimana dengan rasanya?”

Lagi dan lagi, hanya bunyi alat makan yang menjawab pertanyaannya.

Cukup sudah!

“Baiklah aku pergi.”

Yakk!!” Akhirnya segelintir kata keluar dari mulut Jungkook.

Wae?”

“Kau tahu aku tak suka makan sendiri”, serunya.

“Tapi kau yang membuat aku berasa sendiri”, gerutu Kenzie, perempuan itu kembali duduk. “Sebenarnya apasih masalahmu?” tanyanya tak sabar.

“Aku merindukanmu.”

“Aishh, mana ada orang rindu yang mengacuhkan panggilan orang yang dirindukannya.” Kenzie membuang muka malas.

“Karena aku akan semakin merindukanmu jika mendengar suaramu.”

Bukannya senang, alis Kenzie malah berkerut bingung. “Kau kenapa sih? Jangan buat aku khawatir.”

“Karena aku sudah bertemu denganmu, aku sudah baik-baik saja.”

Ya benar sekali, dia memang sulit untuk ditebak. Tetapi yang terpenting, ia sudah melihat pria itu sekarang dan dia tak marah padanya.

****

“Mana yang bagus menurutmu?”

“Itu”, Kenzie menjawab sembari menunjuk sebuah kalung putih dengan bandul bintang. Saat ini, ia tengah menemani Jungkook mencari hadiah untuk sepupunya yang tengah ulang tahun.

“Itu jelek, yang ini lebih bagus.”

“Leher Yuna itu jenjang, kalung yang seperti itu tak cocok dengannya”, jelas Kenzie.

“Aku tetap akan mengambil yang itu.”

“Kalau begitu kenapa kau mengajakku kesini eoh, bukankah kau meminta pendapatku?”

“Aku ambil dua-duanya kalau begitu.”

“Aishh dasar.” Kenzie membuang mata malas. Sembari menunggu Jungkook menyelesaikan pembayaran, matanya memutari beberapa toko untuk melihat-lihat dan jatuh pada sebuah etalase cincin. Ia berjalan mendekat untuk melihat-lihat.

Dia tampak mengagumi cincin-cincin itu. Entah mengapa tangannya otomatis meraba jari manisnya yang masih kosong. Meskipun ia dan Jungkook sudah berpacaran selama 8 tahun, pria itu belum juga melamarnya. Masih berapa tahun lagikah?”

“Apa kau mencari cincin pernikahan agasshi?” tanya sang penjaga toko.

“Ah aniyo, bisakah aku melihat cincin itu?” Kenzie menunjuk sebuah cincin bermata biru safir.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Jungkook sudah ada di sampingnya sekarang.

“Menurutmu apakah cincin itu cocok di jariku?” Kenzie bertanya, penuh harap.

“Tidak.”

Waeyo?”

“Kau akan kesulitan masak untukku jika memakai cincin.”

“Yeah kau benar, aku memang tukang masakmu.”

Tidak diragukan lagi, dia terkadang menyebalkan dan kurang peka.

“Yakk Jeon Jungkook kau tahu dengan jelas kau yang membuat passcode apartemen ini kenapa isal auk menerus menekan bel dan mengganggu tidurku, kau bisa langsung masuk saja”, kata Kenzie bersungut-sungut. Bagaimana tidak, ini sudah lewat tengah malam, dan pria itu dengan tidak tahu dirinya bertamu.

“Tidak sopan memasuki tempat orang tanpa izin.”

“Seperti kau punya sopan santun saja,” dengus Kenzie. Perempuan itu kemudian berbalik, berniat kembali ke kamarnya.

“Kau mau kemana?”

“Tidurlah”, sentak Kenzie.

Dengan polosnya Jungkook bertanya. “Aku bagaimana?”

“Kau boleh dimana saja selain di kamarku.”

“Tapi aku lapar.”

“Kau bisa delivery order.”

“Aku mau masakan rumahan.”

“Ada isal auk tadi sore, kau hangatkan saja.”

“Aku mau pasta buatanmu.”

“YAKK!”

“Cepat buatkan.”

“Kau mau membunuhku ya.” Wajah Kenzie sudah sepenuhnya murka.

Semurka apapun Kenzie tapi ia tetap menuju dapur. Kau tak bisa membiarkan pacarmu terus merengek minta makan kan?

*****

“Indah ya.”

“Indah matamu, bahkan tak ada bintang sama sekali.”

“Bintangnya kan ada di sampingku.”

Kenzie melempar boneka yang dipeluknya pada Jungkook, memutar mata malas. “Sudahlah aku mau tidur.”

Andwae, ada yang harus kau ketahui.” Jungkook memposisikan kursinya berhadapan dengan Kenzie, namja itu kemudian menyerahkan kembali boneka Mickey pada sang pemilik. “Ada sesuatu dikantongnya, coba kau lihat.”

“Apa lagi?” tanya Kenzie setelah menguap.

“Lihat saja.”

Mungkin saja dengan menuruti perintahnya, Kenzie bisa diperbolehkan tidur nanti. Yeoja itu kemudian merogoh kantong satu-satunya boneka pemberian Jungkook itu. Keras dan dingin. Tapi ia tidak mau berharap banyak.

Namun harapannya itu terkabul. Kenzie otomatis menatap Jungkook untuk meminta penjelasan.

“Ayo kita menikah.”

“Kau melamar apa memberi perintah sih?”

“Yakk tidakkah kau tahu bagaimana susahnya aku mengatakan itu”, seru Jungkook kesal, ia berdiri dengan tak percaya.

Kenzie memandangi cincin itu –tidak sama seperti yang kemarin tetapi ini jauh lebih indah dan entah kenapa terlihat sangat pas di jari manis Kenzie.

“Sudah berapa lama cincin ini ada dikantong Mickey?”

“2 tahun, kau saja yang terlalu bodoh tidak menyadarinya.”

Jinjjayo?”

“Aku bohong, aku baru menaruhnya hari ini.”

Yakk!”

“Hei dengar Kenzie Aurora Kim.” Jungkook memegang kedua bahunya dan mengunci pandangannya. “Kau tahu kan aku memang tidak romantis, pacar tukang paksa, inilah, itulah. Tapi yang pasti aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi ayo hidup bahagia bersama.”

Kata-katanya memang biasa, tetapi entah kenapa setetes air jatuh dari mata Kenzie. Mungkin karena kata-kata biasa itu keluar dari mulut Jeon Jungkook yang tidak biasa.

Tangan Jungkook bergerak untuk menghapusnya. “Pernahkah aku mengatakan kau cantik?”

“Saat hari ulang tahunku dan hari anniversary  kita, kau selalu mengatakan aku cantik.”

“Kau wanita paling cantik yang pernah aku temui.” Jungkook mendekatkan wajahnya dan untuk kesekian kalinya bibir mereka bertemu.

Kenzie mengutuk dirinya karena kecewa saat Jungkook menyudahi ciuman itu.

“Kenapa wajahmu merah?”

“Dingin”, jawabnya asal. Apa terlalu jelaskah? Sial.

Kenzie berjengit kaget saat merasakan tangan Jungkook melingkari tubuhnya. Tubuh Kenzie seperti terkena aliran listrik, apalagi saat Jungkook meletakan kepala di bahu kirinya. Tapi sekali lagi Kenzie harus bilang, ini sangat nyaman.

“Sekarang bagaimana?” suara Jungkook menggelitiki lehernya.

Panas. “Mendingan,” jawab Kenzie.

“Apa kau tahu kenapa aku lahir 2 bulan lebih cepat?”

“Karena kau yang terlalu aktif saat diperut Ibumu?” Kenzie merasakan Jungkook menggeleng, pria itu juga melepaskan back hug-nya.

“Karena sewaktu masih dikandungan Ibuku selalu bilang ‘Anakku cepatlah lahir, ada seorang perempuan cantik yang menunggumu, orangnya baik dan mau memasak untukmu, dia adalah anak teman Ibumu. Jadi cepatlah lahir sebelum dia diambil pria lain.’ Sejak saat itu aku ingin cepat-cepat keluar dan bertemu denganmu.” Tanpa ketinggalan adegan mengelus perut dilengkapi suara Ibu-Ibu yang tengah hamil Jungkook tampilkan.

“Aku memang sudah cantik sih, bahkan sejak bayi.” Kenzie memainkan rambutnya sembari tersenyum-senyum sendiri.

Terimakasih karena lahir 6 bulan lebih dulu dan sudah mau menungguku, Noona!”

“Yakk Jeon Jung-“ Kenzie tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Jungkook membekap mulutnya sekarang.

Kali ini bukan terkadang lagi, tetapi Kenzie selalu merasa nyaman berada didekat Jungkook –semenyebalkan apapun tingkahnya.

 

****FIN****

 

Huwaaaa judul apaan itu?? wkwkk

Sebenernya pengen bikin fic yang Jungkuknya romantis gitu tapi gatau kenapa belum bisa ngebayangin itu anak romantis, jadinya gini deh 😀

Jangan lupa RnR yaaa ☺

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Sometimes, Him… – (Vignette)

  1. sweetpeach98

    Wahahaha authornya mah bikin baper gitu yaaa XD gak perduli apa-apa tapi jungkook pekaan gitu orangnya XD
    Nice ficcc~

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s