[What is Your Color?] WAHAM – Oneshot

WAHAM

Judul                       : W A H A M

Nama Author            : youngmaster

Genre                       : Thriller . Dark . Psychological

Length                     : 2.962 words . Oneshot

Rating                      : PG-17

Cast                         : Jeon Jungkook, Kwon Heeyu (OC), Kim Seokjin

Disclaimer                : Fanfiction ini murni milik author. Semua cast milik Tuhan, kecuali untuk OC.

Summary                  : Jeon Jungkook sangat mencintai Kwon Heeyu, kekasihnya. Dan ia berpikir bahwa sahabatnya, Kim Seokjin juga  mencintai kekasihnya. Jungkook yakin Seokjin hanya tidak mengerti, ada yang salah dari Heeyu…

 

 

 

 

W A H A M

 

Apa kau lihat ada ketakutan disini?

Apa kau lihat ada air mata disini?

Apa kau lihat ada darah disini?

Apa kau lihat sebuah… kenyataan disini?

.

Detik demi detik berlalu tanpa terasa. Dinginnya malam menusuk kulit walaupun pada kenyataannya ia berada di dalam rumahnya. Duduk di depan meja makan, menanti seseorang yang tak kunjung datang sejak satu jam yang lalu yang telah dijanjikan.

Jeon Jungkook menungunya datang tanpa mengeluh. Dirinya hanya dipenuhi rasa takut. Banyak hal yang dibayangkannya dapat terjadi pada seseorang yang sangat ia cintai. Seolah Jungkook tidak bisa meninggalkannya barang sedetik. Ia harus bersama dengannya setiap waktu. Hanya karena takut. Takut sesuatu yang buruk terjadi.

Smartphone-nya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda dari kekasihnya. Mungkin ada beberapa pesan dari sahabatnya, Kim Seokjin, yang menanyakan keadaannya.

Keadaannya?

Bohong.

Jungkook tahu hal busuk apa yang ada pada diri Seokjin. Pemuda yang dikenalnya sejak dua tahun lalu itu sangat bermuka dua. Ia selalu datang menanyai kabarnya, namun bukan itu yang ia inginkan sebenarnya. Seokjin menginginkan kekasihnya.

Pemuda bermarga Kim itu menginginkan Kwon Heeyu.

Hal itu yang membuat Jungkook ketakutan setengah mati. Ah, tidak, ada hal lain yang ia takutkan sebenarnya. Jungkook benar-benar percaya tidak ada orang yang bisa mengerti Heeyu selain dirinya. Jungkook sudah sangat mengenal Heeyu, apalagi tentang kekurangannya.

Namun Jungkook mencintainya, benar-benar mencintainya sampai ia rela jika harus mati karenanya. Heeyu hanya membutuhkan cintanya, dan Jungkook yakin hanya dirinya yang bisa mengerti Heeyu. Bukan orang lain maupun Seokjin.

Heeyu yang dikencaninya sejak satu tahun lalu adalah sosok yang sangat sempurna bagi Jungkook. Dan Jungkook tahu, Seokjin berencana untuk merebutnya karena akhir-akhir ini sangat kentara sekali jika mereka bertemu, maupun bertatap muka. Ada sesuatu yang jahat dari Seokjin sehingga ia memutuskan untuk sering menemui mereka.

Dan segala lamunan Jungkook akan ketakutannya terinterupsi oleh suara pintu yang terbuka. Lalu langkah kaki cepat menuju meja makan. Heeyu datang dengan terengah-engah dan basah kuyup. Jungkook segera berdiri dan menanyakan keadaannya.

“Apa kau baik-baik saja, Sayang?”

Heeyu tersenyum agak kecut ketika Jungkook membelai rambutnya. Kemudian Jungkook segera berlari meninggalkannya menuju kamar mandi, mengambil handuk kering dan kembali dengan tergesa.

“Kau bisa sakit,” ucap Jungkook lembut sembari mengelap rambut dan tubuh Heeyu yang mulai menggigil. “Kita bisa lupakan makan malam.”

Aniya, Jungkook-ah.” Heeyu menggeleng pelan. “A-aku lapar, ayo kita makan.”

“Tapi kau kedinginan.” Jungkook menatapnya khawatir. “Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Kau bisa sakit. Atau kau mau kusiapkan air hangat untuk mandi?”

Heeyu menggeleng.

“Coklat panas?” tanya Jungkook lagi. Tangannya melingkarkan handuk itu pada tubuh Heeyu. “Kau bisa sakit dan mengganggu aktifitasmu besok. Pasti kau akan sibuk dan meninggalkanku lagi, bukan?”

Gadis yang lebih pendek darinya itu menatap matanya. “Aku bekerja untuk kita, Jungkook. Maaf, bukan aku bermaksud meninggalkanmu.”

Jungkook mengangguk mencoba mengerti. Namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukanya pada pekerjaan yang ditekuni kekasihnya sebagai wartawan—profesi yang sama dengan Seokjin.

“Aku tidak bersama Seokjin jika itu yang kau pikirkan. Memang kita berada pada agensi yang sam—“

“Aku bahkan tidak berpikir tentang itu tapi kau mengucapkan nama Seokjin lagi.” Jungkook memotong kalimat Heeyu. “Aku tidak habis pikir kau benar-benar memikirkan orang itu.”

Heeyu menatapnya.

“Apa saja yang sudah ia lakukan sampai kau berpikir bahwa dia lebih baik dariku?”

Mwoya?!” Suara Heeyu meninggi. “Jungkook, apa kau sudah gila?”

Jungkook tidak menjawabnya.

Lalu Heeyu menepis tangan Jungkook yang semula pada bahunya. Ia berjalan agak marah ke arah meja pantry dan mengambil sebilah pisau.

“Heeyu…”

Heeyu tidak menjawab lantaran berjalan ke arah Jungkook sambil membawa pisau tersebut. Jungkook sudah sangat mengerti akan Heeyu. Ia mengklaim dirinya yang sangat mengerti Heeyu. Karena ia yakin tidak ada orang lain yang mampu melakukan hal ini seperti dirinya.

Dengan luka-luka di tubuh Jungkook yang masih agak basah maupun sudah mengering, Heeyu meminta lengan Jungkook dan diberikannya tanpa perlawanan. Ia mengerti dan melakukannya dengan rasa cintanya pada Heeyu saat gadis itu menggoreskan mata pisau pada lengannya yang belum terluka. Satu sayatan. Lagi. Lagi. Tidak dalam namun cukup untuk mengalirkan darah.

Lalu Heeyu menjerit dan melempar pisau itu ke lantai. Dan gadis berambut brunette itu menangis.

Jungkook tidak meringis, atau berpikir akan meninggalkan Heeyu atas kebiasannya yang seperti ini. Ia hanya mengambil satu langkah lebih maju, merengkuhnya dalam sebuah pelukan. Dan membiarkan Heeyu menangis.

+++

Hari-hari Jungkook berakhir kembali pada rasa takut. Ia tidak akan pernah merasa tenang seumur hidupnya jika kekasihnya berada diluar sana tanpa ia ketahui apa yang dilakukannya. Heeyu harus pergi, bekerja demi mereka alasannya. Dan Jungkook tidak melakukan apapun sejak kecelakannya beberapa bulan lalu yang membuat ia mengalami patah tulang. Ia harus beristirahat walau sebelum kecelakaan itu ia memang harus selalu beristirahat. Mungkin karena tidak ada yang ia kerjakan atau apa? Atau Jungkook dilarang mengetahui realita kehidupan yang akan membuatnya takut kehilangan?

Seokjin bahkan melarangnya untuk keluar.

Apa jika ia keluar rumah ia akan memergoki Seokjin sedang berkencan dengan Heeyu?

Semua ketakutan itu berkumpul pada benaknya, hingga sekarang. Padahal Jungkook ingin sekali membawa Heeyu ke taman bermain, mengajaknya berkencan hingga ia gembira. Sehingga Heeyu tidak perlu menjadi pemurung yang selalu emosi terhadap Jungkook, lalu melampiaskannya dengan semua luka dan darah ini.

Jungkook sebenarnya tak apa. Ia sudah tidak peduli akan sakit semenjak ia bersama Heeyu. Jungkook akan melakukan apapun agar Heeyu tenang. Karena ia yakin hanya ia yang bisa mengerti dirinya. Dan hanya ia yang bisa mencintai Heeyu sepenuh hati.

Lalu tiba-tiba smartphone-nya berdering. Seokjin menghubunginya.

“Ada apa?” tanya Jungkook dingin pada Seokjin di ujung line telepon saat ia baru menerima panggilannya.

“Apa kau bersama Heeyu?”

“Berhenti tanyakan dirinya, Seokjin!” Jungkook membentaknya. “Sudah kubilang aku tahu apa yang ada dipikiranmu.”

Aah, tidak Jungkook. Aku hanya bertanya karena ia tidak ada saat aku tanya rekan yang lain.” Seokjin menjawab pelan. “Kukira ia tidak berangkat hari ini.”

“Jangan pernah mengganggunya, Seokjin. Aku peringatkan kau, untuk yang terakhir kali.” Jungkook mengigit giginya. “Jangan harap kau bisa mencintai Heeyu seperti aku mencintainya.”

Tutt!

Jungkook melempar smartphone-nya ke sofa dan mendesah berat. Tidak ada yang bisa mengerti Heeyu seperti dirinya, perlu ia ingatkan sekali lagi. Hanya Jungkook yang bisa. Hanya Jungkook yang bisa menerima segala kekurangan dari gadis yang tiba-tiba muncul dari balik pintu di siang hari seperti ini.

“Apa kau kembali?” Jungkook menyambutnya dengan pelukan hangat.

Heeyu tersenyum tipis.

“Sudah makan?”

Jawabannya hanya senyuman tipis lagi. Heeyu segera mengarahkan kakinya pada ruang tengah, dan duduk di sofa sambil bersandar. Jungkook mendekat dan mengusap kepalanya.

“Mau kubuatkan jus apel? Atau jeruk?”

Heeyu menggeleng.

“Ada apa?” Jungkook berlutut dihadapannya lalu meraih tangannya. “Tampaknya ada sesuatu yang kau pikirkan.”

Lalu Heeyu menggeleng lagi.

Jungkook menatapnya penuh rasa khawatir. “Tell me, please.” Dan setelah itu raut wajahnya menjadi sedih. “Atau karena pria yang kau ajak kemari? Yang kau kenalkan sebagai temanmu?”

Pupil mata Heeyu membesar mendengarnya.

Jungkook menariknya dalam sekali pelukan erat. “Aku tahu. Aku tahu dunia berat, Sayang. Dunia memang berat.”

Bahu Heeyu bergetar. Gadis yang paling ia cintai menangis lagi. Lagi dan lagi. Air mata karena perbuatan orang-orang yang berani menyakiti Heeyu.

Jungkook yakin, pria yang Heeyu ajak untuk bertemu dengannya tiga hari yang lalu adalah pria yang membuat segala kemurungan Heeyu. Pria yang pasti telah merebut beberapa pekerjaan Heeyu sehingga posisinya sebagai wartawan yang paling diandalkan tersingkir.

Heeyu sangat membencinya dan ingin Jungkook mengerti—Jungkook tahu hal itu. Heeyu membawanya ke rumah, memperkenalkannya sebagai teman, lalu menginginkan Jungkook menjadi saksi bisu atas sebuah pembunuhan.

Tidak terlihat seperti Heeyu-nya yang manis saat gadis itu menikam tubuh pria itu berkali-kali hingga ia kehilangan napasnya. Tapi Jungkook mengerti rasa sakit Heeyu selama ini. Dan apapun akan Jungkook lakukan demi membuatnya bahagia.

Jungkook melepaskan pelukannya dan berdiri perlahan. Ia menggenggam tangan Heeyu, memintanya untuk ikut dengannya. Heeyu mau saja saat Jungkook menuntunnya ke gudang—hanya ruang tak terpakai di rumah sederhana itu.

Disana Jungkook melepaskan genggaman tangannya. Berjalan pada sebuah lemari tua dan mengeluarkan sesuatu dari sana—menariknya.

Sesosok tubuh tanpa pakaian meringkuk di dalam tas selimut transparan yang kini sudah tanpa angin. Jungkook melakukannya agar bau busuk mayat itu tidak tercium. Sehingga sakit hati Heeyu terbalas tanpa ada pihak yang disalahkan.

“Aku melakukan ini untukmu.” Jungkook tersenyum getir. “Kau tidak akan disalahkan oleh orang-orang, dan pria ini bisa mendapatkan balasannya.”

Itu adalah tubuh pria yang Heeyu tikam habis-habisan hingga kehilangan nyawanya.

Heeyu menutup mulutnya, tidak percaya dengan pengorbanan Jungkook. Namun Jungkook mengerti, mungkin suasana hatinya memang sedang buruk sehingga dia mengambil sebatang kayu dari kaki meja yang sudah patah, dan memukulkannya pada perut Jungkook.

Hanya desisan kecil yang keluar sebelum pukulan kedua dilayangkan.

Buagh!

Jungkook tidak apa-apa jika harus seperti ini selamanya. Ia rela walau kekasihnya memiliki semacam kekurangan seperti ini. Jungkook tidak pernah mengeluh.

Heeyu menangis dan memukul Jungkook kembali namun pada bagian pahanya.

Buagh!

Ia menangis terisak dan hal itu membuat Jungkook sakit. Sakit yang menyayat hatinya, bukan pada tubuhnya. Persetan dengan semua luka ini. Jungkook hanya tidak ingin Heeyu-nya yang berharga berubah menjadi sosok pendiam yang lebih suka menangis.

“Heeyu,” ucap Jungkook pelan.

Heeyu memukulnya lagi sebelum menatapnya.

“Aku mencintaimu, Heeyu.”

Dan jawaban Heeyu hanya gelengan.

+++

Malam harinya, setelah Heeyu menangis seharian, akhirnya gadis itu tertidur. Jungkook membiarkannya beristirahat di kamar. Dan pemuda ini sama sekali tidak melakukan hal apapun hingga terbesit sesuatu pada otaknya.

Jungkook berjalan pada meja rias milik Heeyu. Ia tidak pernah memikirkan hal ini namun sesuatu harus dibuktikan kebenarannya. Sehingga ia membua satu-per-satu laci yang ada disana dengan hati-hati agar tidak membangunkan gadis yang masih tertidur di atas ranjang, dan mencari hal apa yang janggal. Sampai ia temukan beberapa mata pisau cutter dan beberapa bercak darah yang sudah mengering.

Mengerikan.

Walau ini tidak menjawab semuanya namun tetap saja hal ini mengerikan. Jungkook berharap menemukan buku catatan atau apapun yang bisa menjelaskan mengapa Heeyu seperti ini.

Sampai akhirnya suara pintu diketuk terdengar.

Jungkook terkesiap dan menoleh ke arah Heeyu yang masih tertidur. Dia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam lalu mendesah pelan. Tanpa menutup laci, Jungkook berjalan keluar kamar dan menghampiri pintu depan. Tidak berpikir siapa yang datang, Jungkook sudah tahu sebelum akhirnya terjawab saat ia membuka pintu.

Seokjin yang basah kuyup berdiri disana.

Suara petir terdengar dari arah luar dimana sedang turun hujan yang cukup lebat sebelum Seokjin bertanya.

“Bagaimana… keadaanmu?”

Buagh!

Tanpa basa-basi, Jungkook memukul rahang Seokjin dengan kepalan tangannya. Tubuh Seokjin terdorong sedikit—ia masih sanggup menahan dirinya tidak jatuh. Lalu memegang rahangnya tanpa meringis.

“Jauhi Heeyu, Brengsek!”

Seokjin menggeleng. “Kau salah paham, Jungkook.”

“Salah?” Jungkook mendecih. “Jauhi dia atau aku akan membunuhmu!”

“Aku khawatir padamu, Jungkook.” Seokjin masih bicara dengan suara halus.

Namun Jungkook yang naik pitam tidak mengindahkannya. “Teman macam apa yang berusaha merebut kekasih temannya?!”

“Aku serius, Jungkook.” Seokjin mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Aku menghawatirkanmu.”

“Sejak kapan kau menghawatirkanku? Sejak kecelakaan? Kau sudah bertingkah aneh sejak aku dan Heeyu berpacaran!” lalu Jungkook menarik kerah baju Seokjin semakin marah. “Jangan bertingkah seolah kau adalah teman yang baik!”

Buagh!

Kemudian satu pukulan lagi yang Seokjin terima di tempat yang sama.

Seokjin sedikit merintih dan saat Jungkook hampir memukulnya lagi, suara Heeyu dari arah belakang menghentikannya. Ia datang sambil menangis.

“Berhenti, Jungkook.” isaknya. “Seokjin tidak melakukan apapun.”

Kalimat yang seolah membela Seokjin itu membuatnya semakin marah. Terlebih ketika Heeyu berdiri dihadapannya, melindungi Seokjin darinya.

“Apa yang kau lakukan, Heeyu?”

Heeyu menggeleng sambil menangis.

Lalu Jungkook bisa melihat Seokjin menyentuh bahunya, membuat Heeyu menoleh lalu mereka bertemu tepat pada mata. Jungkook marah namun Heeyu lebih dahulu mendorong tubuhnya sebelum melakukan apapun.

“Berhenti berbuat gila, Jeon Jungkook!”

Seokjin segera menarik lengan Heeyu untuk mengikutinya keluar. Pupil mata Jungkook membesar. Ia menyusul mereka yang kini berada di samping motor milik Seokjin.

“Biar Heeyu ikut denganku.”

Wajah Jungkook memerah karena marah. Heeyu masih menangis tanpa melakukan apapun.

You don’t fucking understand her!” bentaknya. “Hanya aku! Aku yang mengerti Heeyu! Dan tidak ada yang bisa mencintainya selain aku!”

Seokjin menggeleng pelan. “Aku menyayangimu Jungkook.” ucapnya. “Kau harus mengerti.”

Mengerti? Apa Seokjin bertingkah seolah dia menyelamatkan hidupnya? Membawa Heeyu pergi agar Heeyu tidak menyiksa Jungkook lagi? Apa Seokjin berusaha melakukan hal itu atas nama sahabat?

Persetan!

Jungkook tahu bukan hal itu yang Seokjin maksud. Seokjin pasti tidak mengetahui kebiasaan buruk apa yang Heeyu lakukan. Ia hanya ingin merebut Heeyu darinya.

Seokjin teman baiknya pasti ingin merebut Heeyu darinya.

Dari semua pemikiran itu, dan dengan pengelihatannya yang merekam bagaimana Seokjin menuruh Heeyu untuk menaiki motor, Jungkook berontak dan mendorong tubuh Seokjin ke tanah yang basah. Memukul kepalanya dengan kepalan tangannya, lalu memukul pipinya. Heeyu menjerit dan meminta Jungkook berhenti. Tapi Jungkook dikuasai emosi atas semua pemikirannya, sehingga ia melakukan hal apapun untuk membuat Seokjin berhenti. Seperti sebuah batu sekepalan tangan yang ia temukan, yang ia pukul ke kepala Seokjin dan membuatnya pingsan.

Sampai air hujan yang turun pada kepalanya membawa aliran merah yang keluar dari sebuah sobekan pada kepala Seokjin.

Jungkook yang semula terbawa tubuhnya ke tanah berdiri perlahan, menatap Seokjin yang tidak sadarkan diri. Lalu dibelakangnya Heeyu menangis menutup mulutnya. Jungkook segera menarik tangannya dan membawanya kembali ke dalam rumah.

Heeyu berontak namun tenaga Jungkook lebih kuat darinya, sehingga ketika Jungkook membawanya ke kamar, ia tidak bisa kabur.

“Kau gila, Jungkook! Kau gila!”

Bukan Jungkook tidak mencintainya, tapi Jungkook dalam keadaan terancam. Kekasihnya berubah dan Jungkook yakin itu karena Seokjin. Dan apa ia akan diam saja sampai detik ini? Tidak. Ini terakhir.

“Apa hubunganmu dengan Seokjin?!”

Heeyu menjerit dalam tangisnya. “Aku dan Seokjin tidak ada hubungan apapun!”

Bohong.

Jungkook yakin itu sebuah kebohongan.

“Katakan padaku.” Jungkook berdiri di hadapannya lalu meremas bahunya. “Katakan padaku—“

“Tidak, Jungkook!” Heeyu menepisnya lalu mundur menjauh. “Bisa kau berhenti? Seokjin tidak melakukan apapun…”

“Apa yang kau sebut dia tidak melakukan apapun?” Suara Jungkook meninggi. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau berubah dan kini kau lebih membelanya!!”

Heeyu semakin mundur hingga menabrak laci yang semua Jungkook buka.

Keduanya menoleh ke arah laci itu, saling melirik sekitar satu detik, lalu Heeyu dengan cepat mengambil mata pisau cutter tersebut.

“Berhenti Jungkook,” tangisnya. “Kumohon berhentilah.”

“Kau yang seharusnya berhenti…” Jungkook berjalan mendekat saat suaranya melemah. “Hanya aku yang mencintaimu, Heeyu. Hanya aku yang mengerti dirimu…”

“Tidak, Jungkook. Kau sama sekali tidak mengerti.” Isaknya.

Jungkook mendekat perlahan bermaksud untuk menyingkirkan cutter itu dari tangannya. Namun Heeyu yang tahu pergerakannya segera mengibaskan cutter itu asal sehingga melukai lengan atas Jungkook.

Cairan merah merembes pada kaos putih yang ia kenakan.

“Berikan itu padaku…” ucap Jungkook lembut. “kau harus berhenti melakukan ini demi kebaikanmu.”

“Kau yang harus berhenti, Jungkook!” Heeyu menodongkan cutter di tangannya sehingga Jungkook kesulitan mendekat.

Jungkook membalasnya dengan gelengan.

Heeyu masih menangis, menodongkan cutter itu. Dan Jungkook bergerak cepat untuk merebutnya, namun Heeyu berhasil membuat luka lagi—kali ini pada perutnya.

Jungkook meringis.

“Heeyu, hanya aku yang mencintaimu…”

Heeyu terisak dan menggeleng.

“Heeyu…”

Ekor mata Jungkook bergerak, mencari celah. Dan disaat ia pikir Heeyu lengah, Jungkook menerjangnya untuk merebut cutter itu, namun Heeyu berhasil menebasnya lagi. Entah bagian mana yang terluka, Jungkook rasa ini lebih sakit. Tetapi ia berusah merebutnya lagi dari Heeyu yang berontak. Dan sampai akhirnya Heeyu berhenti.

Cutter itu menancap pada dadanya, dan Jungkook juga tidak mengerti saat tubuhnya melemah dan ia terduduk. Hingga ia melihat darah mengalir dari lehernya.

Tapi Jungkook menangis melihat Heeyu terbatuk seperti dirinya. Heeyu menatap Jungkook lalu pada dadanya sendiri sambil mengeluarkan air mata. Jungkook mendekat, berusaha memegang cutter itu dan bermaksud untuk menariknya keluar, tapi Heeyu mendorongnya semakin dalam.

Seolah ia bunuh diri…

Jungkook ingin merengkuh tubuhnya tetapi pandangannya mulai gelap. Suaranya mulai hilang. Dan akhirnya kesadarannya.

“Jungkook! Heeyu!”

+++

Apa kau lihat sebuah… kenyataan disini?

 

Ia duduk sendiri di ruangan yang dingin itu. Hatinya terasa ngilu, sama sekali tidak pada lukanya. Ia tidak mengharapkan hal ini terjadi. Dan ia sama sekali tidak mengharapkan ada di situasi seperti ini.

Langit masih gelap karena hujan yang tak kunjung reda. Kursi dari besi ini berhasil membuat tubuhnya semakin dingin. Sampai akhirnya seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Tersenyum tipis saat pandangan mereka bertemu.

Lalu seseorang itu duduk di hadapannya.

“Bisa kita mulai, Kim Seokjin?”

Ia—Seokjin—mengangguk pelan. Ia menggigit bibir bagian dalamnya sebelum memulai, menatap seseorang di hadapannya yang berusaha mengetahui kebenaran dengan matanya yang sembab.

“Saya dan Heeyu adalah seorang wartawan, kami sering bertemu karena pekerjaan kami.” Ia memulai dengan suara serak. “Dan Jungkook adalah teman baik saya—lebih lama saya kenal daripada dengan Heeyu. Hubungan saya dan dia baik-baik saja, sampai ia berpacaran dengan Heeyu lalu ia mengalami kecelakaan.”

Seokjin menatap lawan bicaranya yang mendengarkannya secara seksama. Lalu ia mencoba menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Ini sudah sering terjadi sejak kami masih kuliah. Namun saya selalu melindungi Jungkook sehingga emosinya masih bisa stabil dan terkontrol. Lalu keluar kuliah, ia bertemu dengan Heeyu. Jungkook sangat mencintainya. Dan sebuah kecelakaan terjadi, membuat ia bangun dari koma dalam keadaan begitu takut kehilangan.” Seokjin menatap langit-langit sebentar untuk menetralkan suaranya yang mulai bergetar. “Dari situlah, Skizofernia yang ia miliki menjadi menggila.”

.

“Seokjin…”

“Kau bisa menghubungiku, Heeyu? Bukankah kau sedang bersama Jungkook?”

“Jungkook sudah tidur. Hari ini Jungkook mengambil pisau dan melukai lengannya lagi setelah ia menyinggung namamu.”

.

“Seokjin…”

“Ya?”

“Kau ingat tentang psikiater yang kau kenalkan padaku?”

“Ya, Heeyu. Kau sudah menemuinya?”

“Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Hiks…”

“Ada apa Heeyu?”

“Aku… aku sudah membawa psikiater itu ke rumah…”

“Lalu…?”

“J-Jungkook… hiks…”

“Tenangkan dirimu, Heeyu. Katakan padaku…”

“Ju-Jungkook… membunuhnya… dan hari ini dia memperlihatkan mayatnya padaku… hiks…”

.

“Seokjin…”

“Aku rasa ini sudah tidak bisa kita lewati, Heeyu. Maaf aku tidak memberitahu tentang Jungkook sebelumnya. Dia anak yang baik. Tidak kusangka kecelakaan itu membuat dirinya semakin menggila…”

“M-maaf… bisa kau kemari hari ini? Aku sudah tidak tahan…”

“Dimana kau sekarang?”

“A-aku sedang di kamar mandi. Cepatlah. Ia pasti curiga jika aku berlama-lama kemari… hiks…”

“M-maaf, Heeyu, aku sedang di luar kota. Tapi aku akan kesana sekarang. Mungkin aku akan sampai sebelum jam sebelas malam.”

Hiks… Seokjin… aku mencintai Jungkook, tapi bukan seperti ini…”

+++

 

Skizofernia adalah gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Seorang yang mengalami skizofrenia seakan-akan memiliki dunia sendiri.

WAHAM = DELUSI

 

fanfic by youngmaster

Advertisements

14 thoughts on “[What is Your Color?] WAHAM – Oneshot

  1. Hyeri17

    Jujur, pertama-tama okelah aku ngerti tapi pas bagian epilogue nya aku jadi bingung. Aku awal ngira Heeyu nya yang gila masa pulang-pulang langsung ngelukain Jungkook. Tapi untungnya ada commentnya author jadi aku ngerti maksud ceritanya. Makasih, thor! Keep writing :))

    Like

  2. sweetpeach98

    Aku kira Heeyu yang gila tapi ternyata….
    Ahhh aku ngerti sekarang mengenai penjelasan skizofernia tadi, jadi Jungkook punya dunianya dia sendiri yang menurutnya dia bener, Aduhhh Mas kamu bangun bangun dari koma jadi gila gitu 😦
    Nice ficcccc!!!! Aku makin ngerti waktu baca epiloguenya XD ternyata yang di bunuh sama Jungkook itu psikiater (mungkin Jungkook gamau sembuh)

    Like

    1. YoungMaster

      Iya bener. Jadi singkatnya Jungkook itu setelah koma terlalu takut kehilangan Heeyu jadi, penyakit parah. Terus sebenernya Heeyu itu pingin Jungkook sembuh makannya dia kenali psikiater tapi karena Jungkook punya ‘dunia sendiri’ Jungkook kira Psikiater itu nyakitin Heeyu jadi dia bunuh.
      Btw, makasih banyak udah baca ff ini. Gomawooooo😄😄😄😄

      Liked by 1 person

    1. YoungMaster

      Hehe…. Sebenernya Heeyu gak lukain Jungkook. Cuman Jungkook kan punya ‘dunia sendiri’ jadi Jungkook itu seolah merasa Heeyu ngelukain dirinya. Padahal yang lukain dirinya itu Jungkook sendiri
      Makasih banyak yaaaa udah mau baca ff ini. Gomawo chingu

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s