[BTS FF Freelance] A Cup of a Forgotten Memory – Oneshot

One-shot Collaboration Poster

A Cup of a Forgotten Memory

Author: @-milkyaway @haeminchan
Genre: Angst, Sad-Romance
Length: One-Shot
Rating: PG-13

Disclaimer: Park JiMin yang terlibat di sini milik Tuhan, Big Hit Entertainment, dan milik keluarganya. Tapi alur cerita ini murni milik @-milkyaway dan @haeminchan sebagai hasil karya kolaborasi keduanya. Mohon hargai karya kami dengan tidak menjiplak dan memberikan komentar yang membangun untuk penulis. Terima kasih.

Cerita ini juga di post di akun wattpad milik @flowdememoire: [One-Shot] A Cup of a Forgotten Memory

Hampir setiap hari, setiap ia pulang sekolah, yeoja dengan name tag bertuliskan ‘Kim RinAh’ itu datang ke kafe bernama Flow de Mémoire hanya untuk memesan makanan yang sama. Sepiring Strawberry Waffle dan secangkir Vanilla Latte sambil memainkan jarinya yang lentik menulis di buku yang selalu ia bawa.

Tanpa RinAh sadari seorang barista muda dengan name tag ‘Park JiMin’ yang tersemat dengan apik di kemeja kerjanya selalu memperhatikannya dari jauh.

Dengan tatapan sendunya, berharap gadis itu melihat ke arahnya. Berharap segala kejadian dahulu disaat ia dapat mendengar suara tawa yang keluar dari bibir plumnya akan terulang kembali. Berharap seulas senyuman kembali terlukis indah di wajah manisnya. Berharap bahwa memori indah yang mereka jalani dan sampai sekarang masih setia terputar di benak JiMin dapat kembali terulang.

Seperti hari-hari sebelumnya RinAh kembali menapakkan kakinya ke dalam kafe dan mengambil tempat duduk di ujung dekat jendela dengan tatapan kosong. Gadis itu perlahan meletakkan tas merah jambunya di atas sofa dan mencoba membuat dirinya senyaman mungkin berada di sana.

Kini tangannya terulur untuk membuka lembar demi lembar menu makanan yang sudah tersedia di meja itu—bermaksud untuk memesan sebuah kudapan yang dapat memberi kehangatan bagi perutnya—hingga sebuah suara menginterupsi dan sontak menghentikan kegiatannya tersebut.

Vanilla Latte dan Strawberry Waffle pesanan Nona…”

Terkejut dengan suara halus dan sebuah tangan yang tiba-tiba terulur membawa harum secangkir kopi yang menggelitik indera penciumannya, RinAh secara tidak sadar segera mendongakkan kepalanya. Menemukan sepasang mata yang entah mengapa dapat menyalurkan kehangatan ke dalam relung hati gadis itu.

“Silakan dinikmati Nona…”

AAh iya, terima kasih banyak…”

Baru saja pemuda itu akan pergi dari meja RinAh, tangan mungil gadis itu sudah lebih dahulu terulur, menarik ujung apron hitam yang di melekat dengan apik di pinggang pemuda tadi.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?”

Eh? Umm, itu…,” merasa dirinya sudah bertindak cukup memalukan, RinAh pun segera memutar otaknya untuk mencari sebuah jawaban yang mungkin terdengar masuk akal untuk dikatakan, “…Oh! Kenapa kau bisa tahu aku akan memesan makanan ini… uh? J-JiMin-ssi? Ya, Park JiMin-ssi?

Pandangan Jimin yang tadinya masih terfokus pada kedua pipi RinAh yang merona sempat terlihat membulat beberapa saat sebelum akhirnya ia paham, gadis itu mengetahui namanya dari name tag pegawai yang dia pakai.

“Bukannya kau selalu memesan ini RinAh-ya?” Balas JiMin memandangi manik mata kecokelatan milik RinAh yang kini menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.

Huh? Benarkah?” Ucap RinAh terlihat bingung.

“Kalau begitu permisi Nona, saya harus kembali ke belakang.” Tambah JiMin sembari tersenyum simpul lalu pergi meninggalkan RinAh yang masih mematung di mejanya.

Sepeninggalan JiMin dari hadapan RinAh, gadis itu masih duduk terdiam. Tidak menyentuh makanan yang tadi disodorkan pemuda itu padanya walau pada kenyataannya perutnya meronta-ronta minta diisi.

Pikirannya kembali berputar pada kejadian yang di alaminya beberapa detik yang lalu.

“RinAh? … biasa memesan makanan ini? RinAh? … dia mengenalku? D-Dia mengenalku?! T-Tunggu sebentar… siapa namanya tadi?”

Menyadari bahwa ia lagi-lagi melupakan sosok orang yang baru saja berbicara dengannya ditambah lagi ia tidak menuliskan nama pemuda itu di dalam buku catatan berwarna ivory yang kini telah berubah menjadi otak keduanya, RinAh langsung menepuk keningnya dan mengacak puncak rambutnya dengan perasaan kesal.

“Dasar RinAh bodoh!”

Tidak menyadari bahwa kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang kafe—dan tentu saja pusat perhatian bagi sosok JiMin yang sedang sibuk membuat kopi di balik counter bernuansa kayu di belakang sana—RinAh segera mengeluarkan buku catatannya dan menyuapkan sesendok penuh waffle ke dalam mulutnya.

Sembari menyesap perlahan secangkir Vanilla Latte yang selalu dapat menenangkan hatinya, ia membuka lembaran demi lembaran buku catatannya itu dan sesekali tersenyum saat membacanya. Hingga akhirnya RinAh sampai pada sebuah halaman yang terselip selembar kertas yang terlipat rapi di dalamnya.

Dengan berbagai rasa penasaran yang mulai bermunculan di benaknya, RinAh mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama.

.

.

2015.10.13

Saengil chukha hamnida Minnie-ya! Selamat ulang tahun teman terbaik sedunia!

Semoga kau semakin tinggi–walau aku tahu kau sudah tidak akan bertambah tinggi lebih dari sekarang, tapi ya… tidak masalah bukan mendoakan hal seperti itu untukmu? hahahaha. Lalu, semoga kau bertambah tampan, suaramu yang merdu itu semakin bertambah matang, dan satu lagi! Kau semakin jago dalam membuat kopi! Karena lain kali aku akan memintamu untuk membuatkan secangkir Vanilla Latte khusus untuk temanmu Kim RinAh yang cantik ini! Bersiap-siaplah Park JiMin, kalau sampai kopi buatanmu tidak enak… aku takkan lagi mau mengunjungi kafe milik kakakmu itu!

Hahaha aku hanya bercanda chinguya

Tentu saja aku akan selalu mengunjungi kafe kakakmu dan memintamu untuk menyiapkan secangkir minuman kesukaanku itu bagaimana pun nanti rasa yang dihasilkannya.

Sekali lagi, saengil chukhahae Park JiMin-ssi! Neomu-neomu-neomu saranghaeyo Park JiMin-ssi!

Teman baik yang akan selalu menyayangimu,
Kim RinAh

.

.

Tanpa terasa air mata gadis itu turun. Menetes membasahi kertas yang sudah mulai menguning dalam genggamannya. RinAh yang menyadari air matanya itu buru-buru mengusap kasar wajahnya. Tapi kegiatannya itu terhenti ketika ia menyadari seseorang memeluknya dari belakang.

“RinAh, uljima…”

Sekali lagi RinAh merasakan kehangatan yang menjalar kedalam tubuhnya. Namun, kehangatan yang membungkus raganya itu hanya semakin menyakitkan hatinya. Air mata yang tadinya masih setia menggenangi pelupuk matanya tumpah dan isak tangis yang memilukan keluar begitu saja dari mulutnya.

“Apa kau sudah merasa lebih tenang?”

RinAh mengangkat lembaran tissue yang tadinya masih setia bertengger di wajahnya dan menoleh ke samping. Lebih tepatnya ke arah pemuda yang telah berbaik hati meminjamkan bahunya untuk menjadi sandaran bagi gadis yang mulai lelah dengan keadaan hidupnya itu.

Masih mencoba menghentikan isakan kecil yang lolos dari mulutnya, RinAh pun menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum manis. Sangat manis hingga menyebabkan pemuda yang ada di sampingnya itu juga ikut tersenyum. Namun, berbeda dengan senyuman RinAh, pemuda itu tersenyum sendu dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.

“… iya, aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih…?”

“JiMin. Park JiMin.”

“Terima kasih, JiMin-ssi… kau baik sekali.”

JiMin tidak menjawab lontaran kalimat dari mulut RinAh itu dan hanya tersenyum menanggapinya. Masih setia memerhatikan gadis yang masih terlihat cantik walau mata bengkak dan jejak-jejak air mata masih tercetak dengan jelas di wajahnya.

“Aku… sebenarnya juga tidak mengerti kenapa air mata sialan ini bisa keluar seenaknya sendiri tanpa kuhendaki—hanya saja perasaanku…,” RinAh menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung tadi, “… hatiku sungguh terasa sakit saat aku membaca surat ini.”

Tidak berusaha menanggapi perkataan gadis itu, JiMin terus saja memandangi sosok RinAh dalam diam. Mencoba menyembunyikan luka yang semakin terasa perih saat mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut mungil gadis kesayangannya itu.

“… aku bahkan sama sekali tidak bisa mengingat siapa orang yang selalu menjadi objek pembicaraan dalam notes ini, tapi aku tidak mengerti kenapa semua hal yang ditulis di dalam notes ini membuatku semakin merindukan sosok ini! Katakan padaku Tuan! Apakah aku salah karena telah melupakannya? Melupakan orang yang selalu menemaniku, melindungiku, dan mencintaiku lebih dari dirinya sendiri? Apakah aku salah?”

Melihat sosok gadis yang disayanginya itu menatapnya dengan sorot terluka, sontak membuat JiMin kembali membawa RinAh ke dalam dekapannya dan menepuk perlahan punggung RinAh agar gadis itu merasa tenang. “Kau tidak bersalah RinAh-ya… kau tidak bersalah…”

“T-Tapi aku…”

“Baiklah kalau begitu,” kali ini pemuda kelahiran 1995 itu melonggarkan pelukan dan menarik tangan RinAh dalam genggamannya, berdeham selama beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali berkata, “aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu. Tentang seorang gadis yang mengidap penyakit Alzheimer dan akhirnya melupakan semua orang yang ada di hidupnya termasuk identitas dirinya sendiri, dengan seorang barista pembuat kopi di Flow de Mémoire bernama Park JiMin.”

“… apa yang terjadi pada mereka?”

“Gadis periang itu, bernama Kim RinAh. Saat ini seharusnya dia berumur 20 tahun tapi… tapi sudah hampir dua tahun, gadis itu di diagnosis menderita penyakit Alzheimer—sebuah penyakit yang menyerang otaknya dan membuat gadis itu kehilangan jati diri dan seluruh memorinya secara perlahan-lahan.”

JiMin menghentikan kalimatnya. Mencoba menata semua perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya agar menjadi lebih tenang. Mengambil napas dan mengembuskannya perlahan. Dan kini manik cokelat itu menatap dalam-dalam ke arah RinAh. Ke arah gadis bersurai panjang yang masih menatap sosoknya dengan sorot penasaran.

Perlahan cerita pun keluar dari mulut JiMin. Cerita yang sebenarnya sudah tiada henti ia ceritakan kepada gadis di depannya ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Cerita yang sama tentang sesosok gadis bernama RinAh dan JiMin yang sebenarnya telah berteman baik sejak kecil. Cerita tentang bagaimana keduanya menjalani hari-hari mereka penuh canda tawa dan kebahagiaan. Hingga akhirnya kecelakaan itu merenggut semua kebahagiaan yang terjalin dengan indah dalam hidup mereka.

“… kecelakaan yang sempat melukai kepalanya itu di perkirakan sebagai salah satu penyebab mengapa Kim RinAh mempunyai penyakit ini. Penyakit yang tidak seharusnya di derita oleh gadis berumur 20 tahun dengan masa depan yang cerah seperti dia.”

Lagi-lagi JiMin menghentikan ucapannya. Rasa sesak yang di rasakan di dalam dadanya semakin mencekiknya. Membuat setiap kalimat yang ingin ia utarakan dalam sekejap menghilang di telan pahitnya air ludah yang perlahan membuat tenggorokannya perih.

Air mata yang kembali mengalir di pipi RinAh lah penyebabnya. Segala macam rasa bersalah, rindu, sayang, dan berbagai macam perasaan yang lain tercetak dengan jelas di manik hazelnut gadis yang masih menggenggam kedua tangan JiMin dengan erat.

Lirihan kecil suara gadis itu saat memanggil namanya lah penyebabnya. Suara yang sejenak menumbuhkan harapan di dalam hati JiMin bahwa gadis itu, Kim RinAh, mengingat dirinya walau hanya sebentar. Walau hanya sekejap saja.

“M-Maaf… maafkan aku Tuan… aku tidak tahu kenapa aku menangis—aku tidak tahu kenapa air ini keluar dari mataku. Aku hanya tidak bisa mengendalikannya. Ak—”

Semua pernyataan yang keluar dari mulut RinAh menghilang seketika bibir manis JiMin mengecup dan menyalurkan semua perasaan yang tercipta hanya untuk gadis itu seorang. Mencecap dan melumat sejenak bibir pemilik hatinya yang telah berkali-kali membuat pikirannya kacau karena gadis yang ia sayangi itu tidak lagi mengingatnya. Tidak lagi tersenyum kepadanya. Tidak lagi mengucapkan ungkapan penuh perasaan kepadanya.

Lumatan itu berhenti beberapa detik ketika ia menyadari kini bukan hanya air mata RinAh saja yang keluar dan membasahi wajah JiMin, tapi air mata JiMin sendiri yang sudah tidak kuasa menahan semua perih yang mendera batinnya. Namun, pemuda itu tersenyum. Sangat lembut hingga bisa menghangatkan hati RinAh yang tadinya gelisah dan kacau hanya dengan melihat senyum itu.

“Jadi, katakan padaku Kim RinAh-ssi, apakah gadis dalam ceritaku tadi bersalah karena melupakan orang-orang di sekitarnya?”

RinAh tidak menjawab dan hanya menatap wajah pemuda yang tadinya terlihat ceria karena penuh senyuman itu kini telah di penuhi oleh air mata. Mencoba mengabaikan keinginan untuk menghapus air mata itu dan membawa pemuda tadi ke dalam dekapannya.

“Tidak… dia tidak bersalah RinAh-ssi. Karena yang bersalah adalah aku. Yang telah membuatnya marah dan akhirnya membiarkannya pergi sendirian menuju ke taman ria yang ternyata berujung pada kecelakaan naas yang merenggut ingatannya. Yang bersalah bukanlah gadis itu melainkan aku. Karena aku lah yang menyebabkan semua hal ini terjadi….”

JiMin menghapus air mata yang kembali turun membasahi pipinya dengan kasar dan mengambil tangan RinAh ke dalam genggamannya. Ia menatap dalam-dalam wajah tidak berdosa di depannya itu selama beberapa waktu. Seulas senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

“Karena itulah aku tulus menerima hukuman pahit ini dengan terus menyediakan secangkir Vanilla Latte hangat yang telah menjadi minuman favorit gadis itu setiap harinya. Agar aku bisa terus melihat senyuman hangat dan sosoknya bertahan di sampingku. Berada di dekatku,” perlahan pemuda itu kembali mencondongkan tubuhnya, menghirup aroma latte yang menempel di tubuh gadisnya itu sebelum mengecup lama kening RinAh—menyalurkan rasa bersalah yang bercokol dalam hatinya, “agar dia tahu… bahwa tidak memiliki ingatan belum tentu tidak memiliki orang-orang yang mendukungnya. Namun sebaliknya, karena ingatannya yang tidak sempurna itulah kami—keluarga dan teman-temannya, terlebih lagi aku—Park JiMin, akan selalu berada di sisinya. Menyalurkan rasa kasih sayangku yang amat besar padanya. Dan menyempurnakan memori yang terenggut dari hidupnya.”

FIN.

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] A Cup of a Forgotten Memory – Oneshot

  1. sweetpeach98

    Siapa nih authornya? Siapa? Tanggung jawab lah kenapa mewek banget ini ㅠ_ㅠ

    Awalnya udah aku duga ini pasti si Rinah antara hilang ingatan atau gimana ehhh dia kena alzheimer rupanya :’3
    Apalagi konversasinya mereka berdua itu loooooo, manis banget dan kasihan di park jiminnya ini mah :’3 mana pas lagi baca terus keputer lagu love is not over lagi sial mewek udah aku :’3

    Maafkan aku ini komen nya panjang sepanjang cintaku pada seokjin(??) aku kira ada lanjutannya gitu lagi sedikit, nyeritain gmn besoknya si rinah dateng lagi terus dia lupa sama jimin lagi di jamin aku makin mewek :’3

    Pokoknya ini nice fic banget lah author-nim! (Maafkeun ji yang minta nambah di bagian ending) :’3:’3

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s