[BTS FF Freelance] Same – (Vignette)

Same2

Same

#sewinduproject3

Story by Ravenclaw

Starring with

The Girl (OC’s) and The Boy (BTS’s Member)

Fluff, Friendship, Romance, Sweet | Vignette? | Teen

Sekedar memahami lirik lagu tulus

Luhan (https://fanfictionloverz.wordpress.com/2016/04/21/vignette-luhan) | Finally (https://fanfictionloverz.wordpress.com/2016/04/29/vignette-finally )

Sudah sewindu ku (tak) di dekatnya

 

Kali ini aku terduduk lagi di sebuah sudut café pojok kota tersibuk yang menjadi tempat bernaungku.

Ditemani segelas black coffee yang masih menyemburkan asapnya, sepiring cantik oreo cheese cake yang masih belum terjamahkan, layar yang sedang melakukan booting, dan alunan musik yang lembut berasal dari speaker pojok café tersebut.

Ah, dan tak lupa hembusan napas keputusasaanku yang berlangsung selama beberapa detik.

Dengan lincah kubuka aplikasi yang katanya sudah ada pembaharuannya lagi, salah satu produk milik sang pelopor pencipta masa depan, Bill Gates, yang sangat mendunia. Kalau kata guru besar jurusanku, aplikasi yang sedang kubuka ini termasuk aplikasi pengolah kata. Oh, tapi tenang saja, aku tidak akan menjelaskan apa dan bagaimana seorang Bill Gates membuat aplikasi andalan para siswa mahasiswa, guru, bahkan orang-orang kantoran.

Ayolah, mana mungkin dalam waktu seperti ini aku akan menjelaskan itu sedangkan tugas dan deadline UKM-ku saja sudah menumpuk bak Gunung Krakatau yang ternyata sudah memiliki anak gunung.

Kuketik dengan cepat menggunakan keyboard qwerty yang sudah kubongkar pasang di kampus sebelum aku berangkat ke destinasi favoritku. Sebuah kalimat inggris tercetak dengan jelas akibat efek dari capslock, “PROPOSAL KEGIATAN UNIT KEGIATAN MAHASISWA FOTOGRAFI TAHUN 2016”

“Huh…”

Melihat kalimat itu saja sudah membuat kepalaku sedikit pusing, kuhirup aroma black coffee tersebut sebelum kuicip rasanya yang tetap sama, pahit. Salah satu biusku yang membuatku harus tetap semangat menjalani hidup sebagai ketua dari UKM tersebut beberapa bulan yang lalu.

Ah, kalian tahu ini seharusnya pekerjaannya siapa?

Yap, seharusnya dikerjakan oleh seseorang yang merelakan waktunya demi membuat laporan, makalah, dan tetek bengek lainnya yang sering disebut sekretaris. Tapi sayangnya, sekretaris kesayanganku, Lee Jina, kakak dari si kecil Jihoon dan wanita kesayangan adik tingkat berwajah bule (eh, bukannya dia memang bule kan?) Vernon, sedang sakit saudara-saudara.

Beberapa hari yang lalu aku sempat menjenguk ke rumahnya, terlihat sekali kulitnya pucat dan untuk bergerak mengambil air di nakasnya saja sangat lemas.

“Terus, gimana dong laporan kita, Ri-ya?” ujarnya saat itu dengan mata setengah sayu dan suara yang sedikit pelan.

“Tenang saja, aku yang akan mengerjakan laporannya,” balasku dengan senyum yang menurutku sangat tulus dan menenangkan hatinya tapi justru dengan sablengnya Jina ini tetap bersikeras untuk tetap membuat laporan itu.

“Biar aku saja, aku tidak suka melempar tugas ke orang lain, apalagi ini tanggung jawabku,”

“Ya! Jina! Kau itu jangan memaksakan diri, kau itu harus istirahat jangan banyak aktivitas dan kegiatan!” dari situ Vernon mulai berteriak tidak suka dan dilanjutkan perdebatan antara sepasang kekasih yang berjarak umur dua tahun.

“O-oi…”

“Ya! Kau itu tidak usah ikut campur! Ini urusan UKM bukan BEM!”

“Tapi kau sedang sakit, Jina sayang! Kau harus tetap istirahat sampai sembuh!”

“Jangan panggil aku seperti itu!!!!”

“Ya! Dengarkan aku bicara dulu!”

Dan akhirnya aku bisa membuat keputusan yang menurutku sangatlah bijak seperti ini, “aku akan tetap membuat laporannya, tapi tetap dibantu Sewon kan dia juga sekeretaris. Setelah itu baru kusuruh dia untuk membawakan laporannya untuk kau periksa, jadinya kau tetap terlibat dalam acara tahunan ini, kan?”

Dan untuk selanjutnya tidak usah kuteruskan karena aku sudah mulai fokus menarikan jari lentikku diatas keyboard  kesayanganku yang masih dengan setia menggunakan bahasa inggris. Ah, pasti kalian bertanya kenapa aku harus berepot ria mengganti keyboard hangul menjadi qwerty dan membuat laporan dalam bahasa inggris yang baik dan benar?

Karena, kampusku tercinta yang katanya merupakan kampus internasional. Jadi untuk semua kegiatan belajar mengajar (kecuali Fakultas Sastra) dan kegiatan mahasiswa seperti UKM harus menggunakan bahasa inggris yang aku pun sampai sekarang tidak tahu apa sangkut pautnya.

TING!

 

Terdengar suara dari laptop kesayanganku kalau ada notifikasi bahwa ada pesan elektronik yang bernama email yang masuk.

 

From : juhos1802@yahoo.com

To : marikim1230@yahoo.com

Subejct : Kegiatan UKM Fotografi

 

Kau sudah ada di café?

 

Ya, aku sudah sampai di café beberapa menit yang lalu.

 

TING!

 

Ah, maaf, sepertinya aku akan sedikit terlambat karena aku sedang ada rapat BEM untuk kegiatan tahunan kampus kita.

 

No Problemo, ketua BEM yang terhormat ^^

 

Baiklah, tidak apa kalau ketua BEM yang baru itu akan terlambat untuk berdebat tentang laporan ini. toh, aku juga sedang setengah jalan membuat laporan ini, jadi masih ada waktu untuk melakukan pengetikan dan pengeditan laporan terkutuk ini.

Ah, aku pegal sekali!

Laptopku kugeserkan sedikit menjauh dariku lalu oreo cheese cake dan black coffee kesayanganku kudekatkan untuk menemui cacing-cacing perutku sebelum mereka memulai demo.

Kuhirup lagi aroma black coffee yang sudah menghangat, lalu kuminum hampir setengah gelasnya dan kucicipi oreo cheese cake untuk pertama kalinya.

Kenapa aku lebih memilih black coffee ketimbang mocca latte seperti Jina?

Karena itu mengingatkan akan adanya rasa pahit dibalik kenangan manis, seperti aku dan dia. Seseorang yang menemani masa kecilku selama empat tahun lamanya dan pergi entah kemana demi menuruti keinginan orang tuanya.

Akan kuceritakan secara ringkas saja karena terlalu banyak kenangan manis di antara kami.

Dulu, saat aku masih kelas dua sekolah dasar, aku sempat mendengar kalau ada murid baru yang jarak umurnya setahun lebih tua dariku. Katanya dia pindahan dari Jepang karena pekerjaan orang tuanya yang memaksanya juga ikut pindah ke negara ginseng ini. Dan katanya juga, rumahnya sangat dekat denganku, yang katanya (lagi) jaraknya hanya sekitar lima rumah.

“Hei, bukankah kau yang rumahnya komplek situ?”

Itu ucapannya pertama kali suatu hari kala jam pulang sekolah telah berbunyi. Saat itu aku masih polos dan hanya mengangguk-angguk saja.

“Kau mau tidak pulang bersamaku? Aku tidak ada teman pulang nih!”

Dan sekali lagi aku hanya mengangguk menurutinya dan mengikuti langkah lebarnya menuju komplek rumah kami. Dari situ aku menilai kalau pria berbulu mata lentik ini sangatlah cerewet dan mudah akrab, pasalnya selama perjalanan pulang dia selalu bercerita, apa saja dan mudah berkenalan dengan siapa saja. Jadinya dia mudah terkenal di sekolah kami.

“Oh iya, aku sudah bicara cukup panjang lebar nih dan ternyata aku tidak tahu namamu. Namamu siapa? Kalau aku Jung Hoseok kau bisa memanggilku Hoseok, kalau kau?”

“Kim Mari dari kelas 2-A.”

Dan laki-laki kecil itu tertawa lebar, menanggapi ucapanku yang juga masih polos.

“Kalau itu pun aku sudah tahu kalau kau siswa kelas 2-A dan kau pun tahu kalau aku siswa di kelas 3-C.”

“Ah, iya, maaf.

“Tidak usah begitu!”

Aku hanya melirik wajah laki-laki itu, bingung, kenapa dia berbicara seperti itu.

“Senang berkenalan denganmu dan semoga kita menjadi teman yang sangat dekat!”

Aku mengangguk tersenyum, lebar, “Em!”

Dan bermula dari situ kami mulai menjadi teman pulang bersama, sampai akhirnya keterusan di komplek kami. Aku dan dia sering bermain bersama layaknya anak kecil lainnya. Dari kami yang sering belajar bersama, makan bersama, bahkan sampai sebungkus biskuit untuk kami berdua. Jika ada tugas aku selalu minta bantuannya, apalagi kalau tugasnya dari guru killer bahasa Jepang. Tahu sendiri kan kalau dia itu pindahan dari Jepang? Baginya soal tugasku itu sangatlah mudah baginya.

Sampai akhirnya ada temanku menghampiriku setelah Hoseok pergi setelah meminta biskuit dariku dan mengucapkan sampai jumpa.

“Kau itu pacaran ya dengan Kak Hoseok?”

Saat itu aku yang tidak tahu apa arti dari kata ‘pacaran’ hanya menggeleng bingung dan menjawab, “tidak kok.”

“Terus, kalau kalian tidak pacaran kenapa kalian sering bermain dan makan bersama? Bahkan sebungkus biskuit saja untuk dimakan berdua.”

Aku sedikit memiringkan kepala dan bergeleng, “kami kan hanya teman dekat.”

“Kalau teman dekat tidak mungkin sebegitu dekatnya sampai sebungkus biskuit saja dimakan berdua.”

Semuanya dimulai dari Sena yang menanyaiku seperti itu sampai-sampai aku harus bertanya tentang arti kata ‘pacaran’ kepada saudara kembarku, Kim Taehyung.

“Pacaran itu, adalah dua orang yang saling suka dan mau berbagi juga saling melindungi.”

Kalimat itulah yang terus membayangiku hingga saat aku bermain dengan Hoseok, aku sempat bertanya sesuatu padanya, “Hoseok, tinggi dari langit ke bumi itu seberapa jauh sih”

Tangannya mulai membumbung tinggi memperagakan kalau langit dan bumi jaraknya sangat jauh, “jauh sekali, Mari! Tinggi sekali, setinggi rasaku kepadamu.”

“Eh!”

Saat itu aku tidak tahu apa yang dimaksud ucapannya tapi entah kenapa jantungku justru memacu lebih cepat dari biasanya, sejak Hoseok mengucapkan kata itu dan tersenyum kepadaku.

Yang ada dipikiranku, aku hanya mau seperti ini bersama Hoseok selama mungkin.

Tapi takdir berkata lain. Kala saat itu aku hendak mendaftar ke SMP-nya dan dia naik ke kelas dua SMP, malam-malam kami bermain di balkon kamarku, rautnya mendung dan saat aku melihatnya justru dia menunduk, seolah-olah takut denganku.

“Hoseok, kau ada apa?”

Laki-laki itu menggeleng.

“Hoseok…”

Mendengar rengekanku akhirnya dia menatapku dalam dan menggenggam tanganku sangat kencang.

“Jung Hoseok…”

“Kim Mari, mulai besok kita tidak usah bermain lagi, ya?”

“Kenapa?” tanyaku dengan lidah yang sedikit kaku.

“Besok aku mau pindah.”

DEG!

“Ke-kemana, Hoseok?”

Aku mendengar hembusan napasnya, sangat pelan dan terdengar putus asa. Dan yang hanya bisa kutebak kalau Jung Hoseok akan pergi jauh dariku, sangat jauh.

“Aku janji kalau aku akan kembali!”

Itu ujarnya kala melihatku hendak mengeluarkan air mata, “kapan?” tanyaku dengan suara bergetar.

Dan Hoseok hanya menggeleng, pertanda tidak tahu kapan ia akan kembali.

“Pokoknya tunggu aku kembali, ya?”

Dan sejak itu aku mulai mempercayainya sejak ia menggenggam erat tanganku beberapa menit sebelum mobilnya pergi melesat jauh entah kemana, aku masih ingat teriakannya waktu itu.

“TUNGGU AKU KIM MARI!!!”

Tapi, setelah aku lulus dari SMA, ia tak kunjung kembali. Saat aku dipotret bak mahasiswa yang sedang wisuda aku berharap ia tersenyum dibalik ramainya gedung yang disewa SMA-ku kala itu. Tapi Jung Hoseok tidak pernah menepati janjinya, dia tidak datang.

Maka dari itu aku melepas janji itu, melupakannya, seiring dengan aku yang dulu sibuk masuk ke kampus impian ini.

Seiring dua tahun aku terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Komputer dari Fakultas Teknik dan sebagai ketua UKM Fotografi, aku sudah sangat lupa akan janji itu.

Sangat lupa.

Tapi sebulan yang lalu, saat terdengar pengumuman bahwa kampus hendak mengadakan acara tahunan terbesar dalam sejarah perkampusan Korea Selatan, aku sedikit mengingat tentang janji itu kala aku menemui Jina tentang BEM yang meminta UKM-ku untuk menjadi tema dari acara tersebut.

“Aku dan Naya habis bertemu dengan Juho untuk membicarakan UKM kita, aku tidak sempat mengajakmu soalnya kan kau sedang ada kelas.”

Aku melongo saat itu, karena yang kutahu yang namanya Juho itu adalah seorang pria playboy cap kadal alaska dari fakultas Hukum, “sejak kapan Jung Juho jadi ketua BEM?”

Jina justru menggeleng dengan cepat, “bukan! Bukan Jung Juho playboy kebanggaan kampus kita! Tapi Jung Hoseok, namanya sering disingkat jadi Juho, dia anak fakultas MIPA, kakak tingkat kita.”

Dan yang ada dipikiranku saat itu Jung Hoseok yang sempat berjanji untuk pulang kembali padaku. Tapi aku segera menyangkal kalau itu bukanlah Jung Hoseok yang kuharapkan.

Ah iya, kalian pasti bertanya lagi apa ada sangkut pautnya antara kenapa aku memilih black coffee dengan cerita tadi, ya?

Memang tidak ada sih, tapi black coffee  ini adalah minuman kesukaannya dan untuk alasan yang sudah kujelaskan diatas tadi, itu adalah alasan dari Hoseok saat itu.

Karena dengan meminum black coffee kita bisa mengingat ada hal yang pahit dibalik hal-hal yang manis.

Aku sudah menjadi pecinta dari kopi jenis itu sejak setengah windu yang lalu, yang berarti saat itu Joshua sudah meninggalkanku selama setengah windu.

Dan saat ini sudah tepat sewindu yang lalu Hoseok menebar janjinya padaku.

Saat ia memegang tanganku erat, melindungiku dari kejahilan teman-teman kecilku, berbagi biskuit, dan saat menenangkanku kala mendengar dia akan pergi jauh dariku. Aku masih ingat. Masih ingat selama sewindu ini, sewindu saat ku tak di dekatnya, meskipun berusaha untuk melupakan semuanya.

“Huh…” kuhembuskan lagi napasku, kali ini napas yang sedikit menyesakkan hati. Kuhirup kopi yang sudah terlanjut mendingin.

Sial!

Aku harus memesan black coffee lagi!

Yeah, aku harus berjalan ke kasir sekaligus tempat pemesanan kalau aku menginginkan kopi dengan rasa dan jenis yang sama. Tak lama beberapa menit setelah aku mendaratkan pantatku pada kursi panas ini dan hendak menarikan jariku ini, aku mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan café tersebut.

Bakka! Bakka! Bakka! Laporannya belum selesai!

Aku harus merutuki otakku dahulu yang terlalu mengingat masa lalu itu. Ah, sial! Mana laporannya masih setengah jalan, bagaimana kalau si ketua BEM ini melaporkan tentang kegiatan sialan tadi ke Naya? Terus aku dipecat dari jabatanku? Lalu aku dikampus harus menggunakan topeng supaya tidak dikenal oleh orang-orang?

Ah, semoga saja si ketua BEM ini baik hatinya, rajin menabung, dan berbaik hati kepadaku untuk tidak melaporkan kejadian ini kepada Naya.

TING!

“Silakan masuk.”

Aku mendengar suara langkah sepatu yang mendekati mejaku, sengaja berpura-pura fokus ke layar kesayanganku supaya dikira aku masih fokus untuk menggarap laporan UKM-ku.

Sampai akhirnya langkah sepatu tersebut berhenti tepat di depan mejaku, sepertinya ia menatapku dan hendak menanyai laporan tersebut yang untungnya aku sudah mempersiapkan jawaban yang tepat.

“Hai, Kim Mari.”

“Oh, eh! Hai… Ju…”

Laki-laki itu tersenyum, kali ini senyumnya mirip sekali dengan laki-laki sialan itu. Tubuhku kaku, suaraku tercekat, dan ekspresiku entah seperti apa sekarang. Yang terpenting jantungku kali ini berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Hoseok?”

Kalimat pertamaku dengan suara yang sangat tercekat dan terbata.

“Bagaimana kabarmu, Mari?”

“…”

Kali ini ia duduk di kursi depanku yang masih kosong.

“Kau tahu, aku sudah menantikan momen ini.”

“…”

“Ah iya, kau masih ingat jawabanku atas pertanyaanmu tentang langit itu?”

“…”

“Kalau kau lupa aku akan mengingatkannya lagi.”

Kali ini ia tersenyum lebih lebar, dan jantungku semakin berdetak lebih cepat.

“Jika kau tanya tinggi langit itu seberapa, aku akan tetap menjawabnya kalau langit itu sangat tinggi sekali.”

“Dan rasaku kepadamu masih tetap sama seperti itu,”

“Hoseok…”

“Kim Mari…”

 

Aku merindukanmu.

END.

Based on true story

(https://acaciabrainley.wordpress.com/2016/04/30/letter-for-you-um-hi/ )

 

Untukmu yang nun jauh disana kukirimkan sebuah surat manis

Hai, apa kabar? Kamu baik-baik saja, kan?

Em, btw aku selalu baik-baik saja tapi pernah masuk rumah sakit gegara anemia ‘-‘tapi sekarang udah enggak kok ^o^

Oh iya, sekarang kamu tinggal dimana? Lagi nunggu hasil UN, ya? Masih di Magelang, kan? Atau di luar Magelang? Ah, yang penting mah kamu sehat-sehat aja ya ^^

Oh iya, gimana waktu ngerjain UN-nya? Susah, ya? Gausah dipikirin, kan sekarang tinggal nunggu UN sambil main PS kek waktu dulu kita masih kecil.

Btw, kamu masih ingat aku engga? Jangan-jangan udah lupa sama aku ‘-‘ tapi gaapa aku tetep strong kok dan kapan-kapan aku bakal jelasin siapa aku yang sampe-sampe bikin surat gamutu ini.

Btw (lagi), dulu waktu kita masih kecil, kamu masih ingat gak waktu kamu ngajarin aku tentang bahasa inggris? Kan waktu itu aku pernah bilang kalo aku gabisa bahasa inggris dan gurunya galak dan dengan ikhlas dan tulus (semoga) kamu mau ngajarin aku sampe aku bisa. Kamu tau gak? Berkat kamu aku udah jadi ketua English Club loh di SMK! ^o^

Terus, terus, kamu masih inget gak tentang biskuit biskuat lima ratusan itu? Yang dulu isinya masih lima itu loh, kamu selalu minta sama aku dan dengan polosnya aku ngangguk aja dan ngerelain beberapa biskuit ke kamu, terus sampe-sampe ada temenku nanya ke aku sama kamu kalo kita itu sebenernya pacaran apa engga, aku cuma diem gatau mau jawab apa tapi kalo kamu malah senyum sambil ngelirik aku, jujur deh senyum kamu itu damai banget juga lumayan manis :v

Waktu itu aku gatau ngartin pacaran itu apa dan arti senyum kamu itu apa, tapi setelah ngeliat kamu yang selalu ngebela aku di depan temen-temen cowokku, juga perdebatan kamu sama temenmu tentang tinggi langit juga jawabanmu yang saat itu aku gatau maksudnya apa. Dan dari semua itu, aku cuma bisa ngartiin kalo kita itu udah saling nyaman.

Susah tauk nyari orang yang klop kek kamu >< keknya cuma kamu doang deh yang bener-bener klop sama aku :v

Oh iya, dari semua tulisan ini, dari surat ini dan dari pengalaman masa kecil kita, aku cuma pengen ngomong satu kalimat buat kamu, dari sebelas taun kita pisah dan kita gaada kontak sama sekali,

Kalo aku rindu kamu.

^^

Buat FJR

Semoga sehat!

Dan jangan lupain aku,

ENDA.

 

Makasih ya kakak admin yang udah mau ngepost ini ^^

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Same – (Vignette)

  1. Aihara

    Ternyata ini based on true story
    Jadi baper 😥
    Ugh, mendadak ingat dulu punya temen lawan jenis tapi deket banget, main bareng mulu haha dulu masih bocah><
    Kayanya hampir sepuluh tahun ga ketemu
    Mungkin dia udah ngga ingat? Berhubung dia umurnya lebih muda wkwk

    Hikseuㅠㅠ

    Liked by 1 person

    1. dikiranya apa hayoooo :v
      wah kok kita samaan ya? wehehehehe…..
      kalo temenku ini sih umurnya setaun lebih tua dariku wkwkwk
      duh jangan nangis ya, berdoa ajah biar dia tetep inget kamu hehehe..

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s