[What is Your Color?] Except you, my hectic orange boy! – Oneshot

poster except you, my hectic orange boy!

Title: Except You, My Hectic Orange Boy!

Author: @juljulpii

Length : Oneshot

Cast: Kang Seulgi, Park Jimin BTS

Support Cast: Choi Minho and others

Rating: PG-16

Genre: Romance, Little bit comedy XD

Desclaimer: This fanfict’s story pure from my mind. Big NO to plagiarism. Hope you all enjoy it.

_____

Didalam kotak kado itu aku hanya menemukan 2 krayon. Krayon, iya krayon.

_____

 

Aku sedang terjebak.

Terjebak dalam sebuan taman tak berujung dengan pemandangan luar biasa indah. Hanya ada jutaan bunga yang tertangkap oleh iris mataku.

Kali ini saja biarkan aku menggilai warna merah dan putih. Warna merah untuk warna taburan kelopak bunga yang mendominasi taman ini. Sedang warna putih, adalah warna setelan jas yang dipakai sesosok namja yang berdiri sekitar 500 meter memunggungiku.

Aku ingin melihat dengan jelas namja yang berdiri memunggungiku bak pangeran, namun pandanganku kabur seolah tak mengijinkannya.

Dari belakang postur namja itu sungguh sempurna. Aku berjalan perlahan kearahnya, demi menghilangkan rasa penasaranku dengan rupanya.

Oh Tuhan, jantungku terus berpacu cepat saat aku telah berdiri tepat dibelakang punggungnya. Perlahan namun pasti, tanganku mulai menyentuh pundaknya. Sesaat ia menoleh padaku.

Oh?

Kenapa tiba-tiba pandanganku mengabur?

Kucoba untuk memfokuskan pandanganku, tetap saja aku tak bisa melihat wajahnya bahkan dengan jarak sedekat ini.

Wae?

Kucoba lagi dan lagi.

Membuka mataku dengan lebar dan mengerjap-ngerjapkannya.

Assa! Kini aku dapat melihat raut wajahnya dengan jelas sekarang. Hidungnya mancung dengan bibir tebal nan seksi dan rambutnya berwarna coklat acak-acakan. Dari jarak sedekat ini aku melihat ada bintik jerawat di sekitar pipinya dan kudapati kedua matanya tertutup.

Chakkaman!

Wajah ini bukan seperti yang kuharapkan untuk namja sempurna setelan jas putih tadi. Bahkan kini wajah yang kutatap sekarang tampak lebih nyata dari bayangan sempurna yang entah kemana perginya.

Bunga! Kemana perginya ratusan bunga di sekelilingku?

Kukerjapkan mataku sekali lagi. Pangeranku, mengapa berubah seperti ini? Aku seolah hanya menatap sesosok mayat hidup yang berbaring tepat 10 centi didepan wajahku.

Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa seratus persen aku mengenali namja ini. Tak lain adalah Park Jimin, namja sialan yang sialannya harus kuakui sebagai sahabatku.

“YYA!!” teriakku sambil mendorong tubuhnya kasar dari ranjangku.

Dan oops, dia mendarat dengan sempurna di lantai disertai dengan efek suara jatuhnya.

Jangan lupakan jika suara itu pula yang menandai pulihnya kesadaranku.

“ Aiissh! “ Kuusap rambutku dengan frustasi.

Bukan. Bukan karena Jimin tidur disampingku, bukan. Itu sudah merupakan hal biasa.

Namun hal yang membuatku frustasi bahkan di pagi hari dimana seharusnya orang-orang menikmati paginya dengan damai, tak lain karena harus menerima kenyataan bahwa semua hal serba indah tadi hanyalah seonggok mimpi. Mimpi yang tak berasalan.

Hei, wajar kan aku berharap pada mimpi itu? Sedangkan selama ini aku tidak pernah mendapatkan mimpi yang berbau surga seperti tadi.

“ Rasanya seperti jatuh dari gerbong kereta, kau tahu? “ ucap Jimin membuatku kembali tersadar dan kini tengah menyaksikannya merangkak naik ke ranjang lagi dengan kedua mata masih enggan membuka. Bahkan ia mencoba menarik selimut dan berbaring lagi.

Aigoo, bukankah aku seharusnya sudah terbiasa dengan hal menjijikkan seperti ini? Tidur dengan damai pada malamnya, dan mendapati Jimin dengan keadaan berantakan di pagi hari dan merusak moodku. Ya, harus kuakui merupakan salah satu kesalahanku mempertahankan password apartemenku bertahun-tahun. Dan sebagai dampaknya, aku dilarang terkejut apalagi kaget. Kenapa? karena artis sialan itu akan tiba-tiba berada di apartemenku bahkan tanpa sepengetahuanku, yang notabene pemilik apartemen ini.

Tapi tidak untuk hari ini! Tidak untuk menghacurkan mimpiku!

BUK! BUK!

“ YYA, YYA!! Seulgi-ya! “ Jimin meronta ketika kulayangkan pukulan bantal bertubi-tubi pada badannya. Sedikit koreksi, ke wajahnya lebih tepatnya.

Aku tidak peduli lagi. Aku sedang kesal sekarang.

Tak mau pasrah dengan seranganku, Jimin meraih bantalku dan merebutnya. Damn! Aku kehilangan senjataku.

“ Kau sudah gila hah? Apa yang merasukimu pagi-pagi begini? “ ucap Jimin heran melihatku yang kini terdiam mencoba untuk mengendalikan emosiku.

“ Ya, anggap aku sedang gila dan ingin melampiaskan kegilaanku. Kebetulan kau yang ada di depan wajahku, jadi terimalah saja. “ jawabku sekenanya, sambil mencoba untuk bangkit dari ranjangku.

“ Katakanlah jika terjadi sesuatu, tidak biasanya tenagamu sekuat ini. “ ucap Jimin setelah menahan tanganku sepersekian detik, sayangnya kuhempas tangannya kasar.

“ Kau adalah mimpi buruk!! “ ucapku keceplosan.

Nan? Wae? “ tanya Jimin semakin kebingungan melihat sikap anehku. “ Aissh, lupakan.” balasku cepat dan segera kabur ke kamar mandi.

“ Dasar aneh, “ decih Jimin yang samar kudengar dari dalam kamar mandi.

***

Pria itu, pria yang merusak pagiku itu adalah Park Jimin. Ya, dia salah satu member BTS, boy grup yang sedang naik daun sekarang ini. Tunggu, jika kalian berpikir aku beruntung karena mengenalnya bahkan mengakuinya sebagai sahabat itu hanyalah omong kosong. Aku  justru merasa sama sekali tidak beruntung dengan hal itu dan sedikit menyalahkan takdir karena telah mempertemukanku dengannya.

Kami sedaerah, dulu.  Aku dan Jimin adalah teman kecil di Busan. Ehm tidak juga. Tidak sepenuhnya berteman, karena sesungguhnya aku lebih banyak bertengkar dengannya bahkan sampai sekarangpun. Kami tinggal sekomplek, orang tua kami saling mengenal dan ya begitulah hubungan kami terbentuk. Setelah lulus SMA, dia mulai fokus pada audisi di Seoul demi mewujudkan mimpinya. Ya, harus kuakui dia adalah seseorang dengan kemampuan vocal dan dance yang diatas rata-rata. Bahkan sekarang ini dia sangat populer dan digilai oleh para yeoja dari seluruh penjuru Korea. Aku pengecualian. Menonton konsernya bahkan mendengarkan lagu dari grupnya saja aku tidak tertarik. Sungguh.

Hei, jangan tanya kenapa dia ada di apartemenku, karena itu merupakan salah satu kesialan yang ada dihidupku. Dia selalu mengusikku saat setahun kemudian setelah dia dikabarkan lolos audisi di sebuah agensi, aku pindah ke Seoul untuk kuliah. Aku tidak punya siapapun di Seoul dan aku memang bertekad untuk hidup mandiri demi cita-citaku. Entah apa yang dipikirkan oleh orang tuaku untuk menyuruh Jimin menjagaku selama di Seoul. Begitu juga orang tua Jimin yang berpesan kepadaku untuk mengawasinya. Astaga, aku tidak pernah tau akan jadi seperti ini. Aku harus terbiasa kehidupanku terusik saat dia dengan seenaknya mampir ke apartemenku setelah sempat memaksaku untuk memberitahukan passwordku sebelumnya.

“ Mau kemana sepagi ini? “ suara Jimin mengangetkanku saat aku sibuk menata rambut didepan kaca. Dia bangun rupanya.

“ Pergi.“ jawabku singkat.

“ Aku baru sampai Seoul dari tour-ku, dan kau sama sekali tidak menyambutku bahkan mau meninggalkanku sekarang. Daebakk! Tunggu, sepertinya kau sudah menyambutku tadi. Dengan tendangan kaki dan juga pukulan bantal, benar kan? “ oceh Jimin menyindirku.

“ Diamlah! Aku harus pergi mencari pekerjaan jika kau masih mau mampir ke apartemenku.“ ucapku dengan tidak menolehkan wajah sama sekali kearahnya.

Sekedar info saja, aku membiayai kehidupanku sendiri di Seoul. Kecuali uang kuliah, sewa apartemen dan uang untuk kebutuhan sehari-hari kudapat dari hasil jerih payahku. Kerja part time lebih tepatnya. Setidaknya aku bersyukur tidak begitu membebani orang tuaku di Busan.

“ Kenapa repot-repot. Bekerjalah padaku.“ ucapnya lagi. “ Chakkaman! hairstylist aku sudah ada, makeup artist sudah, fashion stylist ada, hmm. Kau hanya perlu menemaniku saat konser dan memijatku saat lelah, bagaimana? Kau mau gaji ber— “

“ Tidak usah.“ potongku cepat. Moodku benar-benar jelek dan bercandaannya sangat tidak lucu. “ Aku sangat menghindari pekerjaan yang membuatku harus bertemu denganmu setiap hari bahkan setiap jam. Aigoo, tidak terima kasih.“ kali ini aku menoleh kearahnya dan menyambar tas kecil yang ada disamping ranjang.

Mendengar jawabanku, Jimin terkekeh.

“ Aku pergi. “ Jawabku berlari menuju pintu keluar. “ Bereskan kamarku atau setidaknya singkirkan kopermu itu. Kau dengar, Park Jimin? “ ucapku untuk yang terakhir sebelum aku menghilang dari balik pintu.

_____

“ Baiklah kau bisa bekerja sekarang.” Akhirnya ada kafe elit yang mau menerimaku, setidaknya aku yakin pekerjaan sebagai pelayan disini lebih baik dari pekerjaan part time-ku sebelumnya. Senyumku mengembang ketika mengingat gaji yang diberikan lumayan besar.

“ Mohon ganti pakaianmu dengan segaram kafe ini.“ ucap pria pemilik kafe menyodorkan setelah baju berwarna orange menyolok padaku. Oh, orange?

Aku menerimanya dengan ragu-ragu. “ Uhm, ma— maaf sajangnim tapi apakah ada warna seragam lain? “ Sang manajer hanya memandangku heran lalu sedetik kemudian berbalik untuk memberiku seragam yang lain. Hah, syukurlah aku tidak harus memakai warna terkutuk itu.

Entah mengapa aku sangat membenci warna orange. Dari kecil. Semua benda dengan warna orange selalu aku sisihkan. Entahlah. Bagiku, warna orange itu terlalu menyolok, terlalu norak dan entahlah. Aku sendiripun tidak tahu apa salah warna orange hingga aku begitu membencinya.

Dibawah terik sinar matahari, aku berjalan santai di area kampus. Sambil memegang satu contong es krim aku berhenti tepat pada papan pengumuman. Mencoba mencari secarik info yang barangkali berguna. Benar saja. Mataku membulat seketika saat kutemukan info beasiswa terbaru. Rasa senang cukup bertahan sebentar saja setelah kulihat semakin kebawah, persyaratannya cukup membuatku pusing. Banyak sekali dan menyusahkan.

Aku mendesah. Eottokhae, apa aku bisa?

Chogio, apa benar kau mahasiswa ekonomi bisnis? “ tanya seseorang mengagetkanku. Saat kupastikan untuk menoleh kearahnya, aku sedikit tersentak. Lihatlah siapa yang menyapaku sekarang? Bukankah dia Choi Minho, Sunbae yang terkenal dengan aura karismatik itu?

“ Ne Sunbae, aku Seulgi mahasiswa ekonomi bisnis tingkat dua.“ ucapku sedikit menunduk.

“ Ah, matta. Aku sering melihatmu jadi aku ingin memastikan dengan menyapamu.“ Oh Tuhan, tolong katakan padaku bahwa ini bukan mimpi.

“ Ngomong-omong kenapa kau berdiri disini? Kau sedang melihat pengumuman beasiswa itu? “ tanya Minho membuyarkan tatapanku yang seakan terkagum dengan pesonanya.

“ Ah ne, tapi aku tidak berharap banyak dengan beasiswa itu.“

“ Kenapa? “

Ani Sunbae. Hanya saja persyaratannya membuatku pesimis. Aku tidak pernah membuat karya ilmiah sebelumnya. Hehe “

Jinjja? Karena kau hoobae-ku, maka akan kubantu. Tenang saja.“ tawaran Minho bak angin surga yang berhembus. Seperti ada secercah harapan bagiku untuk mendapatkan beasiswa yang benar-benar kuinginkan itu.

“ Jeongmalyo? gomapda Sunbae.“ ucapku senyum-senyum nggak jelas.

“ Es krim mu.“ goda Minho menunjuk es krim yang sempat terlupakan olehku. Duh, es-nya meleleh.

_____

Esoknya, Minho menepati janjinya dengan menemuiku di perpustakaan. Sudah satu jam kami menghabiskan waktu, lebih tepatnya Minho yang menjelaskan segala hal yang perlu kusiapkan untuk menyambut beasiswa itu. Kalian tahu? Selama itu pula aku seperti orang bodoh yang hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Dia terlalu sempurna untuk kutatap dari jarak sedekat ini.

Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?

Mungkinkah dia pangeran yang ada didalam mimpiku tempo hari? Yaa, meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya tapi bisakah aku berharap bahwa dia? Haiish, sepertinya otakku agak geser hari ini.

Drrt. Drrtt.

Ponselku bergetar. Ketika kuusap layar ponselku, rasanya aku ingin mengumpat sekarang juga. Kenapa Jimin menelpon ku disaat seperti ini? Apa dia tidak ada jadwal? Mengganggu sekali.

“ Tidak kau angkat? “ tanya Minho memastikanku. Segera saja kugeser tombol merah pada layarku. “ Lanjutkan saja Sunbae, tidak penting.“ jawabku sekenanya.

Minho Sunbae segera melanjutkan penjelasannya pada kertas coretan yang telah digunakannya tadi. Sedang asyik mendengarkan suara bak pangeran didepanku ini, tiba-tiba suara yang kuhapali menginterupsi. “ Disini kau rupanya,“

Aku segera mendongak kearah sumber suara. Mulutku sempat menganga melihat sosok yang menelponku tadi kini ada dihadapanku sekarang. Tentu dalam penyamaran yang ketat seperti itu aku masih bisa mengenalinya.

Sunbae, sebentar aku izin dulu menemui temanku. Mian.”  Ucapku pada Minho dan segera menarik Jimin keluar dari ruang perpustakaan.

Aku terus menggiringnya hingga kini aku dan Jimin berada di balik gedung, dimana keadaan sepi total.

“ Artis gila! Kenapa kau disini hah? “ ujarku sambil berjinjit untuk menjitak kepalanya yang dibungkus topi hitam dan juga hoodie.

“ Ekspresi apa itu tadi, dia siapa huh? Kenapa wajahmu berseri sekali menatapnya hingga mengabaikan telfonku? “ Ujar Jimin setelah ia melepaskan masker penutup wajahnya.

“ Dia Sunbae-ku. Jangan mengalihkan topik bodoh, jawab aku kenapa kau ada disini? “ tanyaku lagi. Jimin justru menyodorkan goodie bag warna hitam padaku tanpa sepatah katapun. Aku mengambilnya sambil menatapnya seakan mempertanyakan ‘apa ini’.

“ Oleh-oleh dari Chicago. Kemarin belum sempat kuberikan padamu.“ ucapnya seolah mengerti isi batinku. Jadi dia kesini hanya untuk memberikan ini?

“ Ooh, jinjja gomawo. Kau bisa pergi sekarang.“ balasku lalu berusaha untuk kembali ke perpustakaan sebelum Jimin menahan tanganku.

“ Apa lagi? “

“ Ada satu lagi yang ingin kutunjukkan.” Ucap Jimin menatap lekat mataku.

“ Surpriseee!!“ Serunya nyaring bersamaan dengan aksinya membuka topi penyamaran. OH, ASTAGA! Rambut macam apa itu? Kejutan yang benar-benar merusak moodku.

“ YYA!! Kenapa rambutmu bisa begitu? Kau merusak mataku dengan rambut orange mu itu ppabo-ya, kenapa kau suka sekali menyiksaku eoh? “ ucapku kesal sembari berusaha menutupi rambutnya lagi dengan topinya, sedang Jimin terus mengelak.

“ Kau yang bodoh, ini warna jingga tahu? “ ucapnya membela diri.

“ Apa bedanya orange dan jingga itu! Haiisssh, benar-benar. Aigoo menyebalkan sekali.“

“ Aku tahu responmu akan begini. Tapi coba lihat, bukankah aku tampan dengan rambut seperti ini. Lagipula ini konsep untuk comeback-ku, kau harusnya mendukungku. Lihat, tampan kan? “ dia masih terus mengoceh dengan beberapa kali melepas topinya dan mengibas kan rambutnya dengan pede.

“ Tampan dari hongkong ha? Cepat pergi sana. Haiiish, aku tidak mengenalmu. Aku tidak mengenal siapa itu Park Jimin selama rambutnya aneh begitu. Tidak kenal tidak kenal.“ balasku dengan ekspresi ngeri yang kubuat.

“ Aku jadi tahu kenapa sampai sekarang kau belum punya pacar. Yang pertama karena kau galak, yang kedua kau benci warna jingga.“ cih, kurasa dia mulai asal ngomong.

“ Alasan pertama aku masih bisa mengakuinya, tapi untuk yang kedua tidak ada hubungannya antara pacar dan warna jingga.“ sungutku.

“ Jelas ada. Jika kau tidak membenci warna jingga, sudah dari dulu kau jadi pacarku.” Setelah mengatakan itu Jimin tertawa puas. Dia pikir lucu?

“ Pergi sana. Kau hanya membuatku emosi, cepat pergi.” Usirku pada Jimin yang bersiap memakai alat penyamarannya lagi. “ Arrasseo.

“ Cepat, atau aku teriak agar yeojayeoja kampus memangsamu disini.“

Aniya, arrasseoyoo. Seulgi-ya, aku pergi!”

Kutiup poniku dengan nafas yang kuhembuskan dari mulut. Si orange gila itu. Dia benar-benar tidak berubah. Artis bodoh, sialan kau Jimin.

“ Apa ada sesuatu? Setelah bertemu dengan temanmu tadi, kau jadi melamun. Kenapa? “ tanya Minho membuatku terfokus kembali. Aku segera menggeleng padanya sambil tersenyum.

“ Kau mau jeruk? “ Minho menawari buah Jeruk yang kutahu warnanya orange menyala. Astaga, tiba-tiba saja aku seperti melihat Jimin pada buah Jeruk itu. “ Tidak, terima kasih.” Tolakku halus.

Minho pamit padaku setelah selesai menjelaskan semuanya, dia kini memberesi barang-barangnya dan kucoba untuk membantunya. Tak kusangka kutemukan botol minuman milik Minho berwarna jingga, begitu pula diktat kuliahnya pun bersampul orange. Rasanya seperti melihat Jimin berkeliaran dalam benda-benda itu.

Tidak, tidak. Kugelengkan kepalaku cepat. Ini sih gila. Seulgi, kau tidak boleh menempatkan Jimin pada ruang otakmu!

Hari-hari berikutnya, kuhabiskan dengan kesibukanku yang semakin lama semakin mencekik. Bayangkan jika di pagi hari aku harus bangun pagi-pagi untuk kuliah, sedangkan siangnya kerja part time. Sore pulang dan malamnya aku lembur untuk mengerjakan persyaratan beasiswaku, seperti karya ilmiah, membuat essay dan masih banyak lagi. Maka dari itu kucicil setiap harinya dengan tekun. Ketika kusampaikan hal ini pada orang tuaku, mereka sangat mendukungku untuk mendapatkannya.

Motivasiku kian tinggi. Ya, salah satunya karena kebaikan Sunbae-ku yang tiada kenal lelah dalam membimbing dan mengoreksi karyaku. Beban itu rasanya menjadi ringan. Bagaimana tidak? Setiap harinya ada seorang manusia sempurna yang harus kutemui, dan hal itu pula yang membuat kedekatan kami berdua menjadi lebih intens. Harus kuakui kebaikannya membuatku hatiku berdesir setiap harinya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku merasakan hal itu.

Tring! Bunyi sebuah pesan masuk.

Minho Sunbae

Sudah tidur? Kuharap kau tidak membalas pesan ini karena tertidur. Aku tidak mau mendengar kau sakit gara-gara melembur berkas persyaratan, Seulgi-ya.

Seketika aku jingkrak-jingkrak nggak karuan ketika membaca pesan itu tengah malam. Bagaimana bisa sikap kawatirnya mendadak manis seperti itu. Yeoja beruntung manakah yang dapat pesan manis dari Sunbae yang begitu diidamkan oleh para junior di kampus. Oh God, akulah gadis beruntung itu.

Tring!

Tak lama, satu pesan kembali masuk. Mungkinkah dari dia lagi? Tanganku tak dapat menghentikanku untuk tidak membukanya.

Park Jimin

Jagalah kesehatanmu chingu! Berhati-hati juga pada Sunbae-mu itu. Aku takut dia adalah rubah bertopeng

Astaga. Apa-apaan ini? Kukira dari Minho lagi ternyata dari si bodoh itu. Dan kau tau isinya? Rasanya menyesal telah memberitahunya perihal beasiswa itu. Memangnya dia siapa? Menasehatiku dengan omongan nonsense.

Haiiish, ku lempar ponselku asal dan bersiap untuk tidur. Tuhan, bolehkah aku memohon untuk tidak mendatangkan Jimin dalam mimpiku malam ini? Kumohon.

_____

Aku meringis kesakitan ketika baru dua jam aku berada di kafe tempatku bekerja. Lambungku bergejolak dan perih. Sepertinya maagku sedang kumat. Ya, aku memiliki riwayat maag dulu dan sepertinya akhir-akhir ini sering terasa karena pola makanku yang benar-benar berantakan. Makanku tidak teratur, waktuku benar-benar kugunakan untuk fokus pada beasiswa itu. Bahkan hari ini, aku sudah bolak-balik kampus-kafe sebanyak 3 kali. Untungnya ada Minho yang mengantarku sampai sini. Mengingatnya saja membuatku tersenyum simpul.

“ AAAA, coba lihat, lihat. BTS comeback stage!” Ucap suara histeris salah satu yeoja berseragam yang duduk berempat bersama teman-temannya yang lain.

Omo! Omo! Aigoooo, Taehyung tampannya. Jimin jugaa!“ sahut salah satu temannya dan mereka tampak heboh. Kehebohan itu sempat menyita perhatianku yang disebabkan layar televisi besar yang terpasang di dalam kafe.

Dasi RUN, RUN, RUN~

Ige Mwoya? Kenapa mereka semua aneh sekali di comeback-nya kali ini. Ada yang berambut biru mencolok, pink, bahkan yang paling aneh tetaplah Jimin. Apa yang ada dipikiran hair stylist-nya? Aduh sepertinya tidak hanya lambungku yang sakit, mataku juga.

Seketika aku teringat Jimin yang kini sedang meliuk kesana kemari pada layar kaca. Jangan lupakan teriakan fans yang menggema bahkan hampir menutupi suara aslinya. Rasanya masih dendam jika mengingat isi pesannya semalam.

“ Agassi, tolong orange jus dua,“ ucap seseorang membuatku tersentak kaget. “ Orange jus mati kau! “ ucapku sesaat bayangan Jimin berkelebat diotakku.

“ Ah, jeosonghamnida. Neomu jeoseonghamnida.” Apa yang barusan kau katakan Kang Seulgi? Kau menakuti pelangganmu.

_____

Pagi ini aku kembali berkutat pada laptop untuk finishing karya ilmiahku. Dukungan yang kudapat dari Minho dan orangtuaku sungguh tak boleh kusiakan. Aku pasti bisa.

Daaaaaaan, akhirnya selesai. Kulentangkan badanku pada lantai kamar dan menghirup udara sebebas-bebasnya. Karya ilmiah dengan 40 kertas halaman telah kuselesaikan dalam waktu dua minggu. Aku tersenyum singkat. Ini seperti mimpi. Aku telah membuat suatu karya yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Benar-benar suatu keajaiban.

Aku segera bangun dan mandi. Aku tidak boleh terlihat seperti zombie hanya karena berkas-berkas itu. Cha! Berhubung deadlinenya besok, tidak ada waktu untuk sekedar bermalasan.

Setelah urusanku hari ini terselesaikan, aku kembali ke apartemen. Rasanya badanku mau runtuh saja. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 21.00 KST. Setidaknya aku lega karena seluruh persyaratanku telah selesai tinggal mengumpulkan saja. Aku tak bisa memikirkan hal lain hingga kumelupakan hari ini adalah ulang tahunku ke-23, masa bodo dengan hari kelahiran. Aku memang tak terbiasa merayakannya. Orang tuaku sempat menelponku saat dikampus tadi. Mereka menanyakan kabarku dan tentunya mengucapkan doa untuk pertambahan usia putrinya.

Kurebahkan badan kurus ini pada ranjang, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada punggungku. Aku terpaksa bangun dan memeriksanya.

Sebuah kado.

Aku yakin ini pasti dari si rambut orange itu mengingat siapa lagi yang bisa masuk apartemenku selain dia. Segera saja kubuka tanpa ada rasa penasaran sama sekali.

Isinya cukup membuat kepalaku berbuah seribu pertanyaan. Apa maksudnya ini? Didalam kotak kado itu aku hanya menemukan 2 krayon. Krayon, iya krayon. Warna merah dan kuning.

Selamat bertambah umur, seseorang yang selalu mengomeliku setiap kita bertemu! Aku berharap ada omelan-omelan yang telah kau siapkan untukku ketika membuka kado ini. Sayangnya aku tidak bisa mendengarnya langsung, kau tahu kan aku sedang sibuk comeback dengan rambut jinggaku? ㅋㅋㅋ. Aku jamin 100% kau tidak membutuhkannya. Tapi aku juga menjamin 100% kau akan membutuhkannya suatu saat nanti. Sungguh, entah kapan itu tapi kau akan membutuhkan dua krayon itu.

Alisku mengernyit setelah membaca kertas pesan darinya. Benar-benar tidak penting. Bilang saja kau tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli barang mahal untukku kan? Lagipula aku juga tidak berharap apapun darimu.

Sesaat aku mendengar suara yang muncul dari dalam perutku. Sebaiknya lupakan barang sial itu dan bersiap untuk membuat ramen sebelum tidur.

_____

Deadline pengumpulan berkas adalah hari ini. Kini aku sedang merias diri didepan cermin, kemudian ada pesan masuk. Dari bosku. Aku menghela nafas ketika membaca isi pesan tersebut yang menyuruhku, untuk lembur seharian di kafe. Kebetulan kafeku sedang mengadakan event spesial hari ini sehingga karyawannya harus standby penuh di kafe. Well, ini kabar buruk.

Aku segera menghubungi Minho dan kabar baiknya, Minho mau  membantuku dengan mengantarkan seluruh berkas persyaratanku ke kampus. Tak butuh waktu lama untuk menunggunya menjemputku di apartemen.

“ Kerja bagus, Seulgi-ya. Semoga beasiswamu berhasil.” Ucap Minho sambil mengacak rambutku gemas. Aku tersenyum sumringah.

“ Mau kuantar ke kafe? “ tanyanya lagi.

“ Tidak perlu aku bisa sendiri. Lagipula kan arahnya tidak sama.” Jawabku menolak dengan halus.

“ Baiklah aku pergi dulu.” pamit Minho lalu pergi.

Malam menunjukkan pukul 23.00 KST. Aku pulang dengan keadaan yang benar-benar memprihatinkan. Seharian ini tenagaku terforsir dengan adanya event yang diselenggarakan oleh kafeku. Tiba-tiba aku teringat oleh berkas yang kutitipkan oleh Minho tadi pagi. Aku segera mengetik pesan dan mengirimkannya. Tak lama, balasanpun datang.

Minho Sunbae

Tenang saja Seulgi, sudah di accept oleh panitia penyelenggaranya.

Aah, leganya.

Selang satu minggu kemudian, aku berharap-harap cemas. Pasalnya, hari ini adalah pengumuman dimana keputusan beasiswa akan kuterima atau tidak. Aku benar-benar berharap berkasku diterima, Tuhan.

Perasaanku ini semakin membikin was-was, karena selama ini tidak ada yang menenangkanku. Bayangkan saja, setelah pengumpulan berkas itu Minho jadi jarang menghubungiku, bahkan pesanku saja tidak pernah dibalas. Dikampus pun sangat sulit menjumpai wajahnya. Entahlah, aku berpikir mungkin dia sibuk. Wajar saja karena waktu yang digunakannya selama ini hampir sebagian besar dipergunakan untuk membantuku.

Asssaaa, kini aku bersiap didepan laptop untuk membuka website dimana aku dapat mengakses pengumuman itu. Sebelum itu aku berdoa sebentar demi keputusan terbaik yang kuperoleh nantinya, lalu kemudian mengetikkan username-ku pada website resmi kampus.

Setelah proses loading, mataku dengan cepat mencoba mencari judul karyaku di kolom mahasiswa yang beasiswanya diterima. Bahkan kini telunjukku ikut bergerak menyapu layar laptop dari atas ke bawah dan YAP! Kutemukan judul karyaku!

Makro Ekonomi dalam Perdagangan Bebas Korea Selatan dan India, Sistem Kerja Sama Ekonomi Terpadu, CEPA.

Oleh :

Choi Minho

Ya Tuhan! Apa aku salah lihat? Berkali-kali aku memastikan bahwa itu persis judul karyaku, tapi kenapa bukan namaku yang tercantum? Kenapa nama dari Minho Sunbae?

Tidak mungkin. Tidak mungkin Minho melakukan ini padaku.

Tidak, dia orang yang baik.

Segera saja kuraih ponselku dan menghubungi nomornya. Sial! Kenapa nomornya tidak aktif?

Kutelfon belasan kali namun hasilnya tetap sama.

Pandanganku kosong. Aku seperti mendapati kejadian yang benar-benar diluar batas logikaku. Antara panik, kecewa, marah, bingung semua perasaan campur aduk menjadi satu. Aku butuh penjelasan sekarang.

Tring!

Park Jimin

Chingu, eotte? Katanya hari ini pengumuman beasiswamu?

Melihat pesan dari Jimin membuat mataku berkaca-kaca. Entahlah aku tidak tahu harus membalas apa pesan Jimin yang menanyakan beasiswaku. Belum lagi jika orang tuaku nanti tanya harus kujawab apa?

Segera saja aku menyambar jaket dan tasku. Aku harus kekampus dan memastikan apa yang terjadi.

Langkahku semakin cepat kala aku tiba di kampus. Aku tidak bisa berpikir yang lain selain mencari keberadaan Minho Sunbae.

“ Seulgi-ya, yeogisseo? Bagaimana beasiswa mu? “ sapa Yura ceria, bisa dibilang dia teman terdekatku selama ini karena memang aku tidak pandai bergaul selama dikampus.

“ Kau lihat Minho Sunbae? “ bukannya menjawab pertanyaan Yura tapi aku balik bertanya.

Aniyo. Kenapa memangnya? “  Jawaban dari Yura tak kuhiraukan karena mataku telah menangkap sosok Minho yang berdiri tidak jauh dari tempatku. Tanpa berpikir panjang aku segera berjalan mendekatinya. Yura yang tampak bingung dan mencoba menyusulku.

“ Selamat atas beasiswamu, brother. Kau pantas mendapatkannya. Karyamu keren sekali! “ kata seorang pria yang juga merupakan Sunbae-ku. “ Gomawo, Kangjoon-ah.” Balasnya. Apa telingaku tidak salah mendengar ini?

Sun- Sunbae. Apa maksudnya ini? Kau bisa jelaskan padaku kenapa namamu yang ada di pengumuman? Bisakah kau katakan pada mereka itu karyaku? “ tanyaku pada Minho yang nampak sedikit kaget dengan kedatanganku.

“ Sepertinya kau datang dengan tidak berpikir dulu eoh? Itu karyaku, bagaimana bisa menjadi karyamu? “ ucap Minho dingin. Aku menatapnya hampa. Dia seperti bukan sosok yang kukenal selama ini.

“ Kau! “ teriakku mulai tersulut. “ Sikap manismu, bantuanmu, apakah untuk ini? Menghancurkanku? Merebut beasiswaku? Eoh? “

“ Dasar wanita aneh. Kau harusnya menerima kenyataan bahwa beasiswamu itu tidak diterima, malah mengaku-ngaku karyaku.“ remeh Minho. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

“ Brengsek kau Choi Minho!! “ ucapku emosi sambil meraih kerah kemejanya, tapi sedetik kemudian Minho menghempaskanku dengan tenaganya hingga aku tersungkur. Dari sini aku bisa melihat sikap angkuhnya yang berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku tak peduli lagi banyak orang yang melihatku, yang jelas harga diriku benar-benar terluka. Ingin rasanya aku menangis namun Yura dengan sigap membantuku untuk bangun.

Tiba-tiba kurasakan nyeri hebat pada lambungku. Aku meringis kesakitan, kenapa harus terasa disini? Yura terlihat mengkawatirkanku namun kurasakan gelap dan aku kehilangan kesadaran.

_____

Kucoba menggerakkan kedua bola mataku. Meskipun terasa berat namun kupaksakan untuk membukanya. Semua dinding tampak putih, aku dirumah sakit rupanya.

“ Syukurlah anda bangun. Tadi teman anda bernama Yura membawa anda kesini, namun ia izin untuk meninggalkan anda karena ada urusan keluarga mendadak sekitar 30 menit yang lalu.” terang seorang suster kepadaku. Aku hanya mencoba mengingat dan yaah, aku pingsan dihadapan Yura tadi.

“ Radang maag anda cukup parah. Daya tubuh yang kurang serta stress pada pikiran menyebabkan badan anda collapse. Anda bisa dirawat disini jika- “

Aniyo. Aku ingin pulang saja.” Potongku cepat.

“ Benarkah? Baiklah jika begitu anda bisa menebus obat dan adminisitrasi selepas dari sini.” Suster itu tersenyum dan pergi meninggalkanku. Kugerakkan badanku sedikit dan terasa perih pada lambungku.

Tak terasa air mataku meleleh. Semuanya seperti sia-sia sekarang. Pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan semua yang kupunya demi beasiswa itu kini hilang tiada berbekas. Hanya menyisakan sakit pada batin dan juga ragaku. Oh Tuhan, kenapa semua ini terjadi padaku? Aku kembali menangis dalam kesendirian. Menyesali semuanya yang telah terjadi.

Seketika aku merindukan orang-orang terdekatku. Aku butuh sandaran, sungguh.

“ Eomma, perutku- “ ucapku lemah kala telfonku terhubung dengan eomma, namun kudengar hanya suara bising entah apa itu. “ Eoh, Seulgi-ya? Chakkaman, eomma sedang mengurus adikmu sekarang ini dia rewel sekali. Nanti eomma hubungi lagi ya, annyeong.” Eomma menutup telfonnya. Dia bahkan tidak menanyakan beasiswaku, dia sibuk. Ya, eomma sibuk.

Kuberalih pada nomor Appa. Telfonnya tidak diangkat sama sekali. Aku mendadak lupa soal Appa yang jika berada dikantor tidak akan menggunakan bahkan menyentuh ponselnya.

Aku sungguh bingung sekarang. Aku merasa tidak punya siapa-siapa di Seoul. Temanku, Yura ada urusan. Aku tidak punya teman dekat lain. Kecuali, Jimin. Haruskah kumenelfonnya?

Setelah berpikir seribu kali, akhirnya aku memutuskan untuk menelfon Jimin. Kusampingkan egoku dan berharap dia bisa mengurangi rasa sedihku yang teramat sangat ini.

Yeoboseyo? “ ucap suara diseberang sana. Suara yeoja.

Aku terdiam. Yang kudengar bukan suara Jimin. Kenapa yeoja yang mengangkat telfonku?

Yeoboseyo? “ ucapnya lagi sebelum kumatikan telfonnya.

Aku menangis tersedu. Entahlah, perasaanku kian berkecamuk. Tak ada lagi orang yang bisa kuharapkan untuk menemaniku. Aku benar-benar sendirian sekarang. Bahkan Jimin, orang yang selama ini tak pernah kuharapkan kehadirannya, sekarang benar-benar kubutuhkan.

Tiba-tiba aku merindukan suaranya, aku ingin dia ada didekatku, aku jauh lebih baik bertengkar dengannya daripada merasakan kesedihan ini. Ini semua kebodohanku begitu percaya pada orang yang baru kukenal dan mengabaikan orang yang selama ini peduli padaku. Kenapa aku baru menyadari Tuhan, bahwa selama ini hanya Jimin satu-satunya orang yang cuek namun peduli padaku?

_____

Selepas dari rumah sakit, aku kembali ke apartemen dengan langkah yang begitu berat. Aku seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Tubuhku serasa mau runtuh sedang pikiranku melayang entah kemana. Mataku mungkin sudah bengkak karena terlalu banyak menangis. Aku mencoba untuk berbaring sebelum kutemukan kotak kado dari Jimin yang kini tertangkap oleh kedua iris mataku. Aku meraih benda itu dan kubuka perlahan.

Aku masih mendapati dua krayon tersimpan rapi disini. Apa maksud Jimin memberiku ini?

kau akan membutuhkannya suatu saat nanti. Sungguh, entah kapan itu tapi kau akan membutuhkan dua krayon itu.

Aku tersenyum getir mengingat pesannya. Aku tidak membutuhkan ini Jimin-ah, aku hanya butuh kau, batinku.

Entah apa yang merasuki pikiranku saat kutatap dua krayon itu dalam-dalam. Pasti ada hal yang harus kulakukan dengan dua krayon ini. Segera saja aku mencari secarik kertas putih. Tanganku seperti bergerak sendiri untuk menggores warna merah pada kertas itu. Lalu kemudian warna kuning kugoreskan tepat diatas warna merah dan memadukan warnanya. Kau tahu? Yang kudapati warnanya berubah menjadi jingga.

Tes. Air mataku menetes pada kertas. Aku menangis. Lagi.

Jingga, warna yang selalu aku benci. Warna yang sangat tidak aku sukai namun aku membutuhkannya. Warna itu menggambarkan Jimin. Jimin sangat menyukai jingga. Seberapa besar usahaku untuk menjauhinya, berlagak cuek, bahkan berusaha membencinya, pada akhirnya Jimin selalu ada untukku. Aku membutuhkannya. Aku merindukannya. Aku ingin Jimin selalu ada didekatku.

Sembari mengusap air mataku yang terus jatuh, aku terus-terusan bertanya. Perasaan apakah ini? Kenapa rasanya sesak sekali?

“ Kang Seulgi.” Ucap suara yang membuatku membeku sesaat. Aku segera menoleh dan mendapati Jimin, namja yang sangat kunantikan kehadirannya kini berdiri beberapa meter saja dihadapanku. Jimin memandangku sendu. Aku menatapnya dan bersiap untuk meledak. Sungguh, aku tidak butuh apa-apa lagi selain dia.

GREB!

Jimin meraih tubuhku saat aku mencoba berlari kearahnya. Seketika itu pula aku menangis pilu pada dekapan Jimin. Aku terus tersedu mencoba melepaskan segala beban yang kumiliki. Beban itu, aku ingin semuanya berkurang dan Jimin benar-benar membiarkanku terus menangis dalam dekapannya. Jimin hanya diam dan sesekali mengusap rambutku, perlakuannya benar-benar membuatku nyaman. Tuhan, aku tidak pernah merasa senyaman ini dalam pelukan seseorang.

Setelah perasaanku menjadi lebih tenang, Jimin melepas pelukannya dan mendudukkanku di ranjang. Kemudian ia berjongkok dihadapanku. Yang kulakukan hanya menundukkan wajahku, tak berani menatapnya.

Jimin terus menatapku kemudian mengusap sisa air mataku dengan tangannya. Kini aku memiliki sedikit keberanian untuk balik menatapnya. Oh Tuhan, aku melihat dia seperti seseorang dimimpiku waktu itu. Ia memakai setelan jas putih dan rambut jingga yang dibelah dua. Ya meskipun aku tahu, dia pasti tidak sempat mengganti kostum panggungnya sebelum menemuiku. Justru dia terlihat sangat tampan sekarang.

Mian. Tadi Songhee, makeup artisku yang mengangkat telfonmu.” Kata Jimin membuka percakapan.

“ Jimin-ah, aku— beasiswaku— “ ucapku tersendat-sendat.

Arrayo. Aku tahu semuanya.” Jimin memotong ucapanku. Aku memandangnya heran.

Eottokae arrayo?

Jimin tampak mengirup nafas panjang. “ Aku tahu semua kegiatanmu Seulgi. Aku ingin sekali berada disekitarmu, mengetahui apa yang kau kerjakan, menemanimu, bahkan menjagamu tapi itu semua tak mungkin kulakukan karena kesibukanku. Maka dari itu aku menyewa seseorang untuk melaporkan segala aktivitasmu padaku. Hanya dengan begitu aku bisa tenang.“ terang Jimin padaku. “ Ingin sekali kutonjok pria brengsek yang hanya memanfaatkanmu itu, dan— “

Aku memotong ucapannya dengan mendekap lehernya erat. Kuletakkan daguku pada bahu Jimin. Penjelasannya membuatku merasa beruntung telah mengenalnya.

“ Akan terlalu cepat jika aku mendefinisikan apa yang aku rasakan sekarang. Namun yang pasti aku tidak butuh siapapun. Kecuali kau, namja jingga menyebalkan-ku. Aku membutuhkanmu. Sangat.” Ujarku yang dibalas dekapan erat oleh Jimin.

END

Advertisements

4 thoughts on “[What is Your Color?] Except you, my hectic orange boy! – Oneshot

  1. Dyah_weedy

    Kasian seulginya 😥
    Seketika pen nangis tapi malu sama eomma, tahan tahan..
    Kopel paporit aku ini, ggom seul sama chim”, bagus banget critanya, authornim jjang,
    Keep writing ya ^*^

    Like

  2. Park Amalya

    Wiihh serasa banget baca nih fanfiction~
    Jimin?laki gw😅
    Seulgi?kembaran gw😤

    Kalo gitu gw tukeran nama aja sama kembaran gw😆

    Like

  3. Plis, tangan gatel nih, pengen tonjok Minho juga XD Brengsek banget pokoknya, dasar PHP -.- Jimin baik atuh, dedeq deulgi mah gitu emg, sok jual mahal /slap/ suka ceritanya, bahasanya juga ringan, konfliknya juga kerasa banget jadi krenyes pas bacanya 😀 /apa ini/ pokoknya lup lup lah ❤ ❤ ❤ /sekali lagi, maapkan ripiu ga mutu ini, bubye~~

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s