[BTS FF FREELANCE] I Want To Be Your Friend – (Oneshot)

iwtbyf_poster

I Want To Be Your Friend

 

Author : Orchidious

Main Cast : Park Jimin (BTS) x Kim Gyuri (OC)

Other Cast : Lee Hain (OC), Yoo Dongguk (OC), Kim Jinhwan (iKon), Kim Namjoon (BTS)

Genre : School life, friendship

Rating : T

Length : Oneshot

All the cast belong to their agency and their parents except the OCs. I just own the plot.

***

Acara penerimaan siswa baru sudah usai. Para siswa pun mulai kembali ke kelasnya masing-masing. Tak terkecuali Gyuri. Gadis berambut hitam panjang berkepang satu itu, berjalan memasuki kelasnya namun dengan langkah yang lesu. Wae? Jangan begini, Gyuri-ah. Dimana teman hiperku ini, eoh?” tanya seorang gadis berkuncir satu sambil menyenggol sikunya. “Kepala sekolah kita memang menyebalkan. Apa pentingnya pidatonya itu?? Sampai-sampai harus menyita waktu selama satu jam. Kau tau kan kalau aku paling malas mendengarkan ceramah, Hain-ah,” jawab Gyuri malas. Begitu sampai di bangkunya, ia langsung menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya yang ada diatas meja. “Beritahu aku kalau guru datang,” ujar Gyuri dengan nada malas. “Ck, kau seperti tidak tahu kebiasaan kepsek kita saja,” cibir Hain sambil mendudukkan dirinya di samping Gyuri. Sesaat kemudian, sebuah senyum terbit di wajahnya. “Ah, aku baru ingat. Gyuri-ah, kau tahu? Kelas kita akan kedatangan 2 murid baru. Katanya sih mereka—hei kau dengar aku tidak?” Gyuri menggerakkan kepalanya menghadap Hain. “Aku tidak tertarik, moodku sedang buruk.” Hain menghembuskan napasnya kesal dan mengalihkan pandangannya.

“GURU JANG SUDAH DATANG!! GURU JANG SUDAH DATANG!!”

Seruan salah satu teman sekelas mereka itu sukses membuat seluruh penghuni kelas kembali ke tempatnya masing-masing. Dan berhasil membuat Gyuri mengangkat kepalanya dan menegakkan tubuhnya. Seorang pria paruh baya kemudian mulai memasuki kelas.

“Selamat pagi anak-anak,” ujar pria yang dipanggil guru Jang tersebut. “Selamat pagi, Ssaem,” jawab seisi kelas. Guru Jang tidak sendirian. Dibelakangnya ada dua orang siswa laki-laki. Yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. “Hari ini kita kedatangan teman baru. Karena kelas kita kehilangan 2 orang tahun lalu, maka sekarang kita punya dua orang untuk menggantikannya. Nah, silahkan perkenalkan diri kalian,” ujar guru Jang ke kedua siswa tersebut. Keduanya mengangguk lantas membungkuk dan menyebutkan nama masing-masing.

Annyeonghaseyo, Kim Namjoon imnida. Senang berkenalan dengan kalian semua.” Itu si tinggi yang memperkenalkan namanya. Sambil menyertakan senyum berlesung pipi di akhir perkenalannya yang membuat seluruh murid perempuan meleleh melihatnya. Sekarang giliran temannya yang lebih pendek.

Annyeonghaseyo, Park Jimin imnida. Salam kenal,” ujarnya sambil tersenyum. “Baiklah, sekarang kalian silahkan pilih bangku yang kosong, lalu kita mulai pembelajaran hari ini,” ucap guru Jang. Namjoon segera melangkahkan kakinya ke bangku paling belakang, di sebelah Yoonmi yang duduk sendirian. Ia sadar jika dirinya memiliki tinggi badan yang sedikit melebihi rata-rata murid seumurannya. Sedangkan Jimin, ia memilih untuk duduk di sebelah Jinhwan, bangku nomor 3 dari depan. Tepat di depan Gyuri. “Kim Jinhwan,” kata Jinhwan sambil mengulurkan tangannya ketika Jimin sudah mendudukkan dirinya di bangku. Jimin membalas uluran tangan tersebut sambil tersenyum. Gyuri yang melihat Jimin duduk di depannya langsung mengetuk punggungnya dengan ujung pulpennya yang tak berisi mata pena. Jimin yang sedang mengeluarkan bukunya pun menoleh dengan tatapan mata yang seolah berkata ‘Ada apa?’. Gyuri tersenyum simpul. “Kim Gyuri, salam kenal.” Jimin hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu kembali menghadap kedepan, memfokuskan dirinya pada materi-materi yang diberikan guru Jang. “Pria yang cukup pendiam, sepertinya menarik,” kata Gyuri pada Hain. “Eoh, kau bilang kau tidak tertarik, tapi apa katamu sekarang?” cibir Hain. “Ah, sudahlah jangan dibahas lagi. Lihat ke papan saja, dan dengarkan guru Jang,” tukas Gyuri sambil mulai mencatat.

***

Jam istirahat, kelas mulai sepi. Terang saja, para siswa biasanya menghabiskan waktu di kantin. Hanya ada tiga orang saja yang tetap berada di kelas, termasuk Gyuri. Gadis itu selalu membawa bekal dari rumah sehingga ia tak perlu berjejalan di kantin hanya untuk mengantri makanan. “Wah… Gimbapnya enak sekali, Yoonmi. Terima kasih ya sudah membaginya denganku.” Suara besar Namjoon sukses mengejutkan Gyuri yang sedang sibuk membuka bekalnya. Sepertinya Yoonmi sudah punya teman baru untuk berbagi bekal. Dulu ia selalu membaginya dengan Sungjin, teman sebangkunya yang belakangan pindah ke kampungnya di Mokpo. Dan lihatlah sekarang. Ia baru kenal sebentar dengan Namjoon, tapi sudah akrab begitu. Makan bekal bersama pula. Gyuri yang melihatnya jadi sedikit iri. Mereka bisa makan dengan teman sebangku, sedangkan ia harus makan sendirian. Padahal ia sangat ingin Hain juga makan bekal bersamanya, tapi apalah daya, gadis itu suka sekali pergi ke kantin hanya untuk bertemu pria pujaannya, Yunhyeong.

Gyuri baru saja akan menyuap bekalnya ketika pintu kelas tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok Jimin dengan mie cup ditangan kanan dan sekaleng minuman soda di tangan kiri. Ia berjalan menuju ke bangkunya lalu mendudukkan diri disana. Gyuri yang memang belum menyentuh makanannya sama sekali, segera merapikan bekalnya dan membawanya ke bangku Jinhwan yang kosong.

“Hai! Aku ikut makan disini ya?” ujar Gyuri sambil sibuk membuka kembali bekalnya. Jimin hanya mengangguk sebagai jawaban. Gyuri pun segera melahap bekalnya. Jimin yang melihat Gyuri makan begitu lahap jadi bertambah lapar. Ia pun membuka tutup cup mienya lalu mulai menyumpitnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Tiba-tiba, Gyuri menghentikan makannya dan menoleh ke arah Jimin. “Kau makan mie cup saja?? Itu tak akan membuatmu kenyang sampai nanti,” kata Gyuri. Jimin terdiam sesaat. Lalu kemudian ia menjawab, “Ah, tidak apa-apa, aku biasa kok makan sedikit seperti ini.” Gyuri menggeleng. “Tidak-tidak. Kau harus makan yang lain juga. Kau mau daging?? Aku belum menyentuhnya. Kalau mau aku akan memberimu sebagian,” tawar Gyuri.

Tergiur tawaran Gyuri dan aroma lezat dari daging-daging tersebut, akhirnya Jimin mengangguk dan menggeser cup mienya ke arah Gyuri. “Kau ini tidak banyak bicara ya..”  kata Gyuri sambil memberikan sebagian dagingnya ke atas mie Jimin. Jimin tersenyum malu sambil menarik kembali cup mienya. “Terima kasih. Dulu aku selalu sekolah di sekolah khusus laki-laki, jadi aku jarang bertemu perempuan. Makanya aku sedikit sulit berinteraksi dengan mereka,” ujar Jimin kemudian. “Ah, begitu rupanya. Kau bisa memulainya denganku. Tidak harus kau yang memulainya. Aku yang memulai juga bisa, tapi kau juga harus berbicara, jangan diam begitu,” jawab Gyuri sambil menunjukkan senyumnya kembali. Jimin diam-diam kagum dengan sikap Gyuri. Baru kali ini ia bertemu dengan perempuan yang sangat ramah dan tak segan untuk berkenalan dan berdekatan dengannya.

***

Acara makan siang Gyuri-Jimin itu sudah selesai. Kini mereka sedang berjalan-jalan mengitari sekolah dengan Gyuri sebagai pemandu sambil menjelaskan berbagai hal tentang sekolah mereka, juga bangunan-bangunan serta ruangan-ruangan yang ada kepada Jimin. Ia sangat aktif dan berbicara banyak seputar sekolahan. Jimin sendiri hanya diam saja. Ia tak tahu bagaimana harus menimpali perkataan-perkataan Gyuri tersebut. Ia hanya mengangguk jika mengerti dan tertawa kecil jika ada yang lucu. Jadilah Gyuri saja yang terus berbicara sepanjang perjalanan. Satu-satunya kalimat yang muncul dari Jimin hanyalah pertanyaan dan keinginannya soal eskul vokal. Gyuri lalu berjanji kalau ia akan mengantar Jimin mendaftar eskul. Ia juga bercerita tentang eskul yang diikutinya yaitu storytelling dan klub bahasa Jepang. Gyuri sendiri sebenarnya tak mempermasalahkan soal sikap pendiamnya Jimin. Selama pria itu masih mendengarkannya, ia tak masalah jika harus bercerita sendiri. Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka di depan sebuah ruangan yang berisi banyak siswa di dalamnya. Jimin pun penasaran dan bertanya pada Gyuri.

“Ini ruangan apa? Kenapa ramai sekali??” Gyuri kemudian melihat papan nama ruangan yang ada di atas pintu. “Ruang musik. Sepertinya pendaftaran anggota baru untuk eskul vokal dan musik sudah dimulai. Kau mau ikut eskul vokal kan?? Ayo sekarang kuantar kau mendaftar!” Gyuri lalu menarik tangan Jimin dan membawanya masuk ke dalam.

Ruang musik benar-benar ramai ketika mereka berdua masuk. Ada banyak anak kelas satu yang mendaftar untuk ikut eskul musik dan juga vokal. Anggota eskul yang senior juga banyak yang hadir untuk membantu anggota baru mendaftar. “Permisi, kalau mau mendaftar eskul vokal dimana ya??” tanya Gyuri pada seorang murid perempuan yang sepertinya lebih tua dari mereka. “Di sebelah sana, tulis saja nama kalian pada buku besar yang ada di atas meja. Ada anggota eskul yang akan membantu kalian,” kata murid itu sambil menunjuk ke arah pojok kiri ruangan. “Terima kasih. Ayo kita kesana!” Tangan Gyuri yang masih menggenggam tangan Jimin sejak tadi, segera menariknya lagi. Lalu, mereka pun masuk ke dalam antrian dan ikut mengantri untuk mendaftarkan diri.

“Banyak sekali ya ternyata yang mau daftar,” kata Jimin setengah berbisik. Gyuri mengangguk. Setelah selesai menuliskan namanya, Jimin kemudian menghampiri Gyuri yang sudah menunggunya di samping meja. “Sekarang kita kemana lagi??” tanya Jimin. “Tentu saja ke kelas. Jam istirahat sudah hampir habis,” ucap Gyuri sambil mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang ada disana. “Kajja!” kata Gyuri sambil berjalan mendahului Jimin yang lalu mengikutinya dari belakang. Ia berjalan duluan karena ia harus menunjukkan arah kembali ke kelas pada Jimin. Ketika mereka sampai di depan kelas, mereka langsung disambut oleh Hain yang sedang berdiri di sana.

“Wah wah.. Kalian baru kenal sehari sudah kencan saja..”

Gyuri yang mendengarnya berdecak sebal. “Ck. Hain-ah, aku hanya mengajaknya berkeliling, memberi tahu soal sekolah kita. Bukankah aku melakukan hal yang benar kepada anak baru??” sahut Gyuri. Hain hanya memutar bola matanya. Ia lalu melihat ke arah Jimin dan mengulurkan tangannya. “Lee Hain, kita belum kenalan bukan?” Jimin membalas uluran tangan tersebut sambil tersenyum kikuk. “Kau mau menjadi patung selamat datang terus, nona Lee?? Kajja, Jimin!” Ia lalu menarik tangan Jimin dan mengajaknya masuk. “Ck. Ya! Setidaknya lepaskan tautan kalian itu juga!” ujar Hain dengan nada sedikit keras lalu mulai mengikuti mereka.

***

Gyuri melangkahkan kakinya di sepanjang koridor sekolah. Sekolah masih sepi. Padahal sekarang baru hari kedua masuk sekolah. Tapi seperti biasa, Gyuri selalu datang lebih awal, sebuah kebiasaan baik yang ia miliki sejak duduk di bangku sekolah dasar. Begitu sampai di kelasnya, Gyuri segera mendudukkan diri di bangkunya. Tidak ada seorangpun di kelas itu selain dirinya. Ia lalu mengeluarkan sebuah komik dan mulai membacanya. Tak lama kemudian bangku di hadapannya sudah terisi oleh seseorang. Penasaran dengan siapa yang datang, Gyuri pun menyingkirkan komiknya.

“Jimin?! Apa yang kau lakukan sepagi ini?” seru Gyuri ketika melihat Jimin sudah duduk di hadapannya. Jimin hanya memberikan tatapan polosnya. “Apa salah? Aku cuma ingin menikmati suasana pagi di sekolah.” Gyuri tertawa dan menggeleng. Ia lalu berjalan ke arah bangku Jinhwan.

“Mau baca komik bersama?” tawar Gyuri, menunjukkan komik bergenre romance yang ada di tangannya. Jimin menatap komik tersebut dengan tatapan bingung lalu menggeleng. Belum sempat ia bicara, Gyuri sudah memotongnya. “Kenapa? Tidak tahu cara membacanya ya??” Jimin mengangguk, masih dengan tatapan polosnya. Gyuri tersenyum lalu mendekatkan dirinya ke Jimin. “Sekarang aku akan mengajari cara membacanya padamu. Ingat ini, kalau biasanya membaca buku itu dari arah kiri ke kanan, kalau komik kita membacanya dari arah kanan ke kiri. Lalu ke bawah seperti biasa. Perhatikan tulisan dan percakapannya agar kau tidak bingung yang mana harus lebih dulu dibaca. Kau mengerti kan?” Gyuri menjelaskannya secara hati-hati agar Jimin bisa cepat menangkap maksudnya. Ia lalu menoleh ke arah Jimin dan dapat terlihat raut muka serius Jimin yang sedang fokus pada halaman pertama komiknya. Gyuri terkekeh melihatnya. Sesaat kemudian Jimin tersenyum dan mengangguk mantap.

“Aku mengerti. Ayo kita mulai baca komiknya!”

Suara Jimin mulai terdengar bersemangat. Gyuri senang mendengarnya. Mereka lalu mulai membaca komik itu bersama-sama. Sesekali mereka tertawa lantaran komik tersebut sebenarnya bergenre comedy-romance dengan alur cerita yang lucu. Bahkan mereka tak sadar jika kelas sudah semakin ramai dan mulai mendekati jam masuk. Jinhwan yang tak ingin mengganggu keduanya memilih untuk duduk di tempat Gyuri bersama Hain.

“Lima menit lagi bel berbunyi tapi tak ada tanda-tanda bahwa mereka akan berpisah. Hain, coba kau pisahkan mereka,” ucap Jinhwan sambil melirik jam tangannya. Hain hanya menatap malas ke arah Jinhwan dan menggeleng. Ia mengarahkan kepalanya ke arah Jinhwan lalu ke depan, memberi kode agar Jinhwan melakukannya sendiri. Tapi Jinhwan juga menggeleng malas dan alhasil mereka akan tetap terjebak untuk duduk berdua seperti ini sampai bel berbunyi.

“KRINGGG!!!!!”

Bel masuk akhirnya berbunyi dan itu terdengar seperti lonceng kebebasan bagi Jinhwan. Ia segera bangkit dan berjalan ke arah bangkunya. “Ya! Bel masuk sudah berbunyi. Sampai kapan kalian mau berpacaran seperti ini terus??” ujar Jinhwan dengan nada yang terdengar sangat malas. Mereka berdua lalu menoleh dan menatap sekeliling. “Eh, sudah ramai rupanya. Baiklah, nanti istirahat kita sambung lagi ya Jimin..” Gyuri mengambil komiknya dan melambaikan tangannya yang dibalas anggukan oleh Jimin. Ia lalu berjalan menuju bangkunya dan duduk dengan ekspresi sumringah.

“Apa dunia sudah jadi milik kalian berdua? Aishh..” ujar  Hain sambil menggelengkan kepalanya dengan ekpresi datar. Gyuri tersenyum lalu menunjukkan komiknya. “Bukan begitu. Ceritanya bagus sekali dan kau juga harus membacanya Hain-ah. Ini mirip sekali dengan kisahmu dan Yunhyeong.” Mendengar nama Yunhyeong, Hain segera merebut komik tersebut dan membaca sinopsisnya yang ada di cover belakang. “Wah.. Daebak! Aku pinjam ya Gyuri-ah,” kata Hain dengan mata berbinar sambil melihat-lihat isi komik tersebut. Gyuri mengambil kembali komiknya sambil tersenyum jahil. “Tidak bisa. Aku belum membacanya sampai habis, jadi kalau kau mau pinjam kau harus menungguku selesai membacanya dulu,” kata Gyuri sambil menjulurkan lidahnya. Hain hanya memutar bola matanya. Ia tak ingin membalas Gyuri lagi karena seorang guru sudah memasuki kelas mereka.

***

Janji Gyuri untuk melanjutkan membaca komik bersama Jimin harus tertunda lantaran saat jam istirahat pertama, ia dan Hain disuruh membantu guru Kim mengambil buku di perpustakaan. Sebelum pergi, ia sempat meminta maaf pada Jimin dan mengatakan kalau ia akan menepati janjinya saat istirahat kedua nanti. Jimin tidak terlalu mempersalahkannya, dan bilang kalau ia jg mau pergi mencari temannya di kelas lain, Taehyung. Dan disinilah Gyuri sekarang. Berhadapan dengan buku-buku sejarah untuk kelas tiga yang sudah dikumpulkan oleh Guru Kim. Ia bahkan tak bisa menghitung berapa jumlahnya. Tanpa basa-basi, beliau lalu menyuruh mereka membawakan buku-buku tersebut dan menaruhnya di ruang guru.

Setelah membaginya menjadi dua bagian, Gyuri dan Hain mulai membawa tumpukan buku-buku tersebut yang tingginya mencapai dagu mereka. Sedikit sulit untuk berjalan karena mereka harus mengikuti langkah wanita tua itu yang cukup cepat sedangkan di sisi lain mereka juga harus menjaga keseimbangan tumpukan buku-buku tersebut. Hain terus mengeluhkan tumpukan bukunya yang sesekali miring. Gyuri tak mempedulikan keluhan hain karena sesuatu yang terasa mengganjal di kepalanya. Ia terus memikirkan Jimin. Entah kenapa, firasat buruk yang tiba-tiba muncul membuatnya khawatir akan keadaan Jimin. Ia berusaha menepis pemikiran tersebut dengan berpikir kalau jimin adalah seorang pria dan pasti bisa menghadapi masalahnya sendiri. Tapi tetap saja, ia merasa khawatir melihat bagaimana sifat pendiam dan polosnya pria itu. Hain yang melihat muka gelisah Gyuri mengerutkan keningnya. Ia penasaran apa yang ada di pikiran temannya yang satu itu.

“Kau kenapa?? Gelisah begitu,” tanya Hain. Gyuri menggelengkan kepalanya lemas. “Entahlah. Aku tiba-tiba jadi khawatir pada Jimin.” Kerutan di kening Hain semakin terlihat. Gadis itu mengkhawatirkan Jimin? Yang benar saja. Baru kali ini ia melihat Gyuri gelisah dengan alasan aneh seperti itu. “Jangan terlalu dipikirkan. Ini mungkin hanya karena kau tidak sedang bersamanya saja,” kata Hain tanpa nada bercanda di dalamnya. Untuk saat ini ia tak akan menggoda Gyuri dulu. Gyuri menggeleng lagi dan tidak menjawab. Hain sebenarnya bingung dengan sikap Gyuri tersebut. Tapi ia juga sedikit percaya kalau Jimin mungkin sedang berada di keadaan yang tidak baik saat ini. Mereka akhirnya sampai di ruang guru. Setelah menaruh buku-buku tersebut dan menerima ucapan terima kasih dari guru Kim yang mereka balas dengan membungkuk singkat, mereka pun keluar. Begitu diluar, dengan cepat Gyuri segera melesat pergi entah kemana. Hain yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju kelas. Ia tak ingin mengikuti Gyuri dan mencampuri urusannya dengan Jimin nanti. Bisa-bisa, ia hanya jadi obat nyamuk diantara mereka.

***

Jimin berjalan santai menyusuri koridor sekolah sambil tetap mengingat kelas Taehyung. Sesekali ia bertemu dengan kakak kelas perempuan yang menyapa dirinya. Jimin hanya membalasnya dengan senyum manis. Ia masih sedikit canggung untuk membalas sapaan mereka. Hingga seorang kakak kelas perempuan menghentikan langkahnya dengan berdiri di hadapannya. Jimin pun memberikan tatapan bingung-polosnya yang terlihat sangat imut. Gadis itu tersenyum.

“Ah, kau begitu manis, boleh kita kenalan? Siapa namamu?” kata gadis itu sambil menunjukkan ekspresi gemasnya pada Jimin. Jimin mengulum senyum dan membungkuk. “Park Jimin, kelas 2-5.” Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Ahn Soora, aku kelas 3-2. Euhm.. Ngomong-ngomong, aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kau baru pindah kesini?” Jimin yang sudah membalas uluran tangan Soora mengangguk. “Lalu kau mau kemana? Mau kuantar?” tanya Soora lagi. Jimin menggeleng cepat. “Tidak usah sunbae, aku hanya mau pergi menemui temanku saja.” Soora menunjukkan ekspresi sedihnya yang dibuat-buat, membuat Jimin yang sekarang terlihat gemas. Entah mengapa, ia bisa jadi akrab dengan perempuan selain Gyuri di sekolah ini. Padahal sebelumnya ia selalu merasa malu dan canggung jika di dekat perempuan. Mungkin ini bisa jadi awal yang baik untuk Jimin. Ia tidak akan dicibir lagi oleh Taehyung yang selalu berkata bahwa ia tidak akan pernah bisa berpacaran dengan sikap pemalunya itu.

“Kau kenapa?” Lamunan Jimin buyar ketika Soora mulai berbicara lagi. Jimin menggeleng kikuk. “Mm.. Tidak apa-apa. Kalau begitu aku duluan ya sunbae, temanku pasti sudah menunggu.” Jimin membungkukkan badannya lalu berlalu meninggalkan Soora yang masih terpaku bingung. “Tunggu!” serunya tiba-tiba. Jimin menoleh. Soora kemudian cepat cepat mengeluarkan ponsel dari saku jas seragamnya. “Boleh aku minta nomormu?” Jimin terdiam. Bukan karena kaget, melainkan karena ia tidak pernah ingat nomor teleponnya. Dan sekarang ponselnya sedang ada didalam tasnya di kelas. “Maaf sunbae, tapi ponselku tertinggal di kelas. Nanti aku akan berikan kalau kita bertemu lagi ya..” Jimin memberikan senyum terakhirnya sebelum ia benar-benar berlalu dan menghilang karena berbelok ke arah kiri. Soora menghela napas dan berbalik menuju kelasnya.

Ketika Jimin sampai di lorong loker, tanpa sengaja ia menabrak seorang senior laki-laki yang sedang membawa minuman kaleng. Jimin tidak memperhatikan jalannya karena sibuk membetulkan kancing yang ada di ujung lengan jas seragamnya. Minuman kaleng itu kemudian tumpah dan mengenai seragam si senior. Jimin terkejut dan segera membungkuk sambil terus mengucapkan kata ‘maaf’. Senior itu terlihat marah dan hendak memaki Jimin, namun sebelum itu terjadi kedua temannya tiba-tiba datang sambil berlari.

“Dongguk,kami membawa berita penting! Tadi kami melihat Soora sedang berduaan dengan adik kelas di koridor,” ujar salah satu dari temannya itu dengan nafas tersengal-sengal. Kemarahan Dongguk semakin memuncak mendengar ucapan temannya itu. “Siapa pria itu huh?! Apa kalian masih ingat wajahnya? Aku akan menghajarnya saat ini juga!” ujar Dongguk dengan nada marah dan tangan yang dikepalkan. Kedua temannya tampak berpikir dan mengingat-ngingat sambil melihat sekeliling, siapa tahu saja pria tadi itu lewat disini.

“Ah, dia! Bocah ini yang tadi kami lihat,” kata temannya yang lain sambil menunjuk Jimin yang masih berdiri terpaku disitu. Dongguk mengalihkan pandangannya ke arah Jimin. Matanya semakin memancarkan raut kemarahan yang menggebu-gebu. “Kau!!” Dongguk yang sudah tidak bisa memendam emosinya lebih lama lagi langsung menarik kerah kemeja Jimin. “Apa kau tidak tahu Soora itu siapa huh??! Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?!” tanya Dongguk dengan suara keras. Ia semakin mencengkeram erat kerah Jimin. Jimin hanya diam membeku. Ia tidak tahu harus bagaimana karena ia belum pernah terlibat perkelahian. Wajah Jimin memucat.

BRAK!

Dongguk mendorong tubuh Jimin hingga membentur salah satu pintu loker. “Hei Bocah! Kau dengar aku tidak?!” tanyanya lagi dengan volume yang lebih keras. Jimin semakin takut. Ia tidak menjawab dan hanya memandang Dongguk dengan ekspresi takutnya. Melihat Jimin yang terus diam membuat emosi Dongguk kembali memuncak. Ia mengepalkan tangannya dan melayangkan satu pukulan ke arah Jimin. Tepat mengenai sudut bibir lelaki itu. Jimin meringis menahan sakit yang ia rasakan.

“Kalau ditanya itu menjawab! Jangan diam saja, bodoh!” ujarnya kesal. Namun, Jimin tak bergeming. Ia masih tetap diam dan menunduk. Melihatnya masih diam saja, Dongguk pun akan melayangkan sebuah pukulan lagi sebelum sebuah teriakan menghentikannya.

“HENTIKAN!!!”

Seorang gadis tiba-tiba berlari ke arah mereka dan langsung melepaskan cengkeraman Dongguk di kerah Jimin. Dongguk terkejut namun dengan cepat merubah ekspresinya dengan tersenyum remeh. “Wah, lihat siapa yang datang. Apa ini kekasihmu, huh?” ujar Dongguk dengan nada mengejek. Gadis itu adalah Gyuri. Ia juga terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Yoo Dongguk. Senior kelas 3 yang terkenal kasar dan selalu membully siapapun yang mengganggunya. Ia tidak pernah pandang bulu, bahkan dulu ia pernah menantang kakak kelasnya saat masih duduk di bangku kelas 2. Gyuri awalnya merasa takut, tapi melihat Jimin yang ditindas seperti itu membuat rasa takutnya terhadap senior paling disegani sesekolahan itu lenyap begitu saja. Ia lalu menunjukkan ekspresi menantangnya.

“Kalau ya kenapa? Apa kau mau memukulku juga?” ucap Gyuri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dongguk tersenyum sinis. “Cih, apa kau tahu kalau ia sebenarnya bermain-main di belakangmu? Ia mendekati kekasihku dan sudah sepantasnya aku memberikan pelajaran padanya. Kau lihat ini juga, ia menumpahkan minuman tepat di seragam favoritku,” kata Dongguk sambil menunjuk seragamnya yang basah dan kotor. “Jadi minggirlah, ini urusan laki-laki.” Ia lalu menyingkirkan tubuh Gyuri dan mulai kembali mendekati Jimin yang sekarang sudah berada di belakangnya. Namun secepat kilat Gyuri kembali menghadangnya.

“Kau tidak bisa menindasnya begitu saja kalau kau belum bertanya apa alasannya mendekati kekasihmu. Apa senior-senior sepertimu hanya bisa melakukan kekerasan saja?” ucap Gyuri. Di sekeliling mereka mulai banyak murid yang penasaran dengan apa yang terjadi. Dongguk terlihat kesal. Ia melihat ke arah Jimin yang berdiri tertunduk di belakang Gyuri.

“Hei, bocah! Kalau kau punya keberanian untuk berhadapan denganku, kemarilah! Jangan bisanya berada di belakang gadis saja. Cih, dasar pria ‘banci’,” ujar Dongguk sambil mendengus. Ia lalu berbalik dan meninggalkan mereka berdua karena malas berdebat lagi dengan Gyuri. Sekali ini saja, ia tidak akan menghajar habis-habisan orang yang sudah menganggunya. Tentu saja, apa kata orang nanti jika melihatnya berselisih dengan perempuan. Reputasinya bisa jatuh seketika. Namun, baru dua langkah ia berjalan, sebuah benda berat tiba-tiba terlempar mengenai kepalanya. Dongguk menoleh untuk melihat siapa yang melempar benda berat yang ternyata sebuah sepatu itu. Tampak Gyuri dengan wajah yang merah padam menahan amarah.

YA!! Seharusnya itu yang pria banci itu kau!! Kenapa bisanya hanya menindas murid lemah??! Apa itu pantas kau sebut jantan huh??!!” teriak Gyuri. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi dan kembali melepas sebelah sepatunya lalu melemparnya ke arah Dongguk, membuat pria itu terkena di bagian dahi karena tak sempat menghindar. Wajah Dongguk ikut merah padam. Ia jadi semakin emosi. Ia pun melangkah mendekati Gyuri lalu mencengkeram bahunya. Baru saja ia ingin bicara, gadis itu sudah duluan melepaskan diri dan menarik dasinya. “Sunbae–,”

“ADA APA INI RIBUT-RIBUT??!”

Ucapan Gyuri terhenti ketika mendengar suara pria tua dari arah belakangnya. Ia menoleh dan mendapati guru Jang sudah ada di belakangnya dengan mata melotot dan raut muka marah.

“KIM GYURI, YOO DONGGUK, KE RUANGANKU SEKARANG JUGA!!!!”

Suara menggelegar dari guru Jang membuat kumpulan murid yang ada disana membubarkan diri dan masuk ke kelas masing-masing, termasuk kedua teman Dongguk yang tadi masih berdiri disana mengawasi mereka. Gyuri melepaskan tarikannya pada dasi Dongguk dan menunduk. Diambilnya sepasang sepatunya yang berserakan di bawah dan memakainya. Dengan tertunduk, Gyuri lalu mulai berjalan mengikuti guru Jang. Dongguk tersenyum menang melihatnya dan kemudian membenarkan bentuk dasinya sebelum akhirnya mengikuti Gyuri ke ruang guru.

“Tunggu, Ssaem!”

Tiba-tiba Jimin bersuara. Guru Jang berhenti dan menatap kearahnya. “Ada apa lagi?” Jimin menarik napasnya panjang. “Saya adalah pemicu masalahnya. Gadis ini tidak tahu apa-apa, jadi tolong lepaskan dia dan hukum saya saja,” ujar Jimin. Gyuri yang mendengarnya menatap dingin ke arah Jimin. “Tidak usah dengarkan dia, Ssaem. Dia–,”

“Ah sudah-sudah, kenapa sekarang malah kalian yang bertengkar? Park Jimin, kembali ke kelasmu. Kalau ada apa-apa nanti bapak hubungi lagi.”

Guru Jang kembali melanjutkan langkahnya dengan Gyuri dan Dongguk di belakangnya. Jimin kembali menunduk. Tatapan menusuk dan perkataan gadis itu membuatnya semakin merasa malu dan juga bersalah. Seharusnya ia tadi membantu Gyuri untuk membelanya, bukannya hanya diam begitu saja. Dengan langkah lesu, Jimin berbalik dan mulai berjalan menuju kelasnya.

***

“Coba jelaskan apa yang sudah terjadi tadi.”

Guru Jang sudah duduk di kursinya dan memberi tatapan menginterogasi pada Gyuri dan Dongguk. Mereka hanya diam. Dongguk yang bereskpresi datar dan Gyuri yang terus menunduk. Guru Jang memijat pelipisnya dan menghembuskan napasnya.

“Yoo Dongguk, bisa kau jelaskan?” Dongguk tersenyum aneh. “Gadis ini melempari saya dengan sepatu tanpa alasan yang jelas,” jawab Dongguk sambil melirik Gyuri. Gadis itu diam saja dan terus menunduk. Pikirannya benar-benar kosong dan kalut saat ini. Guru Jang ikut melirik Gyuri. “Apa benar yang dikatakan oleh Dongguk itu, Gyuri-ssi?” Gyuri mengangkat kepalanya dengan tatapan bingung. “Nde? Memangnya dia bilang apa?” Guru Jang menghela napasnya.  “Dongguk bilang kau melemparinya dengan sepatu tanpa alasan yang jelas, apa itu benar?” tanya guru Jang lagi dengan sabar. Sebenarnya ia tak menyangka akan mendapati masalah dari murid perempuan di kelasnya pada hari kedua masuk sekolah ini. Terlebih lagi murid itu adalah Gyuri, gadis aktif yang tak pernah membuat masalah. Mata Gyuri membulat mendengarnya.

“Tidak. Tidak, ssaem. Saya tidak pernah melakukan hal itu. Dongguk sunbae tadi menindas teman saya jadi saya pun membantu membelanya. Namun, kata-kata dari Dongguk sunbae sudah keterlaluan sehingga saya melemparinya dengan sepatu,” jawab Gyuri cepat. “Ya! Kau jangan merubah-rubah cerita seperti itu. Kau mau membebaskan diri dari hukuman dengan cara seperti itu?” ujar Dongguk tiba-tiba. Gyuri tersentak. “Ya! Memang begitu kan kronologisnya,” balasnya tak mau kalah.

“Cukup!! Jangan berdebat lagi disini. Sekarang kalian lebih baik keluar dan kembali ke kelas. Tapi sebelumnya ada hukuman untuk kalian. Gyuri, kau bersihkan toilet yang ada di dekat kelasmu. Dan untuk Dongguk, kau bersihkan seluruh toilet yang ada di daerah kelasmu. Kalau nanti bapak lihat bagian kalian masih kotor, akan bapak tambah hukuman kalian. Lakukan itu setelah pulang sekolah nanti, dan jangan membolos pelajaran,” ucap guru Jang tegas.

***

Hain masih tak mengerti. Ujung bibir Jimin yang memar dan Gyuri yang datang terlambat dan tiba-tiba jadi tak bersemangat. Apa memangnya yang sudah terjadi pada mereka berdua? Ia ingin bertanya pada Gyuri, tapi melihat wajah lesu dan datar gadis itu membuatnya mengurungkan niatnya. Hingga jam sekolah usai pun, Gyuri tak ada bicara sedikitpun.

“Gyuri-ah, kau ini kenapa?? Cerita sedikit padaku, jangan diam saja.”

Gyuri yang tengah merapikan lokernya menggeleng. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” ujarnya sambil tersenyum yang terlihat dipaksakan. Hain mendecak. “Bagaimana bisa kau bilang kau baik-baik saja dengan wajahmu itu? Aku sudah kenal lama denganmu dan aku bisa membaca dari raut wajahmu kalau kau itu sedang ‘tidak baik-baik saja’ saat ini,” kata Hain kesal. Gyuri menutup lokernya dengan satu tarikan napas. “Ikuti aku,” ujarnya lalu melangkah mendahului Hain yang kemudian diikuti gadis itu dengan rasa penasaran dan bingung yang bercampur menjadi satu.

Kini mereka sudah duduk di bangku yang ada di depan kelas mereka. Hain bertambah bingung, kenapa Gyuri mengajaknya kembali. Tapi dengan sabar ia menunggu Gyuri untuk bercerita.

“Kau tahu Yoo Dongguk bukan? Senior kita yang paling disegani itu tadi menindas Jimin. Aku tidak tahu pasti alasannya mengapa tapi ia menghajarnya hingga bibirnya memar begitu. Aku datang di waktu yang tepat. Ketika ia ingin memukul Jimin lagi, aku segera menghentikannya. Ia sedikit kesal dan melihatku yang terus melindungi Jimin membuatnya menghina-hina Jimin. Aku kesal mendengarnya jadi aku pun melemparinya dengan sepatu. Ia kembali emosi dan mendekatiku, tapi aku bisa melepaskan diri dan berusaha membalasnya. Tapi, ketika itu lah guru Jang datang dan kami akhirnya mendapat hukuman untuk membersihkan toilet,” cerita Gyuri panjang lebar. Hain melongo mendengar penuturan Gyuri. Ia tak menyangka temannya itu berani melawan Yoo Dongguk, si senior kejam. Dan yang aneh adalah kenapa dia yang melawan Dongguk, bukannya Jimin. Ia juga penasaran apa inti dari masalah mereka hingga sampai mendapat hukuman begitu.

“Lalu, apa kau mau melakukan hukumanmu sekarang?? Aku akan membantumu,” tawar Hain. Ia tersenyum dan menepuk pelan bahu Gyuri. Tapi Gyuri membalasnya dengan menggeleng. “Tidak usah, aku akan melakukannya sendiri. Kau tunggu saja kalau kau mau, tapi kalau kau mau pulang duluan juga tidak apa-apa,” jawabnya seraya tersenyum tipis. Gyuri lalu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju toilet siswi yang ada di ujung lorong. Hain mendecak lalu mulai berjalan mengikuti Gyuri dan menunggunya membersihkan toilet sambil bersandar pada dinding yang ada di dekat pintu. Pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang gadis itu dan Jimin. Mungkin untuk sekarang ia tidak bisa bertanya lebih banyak, tapi ia yakin kalau besok, Gyuri pasti akan menceritakan semua padanya. Sesekali ia menoleh ke dalam untuk melihat apakah Gyuri sudah selesai atau belum. Ketika Gyuri juga melihatnya, gadis itu tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih karena Hain sudah mau menunggunya untuk pulang bersama seperti biasa.

“Tidak perlu berterima kasih, sudah sepantasnya bukan aku menunggumu? Kalau tidak, kau mau pulang dengan siapa??” Hanya itu yang dikatakan Hain. Lalu berbalik dan kembali melanjutkan aktivitasnya, bergelut dengan berbagai kemungkinan di pikirannya. Ketika ia masih sibuk dengan urusannya itu, seorang pria tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. Pria itu hanya diam dan tak mengatakan apapun. Butuh waktu bagi Hain untuk menyadari kalau Jimin sudah berdiri di sampingnya dengan wajah sedih dan memar bibirnya yang sepertinya sudah diobati. Ia menoleh ke arah Jimin sekilas. “Kau mau mencari Gyuri? Dia ada di dalam.” Jimin menggeleng. “Bisa kau tinggalkan kami? Ada hal yang harus kubicarakan dengan Gyuri.” Hain terdiam sesaat sambil melirik Jimin. Memilih untuk memutuskan meninggalkan Gyuri atau tetap menunggunya dan menolak permintaan Jimin.

“Kumohon.” Suara serak Jimin terdengar lagi dengan nada memohon. Hain akhirnya mengalah. Ia menegakkan tubuhnya dan menghadap Jimin. “Asal kau berjanji tidak membuatnya menangis atau menyakitinya. Kalau sampai itu terjadi, aku akan membuatmu keluar dari sekolah ini besok,” ancam Hain. Jimin mengangguk. Setelah melihat Gyuri sekali lagi, Hain akhirnya berlalu dan meninggalkan Jimin sendirian disana. Sepertinya Gyuri tidak menyadari kehadiran Jimin karena gadis itu nampak masih sibuk dengan kegiatannya. Selepas kepergian Hain, giliran Jimin yang kini bersandar di dinding. Sama seperti Hain, ia juga melamun memikirkan bagaimana caranya ia meminta maaf pada Gyuri.

Tak berapa lama kemudian, Gyuri akhirnya keluar dan ia nampak terkejut melihat bukan Hain yang ada disana melainkan Jimin. Mereka berdua sama-sama diam dan tak mengatakan apapun sampai akhirnya Jimin yang memulai bicara. “Hain pulang duluan.” Gyuri tak menggubris perkataan Jimin dan langsung berlalu. Ia pikir Jimin akan langsung pergi dan meninggalkannya, namun perkiraannya itu salah ketika ia merasa sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Gyuri berbalik dan mendapati sosok Jimin yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh penyesalan. “Kumohon, dengarkan aku dulu.” Gyuri menghela napas. Ia tak tega melihat wajah Jimin yang terlihat sangat menyedihkan itu, tapi rasa kesal di hatinya karena sikap Jimin tadi masih tetap ada. Ia lalu menggeleng dengan dingin dan melepas paksa tarikan Jimin di pergelangan tangannya. Dengan cepat, Gyuri berjalan menuju halte.

Halte bus depan sekolah sudah sepi. Wajar saja, jam pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu. Dan murid-murid yang masih mengikuti eskul di sekolah juga belum pulang. Gyuri mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di halte. Ia menatap kosong ke arah jalanan yang tidak terlalu ramai. Bus berikutnya baru akan tiba lima belas menit lagi. Itu artinya, ia mungkin akan berada dalam lima belas menit kecanggungan jika Jimin juga duduk disana. Benar saja, beberapa detik kemudian bangku sebelahnya sudah terisi dan orang itu tak lain adalah Jimin. Dari sudut matanya, ia bisa melihat kalau pria itu sedang terus menatapnya. Gyuri akhirnya menghela napas. “Aku tidak marah padamu, tapi untuk saat ini, tolong berikan aku waktu sendiri.” Jimin terdiam mendengarnya. Ia tahu, kalau kesalahannya itu pasti membuat Gyuri sangat kesal. Tapi, ia sangat berharap agar Gyuri mau memaafkannya karena ia tidak ingin kehilangan satu teman barunya itu. Jimin memejamkan matanya lalu kemudian bangkit dan berdiri di depan Gyuri.

“Kim Gyuri, aku benar-benar menyesal atas tindakanku tadi dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku.”

Jimin tiba-tiba sudah membungkuk di hadapan Gyuri. Ia membungkuk cukup lama dan berhasil membuat Gyuri tak tega. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya ikut berdiri dan menarik bahu Jimin agar pria itu bisa berdiri tegak dan menatapnya. Pandangan mata mereka pun bertemu.

“Aku sudah memaafkanmu. Maaf kalau aku tadi bersikap dingin. Aku memang masih kesal, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan murid baru sepertimu terlibat dalam masalah di hari kedua ia masuk sekolah ini. Aku juga tidak benar-benar marah padamu, melainkan pada diriku sendiri. Kenapa aku harus ikut membalas Dongguk kalau aku bisa saja membawamu lari dari sana saat itu juga? Akulah yang bertindak bodoh saat itu. Tapi, aku tidak suka melihat temanku ditindas begitu saja. Makanya tanpa sadar, aku jadi ikut terpancing emosi dan melawan Dongguk. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah lagi.”

Semua kata-kata itu terlontar dari mulut Gyuri yang kemudian tersenyum hangat. Jimin yang awalnya memandang Gyuri dengan ragu ikut tersenyum. Ia lalu meraih tangan Gyuri dan menggenggamnya erat. “Mulai saat ini aku yang akan melindungimu, Gyuri-ah. Aku berjanji,” ucapnya tulus. Gyuri terkejut mendengar penuturan Jimin. Tidak menyangka kalau kata-kata itu yang akhirnya diucapkan Jimin. Gyuri kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Tapi tak lama kemudian, senyumnya hilang ketika pandangannya tak sengaja menangkap bekas luka memar di bibir Jimin. Ia menatap khawatir ke arah Jimin. “Apa kau sudah mengobatinya? Apa masih terasa sakit?” Jimin menggeleng. “Masih sedikit sakit, tapi aku sudah mengobatinya tadi di UKS.” Gyuri lega mendengarnya. Ia kemudian mengajak Jimin duduk kembali dan memintanya untuk bercerita apa alasan di balik perselisihannya tadi dengan Dongguk. Jimin bercerita kalau tadi ia bertemu dengan seorang kakak kelas perempuan bernama Ahn Soora. Ia tak tahu kalau Ahn Soora itu ternyata kekasih Yoo Dongguk dan tanpa ragu mengobrol dengannya. Dongguk mengetahuinya dari teman-temannya dan kemudian memarahi Jimin. Padahal, yang mengajaknya mengobrol duluan itu Soora, tapi Jimin tak mengatakan apapun kepada Dongguk sehingga Dongguk mengira itu kesalahannya dan menghajarnya.

“Lalu kau juga tak sengaja menumpahkan minuman di seragamnya?” Jimin mengangguk. “Aku tak sengaja menabraknya karena sibuk membetulkan kancing bajuku. Uh, aku menyesal tadi tak melawannya. Gara-gara itu kau jadi kena hukuman kan?” kata Jimin menyesal. Ia kemudian menatap Gyuri. “Kau tahu? Kau adalah gadis pertama yang dekat denganku. Aku pikir aku bisa menambah daftar teman baruku ketika bertemu Soora, tapi ternyata saat tadi aku berpapasan dengannya saat menuju UKS, ia bahkan pura-pura tak melihatku. Sepertinya ia sudah tahu tentang masalah tadi dan ingin menjauhiku. Jadi kuharap kau mau berteman denganku dan tidak meninggalkanku begitu saja. Aku sangat ingin menunjukkan pada temanku yang lain bahwa aku juga bisa berteman dengan perempuan. Aku berkata begini karena aku sudah menyusahkanmu di awal perkenalan kita. Kuharap kau mau menjadi temanku,” ujar Jimin pelan. Gyuri menatap Jimin tak percaya. Ia mengulum senyum dan meraih tangan Jimin lalu menautkan kelingking mereka. Jimin menatapnya bingung.

“Tanpa kau minta pun, aku akan menjadi temanmu. Dari awal kita bertemu, aku sangat ingin berteman denganmu karena kau sangat menarik perhatianku.” Gyuri mengeratkan tautan kelingking mereka. “Jadi… Kita berteman?” Jimin tersenyum. “Teman.”

~~~~~

The End

 

Absurd fic ._.

Ini sebenarnya ff pertama sebelum HYYH, makanya masih ancur gini tulisannya ‘-‘)

Omong” salam kenal, Orchidious disini ^^)/ (lagi ganti nama ilang 01-nya ehe.. /ga ada yang nanya/)

 

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] I Want To Be Your Friend – (Oneshot)

  1. iri sama gyuri bisa jadi temen deket (banget) nya jimin … kesel banget sama dongguk2 itu, kenapa dia memutar balikkan faktaa??? jadi kasian ama gyuri ikut kena hukuman
    Jimin polos banget disini wkwkwk

    karna ini ff pertama jadi it’s okay (it’s love *korban drama* *abaikan*) kalo masih ada kurang sana-sini, tapi untuk kedepannya semoga bisa lebih baik lagi yaaaa

    sekian dari saya, maaf kalo ini komen kurang jelas dan absurd *bow*
    Semangat terus nulis ff ya diouse, fighting!

    Liked by 1 person

  2. Jadi kita….pacaran(??)
    Iya, pacaran(??)
    Udah lah pacaran aja kalian mah cocok berdua (eh)

    Sebelumnya aku tadi baca trus agak kaget waktu liat ‘jg’ mungkin authornya keasikan ngetik(??) dan juga ada beberapa namanya Jimin gak pake J kapital, tapi gapapa, ceritanya udah bagus gini kereen euyy

    Dan juga entah kenapa aku bisa membayangkan sosok seorang Jimin disini(??) ah benar juga, aku baper banget bacanya sampe berimajinasi di kepala(??)

    Nice story, author-nim! Aku ngeship mereka berdua~ dan maafkeun nih aku dateng-dateng menuhin komen box dengan komentar gajelas gini(…….??)

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s