[What Is Your Colour?] Payung Kuning-Oneshoot

1458317179697

PAYUNG KUNING

 

 

Ismisangeun || Oneshoot || Romance, Youth || PG-15 || Kim Seok Jin (Jin BTS), Choi Kumi (OC) ||

Disclaimer

This story original from author, don’t be plagiat

 

Summary

Hidup selalu menawarkan kejutan dalam pertemuan pertemuan baru. Tapi pertemuan ini membuat getaran baru dalam hidupku.

 

 

 

Oneshoot by

Ismisangeun Storyline ©2016

 

Dalam hidup ini sudah tertulis skenario besar Tuhan dengan manusia sebagai pemerannya. Termasuk skenario Tuhan tentang sebuah pertemuan. Mungkin memang tak ada kebetulan di dunia ini karena akan selalu ada alasan di setiap pertemuan dalam skenario-Nya. Termasuk temu diantara kita adalah salah satu yang istimewa.

 

Salju memang sudah mulai mencair mendekati akhir musim dingin. Namun, hujan salju seperti sekarang ini memang tak terduga. Seorang gadis berumur 21 tahun berlari kecil ke sebuah mini market. Gadis ini menyibakkan salju yang menempel di mantel parka merah maroonnya itu. Choi Kumi seorang mahasiswi sastra di Universitas Konkuk ini langsung menuju sudut minimarket untuk membeli sebuah Payung.

 

Payung berwarna Kuning yang tersisa satu-satunya disana. Benar-benar menyebalkan. Ternyata payung itu sudah di pesan dan tinggal menunggu diambil oleh di pemesan.

 

“Apa tak ada sisa payung lagi? Bagaimana jika payung itu aku beli saja? Aku harus pulang sekarang?” oceh Kumi pada pelayan disana.

“Maaf Nona payung ini sudah terjual.”

 

Kumi keluar dengan helaan napas berat. Ia hanya berdiri di depan mini market sambil menatap salju yang turun. “Jung Kook pasti akan kelaparan,” gumam Kumi mengkhawatirkan keadaan adik tirinya.

 

Tak lama seorang pemuda berumur 24 tahunan memasuki minimarket. Pemuda bernama Kim Seok Jin itu ternyata si pemesan payung kuning tadi. Setelah menunjukkan struk pembayaran pada pelayan Seok Jin bergegas keluar membawa Payungnya. Namun, ponselnya bergetar saat berada di luar mini market.

 

‘Tak usah bawakan aku payung pulang saja.’ Kim Seok Jin hanya menghela napas panjang saat membaca pesan entah dari siapa. Yang jelas semburat kekecewaan tergambar jelas di air wajah pemuda 24 tahun ini.

 

“Aku tak bisa pulang sekarang.”

 

Keluhan Kumi terdengar hingga gendang telinga Seok Jin yang berdiri beberapa langkah disamping Kumi.

 

“Nona, apa kau butuh payung?” tanya Seok Jin. Kumi hanya menatap bingung pemuda asing di sampingnya itu. “Ambil ini,” lanjut Seok Jin memberikan payung lipat berwarna kuning itu di tangan Kumi dan bergegas beranjak pergi.

Gomap-” Kumi belum menyelesaikan kalimatnya karena Seok Jin bergegas pergi.

Gomapseumnida tuan!” teriak Kumi senang. Namun Seok Jin tak peduli dan memilih untuk tetap melangkah menerjang hujan salju yang cukup lebat.

 

Kumi membuka payung kuning-nya dan bergegas pulang. Ia merasa sangat berterima kasih kepada pemuda yang memberikan payung nya tadi.

 

 

Kumi menatap payung  warna kuning cerah. Kuning mengingatkannya akan tulip bernawa kuning yang berarti cinta sepihak. Namun sebenarnya warna kuning memiliki arti kehangatan dan kebahagiaan.Setidaknya payung kuning ini membawa kebahagiaan bagi Kumi karena bisa bergegas pulang.

 

 

Sejak hari itu Kumi selalu membawa payung kuning lipat itu kemana saja. Konyol memang karena Kumi berharap bisa mengembalikan payung itu pada sang pemilik. Kumi hanya berkeyakinan bahwa ia akan bertemu dengan namja payungnya itu.

 

Padahal mereka selama ini mereka sering berpapasan satu sama lain karena satu fakultas. Tapi ingatan Kumi buram dengan wajah Seok Jin karena sekali bertemu. Sementara itu bagaimana dengan Seok Jin? Seok Jin masih mengingat jelas wajah Kumi.

 

Kumi mengeluarkan koinnya untuk membeli beberapa softdrink. Saat berbalik ia sedikit terkejut karena ada seseorang di belakangnya. Awalnya Kumi belum menyadari bawah orang di belakangnya adalah Kim Seok Jin.

 

Namun Tunggu. Kumi langsung menghentikan langkahnya karena menyadari sesuatu.

 

“Permisi,” pelan Kumi bertanya pada Seok Jin. Seok Jin hanya menatap Kumi. Kumi menatap wajah Seok Jin. Kali ini ia mengingat nya. Benar, karena sekarang Seok Jin mengenakan outfit yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Kumi mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna kuning itu. “Ini aku kembalikan payung Anda,” sopan Kumi. Bahkan Seok Jin sebenarnya tak mengingat jika ia pernah memberikan payung itu pada Kumi.

“Pasti sudah lupa. Tapi aku yakin ini milikmu karena aku mengingat pakaian yang kau kenakan sama. Aku bersyukur karena bisa bertemu lagi disini. Selama ini aku membawa payung ini kemana-mana karena mempunyai feeling akan mengembalikan payung ini kepada pemiliknya. Terima kasih atas bantuan saat itu. Payung ini penyelamat,” jelas Kumi panjang.

 

Payung Kuning.

 

Ada memori tersendiri saat melihat benda ini. Benar sejak saat itu Seok Jin tak pernah menghubungi seseorang yang memintanya membawakan payung. Sejak hari itu kepercayaan Seok Jin pada gadis yang pernah ia cintai selesai. Termasuk selesai hubungan mereka. Namun hari ini payung kuning itu kembali dengan membawa getaran baru. Ia sedikit tersentuh dengan ketulusan gadis asing yang mengembalikan payung kuning itu kembali ke tangannya.

 

“Jika kita bertemu kembali aku akan memberikan payung ini padamu,” gumam Seok Jin bermonolog.

 

Dua orang dari berbeda jalan melangkah menuju arah yang sama dan bertemu di satu titik. Mungkin itulah skenario tuhan yang disebut dengan takdir.    

 

 

-Cherry Blossom cafe.

 

Kumi kembali ke kafe favoritnya itu. Usai jam kuliah atau saat jeda gadis ini sangat suka mengunjungi tempat favoritnya ini. Pesanannya selalu sama yaitu secangkir caramel macchiato dan satu pancake dengan toping coklat. Ya,benar saja Kumi bisa menghabiskan setengah harinya disitu. Jari-jarinya akan menari lincah diatas keyboard laptop kesayangan.

 

Seok Jin melepas apron nya dan bermaksud keluar untuk mengantar  pesanan langsung. Pria ini terlihat begitu tampan dengan setelan outfit kokinya. Kim Seok Jin menghantar pesanan kepada Kumi. Ah, mereka bertemu lagi.

 

Saat mengantarkan pesanan Seok Jin sempat menghentikan langkahnya sejenak karena masih mengenali Choi Kumi.

 

“Silahkan, nikmati pesanan Anda,” ucap Seok Jin.

“Terima kasih,” jawab Kumi tanpa memandang Seok Jin. Ah, Choi Kumi terlalu fokus dengan proposal yang sedang ia kerjakan. Tak ingin menganggu Seok Jin bergegas pergi.

 

Di ruangannya, Kim Seok Jin sedang menimang apakah harus mengembalikan Payung Kuningnya itu. Pemuda ini cukup lama memandang payung lipat kuning itu.

 

Berselang seperempat jam akhirnya Seok Jin memutuskan kata ‘ya’. Ya karena sudah berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan memberikan payung itu pada Kumi jika bertemu kembali.

 

“Baiklah aku akan segera kesana, aissh Jeon Jung Kook!?” umpat Kumi menutup teleponnya. Kemudian membereskan barang barangnya dan bergegas beranjak. Disaat bersamaan saat Seok Jin akan memberikan payung kuning nya. Ia melihat Kumi terburu-buru untuk pergi.

 

Seok Jin melihat Kumi berlari keluar kafe. Kemudian ia melihat sesuatu yang tertinggal di meja Kumi tadi. Seok Jin mengambilnya.

 

Kumi sedikit bermain keringat karena ia berlari seperti sedang lomba maraton. Ia ke kantor polisi untuk menjadi wali dari sang adik karena terlibat perkelahian antar sekolah tadi.

 

“Sudah ku bilang kan untuk tak berulah lagi, aish Jeon Jung Kook. Kau benar-benar!” kesal Kumi memungul lengan kekar sang adik berkali-kali.

Noona, aku ini namja wajar jika ikut berkelahi, lagipula  tadi aku hampir saja menghabisi semua. Aku akan dapat bayaran besar tapi tertangkap polisi.”

“Aku tak butuh penjelasan apapun itu darimu. Pulanglah,” kesal Kumi. Jung Kook tahu sang Noona marah padanya.

Noona! Mianhae!” pinta Jung Kook.

 

Dari kejauhan sepasang mata menyaksikan kakak beradik itu. Siapa lagi kalau bukan Kim Seok Jin. Ia memegang sebuah proposal atas nama Choi Kumi.

“Permisi Nona,” ucap Seok Jin menahan salah satu pejalan kaki.

“Proposal ini milik Nona itu bisa minta tolong kau berikan padanya, tadi terjatuh. Gamsahamnida.” Seok Jin menunjuk keberadaan Kumi.

 

Kumi masih mengumpati sang Adik selalu membuat masalah. Membuat beban hidup Kumi semakin berat saja.

“Pergi kau! Pergi!” kesal Kumi memukul sang adik berkali-kali. Tapi percuma tangan Kumi terlalu kecil bagi Jung Kook. Pukulan payah sang Noona.

“Pukul saja Nun, sepuasmu. Ini salahku,” pasrah Jung Kook.

 

Tak lama seorang wanita mendekati Kumi dan Jung Kook.

 

“Permisi, Agashii. Ini proposal Anda sepertinya terjatuh tadi.”

“Ah benar! Proposalku. Ah iya gomapseumnida,” ramah Kumi sambil berterima kasih banyak pada wanita itu.

“Jika ini hilang tamat riwayatku. Hariku kacau gara-gara playboy kecil satu ini,” kesal Kumi masih mengumpati sang adik. Kumi beranjak dan Jung Kook hanya mengekor di belakang sang Noona.

 

 

Sejak saat itu Seok Jin diam-diam memperhatikan Kumi saat mengunjungi cafe miliknya. Mata kecil itu fokus pada layar laptop. Sesekali mendesah kesal. Menggerutu tak jelas. Dan kadang memandang kosong keluar jendela seolah sedang memikirkan sesuatu. Ya, Seok Jin sudah memperhatikan semua gelagat Kumi di sudut yang sama kafe ini. Pesanan Kumi juga tak banyak berubah. Paling sering ia memesan secangkir caramel macchiato dan pancake cokelat. Dua pesanan itu baru Kumi santap jika caramel macchiato sudah hampir mendingin. Oh lihat Kim Seok Jin, kau sudah penasaran di luar batas pada seorang Choi Kumi.

 

Tapi entahlah, Seok Jin sendiri juga bertanya mengapa ia bisa sepenasaran ini pada gadis payung kuning nya itu. Ah benar, payung kuning. Seok Jin belum menepati janjinya itu. Janji pada diri sendiri untuk memberikan payung kuning itu pada Kumi jika ia bertemu dengan gadis itu lagi. Sepertinya Kim Seok Jin sedang menunggu sebuah momen untuk bisa memberikan payung kuning itu.

 

Momen dimana skenario tuhan benar-benar mempertemukan mereka lagi. Bertemu eyes to eyes.

 

Ya! Choi Kumi! Sepertinya kau berhasil, cepatlah ke ruangan Prof.Jung.”

Jinjja? Naskahku lolos? Ya! Kau jangan bercanda,” tanya Kumi tak percaya.

Jinjjayo, lihat disini ada namamu,” ucap teman Kumi menunjukkan pengumuman di ponselnya.

“Wuah daebak, itu benar-benar ada namaku disana. Eotteokhae!” senang Kumi rasanya ini berteriak sambil meloncat mengekspresikan kegembiraan.

“Cepat temui prof.Jung!”

“Oh geurae geurae. Aku pamit!” Kumi buru-buru menemui professor.

 

 

Takdir macam apa ini? Benar, sepertinya Kim Seok Jin menunggu momen ini. Total ada empat mahasiswa disana. Dua mahasiswa sastra dan dua mahasiswa akting.

 

“Choi Kumi dan Song Inha naskah kalian yang lolos. Dan dua orang di depan kalian akan menjadi patner kalian. Mereka akan menggunakan naskah yang kalian hasilkan untuk tugas akhir akhir.”

 

Kumi mengambil bola yang berada di box untuk menentukan siapa patnernya.

 

“Buka bola kalian,” ucap prof.Jung.

 

Senyum cengiran kuda terbentuk di sudut bibir Seok Jin karena mereka mendapat warna bola yang sama. Yaitu bola warna kuning.

 

“Warna bola itu sekaligus menjadi tema naskah yang akan kalian kerjakan.”

 

Kuning? Batin Kumi.

 

Setelah mendapat penjelasan. Kumi keluar ruangan. Seok Jin mengikuti dari belakang. Merasa ada yang mengikuti Kumi menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia langsung membungkukkan badannya pada Seok Jin karena menjadi seniornya.

 

Annyeong haseyo, Choi Kumi-imnida,” sapa Kumi.

“Sepertinya kita pernah bertemu, jadi tak akan sulit bukan untuk beradaptasi?” tanya Seok Jin. Kumi hanya mengangguk canggung tak berani menatap sang senior.

“Berikan ponselmu,” pinta Seok Jin. Kumi menurut. Seok Jin menuliskan nomor dan namanya di ponsel Kumi.

“Kita akan sering bertemu.”

 

Benar saja Kumi dan Seok Jin akan menjadi patner. Kelulusan Seok Jin akan bergantung pada naskah Kumi nantinya. Seok Jin bertanggung jawab atas timnya untuk menjadi lead cast. Tugas Seok Jin bekerjasama dengan mahasiswa departemen sastra untuk mendapatkan naskah terbaik yang akan di dipentaskan di panggung teater.  Dan hanya Kumi dan Inha yang didapuk mendapat kepercayaan dari mahasiswa teater.

 

Sekarang kita lihat tema yang Kumi dapat. Yaitu tema warna kuning. Ada apa dengan warna kuning? Apa maknanya? Dan bisa apa Kumi dengan warna ini untuk mendapat inspirasi? Ah hal ini sudah mengganjal di kepala Kumi seminggu. Ia terus mengunjungi perpustakaan mencari ide yang cocok untuk ini.

 

“Kenapa kau tak makan?” tanya Seok Jin karena hanya melihat Kumi termangu di depan nya.

“Aku sebenarnya sudah kenyang melihat sunbae makan,” jujur Kumi. Seok Jin tertawa lepas karena hal ini. Memang benar pemuda ini gila makan dan porsi makannya besar.

“Aku memang gila makan. Lalu bagaimana dengan naskahmu? Apa sudah mendapat ide?” tanya Seok Jin. Kumi menggeleng frustasi.

“Filosofi warna kuning adalah kebahagiaan dan ketulusan tapi semua bunga yang berwarna Kuning memiliki arti cinta sepihak.  Hal ini membuatku bingung menentukan tema.”

 

Awalnya Kumi merasa canggung dengan seniornya itu. Itu karena desas desus yang Kumi dengar dari teman-temannya tentang Kim Seok Jin. Tapi setelah Kumi mengenalnya Seok Jin tidak seperti yang dibicarakan. Ia bahkan lebih ramah dan banyak bicara.

 

Seok Jin menyodorkan payung kuning membuat Kumi bertanya bingung.

 

“Kau bisa gunakan payung kuning ini sebagai inspirasi.”

“Ini hanya sebuah payung,” jawab Kumi.

“Tapi di balik payung ini menyisakan banyak momen. Termasuk momen pertama kita bertemu.”

“Baiklah aku mengerti,” ucap Kumi menerima payung kuning pemberian Seok Jin.

 

Jujur sejak Kumi mendapat tema warna Kuning. Hidupnya semakin identik dengan warna Kuning. Gadis ini menjadi sensitif jika menemukan benda atau apapun itu yang berhubungan dengan warna kuning. Choi Kumi terlalu mendalami perannya dengan warna kuning.

 

Lalu bagaimana  dengan Kim Seok Jin? Tentu saja pemuda ini semakin penasaran akan Choi Kumi. Hampir setiap hari ia mencari seribu alasan hanya untuk menemui Kumi. Jujur saja melihat Choi Kumi menjadi candu tersendiri bagi Kim Seok Jin.

 

“Jangan di bangunkan biarkan Nona itu tidur, tutup saja kafenya.” tahan Seok Jin kepada pegawai nya karena akan membangunkan Kumi yang tertidur di kafenya yang hampir tutup.  Seok Jin mendekat dan duduk di depan Kumi. Menatap wajah penuh kelelahan di gadis itu.

 

Kali ini Seok Jin cukup puas menatap wajah Kumi sedekat ini. Tapi tak lama suara dering telepon merusak suasana yang sedang bergulir. Kumi terbangun dan Seok Jin tertangkap tengah memperhatikan gadis itu di depannya langsung.

 

Kumi mengangkat panggilannya untuk menghilangkan suasana canggung.

 

Lagi-lagi wajah Kumi berubah menjadi panik setelah menerima panggilan. Hal ini mengingatkan Seok Jin akan sesuatu yang pernah terulang dahulu. Kumi membereskan barang-barangnya di atas meja dan bergegas pergi.

 

Wae?” tanya Seok Jin.

“Aku harus bergegas menemui adikku.”

“Baiklah aku antar.”

 

Kumi menemui Jung Kook di rumah lamanya. Sebenarnya sudah 3 tahun Kumi mengajak Jung Kook kabur dari rumah karena sejak ibunya meninggal ayah tirinya yang sekaligus ayah kandung Jung Kook sering memukul nya dan Jung Kook sendiri.

 

Kumi langsung menghujam tubuh Jung Kook dengan tasnya karena kesal mengapa adiknya itu kembali ke rumah bagai neraka itu.

“Kenapa kau kembali ke sarang harimau? Lihat luka yang kau dapat. Kebiasaan ayahmu memukul tak bisa hilang! Apa kau gila huh! Mengapa kau senang sekali membuatku khawatir!” kesal Kumi tak bisa menahan air matanya.

“Maafkan aku Noona.”

 

Lagi – lagi Jung Kook hanya pasrah sambil meminta maaf.

 

“Cepat pulanglah,” pinta Kumi menggengam erat tangan sang adik. Tapi Jung Kook menghempas tangan mungil itu.

“Aku tak bisa. Noona selama ini aku merasa terluka karena terus membuatmu bekerja keras membiayaiku dan dirimu sendiri. Hatiku terluka karena Noona selalu terluka saat melindungiku. Harusnya aku yang melindungimu Nun!” Jung Kook mengungkapkan semua perasaannya. Kumi menatap sendu sang adik. Gadis ini sudah bisa menangkap suatu hal yang tersirat.

“Jadi maksudmu kau meminta ikatan persaudaraan putus sekarang? Kau tak ingin aku menjadi Noonamu lagi?” sinis Kumi.

“Benar, mulai sekarang tak usah mengkhawatirkan ku lagi. Aku akan hidup bersama ayahku.”

 

Baiklah, karena itu permintaan Jung Kook sendiri Kumi tak bisa memaksa. Ini berarti usahanya selama ini menyayangi Jung Kook sepenuh hati sia-sia. Kumi hanya berbalik dan melangkah menjauh dengan segala kekecewaannya.

 

Jung Kook mendekati Seok Jin yang sedari tadi menjadi penonton disana.

“Tolong jaga Noonaku, dia orang yang baik dan selama ini belum pernah berkencan dengan siapapun karena sibuk mengurusku. Aku menghalangi Kebahagiaan di masa mudanya. Jadi kumohon berikan kebahagiaan pada Noonaku,” tulus Jung Kook.

 

 

Ya! Hentikan kau sudah banyak minum!” tahan Seok Jin karena Kumi menggila dengan minum banyak alkohol.

“Kenapa hidupku menyedihkan seperti ini,” keluh Kumi.

 

Seok Jin merebut gelas dan bir dari tangan Seok Jin dan mengajak gadis ini keluar kedai.

 

“Lepaskan aku!” tolak Kumi sambil berjalan sempoyongan.

“Kau sudah banyak minum jangan membuatku kesal,” ucap Seok Jin.

Mwo kesal katamu? Kau tahu umurku sudah 20 tahun tapi aku sama sekali belum kencan. Aku terlalu sibuk bekerja bahkan bertemu dengan teman-temanku saja susah.  Aku juga ingin memakai baju-baju tren saat aku masih muda tapi aku tak bida karena harus mengurus biaya hidupku dengan adikku. Ah, tapi sekarang kerja kerasku sia-sia. Dia membuang ku seperti aku ini orang asing. Kenapa hidupku sesial ini!” oceh Kumi sebelum akhirnya pingsan.

 

Ocehan Kumi sudah terhenti karena gadis ini sudah tak sadar sekarang. Tapi masalahnya kemana ia harus membawa pulang Kumi? Ia belum tahu dimana ia tinggal. Hanya ada satu jalan terakhir. Membawa Kumi ke apartemennya.

 

Seok Jin membuka mantel tebal Kumi dan membaringkan gadis itu di tempat tidur. Kali ini Seok Jin memberanikan diri untuk membelai kepala Kumi. Ia sungguh tak menyangka dengan kehidupan keras yang dihadapi Kumi.

 

Tolong berikan kebahagiaan pada Noona, kalimat Jung Kook kembali menggema di kepala Seok Jin. Atas alasan apa ia harus membuat Kumi bahagia? Mungkin saat ini Seok Jin masih bertanya alasan itu karena ia belum menyadari perasaannya sendiri.

 

 

Saat bangun Kumi panik dengan kondisi asing di sekelilingnya.

 

“Kau sudah bangun Nona Choi?” tanya Seok Jin yang terlihat sedang menyiapkan sarapan. Kumi mengerutuki  dirinya sendiri karena malu. Ia pasti sudah gila karena mabuk tadi malam.

 

“Kalau mau pergi kau harus menghabiskan dulu sarapan yang sudah kubuat,” skak Seok Jin menyadari Kumi yang berjalan mengendap-endap akan pergi.

 

Sunbae, maafkan aku,” ucap Kumi merasa bodoh. Seok Jin hanya tertawa geli gadis ini selalu bisa membuatnya tersenyum tanpa alasan.

“Kau sangat cerewet saat mabuk.”

 

Kumi membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. “Apa aku banyak mengatakan sesuatu?” tanya Kumi.

“Sangat banyak.”

 

Sekarang Kumi tak tahu harus berbuat saat bertemu dengan Seok Jin. Ia sangat malu, karena selama ini hanya Jung Kook yang menemaninya minum. Benar-benar malu hingga seharian ini Kumi terus menghindari Seok Jin saat bertemu.

 

Hujan.

 

 

“Aisshh,” desah Kumi. Kumi mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari benda bernama payung kuning itu. Setelah mendapatkan benda itu Kumi membuka payung kuning itu dan menatap warna kuning yang memayunginya itu.

 

Tak lama seseorang menerobos masuk ke dalam yang sama.

“Eoh, sunbae!”

“Aku menumpang payung ini hingga hole depan.” Santai Seok Jin melingkarkan tangannya pada bahu Kumi agar berjalan merapat dengannya. Kumi hanya bisa diam menuruti apa yang Seok Jin mau. Dua anak manusia ini menyusuri langkah di tengah rintik hujan.

 

“Kenapa seharian ini kau seperti sedang menghindariku?” tanya Seok Jin.

Aniyo.”

“Kau payah sekali saat sedang berbohong Choi Kumi. Cepat jujur saja.”

Aniyo aniyo,” kekeh Kumi.

“Baiklah jika kau tak mau mengatakannya.”

 

Suasana hening sejenak, hal ini membuat Kumi mendengar degup jantung nya yang kencang.

 

Wae, wae ada apa ini Choi Kumi, batin Kumi.

 

Hari ini Seok Jin juga menyadari sesuatu. Apa itu? Suatu alasan mengapa harus membuat Kumi bahagia. Sikap Kumi yang seharian ini menghindarinya membuat Seok Jin menyadari alasan itu.

 

Alasan karena Kim Seok Jin menyukai Choi Kumi. Alasan ini yang terus membuat Seok Jin ingin terus melihat Kumi dan membahagiakan gadis ini.

 

“Choi Kumi dengarkan aku,” ucap Seok Jin menghentikan langkah yang diikuti oleh Kumi.

Wae?”

“Selama ini aku masih bingung memikirkan nama panggilan untukmu.”

“Kau bisa memanggilku Kumi karena itu namaku bukan?”

“Maksud ku ini pacar,kekasih, sayang atau wanitaku mana yang harus ku pilih saat memanggilmu?”

 

Deg!

 

Ne?” tanya Kumi dengan nada meninggi.

“Mana yang kau pilih?” Kim Seok Jin bertanya balik.

“Apa maksudmu? Sunbae?” tanya Kumi meonbong.

“Aku menyukaimu Choi Kumi dan jadilah pacarku.”

 

Kumi masih tak percaya hal ini. Bagaimana seseorang seperti dirinya bisa di sukai oleh seorang Kim Seok Jin.

 

Sunbae, sebentar tapi bukankah kau juga butuh jawabanku?” tanya Kumi.

“Aku sudah mendapat jawaban dari matamu. Lagipula kau tak mungkin menolak pria tampan sepertiku.”

“Ah, sunbae! Sepertinya jiwa kepercayaan dirimu juga sangat tinggi.”

“Apapun itu kau menjadi gadisku, sekarang ayo kita kencan pertama.”

MWO?”

 

Meski hujan belum berhenti Seok Jin tetap mengajak Kumi berkencan. Mereka sedang berada di sebuah salon. Seok Jin meminta Kumi untuk memotong rambutnya dan memakai make up. Tak lupa  pangeran tampan itu membelikan Kumi baju baru.

 

Ah yeoppo!” ucap Seok Jin puas dengan hasil yang ia dapatkan. Kumi menatap dirinya di depan cermin. Memang benar ia terlihat cantik meski hanya sedikit memotong rambutnya hingga sebahu dan memakai make up tipis.

 

Kajja!” Seok Jin mengulurkan tangannya. Kumi masih sedikit ragu untuk menyambut tangan sunbaenya itu.

 

Hujan masih belum berhenti. Kumi dan Seok Jin berdiam diri di sebuah restoran. Seperti biasa meja mereka sudah penuh dengan makanan.

“Kau harus banyak makan saat berkencan denganku.”

“Wuah aku masih tak percaya ini,” gumam Kumi.

 

Konyol,ya benar memang konyol karena Kumi berkencan dengan Seok Jin. Ah lebih tepatnya juga tak percaya. Kumi masih bertanya apa yang membuat Seok Jin menyukainya.

 

Ah, molla molla molla,” gumam Kumi mengacak – acak kasar rambutnya kemudian merebahkan diri di kasurnya.

 

Warna Kuning memiliki arti kehangatan dan kebahagiaan serta rasa sayang yang tulus dari dalam hati. Itulah tema yang diambil oleh Kumi. Kehangatan yang diberikan Seok Jin padanya dan kebahagiaan yang di dapat oleh Kumi. Serta kasih sayang tulus dari dalam hati yang ia berikan pada sang sunbae.

 

Warna kuning yang melambangkan perasaan tulusnya pada seorang Kim Seok Jin.

 

Sunbae, aku hampir menyelesaikan naskahnya,” ucap Kumi.

 

Kecupan ringan mendarat di bibir Kumi secara tiba-tiba sukses membuat Kumi terbelalak.

 

Sunbae!” teriak Kumi denga wajah memerah dan ingin meledak. Seok Jin kembali melakukan hal yang sama.

“Jika kau terus memanggilku sunbae itu hukuman yang akan kau dapat.”

Wae wae wae?” protes Kumi.

“Panggil aku ‘oppa‘,” ungkap Seok Jin.

Oopppaaa?” heran Kumi makin menemukan  sifat kepercayaan diri yang tinggi   pada diri Kim Seok Jin.

“Benar, panggil aku oppa. Kajja! Kita selesaikan naskah mu hari ini.”

 

Couple kampus yang terlihat begitu bahagia. Tautan tangan terlihat begitu lengket. Lalu langkah mereka terhenti. Terhenti dengan kehadiran seseorang di masa lalu Kim Seok Jin.

 

“Oh lama tak bertemu Seok Jin-ah,” ucap wanita cantik di depan pasangan couple ini. Ekspresi masam sejenak terhenti di wajah Kim Seok Jin.

 

Seok Jin mengeratkan genggaman tangannya pada Kumi.

 

“Kau terlihat sangat bahagia sekarang,” komentar wanita.

“Kau sudah selesai? Senang melihatmu bahagia juga,” singkat Seok Jin kemudian beranjak pergi.

 

Kumi sudah bisa menebak bahwa wanita tadi adalah mantan kekasih Seok Jin. Baiklah Kumi tak akan meminta penjelasan ia akan menunggu Seok Jin menjelaskan sendiri padanya.

 

Seok Jin melempar kasar naskah hasil kerja keras Kumi. Pikirannya belum bisa berpikir dengan baik. Emosi terpendam masih tersisa.

 

Choi Kumi mendatangi bar tempat Seok Jin minum. Kumi belum pernah melihat Seok Jin serapuh ini. Kemudian ia membawa wangjanimnya keluar bar. Langkah Kumi sedikit terhuyung karena postur tubuh Seok Jin yang tinggi. Kumi sudah memesan taksi untuk membawa pulang Seok Jin.

 

Seok Jin membuka matanya ia melihat Seok Jin. “Oh Choi Kumi geuna,” ucap Seok Jin memeluk erat Kumi. “Aku akan membuatmu bahagia.”

 

 

Kumi berlari menghampiri Seok Jin yang sudah menunggu. Aura kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Lihat, berita apa yang membuat mereka bahagia.

 

Oppa, bagaimana?” tanya Kumi tak sabar melihat hasilnya. Sekarang Kumi bahkan dengan ringan memanggil oppa. Indikasi bahwa hubungan mereka berjalan lancar dan semakin dekat.

 

Seok Jin memeluk erat gadis mungil di depannya itu. “Tentu saja sukses, naskahmu diterima baik oleh semua anggota dan siap untuk di pentaskan.”

Jinjjayo!” senang Kumi.

“Eoh, jinjja! Mari kita rayakan ini.” Seok Jin menggandeng tangan Kumi untuk bergegas pergi kencan.

 

Agenda kencan mereka tetap sama. Yaitu makan. Sederhana makan dan berbagi cerita saling mendukung satu sama lain. Hal sederhana tapi sudah membahagiakan.

 

“Aku tak tahu setelah wisuda masih bisakah aku menemani makan di depanmu seperti ini,” ucap Kumi sedikit khawatir.

Mwoyaa, kau jangan khawatir seperti itu.”

 

Kumi mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dan memberikan nya pada Seok Jin.

 

Ige mwoya?”

Seonmul!” senang Kumi. Seok Jin membuka kado itu.

 

Sebuah boneka alpaka berwarna pink.

 

“Apa ini, alpaka?” bingung Seok Jin.

“Kalian berdua mirip, tiap aku melihat boneka alpaka itu selalu mengingatkanku padamu,” komentar Kumi. Seok Jin tertawa lepas sambil mengacak-acak ringan poni Kumi.

Gwiyowo, gomawo hadiahnya.”

 

 

Pada sebuah hubungan sebuah pasangan memutuskan untuk berjalan bersama dengan cara berpegangan tangan. Berpegangan tangan bermaksud untuk menguatkan satu sama lain kemudian berjalan bersama, melangkah bersama. Tapi tanpa mereka sadari jalan yang mereka ambil akan berbeda. Dan akhirnya akan melepaskan tautan tangan itu.

 

Begitulah yang sedang dialami oleh Kumi dan Seok Jin sekarang ini. Hubungan mereka semakin merenggang seiring kesibukan masing-masing. Terlebih lagi Seok Jin sedang sukses menjadi sosok aktor muda setelah sukses debut.

 

Kumi memandang poster besar Seok Jin yang berada di atas salah satu gedung. Sekarang ia  merasa sepi dan kesenjangan hubungannya dengan Seok Jin.

 

Kumi sampai di depan apartemen Seok Jin. Namun, ponselnya yang bergetar barusan membawa kabar bahwa pria yang sangat ia rindukan itu tak bisa pulang awal. Kumi menghela napas berat. “Ne, gwaenchana. Himnaeyo-oppa.”

 

Kumi memutus sambungannya. Kemudian meninggalkan kantung plastik yang berisi makanan di depan apartemen Seok Jin. Lalu beranjak pergi.

 

 

-Cherry Blossom cafe.

 

 

Kumi menatap tulisan di depan kafe ini kemudian masuk. Para pegawai yang bekerja disana sudah tahu hubungan Kumi dan Seok Jin. Kumi sering berkunjung di tempat ini.

 

“Tuan sudah lama tak berkunjung kemari Nona.”

 

Kumi hanya tersenyum getir kemudian kembali menyeruput caramel macchiatonya.

 

Seok Jin merebahkan diri di dalam mobilnya. Ia menikmati pekerjaan ini tapi ia juga sangat kesal karena tak bisa leluasa bertemu dengan Kumi. Ah bahkan sudah dua bulan ini mereka hanya berbincang melalui telepon.

 

“Kumi-ya, kau dimana?” tanya Seok Jin. Kumi masih berada di kafe Seok Jin.

“Aku berada di tempat yang dulu kau suka mengintaiku diam-diam.”

Bogosipoyo,” pelan Seok Jin.

Nadoo, bogosipo. Mani bogosipo.”

 

Entah mengapa Kumi justru merasa nyeri mendengar kalimat Seok Jin. Kumi berharap Seok Jin bisa menghampirinya sekarang. Tapi itu suatu hal yang tidak mungkin. Karena jadwal Seok Jin. Ia tak ingin menganggu. Kumi hanya bisa menyemangati dan mendukung Seok Jin.

 

Kumi menatap payung kuning disampingnya. Lalu beranjak pergi pulang karena sudah larut.

 

Greb.

 

Kumi merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Aroma parfum yang familiar di hidung Kumi. Aroma tubuh Kim Seok Jin.

Aigoo kenapa kau makin kurus saja,” komentar Seok Jin. Kumi ingin berbalik tapi Seok Jin menahannya.

“Apa kabarmu?” tanya Kumi.

“Aku tak baik karena tak bisa melihatmu.”

 

Malam itu pertemuan singkat namun sangat berharga bagi keduanya.

 

Kumi masih termenung sendiri di sudut ruangan.  Ia memikirkan masa depannya dengan Seok Jin. Bagi Kumi sekarang Seok Jin adalah seseorang yang sulit untuk ia raih. Terlebih lagi Kumi membaca sebuah majalah interview Seok Jin yang mengatakan bahwa ia sedang tak menjalin hubungan spesial dengan siapapun. Oh, itu sungguh menohok hatinya. Kumi melirik kalender di meja depannya. Besok adalah wisuda Seok Jin dan Kumi sudah memutuskan sesuatu. Aku hanya tak ingin menjadi egois dan serakah.

 

Kebahagiaan dan membawa ketulusan itulah yang diajarkan payung kuning padanya.

 

Di sebuah ruangan tertutup Kumi dan Seok Jin berbicara empat mata. Kumi mengembalikan payung kuning milik Seok Jin. “Pertama selamat atas kelulusanmu oppa,” ucap Kumi. Seok Jin berdecak karena merasa sangat canggung.

“Kenapa canggung sekali, mana hadiah untukku?”

“Payung kuning itu hadiah wisudamu.”

“Kau mengembalikannya padaku?” tanya Seok Jin.

“Aku kembalikan pada pemiliknya.”

 

Seok Jin menangkap gelagat aneh pada diri Kumi yang tak biasanya.

 

“Kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”

 

“Oppa mari kita putus.”

 

Deg! Suasana hening sesaat seolah waktu terhenti untuk mereka berdua.

 

“Apa alasan mu meminta putus?”

“Alasan karena aku mencintaimu. Sekarang ini kau buru fokus mengejar impianmu dan kita berdua sama-sama tak memiliki waktu untuk berkencan. Aku hanya tak ingin menjadi egois dan serakah.”

 

Bahkan lihat, Choi Kumi terlihat tak ragu saat meminta putus dengan Seok Jin. Oh, ini hadiah wisuda paling buruk yang Seok Jin dapatkan.

 

“Katakan padaku apa yang membuatmu khawatir?” tanya Seok Jin mencoba untuk tenang karena tak ingin terbawa emosi sesaat.

“Aku khawatir tak bisa terus di sampingmu. Selamat tinggal.”

 

Kumi beranjak meninggalkan Seok Jin dan payung kuningnya. Meninggalkan kehancuran untuk hati masing-masing. Dan mereka hanya bisa menangis dalam diam.

 

‘Terima kasih karena sudah menjadi payung kuning ku.  Payung yang membawa segenap kebahagiaan dan kehangatan. Melindungiku dari terpaan hujan dan panas.’

 

 

-@@-

 

 

Kadang dua orang yang berjalan di jalan masing-masing  menuju arah yang sama dan pada akhirnya bertemu dalam satu titik lebih baik dari pada dua orang yang bertautan tangan dan berjalan bersama namun pada akhirnya harus berpisah pada suatu titik persimpangan jalan.

 

 

-6 tahun kemudian.

 

Seorang pria berpenampilan serba hitam dan memakai masker mengambil sebuah novel best selling di salah satu rak buku.

 

Novel yang berjudul Payung Kuning. Dengan penulis bernama Choi Kumi. Baik Seok Jin dan Kumi sukses menggapai impian mereka masing-masing dan dijalan yang sudah mereka tempuh selama ini.

 

Saat ini Kumi tengah sibuk menandatangani novel terbarunya berjudul payung kuning.

 

Seok Jin mengembalikan payung kuning nya pada Kumi saat meminta tanda tangan sang penulis. Kumi tertegun kemudian menatap pria bermasker itu.  Kemudian membaca sticky note yang tertempel. ‘Temui aku di Cherry Blossom Cafe jam 3 sore.’

 

 

‘Satu hal yang membuatku penasaran. Suatu hari nanti apabila skenario tuhan mempertemukan kita lagi. Apakah perasaanku padamu masih mengalir hangat tulus dan membawa kebahagiaan seperti warna kuning?’Choi Kumi, Payung Kuning

/FIN\

Advertisements

2 thoughts on “[What Is Your Colour?] Payung Kuning-Oneshoot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s