[What Is Your Color?] Veilchenblau — Oneshoot

PicsArt_03-20-06.06.08

 

Veilchenblau

A fanfiction by Ladydayna;

Starring [BTS’s] Kim Seokjin and [OC’s] Kim Hyojung.

Genre: Fantasy, Mistery, slight Hurt || Rating: PG-17 || Length: Oneshoot (+2500 words)

I own nothing except the storyline and poster.

A/N. The idea of story was ‘inspired’ by a fiction on Fanfiction.net.

Sorry for typo(s)!

Color theme : Blue

Summary: Lima belas tangkai mawar biru; untuk permintaan maafku kepadamu.

—ooo—

Seokjin menggaruk kasar bagian belakang kepalanya. Mengetuk beberapa kali permukaan kayu meja belajar; mencari objek pelampisan daripada stres yang tak berujung.

Merasa tak sanggup lagi berpikir lebih jauh, Seokjin menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Memejamkan mata sesaat. Berharap setitik beban yang menumpuk di kepalanya akan terlepas satu demi satu.

Tugasnya bahkan belum ia sentuh barang sedikit pun. Hanya sebuah buku setebal dua senti ini yang sejak kemarin memusatkan perhatiannya total. Menggoda ia untuk terus menyibak halaman demi halaman. Berkutat dengan paragraf demi paragraf, mencoba memecahkan misteri dari setangkai bunga yang senantiasa mengisi sisi kosong meja belajarnya.

“Kak Seokjin cepat turun! Makan malam sudah siap!”

Seokjin membuka kedua matanya malas. Merutuki sejenak lengkingan tinggi milik sang adik—yang demi neptunus—sukses memotong perjalanan panjangnya ke dunia fantasi.

“Iya-iya sebentar!” Balas Seokjin gusar tak kalah tinggi.

Alih-alih memusatkan kembali atensinya ke arah sang mawar, Seokjin lantas menopang dagunya dengan kedua tangan.

“Mawar biru bukannya jarang ditemukan di alam ya?”

Seokjin mengingat-ingat kembali ujaran Yoongi kepadanya dua hari yang lalu.

“Jarang ditemukan? Maksudmu mawar biru ini langka?

Yoongi terdiam sejenak. Mungkin maksudnya hendak menimang jawaban apa yang akan di lontarkan pada Seokjin. Tapi diluar dugaan, laki-laki bersurai hijau itu justru menaikkan kedua pundaknya seirama.

“Aku hanya membaca sekilas dari buku kakek. Kalau Hyung penasaran, besok aku bawakan.”

Dan sepertinya meng-iya-kan tawaran Yoongi kala itu adalah pilihan yang salah bagi Seokjin. Karena terjebak bersama rasa penasaran dan juga buku tebal yang tidak ia pahami isinya itu bagaikan jatuh lalu tertimpa lagi oleh tangga. Siapa juga yang tau kalau buku itu berukuran setara dengan tiga buah buku panduan bahasa Jepangnya?

“Mawar biru.. Mawar biru..”

Seokjin melepaskan topangannya seraya merapalkan dua suku kata itu secara berulang-ulang. Memfokuskan netranya pada gelas kaca berisi sang mawar di tengah-tengah tumpukan buku, Seokjin lantas mengulurkan tangannya; meraih tangkai berduri mawar misterius itu kedalam genggaman.

Dalam keheningan yang kental, samar-samar bibirnya berucap,

“Dari mana sebenarnya kau berasal?”

.

“Apa sih yang kakak lakukan diatas? Supnya kan jadi dingin? Sebentar biar kupanaskan lagi.”

Seokjin menahan kasar pergelangan tangan milik Hyojung. Mencegah gadis mungil itu untuk beranjak dari kursi.

“Tidak perlu memanaskannya. Aku akan makan sekarang.”

Hyojung mengerucutkan bibirnya. Memaksa bokongnya mau tidak mau kembali terhempas diatas kursi kayu di sebrang Seokjin.

“Tapi supnya sudah dingin kak. Tidak enak.” Gumam Hyojung pelan masih enggan meraih perlatan makan yang tersedia di hadapannya.

Berbanding terbalik dengan Hyojung, Seokjin kini telah menyuapkan isi sup buatan sang adik ke dalam mulut. Mengecapkan lidahnya beberapa kali, kemudian memasukkan sesendok nasi untuk melengkapinya.

“Mau panas atau dingin toh rasanya juga sama-sama enak kan?”

Hyojung melebarkan matanya sesaat. Tak menyadari bahwa rona merah transparan mulai menyeruak menghiasi permukaan wajahnya.

“Ka—kakak berlebihan. Masakanku tidak apa-apanya kalau dibandingkan dengan kakak.”

Hyojung membalas malu-malu. Sementara tangannya kini perlahan mulai bergerak meraih peralatan makan dan menuangkan sup ke dalam mangkuk yang lebih kecil.

“Ini bukan waktunya saling memuji Hyo. Cepatlah makan.”

Hyojung mengangguk patuh. Sebuah suapan kemudian beralih masuk ke dalam mulutnya.

Untuk beberapa detik hening menggerayangi meja makan sederhana yang di dapatkan Seokjin dari sang ibu. Hingga kemudian sebuah kalimat mulai mengalun dari bibir sang dara.

“Ngomong-ngomong, apa yang kakak lakukan tadi? Sepertinya serius sekali sampai aku diabaikan.”

“Aku sedang mendalami sebuah buku.” Jawab Seokjin singkat tanpa menghentikan gerakan mulutnya.

Hyojung yang tiba-tiba tertarik, begitu saja meletakkan peralatan makannya di atas piring.

“Buku? Buku apa? Boleh aku meminjamnya setelah kakak?”

Seokjin menggeleng cepat. Membuat rona kecewa segera memancar dari wajah sang adik.

“Lebih baik tidak. Itu sangat tebal dan.. membingungkan.” Jelas Seokjin jujur.

“Kenapa tidak? Tidak masalah kok kalau itu hanya soal—”

“Aku sudah selesai. Habiskan makananmu dan cepat pergi belajar oke? Aku keatas duluan.”

Seokjin membawa sisa peralatan makannya ke arah dapur. Meletakkannya di wastafel lantas menegak segelas air. Tak lama, kakinya telah aktif kembali menapaki deretan anak tangga di depannya.

.

.

Cuaca hari ini nampaknya tidak cukup bersahabat. Gemericik hujan yang turun semenjak siang tadi, ditambah dengan suara petir yang cukup memekakan telinga. Mungkin akan lebih sempurna jika Seokjin berada dirumah. Berbaring di atas tempat tidur, ditemani buku tebal —sialan— milik laki-laki yang kini duduk tepat di hadapannya.

“Jadi, Hyung sudah menemukan jawabannya?”

Yoongi mengaduk pelan jus strawberry yang dipesannya. Menyeruputnya kemudian tanpa enggan mengalihkan atensi dari wajah putus asa Seokjin.

“A—ah, tentu saja belum ya.” Yoongi melanjutkan disertai anggukan-anggukan lemah.

Seokjin yang sedari tadi bungkam, diam-diam membenarkan dalam hati. Usahanya menemukan jawaban atas mawar biru itu memang belum menghasilkan apa-apa. Jangankan mendapatkan petunjuk sekecil butir nasi. Menuntaskan pekerjaannya—membaca—saja Seokjin tidak tahu harus bagaimana.

“Sudah Hyung. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kepalamu bisa pecah.” Canda Yoongi diikuti kekehan pelan.

Mendapati hal itu, Seokjin membuang napasnya pendek. Menjangkau segelas cappuccino yang diabaikan cukup lama, kemudian menegaknya perlahan.

.

“Um, apa ya? Seingatku sih mawar biru itu memang melambangkan sesuatu yang misterius. Sama seperti keberadaannya.”

Seokjin mengulang kembali rekaman memori perbincangannya bersama Yoongi tadi.

“Maksudmu? Jadi mawar biru itu memang tidak ada?”

Yoongi menggeleng cepat. “Mereka bukan tidak ada Hyung. Tapi..”

Yoongi menggantungkan kalimatnya pasrah. Sesaat, raut wajahnya tampak berubah. Menjadi begitu serius dan amat membuat rasa penasaran Seokjin naik ke level paling atas.

“Tapi apa?Jangan membuatku penasaran!”

Yoongi menghela napasnya berat. Menyebarkan sesaat pandangannya ke sekitar meja; memastikan bahwa tak ada seorang pun yang bisa menguping pembicaraan mereka.

“Ada apa sih? Kenapa kau bertingkah seperti itu?”

Seokjin menghentikan langkahnya segera tatkala sosok sang adik tertangkap samar pada iris hitamnya. Enggan melanjutkan langkah yang dapat dihitung dengan jari, Seokjin justru lebih memilih untuk diam seraya menajamkan indera penglihatannya pada trotoar kosong tepat di depan rumahnya.

Hyojung tidak sendiri. Adiknya itu terlihat tengah berbicara dengan seorang laki-laki yang tidak Seokjin kenali –atau mungkin memang belum pernah dia temui sebelumnya. Karena jika dilihat dari penampilannya, Seokjin juga tidak begitu yakin kalau dia orang sehat.

Maksudnya, lihatlah jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh laki-laki itu hingga mata kaki. Jangan lupakan tudung kepala yang hampir menyembunyikan sebagian besar garis wajahnya. Untuk orang normal seperti Seokjin, tidakkah menggunakan hal itu adalah tindakan bodoh? Ditengah cuaca yang telah menghangat seperti sekarang? Ditambah lagi dengan sebuah pisau kecil bercorak perak biru yang terlihat muncul sebagian dari balik jubah itu. Membuat Seokjin bertanya-tanya dalam hati, siapa laki-laki ini sesungguhnya?

“Sudah kubilang berhenti mencampuri urusanku! Hal ini tidak ada sangkut pautnya sedikit pun denganmu Ryu!”

Tidak tahan terus menerus memendam rasa penasarannya semakin jauh, Seokjin akhirnya menggerakkan langkah mendekati sang adik.

“Hyojung— “

Merasa begitu familiar dengan suara lembut yang baru saja menyapa rungunya, Hyojung menoleh. Melebarkan kedua irisnya, Hyojung merasakan seluruh organnya mati rasa begitu sosok Seokjin bergerak makin dekat ke arahnya.

“—siapa dia? Apakah temanmu?”

Hyojung mengalihkan perhatiannya pada sosok dihadapan. Merasa detak jantungnya mulai bermaraton, satu bulir keringat menetes begitu saja melewati lehernya.

“Pergilah Ryu. Pergi!” Bisik Hyojung kuat.

“Siapa yang kau suruh untuk pergi Hyo?”

Seokjin semakin menyipitkan matanya mendapati tingkah laku Hyojung perlahan berubah. Menjadi panik dan sedikit ketakutan.

“Kau yang memaksaku, Ryu.”

Seokjin menutup segera kedua matanya tatkala sebuah angin kencang tiba-tiba datang meniupkan butiran debu kearahnya. Membuat fokus pandangannya sesaat menghilang, diikuti dengan sosok misterius berjubah hitam yang tadi berada di depan Hyojung.

“Lho, kemana laki-laki yang berbicara denganmu tadi?”

Hyojung menoleh lemah. Sesekali tubuhnya gontai ke depan dan ke belakang diikuti gerakan mata yang beberapa kali memejam.

“Hyo, kau tidak apa-apa?”

Belum sempat menjawab pertanyaan sang kakak, tubuh Hyojung lebih dulu ambruk ke tanah. Membuat Seokjin dengan tergesa menghampirinya, lantas membawanya ke atas pangkuan.

“Hyojung bangun! Hyojung—“

.

Yoongi menyebarkan sesaat pandangannya ke sekitar meja; memastikan bahwa tak ada seorang pun yang bisa menguping pembicaraan mereka.

“Ada apa sih? Kenapa kau bertingkah seperti itu?”

Yoongi memajukan tubuhnya. Menepis sedikit jarak antara dirinya dengan Seokjin.

“Aku seharusnya tidak mengatakan hal ini padamu. Tapi..”

“Yoongi

“Berjanjilah dulu untuk tidak memberitahu ini pada siapapun.”

Yoongi menantang Seokjin dengan dua maniknya. Menuntut laki-laki itu untuk berkata ‘ya’ dalam penjanjian tak tertulis yang dibuatnya.

“Kenapa aku harus ah baiklah! Aku berjanji. Jadi katakan padaku sekarang!”

Yoongi berdeham pelan kemudian memajukan kursinya lebih dalam.

“Jadi, mawar biru itu sebenarnya nyata. Mereka ada dan mereka hidup bersama para Alcentnian.”

Seokjin mengangkat kedua alisnya. “Al—al apa tadi?”

Yoongi membuang napasnya pendek.”Alcentnian Hyung. Al-cent-ni-an.”

“Menurut informasi yang kudapat, awalnya kaum Alcent ini adalah kaum yang ditugaskan untuk menjaga mawar biru dari ketidakseimbangan alam. Karena seperti yang kau tau, pigmen warna biru ini membuat mereka mawar biru terlihat begitu aneh sekaligus menarik di mata orang awam.”

“Tapi sayangnyakarena sebuah ketamakan, mawar biru itu mendadak hilang dari alam. Bukan hanya satu mawar, tapi seluruhnya.”

Seokjin membelalakan kedua matanya tiba-tiba.“Hilang? Bagaimana

“Mereka dirampas. Dan para Delphinian adalah satu-satunya tersangka yang mungkin bisa melakukan hal itu. Maksudku, menghilangkan seluruh eksistensi mawar biru dari alam.”

“Delph Delphinian?”

.

Hyojung mengerjapkan kedua matanya lamat tatkala ribuan partikel cahaya menyerang paksa kedua pelupuknya. Mendapati nyeri yang datang mendadak, Hyojung memijit pelipisnya pelan.

“Oh, kau sudah bangun?”

Seokjin menghempaskan bokongnya pada sofa yang sama dimana Hyojung berbaring. Meletakkan segelas air dan semangkuk sup buatannya di atas meja, lantas tangannya membantu Hyojung untuk beranjak bangun dari posisinya.

“A—apa yang terjadi kak? Aku kenapa?”

Hyojung memfokuskan pandangannya pada Seokjin. Menatap jaka itu dengan ribuan tanda tanya. Seolah-olah kejadian yang baru saja dilewatinya tadi menguap begitu saja dari ingatan.

“Kau pingsan.” Tutur Seokjin jujur.

“Dan sebelum kau pingsan, kau sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Aku tidak tau siapa. Tapi dia terlihat sangat aneh.”

Hyojung terpaku seketika mendengar penjelasan sang kakak. Ada perasaan lega sekaligus khawatir dalam benaknya.

“Benarkah? Ah, kenapa aku tidak bisa mengingat— “

“Hyojung.”

Hyojung menghentikan anggukan lemahnya cepat. Alih-alih melebarkan kedua mata kaget, gadis itu kemudian lekas beralih menatap wajah sang kakak dengan perasaan takut serta bingung.

“Iya kak?”

Tak lekas menjawab, Seokjin justru menyibukkan netranya dengan mengabsen setiap inchi wajah sang adik. Mulai dari mata hingga bagian terujung rahang wajahnya.

“Kak, ada apa?”

Hyojung bertanya ragu pada sang kakak. Semenjak iris hitam itu terpaku ke arah wajahnya, Hyojung merasa ada sesuatu salah yang kini diketahui Kak Seokjin. Entah apa, tapi yang pasti Hyojung dapat merasakan degupan jantungnya perlahan semakin kencang dan cepat.

“Yang meletakkan mawar biru dikamarku— “

Seokjin menatap mata Hyojung sekali lagi. Memastikan entah apa yang kini mengganggu pikirannya,

“—itu kau kan?”

Bagaikan di hunus mata pedang yang tajam, Hyojung melebarkan kedua matanya. Antara terkejut juga bingung, entah mana yang lebih mendominasi kepalanya saat ini.

“Kak—kakak bicara apa? Aku tidak mengerti. Mawar biru— mawar biru apanya? Memang ada jenis mawar berwarna biru kak?”

Enggan mengalihkan matanya dari wajah sang adik, Seokjin lantas menarik kedua ujung bibirnya; membentuk sebuah senyum simpul yang sering sekali ia tunjukan.

“Bukankah seorang Delphinian harusnya lebih tau?”

“Delph Delphinian?”

“Ya Hyung, Delphinian. Mereka adalah satu-satunya dari kaum Alcent yang memiliki kekuatan magis. Dan kekuatan ini lah yang pada akhirnya memusnahkan mawar biru dari alam. Tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar musnah. Karena para Delphinian menyembunyikan mawar tersebut di dalam dirinya. Menyatukannya bersama kekuatan mereka, sehingga tidak ada satupun kaum lain yang mampu memiliki mawar elok tersebut.”

“Tapi, bagaimana caranya?

“Mudah—“

Hyojung menelan salivanya kasar. “Delphinian? Maksud kakak?”

“—mereka menyembunyikannya dalam iris mereka. Itu sebabnya iris mata mereka biru seperti sang mawar.”

“Berhentilah mengelak Hyo. Aku sudah tau semuanya. Kau seorang Delphinian. Matamu berwarna biru. Dan kau juga yang selalu meletakkan mawar itu di tengah meja belajarku. Iya kan?”

Hyojung mematung. Tak dapat membalas apa-apa kalimat dari sang kakak. Ingin rasanya ia menangis dan mengadu seperti biasanya pada Seokjin, tapi melihat emosi Seokjin yang seperti ini. Entah mengapa rasanya akan mustahil.

“Sudahlah. Lebih baik kau pergi. Jangan temui aku lagi.” Seru Seokjin kemudian meniggalkan Hyojung yang kini larut dalam tangisnya.

.

.

Seokjin menutup pintu kamarnya kasar. Membiarkan suara debuman pelan mengisi ruang-ruang kosong setelahnya. Alih-alih menyalakan saklar lampu yang bertengger setia di dinding kamarnya, Seokjin lebih memilih melempar tubuhnya asal ke tempat tidur. Menikmati belaian gulita yang menyapa kedua netranya, ia lantas memandang kosong ke atas langit-langit kamar.

“Tapi mereka tidak bodoh Hyung. Untuk menyembunyikan iris biru itu mereka menggunakan sihir delusi. Tujuannya satu. Agar identitas mereka sebagai Delphinian tidak diketahui.”

Dalam keheningan, Seokjin mengacak rambutnya. Merutuki betapa bodohnya dia karena melupakan hari terpenting dimana ia menemukan Hyojung kala itu. Dengan penampilan yang berantakan dan tubuh basah kuyub akibat guyuran hujan.

“To-tolong aku.”

Seokjin Seharusnya sadar jika iris mata biru yang ia lihat saat itu bukan hanya semata-mata ilusinya sesaat. Lebih dari itu, seharusnya ia tidak pernah menolong gadis itu dan  menjadikannya sebagai adik.

“Bodoh. Benar-benar gegabah.”

Seokjin mengumpat pelan. Hingga tiba-tiba suara ketukan lemah terdengar beberapa kali dari balik pintu kayunya.

“Kak? Boleh aku masuk?”

Alih-alih menjawab panggilan Hyojung, Seokjin lebih dulu menarik ujung selimutnya hingga batas kepala. Menyembunyikan dirinya dibalik sana, berpura-pura seakan ia sedang terlelap.

Hyojung mendorong pelan pintu kamar sang kakak. Menyembulkan sebagian kepalanya sesaat dari celah yang ia buat. Kemudian dengan ragu-ragu, dilangkahkan kakinya memasuki ruangan tanpa cahanya tersebut..

“Kak Seokjin. Aku ingin menjelaskan sesuatu.”

Hyojung menatap lurus pada gundukan sedang di atas tempat tidur yang ia yakini sebagai Kak Seokjin. Namun sadar tak mendapat respon apapun dari yang dimaksudnya, Hyojung lantas membuang napas berat.

“Maaf kak.” Tuturnya cepat.

Seokjin yang masih setia terjaga dibalik selimut tebal itu, sebenarnya diam-diam mendengarkan ujaran Hyojung. Hanya saja, dia ingin membiarkan gadis itu untuk terus melanjutkan.

“Aku memang Delphinian. Tapi aku tidak bermaksud membohongi kakak. Aku hanya— “

Hening sesaat mengisi kembali ruangan gelap milik Seokjin. Hyojung yang semula tengah bertutur, tiba-tiba saja menundukkan kepalanya lemah. Entah menahan likuid atau menimang kata yang tepat untuk ia sampaikan.

“Aku— “

“Aku mencintai kakak.“

Kembali menghembuskan napasnya berat, Hyojung merasakan kedua pelupuknyamulai panas dan penuh dengan cairan kristalnya. Dia harus menyelesaikan ini dengan cepat.

“Arc Jung, cepatlah. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Para Alcent sedang menuju kemari.”

Mengurungkan niatnya kembali berucap, Hyojung lantas menoleh ke arah daun pintu. Mendapati sosok Ryu Jeon—prajut pelindungnya—kini telah menatap ke arahnya gusar. Samar, sebuah anggukan ia hadiahkan kepada laki-laki bertubuh tinggi tersebut.

“Aku harus pergi. Persis seperti yang kakak minta, aku juga tidak akan kembali. Jadi,“

“Arc Jung! Apa yang kau lakukan!”

Hyojung meneteskan beberapa likuid air matanya dalam tangkupan tangan. Merapalkan beberapa kalimat aneh yang meluncur dari bibirnya, membuat sebuah cahaya biru terang lantas memancar kuat dalam ruangan gelap milik Seokjin.

Seokjin yang tak luput dari dari rasa penasaran, dengan cepat menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Kemudian beranjak menghampiri sebuah saklar putih yang menempel di dinding dekat pintu. Menekannya sekali hingga terang segera mengambil alih kuasa atas ruang sempitnya.

Mendapati cahaya mengisi seluruh penjuru ruangannnya, Seokjin membenarkan sendiri fakta bahwa Hyojung telah benar-benar pergi dari rumahnya—hidupnya. Meninggalkan belasan mawar yang kini tergeletak di dekat dasar tempat tidur Seokjin.

Seokjin meraihnya lambat. Lantas samar-samar mendapati suara bisikan pelan—yang ia kenali sebagai suara Hyojung—ketika seluruh mawar itu telah berpindah tempat dalam genggamannya.

“Maafkan aku kak..”

—FIN.

Advertisements

4 thoughts on “[What Is Your Color?] Veilchenblau — Oneshoot

  1. Aihara

    Kenyataan kalo Hyojung ternyata cinta sama Jin bikin makin ga rela kalo dia harus pergi dari kehidupan Jin 😥
    Btw, ini kutip dua-nya emang hilang atau ngga ada? Aku agak bingung bedain mana yang dialog atau bukan hehe
    Overall, bagus
    Berhubung baru-baru ini monsta x all in-nya bikin aku keinget banget sama bunga biru (delphinium) gitu wkwk ><

    Like

  2. sweetpeach98

    Wiiiii fiksinya keren sekali ><

    Oh iya cuma mau kasi saran aja, kalau dalam percakapan tanda petiknya jangan lupa ya, soalnya jadi agak bingung bacanya itu percakapan atau bagian dari narasi, tapi kalau emang asiknya nulis begitu ya gapapa sih cuma saran aja kok ^^

    Overall, nice story~ chuuuu

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s