[What is Your Color?] Just Change It to Orange – Oneshoot

cats2

Tittle: Just Change It to Orange

Author: carishstea274

Cast: Kim Taehyung (BTS), Jung Hana (OC), Jung Hoseok (BTS), Park Jimin (BTS)

Genre: Thriller, Romance, Mystery, Family

Length: Oneshot

Rating: PG-15

Disclaimer: Fanfic ini murni dari otak author. Jadi tolong jangan plagiat cerita atau bash, karena author juga masih pemula dalam hal nulis. Oke, semoga pada sukaa ^^

***

Apa yang akan kau gambarkan ketika melihat orange?

Jika kau tanya aku, yah, mereka manis kurasa.

Benar, sangat manis.

Namun jika orange itu akan berubah menjadi nila, entah mengapa aku mulai takut.

***

 

Haii. Namaku Jung Hana. Sekarang aku di semester tiga jurusan bisnis, Kyunghee University. Hal yang paling suka di Kyunghee adalah aku bisa berada di Seoul. Aku tahu ini terdengar aneh. Aku hanya ingin mencari tahu satu hal. Oppaku…

Kini aku sedang berjalan menuju gedung jurusanku. Memang jaraknya lumayan jauh dari pintu masuk. Tapi aku lebih memilih berjalan daripada bersepeda atau semacamnya. Toh, ada tempat yang harus kudatangi lebih dulu.

Namun…,

“Ya, Jung Hana!! Kau mau pergi ke mana?”

Itu Jiyeon. Sepertinya ia juga membawa dua pengikut setianya. Dia orang aneh menurutku. Dia membenciku karena sikapku yang selalu acuh pada semua hal. Dia menganggapku saingannya karena aku dekat dengan Jungkook. Padahal kami hanya teman biasa. Ck..

“Bukan urusanmu, Jiyeon,” balasku tanpa menatap sekilaspun pada Jiyeon dan berlalu pergi.

Aku bisa mendengar Jiyeon membuang nafasnya kesal. Aku tahu dia akan begini. Setelah itu, dia menarik lenganku dan mencengkramnya dengan teramat kuat.

“Akh… appo! Ini sakit..,” erangku.

Jiyeon balas memiringkan kepalanya dan tersenyum,

“Jadi sekarang kau mulai berani padaku? Hanya karena professor menyukaimu, bukan berarti kau bisa mengabaikanku. Sepertinya kau sudah lupa bagaimana cara beretika yang baik. Tak masalah, akan kuberitahu kau caranya lagi.”

“Akh… lepaskan! Kim Jiyeon!” berontakku.

Namun kedua teman Jiyeon ikut mencengkram kedua lenganku, dan menarikku dengan paksa. Oh, tuhan. Aku tahu ini akan berakhir seperti apa. Mereka pasti akan membawaku ke gudang olahraga. Oh, jangan lagi.

.

.

-Author POV

“Aish, kenapa dia lama sekali,” keluh seorang namja dari fakultas seni.

“Kau sedang menunggu seseorang, Jimin?” tanya Taehyung yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah namja tadi, Jimin.

“Eo. Jung Hana. Dia bilang akan kesini dulu untuk mengambil bukunya. Oh, benar. Kau bukankah akan ke falkutas bisnis setelah ini? Bisa berikan buku ini pada Hana?” tawar Jimin.

“Kenapa jadi aku?” tanya Taehyung mengelak.

“Kau itu asisten dosen profesor Min. Dia setelah ini ada di jurusan bisnis. Kumohon tolonglah,” minta Jimin

”Baiklah. Gadis berambut coklat itu bukan?” tanya Taehyung seraya menunjuk serombongan gadis.

“Oh, benar itu Hana. Tapi…,”

“Tapi apa?” tanya Taehyung.

“Kim Jiyeon?!!” gumam Jimin.

“Jimin! Profesor Nam memanggilmu. Ini soal insiden kemarin,” ujar Jungho seraya berlari menghampiri Jimin dan Taehyung, “Cepat jika kau tak ingin mendapat masalah lebih besar,” lanjutnya setelah sampai di hadapan Jimin.

“Apa?” tanya Jimin terkejut.

“Ppali!” pinta Jungho agak memaksa.

“Tapi… tapi,” ujar Jimin memelas, “Baiklah. Kalau begitu bisa kau ikuti mereka untukku Taehyung?” ujar Jimin akhrinya.

“Wae?” tanya Taehyung.

“Ikuti saja. Jangan sampai Hana terluka,” teriak Jimin dari kejauhan.

Taehyung terus melangkah mengikuti yeoja-yeoja itu. Tapi ini aneh. Kenapa Jiyeon nampak sangat memaksa Hana begitu? Mereka akan kemana sebenarnya?

Taehyung bisa melihat orang-orang itu memasuki gudang olahraga. Tapi apa yang mereka lakukan di sana? Taeyung hanya bisa mendengar suara riuh di dalamnya. Ada apa itu.

Dengan sedikit keberanian, ia melangkah menekati gudang itu dan mengintip melalui celah kayu ruang kecil di sana. Apa-apaan itu?!! Apakah masih ada yang namanya pembullian di era seperti ini?

BRAK

“Hentikan! Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian bukan anak fakultas olahraga. Kalian sedang apa?!!” bentak Taehyung setelah menggebrak pintu gudang itu.

“Kau siapa?” tanya Jiyeon tanpa rasa takut.

Taehyung bisa melihat salah satu teman yang tadi ikut memukuli Hana membisikan sesuatu pada Jiyeon. Dan selanjutnya nampak sekali air muka Jiyeon yang terkejut.

“Eum, maafkan aku Taehyung-ssi. Tadi dia memukulku duluan. Dia juga mengataiku dan berlaku tak sopan padaku. Jadi setidaknya dia harus sedikit mendapat hukuman,” jelas Jiyeon. Tapi Hana tak memberikan reaksi apapun. Dia masih tertunduk dengan rambut ikalnya yang menutupi wajah itu.

“Aish, bukankah sudah kubilang jangan terlalu keras padanya? Itu hanya pukulan kecil. Kalian tak perlu sampai begini sebenarnya. Maafkan aku,” ujar Jiyeon terlihat menyesal pada kedua temannya.

“Sudahlah. Aku akan membawanya ke klinik kampus,” ujar Taehyung mengakhiri.

“Oh, ka-“

“Tak perlu. Aku bisa sendiri,” elak Hana, yang kemudian langsung berjalan meninggalkan gudang olahraga.

 

Kini Hana sedang mengoleskan beberapa obat pada luka bekas pukulannya. Aneh.., rasanya ia seperti pernah melihat namja di gudang olahraga tadi. Tapi siapa? Dan dimana?

Sementara itu, Jimin tiba-tiba membuka pintu klinik dan cepat-cepat menghampiri Hana. Di belakangnya juga ada namja tadi.

“Hana-ya! Kau tak apa? Mereka masih memukulimu? Oh, ya tuhan..” ujar Jimin kesal.

“Siapa dia?” tanya Hana seraya menunjuk seorang di belakang Jimin.

“Oh, dia temanku, Kim Taehyung. Dan Taehyung, ini Jung Hana,” ujar Jimin mengenalkan.

“Kau bukan orang Korea asli?” tanya Taehyung.

Tapi bukannya Hana yang menjawab. Gadis itu sepertinya tahu, Jimin akan mengatakan semuanya. Jadi ia memilih mengabaikan pertanyaan Taehyung tadi.

“Eum, begini. Hana di sini mencari oppa-nya. Dia dari Jepang. Waktu itu oppa-nya diusir dari rumah, karena keterlaluan. Mereka sebenarnya bukan saudara kandung sih. Oppa-nya diadopsi sebelum Hana lahir. Dan sekarang beritanya dia ada di Seoul. Jadi agar bisa ke Seoul, Hana harus beralasan belajar agar orang tuanya tak curiga. Dan blablabla…”

Sementara itu nampak sekali Hana sedang berpikir keras. Sungguh, ia pernah melihat Taehyung di suatu tempat sebelumnya. Dan itu…

 

Flashback

Arloji milik Hana kini menunjukkan pukul 10.05 pm. Bodoh sekali tadi ia harus ketiduran saat mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Kini ia sedang berjalan pulang menuju apartemen bibinya.

Rasanya aneh sekali. Entahlah, tapi malam ini rasanya lebih dingin dari biasanya. Ia mengeratkan jaket yang dipakainya. Berharap dingin itu sedikit berkurang.

BUGH

Hana semakin ketakutan ketika ia mendengar suara pukulan. Tapi rasa penasaran itu mengalahkan semuanya. Tanpa tahu, Hana malah mencaritahu asal suara tadi.

Hana membelalakkan matanya tak percaya. Di depannya ia melihat seorang pria sedang memukuli seseorang. Hampir saja Hana akan menelpon polisi. Namun, tanpa diduganya, pria yang dipukuli tadi tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau, dan menusuk pria yang tadi memukulinya.

Hana pun menutup mulutnya ketakutan. Pria itu nampak sangat menikmati detik-detik saat ia menghulus pisau itu di leher sang preman. Walaupun wajah dan tangannya dipenuhi darah, ia tak berhenti di sana. Ia mengambil sebuah pecahan botol, dan berulang kali menusukkan benda itu di perut korbannya.

Dan di tengah-tengah pestanya, pria tadi tiba-tiba menatap Hana. Tentu saja Hana terkejut dibuatnya. Merasa ketakutan, Hana pun cepat-cepat berlari menjauhi tempat tadi. Tapi…,

GREP

Ya, tepat sekali! Seseorang menarik Hana ke sebuah gang kecil. Ia membungkam mulut Hana rapat agar tak menimbulkan kegaduhan. Hana pun hanya bisa menurut untuk diam. Namun…, betapa mencelosnya jantung Hana saat mengetahui orang yang menariknya tadi adalah orang yang sama yang dilihatnya beberapa menit tadi. Orang yang baru saja Hana melarikan diri darinya.

Hana terlihat seperti ingin menangis. Tak mungkin kan ia mati di sana begitu saja. Di tangan seorang psikopat? Oh, ayolah. Jangan sampai.

Namun sesuatu yang membuat Hana makin terkejut adalah namja tadi hanya meletakkan telunjuk di bibirnya, kemudian pergi begitu saja. Ia mungkin mengatakan pada Hana untuk jangan pernah bicara tentang kejadian yang tak sengaja dilihat Hana tadi. Dan Hana pun menganggapnya begitu, dan buru-buru pulang menuju apartemen bibinya.

Flashback end-

 

Oh, benar. Tapi mungkinkah namja itu Taehyung? Wajah mereka 99% sama. Lalu bagaimana ia bisa berteman dengan Jimin? Atau hanya waktu itu saja yang gelap? Jadi Hana tak bisa meihat orang itu dengan jelas.

“Em, Kim Taehyung. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Hana agak ragu.

Jimin dan Taehyung pun bersamaan mengangkat alis mereka.

“Ya, mungkin pernah kau melihatku, atau semacamnya. Tapi maksudku adalah, mungkin kita pernah berbicara sebelumnya? Atau sekedar memberi isyarat untuk diam, atau apalah itu?” tanya Hana kacau.

“Apa yang ingin kau coba katakan sebenarnya, Hana-ya?” tanya Jimin.

“Tidak. Sepertinya tidak. Jimin sering bercerita tentangmu, tapi kurasa hari ini pertama kalinya aku berbicara padamu,” terang Taehyung.

“Begitu? Baguslah,” ujar Hana tersenyum lega.

Benar. Mana mungkin itu Taehyung?

“Heol. Ada apa ini? Kau tertarik pada Taehyung?” goda Jimin.

“Ck,” Hana pun balas tak mengacuhkannya.

“Oh, oh, jangan pura-pura tak peduli. Aku sudah bosan dengan sikap abaimu itu Hana. Hentikan. Ngomong-ngomong aku bisa membantumu untuk dekat dengan Taehyung. Jadi jangan berakting di depanku,” ujar Jimin, yang hanya dibalas,

“Terserah kau Tuan Park. Aku pergi. Aku sudah selesai dengan lukaku.”

“Yya! Jung Hana! Kau juga butuh istirahat! Ck.., anak itu benar-benar,” keluh Jimin melihat Hana berlalu begitu saja.

“Ngomong-ngomong kalian benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jimin kini beralih menatap Taehyung.

Taehyung pun balas menggeleng seadanya.

“Benarkah? Lalu kenapa Hana menanyakannya?” gumam Jimin sendiri.

 

 

Hari ini Jimin, Taehyung, dan Hana makan siang bersama. Mereka jadi dekat belakangan ini. Dan karena sekarang Hana sering bersama Jimin dan Taehyung, Jiyeon jadi jarang mengganggunya. Mungkin sekali dua kali saat di kelas. Tapi ia sudah tak pernah memukuli Hana lagi, karena Hana sudah jarang sendiri.

Hana juga mulai tahu, Taehyung itu namja yang sangat baik dan manis. Jadi, Hana rasa ia memang salah orang. Mungkin orang yang dilihat Hana waktu itu memang bukan Taehyung. Rasanya mustahil jika ia seorang psikopat. Yaa, sangat mustahil.

“Oh, sial. Ck,” ujar Jimin tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Taehyung.

“Insiden kemarin. Jungho hyung memberitahuku untuk mengkonfirmasinya hari ini. Dan kurasa Profesor Nam tak akan lama berada di kampus. Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang. Kalian tak apa makan berdua saja? Toh yang penting Jiyeon tak mengganggumu, Hana-ya,” terang Jimin.

“Ya. Pergi saja,” balas Hana.

“Hahha, singkat sekali. Baiklah aku pergi,” pamit Jimin sambil mengusap kepala Hana. Namun Hana Nampak tak peduli dengan itu. Mungkin terlihat risih, tapi ia membiarkannya.

“Hati-hati. Semoga masalahnya selesai,” ujar Taehyung.

“Yup, terimakasih. Aku pergi.”

Akhirnya Hana dan Taehyung pergi ke sebuah kedai kue beras. Memesan dua porsi kue beras dengan cola.Sementara menunggu pesanan mereka agak dingin, Hana mulai bertanya,

“Ngomong-ngomong ada insiden apa di gedungmu? Jimin sepertinya sangat sibuk karena kejadian itu.”

“Minggu kemarin ada seseorang dari fakultas kami yang bunuh diri. Sebelumnya ia sempat bertengkar dengan Jimin. Dan Profesor Nam merasa jika itu bukan bunuh diri. Itu kasus pembunuhan yang unik katanya,” jelas Taehyung.

“Benar, aku juga dengar beritanya. Tapi setahuku kasus itu sudah ditutup polisi sebagai bunuh diri. Kenapa Profesor Nam berpikir lain?” tanya Hana.

“Entahlah, mungkin ia memiliki pandangan yang berbeda,” balas Taehyung seteah beralih dari tteokbokki nya sejenak. Hana juga sudah memakan kue beras pedasnya beberapa.

“Kau. Ada noda saus di sana,” ujar Taehyung tiba-tiba.

“Apa?” tanya Hana bingung. Namun ia segera menyadarinya dan hendak mengusapnya dengan tangan. Tapi…,

“Ck, jangan gunakan tanganmu,” pinta Taehyung. Ia pun mengeluarkan sapu tangannya kemudian menyeka noda di tepi bibir Hana itu.

“Eum, terima kasih. Aku bisa sendiri,” ujar Hana malu dan segera mengambil alih sapu tangan milik Taehyung.

Setelah menyekanya, Hana kembali menyadari sesuatu…

Flashback

Hana menyusuri koridor sebuah bangunan tua. Sebelumnya, ada anak-anak yang bermain, dan tak sengaja bola mereka terlempar ke dalam gedung. Karena kebetulan Hana sedang lewat, mereka meminta Hana untuk mengambilkan bola mereka karena mereka terlalu takut untuk memasuki bangunan itu.

Saat menyusuri bangunan, tiba-tiba Hana dikagetkan dengan sebuah mayat yang di sandarkan di sudut suatu ruangan. Kondisinya sangat mengenaskan. Dan dari darahnya yang masih segar, sepertinya waktu kematiannya belum lama. Tangan mayat itu tiba-tiba bergerak, bola matanya menatap Hana meminta pertolongan. Namun karena ketakutan, Hana malah menjauh, dan meloloskan diri dengan berlari menjauh dari ruangan itu.

Bangunan tua ini sangat luas. Hana berulang kali salah memasuki ruangan. Ia tak bisa menemukan jalan keluarnya. Dan saat ia terburu-buru, tiba-tiba,

BRAK

“Akh-“

Ia tersandung oleh kakinya sendiri, dan membuat kakinya harus tergores karena kecerobohannya itu. Tapi tiba-tiba, seseorang menghampirinya. Ia memakai tudung dan sebuah masker hitam.

Ia duduk di depan Hana, dan membantunya untuk bangun. Selanjutnya, ia mengeluarkan sebuah sapu tangan, dan menyeka darah yang ada di kaki Hana yang tergores tadi. Ia mengobatinya sejenak, dengan obat yang dibawanya, dan menyelesaikannya dengan plester.

Karena sepertinya kaki Hana juga terkilir, dan kesulitan berjalan, akhirnya orang tadi membopong Hana, dan membantunya untuk menemukan jalan keluar. Ia juga mengambilkan bola yang dilemparkan anak-anak tadi. Saat sampai di pintu keluar, orang itu kemudian memberi Hana sebuah tisu.

Hana tak mengerti untuk apa orang itu memberinya tisu, namun ia memilih untuk menerimanya. Setelah itu, orang tadi pergi begitu saja tanpa mengucap kata apapun.

Hana pun mengembalikan bola anak-anak itu. Setelahnya ia teringat akan tisu itu dan membukanya.

Oh, betapa mencelos hati Hana saat tahu bahwa tisu tadi bertuliskan sebuah tulisan, ‘Shut Your Mouth’. Artinya…, yah, orang itulah yang membunuh mayat tadi.

Flashback end-

Yah, Hana mengingat sesuatu. Sapu tangan yang digunakan orang waktu itu, sama persis dengan yang dimiliki Taehyung.

“Taehyung…, sapu tangan ini…?”

“Ada apa dengan sapu tangannya?” tanya Taehyung balik.

“Oh, aku tak bermaksud. Tapi…, mungkinkah hanya kau yang memilikinya?” tanya Hana ragu.

“Oh, nenekku yang membuatkannya. Hanya ada dua. Yang satunya milik nenekku. Tapi beberapa waktu yang lalu, rumah nenekku kerampokan. Aku tak tahu apakah itu masih dibawanya,” terang Taehyung.

“Begitu?” tanya Hana. Taehyung pun balas mengangguk.

Hana pun kembali melanjutkan makannya. Begitu pula Taehyung. Selanjutnya tak ada pembicaraan serius di antara keduanya. Taehyung itu seorang yang manis dan mudah diajak berbicara. Jadi Hana juga merasa nyaman berbincang dengan Taehyung.

“Jadi maksudmu ke Seoul hanya untuk mencari anak kurang ajar itu?” bentak ayah Hana yang kini berada di Seoul. Beberapa hari lalu ia mendengar berita bahwa Hana mencari Jung Hoseok. Dan itu pun membuat ayah Hana menjadi marah.

“Dia oppa-ku, Appa! Aku menyayanginya. Bahkan aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal saat dia pergi karena Appa mengunciku di kamar waktu itu,” protes Hana membela diri.

“Tapi itu tetap tidak benar, sayang. Kami kira kau benar-benar tertarik pada bisnis di Korea. Kau membohongi kami,” terang ibu Hana.

“Kalian tak mengerti. Hoseok oppa melakukannya karena tak suka dibedakan! Kalian selalu membedakannya dengan orang-orang. itu meyakitkan,” jelas Hana.

“Jung Hana! Sekarang kau mulai berani berteriak pada appa-mu?!!” tegas ayah Hana.

“Appa tahu sesuatu? Kata-kata appa seperti kata-kata seseorang yang sering menggangguku. Dia mengatakan itu pula sebelum ia memukuliku,” ujar Hana dengan nada dingin.

“Memukulimu? Siapa? Siapa yang berani memukulimu?” tanya ibu Hana.

“Hah! Sekarang kalian khawatir padaku? Ingat saat dulu aku dan Hoseok oppa dipukuli preman-preman di Kyoto? Kalian menyalahkan semuanya pada Hoseok Oppa. Karena dia tak menjagaku? Omong kosong.

Jelas sekali Hoseok oppa menerima luka yang lebih banyak karena melindungiku. Tapi kalian bahkan tak mau mendengar penjelasannya. Kalian memukulinya lagi di ruang bawah tanah, bukan?

Padahal kalau dari sudut pandangku, kalian lah yang mengabaikan kami. Karena kalian sibuk berbincang pada rekan kerja kalian, kami tersesat. Hoseok oppa yang selalu menenangkanku saat itu. Ia bilang semuanya akan baik-baik saja.

Sejujurnya ia adalah seseorang yang paling menyayangiku. Tapi…,” Hana menghela nafasnya seraya menahan air mata, “Tapi kalian selalu menganggapnya orang lain,” kini bulir-bulir itu mulai berjatuhan membasahi pipi Hana.

“Dia putra kalian. Dia oppa-ku. Waktu sebelum dia meninggalkan rumah, sebelumnya aku salah makan. Hoseok oppa mencarikanku obat di apotek. Saat itu hujan. Tak banyak apotek yang buka di hari libur, apalagi cuacanya sangat tak bersahabat.

Saat ia sampai rumah…, kalian mengiranya bermain hujan-hujanan di luar, dan tak ingat waktu, sampai tak tahu kalau adiknya sakit. Kalian…, memukulinya lagi bukan? Bahkan saat aku berusaha membelanya, kalian mengunciku di kamar karena kalian menganggapku berisik. Itu menyakitkan. Terutama saat esoknya, aku tak bisa melihat Hoseok oppa lagi.

Tak tahukah kalian? Aku… kami… hanya mau didengar. Kami mendengarkan semua yang kalian katakan. Tapi kenapa kalian tak pernah mau mendengar kami? Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mengijinkanku menjadi adiknya. Aku…, merasa seperti orang jahat. Rasanya seperti aku yang membuat Hoseok Oppa pergi,” jelas Hana mengakhirinya dengan helaan nafas berat.

“Hana-ya… kami tak bermaksud…,” ujar ibu Hana ikut menangis.

“Tapi membohongi kami dan berkeliaran di Seoul hanya untuk mencarinya juga tidaklah benar,” tegas ayah Hana.

“Apa kalian masih tak mengerti? Aku hanya ingin mengucapkan maaf. Menemuinya sekali saja untuk berterima kasih,” bela Hana.

“Akan berbahaya bagimu berada di dekatnya,” tegas ayah Hana lagi.

Hana tak bisa mempercayai apa yang barusaja di dengarnya. Berbahaya? Dia adalah oppa Hana.

“Jujur saja, Appa. Itu bukan berbahaya bagiku. Itu berbahaya bagimu. Lebih tepatnya bagi bisnismu. Hah, lupakan saja. Kalian tak akan pernah mengerti,” ujar Hana menyelesaikan, dan langsung menggebrak pintu apartemennya. Ia berlari keluar.

Entahlah, kemana saja. Yang terpenting ia bisa menghindari orang tuanya dulu untuk sementara. Namun…,

“Benarkah? Kalau begitu, biar kubeli yang ini, Amonim.”

Suara itu. Itu suara Hoseok. Hana tanpa sadar menghentikan langkahnya begitu saja. Hampir dua tahun ia di Seoul, dan ia belum menemukan oppa-nya. Benarkah kali ini benar-benar oppanya? Hana pun akhirnya berbalik.

Benar itu Hoseok. Jung Hoseok. Oppa-nya Hana. Hana berulangkali mengerjapkan matanya tak percaya. Setelah sekian lama, ia benar-benar melihat oppa-nya. Ia hendak menghampirinya, tapi…,

“Opp-“

BIPP

Hana memejamkan matanya saking takut. Ia baru sadar, jika ia sedang berada di tengah jalanan. Sebuah truk bermuatan melaju cukup kencang. Sulit bagi truk seperti itu  untuk bisa mengerem tepat waktu.

“AAA!!!”

.

.

.

Apa ini. Rasanya truk itu baru saja melewatiku. Namun aku tak merasakan sakit apapun. Tunggu! Ada seseorang yang…

“Hhhh… Kau… tak apa? Hana-ssi?”

Perlahan semuanya kembali terang. Hana mulai membuka matanya perlahan. Ya, di baik-baik saja saat ini. Namun ia mendapati seseorang sedang memeluknya.

“T… Taehyung? Kau sepertinya yang menolongku,” ujar Hana tersenyum.

“Kau kenapa? Aku melihatmu berlari seperti orang gila, dan kemudian kau berhenti begitu saja di tengah jalan. Jangan katakan kau frustasi dan hendak bunuh diri,” ujar Taehyung asal.

“Yah, anggap saja seperti itu,” balas Hana.

“Apa?!” Taehyung hendak melepaskan pelukannya, tapi…

“Jangan. Kumohon sebentar lagi. Hanya sebentar. Kumohon,” larang Hana. Taehyung tak tahu apa maksudnya, namun ia membiarkannya saja.

.

.

.

“Jadi orang tuamu ada di Seoul?” tanya Taehyung.

Hana pun balas mengangguk.

“Bagaimana?” tanya Taehyung.

“Apa?”

“Yah, kau tahu, mungkin itu menyakitimu kurasa,” balas Taehyung.

“Yaa, sangat,” ujar Hana seraya meremas jaket yang dibawanya dengan teramat kuat.

“Kau tahu, Taehyung? Kurasa aku senang kau menolongku tadi,” ujar Hana.

Namun Taehyung balas mengangkat alisnya tak mengerti.

“Setidaknya sekarang aku merasa lebih baik setelah menceritakan semuanya,” terang Hana seraya tertawa kecil. Taehyung pun ikut tertawa menanggapinya.

.

.

.

Malam ini Hana memilih untuk tidur di tempat temannya, Joy. Ia malas untuk kembali ke apartemen bibinya untuk sementara ini. Karena pasti di sana akan ada kedua orang tuanya. Hana sedang malas untuk berdebat dengan keduanya lagi.

Taehyung pun mengantar Hana sampai pertigaan dekat rumah Joy, dan pamit untuk menjemput kakaknya di bandara setelah itu. Dan saat Taehyung berlalu pergi…, punggung itu…, yaa, Hana mengenalnya. Di malam sebelum Jaehyun, anak fakultas seni itu ditemukan bunuh diri esoknya.

Flashback

Waktu itu Hana harus terjebak di salah satu ruang music karena ulah Jiyeon. Ia baru bisa keluar setelah akhirnya handphonenya bisa menangkap sinyal. Ia segera menelpon Joy dan meminta bantuan. Berkat bantuan Joy yang meminta kunci pada satpam kampus, akhirnya Hana bisa keluar dari ruang yang katanya angker itu.

Saat berjalan menuruni tangga, Hana dan Joy melihat seseorang keluar dari salah satu ruang music yang lain. Orang itu mengenakan tudung jaketnya, dan berjalan buru-buru meninggalkan gedung seni.

Awalnya mereka juga curiga, apa yang dilakukan seorang mahasiswa di ruang musik selarut ini. Para dosen dan satpam biasanya tak memperbolehkan pulang selarut ini. Tapi akhirnya kecurigaan itu mereka buang jauh-jauh, saat tiba-tiba orang itu berbalik, dan mengkode dengan jari telunjuknya untuk diam.

Esoknya, Hana dan Joy baru menyadari sesuatu. Jaehyun ditemukan mati dengan menggantung di ruang music yang dilihat Joy dan Hana kemarin. Ruang music yang sama dengan ruang music yang ditinggalkan seorang bertudung itu.

Flashback end

Hana pun membungkam mulutnya tak percaya. Tidak mungkinkan… orang itu adalah Tae Hyung? Dilihat dari sini punggung itu dan cara berjalannya benar-benar mirip.

Kenapa selalu seperti ini? Karena waktu itu Taehyung bilang bahwa Profesor Nam yakin itu bukan bunuh diri, bukankah itu malah membuat seperti malah Taehyung yang membunuhnya?

Jangan katakan…,

Kenapa di saat aku mulai selangkah menyukainya, di saat itu pula muncul kecurigaanku bahwa dia adalah seorang psikopat?

Dan kurasa kini aku memang menyukainya. Tapi kini, aku juga semakin yakin dia bukanlah seorang yang manis saja. Bukan lagi suatu orange.  Ada sisi lain dari diri Taehyung yang begitu gelap. Dan itu sesuatu yang benar-benar menakutkan.

Aku takut ketika orange itu mulai berubah menjadi nila. Karena nila yang dimilikinya itu berbeda. Dia manis, namun menakutkan, sungguh.

 

 

Pukul enam petang. Setidaknya kali ini Hana tak ketiduran lagi di perpustakaan. Ia menyelesaikan tugasnya tepat waktu, dan kini sedang berjalan menuju gerbang keluar kampus.

BRAK

Suara gaduh itu datang dari gudang olahraga. Hana sempat berpikir, mungkin saja itu Jiyeon yang memukuli anak-anak. Namun suara itu hanya terdengar sekali, dan hilang begitu saja.

Sekarang juga sudah senja. Sejahat apapun Jiyeon, ia tak mungkin memukuli orang di jam-jam seperti ini. Satu-satunya orang yang dibenaknya menyebalkan adalah Hana. Dan Hana bahkan tak tahu jika Jiyeon juga mengganggu orang lain selain dirinya. Rasanya… aneh.

Hana pun memberanikan diri untuk mendekati ruang itu. Pintunya tak tertutup sepenuhnya. Hana mengintip dari celah vertikal di antara pintu dengan dinding di sana.

Kali ini Hana kembali menutup mulutnya tak percaya. Ia membeku di tempat begitu saja. Ia melihat seorang sedang menghulus pisaunya pada Jiyeon. Sejahat apa pun Jiyeon pada Hana, hal itu tetap membuat Hana iba.

Tanpa sadar, Hana malah cecegukan. Biasanya jika Hana sudah pada ujung ketakutannya, ia akan cecegukan. Pembunuh Jiyeon tadi pun memalingkan wajahnya dan nampak seperti melirik celah pintu. Dengan sigap, Hana berlari menjauhi tempat itu. Mungkin saja ia akan dibunuh seperti Jiyeon.

Hana terus berlari. Memasuki gedung-gedung dan melewati lorong-lorong sepi, karena memang sekarang sudah senja. Orang tadi juga mengejar Hana. Langkahnya sangat panjang. Jadi Hana harus berlari dua kali lebih cepat.

Hingga akhirnya Hana menemui sebuah tangga. Tak ada jalan lain. Hana pun menaiki tangga tadi dan mencapai atap salah satu gedung. Yah, di sanalah ia terjebak. Bagaimana ia akan menghindari orang tadi?

Orang itu melangkah mendekati Hana, sementara Hana sendiri terus berjalan mundur menjauhi orang tadi. Hana tahu ini akan terjadi. Ia terpojok. Ia sudah mencapai tepi gedung, dan ia tak bisa berpikir jalan keluar apapun.

“Yya! Kenapa kau seperti itu! Eottokhe? Eommma!!” teriak Hana frustasi.

“Berhenti! Berhenti di sana!” pinta Hana. Tapi orang tadi tetap melangkah dengan santainya mendekati Hana. Ia mengenakan tudung jaketnya dengan sebuah masker hitam dan topi.

“Yya! Jika kau tak berhenti maka…, maka kau…, maka…,” sementara Hana kebingungan mencari alasan, orang tadi makin mengikis jaraknya dengan Hana.

“Yya! Jika kau tak berhenti, maka aku akan meloncat dari sini!”

Tunggu. Apa?

Aish, bodoh kau Jung Hana! Dia tadi membunuh Jiyeon. Kenapa aku malah menawarkan diri untuk bunuh diri. Tentu ia akan senang jika seorang saksinya menghilang tanpa ia harus bersusah payah. Aish…

Tapi tanpa Hana prediksikan, orang tadi menghentikan langkahnya, dan memberi isyarat melarang Hana untuk melompat. Hana pun balas mengerjapkan matanya berulang kali tak percaya.

Orang tadi pun berbalik, berniat untuk meninggalkan atap. Tapi entah apa yang membuat Hana bisa seberani itu dengan seorang pembunuh. Hana cepat-cepat melangkah menghalangi jalan orang tadi.

Nampak sekali orang itu terkejut dengan kemunculan Hana yang tiba-tiba.

“Tae… Hyung?” tanya Hana tiba-tiba.

Orang tadi pun nampak ketakutan, dan kembali berlari menjauhi Hana. Tapi tanpa sengaja, ia malah tersandung kaki Hana dan jatuh tersungkur.

“Yya!” teriak orang tadi kesal.

Hana pun berjongkok tepat di hadapan orang itu. Perlahan, ia mengambil tapi yang dikenakan orang itu, dan membuka tudungnya.

Walau Hana agak ragu, jemari tangannya mulai mendekati masker yang dikenakan orang tadi. Tapi bukannya mengelak, orang itu hanya terlihat ketakutan dan membiarkan Hana melakukannya.

Ya, Hana sudah melepas masker itu dan kini benar benar menangis tanpa suara.

“W… wae?” ujar Hana dengan bibir bergetar.

“Maafkan aku,” ujar orang itu pelan seraya menunduk. Hana hanya membelalakkan matanya tak percaya. Kenapa? Firasat itu. Pemikiran itu. Kenapa semuanya fakta?

Orang itu pun mengusap air mata Hana sejenak, dan kembali mengenakan masker dan topinya, kemudian cepat-cepat pergi meninggalkan gedung itu.

Hari ini Hana memilih untuk bolos kuliah. Ia berada di sauna karena tak mungkin ia pulang ke apartemen bibinya. Pasti kedua orang tuanya sedang menunggu untuk mengomeli Hana nantinya. Menyebalkan.

Hana masih ketakutan dengan kejadian kemarin. Kenapa Taehyung melakukannya? Kenapa ia membunuh Jiyeon? Apa karena Hana? Tapi bukankah membunuh itu sesuatu yang berlebihan?

Semenjak hari itu, Hana menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia sudah tak pernah bertemu dengan Taehyung lagi. Mungkin beberapa kali mereka berpapasan di kampus, namun Hana mengabaikannya. Sejak hari itu pula, Hana mencaritahu latar belakang Taehyung. Seperti apa keluarganya. Dan apakah ia memiliki kelainan.

Ia menemukan bahwa Taehyung sering sekali berobat di rumah sakit di bagian psikologi. Mungkin ia memiliki kelainan mental? Entahlah…,

Di sana Hana bertemu dengan Kim Seokjin. Dokter yang kata teman-teman Jimin sering Taehyung kunjungi. Benar saja. Ia dokter Taehyung. Namun sayangnya, ia terlalu melindungi identitas pasiennya. Tentu saja Hana tak menyerah sampai di sana.

Ia bertanya pada orang-orang yang kabarnya dekat dengan Taehyung. Orang-orang di sekitar rumahnya, mereka bilang Taehyung itu pendiam dan jarang bersosialisasi dengan tetangga-tetangganya. Aneh.. padahal di kampus ia sangat popular.

Mungkin ini sudah tiga minggu semenjak Hana tak pernah menemui Taehyung lagi. Dan hari ini Hana menyuruhnya untuk datang ke suatu kafe di tengah kota Seoul untuk mengecek sesuatu.

Keadannya sangat berbeda dari biasanya. Mereka bersikap sangat canggung satu sama lain, dan Hana tak menyukainya. Akhirnya, Hana pun membuka percakapan mereka karena memang ia yang mengundang Taehyung untuk bicara,

“T… Taehyung. Maaf. Ini terlihat sangat canggung, bukan? Haha..”

“Hm,” balas taehyung seraya tersenyum.

“Taehyung,” “Hana,” mereka mengucapkannya secara bersamaan.

“Tak apa. Katakan,” ujar Hana membiarkan Taehyung berbicara duluan.

“Maaf. Waktu itu orang yang membunuh Jiyeon adalah aku. Tapi itu bukan diriku. Sebenarnya aku-“

“Kau terkena kelainan jiwa,” sela Hana. Taehyung pun membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana Hana bisa mengetahui semua itu?

“Apa kau tahu apa itu?” tanya Taehyung.

“Ani. Aku hanya tahu kau itu berbeda. Aku belum mendapat informasi yang lebih-..”

“D.I.D.” sela Taehyung.

Hana pun menautkan alisnya tak mengerti.

“Aku punya kepribadian ganda Hana-ssi. Dia muncul begitu saja. Kau juga sepertinya sudah melihatnya beberapa kali. Yah, orang yang kau lihat itu bukan aku. Kecuali saat dimana setelah aku tiba-tiba tersungkur di atap. Aku baru sadar setelah tersandung. Aku tak tahu apapun yang terjadi sebelumnya. Ia tak membolehkanku mengetahuinya,” jelas Taehyung.

“Aku punya masa lalu yang buruk, yang membuatku seperti ini. Mentalku menjadi buruk, dan aku sangat tertekan. Yah, sampai sekarang aku masih melakukan terapi untuk sembuh,”

Hana pun kembali menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana mungkin? D.I.D.? Bagaimana bisa?

“Apa… Jimin tahu?” tanya Hana ragu.

“Tentu saja,” balas Taehyung menganggukinya.

“Oh, benar. Aku menemukan oppamu,” ujar Taehyung tiba-tiba.

Hana pun kembali dibuat terkejut oleh pernyataan Taehyung.

“Dia ternyata satu fakultas denganku. Hanya saja kami berbeda tingkat. Dia sudah hampir lulus dan sepertinya dalam waktu dekat ini ia akan mengambil pelajaran ke Amerika. Kenapa kau tak pernah memberitahu aku dan Jimin namanya. Dia seseorang yang dekat dengan kami.

Jung Hoseok, bukan? Kami biasa memanggilnya Jung Ho hyung. Dan ia lebih terkenal dengan nama J-Hope. Ia benar-benar penari yang hebat jika kau tahu. Besok akan kuantar kau menemuinya,” terang Taehyung kemudian menyedot minumannya.

Hana pun banyak bertanya lagi pada Taehyung. Ya, sepertinya rasa canggung itu pergi begitu saja. Mereka kembali berbicara seperti biasa dengan nyaman dan kadang diselingi tawa.

Hari ini harusnya Hana menemui Hoseok. Namun ia sudah menunggu selama dua jam, dan oppa-nya tak muncul-muncul pula.

Drrrt

Yah, handphone Hana tiba-tiba bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Jimin.

‘Taehyung dan Jungho hyung kecelakaan. Rumah Sakit Haejin.”

Hana tanpa sengaja menjatuhkan handphone-nya. Pikirannya sempat kosong sementara. Namun ia buru-buru tersadar lagi dan berlari mencari taksi ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Hana melihat Jimin di depan salah satu ruang operasi. Orang tuanya juga ada di sana.

“Taehyung! Bagaimana keadaanya? Bagaimana Hoseok oppa?” tanya Hana dengan wajah berlumuran air mata.

“Tenanglah, Hana-ya. Mereka akan baik-baik saja, ne?” ujar Jimin menenangkan.

“Bagaiamana bisa?” tanya Hana.

“Mungkin sekarang bukan waktunya,” elak Jimin seraya melirik orang tua Hana. Hana yang mengerti maksud Jimin, pun langsung bertanya,

“Itu Taehyung bukan? Monster itu keluar?” tanya Hana tanpa ragu.

Jimin balas membelalakkan matanya tak percaya. Sejak kapan Hana mengetahuinya?

Akhirnya Jimin mulai menjelaskan semuanya di taman belakang,

“Ya, Taehyung punya dua kepribadian. Dan apa kau tahu? Jung Ho hyung juga punya kelainan jiwa.,” terang Jimin.

“Apa?”

“Aku juga baru tahu belakangan ini. Dia suka mengigaukan suatu hal tak jelas. Kemudian ia punya trauma besar pada kegelapan dan dingin. Ia menjadi kejang dan tak bisa mengendalikan emosinya di kegelapan atau saat ia kedinginan sedikit saja,” jelas Jimin.

“Lalu apa yang terjadi tadi?” tanya Hana.

“Aku tak tahu lengkapnya. Yang jelas kepribadian lain diri Taehyung keluar dan ia mengajak Hoseok ke ruang bawah tanah. Karena Taehyung tak tahu penyakit Jungho hyung, begitu pula sebaliknya, mereka saling menyakiti,” lanjut Jimin.

“Tapi kenapa?” tanya Hana hampir menangis.

“Kau tahu satu hal lagi Hana-ya? Jungho hyung menitipkan surat ini untukmu,” ujar Jimin seraya menyodorkan sebuah surat pada Hana.

“Kenapa kau tak pernah memberitahuku soal gagal ginjalmu? Hoseok hyung pergi dari Jepang agar penyakitnya tak melukaimu. Tapi kenapa kau malah menyakiti dirimu sendiri? Dia berencana mendonorkan ginjalnya. Ginjalnya cocok denganmu. Bukankah kau kesulitan mencari yang cocok? Walau kau tak tahu, dia sudah tahu kau mencarinya sejak lama. Dia mengawasimu sejak awal,” jelas Jimin.

“Dan sekarang Taehyung merusak ginjalnya yang sebelah. Apa yang akan dilakukan?” gumam Jimin.

.

.

.

@2years latter

Hana baru saja selesai dari ruang operasinya. Ia sukses dengan penanaman ginjal baru. Ia pun cepat-cepat memasuki suatu ruang putih di sebelah ruang operasinya segera setelah sadar.

“Oppa!” kaget Hana.

Namun orang yang dipanggil oppa itu hanya menanggapinya dengan decakan jengah.

“Yya!” teriak Hana sebal.

“Harusnya tak kudonorkan ginjalku jika kau berisik begini,” kesal orang itu.

“Kau harus pergi! Biarkan Taehyung keluar. Aku hanya ingin bicara padanya,” pinta Hana kesal.

“Tak akan pernah. Sekarang aku tak bisa bergerak bebas,” gumam orang tadi.

“Kau sudah berjanji untuk tak membunuh lagi. Benarkan Jimin? Hoseok Oppa?” tanya Hana seraya berbalik mendapati Jimin dan Hoseok yang baru saja memasuki ruangan Taehyung.

“Yah, siapa yang tahu ginjal kalian juga cocok?” ujar Hoseok seraya tersenyum.

“Mereka cocok dalam semua hal. Jadi kapan pertunangannya dimulai? Itu bulan depan kan rencananya?” tanya Jimin.

Hana pun balas tersenyum malu. Tapi berbeda dengan Taehyung yang menatap Hana dengan tatapan malas.

“Ya! Kau Si Indigo! Biarkan Si Orange keluar! Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya,” pinta Hana pada Taehyung.

“Kau yakin itu hanya sebuah ucapan? Hah,” akhirnya Taehyung tersenyum dan memejamkan matanya sejenak. Membiarkan kepribadian lain yang dimaksud Hana itu mengambil alih tubuhnya sendiri.

 

FIN

Yeay… akhirnya selesaii. Semoga pada suka. Wkwk. Sori kalo banyak typo atau diksi yang kurang enak. Ahahha author juga cuman manusia biasa (malah nyanyi).

Btw, HBD yaa “BTS Fanfiction Indonesia” J. Semoga karyanya makin bagus-bagus dan tambah kreatif.

Okay…., jangan lupa tinggalin jejak ne :v. Thanks for reading!!!

(*lambai-lambai bareng member BTS)

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Just Change It to Orange – Oneshoot

    1. Haii 😀
      Makasih udah mau mampir baca dan mengisi kotak komentar… *love*
      Jujur aku gatau kapan ini dipostnya, jadi telatt banget. Soriii
      Iyaa mereka jadinya tunangan. V nya masih DID, tapi Si Nila udah tobat gitu. Yang pertama suka Hana itu sebenernya Si Nila. Jadi dia terima terima aja kalau Si Orange tunangan ama Hana. Cuman rada sakit hati karena yang disuka Hana itu Si Orange, bukan dianya T.T

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s