[What is Your Color?] Passive Effect – [Vignette]

IMG_20160310_153353

“Passive Effect” by melkorisaKim

Cast : [BTS] Kim Namjoon & [Lovelyz] Seo Jisoo . Genre : Friendship – Sad . Rating : R mengandung unsur rokok didalamnya . Lenght : Vignette

***

This story pure made by me. Cast not mine, mereka milik yang diatas, orangtua dan agensi mereka. Don’t bash, don’t judge.

***

Kesenanganmu memang suatu kebahagiaan untukmu, tapi jangan lupa selalu berhati-hati seperti saat lampu lalu lintas berwarna kuning, dan jadikan ini suatu peringatan seperti rambu-rambu berwarna kuning ditepi jalan.

***

 

“Dia benar-benar tidak bisa dihentikan!”

“Biarkan saja, pria itu sudah kecanduan!”

Dinding putih dan cahaya kuning yang masuk dari jendela keruangan ini membuat asap rokok yang mengepul diudara semakin jelas. Namjoon, pria itu sudah menghisap empat batang rokok sekaligus disiang ini. Seperti makanan pokok yang tak bisa ia hentikan untuk memakannya.

“Namjoon, kau mau permen?”

Seseorang dari balik selambu kuning pembatas ruangan menyodorkan sebungkus permen pada Namjoon. Sudah lebih dari satu bulan mereka berada diruangan ini, berusaha menghilangkan penyakit yang mereka miliki.

“Tidak Jisoo, aku rasa rokok ini lebih manis dari permen itu” ujar Namjoon menolak permen susu yang disodorkan Jisoo dengan senyumnya. “Oh baiklah, aku akan menyimpan permen ini untukmu nanti” jawab Jisoo sambil menyimpan kembali permen yang ia genggam.

Awalnya hanya Jisoo seorang diri yang menempati ruangan ini, dia hanya mengalami sakit biasa. Hingga suatu hari datanglah Namjoon yang mulai menemani hari-hari Jisoo, tinggal dibalik selambu kuning pembatas kasur mereka.

Namjoon menghisap dalam-dalam rokok yang sejak tadi ia nyalakan, membuang rokok itu ke asbak yang ada diatas meja samping kasurnya. “Akhir-akhir ini kau sering sekali menawariku permen itu, kenapa?” pria itu memiringkan badanya menghadap Jisoo yang sudah terlebih dahulu menghadap kearahnya.

“Hanya ingin kau merasakan permen kesukaanku” senyum Jisoo mengembang, membuat hidung mancungnya memesek. “Suatu saat nanti permen itu akan kumakan” ujar Namjoon. “Aku yakin kau akan memakanya nanti” mereka tertawa bersama, memecahkan keheningan suasana rumah sakit yang telah menjadikan mereka sahabat dekat selama satu bulan terakhir ini.

Derap langkah pengunjung dan suster rumah sakit semakin lama semakin banyak, mengubah suasana yang tadinya sunyi menjadi ramai. Namjoon kembali mengambil rokoknya dan menyalakanya didepan Jisoo. Lagi-lagi merokok diruangan ini. “Namjoon, apa kau tak merasa sakit saat menghisap rokok itu?” ujar Jisoo. “Tidak, malah ketika aku merokok beban yang kupikul seperti menghilang” ujar Namjoon sambil menghembuskan asap rokok itu ke udara.

Ditengah keramaian langkah kaki dan kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan ini, suara batuk Jisoo sedikit mengusik. Namjoon menaikkan sebelah alisnya, heran dengan Jisoo belakangan ini. “Kau masih batuk? Kenapa penyakitmu semakin parah?”.

Jisoo menghentikan pergerakan tangannya, penyakit yang ia alami semakin bertambah, bahkan menjadi lebih banyak lagi dari sebelumnya, mulai dari batuk, sesak, gatal-gatal pada hidung, sampai iritasi dibagian tubuhnya.

“Kau mau ketaman? Akhir-akhir ini aku jarang sekali ketaman bersamamu, kau mau menemaniku, Namjoon?” alih-alih menghindar pertanyaan Namjoon, Jisoo mengajak pria itu ke taman. Belakangan ini ia dan Namjoon jarang sekali pergi ke taman rumah sakit, karena Jisoo sering keluar ruangan untuk menemui dokter dan melakukan berbagai kegiatan untuk menyembuhkan penyakitnya. “Ayo!”.

Mereka berdua keluar dari ruangan putih bersih itu. Tangan Jisoo mengapit erat lengan kiri Namjon, dan tangan kananya membawa inhaler miliknya. Sedangkan Namjoon masih asik menghisap rokok yang tadi ia nyalakan.

Udara sejuk dengan hembusan semilir angin, ditemani daun-daun berterbangan dan sinar sang mentari yang semakin terik, mereka berdua duduk dibawah pohon besar ditengah taman, memandang anak-anak dan pasien yang mencari ketenangan ditaman rumah sakit.

“Hadiah dariku ada dimana?” Namjoon membuka percakapan mereka. “Ada disana” ujar Jisoo sambil menunjuk bunga mawar kuning dibalik ilalang nakal yang ingin menunjukkan tubuh langsingnya tanpa duri. “dia akan terus hidup, kecuali seseorang meracuninya” lanjut Jisoo dengan bangga karena masih bisa menunjukkan bunga mawar kuning pemberian Namjoon.

Seakan membolehkan mereka untuk berteduh dibawanya, pohon besar itu terasa mengeluarkan suara musik yang mengundang Namjoon untuk bergabung dengan suaranya. Namjoon mulai menyanyikan lagu kesukaan Jisoo yang sering kali ia nyanyikan untuk gadis itu sebelum tidur.

Semilir angin semakain memadai, sentuhan lembutnya membuat air mata jisoo menetes secara diam-diam, ia tak ingin Namjoon berhenti bernyanyi untuknya. Disaat semua penghuni taman mulai mendukung suasana, mengoyangkan tubuh mereka hingga terkadang kelopak mereka berjatuhan, suara batuk Jisoo seakan menghentikan suasana yang awalnya damai.

“Jisoo kau tak apa?” ujar Namjoon saat Jisoo mengeluarkan suara batuknya sedikit berbeda dari yang tadi. Jisoo tak mengindahkan pertanyaan Namjoon yang menunggu jawabannya. Gadis ini malah sibuk dengan batuk dan sesak yang ia pendam sedari tadi, nafas Jisoo juga terdengar aneh, seperti pintu tua yang dibuka oleh seseorang berkali-kali.

Melihat ada yang berbeda dengan sahabatnya, Namjoon bangun dengan masih mengengam rokok ditangannya. “Jisoo! Kau tak apa?” ujar namjoon sambil menyodorkan inhaler yang gadis itu genggam sedari tadi.

“Air… aku mau air” dengan susah payah Jisoo mengucapkannya, nafasnya sudah hampir tak terkontrol, suara ngak-ngik-nguk yang Jisoo keluarkan membuat seseorang mendengarnya akan terasa ngilu.

Tau akan apa yang Jisoo inginkan, dengan segera Namjoon berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membelikannya air.

Asap rokokmu berbahaya untuk paru-paruku Namjoon. Sepeninggalan pria itu, Jisoo berbisik dalam hatinya, ia tak berani untuk meminta Namjoon menghentikan hal apa yang menjadi kesenangannya.

Jisoo yakin Namjoon akan memakan permen kesukaannya dan menghilangkan kesenangan yang menurutnya membahagiakan itu.

Suatu saat nanti—

Hingga akhirnya semuanya menjadi putih, lenyap dan kembali kemasa awal. Bayangan masa lalunya sudah berhenti berputar dikepalanya.

Seorang pria masih setia duduk disamping gundukan tanah coklat yang sudah mulai diselimuti oleh rumput dan bunga berwarna kuning. Namjoon, pria itu sedari tadi mencakar-cakar tanah didepanya.

“Kalau tau keadaanmu sepeti itu, aku tak akan melakukannya didepanmu” setetes air asin yang keluar dari matanya membuat lintasan mirip sungai dipipi mulusnya, mendorongnya mengeluarkan air mata semakin lama semakin deras.

Seseorang yang melintas dihadapanya pasti akan melihat dirinya kasihan, namun tidak dengan perasaan Namjoon. Ia malah menganggapnya sebagai kebodohan, ia membuat sahabatnya sampai seperti ini, ia yang tak ada disaat sahabatnya sedang menahan rasa sakit hingga menghabiskan nafasnya karena ulahnya sendiri.

Namjoon berpikir itu sangat bodoh. Jisoo sudah berulang kali mencoba menghentikannya secara tidak langsung, tapi semuanya sudah terjadi. Mau sekeras apapapun, sekencang apappun, dan mau sebanyak apapun tangisan dan air mata Namjoon tak akan mengembalikan Jisoo seperti semula. Dan sepertinya Tuhan sudah memberikan peringatan untuknya, melalui perantara Jisoo agar Namjoon lebih berhati–hati.

Tak ingin larut dalam kesedihan ini, ia mengusap air matanya yang sudah membentuk lintasan bercabang dengan lembut, mengucapkan salam perpisahan dan sampai jumpa pada tempat peristirahatan sahabatnya, lalu meninggalkan tempat itu diiringi pancaran sinar matahari.

Namjoo semakin menjauh, menjauhi tempat itu sambil mengeluarkan benda berwarna dari kantong jaketnya. Membuka pembungkusnya dan memakan benda bulat warna kuning tua itu, permen.

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Passive Effect – [Vignette]

  1. Anonymous

    Lah anjirrr endingnya sedih banget 😢😢
    Bang namjun bisa-bisanya ngrokok di rumah sakit.
    Tapi asumsi jisoo terbukti. Namjun akhirnya makan permennya jisoo ><

    Like

  2. tolong, ini fic relatable sekali ;~; saya paling tidak nyaman kalau sudah ada orang yang merokok disebelah, tapi juga agak gak sopan kalau menegur secara langsung ;~; /mojok/

    ngomong2, mas namjun gak peka sekali sih :””) huhuhu. padahal sudah dikode berkali2 supaya gak merokok… tapi malah, ah sudahlah :”) trus juga itu suster2nya gak ada yang ngelarang emang? :”)

    Liked by 2 people

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s